EKSISTENSI TUHAN MENURUT SAID NURSI DAN KRITIKNYA TERHADAP MATERIALISME BARAT

Oleh:

Zaprulkhan NIM. 05212449

TESIS

Diajukan kepada Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar    Magister dalam Ilmu Agama Islam Program Studi Agama dan Filsafat Konsentrasi Filsafat Islam

YOGYAKARTA

2007

KATA PENGANTAR

 

 

            Segala puji bagi Allah, Tuhan Penguasa semesta persada. Dialah Tuhan yang tidak hanya menjadi muara cinta di mana setiap makhluk mengekspresikan sejuta kisah cinta kepada-Nya kendati mereka tidak menyadarinya; Tuhan tempat melabuhkan segala damba hamba-hamba-Nya; namun Dia juga menjadi sebuah misteri dari setiap misteri yang mengundang semesta tanya sehingga membuahkan wacana-wacana untuk mendemonstrasikan eksistensi-Nya, baik secara intelektual maupun spiritual (intuitif). Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada nabi Agung Muhammad Saw, insan kamil yang tidak pernah berhenti dalam penjelajahan intelektual dan spiritualnya, kepada keluarganya yang suci, para sahabatnya yang mulia, dan kepada para pengikutnya yang meneladani petualangannya.

            Kemudian berkat rahmat dan inayah Allah, penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul Eksistensi Tuhan Menurut Said Nursi dan Kritiknya Terhadap Materialisme Barat. Penyelesaian tesis tersebut melalui proses yang melibatkan banyak pihak baik secara personal maupun institusional. Karena itu, dari hati yang paling dalam, penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya terutama kepada:

  1. Direktur dan Asisten Direktur beserta para Guru Besar Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang telah berkenan memberikan secercah ilmu pengetahuan, wawasan, lentera kearifan, kesempatan dan fasilitas yang memadai untuk mengikuti pendidikan lanjut pada Program Pascasarjana (S2).
  2. Syaifan Nur, M.A. selaku pembimbing yang dengan wawasan dan idealisme yang dimiliki telah berkenan memberikan bimbingan, analisis, dan arahan yang penuh perhatian.
  3. Rektor IAIN Raden Fatah Palembang, Prof. DR. J. Suyuthi Pulungan, M.A. yang telah memberi motivasi untuk melanjutkan studi Program Magister beserta bantuan moril dan materil.
  4. Para staf Dosen STAIN Bangka Belitung yang telah memberikan bantuan baik moral maupun material, terutama pada semester dua dan tiga sehingga bisa memudahkan penulis menjalankan kegiatan akdemik tanpa kerepotan mencari dana kuliah.
  5. Para pengelola UPT Perpustakaan dan Perpustakaan Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang telah memberikan pelayanan sebaik mungkin dalam rangka tersedianya buku-buku rujukan yang diperlukan.
  6. Hodja Hasbi Sen yang pertama kali mengenalkan penulis dengan wacana-wacana Bediuzzaman Said Nursi dan telah menyumbangkan sebagian besar karya Said Nursi ketika penulis hijrah ke yogyakarta untuk melanjutkan studi S2.
  7. Ibunda Zahra yang dengan kebijakan, ketabahan, dan doa-doanya di larut malam yang sunyi; ayunda Zuleha yang dengan kasih sayang dan kepeduliaannya; serta adik bungsuku, Zohana, yang melalui keindahan dan ketulusan cintanya telah mengukir makna dalam kehidupan penulis.
  8. Semua rekan seperjuangan di markas corpus Yogyakarta, terutama para senior yang tengah menempuh Program S3, yang telah memberi masukan, motivasi, insigth, dan arahan yang sangat berharga hingga studi S2 dan penulisan tesis ini bisa dirampungkan tepat waktu sesuai target.

                  Akhirnya, semoga Allah, An-Nafi’, Tuhan Yang Maha Memberi Manfaat, menjadikan karya ilmiah ini bermanfaat, terutama bagi penulis pribadi sekeluarga dan bagi dunia akademik umumnya.

                                                          Yogyakarta, 20 Februari 2007

                                                          Penulis,

                                                          Zaprulkhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

 

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………..                  I  

 

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN………………………………….                II

 

NOTA DINAS PEMBIMBING…………………………………………………..               III 

 

HALAMAN PENGESAHAN DIREKTUR………………………………….               IV

 

NOTA DINAS PENILAI…………………………………………………………….                V

 

ABSTRAK…………………………………………………………………………………               VI

 

PEDOMAN TRANSLITERASI …………………………………………………             VII

 

MOTTO DAN PERSEMBAHAN……………………………………………….            VIII

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………………..               IX

 

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………..              XII 

 

BAB I   :   PENDAHULUAN

     

  1. Latar Belakang Masalah…………………………………………. 1             .
  2. Rumusan Masalah…………………………………………………. 11
  3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian…………………………….. 11
  4. Tinjauan Pustaka…………………………………………………… 12
  5. Kerangka Teoretik………………………………………………… 14
  6. Metode Penelitian…………………………………………………. 22
  7. Sistematika Pembahasan………………………………………… 25

BAB II  :   MENGENAL KEHIDUPAN BEDIUZZAMAN SAID NURSI

     

  1. Situasi Politik Turki……………………………………………… 27
  2. Sketsa Biografi Said Nursi…………………………………….. 30

  1. The Old Said (1876-1926 M)……………………………..                  30
  2. The New Said (1926-1950 M)…………………………… 38
  3. The Third Said (1950-1960 M)………………………….. 43

 

BAB III :  PANDANGAN SAID NURSI TENTANG EKSISTENSI TUHAN 

 

  1. Eksistensi Tuhan dalam Wacana Filsafat…………………. 48
  2. Pandangan Said Nursi tentang Tuhan………………………. 54
  3. Pembuktian Eksistensi Tuhan Menurut Said Nursi……. 61

  1. Eksistensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi

    Kosmologis……………………………………………………….                61

  1. Eksistensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi

    Ontologis………………………………………………………….                 66

  1. Eksistensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi

    Teleologis………………………………………………………..                  70

  1. Eksistensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi

    Intuitif……………………………………………………………..                 73

BAB IV : KONSEP MATERIALISME dan KRITIK SAID NURSI TERHADAPNYA 

 

  1. Doktrin-Doktrin Materialisme Tentang Ketiadaan Tuhan di Semesta………………………………………………………………… 79

 

  1. Alam Tercipta oleh Sebab (Kausalitas, Mekanik)…… 80
  2. Segala Sesuatu Terbentuk Dengan Sendirinya

          (Materi) …………………………………………………………….               83

  1. Segala Sesuatu Merupakan Tuntutan Alam

                (Alamiah)…………………………………………………………..               88

 

                 

  1. Kritik Said Nursi Kepada Materialisme…………………..                 92
  2. Kritik Melalui Dalil Kosmologis ……………………..                 93
  3. Kritik Melalui Dalil Teleologis ………………………..                99                     

  1. Antara Kritik dan Kontribusi ………………………………..                107

 

BAB   V :  PENUTUP

 

  1.    Kesimpulan ………………………………………………………..               117
  2. Saran-Saran ………………………………………………………..               120

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………                122

DAFTAR RIWAYAT HIDUP………………………………………………….                129 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Dalam perspektif Islam, dikenal adanya sebuah konsep fundamental yakni tauhid, suatu konsep sentral yang berisi ajaran bahwa Tuhan adalah pusat dari segala sesuatu, dan bahwa manusia harus mengabdikan diri sepenuhnya kepada-Nya. Konsep tauhid ini mengandung implikasi doktrinal lebih jauh bahwa tujuan kehidupan manusia tak lain kecuali menyembah kepada-Nya. Doktrin bahwa hidup harus diorientasikan untuk pengabdian kepada Allah inilah yang merupakan kunci dari seluruh ajaran Islam. Dengan kata lain, di dalam Islam, konsep mengenai kehidupan adalah konsep yang teosentris, yaitu bahwa seluruh kehidupan berpusat kepada Tuhan.[1]

Sistem nilai tauhid ini terangkum dalam sebuah formulasi frase yang berbunyi la ilaha illa Allah (tidak ada Tuhan selain Allah). Pengikraran kalimah tersebut, menurut Karen Armstrong bukan hanya sekadar penegasan atas eksistensi Tuhan tetapi sebuah pengakuan bahwa Allah merupakan satu-satunya realitas sejati, satu-satunya bentuk eksistensi sejati. Dia adalah satu-satunya realitas, keindahan, atau kesempurnaan sejati: semua wujud yang nampak dan memiliki sifat-sifat seperti ini hanya meminjam keberadaan dan sifat tersebut dari wujud esensial ini. Dengan mengucapkan penegasan tauhid menuntut kaum Muslim untuk mengintegrasikan kehidupan mereka dengan menjadikan Allah sebagai fokus dan prioritas tunggal mereka.[2]

Persoalannya, secara filosofis eksistensi Tuhan Yang Maha Esa membutuhkan bukti-bukti yang bisa ditampung oleh nalar manusia. Dengan menjelajahi ayat-ayat al-Quran, Fazlur Rahman menemukan bahwa walaupun al-Quran menyuguhkan bukti-bukti yang sangat rasional dengan keteraturan alam semesta, al-Quran tidak “membuktikan” eksistensi Tuhan tetapi “menunjukkan” cara untuk mengenal Tuhan melalui alam semesta yang ada. Namun, seandainya tidak ada alam semesta yang bekerja sesuai dengan hukumnya, sedang yang ada hanya satu hal saja, maka hal ini pun karena sifat ketergantungannya, akan menunjukkan ke arah Tuhan.[3]

Kendati demikian, secara garis besar dalam wacana filsafat eksistensi keesaan Tuhan dibuktikan melalui argumentasi ontologis, kosmologis, dan teleologis. Jika bukti ontologis melukiskan bahwa setiap manusia mempunyai ide tentang Tuhan dan tidak dapat membayangkan adanya sesuatu yang lebih berkuasa dari-Nya, bukti kosmologis berpijak pada ide “sebab-akibat”, yakni tidak mungkin terjadi sesuatu tanpa ada penyebabnya dan penyebab terakhir pastilah Tuhan, maka postulat teleologis berlandaskan pada keseragaman dan keserasian alam semesta, yang tidak dapat terjadi tanpa ada satu kekuatan yang mengatur keserasian tersebut[4]. Dengan demikian keteraturan alam semesta memiliki tujuan-tujuan dan kebijaksanaan objektif di luar manusia.[5]

    Tentu saja, sudah banyak ilmuwan Muslim yang mengelaborasi eksistensi Tuhan dengan menggunakan ketiga argumentasi filsafat tersebut sejak era klasik hingga dewasa ini.[6] Akan tetapi, mungkin Said Nursi (selanjutnya hanya disebut Nursi), seorang pejuang, pemikir, sekaligus sufi besar abad 20 dari Turki yang mampu menguraikan eksistensi Tuhan melalui ketiga aspek filosofis tersebut secara komprehensif. Nursi berusaha melakukan interpretasi terhadap kalimah tauhid yang terangkum dalam la ilaha illa Allah hingga mencapai enam ribu halaman yang terkompilasi dalam karya monumentalnya: Risalah An-Nur.[7]

Justru karena Nursi tidak menafsirkan kalimah tauhid secara harfiah melainkan secara maknawiah, maka ia bisa menyentuh setiap aspek kehidupan untuk membuktikan eksistensi keesaan Tuhan. Ketika membincang apapun saja, baik mengenai ibadah, manusia, alam semesta, kamatian, maupun hari kebangkitan, Nursi menguraikan segalanya laksana rangkaian kepingan-kepingan kebenaran agung yang memantulkan keesaan Allah, Sang Pencipta untuk disaksikan umat manusia.

Metin Karabasoglu, ilmuwan Turki yang sangat menguasai pandangan Nursi, menyuarakan prinsip ini dengan cerdas:

            “Tema sentral dari Risalah An-Nur Yaitu bahwa alam semesta telah diciptakan dan Penciptanya mempunyai sebuah tujuan dengan ciptaan tersebut. Nursi berusaha untuk membuktikan keberadaan dan kesatuan Sang Pencipta dengan alam semesta serta menjelaskan tujuan-Nya dalam penciptaannya. Dengan penelaahan yang intensif terhadap Risalah, menjadi jelas bahwa Nursi menawarkan sebuah penjelasan ontologi yang komprehensif dengan memandang keberadaan alam semesta dan manusia, serta segala hal lainnya yang dianalisis dengan basis eksplanasi ontologi tersebut. Nursi menguraikan tujuan Sang Pencipta dalam menciptakan alam semesta melalui perspektif hakikat ketuhanan: Setiap pemilik keindahan dan kesempurnaan ingin menyaksikan dan memperlihatkan keindahan dan kesempurnaannya sendiri.”[8]

Dalam Risalah An-Nur, Nursi bertutur dengan bahasa yang begitu indah, menarik, dan apik bagaimana butiran-butiran atom yang tak terlihat oleh mata manusia secara makroskopis menjadi cermin keesaan Ilahi; Bagaimana sel-sel darah dan sistem organisme dalam tubuh manusia menjelma lensa keesaan Tuhan; bahkan bagaimana dunia tumbuh-tumbuhan dan alam semesta yang bisu dapat berbicara dengan lisanul hal, bahasa kenyataan mengenai keesaan perbuatan Sang Penguasa semesta. Keluasan Risalah An-Nur dalam mendiskusikan eksistensi Tuhan disebabkan Nursi bukan hanya menyuguhkan alasan-alasan naqliah-teologis (Al-Quran dan Hadis), tetapi juga disertai argumentasi-argumentasi akliah-filosofis dengan tiga perangkat filsafat: bukti ontologis, kosmologis, dan teleologis.[9]

Dr. Turner, seorang muallaf dan pengajar di Universitas Durhan Inggris, mengungkapkan mengenai kebesaran dan kelengkapan karya tersebut dengan bahasa yang lugas dan padat:

“Risalah An-Nur menandaskan bahwa setiap orang yang benar-benar ingin memahami dunia ciptaan ini sebagaimana mestinya, dan bukan atas kehendak dan imajinasinya, pasti akan sampai pada kesimpulan Laa ilaaha illa Allah. Dia akan melihat keteraturan dan harmoni, keindahan dan keseimbangan, keadilan dan kemurahan, ketuhanan, keberlangsungan dan keagungan; dan sekaligus dia akan menyadari bahwa semua atribut tersebut mengarah bukan pada benda-benda ciptaan itu melainkan pada Realita di mana semua atribut tersebut ada dalam kesempurnaan dan keabsolutan. Dia akan melihat bahwa dunia ciptaan ini adalah buku berisikan nama-nama, suatu indeks, yang menceritakan Pemiliknya.”[10]

Nursi melihat seluruh peristiwa dan fenomena di alam semesta, dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari fenomena yang nampak oleh kasat mata hingga yang gaib tan kasat mata mengungkapkan asma-asma Allah seperti, Maha Pengasih, Maha Pemberi Rezeki, Maha Pengatur Benda-benda, Maha Pemelihara, Maha Penolong dan Maha Pembangkit, walaupun tidak disebutkan secara eksplisit.[11] Dan menurut Nursi, bukti eksistensi Tuhan dengan segala atribut-Nya terefleksikan secara sempurna pada diri manusia. Dalam kata-kata Nursi: Man is missive so comprehensive that through his self, Almighty God makes perceived to him all His Names.[12]

Yang lebih menarik, Nursi membungkus setiap argumentasi ontologis, kosmologis, dan teleologis dengan eksposisi alegori filosofis, melalui perbandingan atau perumpamaan. Terkadang ia menggunakan figur seorang raja dan rakyatnya;[13] istana dan para pengunjungnya[14]; kapal[15] dan para penumpangnya; biji-bijian dan pepohonan; musim-musiman, seperti musim gugur dan musim semi; adakalanya juga ia memanfaatkan personifikasi prajurit perang dan yang paling sering adalah menerapkan perumpamaan cahaya matahari untuk mendeskripsikan kreativitas unik Tuhan pada segala ciptaan-Nya.[16]

Terlepas dari luasnya paparan filosofis Nursi mengenai eksistensi Tuhan, ia juga mempertajam argumentasi filosofisnya dengan pendekatan keyakinan (imani) atau pengalaman relijius.[17] Mengenai hal ini penulis tidak bisa menguraikannya sebagus uraian Nursi:

“Keimanan bukanlah sesuatu yang didasarkan pada taqlid membuta. Keimanan harus terdiri atas intelektualitas atau nalar dan kalbu. Keimanan menggabungkan penerimaan dan penegasan nalar dan pengalaman serta penyerahan kalbu. Ada tingkat keimanan yang lain, yakni kepastian yang datang dari pengalaman langsung dengan kebenaran-kebenaran keimanan. Ini tergantung dari keteraturan kita dalam beribadah dan berpikir. Orang yang telah menguasai tingkat keimanan ini dapat menghadapi seluruh dunia ini. Jadi, tugas pertama, terutama dan terpenting kita adalah mencapai tingkat keimanan ini dan mencoba dengan kesungguhan demi ridha Allah Yang Maha Kuasa untuk mengkomunikasikannya dengan orang lain.[18]

Jadi jika dengan eksplanasi filosofis melalui berbagai perangkatnya yang luas tentang kehadiran Tuhan dalam setiap fenomena kehidupan Nursi ingin mengajak para pembacanya menemukan kepuasan intelektual, maka dengan pengalaman relijius dan penyerahan kalbu ia menghendaki manusia mencapai pencerahan spiritual. Bukti-bukti yang disampaikannya bertujuan memuaskan nalar, menenangkan pikiran, dan menyucikan hati. Dengan kata lain, nalar dan kalbu harus bekerja sama dalam menelusuri jejak-jejak Tuhan di semesta.

Dengan kemampuan memadukan dua fakultas esensial manusia yang dibungkus lewat bahasa simbolis, metafora filosofis yang kaya makna dan menyentuh, ide-ide Nursi mampu memasuki abad 21 dengan kewibawaan khas. Jane I smith, Profesor di Hartford Seminary, U.S.A., melukiskan bahwa Nursi mampu menulis dengan hati dan imajinasinya sebaik dengan akal dan inteleknya. Salah satu alasan bahwa ia dapat bertahan dari abad 20 hingga abad 21 sebagai seorang penafsir Islam dan Al-Quran yang sangat dihormati adalah kepiawaiannya dalam menuangkan ide lewat tulisannya, dalam kalimah yang transparan namun kaya dengan simbol penafsiran. Terlebih lagi, para pembaca akan bisa merasakan perasaan Nursi, memahami perintahnya, dan mengalami pemahamannya tentang kebenaran melalui penggunaan kata-kata dan gambaran yang sangat jelas, bahkan terkadang menakjubkan.[19]

 Melihat pembacaan Nursi yang begitu luas dan terfokus terhadap eksistensi Tuhan, wajar bila tersimpul sebuah pertanyaan: apa yang menggerakakan dan memotivasi dirinya menguraikan berbagai persoalan yang kesemuanya hanya bermuara pada keesaan Tuhan? Secara global, setidaknya ada dua faktor untuk menjelaskan persoalan tersebut. Pertama, faktor eksternal. Nursi menghirup aroma kehidupan Turki dalam persimpangan dua abad: akhir abad sembilan belas dan awal hingga pertengahan abad dua puluh (1875-1960).

Akhir abad ke-19 dan menjelang awal abad ke-20 merupakan masa-masa akhir dari usia Daulat Turki Usmani. Masa di mana para musuh secara intensif mencabik-cabik bangsa dan negara Turki untuk mempercepat kehancurannya. Masa di mana dendam kesumat dari pihak-pihak yang tidak menghendaki Islam mewarnai—apalagi menjadi landasan—negara dan pemerintahan dinyatakan secara terang-terangan. Masa di mana Sultan Abdul Hamid selama tiga puluh tahun berupaya dengan segala daya untuk memelihara integritas negara yang sangat luas, namun tidak membuahkan hasil.[20]

Sementara kaum Ittihadi yang mengambil alih pemerintahan Turki era itu berhasil menduduki posisi penanggung jawab dan penentu arah pemerintahan, bahkan sampai berhasil menancapkan pengaruhnya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, juga setahap demi setahap mereka  pun berhasil memperkenalkan dan menerapkan pola hidup Barat yang sangat dikaguminya. Langkah yang ditempuh kaum Ittihadi justru membawa negara Turki berada dalam cengkeraman kekuasaan asing. Turki dikuasai oleh Italia, Armenia, Yunani, bahkan ibu kota Istanbul sendiri berada di bawah pemerintahan Inggris.[21]

Saat itu para koloni Inggris melakukan rekayasa hendak melenyapkan Islam dari tanah Turki. Seorang Menteri urusan koloni Inggris, Gladstone, di depan anggota parlemen sambil menggenggam al-Quran berkata: “Selama al-Quran ini berada di tangan kaum muslimin, kita tidak akan pernah mampu menguasai mereka. Dengan demikian, kita harus melenyapkannya dari mereka atau memutuskan hubungan mereka dengannya.” Berita ini telah membuat Nursi berguncang dan bertekad untuk mengabdikan seluruh hidupnya agar mukjizat Al-Quran berkibar dan kaum Muslim terikat dengannya. Ketika itu Nursi berjanji: “Sungguh aku akan menunjukkan pada dunia bahwa Al-Quran adalah Matahari yang tidak akan redup sinarnya dan tidak mungkin padam cahayanya.” Namun ketika itu Nursi belum fokus melaksanakan tekadnya.[22]

Setelah perang kemerdekaan, pucuk pemerintahan Turki berada di tangan Mustafa Kamal dan ketika ia tampil sebagai pemimpin negara, terjadilah sejumlah perubahan: Kekhalifahan ditanggalkan, undang-undang negara yang berdasarkan syariat Islam diganti dengan undang-undang Swiss, seluruh para penentang langkah yang ditempuhnya disingkirkan—termasuk para komandan yang berjuang bersamanya—kehidupan ala Barat dipaksakan bahkan diundangkan kepada bangsa Turki, tindakan para penentangnya divonis sebagai tindakan subversi lalu dihukum dengan hukuman yang berat. Hurup Arab diganti dengan hurup Latin, sampai azan pun dikumandangkan dalam bahasa Turki, dan sejumlah perubahan mendasar lainnya. Masyarakat Turki dijejali paham materialisme yang berusaha menyingkirkan Tuhan dari setiap dimensi kehidupan. Dalam situasi dan kondisi seperti inilah Nursi tampil untuk menghidupkan keimanan kaum Muslim kembali dengan menulis karyanya: Risalah An-Nur.[23]

Kedua, faktor internal atau psikologis. Ketika memasuki usia awal empat puluh tahun, Nursi mengalami transformasi spiritual dengan membaca dua kitab ulama sufi ternama: Futuh al-Ghaib karya Abdul Qadir al-Jilani dan Maktubat  karangan Imam Rabbani Ahmad Faruqi. Saat membaca kitab Futuh al-Ghaib, Nursi merasakan bagaikan menjalankan operasi besar yang sangat menyakitkan dan melukai perasaannya. Namun setelah beberapa saat kemudian, rasa sakit akibat operasi ruhaniah itu berubah menjelma kesenangan karena ia merasakan kesembuhan spiritual dari berbagai penyakit hatinya.[24]

Demikian pula ia mendapat pencerahan spiritual dari kitab Maktubat yang akhirnya menyebabkan ia uzlah di Shari Yar, Bosfur, sampai-sampai ia tidak menikah hingga akhir hayatnya. Dalam uzlahnya inilah Nursi, yang hanya berdialog dengan Al-Quran, lebih konsentrasi dan intensif menuangkan ide-idenya untuk membendung paham materialisme yang sedang mewabah pada sebagian besar masyarakat Turki.[25] Dari latar belakang seperti itulah, penulis tertarik melakukan penelitian terhadap pemikiran Nursi yang diformulasikan dalam sebuah judul: “Eksistensi Tuhan Menurut Said Nursi dan Kritiknya Terhadap Paham Materialisme Barat.”

  1. Rumusan Masalah

Bertolak dari paparan latar belakang di atas, maka persoalan pokok yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana pandangan Nursi tentang eksistensi Tuhan?
  2. Apa saja bukti-bukti yang dijadikan pijakan Nursi dalam menguraikan eksistensi Tuhan?
  3. Bagaimana bentuk kritik Nursi terhadap paham materialisme Barat modern?

  1. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan sebagai jawaban dari rumusan masalah di atas, yakni meneliti pandangan Nursi mengenai Tuhan, bukti-bukti tentang eksistensi Tuhan dan kritik Nursi terhadap paham materialisme Barat Modern. Adapun secara rinci tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:

Pertama : Untuk memberi penjelasan mengenai konsep Tuhan dan eksistensi Tuhan baik melalui argumentasi teologis (Al-Quran, Hadis dan pendekatan imani), maupun dengan perangkat filosofis berupa bukti-bukti ontologis, kosmologis dan teleologis dalam perspektif Nursi.

Kedua  :  Menunjukkan postulat-postulat dan langkah-langkah apa saja yang ditawarkan oleh Nursi dalam menghadapi dan mengcounter argumentasi-argumentasi paham materialisme yang menolak peran Tuhan dalam pentas kehidupan duniawi dan ukhrawi.

Berdasarkan penjelasan di atas, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan teoretis dan praktis. Sumbangan teoretis yaitu berupa penjelasan yang kongkret berdasarkan realitas alam semesta (makrokosmos dan mikrokosmos) yang dilakuakan Nursi dalam menguraikan eksistensi Tuhan. Sedangkan secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan kajian teologis-filosofis mengenai eksistensi Tuhan baik di lingkungan akademisi maupun masyarakat luas.

  1. Tinjauan Pustaka

Sudah banyak para pemikir dan ilmuwan yang menulis tentang pandangan-pandangan Nursi. Demikian pula artikel-artikel dalam bentuk makalah yang dikompilasikan dari hasil seminar. Lazimnya, pandangan-pandangan Nursi diteliti oleh para ahli dalam kapasitasnya sebagai seorang sufi dan pemikir yang menyoroti berbagai persoalan kehidupan: perspektif Al-Quran mengenai manusia menurut Risalah An-Nur[26]; Globalisasi, etika dan Risalah An-Nurnya Said Nursi[27]; Menebarkan keyakinan, makna dan kedamaian hidup dalam sebuah dunia multikultural melalui pendekatan Risalah An-Nur[28], yang di dalamnya mencakup sub-sub tema yang luas.

Jika pada skala global internasional (luar negeri) pemikiran Nursi sudah tidak asing lagi, tidak demikian halnya pada tataran lokal regional, di Indonesia. Bisa dikatakan masih agak jarang tokoh-tokoh intelektual dalam negeri yang mengenal wacana-wacana Nursi. Kalau pun sudah banyak yang mengenal akhir-akhir ini, tetapi masih sedikit yang menulis atau meneliti ide-ide Nursi. Di Indonesia, sebut saja Machasin yang mengelaborasi gagasan-gagasan Nursi mengenai wacana sufistik, pengaruh tokoh atau ide-ide tokoh sufi, seperti Ghazali, Abdul Qadir al-Jilani, dan Imam Rabbani serta di mana posisi Nursi[29].

Penelitian intensif dilakukan oleh Ustadi Hamzah dalam bentuk tesis yang menguraikan konsep-konsep pandangan Nursi mengenai toleransi beragama sehingga membentuk pluralitas agama.[30]. Demikian pula, dalam bentuk skripsi dengan yang membahas metode penafsiran Nursi dalam Risalah An-Nur oleh Laela Rahmawati[31]. Sementara kajian mengenai pemikiran Nursi yang mengkritik paham materialisme memang telah dilakukan pula oleh sebagian pemikir. Ali Unal ketika mengelaborasi makna hidup sesudah mati melalui sudut pandang Nursi, mengungkapkan sekilas kritik Nursi terhadap paham materialisme. Namun kritik Nursi yang diuraikan Ali Unal hanya satu aspek saja dengan dihubungkan kepada kehidupan sesudah mati atau hari kebangkitan.[32]

Peneliti lain mengenai hal tersebut adalah Thomas Michel. Michel menguraikan pandangan Nursi terhadap peradaban modern yang dibangun di atas nilai-nilai materialistik. Akan tetapi, Michel hanya mengemukakan perbedaan paradigma dunia modern yang bersifat materialistik dengan konsep Al-Quran yang mempunyai orientasi kepada Tuhan menurut Nursi. Michel tidak menjelaskan kritik-kritik Nursi secara eksplisit terhadap paham materialisme tersebut[33]. Kedua peneliti di atas, baik Ali Unal maupun Michel, terlebih lagi belum melakukan eksplanasi pandangan-pandangan Nursi terhadap paham materialisme secara filosofis. Pada titik ini, penelitian tersebut tetap memiliki signifikansi untuk dilakukan.     

  1. Kerangka Teoretik

Perbincangan mengenai Tuhan, dalam wacana filsafat termasuk dalam lingkaran kategori metafisika atau disebut juga dengan filsafat pertama ( first philosophy).[34] Istilah filsafat pertama atau metafisika, yang salah satu unsurnya membahas tentang Tuhan[35], pertama kali digulirkan oleh Aristoteles yang dalam perkembangan selanjutnya masih dipergunakan, termasuk oleh para filsuf Muslim dalam menguraikan eksistensi Tuhan.[36]

Dalam kalangan filsuf non-Muslim, perbincangan mengenai eksistensi Tuhan sebagai Penggerak Pertama ini dielaborasi oleh Thomas Aquinas dengan menyuguhkan lima argumen. Pertama, adanya Penggerak Pertama yang tidak digerakkan yaitu Tuhan. Kedua, adanya Sebab Pertama bagi segala sesuatu yakni Tuhan. Ketiga, adanya sifat ketergantungan yang mengharuskan adanya satu Wujud Wajib, yang disebut Tuhan. Keempat, adanya hierarki kesempurnaan di dunia ini yang mengimplikasikan Sumber Kesempurnaan atau Tuhan. Kelima, adanya tujuan pada benda-benda tak bernyawa, sehingga pasti ada Yang Maha Cerdas yang mengarahkan benda-benda tersebut, dan itulah Tuhan. Apa yang diungkapkan Aquinas tersebut dalam kajian filsafat disebut dengan argumen kosmologi.[37]

Dari dunia Muslim, Ibn Sina tampil menguraikan eksistensi Tuhan lewat dalil al-jawas atau kontingensi yang membagi wujud ke dalam tiga kategori: Wujud Niscaya (wajib al-wujud), wujud mungkin (Mumkin al-wujud) dan wujud mustahil (mumtani’ al-wujud).[38] Wujud Niscaya adalah wujud yang senantiasa harus ada, dan tidak boleh tidak ada. Wujud mungkin adalah wujud yang boleh saja ada atau tidak, sedangkan wujud mustahil adalah yang keberadaannya tidak terbayangkan oleh akal. Alam ini adalah wujud yang boleh ada dan boleh tidak ada. Karena alam merupakan wujud yang boleh ada, maka alam bukan Wujud Niscaya. Namun, karena alam juga boleh tidak ada, maka ia dapat juga disebut wujud mustahil.

Akan tetapi, nyatanya alam ada, maka ia dipastikan sebagai wujud yang mungkin. Terma “mungkin” menurut Ibn Sina adalah potensial, kebalikan dari aktual. Dengan mengatakan bahwa alam ini mungkin pada dirinya, berarti sifat dasar alam adalah potensial, boleh ada, dan tidak bisa mengada dengan sendirinya. Karena alam itu potensial, ia tidak mungkin ada tanpa adanya sesuatu yang telah aktual, yang telah mengubahnya dari potensial menjadi aktual. Sesuatu yang aktual yang telah mengubah alam potensial menjadi aktualitas, itulah Tuhan yang Wujud Niscaya.[39] Allah merupakan Wujud Niscaya (Necessary Being) sebagai Penyebab pertama (first cause) dan sumber utama eksistensi.[40] Pandangan Ibnu Sina mengenai argumen kemungkinan ini sering disebut dengan dalil ontologi, karena pendekatannya menggunakan filsafat wujud.[41]

Demikian pula Ibn Rusyd yang menggagas dalil inayah (rancangan). Berbeda dengan dua argumen di atas yang berdasarkan pemikiran logis-spekulatif, Ibnu Rusyd dengan pemikiran rasional-religiusnya berpendapat bahwa perlengkapan yang ada di alam ini diciptakan untuk kepentingan manusia. Bagi Ibnu Rusyd, hal in merupakan bukti adanya Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Melalui “rahmat” yang ada di alam ini, membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Selain itu, penciptaan alam yang menakjubkan, seperti adanya kehidupan organik, persepsi indriawi, dan pengenalan intelektual, merupakan bukti lain adanya Tuhan melalui konsep penciptaan keserasian.

Penciptaan ini secara rasional bukanlah suatu kebetulan, tetapi harus dirancang oleh agen yang dengan sengaja dan bijaksana melakukannya dengan tujuan tertentu. Bagi Ibnu Rusyd, penciptaan melalui rahmat dan keserasian ini merupakan bukti adanya Tuhan, yang dapat diterima oleh semua kalangan manusia, baik sarjana maupun umum.[42] Karena berdasarkan perspektif adanya keserasian penciptaan, konsep Tuhan menurut Ibnu Rusyd sering disebut argumen teleologis.[43] Apakah ketiga bukti tentang eksistensi Tuhan secara rasional tersebut telah mencukupi? Para ilmuwan Muslim umumnya menjawab, belum.

Mereka melengkapinya dengan metode intuitif, melalui hati atau pendekatan imani. Salah seorang tokoh yang mengulas metode intuitif adalah Jalalluddin Rumi.[44] Menurut Rumi, membuktikan eksisitensi Tuhan dengan akal bagaimana pun piawainya tidaklah memadai. Rumi mengilustrasikan Tuhan sebagai samudera tanpa batas yang airnya berupa api. Lalu bagaimana mungkin nalar yang berkaki kayu dapat melintasi samudera tersebut?[45] Atau dalam metafora lain Rumi pernah bertanya secara ironis, “Dapatkah Anda menyunting sekuntum mawar dari M.A.W.A.R? Tidak, Anda baru menyebut nama, cari yang empunya nama.”[46] Hati, dalam istilah Rumi disebut dil, merupakan masjid dan Ka’bah, sebagai rumah atau singgasana Tuhan di mana Ia mendudukkan Dirinya Sendiri.[47] Untuk menghadirkan Tuhan dalam kalbu tersebut, hati harus dihaluskan, noda yang datang dari kehadiran manusia di dunia harus dibersihkan dengan ingatan yang terus menerus kepada Sang Kekasih. Dengan cara seperti itulah, hati menjadi cermin bening yang memantulkan bayangan kecantikan sang Kekasih tanpa cacat sedikit pun.[48]

Keempat tipologi pandangan tentang eksistensi Tuhan inilah yang akan penulis jadikan kerangka teoretik untuk menganalisis pemikiran Nursi mengenai Tuhan. Karena dalam berbagai karyanya Nursi menguraikan dalil-dalil eksistensi Tuhan dengan menggunakan keempat model argumentasi tersebut. Pemikiran eksistensi Tuhan yang digulirkan Nursi pada dasarnya muncul sebagai respon terhadap pandangan paham materialisme yang berasal dari Barat.  Bila wacana tentang Tuhan dalam kajian para filsuf Muslim tetap terjaga utuh, di dunia Barat secara perlahan diskusi mengenai Tuhan semakin tersingkirkan.

Materialisme merupakan salah satu paham yang menafikan Tuhan dalam fenomena kehidupan. Materialisme adalah aliran filsafat yang memandang materi sebagai pokok segalanya, yang benar-benar nyata.[49] Paham ini berprinsip bahwa di dunia tidak ada selain materi, atau bahwa nature (alam) dan dunia fisik adalah satu. Ide materialisme dapat dirunut kepada seorang filsuf alam Yunani klasik yaitu Democritus (460-370 SM). Democritus berpendapat bahwa alam terdiri dari dua unsur fundamental: atom dan ruang hampa. Karena ia tidak mempercayai apapun kecuali benda-benda material, ia disebut seorang filsuf materialis[50]pertama yang ide-idenya dilanjutkan oleh Epicurus dan Lucretius.

Doktrin materialisme menemukan momentumnya pada awal abad modern di tangan Thomas Hobbes dengan menyajikan materialisme yang mekanik seluruhnya.[51] Hobbes juga dipandang sebagai perintis empirisme modern yang mengembalikan pengetahuan pada pengalaman dan berusaha membebaskan diri dari bentuk-bentuk spekulasi spiritual dalam metafisika tradisional. Ia menegaskan bahwa filsafat tidak berurusan dengan ajaran-ajaran teologis. Yang menjadi objek filsafat adalah yang dapat dialami oleh tubuh. Kalau ada substansi yang tak berubah-ubah, yaitu Allah, dan juga substansi yang tak bisa diraba (malaikat, roh, dst.), harus disingkirkan dari refleksi filosofis.[52]

Pijakan pada fakta-fakta objektif alam, berujung pula pada paham positivisme yang dicetuskan oleh Auguste Comte pada awal abad 19. Karena itu, positivisme merupakan ahli waris empirisme yang sudah diradikalkan.[53] Bagi seorang pengikut aliran materialisme mekanik, semua perubahan di dunia, baik perubahan yang menyangkut atom atau perubahan yang menyangkut manusia, semuanya bersifat kepastian semata-mata. Terdapat suatu rangkaian sebab musabab yang sempurna dan tertutup. Rangkaian sebab musabab ini hanya dapat dijelaskan dengan prinsip-prinsip sains alam semata-mata, dan tidak perlu memakai ide seperti “maksud” (purpose).[54]

Pada akhir-akhir ini, doktrin tersebut dijelaskan sebagai energisme yang mengembalikan segala sesuatu kepada bentuk energi, atau sebagai suatu bentuk dari positivisme yang memberi tekanan untuk sains dan mengingkari hal-hal seperti ultimate nature of reality (realitas yang paling tinggi, atau Allah).[55] Dalam hubungannya dengan dunia Islam, paham materialisme inilah yang dibawa masuk bangsa Eropa (Inggris) ke tengah-tengah bangsa Turki pada akhir abad 19 hingga pertengahan abad 20. Ironinya, banyak masyarakat awam yang terpikat dengan doktrin-doktrin materialisme tersebut.

Dalam kondisi yang memprihatinkan tersebut, Nursi tampil mengusung konsep-konsep tauhid, tentang keesaan Tuhan yang mendasari setiap fenomena semesta, baik makrokosmos maupun mikrokosmos melalui argumen teologis dan filosofis yang dikemas dengan bahasa metafora filosofis yang sederhana. Dalam hal ini, Nursi mengcounter paham materialisme tersebut hanya dengan menggunakan argumentasi kosmologis dan teleologis yang diformulasikan oleh para ilmuwan di atas. Dengan alasan ini, hanya dua  kategori pandangan filsuf non-Muslim dan Muslim tentang eksistensi Tuhan yang akan dimanfaatkan untuk menganalisis kritik Nursi terhadap materialisme.

Di sini perlu pula diberi batasan bahwa paham materialisme yang dibahas adalah materialisme mekanik, yang melihat semua fenomena alam secara saintifik dan menafikan Tuhan. Sebab ada juga materialisme historis yang diusung oleh filsuf terkenal dari Prussia, Jerman, yaitu Karl Marx.[56] Materialisme historis mengasumsikan bahwa kebutuhan-kebutuhan material manusia menentukan bentuk masyarakat dan perkembangannya. Proses perubahan sosial, politik, bahkan spiritual ditentukan oleh variabel material.  Singkatnya, bukan kesadaran masyarakat yang menentukan eksistensi mereka, tetapi eksistensi material yang menentukan kesadaran mereka.[57] Bukan materialisme jenis ini yang menjadi fokus kritik Nursi dalam tesis tersebut melainkan materialisme mekanik seperti teruraikan di atas.

  1. Metode Penelitian
  2. Jenis Penelitian

           Secara tipologis, penelitian ini dengan melihat unsur-unsur penelitian yang digunakan, yakni berupa bahan-bahan tekstual seperti, buku, jurnal,majalah, dan lainnya, maka penelitian ini mengikuti jenis telaah kepustakaan (library research).[58] Di sini, apabila dilihat pula dari subject matternya, penelitian ini termasuk tipologi penelitian budaya, yakni semacam model penelitian yang memilki konsen terhadap pemikiran-pemikiran, nilai-nilai dan ide-ide budaya sebagai produk berpikir manusia.[59]

  1. Metode Pengumpulan Data

Secara garis besar, ada dua sumber yang digunakan dalam memperoleh data, yaitu sumber primer yang memberikan data langsung dari sumber pertama, berupa karya-karya Nursi. Sasaran penelitian ini diarahkan pada pemikiran Nursi dalam hal eksistensi Tuhan yang tertuang dalam karyanya Risalah An-Nur. Akan tetapi, karena karya tersebut telah dikodifikasi ke dalam bentuk beragam buku yang sesuai dengan tema-temanya, maka penelitian ini hanya memfokuskan pada sebagian buku Nursi yang secara spesifik memperbincangkan eksistensi Tuhan melalui argumentasi-argumentasi teologis dan filosofis. Buku-buku tersebut, seperti The Words, terutama the twenty-second word, the thirty-second word dan the thirty-third word; kemudian The Flashes Collection, khususnya the twenty-third flash yang membahas secara tipikal alasan-alasan Nursi dalam mengcounter paham naturalisme; Juga Letters 1928-1932, khususnya the twentieth letter, yang menguraikan sebuah postulat teologis melalui pendekatan filosofis; Terakhir buku Sinar Yang Mengungkap Sang Cahaya, terutama sekali risalah pertama dan risalah keempat, yang menguraikan makna filosofis kalimah tauhid laa ilaaha illa Allah dengan kerangka falsafati.

Demikian pula buku-buku yang membicarakan doktrin-doktrin materialisme tentang alam semesta atau filsafat sains, seperti Titik Balik Peradaban, Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, Juru Bicara Tuhan, Perjumpaan Sains dan Agama, Membaca Pikiran Tuhan, Science and Religion, God and The New Physics, dan buku-buku lain.

Sedangkan sumber sekunder, yakni karya-karya atau tulisan-tulisan para pemikir lain yang membahas pandangan-pandangan Nursi dan sumber-sumber lain yang membicarakan tentang eksistensi Tuhan dan kritik terhadap paham materialisme yang relevan dengan persoalan yang dibahas untuk memperkaya dan mempertajam analisis.

  1. Metode Pengolahan Data 

Sifat penelitian yang dilakukan adalah penelitian tekstual yang bertumpu pada pemahaman teks yang ada hubungannya dengan persoalan yang diteliti. Bahan-bahan tekstual tersebut kemudian dipaparkan dengan menggunakan metode deskriptif-analisis. Jika metode deskriptif berusaha melukiskan dan menjelaskan doktrin-doktrin materialisme mengenai alam semesta serta argumentasi-argumentasi Nursi dalam Risalah An-Nur secara sistematis dan objektif,[60] maka metode analisis berupaya melakukan telaah atau penganalisisan terhadap kedua pemikiran tersebut dengan pendekatan filosofis secara mendalam.[61] Selain itu, dengan metode deskriptif-analisis penulis juga melibatkan evaluasi kritis untuk menelaah sejauh mana keunggulan dan kelemahan pandangan Nursi.[62]

Disamping itu pula, penelitian ini menggunakan pendekatan kritis-filosofis atau disebut juga dengan Filsafat Fundamental (Fundamental Philosophy, atau al-Falsafah al-Ula)[63]. Pendekatan kritis-filosofis digunakan karena bertujuan mengungkap struktur fundamental dari sebuah pemikiran filsafat. Pendekatan kritis-filosofis lebih bersifat keilmuan, terbuka, dan dinamis, yang berbeda dengan aliran-aliran filsafat yang ideologis, tertutup, dan statis. Pendekatan kritis-filosofis bercorak inklusif serta tidak tersekat-sekat dan tidak terkotak-kotak oleh sebuah tradisi.

Pendekatan ini memiliki tiga karakter utama. Pertama, kajian filsafat selalu terarah pada perumusan ide-ide dasar (fundamental ideas) terhadap objek persoalan yang sedang dikaji. Kedua, perumusan ide-ide dasar itu dapat menciptakan berpikir kritis (critical thought). Ketiga, kajian filsafat dengan demikian dapat membentuk mentalitas dan kepribadian yang mengutamakan kebebasan intelektual (intellectual freedom), sehingga terbebas dari dogmatisme dan fanatisme.[64]

  1. Sistematika Pembahasan

Penelitian ini terdiri atas lima bab yang disusun secara sistematis dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Bab I akan diuraikan tentang pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, telaah pustaka, landasan teori, metode penelitian, serta sistematika pembahasan.

Bab II akan dikemukakan terlebih dulu sekilas setting politik Turki pada persimpangan akhir abad 19 dan menjelang awal abad 20. Kemudian akan menyajikan sketsa latar belakang kehidupan Nursi yang mencakup tiga fase. Fase pertama, di mana Nursi masih aktif dalam gelanggang perpolitikan Turki. Fase kedua, menggambarkan bagaimana Nursi memisahkan diri dari dunia politik praktis dan beruzlah untuk menulis Risalah an-Nur secara utuh dalam rangka mengcounter materialisme. Sedangkan fase ketiga, mengilustrasikan masa akhir kehidupan Nursi di mana dirinya sudah mempengaruhi sebagian besar masyarakat Turki melalui karyanya.

Bab III akan memaparkan konsep-konsep eksistensi Tuhan dalam wacana filsafat secara global. Kemudian membahas konsep tentang Tuhan menurut pandangan Nursi dan menguraikan perspektif Nursi mengenai pembuktian eksistensi Tuhan melalui bingkai argumentasi kosmologis, ontologis, teleologis, dan intuitif.

Bab IV akan mengelaborasi doktrin-doktrin materialisme tentang ketiadaan Tuhan di alam semesta yang meliputi alam semesta tercipta oleh sebab (kausalitas), segala sesuatu terbentuk dengan sendirinya (materi), dan segala sesuatu merupakan tuntutan alam (alamiah). Selanjutnya baru membahas kritik Nursi terhadap pandangan materialisme ini melalui dalil kosmologis dan teleologis. Dalam bab ini dilakukan pula analisa mengenai keunggulan dan kelemahan pandangan Nursi.

Bab V merupakan bab terakhir yang akan menyajikan kesimpulan berupa jawaban berdasarkan uraian dan temuan yang telah dipaparkan sebelumnya, serta saran untuk pengembangan penelitian lebih lanjut.

BAB II

 

MENGENAL KEHIDUPAN BEDIUZZAMAN SAID NURSI

                

              

  1. Sekilas Situasi Politik Turki

 

Pemerintahan Sultan Hamid II (1876-1909 M), era saat Said Nursi dilahirkan, merupakan masa-masa akhir dari usia Daulat Turki Usmani. Masa di mana para musuh secara intensif mencabik-cabik bangsa dan negara Turki untuk mempercepat kehancurannya. Masa di mana dendam kesumat dari pihak-pihak yang tidak menghendaki Islam mewarnai—apalagi menjadi landasan negara dan pemerintahan dinyatakan secara terang-terangan. Masa di mana Sultan Abdul Hamid selama tiga puluh tahun berupaya dengan segala daya untuk memelihara integritas negara yang sangat luas, namun tidak membuahkan hasil, yakni: Dengan kepiawaiannya dalam percaturan politik, dengan memanfaatkan dana moneter internasional, dan dengan membangkitkan kesadaran Dunia Islam, juga dengan peringatan yang didengung-dengungkan kepada bangsa-bangsa Islam agar persatuan dan kesatuan di antara mereka harus lebih digalakkan dalam menghadapi bahaya Eropa yang arogan.

Tapi ketika semua ini disampaikan semuanya sudah terlambat, maka buah yang diharapkan pun tidak berhasil dipetik. Sebab, saat itu bahaya asing sudah mengetahui dan menguasai titik-titik lemah dalam negara. Kemudian kelemahan ini dimanfaatkan dalam waktu yang sangat tepat, sehingga dengan mudah pihak musuh pun berhasil menggoyang dan mencabut akar pemerintahan Dinasti Turki Usmani.[65]

Jika ditengok kilas balik awal tahun pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, maka pada tahun 1878 Serbia, Montenegro, dan Rumania lepas dari Kekuasaan Turki Usmani, sementara Bulgaria menjadi semi independen. Di perbatasan Caucasia, Turki kehilangan Qars dan Batum; Inggris mencaplok Cyprus dan Mesir (1882). Perang Turki-Yunani pada tahun  1897 memperluas wilayah Yunani ke utara, dan Crete memperoleh otonomi pada tahun 1898. setelah makzulnya Sultan Abdul Hamid, pada tahun 1909 Bulgaria merdeka dan Bosnia dan Hergezovina dicaplok oleh Austria. Kemudian, Tripoli jatuh ke tangan Italia pada tahun 1912.[66]

Antara tahun 1878 hingga 1914 itu juga, sebagian besar wilayah Balkan menjadi merdeka[67] dan Rusia, Inggris, serta Austria-Hungary merebut sejumlah wilayah Turki Usmani.[68] Dalam situasi politik yang kacau dan lemahnya kekuasaan Sultan Abdul Hamid, Jam’iyyah al-ittihad wa at-tafraqi (Organisasi Persatuan dan Kemajuan) yang didukung oleh pihak-pihak musuh dari luar, mengambil alih kekuasaan negara. Kemudian kaum Ittihadi  menobatkan Sultan Muhammad Rasyad yang berfungsi hanya sebagai boneka, sehingga tidak lebih dan tidak kurang ia hanya sebagai lambang semata.

Sebab, selama masa pemerintahannya, mereka dengan leluasa berhasil mewujudkan politik negara baru yang dicita-citakannya. Demikian juga, mereka pun berhasil menduduki posisi penanggungjawab dan penentu arah pemerintahan, bahkan berhasil menancapkan pengaruhnya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Setahap demi setahap mereka pun berhasil memperkenalkan dan menerapkan pola hidup Barat yang sangat dikaguminya.[69]

Titik kulminasi tumbangnya kesultanan Turki Usmani adalah saat diproklamirkan Republik Turki pada tanggal 29 oktober 1923 dengan menobatkan Mustafa Kemal sebagai presiden pertama seumur hidup dan Ismet Inonu sebagai perdana menteri pertamanya.[70] Mustafa Kemal merenggangkan keterikatan masyarakat umum terhadap Islam dan mengarahkan mereka kepada pola kehidupan Barat. Kesultanan Usmani dihapuskan pada tahun 1923, sedang khilafah dihapuskan pada tahun 1924.[71] Mustafa Kemal bukan hanya menjalankan sekularisasi dan sekularisme dalam arti menghilangkan kekuasaan agama dari bidang politik dan pemerintahan,[72] melainkan juga bercorak sangat radikal.

Mustafa Kemal mengganti undang-undang negara yang berdasarkan syariat Islam dengan undang-undang Swiss; seluruh penentang langkah yang ditempuhnya disingkirkan—termasuk para komandan yang berjuang bersamanya—kehidupan model Barat dipaksakan bahkan diundangkan kepada bangsa Turki; tindakan para penentangnya divonis sebagai subversi lalu dihukum dengan hukuman yang berat; hurup Arab diganti dengan hurup Latin, sampai azan pun dikumandangkan dalam bahasa Turki, dan sejumlah perubahan mendasar lainnya.

Dalam situasi dan kondisi bangsa yang sangat gawat seperti ini dan saat bangsa dan negara dihadapkan pada perubahan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi secara dipaksakan, tampillah Said Nursi dengan mempersiapkan risalah-risalah yang didasarkan oleh diri dan hidupnya. Seluruh waktunya, jauh dari dunia politik dengan segala intriknya. Kali ini Nursi tampil hanya untuk menyusun Risalah An-Nur dan menyebarkan ke seluruh lapisan masyarakat dalam situasi yang teramat sulit agar mereka tetap sebagai masyarakat Islam yang beriman dan dinamis.[73]

 

  1. Sketsa Biografi Said Nursi

 

  1. The Old Said (1876-1926 M)

 

Di sebuah kampung yang di kelilingi gunung-gunung yang menjulang tinggi dengan salju abadi yang selalu menutupi puncak-puncaknya, di sebuah desa yang berpayung langit biru dengan udara yang terkenal bersih dan terbebas dari polusi, di sanalah seorang bayi yang diberi nama Said Nursi lahir. Nursi lahir saat menjelang fajar terbit pada tahun 1876 M, di sebuah desa bernama Nursi, salah sebuah perkampungan Qadha (Khaizan) di wilayah Bitlis yang terletak di sebelah timur Anatoli.

Ayahnya bernama Mirza, seorang sufi yang sangat wara’ dan diteladani sebagai seorang yang tidak pernah memakan barang haram dan hanya memberi makan anak-anaknya hanya dengan yang halal saja. Dikisahkan, bahwa setiap ternaknya kembali dari penggembalaan, mulut-mulut ternak dibuka lebar-lebar khawatir ada makanan dari tanaman kebun milik orang yang dimakan. Ibunya (Nuriah) pernah berkata, bahwa dirinya hanya menyusui anak-anaknya dalam keadaan suci dan berwudhu.[74]

Nursi mulai menimba ilmu dari bilik ayahnya sendiri, Mirza dan kepada saudara lelakinya, Abdullah. Sebagaimana lazimnya pelajar Muslim, ia mulai mengkaji bidang nahwu dan sharf.[75] Pada tahun 1888, dengan ketekunan luar biasa Nursi masuk di sekolah Bayazid, yang ditempuhnya hanya dalam waktu tiga bulan. Selama itu, ia berhasil membaca seluruh buku yang pada umumnya dipelajari di sekolah-sekolah agama hingga tepat tiga bulan ia menggondol ijazah dari Syaikh Muhammad Jalali.[76]

Pada tahun 1989 M. Nursi berguru pula kepada seorang ulama terkenal, Fathullah Afandi, yang bertanya kepadanya:

  • Engkau katanya telah selesai membaca as-Suyuthi pada tahun yang silam, tapi apakah engkau telah selesai membaca kitab al-Jami’ pada tahun ini?
  • Oleh Nursi dijawab: Ya, saya telah selesai membacanya secara keseluruhan.

Kemudian Syaikh Fathullah Afandi mulai menyebutkan nama kitab-kitab kepadanya dan oleh Nursi dijawab bahwa semua kitab tersebut telah selesai dibaca. Syaikh Afandi mengujinya seputar kitab-kitab yang telah dibaca Nursi.  Pada waktu menjalani ujian, Nursi dengan mantap mampu menjawab setiap soal yang diajukan. Ia juga menghafal kitab Jam’ul Jawami’ (kitab tentang ushul fiqih) karya Ibn as-Subki dalam waktu satu minggu. Fakta ini membuat Syaikh Afandi memujinya sebagai perpaduan antara otak jenius dan daya hafal yang luar biasa, serta menulis pada sampul kitab tersebut: Sungguh seluruh kitab Jam’ul Jawami’ telah mampu dihafal hanya dalam  satu minggu.[77]

Tidak lama kemudian popularitas pemuda jenius ini (Said Nursi) tersebar luas. Lebih dari delapan puluh kitab induk tentang ilmu-ilmu keislaman berhasil dihafal. Bukan hanya kitab-kitab yang dihafal Nursi, ia pun menghafal kamus al-Qamus al-Muhith, karya al-Fairuz Abadi, sampai pada hurup Sin. Nursi kemudian pergi ke kota Bitlis untuk menelaah sejumlah besar buku ilmiah dan menghafal sebagian darinya. Pada tahun 1894, Nursi pergi menuju kota Wan untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu modern, seperti geografi, kimia, dan lainnya kepada para ilmuwan.

Dalam waktu relatif singkat sekali Nursi mampu menguasai matematika, ilmu falak, kimia, fisika, geologi, filsafat, sejarah, geografi, dan lain-lain. Berkat potensinya yang mampu menyerap berbagai disiplin ilmu dan otaknya yang sangat jenius, popularitas Nursi segera tersebar luas dan digelari Badiuzzaman (Bintang Zaman).[78] Dalam waktu yang sama Nursi mendengar berita tentang menteri urusan koloni Inggris, Gladstone, di depan anggota parlemen dengan menggenggam Al-Quran telah berkata: “Selama Al-Quran ini berada di tangan kaum muslimin, kita pun tidak akan pernah mampu menguasai mereka. Dengan demikian bagi kita tidak akan ada jalan lain kecuali melenyapkannya atau memutuskan hubungan  kaum muslimin dengannya”.

Berita ini telah membuat Nursi berguncang dan bertekad untuk mengabdikan seluruh hidupnya agar mukjizat Al-Quran berkibar dan kaum muslimin terikat dengannya. Ketika itu ia berkata: “Aku sungguh akan menunjukkan kepada dunia bahwa Al-Quran adalah matahari maknawi (hakiki) yang tidak akan redup sinarnya dan tidak mungkin padam cahayanya”. Tetapi saat itu Nursi belum mampu untuk fokus dan mewujudkan cita-citanya.[79]

Pada tahun 1907 M. Nursi mengunjungi ibu kota Istanbul. Di ibu kota Istanbul ia menyampaikan usulan kepada Sultan Abdul Hamid agar di timur Anatoli didirikan sekolah-sekolah yang mempelajari matematika, fisika, kimia, dan sebagainya, di samping sekolah-sekolah agama. Nursi mengusulkan penggabungan studi ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern agar terjadi keselarasan wawasan. Nursi menyuarakan penggabungan kedua ilmu tersebut dengan frase yang singkat dan padat namun cukup indah:

“The religious sciences are the light of the conscience and the modern sciences are the light of the reason; the truth becomes manifest through of the combining of the two. The students’ endeavour will take flight on these two wings. When they are seperated it gives rise to bigotry in the one, and wiles and scepticism in the other”.[80]( Pengetahuan agama merupakan cahaya bagi hati nurani dan pengetahuan modern adalah penerang bagi akal; kebenaran akan termanifestasi melalui kombinasi antara keduanya. Ketekunan para pelajar akan mengantarkan mereka mampu terbang tinggi dengan kedua sayapnya. Namun ketika keduanya dipisahkan, akan menimbulkan kefanatikan di satu sisi, dan ketertipuan serta sikap skeptis di sisi lain).

Namun usulan brilian tersebut ditolak karena orang-orang dekat Sultan justru memfitnahnya.

Pada musim dingin tahun 1911 M., Nursi mengadakan kunjungan ke negeri Syam, yang kebetulan saudara perempuannya tinggal di sana. Selama di sana ia berkesempatan untuk menyampaikan khutbah dengan bahasa Arab di Masjid Raya Umawi Damaskus. Khutbah tersebut terkenal dengan sebutan al-Khuthbah asy-Syamiyah atau The Damascus Sermon, yang berisi enam penyakit yang melanda umat Islam dan pengobatannya, yakni:

  • putus asa yang pengobatannya berupa harapan
  • ketidakjujuran dengan pengobatannya kejujuran
  • permusuhan diobati dengan saling mencintai
  • perpecahan harus diselesaikan dengan persatuan
  • kelaliman penguasa asing yang melemahkan umat Islam yang mesti diterapi dengan membangkitkan harga diri umat Islam
  • Dan sikap individualistik yang harus dipecahkan dengan musyawarah dan saling kerja sama.[81]

 Ketika pecah perang Dunia I pada tahun 1914 M. dengan Rusia, Nursi yang saat itu sudah mulai mempunyai agak banyak murid, bersama para muridnya dengan segala daya yang dimiliki turut serta menghadapi pasukan tentara Rusia. Dalam masa perang ini ia berhasil menyusun tafsirnya yang sangat berharga, Isyarat al-Ijaz fi Mazhan al-Ijaz,[82] dalam bahasa Arab. Dalam pertempuran tersebut Nursi tertangkap oleh pasukan tentara Rusia dan ditawan di Qustarma selama dua tahun empat bulan.[83]

Ketika masa-masa dalam tawanan Rusia inilah keinginan Nursi untuk uzlah, mengasingkan diri dari kehidupan sosial mulai muncul. Berawal dari perasaan terasing, sendirian, lemah, dan tidak berdaya saat berada di masjid kecil milik bangsa Tatar dekat sungai Volga, ia memutuskan untuk beruzlah.[84] Namun tekad itu belum juga terlaksana secara utuh, sebab orang-orang yang dicintainya di Istanbul, kehidupan sosial yang menyenangkan dan gemerlap, serta penghargaan dan penghormatan yang diberikan orang-orang sempat membuatnya lupa terhadap niat yang telah diputuskan sebelumnya.

Kendati demikian, Nursi sudah mengambil jarak terhadap kehidupan sosial. Hal ini terbukti dengan penolakannya untuk diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyyah yang terdiri dari orang-orang terkenal dan para ulama terkemuka, seperti Muhammad ‘Akif (penyair kondang), Ismail Hakki (seorang ulama kenamaan), Hamdi Almalali (mufassir terkenal), Mustafa Shabri (Syaikhul Islam), Sa’duddin Pasya, dan lain-lain. Nursi tidak pernah mengikuti pertemuan yang diselenggarakan berulang kali oleh Darul Hikmah dan mengajukan surat permohonan agar dirinya tidak usah dipilih sebagai anggota.[85]

Seiring perjalanan waktu, dua tahun kemudian Nursi membaca kitab futuh al-Gaib karya Abdul Qadir al-Jilani. Saat itu juga ia menjadi sadar bahwa dirinya mempunyai penyakit-penyakit ruhani yang sangat parah padahal ia diharapkan bisa menyembuhkan penyakit-penyakit ruhani umat Islam. Ia mengakui bahwa membaca kitab Futuh al-Gaib bagaikan menjalani suatu operasi besar. Awalnya iatidak tahandan hanya membaca sampai separuh kitab tersebut. Namun beberapa saat kemudian, rasa sakit akibat operasi ruhaniah itu berganti dengan kesenangan karena ia merasakan kesembuhan.

Lalu Nursi meneruskan membaca kitab tersebut sampai selesai dan mendapatkan manfaat besar darinya. Ia begitu menghormati dan selalu mendoakan al-Jilani setiap hari, sehingga mendapatkan lebih banyak lagi pencerahan dan kepuasan ruhani. Selanjutnya ia juga membaca kitab Maktubat, karya Imam Rabbani yang menjadikan dirinya semakin mantap untuk beruzlah.[86] Terlebih lagi, saat Daulat Turki Usmani secara beruntun dilanda beragam musibah hingga Inggris berhasil menduduki Istanbul (pada 16 Maret 1920 M.) yang semakin leluasa menerapkan doktrin-doktrin dunia Barat yang bercorak materialistik.

Nursi merasa tikaman demi tikaman yang dihujatkan kepada dunia Islam terasa seolah diarahkan ke lubuk hatinya. Dalam kondisi demikian, tekad nursi beruzlah untuk menyusun karyanya Risalah An-Nur, tidak bisa diganggu gugat lagi. Ia menetapkan diri untuk beruzlah ke salah satu daerah Turki, yaitu Shari Yar, Bosfur.[87] Bahkan ketika tahun 1922 M. Mustafa Kemal menawari dirinya jabatan sebagai penasihat umum seluruh wilayah timur Turki dengan memberinya sebuah vila besar dan gaji yang menggiurkan agar ia menjadi salah satu orang dekanya, Nursi menolak tawaran itu.[88]

Dalam uzlahnya inilah, Nursi yang hanya berdialog dengan Al-Quran semata tanpa merujuk kepada kitab apa pun, lebih terfokus dalam menuangkan ide-idenya secara inspiratif dalam usahanya membendung paham materialisme[89] yang sudah menjangkit sebagian besar masyarakat Turki. Selama masa-masa ini juga, berbagai buku-buku karangannya mulai diterbitkan, seperti Isyarat al-I’jaz, Qazil Ijaz fi al- Manthiq, as-Sanuhat, serta makalah-makalahnya, seperti Rumuz, Isyarat, thulu’at, Lama’at, Syaa’at, Min Ma’rifah an Nabi SAW., dan nuqthah Min Ma’rifatillah Jalla Jalaluh.[90]   

   

    

  1. The New Said (1926-1950 M.)

 

Dalam episode kedua kehidupan Said Nursi ini, yang disebut juga oleh Nursi sendiri sebagai Said al-Jadid (Said Baru), Nursi secara utuh melepaskan dirinya dari dunia perpolitikan dengan sebuah ungkapan terkenal yang ia lontarkan: A’udzu billahi min asy-Syaithani wa min as-Siyasah (Aku berlindung kepada Allah dari setan dan dari politik).[91] Sejak itu Nursi terfokus dalam aktivitas inqadz al-iman (menyelamatkan keimanan) di Turki. Nursi melukiskan keputusannya untuk menjauhi arena politik dengan alasan yang kontekstual:

“Bagi orang yang beriman sangatlah sulit untuk memperjuangkan tujuannya melalui politik dalam situasi yang membadai seperti sekarang. Karena perjuangan apa pun yang dilakukan demi Islam melalui politik, pada akhirnya hanya akan digunakan oleh sistem anti Islam yang dominan sebab kendali kehidupan politik ada di tangan kekuasaan asing.

Keterlibatan dalam politik akan membagi umat Islam menjadi kelompok-kelompok politik yang saling bertentangan. Perselisihan politik ini tumbuh sedemikian dalam pada hati setiap orang dan pada kehidupan bersama karena tabiat manusia, seperti keangkuhan, sehingga seorang Muslim akan menyebut saudara seimannya sebagaisetan jika dia tidak mendukung partai politiknya. Karena bisa jadi orang yang terpelajar akan sangat mencela orang yang baik dan saleh karena berbeda pandangan politiknya dan memuji orang yang korup karena membela kepentingan politiknya. Maka aku menjadi takut dengan kejahatan politik dan menarik diri sepenuhnya darinya seraya berkata: aku berlindung kepada Allah dari setan dan politik.[92]

Uzlah itu juga terdorong karena Nursi menyaksikan bagaimana sistem sekularisme yang diterapkan oleh penguasa dengan mensosialisasikan doktrin-doktrin materialisme ke seluruh masyarakat Turki hingga nyaris melumpuhkan keyakinan mereka. Sehingga Nursi menempuh langkah tersebut setelah ia yakin bahwa memfokuskan diri sebagai pelayan Islam tidak mungkin dapat diwujudkan melalui perjuangan politik dengan segala intrik dan pertentangannya, terutama setelah sekolah-sekolah agama dibubarkan dan beratus masjid Jami’ diubah menjadi gudang, atau pusat hiburan, atau gelanggang remaja. Karenanya Nursi pun mengubah aktivitas politiknya dan mengalihkan perhatiannya pada aspek keimanan dan masalah-masalah akidah.[93]

Kendati demikian, era kehidupan Nursi yang baru ini pun tidak sepi dari teror penguasa. Dengan tuduhan terlibat dalam revolusi terhadap pemerintahan Mustafa Kemal, Nursi ditangkap dan dibuang ke Barla, sebuah desa berbukit di barat daya Turki pada tahun 1926 M. Di sana ia menjalani kehidupan yang sulit dan terpisah hampir dari setiap orang. Tetapi ia berhasil mendapatkan hiburan, pelipur sejati, dengan mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Besar dan lewat penyerahan diri seutuhnya kepada-Nya. Bagian-bagian pokok dari Risalah an-Nur, The Words (Kumpulan Kata) dan The Letters (Kumpulan Surat), ditulisnya di Barla kala ia dalam kondisi sulit.[94]

Di desa Barla ini Nursi berkenalan dengan seorang warga desanya yang bernama Sulaiman yang akhirnya menjadi murid setia yang mengabdi kepadanya selama delapan tahun. Inilah awal hubungan antara Nursi dengan warga penduduk Barla. Sejak itu satu per satu orang-orang berdatangan untuk berguru kepadanya dan Nursi mulai menyebarkan Risalah an-Nur secara sembunyi-sembunyi. Halakah pengajiannya tumbuh dan berkembang. Sementara itu, para muridnya pun aktip mempelajari Risalah an-Nur dan menyalin serta menyebarluaskannya ke seluruh penjuru Turki. Demi misi ini, mereka dengan hati yang mantap rela ditangkap, diasingkan, bahkan walau sampai disiksa.[95]

Salinan karya-karya Risalah an-Nur saat itu masih ditulis dengan tangan dan mulai menyebar ke seantero Turki. Inilah awal mula pergerakan Risalah an-Nur.[96] Ternyata metode perjuangan Islam ini mengundang reaksi dan kebencian pemerintah. Dengan tuduhan membangun rahasia dan melawan pemerintah, Nursi dituntut hukuman mati dan seratus dua puluh santrinya diadili di Pengadilan Pidana Eskisehir pada tahun 1935. Meskipun sepanjang hidupnya ia selalu menentang segala pemberontakan dan gerakan yang bermaksud memecah ketenteraman dan keteraturan masyarakat, dan selalu menandaskan bahwa hak-hak setiap orang tidak boleh dilanggar meskipun demi kepentingan seluruh masyarakat, dia dituduh membangun organisasi-organisasi rahasia yang bertujuan menghancurkan ketenteraman masyarakat.[97]

Dakwaan yang dialamatkan kepada Nursi dan murid-muridnya detailnya antara lain:

  • Tuduhan membentuk organisasi bawah tanah.
  • Tuduhan melakukan upaya revolusi kepada Mustafa Kemal
  • Tuduhan membentuk thariqah sufi.
  • Tuduhan menghidupkan semangat keagamaan melalui penyebaran Risalah al-Hijab.[98]

Ketika dalam persidangan Eskisehir Nursi ditanya pendapatnya tentang negara Republik Turki, ia menjawab: Biografi saya yang kalian pegang itu bahwa saya ini warga negara republik yang religius bahkan sebelum kalian lahir ke dunia. Nursi ditahan selama sebelas bulan di penjara sebelum akhirnya diputus tidak bersalah.[99] Menariknya, justru kebanyakan karya Nursi Risalah an-Nur sebagian besar ditulis pada masa-masa ia berada di dalam penjara.

Dalam tahanan tahun 1935 Nursi juga menulis risalah-risalah al-Iqtishad, al-Ikhlash, al-Hijab, al-Isyarat ats-Tsalatsah, al-Mardha, asy-Syuyukh, serta risalah keduapuluh lapan, kedua puluh sembilan, dan tiga puluh yang terkompilasi dalam kitab al-Lama’at.[100] Setelah dibebaskan dari pengadilan Eskisehir, ia diasingkan kembali ke kota Kastamonu. Tiga bulan pertama ia ditahan di kantor polisi. Kemudian dipindahkan ke rumah kayu berukuran kecil dan berlantai tanah yang berada di depan kantor polisi tersebut selama tujuh tahun.[101]

Selama dalam tahanan Kastamonu, Nursi banyak menulis Risalahnya yang terkodifikasi dalam The Rays. Tercatat ia menulis Sinar pertama dan kedua sampai selesai, dan dilanjutkan Sinar ketiga sampai kesembilan yang di dalamnya menjelaskan tanda tertinggi. Sebagian besar Risalah yang tertuang dalam Lama’at dirampungkan pula selama dalam masa tawanan tersebut.[102]

Selama masa ini, baik Nursi maupun murid-muridnya terus-menerus mendapatkan tekanan dari penguasa. Tekanan tersebut kian lama kian meningkat, dan berpuncak dengan penangkapan besar-besaran hingga pengadilan dan pemenjaraan di Denizli[103] pada tahun 1943-1944. Nursi dikurung selama sembilan bulan dalam sebuah sel yang kecil sekali, gelap, dan pengap dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Dalam penjara ini Nursi hanya bisa menyebarkan Risalahnya secara sembunyi-sembunyi melalui selah kecil dari jendela kepada para murid-muridnya karena ia dilarang untuk berhubungan secara terbuka.[104]

 Dalam pengadilan di Denizli, Nursi dituduh membentuk thariqah sufi dan menorganisir masyarakat politis. Dalam persidangan di pengadilan Denizli, Nursi mengajukan pembelaan argumentatif yang tak terbantahkan:

“Memang  betul, kami merupakan sebuah organisasi. Tetapi berupa organisasi sepanjang masa yang beranggotakan empat ratus juta orang. Kami adalah anggota dari organisasi yang setiap hari sebanyak lima kali selalu mengikrarkan keanggotaan kami di dalamnya dan sangat terikat dengan prinsip-prinsip dasar organisasi, juga selalu berlomba untuk merealisasikan syiar organisasi ini, yaitu : “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara”.[105] Kami adalah anggota suci yang agung dan kami merupakan anggota-anggotanya yang memikul tugas agar di antara sesama anggota mengenal hakikat Al-Quran secara ilmiah dan murni, sebagai bentuk pengabdian dari kami untuk kami dalam upaya membebaskan sesama kami dari penjara abadi (neraka jahannam) yang diperingatkan kepada kami”.[106]

Setelah dibebaskan, Nursi diasingkan ke Emirdag, salah sebuah daerah di wilayah Afyon. Pada tahun 1948 sebuah perkara baru dibuka di Pengadilan Pidana Afyon. Pengadilan memvonis Nursi dengan semena-mena, tetapi vonis tersebut dibatalkan melalui banding sehingga nursi beserta murid-muridnya dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan pada bulan September 1949. Pada tahun yang sama, Risalah an-Nur tersebar dari pelosok desa sampai pusat kota Turki setelah pengadilan di berbagai daerah mengizinkannya untuk diterbitkan dengan tidak lagi secara manual.

Pada saat pengadilan sedang mengadakan sidang-sidangnya, pemerintahan di Angkara berganti penguasa pada tahun 1950. partai Demokrasi berhasil mengambil alih dari Partai Republik yang telah berkuasa selama seperempat abad dan terkenal sangat memusuhi Islam melalui pemilu yang berlangsung secara bebas. Ketika Partai demokrasi naik ke panggung kekuasaan, keluarlah surat pengampunan umum dan kasus yang menyangkut Baduzzaman bersama Risalah an-Nur juga dianggap tidak pernah terjadi.[107]

  1. The Third Said (1950-1960 M)

Kaum Muslimin bergembira dengan tampilnya Partai Demokrat sebagai pemegang kendali pemerintahan. Tetapi kegembiraan ini bukan karena ia sebagai Partai Islam, melainkan oleh dua faktor utama, yakni karena Partai Demokrasi berhasil menggeser pemerintahan yang sangat memusuhi Islam dan karena Partai Demokrasi memberi sedikit kebebasan kepada Islam untuk beraktivitas dan telah mengembalikan azan dengan bahasa Arab kembali berkumandang. Dengan alasan inilah, Nursi mengirimkan ucapan selamat kepada presiden Turki yang baru, Celal Bayar dan sang presiden pun membalas kembali dengan ucapan terima kasih.[108]

Kendati pemerintahan sudah berganti wajah baru, namun kebebasan terhadap aktivitas Nursi dengan para murid-muridnya beserta penyebaran Risalahnya tetap diawasi oleh penguasa. Episode akhir kehidupannya yang ketiga ini pun dilalui nursi dengan dakwaan demi dakwaan dan berpindah dari sat