EKSISTENSI TUHAN MENURUT SAID NURSI DAN KRITIKNYA TERHADAP MATERIALISME BARAT

Oleh:

Zaprulkhan NIM. 05212449

TESIS

Diajukan kepada Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar    Magister dalam Ilmu Agama Islam Program Studi Agama dan Filsafat Konsentrasi Filsafat Islam

YOGYAKARTA

2007

KATA PENGANTAR

 

 

            Segala puji bagi Allah, Tuhan Penguasa semesta persada. Dialah Tuhan yang tidak hanya menjadi muara cinta di mana setiap makhluk mengekspresikan sejuta kisah cinta kepada-Nya kendati mereka tidak menyadarinya; Tuhan tempat melabuhkan segala damba hamba-hamba-Nya; namun Dia juga menjadi sebuah misteri dari setiap misteri yang mengundang semesta tanya sehingga membuahkan wacana-wacana untuk mendemonstrasikan eksistensi-Nya, baik secara intelektual maupun spiritual (intuitif). Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada nabi Agung Muhammad Saw, insan kamil yang tidak pernah berhenti dalam penjelajahan intelektual dan spiritualnya, kepada keluarganya yang suci, para sahabatnya yang mulia, dan kepada para pengikutnya yang meneladani petualangannya.

            Kemudian berkat rahmat dan inayah Allah, penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul Eksistensi Tuhan Menurut Said Nursi dan Kritiknya Terhadap Materialisme Barat. Penyelesaian tesis tersebut melalui proses yang melibatkan banyak pihak baik secara personal maupun institusional. Karena itu, dari hati yang paling dalam, penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya terutama kepada:

  1. Direktur dan Asisten Direktur beserta para Guru Besar Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang telah berkenan memberikan secercah ilmu pengetahuan, wawasan, lentera kearifan, kesempatan dan fasilitas yang memadai untuk mengikuti pendidikan lanjut pada Program Pascasarjana (S2).
  2. Syaifan Nur, M.A. selaku pembimbing yang dengan wawasan dan idealisme yang dimiliki telah berkenan memberikan bimbingan, analisis, dan arahan yang penuh perhatian.
  3. Rektor IAIN Raden Fatah Palembang, Prof. DR. J. Suyuthi Pulungan, M.A. yang telah memberi motivasi untuk melanjutkan studi Program Magister beserta bantuan moril dan materil.
  4. Para staf Dosen STAIN Bangka Belitung yang telah memberikan bantuan baik moral maupun material, terutama pada semester dua dan tiga sehingga bisa memudahkan penulis menjalankan kegiatan akdemik tanpa kerepotan mencari dana kuliah.
  5. Para pengelola UPT Perpustakaan dan Perpustakaan Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang telah memberikan pelayanan sebaik mungkin dalam rangka tersedianya buku-buku rujukan yang diperlukan.
  6. Hodja Hasbi Sen yang pertama kali mengenalkan penulis dengan wacana-wacana Bediuzzaman Said Nursi dan telah menyumbangkan sebagian besar karya Said Nursi ketika penulis hijrah ke yogyakarta untuk melanjutkan studi S2.
  7. Ibunda Zahra yang dengan kebijakan, ketabahan, dan doa-doanya di larut malam yang sunyi; ayunda Zuleha yang dengan kasih sayang dan kepeduliaannya; serta adik bungsuku, Zohana, yang melalui keindahan dan ketulusan cintanya telah mengukir makna dalam kehidupan penulis.
  8. Semua rekan seperjuangan di markas corpus Yogyakarta, terutama para senior yang tengah menempuh Program S3, yang telah memberi masukan, motivasi, insigth, dan arahan yang sangat berharga hingga studi S2 dan penulisan tesis ini bisa dirampungkan tepat waktu sesuai target.

                  Akhirnya, semoga Allah, An-Nafi’, Tuhan Yang Maha Memberi Manfaat, menjadikan karya ilmiah ini bermanfaat, terutama bagi penulis pribadi sekeluarga dan bagi dunia akademik umumnya.

                                                          Yogyakarta, 20 Februari 2007

                                                          Penulis,

                                                          Zaprulkhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

 

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………..                  I  

 

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN………………………………….                II

 

NOTA DINAS PEMBIMBING…………………………………………………..               III 

 

HALAMAN PENGESAHAN DIREKTUR………………………………….               IV

 

NOTA DINAS PENILAI…………………………………………………………….                V

 

ABSTRAK…………………………………………………………………………………               VI

 

PEDOMAN TRANSLITERASI …………………………………………………             VII

 

MOTTO DAN PERSEMBAHAN……………………………………………….            VIII

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………………..               IX

 

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………..              XII 

 

BAB I   :   PENDAHULUAN

     

  1. Latar Belakang Masalah…………………………………………. 1             .
  2. Rumusan Masalah…………………………………………………. 11
  3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian…………………………….. 11
  4. Tinjauan Pustaka…………………………………………………… 12
  5. Kerangka Teoretik………………………………………………… 14
  6. Metode Penelitian…………………………………………………. 22
  7. Sistematika Pembahasan………………………………………… 25

BAB II  :   MENGENAL KEHIDUPAN BEDIUZZAMAN SAID NURSI

     

  1. Situasi Politik Turki……………………………………………… 27
  2. Sketsa Biografi Said Nursi…………………………………….. 30

  1. The Old Said (1876-1926 M)……………………………..                  30
  2. The New Said (1926-1950 M)…………………………… 38
  3. The Third Said (1950-1960 M)………………………….. 43

 

BAB III :  PANDANGAN SAID NURSI TENTANG EKSISTENSI TUHAN 

 

  1. Eksistensi Tuhan dalam Wacana Filsafat…………………. 48
  2. Pandangan Said Nursi tentang Tuhan………………………. 54
  3. Pembuktian Eksistensi Tuhan Menurut Said Nursi……. 61

  1. Eksistensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi

    Kosmologis……………………………………………………….                61

  1. Eksistensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi

    Ontologis………………………………………………………….                 66

  1. Eksistensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi

    Teleologis………………………………………………………..                  70

  1. Eksistensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi

    Intuitif……………………………………………………………..                 73

BAB IV : KONSEP MATERIALISME dan KRITIK SAID NURSI TERHADAPNYA 

 

  1. Doktrin-Doktrin Materialisme Tentang Ketiadaan Tuhan di Semesta………………………………………………………………… 79

 

  1. Alam Tercipta oleh Sebab (Kausalitas, Mekanik)…… 80
  2. Segala Sesuatu Terbentuk Dengan Sendirinya

          (Materi) …………………………………………………………….               83

  1. Segala Sesuatu Merupakan Tuntutan Alam

                (Alamiah)…………………………………………………………..               88

 

                 

  1. Kritik Said Nursi Kepada Materialisme…………………..                 92
  2. Kritik Melalui Dalil Kosmologis ……………………..                 93
  3. Kritik Melalui Dalil Teleologis ………………………..                99                     

  1. Antara Kritik dan Kontribusi ………………………………..                107

 

BAB   V :  PENUTUP

 

  1.    Kesimpulan ………………………………………………………..               117
  2. Saran-Saran ………………………………………………………..               120

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………                122

DAFTAR RIWAYAT HIDUP………………………………………………….                129 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Dalam perspektif Islam, dikenal adanya sebuah konsep fundamental yakni tauhid, suatu konsep sentral yang berisi ajaran bahwa Tuhan adalah pusat dari segala sesuatu, dan bahwa manusia harus mengabdikan diri sepenuhnya kepada-Nya. Konsep tauhid ini mengandung implikasi doktrinal lebih jauh bahwa tujuan kehidupan manusia tak lain kecuali menyembah kepada-Nya. Doktrin bahwa hidup harus diorientasikan untuk pengabdian kepada Allah inilah yang merupakan kunci dari seluruh ajaran Islam. Dengan kata lain, di dalam Islam, konsep mengenai kehidupan adalah konsep yang teosentris, yaitu bahwa seluruh kehidupan berpusat kepada Tuhan.[1]

Sistem nilai tauhid ini terangkum dalam sebuah formulasi frase yang berbunyi la ilaha illa Allah (tidak ada Tuhan selain Allah). Pengikraran kalimah tersebut, menurut Karen Armstrong bukan hanya sekadar penegasan atas eksistensi Tuhan tetapi sebuah pengakuan bahwa Allah merupakan satu-satunya realitas sejati, satu-satunya bentuk eksistensi sejati. Dia adalah satu-satunya realitas, keindahan, atau kesempurnaan sejati: semua wujud yang nampak dan memiliki sifat-sifat seperti ini hanya meminjam keberadaan dan sifat tersebut dari wujud esensial ini. Dengan mengucapkan penegasan tauhid menuntut kaum Muslim untuk mengintegrasikan kehidupan mereka dengan menjadikan Allah sebagai fokus dan prioritas tunggal mereka.[2]

Persoalannya, secara filosofis eksistensi Tuhan Yang Maha Esa membutuhkan bukti-bukti yang bisa ditampung oleh nalar manusia. Dengan menjelajahi ayat-ayat al-Quran, Fazlur Rahman menemukan bahwa walaupun al-Quran menyuguhkan bukti-bukti yang sangat rasional dengan keteraturan alam semesta, al-Quran tidak “membuktikan” eksistensi Tuhan tetapi “menunjukkan” cara untuk mengenal Tuhan melalui alam semesta yang ada. Namun, seandainya tidak ada alam semesta yang bekerja sesuai dengan hukumnya, sedang yang ada hanya satu hal saja, maka hal ini pun karena sifat ketergantungannya, akan menunjukkan ke arah Tuhan.[3]

Kendati demikian, secara garis besar dalam wacana filsafat eksistensi keesaan Tuhan dibuktikan melalui argumentasi ontologis, kosmologis, dan teleologis. Jika bukti ontologis melukiskan bahwa setiap manusia mempunyai ide tentang Tuhan dan tidak dapat membayangkan adanya sesuatu yang lebih berkuasa dari-Nya, bukti kosmologis berpijak pada ide “sebab-akibat”, yakni tidak mungkin terjadi sesuatu tanpa ada penyebabnya dan penyebab terakhir pastilah Tuhan, maka postulat teleologis berlandaskan pada keseragaman dan keserasian alam semesta, yang tidak dapat terjadi tanpa ada satu kekuatan yang mengatur keserasian tersebut[4]. Dengan demikian keteraturan alam semesta memiliki tujuan-tujuan dan kebijaksanaan objektif di luar manusia.[5]

    Tentu saja, sudah banyak ilmuwan Muslim yang mengelaborasi eksistensi Tuhan dengan menggunakan ketiga argumentasi filsafat tersebut sejak era klasik hingga dewasa ini.[6] Akan tetapi, mungkin Said Nursi (selanjutnya hanya disebut Nursi), seorang pejuang, pemikir, sekaligus sufi besar abad 20 dari Turki yang mampu menguraikan eksistensi Tuhan melalui ketiga aspek filosofis tersebut secara komprehensif. Nursi berusaha melakukan interpretasi terhadap kalimah tauhid yang terangkum dalam la ilaha illa Allah hingga mencapai enam ribu halaman yang terkompilasi dalam karya monumentalnya: Risalah An-Nur.[7]

Justru karena Nursi tidak menafsirkan kalimah tauhid secara harfiah melainkan secara maknawiah, maka ia bisa menyentuh setiap aspek kehidupan untuk membuktikan eksistensi keesaan Tuhan. Ketika membincang apapun saja, baik mengenai ibadah, manusia, alam semesta, kamatian, maupun hari kebangkitan, Nursi menguraikan segalanya laksana rangkaian kepingan-kepingan kebenaran agung yang memantulkan keesaan Allah, Sang Pencipta untuk disaksikan umat manusia.

Metin Karabasoglu, ilmuwan Turki yang sangat menguasai pandangan Nursi, menyuarakan prinsip ini dengan cerdas:

            “Tema sentral dari Risalah An-Nur Yaitu bahwa alam semesta telah diciptakan dan Penciptanya mempunyai sebuah tujuan dengan ciptaan tersebut. Nursi berusaha untuk membuktikan keberadaan dan kesatuan Sang Pencipta dengan alam semesta serta menjelaskan tujuan-Nya dalam penciptaannya. Dengan penelaahan yang intensif terhadap Risalah, menjadi jelas bahwa Nursi menawarkan sebuah penjelasan ontologi yang komprehensif dengan memandang keberadaan alam semesta dan manusia, serta segala hal lainnya yang dianalisis dengan basis eksplanasi ontologi tersebut. Nursi menguraikan tujuan Sang Pencipta dalam menciptakan alam semesta melalui perspektif hakikat ketuhanan: Setiap pemilik keindahan dan kesempurnaan ingin menyaksikan dan memperlihatkan keindahan dan kesempurnaannya sendiri.”[8]

Dalam Risalah An-Nur, Nursi bertutur dengan bahasa yang begitu indah, menarik, dan apik bagaimana butiran-butiran atom yang tak terlihat oleh mata manusia secara makroskopis menjadi cermin keesaan Ilahi; Bagaimana sel-sel darah dan sistem organisme dalam tubuh manusia menjelma lensa keesaan Tuhan; bahkan bagaimana dunia tumbuh-tumbuhan dan alam semesta yang bisu dapat berbicara dengan lisanul hal, bahasa kenyataan mengenai keesaan perbuatan Sang Penguasa semesta. Keluasan Risalah An-Nur dalam mendiskusikan eksistensi Tuhan disebabkan Nursi bukan hanya menyuguhkan alasan-alasan naqliah-teologis (Al-Quran dan Hadis), tetapi juga disertai argumentasi-argumentasi akliah-filosofis dengan tiga perangkat filsafat: bukti ontologis, kosmologis, dan teleologis.[9]

Dr. Turner, seorang muallaf dan pengajar di Universitas Durhan Inggris, mengungkapkan mengenai kebesaran dan kelengkapan karya tersebut dengan bahasa yang lugas dan padat:

“Risalah An-Nur menandaskan bahwa setiap orang yang benar-benar ingin memahami dunia ciptaan ini sebagaimana mestinya, dan bukan atas kehendak dan imajinasinya, pasti akan sampai pada kesimpulan Laa ilaaha illa Allah. Dia akan melihat keteraturan dan harmoni, keindahan dan keseimbangan, keadilan dan kemurahan, ketuhanan, keberlangsungan dan keagungan; dan sekaligus dia akan menyadari bahwa semua atribut tersebut mengarah bukan pada benda-benda ciptaan itu melainkan pada Realita di mana semua atribut tersebut ada dalam kesempurnaan dan keabsolutan. Dia akan melihat bahwa dunia ciptaan ini adalah buku berisikan nama-nama, suatu indeks, yang menceritakan Pemiliknya.”[10]

Nursi melihat seluruh peristiwa dan fenomena di alam semesta, dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari fenomena yang nampak oleh kasat mata hingga yang gaib tan kasat mata mengungkapkan asma-asma Allah seperti, Maha Pengasih, Maha Pemberi Rezeki, Maha Pengatur Benda-benda, Maha Pemelihara, Maha Penolong dan Maha Pembangkit, walaupun tidak disebutkan secara eksplisit.[11] Dan menurut Nursi, bukti eksistensi Tuhan dengan segala atribut-Nya terefleksikan secara sempurna pada diri manusia. Dalam kata-kata Nursi: Man is missive so comprehensive that through his self, Almighty God makes perceived to him all His Names.[12]

Yang lebih menarik, Nursi membungkus setiap argumentasi ontologis, kosmologis, dan teleologis dengan eksposisi alegori filosofis, melalui perbandingan atau perumpamaan. Terkadang ia menggunakan figur seorang raja dan rakyatnya;[13] istana dan para pengunjungnya[14]; kapal[15] dan para penumpangnya; biji-bijian dan pepohonan; musim-musiman, seperti musim gugur dan musim semi; adakalanya juga ia memanfaatkan personifikasi prajurit perang dan yang paling sering adalah menerapkan perumpamaan cahaya matahari untuk mendeskripsikan kreativitas unik Tuhan pada segala ciptaan-Nya.[16]

Terlepas dari luasnya paparan filosofis Nursi mengenai eksistensi Tuhan, ia juga mempertajam argumentasi filosofisnya dengan pendekatan keyakinan (imani) atau pengalaman relijius.[17] Mengenai hal ini penulis tidak bisa menguraikannya sebagus uraian Nursi:

“Keimanan bukanlah sesuatu yang didasarkan pada taqlid membuta. Keimanan harus terdiri atas intelektualitas atau nalar dan kalbu. Keimanan menggabungkan penerimaan dan penegasan nalar dan pengalaman serta penyerahan kalbu. Ada tingkat keimanan yang lain, yakni kepastian yang datang dari pengalaman langsung dengan kebenaran-kebenaran keimanan. Ini tergantung dari keteraturan kita dalam beribadah dan berpikir. Orang yang telah menguasai tingkat keimanan ini dapat menghadapi seluruh dunia ini. Jadi, tugas pertama, terutama dan terpenting kita adalah mencapai tingkat keimanan ini dan mencoba dengan kesungguhan demi ridha Allah Yang Maha Kuasa untuk mengkomunikasikannya dengan orang lain.[18]

Jadi jika dengan eksplanasi filosofis melalui berbagai perangkatnya yang luas tentang kehadiran Tuhan dalam setiap fenomena kehidupan Nursi ingin mengajak para pembacanya menemukan kepuasan intelektual, maka dengan pengalaman relijius dan penyerahan kalbu ia menghendaki manusia mencapai pencerahan spiritual. Bukti-bukti yang disampaikannya bertujuan memuaskan nalar, menenangkan pikiran, dan menyucikan hati. Dengan kata lain, nalar dan kalbu harus bekerja sama dalam menelusuri jejak-jejak Tuhan di semesta.

Dengan kemampuan memadukan dua fakultas esensial manusia yang dibungkus lewat bahasa simbolis, metafora filosofis yang kaya makna dan menyentuh, ide-ide Nursi mampu memasuki abad 21 dengan kewibawaan khas. Jane I smith, Profesor di Hartford Seminary, U.S.A., melukiskan bahwa Nursi mampu menulis dengan hati dan imajinasinya sebaik dengan akal dan inteleknya. Salah satu alasan bahwa ia dapat bertahan dari abad 20 hingga abad 21 sebagai seorang penafsir Islam dan Al-Quran yang sangat dihormati adalah kepiawaiannya dalam menuangkan ide lewat tulisannya, dalam kalimah yang transparan namun kaya dengan simbol penafsiran. Terlebih lagi, para pembaca akan bisa merasakan perasaan Nursi, memahami perintahnya, dan mengalami pemahamannya tentang kebenaran melalui penggunaan kata-kata dan gambaran yang sangat jelas, bahkan terkadang menakjubkan.[19]

 Melihat pembacaan Nursi yang begitu luas dan terfokus terhadap eksistensi Tuhan, wajar bila tersimpul sebuah pertanyaan: apa yang menggerakakan dan memotivasi dirinya menguraikan berbagai persoalan yang kesemuanya hanya bermuara pada keesaan Tuhan? Secara global, setidaknya ada dua faktor untuk menjelaskan persoalan tersebut. Pertama, faktor eksternal. Nursi menghirup aroma kehidupan Turki dalam persimpangan dua abad: akhir abad sembilan belas dan awal hingga pertengahan abad dua puluh (1875-1960).

Akhir abad ke-19 dan menjelang awal abad ke-20 merupakan masa-masa akhir dari usia Daulat Turki Usmani. Masa di mana para musuh secara intensif mencabik-cabik bangsa dan negara Turki untuk mempercepat kehancurannya. Masa di mana dendam kesumat dari pihak-pihak yang tidak menghendaki Islam mewarnai—apalagi menjadi landasan—negara dan pemerintahan dinyatakan secara terang-terangan. Masa di mana Sultan Abdul Hamid selama tiga puluh tahun berupaya dengan segala daya untuk memelihara integritas negara yang sangat luas, namun tidak membuahkan hasil.[20]

Sementara kaum Ittihadi yang mengambil alih pemerintahan Turki era itu berhasil menduduki posisi penanggung jawab dan penentu arah pemerintahan, bahkan sampai berhasil menancapkan pengaruhnya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, juga setahap demi setahap mereka  pun berhasil memperkenalkan dan menerapkan pola hidup Barat yang sangat dikaguminya. Langkah yang ditempuh kaum Ittihadi justru membawa negara Turki berada dalam cengkeraman kekuasaan asing. Turki dikuasai oleh Italia, Armenia, Yunani, bahkan ibu kota Istanbul sendiri berada di bawah pemerintahan Inggris.[21]

Saat itu para koloni Inggris melakukan rekayasa hendak melenyapkan Islam dari tanah Turki. Seorang Menteri urusan koloni Inggris, Gladstone, di depan anggota parlemen sambil menggenggam al-Quran berkata: “Selama al-Quran ini berada di tangan kaum muslimin, kita tidak akan pernah mampu menguasai mereka. Dengan demikian, kita harus melenyapkannya dari mereka atau memutuskan hubungan mereka dengannya.” Berita ini telah membuat Nursi berguncang dan bertekad untuk mengabdikan seluruh hidupnya agar mukjizat Al-Quran berkibar dan kaum Muslim terikat dengannya. Ketika itu Nursi berjanji: “Sungguh aku akan menunjukkan pada dunia bahwa Al-Quran adalah Matahari yang tidak akan redup sinarnya dan tidak mungkin padam cahayanya.” Namun ketika itu Nursi belum fokus melaksanakan tekadnya.[22]

Setelah perang kemerdekaan, pucuk pemerintahan Turki berada di tangan Mustafa Kamal dan ketika ia tampil sebagai pemimpin negara, terjadilah sejumlah perubahan: Kekhalifahan ditanggalkan, undang-undang negara yang berdasarkan syariat Islam diganti dengan undang-undang Swiss, seluruh para penentang langkah yang ditempuhnya disingkirkan—termasuk para komandan yang berjuang bersamanya—kehidupan ala Barat dipaksakan bahkan diundangkan kepada bangsa Turki, tindakan para penentangnya divonis sebagai tindakan subversi lalu dihukum dengan hukuman yang berat. Hurup Arab diganti dengan hurup Latin, sampai azan pun dikumandangkan dalam bahasa Turki, dan sejumlah perubahan mendasar lainnya. Masyarakat Turki dijejali paham materialisme yang berusaha menyingkirkan Tuhan dari setiap dimensi kehidupan. Dalam situasi dan kondisi seperti inilah Nursi tampil untuk menghidupkan keimanan kaum Muslim kembali dengan menulis karyanya: Risalah An-Nur.[23]

Kedua, faktor internal atau psikologis. Ketika memasuki usia awal empat puluh tahun, Nursi mengalami transformasi spiritual dengan membaca dua kitab ulama sufi ternama: Futuh al-Ghaib karya Abdul Qadir al-Jilani dan Maktubat  karangan Imam Rabbani Ahmad Faruqi. Saat membaca kitab Futuh al-Ghaib, Nursi merasakan bagaikan menjalankan operasi besar yang sangat menyakitkan dan melukai perasaannya. Namun setelah beberapa saat kemudian, rasa sakit akibat operasi ruhaniah itu berubah menjelma kesenangan karena ia merasakan kesembuhan spiritual dari berbagai penyakit hatinya.[24]

Demikian pula ia mendapat pencerahan spiritual dari kitab Maktubat yang akhirnya menyebabkan ia uzlah di Shari Yar, Bosfur, sampai-sampai ia tidak menikah hingga akhir hayatnya. Dalam uzlahnya inilah Nursi, yang hanya berdialog dengan Al-Quran, lebih konsentrasi dan intensif menuangkan ide-idenya untuk membendung paham materialisme yang sedang mewabah pada sebagian besar masyarakat Turki.[25] Dari latar belakang seperti itulah, penulis tertarik melakukan penelitian terhadap pemikiran Nursi yang diformulasikan dalam sebuah judul: “Eksistensi Tuhan Menurut Said Nursi dan Kritiknya Terhadap Paham Materialisme Barat.”

  1. Rumusan Masalah

Bertolak dari paparan latar belakang di atas, maka persoalan pokok yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana pandangan Nursi tentang eksistensi Tuhan?
  2. Apa saja bukti-bukti yang dijadikan pijakan Nursi dalam menguraikan eksistensi Tuhan?
  3. Bagaimana bentuk kritik Nursi terhadap paham materialisme Barat modern?

  1. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan sebagai jawaban dari rumusan masalah di atas, yakni meneliti pandangan Nursi mengenai Tuhan, bukti-bukti tentang eksistensi Tuhan dan kritik Nursi terhadap paham materialisme Barat Modern. Adapun secara rinci tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:

Pertama : Untuk memberi penjelasan mengenai konsep Tuhan dan eksistensi Tuhan baik melalui argumentasi teologis (Al-Quran, Hadis dan pendekatan imani), maupun dengan perangkat filosofis berupa bukti-bukti ontologis, kosmologis dan teleologis dalam perspektif Nursi.

Kedua  :  Menunjukkan postulat-postulat dan langkah-langkah apa saja yang ditawarkan oleh Nursi dalam menghadapi dan mengcounter argumentasi-argumentasi paham materialisme yang menolak peran Tuhan dalam pentas kehidupan duniawi dan ukhrawi.

Berdasarkan penjelasan di atas, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan teoretis dan praktis. Sumbangan teoretis yaitu berupa penjelasan yang kongkret berdasarkan realitas alam semesta (makrokosmos dan mikrokosmos) yang dilakuakan Nursi dalam menguraikan eksistensi Tuhan. Sedangkan secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan kajian teologis-filosofis mengenai eksistensi Tuhan baik di lingkungan akademisi maupun masyarakat luas.

  1. Tinjauan Pustaka

Sudah banyak para pemikir dan ilmuwan yang menulis tentang pandangan-pandangan Nursi. Demikian pula artikel-artikel dalam bentuk makalah yang dikompilasikan dari hasil seminar. Lazimnya, pandangan-pandangan Nursi diteliti oleh para ahli dalam kapasitasnya sebagai seorang sufi dan pemikir yang menyoroti berbagai persoalan kehidupan: perspektif Al-Quran mengenai manusia menurut Risalah An-Nur[26]; Globalisasi, etika dan Risalah An-Nurnya Said Nursi[27]; Menebarkan keyakinan, makna dan kedamaian hidup dalam sebuah dunia multikultural melalui pendekatan Risalah An-Nur[28], yang di dalamnya mencakup sub-sub tema yang luas.

Jika pada skala global internasional (luar negeri) pemikiran Nursi sudah tidak asing lagi, tidak demikian halnya pada tataran lokal regional, di Indonesia. Bisa dikatakan masih agak jarang tokoh-tokoh intelektual dalam negeri yang mengenal wacana-wacana Nursi. Kalau pun sudah banyak yang mengenal akhir-akhir ini, tetapi masih sedikit yang menulis atau meneliti ide-ide Nursi. Di Indonesia, sebut saja Machasin yang mengelaborasi gagasan-gagasan Nursi mengenai wacana sufistik, pengaruh tokoh atau ide-ide tokoh sufi, seperti Ghazali, Abdul Qadir al-Jilani, dan Imam Rabbani serta di mana posisi Nursi[29].

Penelitian intensif dilakukan oleh Ustadi Hamzah dalam bentuk tesis yang menguraikan konsep-konsep pandangan Nursi mengenai toleransi beragama sehingga membentuk pluralitas agama.[30]. Demikian pula, dalam bentuk skripsi dengan yang membahas metode penafsiran Nursi dalam Risalah An-Nur oleh Laela Rahmawati[31]. Sementara kajian mengenai pemikiran Nursi yang mengkritik paham materialisme memang telah dilakukan pula oleh sebagian pemikir. Ali Unal ketika mengelaborasi makna hidup sesudah mati melalui sudut pandang Nursi, mengungkapkan sekilas kritik Nursi terhadap paham materialisme. Namun kritik Nursi yang diuraikan Ali Unal hanya satu aspek saja dengan dihubungkan kepada kehidupan sesudah mati atau hari kebangkitan.[32]

Peneliti lain mengenai hal tersebut adalah Thomas Michel. Michel menguraikan pandangan Nursi terhadap peradaban modern yang dibangun di atas nilai-nilai materialistik. Akan tetapi, Michel hanya mengemukakan perbedaan paradigma dunia modern yang bersifat materialistik dengan konsep Al-Quran yang mempunyai orientasi kepada Tuhan menurut Nursi. Michel tidak menjelaskan kritik-kritik Nursi secara eksplisit terhadap paham materialisme tersebut[33]. Kedua peneliti di atas, baik Ali Unal maupun Michel, terlebih lagi belum melakukan eksplanasi pandangan-pandangan Nursi terhadap paham materialisme secara filosofis. Pada titik ini, penelitian tersebut tetap memiliki signifikansi untuk dilakukan.     

  1. Kerangka Teoretik

Perbincangan mengenai Tuhan, dalam wacana filsafat termasuk dalam lingkaran kategori metafisika atau disebut juga dengan filsafat pertama ( first philosophy).[34] Istilah filsafat pertama atau metafisika, yang salah satu unsurnya membahas tentang Tuhan[35], pertama kali digulirkan oleh Aristoteles yang dalam perkembangan selanjutnya masih dipergunakan, termasuk oleh para filsuf Muslim dalam menguraikan eksistensi Tuhan.[36]

Dalam kalangan filsuf non-Muslim, perbincangan mengenai eksistensi Tuhan sebagai Penggerak Pertama ini dielaborasi oleh Thomas Aquinas dengan menyuguhkan lima argumen. Pertama, adanya Penggerak Pertama yang tidak digerakkan yaitu Tuhan. Kedua, adanya Sebab Pertama bagi segala sesuatu yakni Tuhan. Ketiga, adanya sifat ketergantungan yang mengharuskan adanya satu Wujud Wajib, yang disebut Tuhan. Keempat, adanya hierarki kesempurnaan di dunia ini yang mengimplikasikan Sumber Kesempurnaan atau Tuhan. Kelima, adanya tujuan pada benda-benda tak bernyawa, sehingga pasti ada Yang Maha Cerdas yang mengarahkan benda-benda tersebut, dan itulah Tuhan. Apa yang diungkapkan Aquinas tersebut dalam kajian filsafat disebut dengan argumen kosmologi.[37]

Dari dunia Muslim, Ibn Sina tampil menguraikan eksistensi Tuhan lewat dalil al-jawas atau kontingensi yang membagi wujud ke dalam tiga kategori: Wujud Niscaya (wajib al-wujud), wujud mungkin (Mumkin al-wujud) dan wujud mustahil (mumtani’ al-wujud).[38] Wujud Niscaya adalah wujud yang senantiasa harus ada, dan tidak boleh tidak ada. Wujud mungkin adalah wujud yang boleh saja ada atau tidak, sedangkan wujud mustahil adalah yang keberadaannya tidak terbayangkan oleh akal. Alam ini adalah wujud yang boleh ada dan boleh tidak ada. Karena alam merupakan wujud yang boleh ada, maka alam bukan Wujud Niscaya. Namun, karena alam juga boleh tidak ada, maka ia dapat juga disebut wujud mustahil.

Akan tetapi, nyatanya alam ada, maka ia dipastikan sebagai wujud yang mungkin. Terma “mungkin” menurut Ibn Sina adalah potensial, kebalikan dari aktual. Dengan mengatakan bahwa alam ini mungkin pada dirinya, berarti sifat dasar alam adalah potensial, boleh ada, dan tidak bisa mengada dengan sendirinya. Karena alam itu potensial, ia tidak mungkin ada tanpa adanya sesuatu yang telah aktual, yang telah mengubahnya dari potensial menjadi aktual. Sesuatu yang aktual yang telah mengubah alam potensial menjadi aktualitas, itulah Tuhan yang Wujud Niscaya.[39] Allah merupakan Wujud Niscaya (Necessary Being) sebagai Penyebab pertama (first cause) dan sumber utama eksistensi.[40] Pandangan Ibnu Sina mengenai argumen kemungkinan ini sering disebut dengan dalil ontologi, karena pendekatannya menggunakan filsafat wujud.[41]

Demikian pula Ibn Rusyd yang menggagas dalil inayah (rancangan). Berbeda dengan dua argumen di atas yang berdasarkan pemikiran logis-spekulatif, Ibnu Rusyd dengan pemikiran rasional-religiusnya berpendapat bahwa perlengkapan yang ada di alam ini diciptakan untuk kepentingan manusia. Bagi Ibnu Rusyd, hal in merupakan bukti adanya Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Melalui “rahmat” yang ada di alam ini, membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Selain itu, penciptaan alam yang menakjubkan, seperti adanya kehidupan organik, persepsi indriawi, dan pengenalan intelektual, merupakan bukti lain adanya Tuhan melalui konsep penciptaan keserasian.

Penciptaan ini secara rasional bukanlah suatu kebetulan, tetapi harus dirancang oleh agen yang dengan sengaja dan bijaksana melakukannya dengan tujuan tertentu. Bagi Ibnu Rusyd, penciptaan melalui rahmat dan keserasian ini merupakan bukti adanya Tuhan, yang dapat diterima oleh semua kalangan manusia, baik sarjana maupun umum.[42] Karena berdasarkan perspektif adanya keserasian penciptaan, konsep Tuhan menurut Ibnu Rusyd sering disebut argumen teleologis.[43] Apakah ketiga bukti tentang eksistensi Tuhan secara rasional tersebut telah mencukupi? Para ilmuwan Muslim umumnya menjawab, belum.

Mereka melengkapinya dengan metode intuitif, melalui hati atau pendekatan imani. Salah seorang tokoh yang mengulas metode intuitif adalah Jalalluddin Rumi.[44] Menurut Rumi, membuktikan eksisitensi Tuhan dengan akal bagaimana pun piawainya tidaklah memadai. Rumi mengilustrasikan Tuhan sebagai samudera tanpa batas yang airnya berupa api. Lalu bagaimana mungkin nalar yang berkaki kayu dapat melintasi samudera tersebut?[45] Atau dalam metafora lain Rumi pernah bertanya secara ironis, “Dapatkah Anda menyunting sekuntum mawar dari M.A.W.A.R? Tidak, Anda baru menyebut nama, cari yang empunya nama.”[46] Hati, dalam istilah Rumi disebut dil, merupakan masjid dan Ka’bah, sebagai rumah atau singgasana Tuhan di mana Ia mendudukkan Dirinya Sendiri.[47] Untuk menghadirkan Tuhan dalam kalbu tersebut, hati harus dihaluskan, noda yang datang dari kehadiran manusia di dunia harus dibersihkan dengan ingatan yang terus menerus kepada Sang Kekasih. Dengan cara seperti itulah, hati menjadi cermin bening yang memantulkan bayangan kecantikan sang Kekasih tanpa cacat sedikit pun.[48]

Keempat tipologi pandangan tentang eksistensi Tuhan inilah yang akan penulis jadikan kerangka teoretik untuk menganalisis pemikiran Nursi mengenai Tuhan. Karena dalam berbagai karyanya Nursi menguraikan dalil-dalil eksistensi Tuhan dengan menggunakan keempat model argumentasi tersebut. Pemikiran eksistensi Tuhan yang digulirkan Nursi pada dasarnya muncul sebagai respon terhadap pandangan paham materialisme yang berasal dari Barat.  Bila wacana tentang Tuhan dalam kajian para filsuf Muslim tetap terjaga utuh, di dunia Barat secara perlahan diskusi mengenai Tuhan semakin tersingkirkan.

Materialisme merupakan salah satu paham yang menafikan Tuhan dalam fenomena kehidupan. Materialisme adalah aliran filsafat yang memandang materi sebagai pokok segalanya, yang benar-benar nyata.[49] Paham ini berprinsip bahwa di dunia tidak ada selain materi, atau bahwa nature (alam) dan dunia fisik adalah satu. Ide materialisme dapat dirunut kepada seorang filsuf alam Yunani klasik yaitu Democritus (460-370 SM). Democritus berpendapat bahwa alam terdiri dari dua unsur fundamental: atom dan ruang hampa. Karena ia tidak mempercayai apapun kecuali benda-benda material, ia disebut seorang filsuf materialis[50]pertama yang ide-idenya dilanjutkan oleh Epicurus dan Lucretius.

Doktrin materialisme menemukan momentumnya pada awal abad modern di tangan Thomas Hobbes dengan menyajikan materialisme yang mekanik seluruhnya.[51] Hobbes juga dipandang sebagai perintis empirisme modern yang mengembalikan pengetahuan pada pengalaman dan berusaha membebaskan diri dari bentuk-bentuk spekulasi spiritual dalam metafisika tradisional. Ia menegaskan bahwa filsafat tidak berurusan dengan ajaran-ajaran teologis. Yang menjadi objek filsafat adalah yang dapat dialami oleh tubuh. Kalau ada substansi yang tak berubah-ubah, yaitu Allah, dan juga substansi yang tak bisa diraba (malaikat, roh, dst.), harus disingkirkan dari refleksi filosofis.[52]

Pijakan pada fakta-fakta objektif alam, berujung pula pada paham positivisme yang dicetuskan oleh Auguste Comte pada awal abad 19. Karena itu, positivisme merupakan ahli waris empirisme yang sudah diradikalkan.[53] Bagi seorang pengikut aliran materialisme mekanik, semua perubahan di dunia, baik perubahan yang menyangkut atom atau perubahan yang menyangkut manusia, semuanya bersifat kepastian semata-mata. Terdapat suatu rangkaian sebab musabab yang sempurna dan tertutup. Rangkaian sebab musabab ini hanya dapat dijelaskan dengan prinsip-prinsip sains alam semata-mata, dan tidak perlu memakai ide seperti “maksud” (purpose).[54]

Pada akhir-akhir ini, doktrin tersebut dijelaskan sebagai energisme yang mengembalikan segala sesuatu kepada bentuk energi, atau sebagai suatu bentuk dari positivisme yang memberi tekanan untuk sains dan mengingkari hal-hal seperti ultimate nature of reality (realitas yang paling tinggi, atau Allah).[55] Dalam hubungannya dengan dunia Islam, paham materialisme inilah yang dibawa masuk bangsa Eropa (Inggris) ke tengah-tengah bangsa Turki pada akhir abad 19 hingga pertengahan abad 20. Ironinya, banyak masyarakat awam yang terpikat dengan doktrin-doktrin materialisme tersebut.

Dalam kondisi yang memprihatinkan tersebut, Nursi tampil mengusung konsep-konsep tauhid, tentang keesaan Tuhan yang mendasari setiap fenomena semesta, baik makrokosmos maupun mikrokosmos melalui argumen teologis dan filosofis yang dikemas dengan bahasa metafora filosofis yang sederhana. Dalam hal ini, Nursi mengcounter paham materialisme tersebut hanya dengan menggunakan argumentasi kosmologis dan teleologis yang diformulasikan oleh para ilmuwan di atas. Dengan alasan ini, hanya dua  kategori pandangan filsuf non-Muslim dan Muslim tentang eksistensi Tuhan yang akan dimanfaatkan untuk menganalisis kritik Nursi terhadap materialisme.

Di sini perlu pula diberi batasan bahwa paham materialisme yang dibahas adalah materialisme mekanik, yang melihat semua fenomena alam secara saintifik dan menafikan Tuhan. Sebab ada juga materialisme historis yang diusung oleh filsuf terkenal dari Prussia, Jerman, yaitu Karl Marx.[56] Materialisme historis mengasumsikan bahwa kebutuhan-kebutuhan material manusia menentukan bentuk masyarakat dan perkembangannya. Proses perubahan sosial, politik, bahkan spiritual ditentukan oleh variabel material.  Singkatnya, bukan kesadaran masyarakat yang menentukan eksistensi mereka, tetapi eksistensi material yang menentukan kesadaran mereka.[57] Bukan materialisme jenis ini yang menjadi fokus kritik Nursi dalam tesis tersebut melainkan materialisme mekanik seperti teruraikan di atas.

  1. Metode Penelitian
  2. Jenis Penelitian

           Secara tipologis, penelitian ini dengan melihat unsur-unsur penelitian yang digunakan, yakni berupa bahan-bahan tekstual seperti, buku, jurnal,majalah, dan lainnya, maka penelitian ini mengikuti jenis telaah kepustakaan (library research).[58] Di sini, apabila dilihat pula dari subject matternya, penelitian ini termasuk tipologi penelitian budaya, yakni semacam model penelitian yang memilki konsen terhadap pemikiran-pemikiran, nilai-nilai dan ide-ide budaya sebagai produk berpikir manusia.[59]

  1. Metode Pengumpulan Data

Secara garis besar, ada dua sumber yang digunakan dalam memperoleh data, yaitu sumber primer yang memberikan data langsung dari sumber pertama, berupa karya-karya Nursi. Sasaran penelitian ini diarahkan pada pemikiran Nursi dalam hal eksistensi Tuhan yang tertuang dalam karyanya Risalah An-Nur. Akan tetapi, karena karya tersebut telah dikodifikasi ke dalam bentuk beragam buku yang sesuai dengan tema-temanya, maka penelitian ini hanya memfokuskan pada sebagian buku Nursi yang secara spesifik memperbincangkan eksistensi Tuhan melalui argumentasi-argumentasi teologis dan filosofis. Buku-buku tersebut, seperti The Words, terutama the twenty-second word, the thirty-second word dan the thirty-third word; kemudian The Flashes Collection, khususnya the twenty-third flash yang membahas secara tipikal alasan-alasan Nursi dalam mengcounter paham naturalisme; Juga Letters 1928-1932, khususnya the twentieth letter, yang menguraikan sebuah postulat teologis melalui pendekatan filosofis; Terakhir buku Sinar Yang Mengungkap Sang Cahaya, terutama sekali risalah pertama dan risalah keempat, yang menguraikan makna filosofis kalimah tauhid laa ilaaha illa Allah dengan kerangka falsafati.

Demikian pula buku-buku yang membicarakan doktrin-doktrin materialisme tentang alam semesta atau filsafat sains, seperti Titik Balik Peradaban, Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, Juru Bicara Tuhan, Perjumpaan Sains dan Agama, Membaca Pikiran Tuhan, Science and Religion, God and The New Physics, dan buku-buku lain.

Sedangkan sumber sekunder, yakni karya-karya atau tulisan-tulisan para pemikir lain yang membahas pandangan-pandangan Nursi dan sumber-sumber lain yang membicarakan tentang eksistensi Tuhan dan kritik terhadap paham materialisme yang relevan dengan persoalan yang dibahas untuk memperkaya dan mempertajam analisis.

  1. Metode Pengolahan Data 

Sifat penelitian yang dilakukan adalah penelitian tekstual yang bertumpu pada pemahaman teks yang ada hubungannya dengan persoalan yang diteliti. Bahan-bahan tekstual tersebut kemudian dipaparkan dengan menggunakan metode deskriptif-analisis. Jika metode deskriptif berusaha melukiskan dan menjelaskan doktrin-doktrin materialisme mengenai alam semesta serta argumentasi-argumentasi Nursi dalam Risalah An-Nur secara sistematis dan objektif,[60] maka metode analisis berupaya melakukan telaah atau penganalisisan terhadap kedua pemikiran tersebut dengan pendekatan filosofis secara mendalam.[61] Selain itu, dengan metode deskriptif-analisis penulis juga melibatkan evaluasi kritis untuk menelaah sejauh mana keunggulan dan kelemahan pandangan Nursi.[62]

Disamping itu pula, penelitian ini menggunakan pendekatan kritis-filosofis atau disebut juga dengan Filsafat Fundamental (Fundamental Philosophy, atau al-Falsafah al-Ula)[63]. Pendekatan kritis-filosofis digunakan karena bertujuan mengungkap struktur fundamental dari sebuah pemikiran filsafat. Pendekatan kritis-filosofis lebih bersifat keilmuan, terbuka, dan dinamis, yang berbeda dengan aliran-aliran filsafat yang ideologis, tertutup, dan statis. Pendekatan kritis-filosofis bercorak inklusif serta tidak tersekat-sekat dan tidak terkotak-kotak oleh sebuah tradisi.

Pendekatan ini memiliki tiga karakter utama. Pertama, kajian filsafat selalu terarah pada perumusan ide-ide dasar (fundamental ideas) terhadap objek persoalan yang sedang dikaji. Kedua, perumusan ide-ide dasar itu dapat menciptakan berpikir kritis (critical thought). Ketiga, kajian filsafat dengan demikian dapat membentuk mentalitas dan kepribadian yang mengutamakan kebebasan intelektual (intellectual freedom), sehingga terbebas dari dogmatisme dan fanatisme.[64]

  1. Sistematika Pembahasan

Penelitian ini terdiri atas lima bab yang disusun secara sistematis dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Bab I akan diuraikan tentang pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, telaah pustaka, landasan teori, metode penelitian, serta sistematika pembahasan.

Bab II akan dikemukakan terlebih dulu sekilas setting politik Turki pada persimpangan akhir abad 19 dan menjelang awal abad 20. Kemudian akan menyajikan sketsa latar belakang kehidupan Nursi yang mencakup tiga fase. Fase pertama, di mana Nursi masih aktif dalam gelanggang perpolitikan Turki. Fase kedua, menggambarkan bagaimana Nursi memisahkan diri dari dunia politik praktis dan beruzlah untuk menulis Risalah an-Nur secara utuh dalam rangka mengcounter materialisme. Sedangkan fase ketiga, mengilustrasikan masa akhir kehidupan Nursi di mana dirinya sudah mempengaruhi sebagian besar masyarakat Turki melalui karyanya.

Bab III akan memaparkan konsep-konsep eksistensi Tuhan dalam wacana filsafat secara global. Kemudian membahas konsep tentang Tuhan menurut pandangan Nursi dan menguraikan perspektif Nursi mengenai pembuktian eksistensi Tuhan melalui bingkai argumentasi kosmologis, ontologis, teleologis, dan intuitif.

Bab IV akan mengelaborasi doktrin-doktrin materialisme tentang ketiadaan Tuhan di alam semesta yang meliputi alam semesta tercipta oleh sebab (kausalitas), segala sesuatu terbentuk dengan sendirinya (materi), dan segala sesuatu merupakan tuntutan alam (alamiah). Selanjutnya baru membahas kritik Nursi terhadap pandangan materialisme ini melalui dalil kosmologis dan teleologis. Dalam bab ini dilakukan pula analisa mengenai keunggulan dan kelemahan pandangan Nursi.

Bab V merupakan bab terakhir yang akan menyajikan kesimpulan berupa jawaban berdasarkan uraian dan temuan yang telah dipaparkan sebelumnya, serta saran untuk pengembangan penelitian lebih lanjut.

BAB II

 

MENGENAL KEHIDUPAN BEDIUZZAMAN SAID NURSI

                

              

  1. Sekilas Situasi Politik Turki

 

Pemerintahan Sultan Hamid II (1876-1909 M), era saat Said Nursi dilahirkan, merupakan masa-masa akhir dari usia Daulat Turki Usmani. Masa di mana para musuh secara intensif mencabik-cabik bangsa dan negara Turki untuk mempercepat kehancurannya. Masa di mana dendam kesumat dari pihak-pihak yang tidak menghendaki Islam mewarnai—apalagi menjadi landasan negara dan pemerintahan dinyatakan secara terang-terangan. Masa di mana Sultan Abdul Hamid selama tiga puluh tahun berupaya dengan segala daya untuk memelihara integritas negara yang sangat luas, namun tidak membuahkan hasil, yakni: Dengan kepiawaiannya dalam percaturan politik, dengan memanfaatkan dana moneter internasional, dan dengan membangkitkan kesadaran Dunia Islam, juga dengan peringatan yang didengung-dengungkan kepada bangsa-bangsa Islam agar persatuan dan kesatuan di antara mereka harus lebih digalakkan dalam menghadapi bahaya Eropa yang arogan.

Tapi ketika semua ini disampaikan semuanya sudah terlambat, maka buah yang diharapkan pun tidak berhasil dipetik. Sebab, saat itu bahaya asing sudah mengetahui dan menguasai titik-titik lemah dalam negara. Kemudian kelemahan ini dimanfaatkan dalam waktu yang sangat tepat, sehingga dengan mudah pihak musuh pun berhasil menggoyang dan mencabut akar pemerintahan Dinasti Turki Usmani.[65]

Jika ditengok kilas balik awal tahun pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, maka pada tahun 1878 Serbia, Montenegro, dan Rumania lepas dari Kekuasaan Turki Usmani, sementara Bulgaria menjadi semi independen. Di perbatasan Caucasia, Turki kehilangan Qars dan Batum; Inggris mencaplok Cyprus dan Mesir (1882). Perang Turki-Yunani pada tahun  1897 memperluas wilayah Yunani ke utara, dan Crete memperoleh otonomi pada tahun 1898. setelah makzulnya Sultan Abdul Hamid, pada tahun 1909 Bulgaria merdeka dan Bosnia dan Hergezovina dicaplok oleh Austria. Kemudian, Tripoli jatuh ke tangan Italia pada tahun 1912.[66]

Antara tahun 1878 hingga 1914 itu juga, sebagian besar wilayah Balkan menjadi merdeka[67] dan Rusia, Inggris, serta Austria-Hungary merebut sejumlah wilayah Turki Usmani.[68] Dalam situasi politik yang kacau dan lemahnya kekuasaan Sultan Abdul Hamid, Jam’iyyah al-ittihad wa at-tafraqi (Organisasi Persatuan dan Kemajuan) yang didukung oleh pihak-pihak musuh dari luar, mengambil alih kekuasaan negara. Kemudian kaum Ittihadi  menobatkan Sultan Muhammad Rasyad yang berfungsi hanya sebagai boneka, sehingga tidak lebih dan tidak kurang ia hanya sebagai lambang semata.

Sebab, selama masa pemerintahannya, mereka dengan leluasa berhasil mewujudkan politik negara baru yang dicita-citakannya. Demikian juga, mereka pun berhasil menduduki posisi penanggungjawab dan penentu arah pemerintahan, bahkan berhasil menancapkan pengaruhnya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Setahap demi setahap mereka pun berhasil memperkenalkan dan menerapkan pola hidup Barat yang sangat dikaguminya.[69]

Titik kulminasi tumbangnya kesultanan Turki Usmani adalah saat diproklamirkan Republik Turki pada tanggal 29 oktober 1923 dengan menobatkan Mustafa Kemal sebagai presiden pertama seumur hidup dan Ismet Inonu sebagai perdana menteri pertamanya.[70] Mustafa Kemal merenggangkan keterikatan masyarakat umum terhadap Islam dan mengarahkan mereka kepada pola kehidupan Barat. Kesultanan Usmani dihapuskan pada tahun 1923, sedang khilafah dihapuskan pada tahun 1924.[71] Mustafa Kemal bukan hanya menjalankan sekularisasi dan sekularisme dalam arti menghilangkan kekuasaan agama dari bidang politik dan pemerintahan,[72] melainkan juga bercorak sangat radikal.

Mustafa Kemal mengganti undang-undang negara yang berdasarkan syariat Islam dengan undang-undang Swiss; seluruh penentang langkah yang ditempuhnya disingkirkan—termasuk para komandan yang berjuang bersamanya—kehidupan model Barat dipaksakan bahkan diundangkan kepada bangsa Turki; tindakan para penentangnya divonis sebagai subversi lalu dihukum dengan hukuman yang berat; hurup Arab diganti dengan hurup Latin, sampai azan pun dikumandangkan dalam bahasa Turki, dan sejumlah perubahan mendasar lainnya.

Dalam situasi dan kondisi bangsa yang sangat gawat seperti ini dan saat bangsa dan negara dihadapkan pada perubahan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi secara dipaksakan, tampillah Said Nursi dengan mempersiapkan risalah-risalah yang didasarkan oleh diri dan hidupnya. Seluruh waktunya, jauh dari dunia politik dengan segala intriknya. Kali ini Nursi tampil hanya untuk menyusun Risalah An-Nur dan menyebarkan ke seluruh lapisan masyarakat dalam situasi yang teramat sulit agar mereka tetap sebagai masyarakat Islam yang beriman dan dinamis.[73]

 

  1. Sketsa Biografi Said Nursi

 

  1. The Old Said (1876-1926 M)

 

Di sebuah kampung yang di kelilingi gunung-gunung yang menjulang tinggi dengan salju abadi yang selalu menutupi puncak-puncaknya, di sebuah desa yang berpayung langit biru dengan udara yang terkenal bersih dan terbebas dari polusi, di sanalah seorang bayi yang diberi nama Said Nursi lahir. Nursi lahir saat menjelang fajar terbit pada tahun 1876 M, di sebuah desa bernama Nursi, salah sebuah perkampungan Qadha (Khaizan) di wilayah Bitlis yang terletak di sebelah timur Anatoli.

Ayahnya bernama Mirza, seorang sufi yang sangat wara’ dan diteladani sebagai seorang yang tidak pernah memakan barang haram dan hanya memberi makan anak-anaknya hanya dengan yang halal saja. Dikisahkan, bahwa setiap ternaknya kembali dari penggembalaan, mulut-mulut ternak dibuka lebar-lebar khawatir ada makanan dari tanaman kebun milik orang yang dimakan. Ibunya (Nuriah) pernah berkata, bahwa dirinya hanya menyusui anak-anaknya dalam keadaan suci dan berwudhu.[74]

Nursi mulai menimba ilmu dari bilik ayahnya sendiri, Mirza dan kepada saudara lelakinya, Abdullah. Sebagaimana lazimnya pelajar Muslim, ia mulai mengkaji bidang nahwu dan sharf.[75] Pada tahun 1888, dengan ketekunan luar biasa Nursi masuk di sekolah Bayazid, yang ditempuhnya hanya dalam waktu tiga bulan. Selama itu, ia berhasil membaca seluruh buku yang pada umumnya dipelajari di sekolah-sekolah agama hingga tepat tiga bulan ia menggondol ijazah dari Syaikh Muhammad Jalali.[76]

Pada tahun 1989 M. Nursi berguru pula kepada seorang ulama terkenal, Fathullah Afandi, yang bertanya kepadanya:

  • Engkau katanya telah selesai membaca as-Suyuthi pada tahun yang silam, tapi apakah engkau telah selesai membaca kitab al-Jami’ pada tahun ini?
  • Oleh Nursi dijawab: Ya, saya telah selesai membacanya secara keseluruhan.

Kemudian Syaikh Fathullah Afandi mulai menyebutkan nama kitab-kitab kepadanya dan oleh Nursi dijawab bahwa semua kitab tersebut telah selesai dibaca. Syaikh Afandi mengujinya seputar kitab-kitab yang telah dibaca Nursi.  Pada waktu menjalani ujian, Nursi dengan mantap mampu menjawab setiap soal yang diajukan. Ia juga menghafal kitab Jam’ul Jawami’ (kitab tentang ushul fiqih) karya Ibn as-Subki dalam waktu satu minggu. Fakta ini membuat Syaikh Afandi memujinya sebagai perpaduan antara otak jenius dan daya hafal yang luar biasa, serta menulis pada sampul kitab tersebut: Sungguh seluruh kitab Jam’ul Jawami’ telah mampu dihafal hanya dalam  satu minggu.[77]

Tidak lama kemudian popularitas pemuda jenius ini (Said Nursi) tersebar luas. Lebih dari delapan puluh kitab induk tentang ilmu-ilmu keislaman berhasil dihafal. Bukan hanya kitab-kitab yang dihafal Nursi, ia pun menghafal kamus al-Qamus al-Muhith, karya al-Fairuz Abadi, sampai pada hurup Sin. Nursi kemudian pergi ke kota Bitlis untuk menelaah sejumlah besar buku ilmiah dan menghafal sebagian darinya. Pada tahun 1894, Nursi pergi menuju kota Wan untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu modern, seperti geografi, kimia, dan lainnya kepada para ilmuwan.

Dalam waktu relatif singkat sekali Nursi mampu menguasai matematika, ilmu falak, kimia, fisika, geologi, filsafat, sejarah, geografi, dan lain-lain. Berkat potensinya yang mampu menyerap berbagai disiplin ilmu dan otaknya yang sangat jenius, popularitas Nursi segera tersebar luas dan digelari Badiuzzaman (Bintang Zaman).[78] Dalam waktu yang sama Nursi mendengar berita tentang menteri urusan koloni Inggris, Gladstone, di depan anggota parlemen dengan menggenggam Al-Quran telah berkata: “Selama Al-Quran ini berada di tangan kaum muslimin, kita pun tidak akan pernah mampu menguasai mereka. Dengan demikian bagi kita tidak akan ada jalan lain kecuali melenyapkannya atau memutuskan hubungan  kaum muslimin dengannya”.

Berita ini telah membuat Nursi berguncang dan bertekad untuk mengabdikan seluruh hidupnya agar mukjizat Al-Quran berkibar dan kaum muslimin terikat dengannya. Ketika itu ia berkata: “Aku sungguh akan menunjukkan kepada dunia bahwa Al-Quran adalah matahari maknawi (hakiki) yang tidak akan redup sinarnya dan tidak mungkin padam cahayanya”. Tetapi saat itu Nursi belum mampu untuk fokus dan mewujudkan cita-citanya.[79]

Pada tahun 1907 M. Nursi mengunjungi ibu kota Istanbul. Di ibu kota Istanbul ia menyampaikan usulan kepada Sultan Abdul Hamid agar di timur Anatoli didirikan sekolah-sekolah yang mempelajari matematika, fisika, kimia, dan sebagainya, di samping sekolah-sekolah agama. Nursi mengusulkan penggabungan studi ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern agar terjadi keselarasan wawasan. Nursi menyuarakan penggabungan kedua ilmu tersebut dengan frase yang singkat dan padat namun cukup indah:

“The religious sciences are the light of the conscience and the modern sciences are the light of the reason; the truth becomes manifest through of the combining of the two. The students’ endeavour will take flight on these two wings. When they are seperated it gives rise to bigotry in the one, and wiles and scepticism in the other”.[80]( Pengetahuan agama merupakan cahaya bagi hati nurani dan pengetahuan modern adalah penerang bagi akal; kebenaran akan termanifestasi melalui kombinasi antara keduanya. Ketekunan para pelajar akan mengantarkan mereka mampu terbang tinggi dengan kedua sayapnya. Namun ketika keduanya dipisahkan, akan menimbulkan kefanatikan di satu sisi, dan ketertipuan serta sikap skeptis di sisi lain).

Namun usulan brilian tersebut ditolak karena orang-orang dekat Sultan justru memfitnahnya.

Pada musim dingin tahun 1911 M., Nursi mengadakan kunjungan ke negeri Syam, yang kebetulan saudara perempuannya tinggal di sana. Selama di sana ia berkesempatan untuk menyampaikan khutbah dengan bahasa Arab di Masjid Raya Umawi Damaskus. Khutbah tersebut terkenal dengan sebutan al-Khuthbah asy-Syamiyah atau The Damascus Sermon, yang berisi enam penyakit yang melanda umat Islam dan pengobatannya, yakni:

  • putus asa yang pengobatannya berupa harapan
  • ketidakjujuran dengan pengobatannya kejujuran
  • permusuhan diobati dengan saling mencintai
  • perpecahan harus diselesaikan dengan persatuan
  • kelaliman penguasa asing yang melemahkan umat Islam yang mesti diterapi dengan membangkitkan harga diri umat Islam
  • Dan sikap individualistik yang harus dipecahkan dengan musyawarah dan saling kerja sama.[81]

 Ketika pecah perang Dunia I pada tahun 1914 M. dengan Rusia, Nursi yang saat itu sudah mulai mempunyai agak banyak murid, bersama para muridnya dengan segala daya yang dimiliki turut serta menghadapi pasukan tentara Rusia. Dalam masa perang ini ia berhasil menyusun tafsirnya yang sangat berharga, Isyarat al-Ijaz fi Mazhan al-Ijaz,[82] dalam bahasa Arab. Dalam pertempuran tersebut Nursi tertangkap oleh pasukan tentara Rusia dan ditawan di Qustarma selama dua tahun empat bulan.[83]

Ketika masa-masa dalam tawanan Rusia inilah keinginan Nursi untuk uzlah, mengasingkan diri dari kehidupan sosial mulai muncul. Berawal dari perasaan terasing, sendirian, lemah, dan tidak berdaya saat berada di masjid kecil milik bangsa Tatar dekat sungai Volga, ia memutuskan untuk beruzlah.[84] Namun tekad itu belum juga terlaksana secara utuh, sebab orang-orang yang dicintainya di Istanbul, kehidupan sosial yang menyenangkan dan gemerlap, serta penghargaan dan penghormatan yang diberikan orang-orang sempat membuatnya lupa terhadap niat yang telah diputuskan sebelumnya.

Kendati demikian, Nursi sudah mengambil jarak terhadap kehidupan sosial. Hal ini terbukti dengan penolakannya untuk diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyyah yang terdiri dari orang-orang terkenal dan para ulama terkemuka, seperti Muhammad ‘Akif (penyair kondang), Ismail Hakki (seorang ulama kenamaan), Hamdi Almalali (mufassir terkenal), Mustafa Shabri (Syaikhul Islam), Sa’duddin Pasya, dan lain-lain. Nursi tidak pernah mengikuti pertemuan yang diselenggarakan berulang kali oleh Darul Hikmah dan mengajukan surat permohonan agar dirinya tidak usah dipilih sebagai anggota.[85]

Seiring perjalanan waktu, dua tahun kemudian Nursi membaca kitab futuh al-Gaib karya Abdul Qadir al-Jilani. Saat itu juga ia menjadi sadar bahwa dirinya mempunyai penyakit-penyakit ruhani yang sangat parah padahal ia diharapkan bisa menyembuhkan penyakit-penyakit ruhani umat Islam. Ia mengakui bahwa membaca kitab Futuh al-Gaib bagaikan menjalani suatu operasi besar. Awalnya iatidak tahandan hanya membaca sampai separuh kitab tersebut. Namun beberapa saat kemudian, rasa sakit akibat operasi ruhaniah itu berganti dengan kesenangan karena ia merasakan kesembuhan.

Lalu Nursi meneruskan membaca kitab tersebut sampai selesai dan mendapatkan manfaat besar darinya. Ia begitu menghormati dan selalu mendoakan al-Jilani setiap hari, sehingga mendapatkan lebih banyak lagi pencerahan dan kepuasan ruhani. Selanjutnya ia juga membaca kitab Maktubat, karya Imam Rabbani yang menjadikan dirinya semakin mantap untuk beruzlah.[86] Terlebih lagi, saat Daulat Turki Usmani secara beruntun dilanda beragam musibah hingga Inggris berhasil menduduki Istanbul (pada 16 Maret 1920 M.) yang semakin leluasa menerapkan doktrin-doktrin dunia Barat yang bercorak materialistik.

Nursi merasa tikaman demi tikaman yang dihujatkan kepada dunia Islam terasa seolah diarahkan ke lubuk hatinya. Dalam kondisi demikian, tekad nursi beruzlah untuk menyusun karyanya Risalah An-Nur, tidak bisa diganggu gugat lagi. Ia menetapkan diri untuk beruzlah ke salah satu daerah Turki, yaitu Shari Yar, Bosfur.[87] Bahkan ketika tahun 1922 M. Mustafa Kemal menawari dirinya jabatan sebagai penasihat umum seluruh wilayah timur Turki dengan memberinya sebuah vila besar dan gaji yang menggiurkan agar ia menjadi salah satu orang dekanya, Nursi menolak tawaran itu.[88]

Dalam uzlahnya inilah, Nursi yang hanya berdialog dengan Al-Quran semata tanpa merujuk kepada kitab apa pun, lebih terfokus dalam menuangkan ide-idenya secara inspiratif dalam usahanya membendung paham materialisme[89] yang sudah menjangkit sebagian besar masyarakat Turki. Selama masa-masa ini juga, berbagai buku-buku karangannya mulai diterbitkan, seperti Isyarat al-I’jaz, Qazil Ijaz fi al- Manthiq, as-Sanuhat, serta makalah-makalahnya, seperti Rumuz, Isyarat, thulu’at, Lama’at, Syaa’at, Min Ma’rifah an Nabi SAW., dan nuqthah Min Ma’rifatillah Jalla Jalaluh.[90]   

   

    

  1. The New Said (1926-1950 M.)

 

Dalam episode kedua kehidupan Said Nursi ini, yang disebut juga oleh Nursi sendiri sebagai Said al-Jadid (Said Baru), Nursi secara utuh melepaskan dirinya dari dunia perpolitikan dengan sebuah ungkapan terkenal yang ia lontarkan: A’udzu billahi min asy-Syaithani wa min as-Siyasah (Aku berlindung kepada Allah dari setan dan dari politik).[91] Sejak itu Nursi terfokus dalam aktivitas inqadz al-iman (menyelamatkan keimanan) di Turki. Nursi melukiskan keputusannya untuk menjauhi arena politik dengan alasan yang kontekstual:

“Bagi orang yang beriman sangatlah sulit untuk memperjuangkan tujuannya melalui politik dalam situasi yang membadai seperti sekarang. Karena perjuangan apa pun yang dilakukan demi Islam melalui politik, pada akhirnya hanya akan digunakan oleh sistem anti Islam yang dominan sebab kendali kehidupan politik ada di tangan kekuasaan asing.

Keterlibatan dalam politik akan membagi umat Islam menjadi kelompok-kelompok politik yang saling bertentangan. Perselisihan politik ini tumbuh sedemikian dalam pada hati setiap orang dan pada kehidupan bersama karena tabiat manusia, seperti keangkuhan, sehingga seorang Muslim akan menyebut saudara seimannya sebagaisetan jika dia tidak mendukung partai politiknya. Karena bisa jadi orang yang terpelajar akan sangat mencela orang yang baik dan saleh karena berbeda pandangan politiknya dan memuji orang yang korup karena membela kepentingan politiknya. Maka aku menjadi takut dengan kejahatan politik dan menarik diri sepenuhnya darinya seraya berkata: aku berlindung kepada Allah dari setan dan politik.[92]

Uzlah itu juga terdorong karena Nursi menyaksikan bagaimana sistem sekularisme yang diterapkan oleh penguasa dengan mensosialisasikan doktrin-doktrin materialisme ke seluruh masyarakat Turki hingga nyaris melumpuhkan keyakinan mereka. Sehingga Nursi menempuh langkah tersebut setelah ia yakin bahwa memfokuskan diri sebagai pelayan Islam tidak mungkin dapat diwujudkan melalui perjuangan politik dengan segala intrik dan pertentangannya, terutama setelah sekolah-sekolah agama dibubarkan dan beratus masjid Jami’ diubah menjadi gudang, atau pusat hiburan, atau gelanggang remaja. Karenanya Nursi pun mengubah aktivitas politiknya dan mengalihkan perhatiannya pada aspek keimanan dan masalah-masalah akidah.[93]

Kendati demikian, era kehidupan Nursi yang baru ini pun tidak sepi dari teror penguasa. Dengan tuduhan terlibat dalam revolusi terhadap pemerintahan Mustafa Kemal, Nursi ditangkap dan dibuang ke Barla, sebuah desa berbukit di barat daya Turki pada tahun 1926 M. Di sana ia menjalani kehidupan yang sulit dan terpisah hampir dari setiap orang. Tetapi ia berhasil mendapatkan hiburan, pelipur sejati, dengan mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Besar dan lewat penyerahan diri seutuhnya kepada-Nya. Bagian-bagian pokok dari Risalah an-Nur, The Words (Kumpulan Kata) dan The Letters (Kumpulan Surat), ditulisnya di Barla kala ia dalam kondisi sulit.[94]

Di desa Barla ini Nursi berkenalan dengan seorang warga desanya yang bernama Sulaiman yang akhirnya menjadi murid setia yang mengabdi kepadanya selama delapan tahun. Inilah awal hubungan antara Nursi dengan warga penduduk Barla. Sejak itu satu per satu orang-orang berdatangan untuk berguru kepadanya dan Nursi mulai menyebarkan Risalah an-Nur secara sembunyi-sembunyi. Halakah pengajiannya tumbuh dan berkembang. Sementara itu, para muridnya pun aktip mempelajari Risalah an-Nur dan menyalin serta menyebarluaskannya ke seluruh penjuru Turki. Demi misi ini, mereka dengan hati yang mantap rela ditangkap, diasingkan, bahkan walau sampai disiksa.[95]

Salinan karya-karya Risalah an-Nur saat itu masih ditulis dengan tangan dan mulai menyebar ke seantero Turki. Inilah awal mula pergerakan Risalah an-Nur.[96] Ternyata metode perjuangan Islam ini mengundang reaksi dan kebencian pemerintah. Dengan tuduhan membangun rahasia dan melawan pemerintah, Nursi dituntut hukuman mati dan seratus dua puluh santrinya diadili di Pengadilan Pidana Eskisehir pada tahun 1935. Meskipun sepanjang hidupnya ia selalu menentang segala pemberontakan dan gerakan yang bermaksud memecah ketenteraman dan keteraturan masyarakat, dan selalu menandaskan bahwa hak-hak setiap orang tidak boleh dilanggar meskipun demi kepentingan seluruh masyarakat, dia dituduh membangun organisasi-organisasi rahasia yang bertujuan menghancurkan ketenteraman masyarakat.[97]

Dakwaan yang dialamatkan kepada Nursi dan murid-muridnya detailnya antara lain:

  • Tuduhan membentuk organisasi bawah tanah.
  • Tuduhan melakukan upaya revolusi kepada Mustafa Kemal
  • Tuduhan membentuk thariqah sufi.
  • Tuduhan menghidupkan semangat keagamaan melalui penyebaran Risalah al-Hijab.[98]

Ketika dalam persidangan Eskisehir Nursi ditanya pendapatnya tentang negara Republik Turki, ia menjawab: Biografi saya yang kalian pegang itu bahwa saya ini warga negara republik yang religius bahkan sebelum kalian lahir ke dunia. Nursi ditahan selama sebelas bulan di penjara sebelum akhirnya diputus tidak bersalah.[99] Menariknya, justru kebanyakan karya Nursi Risalah an-Nur sebagian besar ditulis pada masa-masa ia berada di dalam penjara.

Dalam tahanan tahun 1935 Nursi juga menulis risalah-risalah al-Iqtishad, al-Ikhlash, al-Hijab, al-Isyarat ats-Tsalatsah, al-Mardha, asy-Syuyukh, serta risalah keduapuluh lapan, kedua puluh sembilan, dan tiga puluh yang terkompilasi dalam kitab al-Lama’at.[100] Setelah dibebaskan dari pengadilan Eskisehir, ia diasingkan kembali ke kota Kastamonu. Tiga bulan pertama ia ditahan di kantor polisi. Kemudian dipindahkan ke rumah kayu berukuran kecil dan berlantai tanah yang berada di depan kantor polisi tersebut selama tujuh tahun.[101]

Selama dalam tahanan Kastamonu, Nursi banyak menulis Risalahnya yang terkodifikasi dalam The Rays. Tercatat ia menulis Sinar pertama dan kedua sampai selesai, dan dilanjutkan Sinar ketiga sampai kesembilan yang di dalamnya menjelaskan tanda tertinggi. Sebagian besar Risalah yang tertuang dalam Lama’at dirampungkan pula selama dalam masa tawanan tersebut.[102]

Selama masa ini, baik Nursi maupun murid-muridnya terus-menerus mendapatkan tekanan dari penguasa. Tekanan tersebut kian lama kian meningkat, dan berpuncak dengan penangkapan besar-besaran hingga pengadilan dan pemenjaraan di Denizli[103] pada tahun 1943-1944. Nursi dikurung selama sembilan bulan dalam sebuah sel yang kecil sekali, gelap, dan pengap dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Dalam penjara ini Nursi hanya bisa menyebarkan Risalahnya secara sembunyi-sembunyi melalui selah kecil dari jendela kepada para murid-muridnya karena ia dilarang untuk berhubungan secara terbuka.[104]

 Dalam pengadilan di Denizli, Nursi dituduh membentuk thariqah sufi dan menorganisir masyarakat politis. Dalam persidangan di pengadilan Denizli, Nursi mengajukan pembelaan argumentatif yang tak terbantahkan:

“Memang  betul, kami merupakan sebuah organisasi. Tetapi berupa organisasi sepanjang masa yang beranggotakan empat ratus juta orang. Kami adalah anggota dari organisasi yang setiap hari sebanyak lima kali selalu mengikrarkan keanggotaan kami di dalamnya dan sangat terikat dengan prinsip-prinsip dasar organisasi, juga selalu berlomba untuk merealisasikan syiar organisasi ini, yaitu : “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara”.[105] Kami adalah anggota suci yang agung dan kami merupakan anggota-anggotanya yang memikul tugas agar di antara sesama anggota mengenal hakikat Al-Quran secara ilmiah dan murni, sebagai bentuk pengabdian dari kami untuk kami dalam upaya membebaskan sesama kami dari penjara abadi (neraka jahannam) yang diperingatkan kepada kami”.[106]

Setelah dibebaskan, Nursi diasingkan ke Emirdag, salah sebuah daerah di wilayah Afyon. Pada tahun 1948 sebuah perkara baru dibuka di Pengadilan Pidana Afyon. Pengadilan memvonis Nursi dengan semena-mena, tetapi vonis tersebut dibatalkan melalui banding sehingga nursi beserta murid-muridnya dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan pada bulan September 1949. Pada tahun yang sama, Risalah an-Nur tersebar dari pelosok desa sampai pusat kota Turki setelah pengadilan di berbagai daerah mengizinkannya untuk diterbitkan dengan tidak lagi secara manual.

Pada saat pengadilan sedang mengadakan sidang-sidangnya, pemerintahan di Angkara berganti penguasa pada tahun 1950. partai Demokrasi berhasil mengambil alih dari Partai Republik yang telah berkuasa selama seperempat abad dan terkenal sangat memusuhi Islam melalui pemilu yang berlangsung secara bebas. Ketika Partai demokrasi naik ke panggung kekuasaan, keluarlah surat pengampunan umum dan kasus yang menyangkut Baduzzaman bersama Risalah an-Nur juga dianggap tidak pernah terjadi.[107]

  1. The Third Said (1950-1960 M)

Kaum Muslimin bergembira dengan tampilnya Partai Demokrat sebagai pemegang kendali pemerintahan. Tetapi kegembiraan ini bukan karena ia sebagai Partai Islam, melainkan oleh dua faktor utama, yakni karena Partai Demokrasi berhasil menggeser pemerintahan yang sangat memusuhi Islam dan karena Partai Demokrasi memberi sedikit kebebasan kepada Islam untuk beraktivitas dan telah mengembalikan azan dengan bahasa Arab kembali berkumandang. Dengan alasan inilah, Nursi mengirimkan ucapan selamat kepada presiden Turki yang baru, Celal Bayar dan sang presiden pun membalas kembali dengan ucapan terima kasih.[108]

Kendati pemerintahan sudah berganti wajah baru, namun kebebasan terhadap aktivitas Nursi dengan para murid-muridnya beserta penyebaran Risalahnya tetap diawasi oleh penguasa. Episode akhir kehidupannya yang ketiga ini pun dilalui nursi dengan dakwaan demi dakwaan dan berpindah dari satu daerak ke daerah lain, mulai dari Istanbul, Barla, Afyon, Ankara, hingga berakhir saat menghembuskan nafasnya di Urfa.

Pada putaran periode kehidupan yang ketiga ini, dapat dikatakan pengaruh Nursi dengan Risalah an-Nurnya sudah menyentuh sebagian besar masyarakat Turki.  Risalah an-Nur  memendarkan cahaya iman ke seantero Turki yang sedikit demi sedikit namun pasti mampu menyingkirkan kegelapan doktrin-doktrin materialisme yang menggelayuti benak masyarakat Turki. Fakta faktual ini memang sudah diprediksikan oleh Nursi jauh-jauh hari sebelumnya, bahwa Risalahnya kelak akan menjadi pembimbing umat manusia bahkan tujuh kali lebih banyak dari Matsnawinya Jalaluddin Rumi.[109]

Karenanya, ketika di akhir hayatnya di Urfa tersebar kabar ke tengah masyarakat bahwa pemerintah bersikeras hendak mengusir Badiuzzaman dari kota tersebut, maka terjadilah gelombang protes dari masyarakat. Ribuan massa, diperkiraka sekitar lima sampai enam ribu orang berkumpul mengitari Hotel Apak Plaza, tempat istirahat Nursi dengan beberapa muridnya. Bahkan ketua Partai Demokrasi di wilayah Urfa menemui kepala polisi dengan mendesak agar Nursi sebagai tamu istimewanya (honoured guest) tidak diusir dan dibiarkan tinggal di Urfa.[110]

Namun kepala polisi tetap bersikeras mendesak Nursi yang saat itu sedang dalam keadaan sakit parah, dengan alasan hal itu karena perintah Menteri Dalam Negeri. Saat itu kepala polisi masuk dan menyampaikan pesan kepada Nursi bahwa dirinya harus meninggalkan Urfa menuju Asbarithah. Nursi menjawab dengan tenang, “Aku sekarang telah berada di detik-detik akhir kehidupanku, tidak lagi mampu kembali ke Asbarithah. Aku harus mati di sini. Sekarang tugasmu mempersiapkan air untuk memandikan jasadku setelah wafat”. Kepala polisi bersama anggotanya keluar dari kamar dengan kepala menunduk karena tersentuh nuraninya.

Masyarakat luas, berbagai organisasi dan perhimpunan bangkit menyampaikan protes keras kepada para penguasa di Ankara. Mereka menolak sikap yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Penduduk berduyun-duyun datang ke hotel untuk melihat Badiuzzaman untuk yang terakhir kalinya. Sekalipun sebelumnya ia tidak bersedia menerima orang sebanyak ini untuk bertemu—mengingat kesehatannya yang tidak memungkinkan—tetapi kali ini tak seorang pun yang ditolak untuk bertemu dengannya, bahkan ratusan orang yang ingin bertemu diterimanya dan satu per satu didoakan olehnya.[111]

Sore hari itu suhu badan Nursi naik dan ia hanya berdoa seperti tampak dari kedua bibirnya. Kira-kira pukul tiga dini hari 23 Maret 1960, Nursi menutup mata untuk selama-lamanya. Pertama kali berita tersebar di Urfa dan tidak lama kemudian masyarakat berhimpun di sekitar hotel. Ketika berita tersebar ke kota-kota lain, masyarakat luas dari luar Urfa berdatangan sehingga kota ini seketika itu juga menjadi lautan manusia yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada pahlawannya. Jenazah Nursi dipikul para murid dan orang-orang yang mencintainya dengan diiringi puluhan ribu pengantar jenazah dan dengan disertai hujan yang turun rintik-rintik untuk dikebumikan dipemakaman Ulu Jami.[112]

Penyelenggara pemakaman menemukan peninggalan Nursi berupa sehelai surban, sepotong pakaian, dan uang dua puluh lira. Peninggalan sejati yang tak ternilai dari pahlawan Islam dan kemanusiaan ini, yang pada saat meninggalnya hanya berbobot empat puluh kilogram, kumpulan Risalah an-Nur setebal enam ribu halaman, yang telah diperkarakan di berbagai persidangan.[113]

Risalah an-Nur secara garis besar disusun dalam enam jilid: Pertama, Al-Kalimat (The Words), yang berisi tentang tauhid, aspek-aspek keagungan al-Quran, aspek-aspek ibadah ritual, isra’ mi’raj, wacana keimanan dan kehidupan sesudah mati, dan lain-lain. Kedua, Al-Maktubat (The Letters), yang menguraikan tentang tingkat kehidupan, rahmat dalam kematian, Asma’ Allah, mukjizat Rasul, makna mimpi, konsep manunggal kawula gusti, penciptaan setan, rahmat allah dalam kematian dan kemalangan, dan lain sebagainya. Ketiga, Al-Lama’at (The Flashes), yang menjabarkan mengenai sabar, konsep sunnah, wahdatul wujud, ma’rifatullah, ikhlas, risalah thabi’ah, hijab, mardha,syuyukh, dan perbincangan beberapa Asmaul Husna. Keempat, Sya’a’at (Epistomes of Light), yang mengeksplorasi tentang tauhid, keimanan, ketakwaan, hari kebangkitan, eksistensi manusia dan alam, serta berbagai topik lainnya. Kelima, The Rays, yang melukiskan keyakinan, kepercayaan pada hari kebangkitan dan hidup sesudah mati, perbincangan tentang malaikat, keesaan Tuhan, ringkasan surat Al-Fatihah, pilar-pilar Islam dan menjelaskan pula kenabian Muhammad Saw. Keenam, Signs of Miraculousness, yang berisi tafsir atas surat Al-Fatihah dan surat Al-Baqarah sampai ayat 33. Seluruh risalah tersebut dipaparkan oleh Nursi secara filosofis dan sangat kaya ilustrasi dengan dibungkus  gaya bahasa yang ringan, sehingga mudah dicerna oleh masyarakat luas tanpa kehilangan bobot maknanya.

BAB III

 

 

PANDANGAN SAID NURSI TENTANG EKSISTENSI TUHAN

 

 

  1. Eksistensi Tuhan dalam Wacana Filsafat

 

            Dalam wacana filsafat, perbincangan mengenai eksistensi Tuhan setidaknya dibuktikan dengan mengajukan lima macam argumen. Pertama, argumen ontologis.[114] Argumen tersebut berusaha untuk membuktikan adanya Tuhan dan ide tentang Tuhan yang dimiliki oleh manusia. Meskipun benih-benih argumen ontologis jejaknya dapat ditelusuri hampir lebih dari dua ribu tahun silam pada filsuf Yunani klasik, Plato (428-348 SM) dengan teori idenya, namun diuraikan sekilas oleh Al-Farabi dan dipopulerkan oleh filosof-teolog Abad Pertengahan dari Italia, St. Anselm dan diikuti oleh Rene Descartes pada awal era modern.[115]

            Menurut Anselm, setiap manusia mempunyai ide tentang zat yang sempurna dan itulah yang dimaksudkan dengan kata “Tuhan”. Tuhan adalah zat yang manusia tidak dapat menggambarkan zat yang lebih besar daripada-Nya.[116] Jika manusia menyelami dirinya sendiri, ia akan menemukan citra Tuhan terpantul di dalam “alam batinnya sendiri”.[117] Zat yang serupa ini mesti mempunyai wujud dalam hakikat, sebab kalau ia tidak memiliki wujud dalam hakikat dan hanya mempunyai wujud dalam pikiran, zat itu tidak mempunyai sifat lebih besar dan sempurna dari pada mempunyai wujud. Mempunyai wujud dalam alam hakikat lebih besar dan sempurna daripada mempunyai wujud dalam alam pikiran saja. Sesuatu yang maha besar dan maha sempurna itulah Tuhan dan karena sesuatu yang terbesar dan paling sempurna tidak boleh tidak pasti mempunyai wujud, maka Tuhan mesti mempunyai wujud. Dengan demikian, Tuhan pasti ada.[118]

            Mendekati Anselm, menurut Rene Descartes dalam ruh manusia ada suatu pengertian atau ide tentang sesuatu yang secara sempurna tiada batasnya. Karena manusia adalah makhluk yang terbatas, maka tidak mungkin pengertian atau ide tentang sesuatu yang tiada batasnya itu adalah hasil pemikirannya sendiri. Yang menyebabkan ide tentang sesuatu yang tiada batasnya ialah yang tiada batasnya itu sendiri. Jika demikian tokoh yang tidak terbatas itu jelas ada dan jelas berbeda dengan yang lain. Tokoh yang tiada batasnya itu adalah Allah.[119]

            Kedua, argumen kosmologis.[120] Apabila argumen ontologis benihnya berasal dari Plato, Aristoteles yang mencetuskan pertama kali argumen kosmologis dengan gagasannya mengenai Penyebab Pertama (the First Cause) atau Penggerak Yang Tidak Bergerak (the Unmoved Mover).[121] Tuhan menggerakan alam bukan sebagai penyebab efisien, tapi sebagai penyebab final. Aristoteles menyatakan bahwa Tuhan menggerakkan karena dicintai dan segala sesuatu di alam semesta bergerak pula menuju Penggerak yang sempurna tersebut.[122]

            Dalam tradisi filsafat Islam, argumen kosmologis ini dielaborasi oleh Al-Kindi yang dibungkus dengan istilah Arab, dalil al-huduts atau argumen kebaruan. Al-Kindi mengungkapkan bahwa alam semesta ini, betapa pun luasnya, adalah terbatas. Karena terbatas, alam tidak mungkin tidak memiliki awal yang tidak terbatas. Oleh karena itu, tidak mungkin alam semesta bersifat azali (tak mempunyai awal). Ia pasti memiliki titik awal dalam waktu dan materi yang melekat padanya juga terbatas oleh gerak dan waktu, dalam arti mempunyai permulaan. Jika materi, gerak, dan waktu dalam alam semesta ini terbatas, berarti alam semesta ini baru (huduts).

              Segala yang baru, bagi Al-Kindi, pastilah dicipta (muhdats). Karenanya, mengatakan bahwa alam itu baru adalah sama dengan mengatakan bahwa alam ini dicipta. Alasannya adalah munculnya sesuatu yang terbatas mengandaikan adanya yang memunculkan. Dengan demikian, sesuatu yang baru seperti alam ini, karena tidak bisa terbayangkan bisa muncul sendiri, memastikan adanya sebab yang memunculkannya, dan itulah Tuhan,[123] atau dalam bahasa filosofis disebut Sebab Pertama. Jadi melalui argumen kebaruan alam, Al-Kindi membuktikan secara logis bahwa Tuhan ada, sebagai pencipta alam semesta.[124] Argumen kosmologis ini kemudian dikembangkan oleh filsuf-teolog besar Italia, Thomas Aquinas dengan mengajukan lima argumen.[125]

            Ketiga, argumen teleologis.[126] Argumen ini dieksplorasi oleh filosof besar Muslim Andalusia, Ibn Rusyd dengan istilah yang digagasnya yaitu argumen melalui desain (dalil al-inayah).[127] Menurut Ibn Rusyd, penciptaan yang menakjubkan dari segala yang ada di alam semesta, seperti penciptaan kehidupan organik, persepsi indriawi, dan pengenalan intelektual, merupakan bukti adanya Tuhan melalui bukti penciptaan yang menakjubkan, atau keserasian. Terciptanya siang dan malam, matahari dan bulan, empat musim, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan hujan misalnya, sesuai dengan kehidupan manusia dan makhluk-makhluk lain yang berpijak pada prinsip keteraturan, atas dasar ilmu dan kebijasanaan.[128]

Keserasian seperti itu tidak mungkin menurut akal hanya merupakan suatu kebetulan, tetapi haruslah dicipta atau dirancang oleh agen yang dengan sengaja dan bijaksana melakukannya dengan tujuan tertentu. Prinsip-prinsip keteraturan yang berada di alam semesta merupakan ciptaan Tuhan, sehingga alam semesta tersusun dengan baik dan rasional.[129] Argumen teleologis tersebut juga dikembangkan oleh W.R. Matthews,[130] teolog Inggris, William Paley, dan penulis kenamaan Inggris, Henry More.[131]

Keempat, argumen moral, yang dipelopori oleh filsuf ternama dari Jerman, Immanuel Kant. Argumen ini bisa diuraikan dengan dua bentuk eksposisi. Bentuk pertama adalah bentuk di mana argumen disajikan sebagai inferensi logika: dari hukum moral yang objektif, manusia mengambil kesimpulan tentang adanya Tuhan yang Memberi Hukum, atau dari adanya suara hati kecil, kesadaran diri atau rasa bertanggung jawab, manusia mengambil kesimpulan tentang adanya Tuhan.[132] Ketika seseorang merasa bertanggung jawab, malu, dan takut karena melanggar hati kecil, hal itu ada zat yang kepada-Nya ia bertanggung jawab dan di hadapan-Nya ia malu.[133]

Kedua, sebagai kelanjutan bentuk yang pertama, menurut Kant yang melandasi setiap perasaan moral dalam diri manusia itu adalah imperatif kategoris. Sebagai perintah, imperatif kategoris bukan sembarang perintah, melainkan untuk mengungkapkan suatu keharusan (sollen).[134] Imperatif kategoris akan mengikat seseorang tanpa syarat apa pun. Bentuk imperatif ini adalah: “engkau harus begitu saja!” (Du Sollst). Perintah ini menjiwai semua peraturan etis. Misalnya, janji harus ditepati senag atau tidak senang; barang yang dipinjam harus dikembalikan kendati pemiliknya sudah lupa.[135]

Penerapan imperatif kategoris ini meniscayakan kebaikan tertinggi atau summum bonum. Namun setiap orang mengetahui bahwa dalam hidup ini orang yang bajik tidak selalu mendapatkan ganjaran. Apabila seseorang yang bajik tidak selamanya mendapat ganjaran dalam hidup ini, sedangkan kebajikan seharusnya memperoleh pahala, tentu ada sesuatu yang memberi jaminan  bahwa kebajikan pada akhirnya akan mendapatkan pahala. Sesuatu tersebut adalah Tuhan.[136] Dengan kata lain, adanya Allah menjamin harapan moral manusia untuk mencapai summum bonum.[137]

Kelima, argumen pengalaman relijius. Argumen ini dipopulerkan oleh filsuf sekaligus pujangga terkemuka asal Pakistan, Muhammad Iqbal. Menurut Iqbal, argumen pengalaman relijius lebih berdasarkan intuisi ketimbang rasio. Iqbal melukiskan:

Pikiran dan realitas sesungguhnya merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Ini hanya mungkin kalau kita secara seksama meneliti dan menafsirkan pengalaman kita, dengan mengikuti petunjuk yang diberikan Al-Quran yang menganggap pengalaman di dalam serta di luar sebagai perlambang suatu realitas yang digambarkannya sebagai ‘Yang Pertama dan Yang Terakhir’, yang terlihat dan yang tak terlihat”.[138]

Bagi Iqbal, pengalaman relijius yang dibimbing Al-Quran, apabila diolah sedemikian rupa, dapat mengantarkan manusia untuk mengenal Yang Pertama dan Yang Terakhir. Pengalaman relijius ini merupakan hasrat keagamaan yang derajatnya lebih tinggi daripada hasrat filsafat rasional semata. Pada titik idealnya, pengalaman relijius merupakan sebuah pengalaman sufistik, yang dalam kajian psikologi modern dianggap senagai puncak perkembangan rasionalitas di mana segala prasangka dan asumsi yang masih menjebak pemikiran rasional terhapuskan. Fakta inilah yang dilukiskan oleh salah seorang Psikolog mazhab humanistik, Erich Fromm:

“Saya harus memberi catatan bahwa, sangat berlawanan dengan anggapan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional, ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. Sebagaimana dinyatakan oleh Albert Schweizer: “Pemikiran rasional yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme”.[139]

Yang menjadi penekanan dalam hal ini adalah keyakinan batin (inner conviction) bahwa Tuhan ada sering didasarkan pada perasaan bahwa mereka  (orang-orang yang sudah mengalami) sudah memiliki sejumlah pengalaman langsung mengenai eksistensi Tuhan.[140] Demikianlah lima argumen yang sering kali digulirkan oleh para filsuf, baik Muslim maupun non-Muslim untuk membuktikan eksistensi Tuhan.

  1. Pandangan Said Nursi tentang Tuhan

Dalam sejarah filsafat, metode yang digunakan untuk menganalisis, memahami, dan mengenal Tuhan, umumnya dengan metode demonstratif (burhani), yaitu membangun premis setapak demi setapak secara rasional, sistematis, dan konsisten agar dicapai pengertian yang kukuh, bagaikan bangunan piramida yang solid. Melalui konstruksi filosofis tersebut, Tuhan diidentifikasi dengan beberapa istilah yang lazim dipakai dalam literatur filsafat sebagai Being qua Being, the Absolut Being, Supreme Intellect, Kebenaran Tertinggi,Zat Yang Wajib Wujud-Nya, Sumber segala wujud dan sebagainya.[141]

Meskipun banyak para filsuf yang mampu menguraikan eksistensi Tuhan secara filosofis, tidak sedikit di antara mereka yang mengakui keterbatasan refleksi filosofis nalar manusia dalam mencandra Realitas Absolut yang bernama Tuhan. Pengakuan tersebut bukan hanya diikrarkan oleh sebagian filsuf Muslim (Timur), tapi juga oleh para filsuf non-Muslim (Barat). Ibnu Sina kendati begitu piawai menjabarkan eksistensi Tuhan secara demonstrasi rasional melalui teori emanasinya,[142] ujung-ujungnya ia mengakui kelemahan akal dalam mengkonstruksi Tuhan secara utuh.[143]

Dua filosof Yahudi, Bahya Ibn Pakudah dan Rabi Ibn Maimun yang lebih dikenal dengan panggilan Maimonides, mengungkapkan bahwa akal dapat memberi tahu bahwa Tuhan itu ada tetapi tidak mampu menyampaikan apa pun mengenai Tuhan.[144] Akhirnya dua filosof Nasrani, Sectus Erigena dan Thomas Aquinas, walaupun berhasil secara logika dalam menyingkap misteri Tuhan, keduanya sepakat bila hakikat sejati Tuhan tidak bisa dijangkau oleh pikiran manusia.[145]

Eksposisi sebagian filosof  mengenai Tuhan, sering kali bernada paradoksal: di satu sisi mereka menggambarkan Tuhan secara logis, di lain sisi mereka mengungkapkan ketidakberdayaan rasio mereka dalam menangkap kesejatian Tuhan; Pada satu aspek mereka menjadikan Tuhan sebagai objek penalaran diskursif, pada aspek lain mereka mengklaim keterbatasan intelek mereka dalam memahami Tuhan sebagaimana akal memahami fenomena-fenomena lain.

Mendekati pandangan para fillosof tersebut adalah perspektif yang dibangun oleh Said Nursi mengenai Tuhan. Nursi mempunyai pandangan tentang Tuhan yang tidak sepenuhnya terbebas dari nuansa paradoksal. Ia memandang Tuhan sebagai Dzat yang memiliki kesempurnaan dan keagungan yang tak akan bisa ditandingi oleh apa pun dan tak terpahamkan oleh akal, namun kaparipurnaan dan keagungan-Nya itu menjelma pada wajah alam semesta sehingga bisa menjadi kitab yang dapat dibaca oleh rasio manusia.

Menurut Nursi, kesempurnaan Allah dalam segala aspeknya terlalu akbar untuk dipahami oleh pikiran manusia yang lemah, tapi kesempurnaan Allah itu termanifestasi pada lembaran alam semesta melalui Sifat-sifat, Nama-nama, dan Perbuatan-Nya, yang justru sangat transparan untuk ditampung oleh kekuatan akal manusia.[146] Secara global, pandangan Nursi mengenai Tuhan paling tidak dapat diuraikan dalam tiga kategori.

Pertama, Nursi memandang Tuhan sebagai Dzat yang sangat unik dan memiliki kesempurnaan yang tidak akan bisa dibandingkan dengan apa pun. Allah mempunyai kesempurnaan mutlak dalam segala sifat, nama, dan perbuatan-Nya, sehingga tidak ada dan tidak dapat dibandingkan dengan apa pun. Seluruh “kesempurnaan” yang tampak di alam semesta, yang dimiliki oleh manusia, para malaikat, dan jin hanyalah bayangan redup atas kesempurnaan-Nya yang hakiki, yang tidak bisa dibandingkan.[147]

Mengapa Allah memiliki kesempurnaan yang tidak bisa dibandingkan? Menurut Nursi, karena segala kesempurnaan yang tiada batas (mutlak) hanya mungkin terjadi dalam lingkaran Ketunggalan dan Keesaan atau Keunikan Allah, maka bayangan kesempurnaan di luar lingkaran kesempurnaan tersebut sejatinya adalah keliru dan bukan kesempurnaan sama sekali.[148] Kendati demikian, Nursi mengakui ada bentuk-bentuk kesempurnaan yang nilai dan signifikansinya bersifat relatif yang ada dalam semesta ciptaan-Nya baik mikrokosmos maupun mikrokosmos, namun tetap tidak dapat dikomparasikan dengan kesempurnaan hakiki.[149]

Kedua, pandangan Nursi tentang Allah yang memliki kekuasan absolut dan tidak bertepi atas segala ciptaan-Nya. Apa yang disebut dengan hukum-hukum alam tiada lain hanyalah gambaran perwujudan-perwujudan Ilmu, Perintah, dan Kehendak-Nya pada semua spesies.[150] Allah, Sang Pencipta Yang Maha Berkuasa tersebut mengetahui segala sesuatu dan memiliki kehendak yang begitu komprehensif, sehingga apa pun yang Dia kehendaki terjadi dan apa pun yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Dia sangat berkuasa atas segala sesuatu dengan Kekuasaan Absolut yang meliputi segalanya yang niscaya bagi Dzat Ilahi-Nya.[151]

Dalam perspektif Nursi, jika dipandang dari sudut pandang kekuasaan Allah (Divine Power), menciptakan apa pun saja, baik besar atau kecil, banyak atau sedikit, mudah atau rumit, semuanya berada dalam satu keselarasan yang mudah. Dengan kekuasaan mutlak-Nya, Dia menciptakan sesuatu yang universal semudah menciptakan yang partikular; Dia menciptakan sesuatu yang partikular seartistik yang universal.[152] Nursi menyuarakan cara kerja kekuasaan absolut Tuhan tersebut secara puitikal:

In relation to the power of the One Who creates beings, Paradises are  as easy springs, the springs as easy as gardens, and gardens as easy as flowers”.[153] Dalam hubungannya dengan kekuasaan Dzat yang menciptakan seluruh makhluk, maka menciptakan surga adalah semudah menciptakan musim semi, menciptakan musim semi semudah menciptakan kebun-kebun, dan menciptakan kebun-kebun semudah menciptakan sekuntum bunga”.

Meskipun kekuasaan Allah bersifat mutlak, menurut Nursi, kekuasaan-Nya menjelma dalam bentuk dua manifestasi. Cara pertama adalah (Wahidiya), bentuk sebuah ketentuan yang maha-meliputi, Dia menunjukkan Nama-nama-Nya di seluruh alam semesta dari balik perantara dan kausa yang kasat mata. Yang kedua (Ahadiya), Dia memfokuskan manifestasi-Nya pada satu makhluk tanpa perantara atau tabir. Ketika ditunjukkan melalui cara yang kedua ini, kebaikan, kreasi, dan kemuliaannya adalah lebih jelas, lebih indah dan agung dibandingkan manifestasi mereka dengan cara yang pertama.[154]

Mengenai hal ini, Nursi membuat ilustrasi. Misalnya saja seorang raja yang sangat baik menjalankan kekuasaannya secara langsung. Dia bisa melakukannya dengan dua cara: dengan beberapa ketentuan atau undang-undang umum yang dia buat dan menggunakan para pejabat dan gubernur pada masing-masing kantor, atau melalui pemerintahan langsung dengan selalu hadir di mana saja pada saat yang bersamaan dalam wujud berbeda dan tanpa didampingi para pejabat atau pegawai. Cara yang kedua ini adalah lebih baik dan lebih istimewa.[155]

Jadi bagi Nursi, kendati Allah memiliki kekuasaan yang absolut, hal itu tidak menafikan-Nya menggunakan perantara dan kausa-kausa untuk menunjukkan kekuasaan-Nya dalam kehidupan duniawi. Fakta tersebut senafas dengan ide yang digagas oleh Abdul Qadir al-Jilani, bahwa dunia merupakan negeri atau tempat hikmah (kebijaksanaan) yang membutuhkan sarana-sarana, prasarana-prasarana, serta hukum kausalitas.[156]

Ketiga, meskipun Allah mempunyai kesempurnaan dan kekuasaan tak tertandingi yang sejatinya tak terjangkau oleh nalar manusia yang lemah, Dia tetap ingin menunjukkan kesempurnaan dan kekuasaan-Nya pada setiap fitur alam semesta melalui manifestasi nama-nama, sifat-sifat, dan tindakan-Nya. Secara sistematis dan koheren, segala sesuatu di alam semesta baik pada tataran makrokosmos maupun mikrokosmos merefleksikan kesempurnaan karya dan Pencipta itu sendiri.[157]

Pada aspek ini, menurut Nursi Wajah Tuhan justru hadir secara transparan pada setiap lembaran ciptaan-Nya: langit, matahari, bumi, bulan, dan bintang-gemintang, serta pada dunia binatang yang tak berakal dan manusia yang memiliki kesadaran. Pandangan Nursi  tentang Tuhan  pada level yang ketiga inilah yang paling menonjol dan sering kali muncul dalam karyanya: Risalah An-Nur. Mungkin karena ingin mengcounter doktrin filsafat materialisme yang bernada filosofis, maka Nursi juga membangun argumentasi yang bernada filosofis dengan bingkai kosmologis, ontologis, dan teleologis dengan porsi yang cukup luas.[158]

  1. Pembuktian Eksistensi Tuhan Menurut Said Nursi
  2. Eksistensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi Kosmologis

            Ide sentral yang terkandung dalam argumentasi kosmologis adalah adanya rangkaian hukum sebab akibat (kausalitas) pada alam semesta yang harus berakhir pada sebab pertama yang disebut Tuhan.[159] Meskipun demikian, argumen kosmologis dapat diuraikan sebagai argumen mengenai eksistensi Allah yang didasarkan atas hakikat alam semesta yang diasalkan dan tergantung pada sesuatu yang lain dari dirinya sendiri; yang didasarkan atas kontigensi alam semesta dan ketergantungnnya pada apa yang niscaya (Allah).

            Allah menggerakkan diri sendiri, sedangkan alam semesta mempunyai gerak yang diberikan kepadanya. Allah itu kekal, sedangkan alam semesta mempunyai awal dalam waktu. Allah itu aktual pada dirinya, sedangkan alam semesta berada dalam keadaan potensial yang diaktualkan sebagian dalam waktu. Allah tidak dapat diubah, sedangkan alam semesta berada dalam suatu perubahan terus-menerus.[160] Dengan kata lain, kosmologis mulai dari suatu analisis tentang eksistensi segala sesuatu ke eksistensi Allah dan ke salah satu atribut Allah atau lebih.[161]

            Ketika mengurai eksistensi Tuhan melalui bingkai argumentasi kosmologis, Said Nursi berangkat dari keberadaan alam semesta dalam segala aspeknya yang pasti bermuara pada satu Pencipta yang Wajibul Wujud, Yang Maha Mutlak, dan Maha Paripurna dalam segala atribut-Nya. Pembahasan alam semesta, dalam perspektif Nursi, selalu terhubung dengan keesaan Tuhan dan acap kali ia mengaitkannya dengan salah satu nama atau sifat Allah yang termanifestasi secara aktual. Uraian Nursi mengenai eksistensi Tuhan melalui argumentasi kosmologis dapat diklasifikasi secara detail sebagai berikut.

  1. Penciptaan alam semesta dengan segala keanekaragamannya membuktikan adanya Pencipta Tunggal Yang Maha Kuasa.[162] Menurut Nursi, kekuasaan dan kedaulatan tidak memungkinkan adanya musuh, sekutu, atau campur tangan. Ilustrasinya, jika sebuah desa mempunyai dua pemimpin, tatanan dan perdamaiannya akan rusak. Suatu daerah atau wilayah dengan dua gubernur akan mengalami kebingungan. Dan sebuah negara dengan dua raja atau pemerintahan akan senantiasa dalam kekacauan.

            Jika kekuasaan dan kedaulatan relatif yang dimiliki manusia yang lemah saja menolak persekutuan dan intervensi pihak lain, maka kedaulatan sejati, kerajaan dan kekuasaan absolut yang agung pada tingkatan Kekuasaan Tuhan yang dimiliki Dzat Yang Maha Berkuasa, tentu lebih tegas menolak campur tangan dan persekutuan pihak mana pun. Hal itu sebagai indikasi mengenai keberadaan Dzat Wajibul Wujud (the Necessarily Existent One).[163] Dengan kata lain, Keesaan dan Ketunggalan tanpa sekutu adalah persyaratan mutlak atas Ketuhanan dan Kekuasaan.

  1. Adanya kesempurnaan relatif menunjukkan kesempurnaan mutlak. Semua kesempurnaan di alam semesta merupakan pertanda kesempurnaan Dzat Yang Agung dan perlambang atas keindahan-Nya. Dalam analogi Nursi, sebuah istana indah yang dibangun dengan sempurna pasti menunjukkan adanya seorang pembangun yang sempurna. Sama halnya dengan dunia, sebuah istana yang dibangun dan dihias secara sempurna, mengindikasikan bahwa Dzat yang membangun dunia itu adalah sempurna.[164] Namun Nursi tetap menggarisbawahi, bahwa segala kesempurnaan yang dimiliki setiap makhluk hanya merupakan kesempurnaan relatif sebagai refleksi dari Kesempurnaan Absolut sehingga seluruh kesempurnaan relatif tersebut akan menjadi bayangan redup jika dibandingkan dengan kesempurnaan realitas Dzat Yang Maha Paripurna.[165] “Kecantikan lugu “wajah” alam semesta menandakan keniscayaan eksistensi dari Yang Kecantikan-Nya absolut”, demikian tulis Nursi.[166]
  2. Seluruh makhluk berada dalam kebutuhan dan ketergantungan yang mengharuskan adanya satu Wujud Wajib Tempat Bergantung. Menurut Nursi, hanya dengan sedikit perhatian dan usaha, manusia bisa menyaksikan segel Dzat Tempat Bermohon segala sesuatu pada wajah halaman bumi (the Eternally Besought One).[167] Fakta ini karena kekuasaan, kekayaan, dan kehidupan absolut akan terlihat di dalam kelemahan, kemiskinan, dan benda yang benar-benar tanpa kehidupan.[168]

            Lebih jauh, segala sesuatu di alam semesta, apakah besar atau kecil, mempunyai kebutuhan yang tiada habisnya dalam hal makanan dan kelangsungan hidup. Kebutuhan setiap sesuatu dipenuhi tepat pada waktunya dan dalam takaran yang tepat yang mereka perlukan untuk kelangsungan hidup mereka. Pemenuhan kebutuhan tersebut mengindikasikan eksistensi Tuhan Yang Maha Pemberi Makan, Maha Pemberi Rezeki, Maha Pemurah, Maha Penyayang dan Maha Pengasih.[169]

  1. Keunikan setiap ciptaan menunjukkan Pengetahuan Tuhan Yang Maha Komprehensif dan membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Pengetahuan Tuhan Yang Maha Meliputi ini bisa dilihat pada kehendak-Nya dalam menentukan sebuah bentuk pada setiap makhluk ciptaan-Nya yang tertata, artistik, indah, dan penuh makna sesuai dengan tujuannya masing-masing di antara kemungkinan bentuk yang tak terhingga.[170] Dengan ketentuan tersebut, Dia menampilkan setiap makhluk dalam keunikan identitas dan wujud mereka.

            Dalam telaah Nursi, secara demonstratif keunikan tersebut ditunjukkan pada karya-Nya yang paling mulia: Manusia. Secara spesifik, keunikan itu tampak pada setiap wajah manusia. Pada setiap wajah mungil manusia terlihat tanda-tanda yang membedakannya dari semua wajah lain sejak zaman Nabi Adam as., sampai hari ini, bahkan selamanya, walaupun substansi mereka sama-sama manusia.[171] Dengan demikian, pada setiap wajah manusia secara transendental tertera stempel keesaan Tuhan Yang Maha Tunggal.[172]

  1. Setiap makhluk ciptaan Tuhan merefleksikan Asma-asma-Nya secara indah, faktual, dan komprehensif.[173] Dengan kata lain, segala sesuatu mencerminkan jejak-jejak Ilahi. Ketika memandang wajah-wajah cantik jelita dan tampan menawan, taman bunga yang indah mempesona, panorama semesta, bintang-gemintang, rembulan, dan matahari yang bertebaran di lengkungan cakrawala yang menakjubkan, di sana akan terlihat Al-Jamil, Tuhan Yang Maha Indah.

            Tatkala cahaya matahari menyinari wajah bumi dan air hujan membasahi daratannya yang kering sehingga tumbuh-tumbuhan dan pepohonan menjadi hidup dan lebat berbuah, serta manusia dan hewan bergairah menjalani kehidupan, di situ akan nampak nama Ar-Rahman, Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan sebagaimana melalui hidup semua makhluk hidup membuktikan  eksistensi Dzat Wajibul Wujud, maka melalui kematian mereka semua bersaksi atas keabadian dan keesaan Dzat Yang Maha Hidup.[174]  “Like you learn of His Name of Provider through hunger, come to know also His Name of Healer through your illness[175], demikian tegas Nursi

            Sampai di sini, melalui paparan di atas, sebenarnya Nursi ingin menunjukkan bahwa Allah merupakan satu-satunya Penyebab Pertama bagi segalanya: alam semesta, bagi kesempurnaan relatif makhluk, bagi kebutuhan dan ketergantungan makhluk, serta terhadap setiap manifestasi seluruh atribut-Nya pada wajah semesta alam. Penciptaan alam semesta, wujud kesempurnaan nisbi, kebutuhan dan ketergantungan makhluk, serta penjelmaan setiap nama, sifat, dan karya-Nya, semuanya bersumber pada Dzat Wajibul Wujud Yang Maha Esa. Sebab:

Hubungan kerja sama satu sama lain di antara semua hal di alam semesta dan keterampilan seni tanpa cacat yang ditampilkan pada setiap hal menggambarkan bahwa yang telah melukis bintang-bintang dan matahari-matahari di atas halaman langit adalah Dia Yang melukis sel-sel di atas ‘halaman-halaman’ lebah dan semut. Dengan bahasa dari semua makhluk yang ada di alam semesta, alam semesta memberikan kesaksian bahwa Allah, tiada Tuhan selain Allah (laa ilaaha illaa’ llaahu)”,[176] demikian simpul Nursi.

  1. Eksistensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi Ontologis

Argumen ontologis berpijak pada filsafat wujud yang menyatakan bahwa manusia mempunyai suatu gagasan tentang zat yang sempurna dan tidak ada wujud yang lebih besar daripada zat tersebut.[177] Zat inilah yang diidentifikasi sebagai Tuhan. Karena manusia merupakan wujud (ada) terbatas yang tidak dapat menghasilkan ide tentang Tuhan sebagai Ada Yang Sempurna dan Tak Terbatas, maka dengan sendirinya Tuhan sebagai Realitas Yang Sempurna dan Terbesar itulah yang telah menyematkan ide tersebut ke dalam pikiran dan jiwa manusia yang terbatas.[178]

Dengan ide ini, manusia bisa menyuarakan dan mengkonsepsikan mengenai suatu Zat Yang Maha Besar, Maha Sempurna, dan Tidak Terbatas yang tidak hanya berada dalam pikiran semata, tapi benar-benar mempunyai wujud nyata dalam realitas. Hal ini dengan sebuah asumsi bahwa jika Tuhan hanya besar dalam pikiran konsekuensinya Dia tidak betul-betul besar sebab tidak mewujud secara konkret hanya bersifat imajinatif.[179]

Jika argumentasi teleologis bagi filosof lain lazimnya hanya berputar pada jiwa manusia yang memiliki gagasan tentang kebesaran mutlak Tuhan dan secara faktual kebesaran absolut itu benar-benar hadir, Nursi melampaui perspekti umum tersebut. Baginya, bukan hanya manusia satu-satunya secara fitriah yang mengakui kebesaran mutlak Tuhan, tetapi juga semesta ciptaan-Nya menyuarakan kebesaran Sang Pencipta. Semua manusia, entah para rasul, para nabi, para wali, orang-orang suci, para ahli syuhud, para ulama, serta para pemikir yang telah mendapatkan pencerahan, memberi kesaksian mengenai kebesaran absolut-Nya.

Demikian pula alam semesta, bumi dan benda-benda langit sampai atom-atom yang tak terlihat kasat mata, mengikrarkan kesaksian dengan bahasa fitrahnya masing-masing tentang kebesaran dan keagungan Allah Yang Maha Paripurna bahwa semesta ini merupakan jejak kekuasaan-Nya, goresan ketetapan-Nya, cermin nama-nama-Nya, serta tampilan cahaya-Nya.[180] Jadi setiap makhluk mampu menyuarakan kebesaran Sang Penciptanya kendati tidak tertangkap oleh nalaritas kebanyakan manusia.

Walaupun demikian, bahwa manusia mampu melukiskan kebesaran dan keagungan Tuhan, Nursi menggarisbawahi bahwa secara hakiki kebesaran dan keagungan-Nya tak akan pernah terpahamkan secara utuh oleh akal setiap manusia dan tidak benar-benar bebas dari segala kekurangan dan ketidaksempurnaan. “Allahu Akbar: Wahai Dzat Yang Maha Besar! Ya Allah, Engkau adalah Yang Mempunyai Keagungan, Kebesaran, dan Kemuliaan yang tidak dapat dipahami oleh akal”[181], begitu simpul Nursi.

Selanjutnya, jika mengikuti filsuf Muslim[182] yang menggagas konsep ontologis bahwa Allah sebagai Wujud Niscaya yang menjadi sumber semua eksistensi semesta, Nursi juga menguraikan konsep tersebut. Mendekati argumentasi ontologis yang bercorak demikian, Nursi menganggap segala hal yang berasal dari Dzat Ilahi, tidak perlu diciptakan dari ketiadaan absolut.[183] Melainkan, penciptaan berarti memberikan eksistensi material eksternal kepada hal-hal yang telah ada dalam khasanah ilmu Allah. Hal ini seperti mengembangkan sebuah bentuk yang direfleksikan pada cermin atau menguraikan makna dalam pikiran dengan kata-kata.[184]

Dengan kata lain, proses penciptaan tersebut merupakan transformasi dari entitas dalam bentuknya yang abstrak menjadi entitas yang mempunyai bentuk lahiri. Hal itu tak ubahnya bagaikan pemindahan gambar yang terdapat pada cermin kepada sebuah lembaran foto untuk menegaskan wujud lahiriahnya secara sangat mudah. Atau seperti penampakan garis yang tadinya tertulis dengan tinta samar lewat bahan yang bisa menampakkan tulisan tersebut.[185]

Dalam konteks ini, pendekatan yang dipakai oleh Nursi jelas-jelas sangat filosofis, sebab ia menggagas konsep Tuhan sebagai Wajibul Wujud yang menciptakan semesta ciptaan-Nya tanpa dari ketiadaan absolut. Kendati wawasan yang digulirkan Nursi mengenai dalil ontologis mendekati argumentasi ontologis yang dibangun Ibnu Sina sembilan abad silam, ontologis Nursi tidak bersifat emanatif hirarkis seperti yang digagas Ibnu Sina.[186] Nursi hanya menguraikan bagaimana proses penciptaan tersebut secara ilustratif bagaikan memendarkan cahaya matahari pada segala yang bisa terjamah sinarnya dan suatu waktu cahaya tersebut harus kembali kepada matahari itu sendiri.

Di lain tempat, Nursi memberikan ilustrasi bahwa proses penciptaan itu bagaikan gambar bayangan pada cermin yang menempel di kertas alat pemotret sehingga menjadi gambar yang konkret. Demikian pula dengan bentuk dan substansi semua entitas yang terdapat pada cermin pengetahuan Tuhan Yang Maha Esa. Kekuasaan Ilahi yang bersifat mutlak memberikan bentuk konkret padanya secara sangat mudah sehingga semua entitas tadi dapat terlihat oleh mata setelah sebelumnya berada di alam gaib.[187]

  1. Eksistensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi Teleologis

Keteraturan, dalam arti adanya rancangan dan pola dalam alam semesta menunjukkan adanya seseorang atau sesuatu yang mengatur. Alam semesta sebagai suatu keseluruhan mempunyai suatu tujuan yang merupakan perjuangan alam semesta.[188] Semesta yang teleologis yaitu alam yang diatur menurut suatu tujuan tertentu. Bagian-bagian dari alam mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang lainnya dan bekerja sama dalam menuju tercapainya suatu tujuan tersebut.[189] Semua itu menunjukkan bahwa Allah sebagai sumber keteraturan, serta sebagai pencipta dan pemelihara tujuan tersebut.[190]

Sebagaimana prinsip yang sangat ditekankan dan seringkali diulang dalam Risalahnya, begitu pula saat menjelaskan keteraturan, saling kerja sama, dan tujuan alam semesta, Nursi selalu mengaitkannya dengan Asma-asma-Nya. Dalil teleologis yang dibangun Nursi selalu bermuara pada nama, sifat, atau tindakan Tuhan Yang Maha esa.  Secara detilnya, ada beberapa poin mengenai hal ini.

  1. Saling kerja sama di antara makhluk merefleksikan Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.[191] Menurut Nursi, alam raya ini laksana istana yang megah, pabrik yang tertata rapi, dan kota yang terencana dengan baik. Di antara elemen-elemen dan bagian-bagiannya ada kerja sama dan gotong royong yang saling menguntungkan demi tujuan mulia. Jika diamati akan terlihat bahwa beberapa bagian membantu bagian-bagian yang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Bagaimana matahari dan bulan , siang dan malam, musim panas dan musim dingin, membantu tanaman untuk mendorongnya membantu hewan dan mempersembahkan makanan kepada hewan yang dia ambil dari khasanah kekayaan Yang Maha Pengasih.

            Hewan bersegera membantu manusia. Lebah madu dan ulat sutera mengambil madu dan sutera dari khasanah Dzat Yang Maha Pengasih dan membawanya kepada manusia. Partikel-partikel bumi, udara, dan air membantu buah-buahan dan sayuran mempunyai rasa dan kandungan gizi tersendiri. Kemudian, sayuran dan buah-buahan membantu sel tubuh manusia dalam keteraturan sempurna dan demi tujuan mulia. Dengan demikian, semua itu merupakan bukti nyata dan argumen yang jelas bahwa mereka semua adalah abdi Pemberi Hidup Yang Maha Sempurna yang bekerja atas perintah dan izin   Kuasa dan Kebijaksanaan-Nya.[192]

  1. Alam semesta selain memiliki tujuan juga memiliki manfaat sesuai dengan karakter uniknya masing-masing yang mencerminkan adanya Pencipta Yang Maha Bijaksana.[193] Angin, selain memiliki manfaat dan fungsi hebat dan bijaksana, berhembus untuk menjalankan tugas-tugas vitalnya. Musim semi, aliran air, dan sungai tidak muncul dari dalam tanah dan pegunungan secara kebetulan. Bebatuan, perhiasan, dan mineral memiliki tujuan dan manfaat khusus dan diatur untuk memenuhi kebutuhan manusia dan binatang. Burung-burung berkicauan dengan menakjubkan untuk menyampaikan perasaan mereka dan mengungkapkan maksud mereka kepada burung-burung lain.

            Begitu pula awan, air hujan, dan gemuruh petir, serta kilat, bukanlah tidak bermakna; terjadinya peristiwa-peristiwa atmosferik yang aneh ini menjadi penyebab jatuhnya hujan dan memberi makan semua makhluk hidup di bumi yang sangat membutuhkan mereka. Bagi Nursi, semua fenomena tersebut memperlihatkan bahwa Penguasa Yang Maha Bijaksana telah menguasai, menyimpan, dan menyebabkan mereka muncul keluar karena ketaatan kepada perintah-perintah-Nya. Ini menunjukkan bahwa angin, bebatuan, mineral, hujan, dan burung-burung yang berkicau diarahkan oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana untuk fungsi dan tujuan mulia.

  1. Masih bermuara pada Asma Tuhan Yang Maha Bijaksana, menurut Nursi ada kebijaksanaan universal  dalam setiap ciptaan-Nya.[194] Kebijaksanaan tampak di seluruh alam semesta baik alam semesta secara keseluruhan maupun dalam bagian-bagiannya. Kebijaksanaan ini, yang termasuk tujuan, kesadaran, kehendak dan kecondongan, menunjukkan  keniscayaan eksistensi dari Yang Maha Bijaksana, karena tidak mungkin bagi sebuah tindakan terjadi tanpa adanya pelaku dan sesuatu dilakukan atau bagian dari sesuatu itu tidak dapat menjadi pelakunya.

            Tatanan dan keteraturan di dalam ciptaan dan manajemen makhluk, yang direkrut setiap musim di bumi, menunjukkan manfaat dan kebijaksanaan universal (universal wisdom).[195] Karena suatu sifat selalu menunjukkan kualitas sesuatu, maka kebijaksanaan universal itu menunjukkan Dzat Yang Bijaksana.[196] Bila direnungkan secara cermat, semesta alam dengan segala aspeknya hatta bagian yang terkecil pun, bagi Nursi akan memperlihatkan kebijaksanaan universal yang secara jelas menunjukkan pada suatu tujuan dan kehendak dzat Yang Maha Bijaksana.

            Melalui paparan tersebut, argumentasi teleologis yang dibangun oleh Nursi sebetulnya tidak ada yang begitu baru dan tidak begitu berbeda dengan teleologis yang dirancang oleh filsuf Muslim, Ibn Rusyd[197], teolog Inggris, William Paley[198], atau W.R. Matthews. Hanya saja Nursi menyusun dalil teleologisnya dengan gaya bahasa yang baru, penuh ilustrasi, dan dan dikaitkannya secara afirmatif dengan atribut-atribut ketuhanan, seperti Yang Maha Kuasa, Maha Pengatur, Maha Pemurah, Maha Bijaksana dan sebagainya.

  1. Eksistensi Tuhan dalam Bingkai Argumentasi Intuitif

Pendekatan-pendekatan atau argumentasi akliah mengenai eksistensi Tuhan, kendati cukup logis dan mampu memuaskan rasio orang-orang yang berakal,[199] kaum beriman biasanya masih berusaha melengkapinya dengan dalil intuitif atau secara qolbiah atau disebut juga pengalaman relijius. Argumen intuitif berpijak pada hati nurani atau keyakinan batin bahwa Tuhan ada sering didasarkan pada perasaan bahwa kaum beriman sudah memiliki sejumlah pengalaman langsung akan eksistensi Tuhan. Artikulasi verbalistik singkat mengenai argumentasi tersebut didemonstrasikan fisikawan Russel Stannar ketika ia mengekui bahwa ia mengetahui Tuhan ada karena secara intuitif ia merasakannya.[200]

Dalam wacana sufistik, untuk membuktikan dan mengenal eksistensi Tuhan tersebut dikembangkan metode-metode spesifik berupa tahapan-tahapan (maqamat), seperti taubat, sabar, zuhud, hingga diakhiri pada mahabbah.[201] Meskipun Nursi mengakui bahwa untuk membuktikan eksistensi Tuhan di samping menggunakan argumentasi rasional juga memakai pendekatan spiritual (riyadhoh),[202] secara intrinsik, bagi Nursi, hati nurani sudah merefleksikan eksistensi Tuhan dengan sendirinya. Mengenai argumentasi intuitif, eksposisi Nursi dapat diuraikan dengan beberapa poin berikut.

  1. Hati mengikrarkan dan membuktikan eksistensi Tuhan secara hakiki.[203] Menurut Nursi, salah satu jendela yang mengantarkan menusia berhubungan dengan dunia gaib adalah hati. Hati nurani mempunyai karakteristik unik atau pembawaan alami yang tidak bisa berdusta. Setiap kalbu manusia mempunyai kesadaran terdalam mengenai keesaan Tuhannya dan senantiasa menghadap kepada-Nya. Bagi Nursi, bahkan jika nalar lalai untuk bekerja dengan benar dan karenanya juga lalai untuk melihat kebenaran, hati nurani tidak pernah melupakan Sang Pencipta.

      Bahkan jika ego manusia menentang-Nya, hati nurani melihat-Nya, memikirkan-Nya, dan menghadapkan diri kepada-Nya. Persepsi intuisi selalu membangkitkannya dan inspirasi mencahayainya. Hal ini karena kecintaan kepada Allah selalu mendorong nurani ke arah pengetahuan tentang-Nya. Cinta ini yang merupakan perasaan yang selalu merindukan Dia tidak bisa dipisahkan dari hati nurani. Keterpikatan (kepada-Nya) yang mendarah daging pada hati nurani manusia ini dikarenakan keberadaan Allah yang benar-benar memikat. Pada titik ini hati nurani menjadi bukti yang disematkan ke dalam jiwa setiap orang yang menyatakan keesaan Tuhan.

  1. Selanjutnya pendakuan eksistensi ketunggalan Tuhan merupakan implikasi keimanan yang bersemayam dalam hati manusia.[204] Menurut Nursi, ada konsekuensi positif dari pengakuan iman terhadap keesaan Tuhan, sebagaimana ada konsekuensi negatif terhadap pengingkaran (kekafiran) akan keesaan-Nya. Manusia mencapai derajat kesempurnaan tertinggi dan layak atas surga melalui cahaya iman. Hal itu karena iman mengikat manusia dengan Pencipta Yang Maha Agung dan mengikatnya dengan kepercayaan yang kuat dan penisbatan (jalinan hubungan). Karenanya, dengan iman manusia memperoleh nilai tinggi lantaran ciptaan ilahiah bermanifestasi dalam dirinya, dan pahatan asma rabbaniah muncul di atas lembaran wujudnya.[205]

Sebaliknya, pengingkaran atau kekafiran akan eksistensi Tuhan merendahkan manusia menuju derajat terendah sehingga pantas menghuni neraka. Sebab kekafiran memutuskan nisbat dan hubungan kepada Sang Pencipta. Gelapnya kekafiaran menyebabkan seluruh makna pahatan Asmaul Husna ilahiah yang penuh hikmah tidak bisa termanifestasi, dicermati, dan dibaca orang lain.[206] Jadi keimanan, melalui penisbatan substantif kepada Tuhan, menuntut pengakuan mengenai ketunggalan Allah (tauhid), tauhid membawa pada kepasrahan, kepasrahan kepada tawakkal kepada Allah, dan akhirnya tawakkal akan menghasilkan kebahagiaan dunia dan akhirat.[207]

  1. Kalbu manusia yang mempunyai predisposisi begitu kuat untuk mencintai keabadian[208] dan kesempurnaan mutlak menunjukkan bahwa Yang Maha Kekal hanya Tuhan Yang Esa dan Kesempurnaan Mutlak pun hanya milik-Nya semata.[209] Menurut Nursi, ada hasrat yang sangat bergelora dan begitu kuat dalam setiap lubuk hati manusia untuk mencintai keabadian. Hasrat ini membuat banyak manusia berangan-angan agar semua yang mereka cintai bersifat abadi. Namun ketika mereka menyadari bahwa apa yang mereka cintai hanya bersifat sementara atau menyaksikan bahwa apa saja yang dicintainya musnah, mereka akan mengalami kepedihan yang sangat mendalam. Semua kepedihan dan kesedihan yang muncul akibat adanya perpisahan tersebut merupakan ungkapan rasa kecewa yang bersumber dari kecintaan terhadap keabadian.

            Seandainya manusia tidak mempunyai naluri akan keabadian, ia tidak akan kecewa dengan hilangnya sesuatu yang ia cintai. Dalam pandangan Nursi, kecintaan pada kekekalan itu merefleksikan eksistensi keesaan Tuhan yang selalu menjadi muara hasrat setiap manusia, kendati banyak manusia yang tidak menyadarinya atau keliru dalam melabuhkan hasratnya tersebut.[210] Karena segala keabadian lain bersifat relatif tidak mutlak, maka manusia sejatinya cuma mendambakan keabadian absolut yang tunggal yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

            Begitu pula menurut Nursi, setiap manusia mempunyai fitrah atau kecenderungan yang tak terhingga untuk mencintai kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan hakiki yang memang dengan sengaja Allah letakkan dalam diri manusia untuk mengenal-Nya. Sampai kapan pun naluri itu tidak akan terpuaskan kecuali bila manusia menambatkan hasratnya kepada Wajah Tuhan Yang Maha Esa semata. Tapi lagi-lagi banyak manusia yang memburu kesempurnaan semu yang dianggapnya sebagai kesempurnaan sejati.

            Dengan alasan ini, Nursi menyarankan agar manusia memperkuat dan mempertajam sensitivitas intuitifnya dengan mengorientasikan cinta terhadap Tuhan semata, mengosongkan kalbu dari cinta terhadap segala kesenangan duniawi yang temporal,[211] mengakui ketidak berdayaan dan kepapaan dirinya di hadapan-Nya, melanggengkan zikir atau selalu ingat kepada-Nya,[212] serta senantiasa istikomah dalam menunaikan kawajiban-kewajiban agama.[213]

BAB IV  

 

 

 

KONSEP MATERIALISME dan KRITIK SAID NURSI TERHADAPNYA  

 

 

  1. Doktrin-Doktrin Materialisme[214] Tentang Ketiadaan Tuhan di Semesta

            Di sini akan diuraikan terlebih dahulu sebagian doktrin-doktrin materialisme yang menjadi titik fokus kritik Nursi,[215] yaitu alam semesta tercipta oleh sebab atau hukum kausalitas, segala sesuatu terbentuk dengan sendirinya atau dari materi, dan segala sesuatu merupakan tuntutan alam. Ketiga gagasan di atas sebenarnya saling terkait satu sama lain. Ketiga doktrin tersebut pun menafikan Tuhan sebagai Penyebab Pertama atau Sang Pencipta alam semesta dan tidak mengakui adanya tujuan objektif atau makna dalam penciptaan alam semesta.

  1. Alam Tercipta oleh Sebab (Kausalitas, Mekanik).

            Pergeseran paradigma kausalitas Aristotelian ke paradigma Newtonian oleh Newton, David Hume, dan Jacques Loeb, menurut Holmes Rolston III,[216] merupakan awal mula proses sekularisasi ilmu pengetahuan. Jika dalam tradisi Aristotelian menguraikan penjelasan ilmiah meliputi empat sebab: efisien, material, formal, dan final, maka para ilmuwan modern dari tradisi Newtonian hanya membatasi kepada dua sebab saja: sebab material dan sebab efisien. Sebab formal dan sebab final ditolak karena menurut mereka lebih cenderung pada makna, padahal kajian ilmiah harus berkaitan dengan fakta.

            Namun ide penggunaan terbatas hanya pada kedua sebab tersebut telah diusung seabad sebelumnya oleh Francis Bacon. Dalam bukunya, Novum Organum, Bacon mengatakan bahwa observasi eksperimental atas penyebab efisien dan materiil merupakan cara untuk sampai pada pengetahuan sejati. Pada awal kemunculannya ini,sains modern hanya memfokuskan secara spesifik pada penyebab efisien dan materiil, yakni soal ”bagaimana” hal-hal beroperasi dan dari bahan apa saja hal-hal terbentuk. Sains modern enggan berpusing-pusing mengenai penyebab final atau soal ”mengapa” hal-hal tadi menjadi seperti itu.[217]

Sejak saat itu, kajian ilmiah mengenai alam semesta hanya berkutat dengan fakta dan meninggalkan dimensi makna, yang menurut mereka lebih berhubungan dengan kepercayaan atau agama.[218] Pada titik inilah, perbincangan mengenai alam semesta bercorak materialistik yang terangkum dalam paham materialisme mekanik. Materialisme mekanik menyatakan bahwa semua bentuk dapat diterangkan menurut hukum yang mengatur materi dan gerak. Materialisme ini berpendapat bahwa semua kejadian dan kondisi adalah akibat yang lazim dari kejadian-kejadian dan kondisi sebelumnya.

            Benda-benda organik atau bentuk-bentuk yang lebih tinggi dalam alam hanya merupakan bentuk yang lebih kompleks dari pada bentuk in-organik atau bentuk yang lebih rendah. Prinsip sains berlaku yakni cukup menerangkan segala yang terjadi atau yang ada. Semua proses alam, baik in-organik atau organik telah dipastikan dan dapat diramalkan jika segala fakta tentang kondisi sebelumnya dapat diketahui.[219]

            Pada abad dua puluh terdapat banyak ahli fisiologi, biologi, dan psikologi yang menggunakan penafsiran fisik dan mekanik dalam penjelasan-penjelasan mereka tentang makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia. Segala gerak, dari gerak bintang-bintang yang jauh sampai kepada pikiran manusia (pikiran dianggap mereka sebagai gerak) dapat dijelaskan tanpa menggunakan prinsip-prinsip non-fisik. Menurut materialisme mekanik, akal dan aktivitas-aktivitasnya merupakan bentuk-bentuk behavior belaka.[220]

            Bagi seorang pengikut aliran materialisme mekanik, semua perubahan di dunia, baik perubahan yang menyangkut atom atau perubahan yang menyangkut manusia, semuanya bersifat kepastian semata-mata. Terdapat suatu rangkaian sebab-musabab yang sempurna dan tertutup. Rangkaian sebab-musabab ini hanya dapat dijelaskan dengan prinsip-prinsip sains semata-mata, dan tidak perlu memakai ide seperti ”maksud” (purpose). Bahkan materialisme mekanik mengklaim bahwa hukum-hukum alam dapat dituangkan dalam bentuk pasti matematika jika data-datanya telah terkumpul.[221]

            Implikasinya jelas bahwa kausalitas mekanik dengan sendirinya tidak hanya menafikan teleologis kosmis yang bersifat transendental, tetapi juga kehadiran Tuhan yang personal sebagai Pencipta dan Perancang Tunggal semesta menjadi tersingkirkan. Hukum kausalitas yang berdiri tersendiri dan terlepas dari Tuhan kiranya didukung oleh Paul Davies, seorang fisikawan dari abad ini. Menurut Davies, penciptaan dan kemunculan semesta yang berakhir pada hukum kausalitas, agaknya lebih bisa diterima ketimbang mengaitkannya dengan penyebab terakhir yang diidentifikasi sebagai Tuhan. Konsep tentang Tuhan begitu abstrak untuk dipaparkan sebagai penyebab utama bagi terciptanya jagad raya dengan segala perkakasnya.[222]

Fakta ini secara demonstratif disuarakan oleh astronom dan filosof Prancis terkenal, Pierre Simon de Laplace, dalam karyanya Celestial Mechanics.[223] Dalam karya tersebut Laplace menjelaskan sistem alam semesta berdasarkan hukum mekanika yang deterministik dan berhasil membuktikan stabilitas mekanis tata surya tanpa menyebut satu pun kata Tuhan.          Ketika ditanya oleh Kaisar Napoleon Bonaparte mengapa dia tidak menyinggung nama Tuhan dalam karyanya, dengan datar Laplace menjawab, ”I don’t need that kind of hypothesis” (saya tidak butuh hipotesis seperti itu). Dengan jawaban tersebut, sang pakar ingin menyatakan bahwa ia mampu menjelaskan tata kerja alam raya berdasarkan hukum-hukum alam tanpa melibatkan Tuhan. Dan untuk itu tidak perlu ada penafsiran bagi tempat pemeliharaan Tuhan.[224]

            Harus diakui bahwa materialisme mekanik memang mempunyai daya tarik yang sangat besar oleh karena kesederhanaannya. Dengan menerima pendekatan ini, seseorang telah dapat membebaskan diri dari problema-problema yang membingungkan selama berabad-abad. Apa yang riil (sungguh-sungguh ada) dalam manusia adalah badannya, dan ukuran kebenaran atau realitas adalah sentuhan penglihatan dan suara, yakni alat verifikasi eksperimental. Selain itu, paham ini menarik karena kebanyakan orang berhubungan dengan benda-benda material, dan suatu filsafat yang menganggap hanya benda-benda itulah yang riil tentu mempunyai daya tarik bagi banyak orang.[225]

  1. Segala Sesuatu Terbentuk Dengan Sendirinya (Materi / Faktor Kebetulan)

            Jika dalam penjelajahan terhadap alam semesta materialisme mekanik masih menggunakan dua prinsip penjelasan yaitu sebab material dan sebab efisien, dalam perkembangan selanjutnya pada masa sekarang satu-satunya sebab yang masih diperhatikan dalam uraian ilmiah sains modern adalah sebab efisien, yang dipandang sebagai sebab terjadinya gerak atau perubahan di alam semesta. Meskipun begitu, para ilmuwan modern menganggap sebab efisien dunia materiil berasal dari dirinya sendiri bukan dari luar, mereka menyebutnya sebagai imanen.[226]

            Fenomena ini diamini oleh salah seorang filosof aliran analitik, Bertrand Russell. Menurut Russell, dalam peristilahan modern kata sebab memang hanya dibatasi pada satu penyebab saja yakni sebab efisien. Padahal, dalam telaah Russell, sebab final menyediakan tujuan perubahan yang pada hakikatnya adalah suatu evolusi menuju kepada Tuhan.[227] Dengan demikian, lagi-lagi teleologis kosmis yang bercorak transenden dan penciptaan semesta yang bermuara kepada Tuhan kehilangan jejaknya.

            Selain itu, bahkan ketika para ilmuwan modern mempertahankan sebab efisien sebagai prinsip penjelasan ilmiah yang tidak bisa dilenyapkan, tetapi dengan pemahamannya yang diperbarui sebagai sebab imanen, pertanyaan siapa menciptakan alam, tetap tidak akan terjawab dengan baik secara ilmiah. Alasannya adalah karena menurut ajaran sebab imanen (immanent cause), sebab gerak alam tidak perlu dicari di luar dirinya, tetapi cukup di dalam dirinya sendiri (imanen).

            Dengan demikian, dapat dipahami ketika beberapa ilmuwan modern menganggap alam ini sebagai otonom, dan karena itu tidak memerlukan pencipta atau sebab di luar dirinya. Alam pun kemudian dikonsepsikan sebagai sesuatu yang dapat menciptakan dirinya sendiri (self originating/creating) tanpa campur tangan sebuah agen eksternal. Dengan demikian pada gilirannya, tidak ada tempat bagi peran Tuhan di bumi.[228]

            Dengan kata lain, tercipta dan munculnya alam semesta dengan segala komponennya bersifat acak atau kebetulan tanpa sistematika dan peraturan Sang Pencipta. Menurut fisikawan Steven Weinberg,[229] sulit membayangkan bagaimana seorang ilmuwan sejati yang menganggap serius sains dapat sampai pada kesimpulan lain selain dari bahwa ide Tuhan yang personal sekarang ini sama sekali tidak dapat dipercaya lagi. Sains tidak memberi petunjuk apa pun bahwa ada satu pribadi Ilahi yang mendasari alam semesta ini atau menaruh perhatian terhadapnya.

            Bagi Weinberg, yang merupakan wakil terkemuka dari kubu skeptisisme ilmiah, mengungkapkan pandangan ini dalam bukunya yang terbaru, Dreams of Final Theory. Menurut dia, semakin sains menukik semakin dalam ke hakikat segala  sesuatu, alam semesta ini tampaknya tidak memberi tanda-tanda bahwa dia merupakan jejak Tuhan yang ”menaruh perhatian padanya”. Sedikit demi sedikit sains menelanjangi dunia ini dari sakralitasnya. Sains menyelidiki satu fenomena ke fenomena lain dan yang ditemukannya di bawah permukaan sana hanyalah materi tak berbudi. Semakin dalam sains menggali, alam semesta itu tampak semakin impersonal.[230]

            Menurut John Haught, ide materialistik tersebut tetap berpijak pada paradigma Newtonian. Bila pada masa silam hukum-hukum alam yang dapat diramalkan memberi isyarat tentang adanya intelegensia Ilahi. Tetapi sejak zaman Newton ide tentang Tuhan terasa berlebih-lebihan dan kosmos ini pun semakin dapat menjelaskan dirinya sendiri.[231] Terlebih lagi, faktor kebetulan dalam penciptaan jagad raya menemukan momentumnya pada teori evolusi[232] yang digagas oleh Charles Darwin.

            Setahun setelah menerbitkan bukunya, The Origins, Darwin dengan tegas menyatakan bahwa segala sesuatu sebagai produk kebetulan belaka. Darwin menjadi seorang propagandis bagi ateis ilmiah sehingga para ilmuwan dan filosof, seperti Ernst Haeckel, Karl Marx, Friedrich Nietzsche, dan Sigmund Freud semuanya menemukan bahwa pemikiran Darwin cocok dengan ateis mereka.[233]

            Bukan hanya para ilmuwan dan para filosof  tersebut yang meyakini filsafat materialistik Darwinian, Bertrand Russell bahkan secara radikal meneriakan lebih jauh, ”Manusia merupakan produk sebab-sebab yang tidak mempunyai previsi, tentang akhir yang mereka capai. Asal usul dan pertumbuhannya, harapan dan ketakutannya, cinta dan keyakinannya, merupakan hasil kolokasi atom secara kebetulan”.[234] Gagasan alam bisa menjelaskan dan menciptakan dirinya sendiri, mengenyahkan keyakinan monoteistik.

            Senada dengan Russell, Daniel Dennett, yang dengan bangga menyebut dirinya seorang materialis, menulis dalam bukunya yang cukup terkenal, Consciousness Explained, sebagai berikut:

         ”…Hanya ada satu jenis benda, yakni materi—benda fisik dari ilmu fisika, ilmu kimia, dan fisiologi—dan kesadaran tidak lebih dari sebuah fenomena fisika. Pendeknya, kesadaran adalah otak. Menurut para materialis, kita dapat (pada dasarnya!) menerangkan setiap fenomena mental dengan memakai prinsip yang sama dengan fisika, hukum-hukum, dan materi-materi kasar yang cukup untuk menjelaskan radioaktivitas, pergeseran lempeng benua, fotosintesis, reproduksi, nutrisi, dan pertumbuhan”.[235]

Puncak keradikalan ini jatuh di tangan Jacques Monod, salah seorang pendukung filsafat materialisme, yang menyatakan dengan tegas bahwa pravelensi kebetulan menunjukkan bila alam semesta tidak mempunyai tujuan. Menurut Monod, manusia mengetahui bahwa ia sendirian di kemahaluasan alam semesta, yang darinya ia muncul hanya dari kebetulan. Kebetulan adalah sumber kebaruan semua ciptaan. Monod berpendapat bahwa semua fenomena dapat direduksi ke hukum fisika dan kimia, dan operasi kebetulan. Apa pun dapat direduksi menjadi interaksi materi yang sederhana dan jelas. Sel adalah mesin. Binatang adalah mesin. Manusia adalah mesin.[236] Semua paparan tersebut membawa dampak secara konkret bahwa segala hal yang bersifat trasenden tidak ada di semesta dan segala ide tentang Tuhan sebagai pendesain dan pencipta pun terhapuskan.

  1. Segala Sesuatu Merupakan Tuntutan Alam (Alamiah)

            Sejak Francis Bacon menjadikan dua prinsip utama berupa sebab materiil dan sebab efisien sebagai pijakan ilmiah yang disambut oleh Newton dan Darwin, hingga menyisakan satu prinsip sebab efisien atau sebab imanen, ternyata hal itu membawa implikasi berupa penjelasan lain yang oleh sebagian ilmuwan disebut dengan materialisme ilmiah, yakni semuanya merupakan tuntutan alam apa adanya atau bersifat ilmiah semata.[237] Para ilmuwan terkenal seperti Carl Sagan, Stephen Jay Gould, E.O. Wilson, Doderot, Hawking, merupakan sebagian sampel dari para penganut materialisme ilmiah.[238]

            Para pemikir materialisme ilmiah secara meyakinkan mengungkapkan bahwa fisika tidak membutuhkan sesuatu yang lain untuk menjelaskan dirinya sendiri selain prinsip-prinsip natural. Fisika dapat membangun landasan bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, bagi mereka, teologi karena tidak mempunyai peranan apa-apa lagi untuk dimainkan, lalu menjadi anak yatim intelektual. Tidaklah berlebihan kalu dikatakan bahwa teologi yang mengambil fisika dan bukan pengalaman religius sebagai landasannya, akhirnya justru membantu menyebarkan ateisme intelektual.[239]

            Hal ini diperkuat pula dengan lahirnya teori ledakan besar atau dentuman besar (Big Bang). Dengan melakukan ekstrapolasi ke masa lalu, menurut Barbour, para saintis menyimpulkan bahwa alam semesta mengembang dari satu titik sekitar lima belas miliar tahun silam, yang kemudian dikenal sebagai ledakan besar atau dentuman besar.[240] Pengembangan yang terlihat hari ini dapat dianggap sebagai bekas dari ledakan zaman purba itu.

            Kemudian pada tahun 1965, dua ilmuwan Robert Wilson dan Arno Penzias, menemukan suatu latar belakang radiasi gelombang mikrokosmik bersuhu rendah; hal ini paling baik ditafsirkan sebagai ”sisa-sisa bekas radiasi” dari sebuah dentuman besar pada awal mula yang panas. Radiasi ini merupakan tanda yang paling jelas untuk menenggarai bahwa peristiwa kosmik awal mula yang tunggal telah terjadi kira-kira lima belas miliar tahun silam. Sekarang, semakin sulit rasanya untuk meragukan bahwa alam semesta ini dimulai dengan sesuatu semacam dentuman besar.[241]

            Tentu saja ada sebagian teolog dan ilmuwan yang memaknai teori dentuman besar senafas dengan pandangan agama. Sebut saja, Paus Pius XII yang mengatakan bahwa teori dentuman besar mendukung gagasan biblikal tentang penciptaan.[242] Begitu pula astrofisikawan Robert Jastrow melihat implikasi-implikasi teologis dari kosmologis dentuman besar. Jastrow menyatakan dalam bukunya yang populer, God and the Astronomers, bahwa teori dentuman besar tampaknya mendukung ajaran penciptaan biblikal.

            Menurut dia, banyak astronom condong berpendapat bahwa alam semesta itu abadi. Maka, tidak dibutuhkan lagi pencipta yang memulai seluruh proses ini. Jadi, bagi kaum skeptik ilmiah, teori dentuman besar tampak sebagai suatu kejutan yang sangat tidak menyenangkan. Jastrow berpikir bahwa para teolog merasa senang karena kini sains membuktikan bahwa alam semesta itu berawal mula, sementara para astronom agnostik justru merasa sangat terganggu. Jastrow menyimpulkan argumennya dengan sebuah klimaks yang bernada parodi:

   ”Pada saat ini (sebagai hasil dari kosmologi dentuman besar) tampaknya sains itu seakan-akan tidak mampu menyingkap tabir misteri penciptaan. Bagi ilmuwan yang sangat yakin akan daya kekuatan akal budi, kisah itu pun berakhir laksana mimpi buruk. Dia telah mendaki gunung-gunung ketidaktahuan; dia sudah mau menaklukkan puncaknya yang tertinggi; tatkala dia memanjat ke atas untuk melewati karang terakhir, dia pun disalami serombongan teolog yang telah duduk menunggu di sana selama berabad-abad”.[243]

Walaupun demikian, banyak para ilmuwan ateis yang menafsirkan teori tersebut sebagai penjelasan paling ilmiah bahwa kemunculan alam semesta merupakan tuntutan alamiah semata. Menurut Paul Davies, skenario dentuman besar hanya menunjang keserupaan paling superfisial bagi Kitab Kejadian dan kemungkinan terbaik tetap menuntut suatu permulaan yang tiba-tiba, ketimbang permulaan gradual, atau bahkan sama sekali tidak ada permulaan.[244]

            Sementara itu, ilmuwan Douglas Lackey menguraikan teori dentuman besar secara materialistik yang menjadi tuntutan alam an sich dengan bantuan teori fisika kuantum.[245] Menurut Lackey, fisika kuantum menjelaskan bahwa kehadiran alam semesta berasal dari kevakuman dan spontanitas yang bercorak ilmiah. Demikian pula Stephen Hawking, seorang ahli astrofisika kenamaan, yang memandang alam semesta sebagai keberadaan ilmiah tanpa Sang Pencipta. Dalam perspektif Hawking, jagad raya tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai batas akhir, namun hadir secara alamiah begitu saja tanpa pencipta.[246]

            Hal ini pada gilirannya membawa konsekuensi lebih jauh bagi para pendukung materialisme ilmiah bahwa alam semesta tidak mempunyai tujuan objektif atau universal yang dirancang oleh sang Pencipta. Steven Weinberg, salah seorang ilmuwan penyokong prinsip ini, memandang persada raya ini bercorak ilmiah tanpa tujuan dan makna sedikit pun. Kendati demikian, paradoksnya bagi Weinberg, kegiatan ilmiah justru merupakan satu-satunya sumber pelipur lara  dalam belantara persada yang tak bermakna ini. Ia melukiskan prinsip paradoksalnya demikian:

   ”Semakin alam semesta itu tampak dapat dipahami, semakin tampak tak bermakna. Namun, toh jika tidak ada pelipur lara dalam hasil riset, setidak-tidaknya ia ada dalam riset itu sendiri……Upaya untuk memahami alam semsta merupakan slah satu dari sedikit hal yang mengangkat kehidupan kemanusiaan di atas tingkat sandiwara, dan memberinya sentuhan tragedi yang megah”.[247]

Pada titik ini, menurut Jonh Haught, sebenarnya para ilmuwan materialisme ilmiah menuangkan ide-ide mereka dalam selubung busana saintisme yakni suatu kepercayaan filosofis, tegasnya kepercayaan epistemologis bahwa ilmu pengetahuan merupakan satu-satunya tuntutan terpercaya kepada kebenaran.[248] Bagi Haught, klaim Weinberg bahwa tak ada Tuhan yang personal dalam semesta dan impersonalitas semesta yang bersifat alamiah semata, jelas merupakan sebentuk saintisme, tanpa pembuktian ilmiah. Sebab ia tidak mampu menjelajahi sesuatu yang ada kaitanya dengan kepribadian atau nuansa-nuansa personalitas.[249] Terlepas dari sanggahan yang digulirkan oleh Haught, ternyata memang banyak ilmuwan dan fisikawan yang tetap menolak Tuhan yang personal sebagai pencipta dan perancang tujuannya. Mereka hanya melihat keberadaan jagad raya dengan segala fenomenanya tidak lain dari pada tuntutan alam semata yang bersifat ilmiah dan impersonalitas.

  1. Kritik Said Nursi Terhadap Materialisme

            Said Nursi menuangkan kritiknya terhadap materialisme melalui dua kerangka filosofis yaitu argumentasi kosmologis dan teleologis. Argumen kosmologis ia tujukan kepada dua doktrin materialisme yang mengatakan bahwa segala sesuatu terbentuk dengan sendirinya dan segala sesuatu merupakan tuntutan alam. Sementara argumen teleologis ia alamatkan kepada dua doktrin materialisme yaitu alam semesta tercipta oleh sebab (kausalitas) dan segala sesuatu terbentuk dengan sendirinya.

  1. Kritik Melalui Dalil Kosmologis

Nursi hanya mengajukan sebuah sanggahan kosmologis terhadap doktrin materialisme mengenai segala sesuatu terbentuk dengan sendirinya. Menurut Nursi, semua ciptaan di semesta jagad raya harus diatributkan kepada Dzat Yang Maha Esa. Jika penciptaan alam semesta atau manusia tercipta dengan sendirinya dari materi atau secara kebetulan, maka pasti dibutuhkan cetakan alam sebanyak konstruksi dalam alam semesta dan tubuh manusia itu sendiri, dari yang terkecil hingga yang terbesar.[250]

Nursi memberi ilustrasi tentang buku. Sebuah buku jika ditulis dengan sebuah tangan, maka untuk menuliskannya cukup diperlukan satu pena saja yang digerakkan oleh pengetahuan penulisnya untuk dituliskan sekehendaknya. Tetapi jika buku tersebut tidak ditulis dengan sebuah tangan dan  bukan hasil kreasi pena si penulis melainkan terbentuk dengan sendirinya, hal itu meniscayakan setiap hurup memiliki pena tersendiri. Jumlah pena yang ada harus sama dengan jumlah hurup tersebut. Dengan kata lain, harus ada pena sebanyak hurupnya sebagai ganti dari sebuah pena yang dipakai untuk menyalinnya. ”Bagaimana mungkin mereka (kaum materialis) dapat mengatakan bahwa buku alam semesta ini, yang di dalam tiap hurupnya dilukiskan  sebuah buku, tidak mempunyai pengarang padahal mereka mengetahui bahwa satu hurup mengharuskan ada pengarangnya?, demikian tanya Nursi.[251]

Dari sini, bagi Nursi, sangat transparan kelemahan dan cacat argumentasi doktrin materialisme yang mengklaim bahwa segala sesuatu terbentuk dengan sendirinya secara kebetulan atau berasal dari materi itu sendiri. Di lain sisi, Nursi juga membuat perbandingan secara ekstrem dengan sosok manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak bebas, mempunyai keinginan, berakal, dan paling mulia ternyata segala perbuatannya tidak mutlak ditentukan oleh dirinya sendiri, melainkan ada faktor-faktor eksternal.[252]

Dalam pandangan Nursi, di antara perbuatan manusia yang paling tampak jelas bersal dari kemaunnya (kehendak bebasnya) adalah makan dan berbicara atau berpikir. Namun, bagi Nursi, sangat diragukan apakah manusia mempunyai peran meski hanya satu persen dalam tindakan-tindakannya, seperti makan dan berbicara yang dilakukan dengan kehendak bebasnya. Hal ini disebabkan makan dan berbicara terkait dengan mata rantai peristiwa yang tertata rapih dan hanya sedikit yang langsung berhubungan dengan keinginan manusia.

Misalnya, di luar semua proses yang berkenaan dengan makan dan fungsinya sebagai nutrisi di dalam sel, maka hanya mengunyah makananlah yang tergantung pada kemauan. Rasa lapar, haus, dan selera makan adalah bersifat eksternal bagi kemauan, sebagaimana kerja independen tubuh. Dalam hal berbicara, kemauan dibatasi oleh hirupan dan hembusan udara yang diperlukan oleh organ-organ suara untuk menghasilkan bunyi. Sebuah kata ibaratnya sebutir benih di dalam mulut, menjadi sebuah pohon ketika diucapkan, menghasilkan jutaan buah yang mencerminkan satu kata tersebut dan memasuki jutaan telinga.[253]

Melalui komparasi argumentatif di atas, Nursi mengajukan sebuah pertanyaan retorik: ”Apabila manusia sebagai ciptaan yang paling cakap dan paling mulia, yang diperlengkapi dengan kesadaran dan kehendak bebasnya, terbatas sampai derajat itu dalam tindakan-tindakannya padahal manusia adalah makhluk paling bebas, maka andil apa yang dapat dilakukan oleh benda tak bernyawa dalam penciptaan dan cara kerja alam semesta?”[254] Lebih jauh, jika makrokosmos yang tidak memiliki perasaan, kesadaran, dan akal pikiran saja tidak mungkin diciptakan dengan sendirinya atau tercipta melalui materi  yang tidak bernyawa, lalu bagaimana materi yang tidak bernyawa itu dapat menciptakan kehidupan, kesadaran, kemampuan berbicara, berlogika dan berpikir yang menakjubkan serta mempelajari organisme seorang pria dan wanita?[255] Dengan demikian, semua jenis penciptaan baik itu makrokosmos yang tidak bernyawa maupun mikrokosmos yang memiliki kehidupan dan kesadaran, merupakan karya Dzat Yang Maha Esa dan Maha Kuasa atas segalanya.

Selanjutnya kritik Nursi yang bercorak kosmologis diajukan pula kepada doktrin materialisme yang mengungkapkan bahwa segala sesuatu merupakan tuntutan alam atau bersifat alamiah. Terhadap gagasan meterialisme tersebut, Nursi mengajukan tiga sanggahan filosofis dalam bingkai argumentasi kosmologis. Pertama, penciptaan seluruh entitas dan makhluk hidup harus dinisbatkan secara langsung kepada manifestasi Asma Allah sebagai cahaya yang menyinari langit dan bumi. Menurut Nursi, seandainya penciptaan seluruh entitas dinisbatkan kepada alam yang tuli, buta, dan bodoh, berarti untuk proses penciptaan itu alam harus menghadirkan berbagai cetakan dengan jumlah tak terbatas dalam segala sesuatu, bahkan harus meyakini adanya Tuhan pada segala sesuatu.

Hal ini disebabkan penciptaan  seluruh entitas, terutama makhluk hidup, dilandasi pengetahuan dan kebijaksanaan serta kekuasaan dan kehendak mutlak. Dalam poin ini, Nursi menyuguhkan metafora matahari. Tampilan matahari dan pantulan sinarnya, serta kilau cahayanya yang tampak pada butiran air yang bersinar, atau di atas potongan kaca yang bertebaran di permukaan bumi, akan membuat seseorang beranggapan bahwa ia merupakan bentuk representasi dari matahari. Jika pantulan dan cahaya tersebut tidak dinisbatkan kepada matahari yang sebenarnya, berarti harus meyakini adanya matahari alamiah yang kecil yang memiliki sifat-sifat matahari dan benar-benar ada di dalam potongan kaca tadi. Dengan kata lain, harus diyakini adanya jumlah matahari sebanyak serpihan potongan kaca tersebut.[256] Ilustrasi ini membawa pada sebuah konklusi awal bahwa proses penciptaan segala sesuatu sebagai tuntutan alam merupakan gagasan yang menyimpang dan kemustahilan yang paling tidak bisa diterima nalar yang sehat.

Kedua, jika segala sesuatu dinisbahkan kepada tuntutan alam semata, akan mengasumsikan bahwa setiap atom harus mempunyai kesadaran dan kekuasaan mutlak atas segalanya. Fakta demikian ini karena setiap kejadian yang terjadi di alam semesta ini terkait dengan setiap partikel dan juga dengan alam itu sendiri. Karenanya, hanya sesuatu yang memiliki pengetahuan yang sempurna tentang setiap partikel dan  yang mempunyai kekuasaan absolut yang dapat menciptakan alam raya. Jika tidak demikian, setiap atom harus mempunyai mata yang dapat melihat seluruh alam secara simultan; mengetahui posisi, massa, muatan listrik, atau singkatnya semua fitur fisik dari setiap partikel di alam ini; dan menyadari serta mentaati semua hukum-hukum fisik yang ada begitu saja.[257]

Bagi Nursi, jika eksistensi dan tata kerja alam ini tidak dihubungkan dengan Tuhan Yang Maha Besar, maka harus mengakui bahwa setiap partikel mempunyai ciri-ciri Dzat Yang Harus Ada, dan bahwa setiap partikel seharusnya mendominasi dan didominasi oleh partikel-partikel lain. Begitu pula, setiap partikel seharusnya mempunyai keinginan dan pengetahuan yang menyeluruh, karena eksistensi sesuatu tergantung kepada segala sesuatu, dan manusia yang tidak mempunyai alam ini tidak bisa mengatur sebuah partikel pun.[258]

Di sini terlihat kerumitan yang tak masuk akal bila penciptaan makhluk disandarkan kepada tuntutan alam an sich. Karena itu, semua entitas harus dihubungkan kepada Dzat Wajibul Wujud semata. Nursi menulis:

”Seluruh wujud yang tampak di alam semesta hanyalah ciptaan Sang Pencipta, bukan Pencipta. Ia hanyalah ukiran, bukan Pengukir. Ia hanyalah kumpulan hukum, bukan si Pembuat Hukum. Ia hanyalah syariat fitriah, bukan si Pembuat syariat. Ia hanyalah tirai yang tercipta, bukan si Pencipta. Ia hanyalah objek, bukan Pelaku. Ia hanyalah kumpulan aturan, bukan Zat Yang Berkuasa. Serta ia hanyalah goresan, bukan sumber”.[259]

Ketiga, kemustahilan bahwa segala sesuatu merupakan tuntutan alam, menurut Nursi adalah setiap makhluk memiliki karakter uniknya tersendiri yang menjadi  identitas untuk membedakan dirinya dengan yang lain.[260] Setiap entitas agar bisa memenuhi makna keberadaannya, maka ia harus mempunyai identitas unik yang membuatnya tidak serupa dengan yang lainnya. Fakta ini secara demonstratif terwakili pada wajah manusia. Meskipun asal-mula umum mereka—sperma dan sel telur, terbentuk dari makanan yang sama yang dikonsumsi orang tua—dan wujud mereka tersusun dari struktur atau elemen atau organisme yang sama, setiap manusia memiliki wajah atau penampilan yang berbeda.[261]

Menurut Fethullah Gulen, salah seorang cendekiawan besar Turki dari abad ini, ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan persoalan tersebut. Hal ini tidak dapat dijelaskan dengan DNA atau kromosom, karena perbedaan ini ada semenjak manusia pertama di dunia. Selain itu, perbedaan ini tidak hanya pada wajah atau penampilan; semua manusia unik dalam karakter, keinginan, ambisi, dan kemampuan serta yang lainnya. Hal ini menunjukkan eksistensi suatu pilihan bebas yang mutlak dan maha mengetahui: Tuhan.[262]

Tuhan tersebut adalah jelas Tuhan Yang Maha Esa dengan pengetahuan yang komprehensif yang mengetahui keunikan wajah manusia sejak umat manusia yang pertama yang bernama Adam hingga akhir zaman kelak.[263] Mafhum mukhalafahnya, apabila ada pencipta lebih dari satu, pasti ada banyak orang yang mempunyai wajah, keinginan, kesukaan, karakter, dan kemampuan yang persis satu sama lainnya.[264] Dengan demikian, implikasinya lebih jauh, keunikan karakter setiap spesies dan umat manusia tidak mungkin merupakan hasil karya tuntutan alam (yang alamiah) yang buta, mati, dan tidak memiliki kesadaran sedikit pun.

  1. Kritik Melalui Dalil Teleologis

  Nursi membingkai kritiknya secara teleologis terhadap doktrin materialisme yang menyatakan bahwa sebab atau hukum kausalitas yang menciptakan alam semesta. Menurut Nursi, ada tiga keberatan atau kemustahilan bila hukum sebab akibat yang menyebabkan terciptanya segala sesuatu. Pertama, mustahil segala sesuatu tercipta dengan takaran yang berbeda-beda namun sesuai dengan ukurannya masing-masing melalui sebab semata. Nursi membuat ilustrasi tentang sebuah apotek yang tersedia berbagai macam obat untuk berbagai penyakit.

Setiap obat, puyer misalnya, tersusun dari bahan berbeda sesuai dengan komposisi yang telah ditentukan dan sesuai dengan khasiatnya. Seandainya ukurannya keliru, dalam arti ada kelebihan atau kekurangan, tentu khasiatnya akan hilang. Demikian pula, bahwa setiap makhluk hidup merupakan komposisi yang hidup dan memiliki ruh. Setiap tumbuhan tersusun dari unsur-unsur berbeda dan dari bahan-bahan beraneka macam sesuai dengan ukurannya yang sangat akurat.

Dari sini, menurut Nursi, menyandarkan penciptaan makhluk yang sangat indah kepada hukum sebab akibat adalah batil, mustahil, dan tidak logis. Ia sama tidak logisnya dengan racikan obat yang terbentuk sendiri lewat mengalirnya bahan-bahan kimia dari dalam botol. Karenanya, bahan-bahan yang terbentuk dengan ukuran ketentuan dan kekuasaan Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui yang terdapat di alam, yang merupakan apotek besar dan mengagumkan ini tidak mungkin ada kecuali lewat kebijaksanaan dan pengetahuan yang tak terkira, serta lewat kehendak-Nya yang mencakup segala sesuatu.[265]

Kedua, mustahil segala sesuatu saling berhubungan dengan sebagian besar unsur alam bila tercipta dari sebab belaka. Segala sesuatu di alam semesta, dan alam semesta secara keseluruhan, menampilkan keteraturan dan harmoni yang luar biasa. Ini terlihat dalam setiap benda dan dalam hubungan-hubungannya yang harmonis. Ini benar hingga pada tingkat di mana satu bagian eksistensi memerlukan seluruh eksistensi lainnya, sebagaimana seluruh eksistensi memerlukan bagian-bagian dari eksistensi. Satu sel yang rusak dapat menyebabkan seluruh tubuh lumpuh. Demikian juga satu buah delima agar hidup berkembang, maka harus ada kerja sama dan kolaborasi yang saling menguntungkan di antara  eksistensi udara, air, tanah, dan cahaya matahari.[266]

Apa pun yang menyebabkan biji bunga eksis harus bertanggungjawab pada bunga itu sendiri dan atas sebab-sebab nyata dari eksistensinya: udara, air, sinar matahari, dan tanah. Karena adanya saling ketergantungan mereka, apa pun yang menyebabkan bunga ada harus bertanggungjawab atas sebuah pohon. Dan karena saling keterkaitannya, apa pun yang menyebabkan sebuah pohon eksis harus bertanggungjawab atas sebuah hutan, demikian seterusnya. Saling keterkaitan tersebut berarti bahwa semua hal di alam ini, tidak memandang jarak yang memisahkan mereka, saling bantu membantu.

Sebagai contoh, udara, air, api, tanah, matahari, langit, dan yang lain-lainnya membantu manusia dengan cara yang sudah diatur sebelumnya yang luar biasa hebatnya. Hal seperti ini juga berlaku bagi sel, anggota badan, dan sistem tubuh individu, yang kesemuanya bekerja sama untuk menjaga individu tersebut tetap hidup.[267] Tanah, udara, air, panas, dan bakteri di dalam tanah bekerja sama menjaga tanaman agar tetap hidup. Kerja sama dan bantuan timbal balik ini dapat ditemukan di antara makhluk-makhluk yang tidak mempunyai kesadaran tetapi menunjukkan pengetahuan dan tujuan sadar. Kerja sama dan bantuan timbal balik ini tentu saja tidak dapat dilakukan oleh sebab-sebab (kausa) yang tidak hidup, buta, dan tidak berilmu.[268]

Bagaikan komponen-komponen sebuah pabrik atau batu bata pembangun sebuah istana, semua makhluk saling mendukung, membantu, dan bekerja sama dengan tatanan sempurna untuk saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Bagi Nursi, dalam hal ini mereka mengikuti dan mematuhi Sang Pengatur Yang Maha Bijaksana untuk menuju satu tujuan. Dengan mematuhi aturan kerja sama, yang diterapkan di seluruh alam semesta, mereka menunjukkan kepada orang-orang yang berpikir bahwa mereka bertindak melalui kekuasaan Sang Pemelihara Yang Maha Pemurah atas perintah Pengatur Yang Maha Bijaksana.

  Saling mendukung dan membantu, saling memenuhi kebutuhan, kerja sama yang erat, kepatuhan, kepasrahan, dan tatanan semacam itu membuktikan bahwa semua makhluk diatur melalui organisasi Pengatur tunggal dan diarahkan oleh Pemelihara tunggal.[269] Dalam filosofi Nursi sendiri, mungkinkah burung bul-bul berpakaian sendiri dengan tubuh yang dihias dengan menawan? Mungkinkah bumi bisa dengan sendirinya menenun bajunya yang dipenuhi banyak hiasan yang begitu indah?[270]

Ketiga, adanya kesatuan tujuan yang sangat teratur dan harmonis, tentu berasal dari satu tangan milik Allah Yang Maha Esa, Kuasa, dan Bijaksana, bukan dari sebab an sich. Bagi Nursi, pengaruh sebab-sebab alamiah terjadi lewat adanya kontak dan sentuhan dalam bentuk lahiriah alam, padahal aspek batiniahnya yang tak tersentuh oleh sebab materi dan tak bisa disentuh oleh apa pun jauh lebih teratur dan lebih harmonis.[271]

Selain itu, keselarasan, keteraturan, dan kerapian yang indah dari alam raya ini membutuhkan pengetahuan, keinginan, dan kekuasaan yang menyeluruh. Untuk menciptakan sebuah atom dan meletakkannya di tempat tertentu membutuhkan pengetahuan, keinginan, dan kekuasaan yang menyeluruh yang dapat menciptakan alam raya secara keseluruhan. Hal ini jelas sekali di luar kemampuan sebab yang buta, lemah, tidak kekal dan bergantung, serta tidak mempunyai pengetahuan, kemampuan, dan kekuasaan.[272]

Dengan kata lain, keteraturan tersebut harus berasal dari satu tangan milik Tuhan Yang Maha Esa, Kuasa, dan Bijaksana. Karena itu, menyandarkan alam yang teratur, harmonis, seimbang, dan satu kepada sebab-sebab alam yang tuli, buta, tak berperasaan, dan tak berakal, kemudian menganggap sebab-sebab tersebut sebagai pencipta entitas mengagumkan ini, serta menjadikannya sebagai pilihan di antara berbagai kemungkinan yang lain hal itu berarti menerima kemustahilan yang tak terhitung, karena semua itu sangat tidak logis.[273]

Dengan uraian tersebut, Nursi bukannya ingin menafikan hukum kausalitas secara mutlak, melainkan bagi Nursi, sebab-sebab itu hanya sebuah selubung yang menyembunyikan-Nya dari penglihatan mata.[274] Kemuliaan dan kebesaran Tuhan mensyaratkan kausa material atau alamiah untuk menyembunyikan sesuatu yang dilakukan oleh kekuasaan Tuhan. Pelaku sejati yang sedang beraksi di alam semesta ini adalah Kekuatan Yang Maha Menghendaki. Keesaan dan Keagungan Allah, juga kemerdekaan serta kemuliaan absolut Allah memerlukan hal itu.

Para utusan yang mulia, semua yang menyampaikan perintah-perintah-Nya, (misalnya udara, para malaikat, atau kausa alamiah), bukanlah eksekutif mutlak yang melalui mereka Dia melaksanakan Kekuasaan-Nya, tetapi hanya mewartakan Kekuasaan-Nya, seperti halnya para malaikat, pengamat dan pemantau tindakan Dia sebagai Penguasa, Penopang, Pengatur, Pemelihara, dan Penggembleng dunia. Meskipun segala sesuatu tampaknya terjadi sesuai dengan prinsip sebab-akibat, hal itu untuk memelihara kemuliaan Kekuasaan dan pandangan nalar yang bersifat permukaan.[275]    

Selain itu, dalam perspektif Nursi, alasan lain atas kausa kasat mata ini adalah bahwa manusia cenderung menilai zahirnya saja. Mereka mengutarakan keluhan ketidakadilan dan penyangkalan yang lemah atas hal-hal atau peristiwa yang tidak mereka inginkan. Allah Yang Maha Kuasa dan Yang benar-benar adil telah menempatkan kausa-kausa di dalam demensi material eksistensi ini sebagai tabir antara hal-hal atau peristiwa semacam itu dengan diri-Nya sendiri sehingga komentar negatif tidak ditujukan kepada-Nya. Kekeliruan dan kesalahan yang menjadikan peristiwa yang tidak diinginkan pada dasarnya berasal dari manusia itu sendiri.

Nursi mengangkat sampel tentang kematian. Malaikat kematian, Izrail, pernah berkata kepada Allah,”Para hamba-Mu akan memprotes dan sakit hati kepadaku, karena aku mencabut nyawa mereka.” Allah Yang Maha Kuasa menjawab, ”Aku akan menempatkan tabir bencana dan penyakit di antara engkau dan hamba-Ku sehingga mereka akan memprotes tabir tersebut dan tidak mencela engkau.” Dengan demikian, penyakit merupakan tabir yang oleh manusia bisa disebut sebagai penyebab kematian yang tidak mereka inginkan. Namun betapa pun tampaknya kematian sangat tidak dinginkan, sebenarnya kematian itu baik dan indah, dan keindahan sejati yang ada di dalamnya adalah terkait dengan tugas Izrail.[276]

Melalui eksposisi di atas, Nursi ingin menunjukkan bahwa semesta kerajaan manusia memang memerlukan sarana dan prasarana lain karena ketidakmampuan kerajaan itu untuk melaksanakan aturan-aturan mereka secara pribadi. Demikian pula, kemuliaan dan keagungan Allah mensyaratkan kausa nyata untuk mencegah keluhan manusia yang hanya berpikir pada level permukaan semata. Dengan ini, Nursi meneriakkan tasbih tentang kemuliaan-Nya yang terselubungi sebab-sebab, ”Maha Suci Dia yang terselubung oleh kausa-kausa alami karena Kemuliaan-Nya.”[277]

            Selain itu, di samping mengajukan kritik yang bercorak kosmologis terhadap doktrin materialisme mengenai segala sesuatu terbentuk dengan sendirinya, Nursi juga mengajukan sebuah sanggahan dengan pola teleologis.[278] Sebagaimana kritik teleologis sebelumnya, di sini Nursi mengungkap prinsip kesalingterkaitan antara seluruh atom dan kerja sama yang sangat teratur dan seimbang. Nursi melukiskan organ tubuh manusia yang bagaikan pabrik besar yang indah atau bagaikan istana megah. Tubuh manusia selalu bekerja tanpa henti secara internal dan berhubungan juga dengan alam semesta di sekitarnya.

            Setiap atom yang bekerja dalam tubuh manusia senantiasa menjaga agar ikatan dan hubungan tadi tidak rusak. Ia mengambil posisi yang tepat sejalan dengan hubungan tersebut seolah-olah ia melihat dan menyaksikan semua entitas yang ada.[279] Ada prinsip teleologis berupa keteraturan, keserasian, keterkaitan, dan kerja sama satu sama lain dengan sebuah finalitas yang terarah, yang tidak mungkin diserahkan kepada atom dengan sendirinya dalam membentuk alam semesta.

            Bagi Nursi, jika setiap atom atau materi di jagad raya bukan pegawai Tuhan Yang Maha Kuasa, suruhan yang tunduk terhadap sunnah-sunnah-Nya, atau tentara bersenjata dalam pasukan-Nya yang teratur, atau ujung pena kekuasaan Ilahi, maka konsekuensinya, lagi-lagi, setiap atom yang bekerja di jagad raya dan di tubuh manusia harus mempunyai mata lebar yang  bisa melihat segalanya. Setiap partikel bisa menyaksikan segala entitas yang terkait dengannya, mengetahui masa lalu dan masa depan manusia, serta mengenali asal usul setiap umat manusia beserta keturunan mereka.[280] Karena itu, sebuah ciptaan yang sangat teratur dan terkoordinir pasti merupakan satu tanda kekuasaan Dzat Yang Maha esa dan tidak mungkin untuk dinisbatkan kepada atom-atom atau materi dengan sendirinya.[281]

  1. Antara Kritik dan Konribusi

            Semua eksposisi mengenai eksistensi Tuhan melalui argumentasi kosmologis, ontologis, teleologis, dan intuitif atau pengalaman relijius yang diuraikan Nursi sebenarnya merupakan argumentasi filosofis tradisional yang jauh-jauh hari sudah tidak sedikit mengundang kritik dari para tokoh filsafat. David Hume mengkritik argumentasi kosmologis yang berpijak pada hubungan sebab-akibat dan berakhir pada sebab pertama atau Tuhan.[282] Sejak lama dalam filsafat diyakini adanya hubungan sebab akibat atau kausalitas yang terjadi di jagad raya ini.

            Agama memetafisikan kausalitas sebagai sebuah kenyataan akhir yang disebut Allah. Dalam konsep kausalitas diandaikan bahwa kalau ada peristiwa A terjadi lalu B terjadi, disimpulkan bahwa ada hubungan niscaya antara A dan B. Namun Hume berpendapat bahwa pendapat tentang hubungan niscaya itu tidak benar dan didasarkan pada sebuah kebingungan belaka. Yang bisa diamati manusia hanyalah bahwa gejala yang satu menyusul gejala yang lain, sedangkan kausalitas tidak bisa diamati. Hume mengatakan bahwa konsep kausalitas hanyalah ”animal faith” (kepercayaan naif) manusia yang tidak punya dasar.[283]

             Menurut Julian Baggini, mungkin saja seseorang mengatakan bahwa alam semesta sebagai sebuah keseluruhan harus memiliki sebab.[284] Namun bagi Baggini, ada dua kelemahan. Pertama, ada kontradiksi dalam argumentasi kosmologis tersebut yang mengatakan bahwa segala sesuatu pasti mempunyai sebab. Pendukung argumentasi kosmologis mengatakan bahwa setidaknya ada satu hal di alam semesta ini yang tidak memiliki sebab yaitu Tuhan. Jadi, mengkontradiksikan premis utama bahwa segala sesuatu harus memiliki sebab.

            Kedua, kalau pun harus menerima alam semesta memiliki sebab yang tidak bersebab, lompatan dari sini ke Tuhan benar-benar besar. Semua yang dibutuhkan untuk mengakhiri rangkaian sebab musabab ini adalah ide sebab pertama yang tidak bersebab. Persoalannya, mengapa harus menyematkan pada hal ini semua karakteristik Tuhan?[285] Dan jika tiap-tiap kejadian harus mempunyai sebab, mengapa harus berhenti dengan Tuhan?[286]

             Argumen kosmologis pun mendapat kritikan dari filsuf internal Muslim sendiri, seperti Iqbal. Iqbal berpendapat bahwa sebab pertama tidak dapat dianggap sebagai yang memiliki sifat Wajib Wujud karena dalam hubungan sebab akibat keduanya mesti wajib. Akibat wajib ada agar sebab bisa mempunyai efek pada akibat. Sebaliknya sebab wajib ada agar akibat mempunyai wujud.[287]

            Selanjutnya, argumentasi ontologis juga mendapat kritikan dari berbagai pihak. Gaunilo mengkritik pendapat Anselm mengenai argumentasi tersebut. Gaunilo berpendapat bahwa sangat berlebih-lebihan menyederhanakan cara membuktikan Tuhan. Menurut Gaunilo, ide tentang Tuhan mutlak dapat dipahami, sebagaimana dikemukakan Anselm, tetapi dia menolak bahwa dengan ide itu disimpulkan bahwa Tuhan ada secara faktual. Jika seseorang bercerita, demikian Gaunilo, tentang pulau yang sangat indah, surga dunia yang sangat nyaman, tentu sangat gampang membayangkan hal itu dalam pikiran. Tetapi, dari ide dalam pikiran itu tidak dapat disimpulkan bahwa pulau itu wajib ada dalam alam nyata.[288]

            Immanuel Kant, filosof Jerman, juga melancarkan kritik terhadap argumen ontologis. Menurut Kant, ditambahkan wujud kepada konsep tentang sesuatu, tidak membawa hal yang baru bagi konsep itu. Dengan kata lain, konsep tentang kursi bayangan dengan kursi yang mempunyai wujud nyata tidak ada perbedaannya. Begitu juga konsep tentang Zat Yang Maha Besar dengan tidak mengharuskan adanya Zat Yang Maha Besar itu. Konsep sesuatu yang terbesar sebagai konsep sudah sempurna sungguh pun konsep itu tidak mempunyai wujud pada hakikatnya.[289]

            Argumen ontologis memang membuat lompatan antara konsep tentang Tuhan Yang Maha Sempurna dalam benak pikiran dan eksistensi aktual yang sesungguhnya. Kosep tersebut tidak bisa menceritakan sebuah wujud aktual di semesta di mana konsep itu diterapkan. Dalam kata-kata teolog inggris John Macquarrie, ”Anda bisa saja membayangkan memiliki uang 100 dolar, tetapi sayangnya bayangan itu tidak akan membuat uang tersebut menjadi sebuah realitas di dalam saku Anda.”[290]

            Demikian pula dengan argumentasi teleologis yang tidak sepi dari lontaran kritik. Secara umum kritikan terhadap argumen ini timbul karena tidak semua benda-benda alam berjalan secara teratur dan bertujuan. Kenapa ada gempa bumi, bahaya kelaparan, dan penyakit menular? Apa gunanya usus buntu dalam tubuh manusia? Ringkasnya, apa perlunya kejahatan yang ada di alam dan pada umat manusia? Pertanyaan-pertanyaan yang demikain selalu timbul sehingga dapat disimpulkan tidak semua yang ada di alam ini memiliki tujuan.[291]

            Lebih jauh, argumentasi teleologis mengenai keteratura alam semesta dengan analogi jam tangan yang pasti mempunyai perancang yang cerdas, memiliki pula kelemahan utama. Seseorang tahu artefak seperti jam tangan punya pembuat karena ia memiliki pengalaman tentang jam tangan dan pembuat jam tangan. Tetapi mengenai alam semesta, manusia tidak menemukan hutan belantara yang indah dan mengasumsikan bahwa ia pasti karya seorang tukang kebun pertamanan. Apa yang ditunjukkan contoh ini adalah tanda desain yang cerdas hanya ditemukan dalam jenis barang yang pasti. Hutan belantara, binatang, dan fenomena alam tidak menghasilkan tanda desain yang cerdas dalam cara yang sama dengan jam tangan, mobil, dan bangunan.[292]

            Akhirnya argumentasi intuitif atau pengalaman relijius pun tidak kebal dari kritik. Argumentasi intuitif bersifat  sangat personal sekali,berupa keyakinan tersembunyi dalam lubuk jiwa seseorang yang tidak bisa dibuktikan atau ditujukan kepada orang lain. Begitu pun pengalaman relijius yang dirasakan dalam kalbu seseorang yang meyakininya bahwa hal itu merupakan indikator tentang eksistensi Tuhan, hanya merupakan pengalaman pribadi yang tak dapat dibagi kepada orang lain.

            Dalam perspektif Baggini, selain bercorak sangat individual, pengalaman intuitif atau keagamaan seringkali berbeda satu sama lain. Padahal, bagi Baggini, pengalaman relijius itu seharusnya menghasilkan keyakinan yang sama di antara orang-orang yang mengalaminya. Namun yang terjadi adalah orang memiliki pengalaman relijius dengan menafsirkan dan membenarkan kepercayaan relijius apa pun yang telah mereka miliki atau dominan dalam kebudayaan mereka. Karena itu, menurutnya pengalaman intuitif atau relijius bukanlah fondasi yang bisa diandalkan dalam perbincangan mengenai eksistensi Tuhan.[293]

            Dalam pandangan penulis, kelemahan Nursi yang paling utama adalah ia tidak mengelaborasi akar-akar doktrin materialisme.[294] Nursi tidak menguraikan alasan-alasan doktrin materialisme yang menjadi pijakan kaum materialis dalam menolak eksistensi Tuhan di alam semesta. Padahal dari tiga poin poin kritik Nursi terhadap doktri materialisme, ketiganya mempunyai alasan masing-masing dalam menfikan eksistensi Tuhan di jagad raya, kendati ada keterkaitan satu dengan yang lain.

            Materialsme mekanik, yang meyakini bahwa alam semesta tercipta oleh sebab semata atau karena hukum kausalitas, bersandar hanya pada dua sebab, yakni sebab material dan sebab efisien an sich. Mereka mengganti paradigma Aristotelian dengan paradigma Newtonian, sehingga dua sebab lainnya yang  sangat prinsipil dienyahkan dalam penelitian ilmiah, yaitu sebab formal dan sebab final.

            Sementara pandangan materialisme bahwa segala sesuatu terbentuk dengan sendirinya atau karena faktor kebetulan, disebabkan karena kaum materialis hanya menggunakan satu sebab saja dalam observasi ilmiah yaitu sebab efisien. Terlebih lagi, bagi mazhab materialis, sebab efisien dalam semesta berasal dari dirinya sendiri bukan dari luar, yang mereka identifikasi sebagai sebab imanen.

            Begitu pula, pandangan bahwa segala sesuatu merupakan tuntutan alam semata atau bercorak alamiah, mempunyai argumentasi spesifik yang menopang prinsip tersebut. Pandangan demikian merupakan implikasi dari satu sebab atau sebab imanen yang disebut oleh kaum materialis sebagai materialisme ilmiah. Materialisme ilmiah berprinsip bahwa semua yang terjadi dan tercipta di alam semesta merupak tuntutan alam apa adanya atau bersifat ilmiah belaka. Dengan alasan-alasan tersebutlah, kaum materialis menolak eksistensi Tuhan atau campur tangan Tuhan dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta.

            Dengan demikian, mereka pun menafikan adanya finalitas yang objektif dan universal pada wajah alam semesta. Seluruhnya bersifat kausalitas, karena faktor kebetulan, atau disebabkan tututan alam semata. Seharusnya landasan-landasan pemikiran materialisme tersebut ditelaah lebih dulu oleh Nursi dan baru kemudian mengajukan kritik-kritik secara filosofis pula, sehingga kritik yang diajukan akan menohok jantung persoalan yang sesungguhnya. Itulah yang tidak dilakukan oleh Nursi. Ia hanya langsung mengurai puncak keyakinan kaum materialis dan mengkritiknya tanpa menelusuri ide-ide yang menjadi fondasinya.

Tidak bisa dipungkiri, kritik-kritik tersebut cukup absah digulirkan terhadap argumentasi-argumentasi tradisional, tak terkecuali bukti-bukti yang diajukan oleh Nursi pun sebagian besar terkena sanggahan di atas. Kendati demikian, semua kritik tersebut bagaimana pun validnya tentu saja tidak membatalkan seluruh argumentasi filosofis yang dibangun oleh Nursi, termasuk juga para ilmuwan-ilmuwan lain. Sebab, sepanjang sejarah umat manusia tidak pernah berkembang suatu bukti tentang adanya Tuhan yang dapat diterima secara universal.

            Menurut sebagian filosof, bukti-bukti filosofis tentang eksistensi Tuhan memang telah dirancang oleh orang-orang yang sudah terlibat dengan percaya kepada Tuhan. Sementara banyak orang-orang ateis yang tetap tidak dapat diyakinkan oleh argumen-argumen tersebut dan melontarkan sanggahan dengan menganggap bukti-bukti rasional itu tidak sempurna.[295] Karenanya, bermacam-macam argumentasi sanggahan terhadap dalil-dalil mengenai eksistensi Tuhan tidak mengakhiri permasalahan.

            Barangkali sama sulitnya untuk memberikan bukti-bukti yang meyakinkan semua pihak tentang eksistensi Tuhan sebagaimana menyanggahnya. Dengan demikian semuanya bersifat spekulasi filosofis semata. Sampel terbaik dalam hal in adalah Hume yang melontarkan kritik terhadap argumentasi kosmologis dan teleologis, ternyata menurut Hardiman, skeptisisme Hume sendiri pada gilirannya tidak bisa dibuktikan secara empiris. Kritik tajam yang digulirkan Hume menjadi tidak lebih sebagai spekulasi dari pihak Hume sendiri.[296]

               Terlepas dari berbagai sanggahan di atas, argumentasi filosofis yang diusung Nursi jelas mempunyai keunikan dan signifikansi tersendiri. Pandangan-pandangan Nursi mengenai eksistensi Tuhan, kendati ide-ide fundamentalnya sudah disuarakan oleh banyak tokoh klasik baik dari kalangan Muslim maupun non-Muslim, setidaknya mempunyai sedikit warna yang berbeda dengan ilmuwan-ilmuwan sebelumnya. Salah satunya adalah penguraian Nursi tentang argumentasi ontologis.

            Jika para filsuf klasik dan abad pertengahan menggagas argumentasi ontologis yang mengatakan bahwa dalam setiap diri manusia terdapat ide tentang zat yang maha besar dan maha sempurna yang diidentifikasi sebagai Tuhan, maka Nursi melampaui gagasan klasik di atas. Bagi Nursi, ide tentang zat yang maha besar dan maha paripurna tidak hanya dimiliki oleh manusia tapi seluruh semesta, dari benda-benda langit yang terbesar hingga partikel-partikel atom yang tak terlihat oleh mata, mengikrarkan kesaksian dengan bahasa fitrahnya masing-masing tentang kebesaran, keagungan, dan kesempurnaan Tuhan Yang Maha Esa.

            Demikian pula pandangan Nursi mengenai aktualisasi Asma-asma Tuhan yang bisa dilihat secara kontradiktif bukan hanya secara positif. Nama Al-Ghaffar Yang Maha Mengampuni, menurut Nursi mengharuskan adanya dosa; As-Sattar Yang Maha Menutupi, mengkonsekuensikan adanya kesalahan; Ar-Razzaq Yang Maha Memberi Rezeki, meniscayakan hadirnya kelaparan sebagaimana Asy-Syafii Yang Maha Menyembuhkan, memastikan adanya penyakit. Begitulah seterusnya, Nama-nama Tuhan mengimplikasikan kenyataan secara kontradiktif untuk mengaktualisasikan seluruh Nama-Nya.

            Akhirnya, argumentasi intuitif yang digagas Nursi mempunyai keunikan pula. Dalam telaah Nursi, setiap manusia mempunyai predisposisi yang begitu kuat untuk mencintai keabadian dan kesempurnaan mutlak yang merupakan bukti tentang eksistensi keesaan Tuhan. Sebab Dzat Yang Abadi dan memiliki kesempurnaan absolut hanya tunggal, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Demikianlah paling tidak aspek-aspek pandangan Nursi yang agak berbeda dengan para filsuf sebelumnya dalam memperbincangkan bukti-bukti mengenai eksistensi Tuhan.

Selain itu, meskipun sebagian postulat-postulat mengenai eksistensi Tuhan Nursi alamatkan untuk mengcounter filsafat materialisme yang menafikan Tuhan dalam fenomena semesta dan kehidupan manusia, sebagian besar bahkan nyaris seluruh wacana tersebut ia gunakan untuk menyelamatkan keimanan masyarakat Muslim Turki yang sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan.

            Dengan alasan inilah, Nursi menguraikan semua argumen mengenai eksistensi Tuhan dan sanggahannya terhadap doktrin materialisme dengan menggunakan bahasa yang sangat sederhana, kaya ilustrasi, dan komunikatif agar mudah dicerna oleh pemahaman kebanyakan masyarakat awam. Ia tidak memaparkan argumentasinya dengan gaya bahasa filsafat yang rumit dan memakai istilah-istilah yang pelik, karena tujuan sentralnya bukan meyakinkan kaum materialisme, melainkan untuk memperkokoh keimanan kaum Muslim Turki sendiri.

            Dengan kata lain, Nursi ingin mengimbau kepada kalangan internal Muslim bukan kepada kalangan eksternal non-Muslim. Faktanya, apa yang Nursi suarakan tidak sia-sia sebab mayoritas masyarakat Turki membaca, mengkaji, menghayati, dan mengamalkan apa yang termaktub dalam karya besarnya, Risalah An-Nur.[297] Bahkan sampai hari ini, para pengikutnya di Turki masih terus berkembang pesat dan dari hari ke hari Risalahnya semakin diminati bukan hanya di seantero Turki tapi juga di manca negara.[298]

BAB V

 

PENUTUP

 

 

 

  1. Kesimpulan

 

            Dari berbagai paparan mengenai eksistensi Tuhan menurut Said Nursi dan kritiknya terhadap materialisme, dapat ditarik beberapa konklusi sekaligus sebagai jawaban bagi permasalahan yang telah dikemukakan di awal sebagai berikut:

  1. Tuhan dalam perspektif Nursi merupakan Dzat Yang Maha Agung yang tidak akan terpahamkan oleh akal manusia yang lemah. Tuhan juga merupakan Dzat Yang Maha Paripurna yang kesempurnaan-Nya tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Kendati demikian, bagi Nursi keagungan dan kesempurnaan Tuhan tersebut menjelma pada setiap lembaran wajah alam semesta, baik pada tataran makrokosmos maupun mikrokosmos, melalui sifat-sifat, nama-nama, dan perbuatan-Nya, yang justru sangat transparan untuk disaksikan oleh fakultas nalar manusia.
  2. Nursi menyuguhkan empat argumentasi mengenai eksistensi Tuhan. Pertama, argumentasi kosmologis, dengan menyatakan bahwa segala keanekaragaman pada alam semesta, adanya kesempurnaan relatif, kebutuhan dan ketergantungan seluruh makhluk, serta keunikan setiap ciptaan menunjukkan Dzat Wajibul Wujud Yang Maha Esa sebagai Pencipta semua itu. Tuhan merupakan Penyebab Pertama Tunggal bagi seluruh makhluk: alam semesta, kesempurnan relatif, kebutuhan dan ketergantungan, serta keunikan setiap ciptaan.

      Kedua, argumentasi ontologis. Nursi melukiskan bahwa baik mikrokosmos yang bernyawa maupun makrokosmos yang tidak bernyawa, semuanya secara fitriah menyuarakan kebesaran dan keesaan Tuhan. Seluruh manusia, bukan hanya para rasul, nabi, wali, orang suci, ahli syuhud, ulama, serta para pemikir, melainkan juga alam semesta, bumi, benda-benda langit hingga partikel-partikel atom yang tan kasat mata, mengikrarkan kesaksian dengan bahasa fitrahnya masing-masing tentang eksistensi Tuhan Yang Maha Esa.

      Ketiga, argumentasi teleologis. Dalam pandangan Nursi, alam semesta tanpa terkecuali bersifat teleologis, dalam arti ada keteraturan, keterkaitan, dan kerja sama yang harmonis antara satu sama lain dengan sebuah tujuan tertentu. Tuhan sebagai Perancang Yang Maha Bijaksana harus hadir sebagai sumber keselarasan seluruh ciptaan-Nya.

      Keempat, argumentasi intuitif. Menurut Nursi, pusat dalil ini adalah hati nurani setiap manusia yang menjadi bukti paling transparan tentang eksistensi Tuhan. Hati nurani, berbeda dengan nalar yang terkadang lalai pada Tuhan, secara intrinsik justru tidak pernah melupakan Sang Pencipta. Ada predisposisi berupa kecintaan kepada kesempurnaan mutlak dalam setiap kalbu manusia yang menjadi bukti tentang keesaan Tuhan, sebab kesempurnaan mutlak hanya tunggal yaitu Dzat Yang Maha Esa.

  1. Nursi mengajukan dua kritik filosofis, yaitu melalui argumentasi kosmologis dan teleologis. Dalil kosmologis ia tujukan kepada doktrin materialisme yang menyatakan bahwa alam terbentuk dengan sendirinya dan segala sesuatu merupakan tuntutan alam (alamiah). Bagi Nursi, alam semesta tidak mungkin terbentuk dengan sendirinya. Ilustrasinya, secara kosmologis jika sebuah buku ditulis dengan sebuah tangan, maka untuk menuliskannya hanya diperlukan satu pena. Tetapi jika buku tersebut tidak ditulis dengan satu tangan melainkan terbentuk dengan sendirinya, hal itu membutuhkan pena sebanyak jumlah hurupnya. Karenanya, semesta raya adalah karya Dzat Yang Maha Esa sebagaimana sebuah buku pasti ada pengarangnya.

      Selanjutnya dengan dalil kosmologis, Nursi menyanggah doktrin materialisme tentang segala sesuatu merupakan tuntutan alam. Menurut Nursi, jika penciptaan jagad raya diserahkan pada tuntutan alam yang tuli, buta, dan bodoh, konsekuensinya harus ada Tuhan pada segala sesuatu. Alasannya, penciptaan seluruh entitas baik benda mati maupun makhluk hidup dilandasi pengetahuan dan kekuasaan mutlak yang mencerminkan kesadaran. Secara metaforis, pantulan matahari yang terlihat pada butiran air atau di atas serpihan kaca harus dianggap bentuk representasi dari matahari. Namun jika pantulan sinar itu tidak dinisbatkan kepada matahari yang sebenarnya, berarti harus meyakini adanya matahari kecil yang memiliki sifat-sifat matahari dan benar-benar ada dalam air atau potongan kaca tersebut. Dengan ini, penciptaan segala sesuatu mesti dinisbatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

      Sementara itu, argumentasi teleologis Nursi alamatkan kepada doktrin materialisme yang menganggap alam semesta tercipta oleh sebab atau hukum kausalitas dan segala sesuatu terbentuk dengan sendirinya. Dalam telaah Nursi, alam semesta dengan segala unsurnya, dari yang terbesar hingga terkecil, dari benda mati hingga makhluk hidup, seluruhnya diciptakan dengan takaran yang sesuai dengan porsinya masing-masing. Adanya keteraturan dan keterkaitan, saling mendukung dan membantu, saling memenuhi kebutuhan dan kerja sama yang harmonis untuk sebuah tujuan universal menunjukkan bahwa semua makhluk diatur oleh Sang Pengatur dan Pemelihara Tunggal. Hukum kausalitas yang tidak mempunyai kesadaran tidak mungkin dapat menciptakan keselarasan, keteraturan, dan keharmonisan dengan sebuah tujuan yang bermakna. Karena itu, keharmonisan tersebut merupakan karya Dzat Yang Maha Bijaksana.

      Begitu pula, keteraturan, keseimbangan, saling kerja sama yang harmonis di alam semesta dengan sebuah finalitas yang mempunyai makna dan arah, tidak mungkin terbentuk dengan sendirinya melalui materi atau atom yang tidak memiliki kesadaran sedikit pun. Dengan demikian, setiap ciptaan yang sangat teratur dan terkoordinir pasti merupakan karya cipta Sang Perancang Yang Maha Esa semata.

  1. Saran-Saran

                  Tuhan merupakan sebuah misteri dari segala bentuk misteri. Bagaimana pun detil, luas, dan komprehensifnya sebuah penelitian yang mencoba menyibak eksistensi Tuhan, hampir dapat dipastikan penelitian tersebut tidak akan pernah mampu menguak setiap aspek misteri eksistensi Tuhan. Kendati perbincangan mengenai eksistensi Tuhan secara filosofis sudah terjadi sejak lebih dari dua ribu tahun silam, pembahasan eksistensi Tuhan tetap masih menyimpan banyak problema yang harus dipecahkan dan masih selalu aktual untuk dikaji. Tidak terkecuali dengan penelitian ini yang membincang eksistensi Tuhan.

  Sebagai langkah awal, penelitian terhadap eksistensi Tuhan dalam perspektif Nursi dan kritiknya terhadap doktrin-doktri materialisme kiranya masih jauh dianggap sempurna. Terlebih lagi, di kalangan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tampaknya pengkajian terhadap wacana-wacana Nursi masih bisa dikatakan sangat jarang sekali. Semua yang telah penulis kaji dalam tulisan ini hanya merupakan sebagian kecil dari pemikiran Nursi. Dengan demikian, penulis mengharapkan penelitian ini dilanjutkan dengan membahas lebih jauh gagasan Nursi dengan tema dan analisis yang berlainan, sehingga diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan Islam, terutama dalam filsafat Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin dkk. Mencari Islam: Studi Islam dengan Berbagai Pendekatan. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000.

———-. “Relevansi Studi Agama-Agama Dalam Milenium Ketiga”, Ulumul Qur’an, Vol. 7, No. 5, 1997.

Armstrong, Karen. A History of God. New York: Ballantine Books, 1993.

Abu Rabi’, Ibrahim & Jane I Smith (eds.). The Muslim World, Vol. LXXXIX, No. 3-4, July-Oktober, 1999.

Ash-Shadr, Baqir. Falsafatuna. Terj. Nur Mufid. Bandung: Mizan, 1995.

Al-Jilani, Abdul Qadir. Fathu al-Rabbani. Libanon: Beirut, 1988.

Abu Rabi’, Ibrahim (ed.). Islam at the Crossroads. Albany: State University of New York, 2003.

Bagus, Loren. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia, 2002.

Bahtiar, Amsal. Filsafat Agama. Jakarta: Logos, 1997.

Baker, Anton & A. Charris Zubair. Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1990.

Barbour, Ian G. Juru Bicara Tuhan. Terj. E R. Muhammad. Bandung: Mizan, 2002.

———–. Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama. Terj. Fransiskus Borgias. Bandung: Mizan, 2005.

Bakar, Osman (ed.). Evolusi Ruhani. Terj. Eva Y Nukman. Bandung: Mizan, 1996.

Baggini, Jullian. Lima Tema Utama Filsafat. Terj. Nur Zaen Hae. Jakarta: Teraju, 2003.

Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius, 1981.

Capra, Fritjof. Titik Balik Peradaban. Terj. Thoyibi. Yogyakarta: Bentang, 2000.

———–. The Tao of Physics. Terj. Aufiya Ilhamil Hafizh. Yogyakarta: Jalasutra, 2005.

Davies, Paul. God and The New Physics. New York: Simon&Schuster, 1983.

———–. Membaca Pikiran Tuhan. Terj. Hamzah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Edwards, Paul (ed.). The Encyclopedia of Philosophy, Vol. 5-6. New York: Macmillan Publishing Co, 1972.

Fakhry, Majid. A History of Islamic Philosophy. New York: Columbia University Press, 1983.

———–. Islamic Philosophy, Theology and Mysticism. Oxford: Oneworld Publications, 2003.

Fromm, Erich. Psychoanalysis and Religion. New Haven: Yale University Press, 1997.

Al-Ghazali, Abu Hamid. Majmu’ Rasail Imam Ghazali. Beirut: Dar Al-Fikr, 1996.

Gaarder, Jostein. Dunia Sophie. Terj. Rahmani Astuti. Bandung: Mizan, 1997.

Gilson, Etienne. Tuhan di Mata Para Filosof. Terj. Silvester Goridus Sukur. Bandung: Mizan, 2004.

Gulen, Fethullah. Menghidupkan Iman dengan Mempelajari Tanda-Tanda Kebesaran-Nya. Terj. Sugeng Hariyanto dkk. Jakarta: Grafindo Persada, 2002.

———–. Memadukan Akal dan Kalbu dalam Beriman. Terj. Tri Wibowo. Jakarta: Grafindo Persada, 2002.

Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius, 1980.

Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia, 2004.

Haught, John F. Perjumpaan Agama dan Sains. Terj. Fransiskus Borgias. Bandung: Mizan, 2004.

Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1996.

Iqbal, Muhammad. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Terj. Ali Audah dkk. Jakarta: Tintamas, 1966.

Jabiri, Abed al-. Takwin al-Aql al-Arabi. Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah, 1983.

Kuntowijoyo. Paradigma Islam. Bandung: Mizan, 1998.

Kasim, Ihsan Salih. Said Nursi Pemikir & Sufi Besar Abad 20. Terj. Nabilah Lubis. Jakarta: Grafindo Persada, 2003.

Kartanegara, Mulyadhi. Menyibak Tirai Kejahialan. Bandung : Mizan, 2003.

———-. Menembus Batas Waktu. Bandung: Mizan, 2005.

Kaelan. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat. Yogyakarta: Paradigma, 2005.

Kattsoff, Louis O. Pengantar Fiolsafat. Terj. Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004.

Leaman, Oliver. A Brief Introduction to Islamic Philosophy. Cambridge: Polity Press, 1999.

Lapidus, M Ira. Sejarah Sosial Ummat Islam. Terj. Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: Grafindo Persada, 1999.

Mughni, Syafiq A. Sejarah Kebudayaan Islam di Turki. Jakarta: Logos, 1997.

Michel, Thomas. Said Nursi’s Views on Muslim-Christian Understanding. Istanbul: Yenibosna, 2005.

Mills, Wright C. Kaum Marxis. Terj. Imam Muttaqien. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Musa, Yusuf. Al-Quran & Filsafat. Terj. Ahmad Daudy. Jakarta: Bulan Bintang, 1988.

Mudzhar, Atho. Pendekatan Studi Islam Dalam Teori & Praktek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1992.

Machasin. “Bediuzzaman said Nursi and the Sufi Tradition.” Jami’ah, Vol. 43, No. 1, 2005.

Murata, Sachiko. The Tao of Islam. Terj. Rahmani Astuti & Nasrullah. Bandung: Mizan, 2004.

Nursi, Said. Letters. Trans. Sukran Vahide. Istanbul: Sozler Society, 2001.

———–. The Flashes Collection. Trans. Sukran Vahide. Istanbul: sozler Society, 2000.

———–. The Words. Trans. Sukran Vahide. Istanbul: Sozler Nesriyat,2002.

———–. Dari Cermin Ke-Esaan Allah. Terj. Sugeng Hariyanto & Fathor Rasyid. Jakarta: Siraja, 2003.

———–. Sinar Yang Mengungkap Sang Cahaya. Terj. Sugeng Hariyanti dkk. Jakarta:Grafindo Persada, 2003.

———–. Dari Balik Lembaran suci. Terj. Sugeng Hariyanto. Jakarta: Siraja, 2003.

———–. Mi’raj Menembus Konstelasi Langit. Terj. Sugeng Hariyanto. Jakarta: Siraja, 2003.

———–. Dimensi Abadi kehidupan. Terj. Sugeng Hariyanto. Jakarta: siraja, 2003.

———–. Menikmati Ekstase Spiritual Cinta Ilahi. Terj. Sugeng Hariyanyo & Fathor Rasyid. Jakarta: Siraja, 2003.

———–. The Rays. Trans. Sukran Vahide. Istanbul: Sozler Nesriyat, 1998.

———–. Persoalan Tauhid dan Tasbih. Terj. Maheram Binti Ahmad. Malaysia: Kuala Terengganu, 1999.

———–. Iman Kunci Kesempurnaan. Terj. Mishbah. Jakarta: Robbani Press, 2004.

———–. Mengokohkan Aqidah Menggairahkan Ibadah. Terj. Hamzah Khan. Jakarta: Robbani Press, 2004.

———–. Signs of Miraculousness. Trans. Sukran Vahide. Istanbul: Sozler publications, 2004.

Nawawi, Hadari & Mimi Martiwi. Penelitian Terapan. Yogyakarta: UGM Press, 1996.

Nasution. Metode Research. Jakarta: Bumi Aksara,2003.

Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: Ui Press, 1985.

———–. Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1995.

———–. Islam Rasional. Bandung: Mizan, 1996.

———–. Pembaharuan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1996.

Nasr, Seyyed Hossein (ed.). Islamic Spirituality: Manifestations. New York: Crossroad, 1991.

Nasr, Seyyed Hossein & Oliver Leaman (eds.). Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. Terj. Tim Penerjemah Mizan. Bandung: Mizan, 2003.

Paper, Jan Hendrik. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Praja, Juhaya S. Aliran-Aliran Filsafat &Etika. Jakarta: Prenada Media, 2003.

Ridwan, deden (ed.). Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Bandung: Nuansa, 2001.

Rabi, Ibrahim abu (ed.). Islam at the Crossroads. Albany: State University of New York Press, 2003. 

Rahman, Fazlur. Tema Pokok Al-Quran. Terj. Anas Mahyuddin. Bandung: Pustaka, 1996.

———–. Kenabian dalam Islam. Terj. Rahmani Astuti. Bandung: Pustaka, 2003.

Russell, Bertrand. History of Western Philosophy. London: Unwin University Books, 1955.

Rolston III, Holmes. Science and Religion A Critical Survey. New York: Random House, 1987.

Rusyd, Ibn. Mendamaikan Agama dan Filsafat. Terj. Aksin Wijaya. Yogyakarta: Pilar media, 2005.

Shihab, Quraish. Wawasan Al-Quran. Bandung: Mizan, 1996.

———–. Membumikan Al-Quran. Bandung: Mizan, 1997.

———–. Mukjizat Al-Quran. Bandung: Mizan, 1998.

———–. Dia Di Mana-Mana. Jakarta: Lentera Hati, 2005.

Schimmel, Annemarie. Dunia Rumi. Terj. Saut Pasaribu. Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2002.

———–. Menyingkap Yang Tersembunyi. Terj. Saini K.M. Bandung: Mizan, 2005.

Singarimbun, Masni. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES, 1989.

Suseno, Franz Magnis. Pemikiran Karl Marx. Jakarta: Gramedia, 2001.

———–. 13 Tokoh Etika. Yogyakarta: Kanisius, 1997.

Thahhan, Mustafa. Model Kepemimpinan dalam Amal Islam. Terj. Musthalah Maufur. Jakarta: Robbani Press, 1997.

Tim Penulis Rosda. Kamus Filsafat. Bandung: Rosda Karya, 1995.

Titus, Harold H. At.al. Persoalan-Persoalan Filsafat. Terj. Rasjidi. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

Unal, Ali. Makna Hidup Sesudah Mati Kebangkitan & Penghisaban. Terj. Sugeng Hariyanto& Fathor Rasyid. Jakarta: Grafindo Persada, 2002.

Vahide, Sukran. Bediuzzaman Said Nursi. Istanbul: Sozler Nesriyat, 2000.

———–(ed.). The Qur’anic View of Man, According to the Risale-i Nur. Istanbul: Sozler Nesriyat, 2002.

———–(ed.). Globalization, Ethics, and Bediuzzaman Said Nursi’s risale-i Nur. Istanbul: Sozler Publications, 2004.

———–(ed.). Bringing Faith, Meaning and Peace to Life in Multicultural World: The Risale-i Nur’s Approach. Istanbul: Yenibosna, 2004.

———–(ed.). Said Nursi’s Views on Muslim-Christian Understanding. Istanbul: Yenibosna, 2005.

Webster, Noah. Webster’s New Twentieth Century Dictionary. United States: William Collins Publishers, 1980.

Zurcher, Erik J. Sejarah Modern Turki. Terj. Karsidi Diningrat. Jakarta: Gramedia, 2003.

[1] Kuntowijoyo, Paradigma Islam (Bandung: Mizan, 1998), h. 228-229.

[2] Karen Armstrong, A History of God (New york: Ballantine Books, 1994), h. 150.

[3] Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-quran, terj. Anas Mahyuddin (Bandung: Pustaka, 1996), h. 15.

[4] Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran (Bandung: Mizan, 1996), h. 27.

[5] Loren Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 2002), h. 1086.

[6] Perbincangan mengenai eksistensi tuhan secara filosofis sudah lama dibahas oleh ilmuwan klasik, abad pertengahan hingga era kontemporer dewasa ini. Sebut saja Ghazali dalam karyanya Al-Hikmah fi makhluqati Allah, yang mengulas alam semesta mulai dari langit, matahari, rembulan, bintang-gemintang, bumi persada, lautan, udara, air dan api, manusia serta hewan dan tumbuh-tumbuhan, ini bisa dilihat dalam Al-Ghazali, Majmu’Rasail Imam Ghazali (Beirut:Dar Al-Fikr, 1996) ; demikian pula Fakhruddin ar-Razi, Harun Yahya, bahkan dari Indonesia tampil Quraish Shihab dengan buku terbarunya, Dia Di mana-mana (Jakarta: Lentera Hati, 2005).

[7] Karya pemikir & sufi besar dariTurki ini, Risalah An-Nur, mendapat apresiasi yang sangat luar biasa dari kaum Muslim dari seluruh penjuru dunia. Hal ini dibuktikan dengan akses masyarakat dunia baik di belahan wilayah Timur maupun Barat & telah diterjemahkannya Risalah An-Nur ke dalam berbagai bahasa dunia sampai lebih dari tiga puluh bahasa asing: Inggris, Itali, Jepang, Prancis, Spanyol, Cina, Jerman, India, Rusia, Belanda, Rumania, Portugis, termasuk Indonesia dan lain-lain, hingga hari ini masih terus diterjemahkan ke dalam bahasa-bahsa lainnya. Bisa dilihat pada The World is Reading Risale-I Nur. www.saidnur.com/ contact@saidnur.com; Apresiasi juga dating dari para ilmuwan kelas dunia internasional. Sebut saja, misalnya Thomas Michel, ilmuwan yang ahli mengenai dialog antar agama di Roma, yang mengulas beberapa aspek pemikiran Nursi secara positif dalam karyanya, Said Nursi’s Views on Muslim-Christian Understanding (Istanbul: Yenibosna, 2005); begitu pula Oliver Leaman, filsuf abad ini yang mengajar di Universitas John Moores Liverpool tentang filsafat Islam, mengelaborasi dengan kritis-positif pandangan Nursi mengenai lingkungan. Oliver Leaman, “Islam, the Environment & Said Nursi”, Islam at the Crossroads, Ibrahim M. Abu Rabi’ (ed.), (Albany: State University of New York Press, 2003), h. 255-262; dan ilmuwan lain, seperti Nirmal Singh, Collen Keyes, Norton Mezvinsky, Wahba al-Zuhayli, Alexander Fedotoff serta lain-lainnya.

[8] Metin Karabasoglu, “Text and Community: An Analysis of the Risale-I Nur Movement”, Abu Rabi’, Crossroads…….., h. 264.

[9] Uraian mengenai persoalan-persoalan tersebut, secara spesifik terkompilasi dalam salah satu karya cuplikan Risalah An-Nur: The reflection of the Divine. Lihat Said Nursi, Dari Cermin ke-Esaan Allah, terj. Sugeng Hariyanto & Fathor Rasyid (Jakarta: Siraja, 2003).

[10] Said Nursi, Sinar Yang Mengungkap Sang Cahaya, terj. Sugeng Hariyanto dkk. (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), h. XXVI-XXVII.

Said Nursi, Dari Balik Lembaran Suci, terj. Sugeng Hariyanto (Jakarta: Siraja, 2003), h. 216-219.

[12] Said Nursi, The Words, trans. Sukran Vahide (Istanbul: Sozler Nesriyat, 2002), h. 718.

[13] Alegori filosofis dengan menggunakan raja dan rakyatnya bisa ditemukan dalam Said Nursi, Mi’raj Menembus Konstelasi Langit, terj. Sugeng Hariyanto (Jakarta: Siraja, 2003).

[14] Metafora filosofis tentang istana dan para pengunjungnya terdapat dalam Said Nursi, Dimensi Abadi Kehidupan, terj. Sugeng Hariyanto (Jakarta: Siraja, 2003).

[15] Perumpamaan kapal diuraikan Nursi saat memperbincangkan nilai keimanan kepada Allah. Said Nursi,  Menikmati Ekstase Spiritual Cinta Ilahi,  terj. Sugeng Hariyanto & Fathor Rasyid (Jakarta: Siraja, 2003), h. 106-107.

[16] Perumpamaan dalam bentuk matahari merupakan yang paling banyak dan paling sering digunakan oleh Nursi. Nyaris di sebagian besar karyanya alegori matahari muncul dalam beragam tema untuk menyibak rahasia ketuhanan.

[17] Salih, Ihsan Kasim, Said Nursi Pemikir & Sufi Besar Abad 20, terj. Nabilah Lubis (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), h. 203-204.

[18] Nursi, Sinar Yang Mengungkap………., h. XX.

[19] Bediuzzaman Said Nursi wrote with his heart and his imagination as well as with his head and his intellect. One of reasons that he has endured through the 20th century and into the 21st as a highly revered interpreter of islam and the Quran is his ability to speak, through his writing, in word that are straightforward yet rich in interpretive symbolism. The reader feels Nursi’s passion, comprehend his instruction, and experiences his understand of truth through his graphic and sometimes even startling use of words and images.  Sukran Vahide (ed.), The Qur’anic View of Man, According to the Risale-I Nur (Istanbul: Sozler Nesriyat, 2002), h. 255.

[20] Salih, Said Nursi……., h. 3.

[21] Ibid., h. 4-5.

[22] Sukran Vahide, Bediuzzaman Said Nursi (Istanbul: Sozler Nesriyat, 2000), h. 30-31.

[23] Salih, Said Nursi………., h. 7.

[24] Said Nursi, Letters, trans. Sukran Vahide (Istanbul: Sozler society, 2001), h. 418-419.

[25] Said Nursi, The Flashes Collection, trans. Sukran Vahide (Istanbul: Sozler Society,2000), h. 303-304.

[26] Tema ini terkompilasi dalam Sukran Vahide (ed.), The Qur’anic View of Man, According to the Risale-I Nur (Istanbul: Sozler Nesriyat, 2002).

[27] Mengenai tema di atas dapat dilihat dalam Sukran Vahide (ed.), Globalization, Ethics and Bediuzzaman Said Nursi’s Risale-I Nur (Istanbul: Sozler Publications, 2004).

[28] Sedangkan perbincangan tema tersebut berada dalam Sukran Vahide (ed.), Bringing Faith, Meaning and Peace to Life in a Multicultural World: The Risale-I nur’s Aprroach (Istanbul: Nesil, 2004).

[29] Machasin, Bediuzzaman Said Nursi and The Sufi Tradition, Jurnal Jami’ah, Vol. 43, No. 1, 2005, h. 1-19.

[30] Tesis Ustadi hamzah, Islam dan Pluralitas Agama: Toleransi Beragama dalam Pandangan Bediuzzaman Said Nursi, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003.

[31] Skripsi Laela Rahmawati, Mane-Yi Harfi: Kajian Tentang Metode Penafsiran Bediuzzaman said Nursi dalam risale-I Nur, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2004.

[32] Hal ini terutama diuraikan dalam bab pertama ketika membahas makna eksistensi & kehidupan. Ali Unal, Makna Hidup sesudah MatiKebangkitan dan Penghisaban, terj. Sugeng Hariyanto & Fathor Rasyid (Jakarta: Grafindo Persada, 2002).

[33] Sukran Vahide (ed.), Said Nursi’s Views on Muslim-christian Understanding (Istanbul: Yesnibosna, 2005), h. 79-108.

[34] Metafisika menurut Ibn khaldun mencakup pula wujud sebagai wujud, materi umum yang mempengaruhi benda-benda jasmani & spiritual, bagian yang mempelajari asal-usul benda-benda, cara benda-benda muncul dari entitas-entitas spiritual, & mempelajari keadaan jiwa setelah perpisahannya dengan badan. Mulyadhi kartanegara, Integrasi Ilmu Sebuah Rekonstruksi Holistik (Bandung: Arasy, 2005), h. 74-75.

[35] Masih diperdebatkan apakah metafisika Aristoteles memang menyinggung tentang Tuhan. Menurut Jabiri, Tuhan Aristoteles sebagai penggerak pertama (al-muharrik al-awwal), nampak sekadar asumsi ilmiah untuk menafsirkan prinsip gerak, sehingga tidak lebih dari tuntutan logika semata. Abed al-Jabiri, Takwin al-Aql al-Arabi (Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah, 1983), h. 27-28; Russell menyatakan bahwa Aristoteles mendiskusikan mengenai Tuhan yang transenden, hanya saja dengan uraian filosofis yang mampu dicerna nalar dan sepenuhnya rasional. Bertrand Russell, History of Western Philosophy (London: Unwin University Books, 1955), h. 180-184; Senada dengan Russell, Armstrong melihat Aristoteles jelas menggagas konsep Tuhan, tapi Tuhan yang tidak mewahyuhkan dirinya dalam sejarah, tidak menciptakan alam, & tidak mengadili di Hari Kiamat. Karen Armstrong, A History of God (New York: Ballantine Bokks, 1993), h. 171.

[36] Filsuf awal Muslim Al-Kindi memberi salah satu judul buku filsafatnya Filsafat Pertama,  yang menguraikan penegetahuan tentang Realitas Pertama yang menjadi Sebab bagi setiap realitas. Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York: Columbia university Press, 1983), h. 70.

[37] Amsal Bahtiar, Filsafat Agama (Jakarta: Logos, 1997), h. 179-182. Argumentasi kosmologi dari Thomas Aquinas ini digunakan untuk memperkaya analisis dan tidak hanya dari filsuf Muslim semata.

[38] Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu (Bandung: Mizan, 2005),  h. 34.

[39] Ibid., h. 34-36.

[40] Oliver Leaman, A Brief Introduction to Islamic Philosophy (Cambridge: Polity Press, 1999), h. 90.

[41] Yusuf Musa, Al-Quran dan Filsafat, terj. Ahmad Daudy (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), h. 43.

[42] Kartanegara, Menembus…….., h. 36-37.

[43] Musa, Al-Quran…….., h 43.

[44] Jalaluddin Rumi sengaja dipilih di sini karena metode intuitif Rumi tidak melalui maqamat-maqamat yang diwacanakan oleh tokoh-tokoh sufi lain secara eksplisit, seperti Ghazali dan Al-Qusyairi. Rumi hanya menjelaskan metode intuitifnya dengan global melalui uraian-uraian alegori filosofis bagaimana sesungguhnya perjalanan untuk menyingkap rahasia Wajah Sang Kekasih tanpa melalui detail-detail tahapan sufistik. Hal yang sama juga dilakukan oleh Nursi, di mana ia mengelaborasi eksistensi Tuhan secara intuitif dengan penjelasan yang penuh ilustrasi filosofis. Dengan alasan inilah, metode intuitif Rumi dijadikan kerangka teoretik untuk memotret salah satu argumentasi Nursi mengenai eksistensi Tuhan.

[45] Annemarie Schimmel, Menyingkap Yang Tersembunyi, terj. Saini K. M (Bandung: Mizan, 2005), h. 106.

[46] Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan (Bandung: Mizan, 2003), h. 27.

[47] Annemarie Schimmel, Dunia Rumi, terj. Saut Pasaribu (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2002), h. 136-137.

[48] Schimmel, Menyingkap……., h. 110.

[49] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, terj. Soejono Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004), h. 212.

[50] Jostein Gaarder, Dunia Sophie, terj. Rahmani Astuti (Bandung: mizan, 1997), h. 60-63.

[51] Harold H. Titus at. Al., Persoalan-Persoalan Filsafat, terj. Rasjidi (Jakarta: bulan Bintang, 1984), h. 296.

[52] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern (Jakarta: Gramedia, 2004), h. 67.

[53] Ibid. h. 205.

[54] Titus, Persoalan-Persolan……., h. 296-297.

[55] Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat & Etika, (Jakarta: Prenada Media, 2003), h.144.

[56] Secara cukup detil pemikiran Marx terdapat dalam Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marz (Jakarta: Gramedia, 2001), h. 135-158.

[57] C. Wright Mills, Kaum Marxis, Imam Muttaqien (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 35-36; Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat (Yogyakarta: Kanisius, 1980), h. 121.

[58] Masni Singarimbun, Metode Penelitian survey, (Jakarta:LP3ES, 1989), h. 45.

[59] Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam Dalam Teori dan Praktek (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1992), h. 37.

[60] Kaelan, Metode Penelitian Kualitatif  bidang Filsafat (Yogyakarta: Paradigma, 2005), h. 58-59.

[61] Hadari Nawawi & Mimi Martiwi, Penelitian Terapan (Yogyakarta: UGM Press, 1996), h. 73-74; Jenis penelitian analitik ini, lebih fungsional dalam pengembangan pengetahuan dan lebih efektif sebagai sarana edukatif bagi penelitian akademik. Lihat Jujun S. Suriasumantri, “Penelitian Ilmiah, Kefilsafatan dan Keagamaan: Mencari Paradigma Kebersamaan”, Tradisi Baru Penelitian Agama Islam, Deden Ridwan (ed.), (Bandung: Nuansa, 2001), h. 83.

[62] Menurut Kaelan, dalam metode deskriptif lazimnya dikembangkan pula ke arah evaluasi kritis. Kaelan, Metode Penelitian…….., h. 59;Anton Baker &A Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1990), h. 62. Bandingkan juga dengan pandangan Nasution yang mengungkapkan bahwa dalam penelitian dimungkinkan melakukan kombinasi antara berbagai metode penelitian. Nasution, Metode Research (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), h. 20.

[63] Amin Abdullah, “Relevansi Studi Agama-Agama Dalam Milenium Ketiga: Mempertimbangkan Kembali Metodologi dan Filsafat Keilmuan Agama dalam Upaya Memecahkan Persoalan Keagamaan Kontemporer” dalam Ulumul Qur’an: Jurnal Kebudayaan dan Peradaban, No 5 VII/ 1997, h. 62-67. Dimuat pula dengan judul “Relevansi Studi Agama-Agama dalam Milenium Ketiga” dalam Amin Abdullah dkk., Mencari Islam: Studi Islam dengan Berbagai Pendekatan (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000), h 1-25.

[64] Ibid., h. 59-60.

[65] Ihsan Kasim Salih, Said Nursi Pemikir & Sufi Besar Abad 20, terj. Nabilah Lubis (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), h. 3-4.

[66] Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki (Jakarta: Logos, 1997), h. 67.

[67] Seperti diketahui, pada masa Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M), yang merupakan Sultan Usmani terbesar, kesultanan Turki Usmani mampu menguasai Irak, Belgrado, Pulau Rhodes, Tunis, Budapest, Yaman, Armenia, Suria, Hejaz, Mesir, Libia, Aljazair di Afrika, dan Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa. Untuk penjelasan lebih lanjut dapat dilihat dalam Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (Jakarta: UI Press, 1985), h. 84.

[68] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, terj. Ghufron A. Mas’adi (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999), h. 66.

[69] Salih, Said Nursi……, h. 4.

[70] Erik J. Zurcher, Sejarah Modern Turki, terj. Karsidi Diningrat R. (Jakarta: Gramedia, 2003), h. 215.

[71] Lapidus, Sejarah Sosial…., h. 89-91.

[72] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), h. 153.

[73] Salih, Said Nursi….., h. 7.

[74] Ibid. h. 8.

[75] Said Nursi, Iman Kunci Kesempurnaan, terj. Muhammad Mishbah (Jakarta: Robbani Press, 2004), h. 77.

[76] Salih, Said Nursi………., h. 10-11.

[77] Ibid. h. 12.

[78] Ibid. h. 13-14; dalam satu riwayat disebutkan bahwa ia pernah berdiskusi dengan seorang ilmuwan pengajar kimia dan Nursi hanya perlu waktu lima hari untuk menguasai ilmu tersebut. Ketika kembali berdiskusi dengan limuwan tersebut, Nursi membawa sesuatu yang mencengangkan akal pikiran. Peristiwa inilah yang mengantarkan dirinya menyandang gelar Badiuzzaman, Bintang atau Keindahan Zaman, dan titel itu tetap disematkan pada namanya hingga kini. Said Nursi, Mengokohkan aqidah Menggairahkan Ibadah., terj. Ibtidain Hamzah khan (Jakarta: Robbani Press, 2004),  h. 152.

[79] Sukran Vahide, Bediuzzaman Said Nursi (Istanbul: Sozler Nesriyat, 2000), h. 30-31.

[80] Ibid. h. 44.

[81]  Uraian mengenai khutbah tersebut secara cukup detail terdapat dalam Thomas Michel S.J., Said Nursi’s Views on Muslim-Christian Understanding (Istanbul: Yenibosna, 2005), h. 46-57.

[82] Mungkin karena disibukkan dengan peperangan, cukup disayangkan bahwa kitab tafsir yang unik ini hanya diselesaikan sampai surat Al-Baqarah ayat ke tiga puluh tiga. Said Nursi, Signs of Miraculousness, trans. Sukran Vahide (Istanbul: Sozler Publications, 2004).

[83] Salih, Said Nursi….., h. 29-32.

[84] Said Nursi, The Flashes, trans. Sukran Vahide (Istanbul: Sozler Nesriyat, 2000), h. 299-300.

[85] Salih, Said Nursi……., h. 34-35.

[86] Said Nursi, Letters, trans. Sukran Vahide (Istanbul:Sozler Nesriyat, 2001), h. 418-419.

[87] Nursi, the Flashes……., h. 303-304.

[88] Musthafa M. Thahhan, Model Kepemimpinan dalam Amal Islam, terj. Musthalah Maufur (Jakarta: Robbani Press, 1997), h. 233.

[89] Menurut Hakan Yavuz, menghadang paham materialisme dengan tujuan menyelamatkan keimanan masyarakat Turki inilah merupakan salah satu focus utama yang Nursi lakukan hingga akhir hayatnya. Ibrahim Abu Rabi’ & Jane I Smith (eds.), Special Issue Said Nursi and the Turkis Experience, The Muslim World, Vol. LXXXIV, No. 3-4. July-Oktober, 1999, h. 199.

[90] Ibid.

[91] Thahhan, Model Kepemimpinan…………, h. 233.

[92] Mengenai pengakuan Nursi untuk menjauhkan diri dari kehidupan politik ini secara lebih detail terdapat dalam Said Nursi, Letters……….., h. 66-70’ 83-85.

[93] Salih, Said Nursi……….., h. 91.

[94] Said Nursi, Sinar Yang Mengungkap Sang Cahaya, terj. Sugeng Hariyanto dkk. (Jakarta: Grafindo Persada, 2003), h. XXI.

[95] Salih, Said Nursi………, h 56.

[96] Ibrahim M. Abu-Rabi’ (ed.), Islam at the Crossroads (Albany: State University of New York, 2003), h. 20.

[97] Nursi, Sinar Yang……., h. XXI.

[98] Salih, Said……., h. 65.

[99] Nursi, Sinar Yang…….., h. XXI.

[100] Salih, Said……., h. 65-66.

[101] Vahide, Bediuzzaman……, h. 245.

[102] Ibid. h. 269.

[103] Ketika di pindahkan ke Denizli, dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nursi masih dalam keadaan lemah karena efek dari keracunan yang diletakan pada makanannya. Ibid., h. 277; lihat juga Thahhan, Model Kepemimpinan……, h. 242.

[104] Ibid., h. 278-279.

[105] Kalimah ini merupakan potongan awal ayat dalam surat Al-Hujurat ayat 10.

[106] Salih, Said…….., h. 78.

[107] Ibid., h. 94-95.

[108] Ucapan selamat ini disampai oleh nursi melalui sepucuk surat dan presiden pun membalasnya melalui surat kembali. Hal ini terdapat dalam Vahide, Bediuzzaman……, h. 334; Abu-Rabi’, Islam at the…….., h. 24.

[109] Prediksi Nursi ini diungkapkannya saat ia masih berada di dalam penjara Eskisehir pada tahun sekitar 1935-an. Nursi, The Flashes…….., h. 358.

[110] Vahide, Bediuzzaman…………., h. 372-373.

[111] Salih, Said………., h. 117.

[112] Ibid., h. 118.

[113] Nursi, Sinar Yang……….., h. XXII.

[114] Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu ontos yang berarti ada atau keberadaan, dan logos yang berarti studi atau ilmu tentang. Secara terminologi, ontologi merupakan cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakikat Ada yang terakhir Yang Satu, Yang Absolut, dan Bentuk Abadi Sempurna. Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 746.

[115] Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism (Oneworld Publications: Oxford, 2003), h. 40.

[116] Harold H. Titus at. All. Persoalan-Persoalan Filsafat, terj. Rasjidi (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 450-452.

[117] Karen Armstrong, A History of God (New York: Ballantine Books, 1993), h. 207.

[118] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama (Jakarta: Logos, 1997), h. 172-173.

[119] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), h. 22.

[120] Istilah kosmologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata: kosmos yang berarti  dunia atau alam semesta; dan logos yang berarti ilmu tentang.  Dalam terminologi filsafat, kosmologi merupakan ilmu tentang alam semesta sebagai suatu sistem yang rasional dan teratur. Bagus, Kamus.., h. 499.

[121] Mengenai perbincangan dalil kosmologis tentang Tuhan, dengan agak luas dibahas dalam bab metafisika oleh  Bertrand Russell, History of Western Philosophy (London: Unwin University Books, 1955), h. 173-184.

[122] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani (Yogyakarta: Kanisius, 1981), h. 155.

[123] Al-Kindi menggarisbawahi kemutlakan sifat Tuhan Yang Maha Esa sebagai Penyebab bagi semua yang ada (maujud) atau Sebab dari segala sebab. Seyyed Hossein Nasr & Oliver Leaman (eds.), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, terj. Tim Penerjemah Mizan (Bandung: Mizan, 2003), h. 210.

[124] Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu (Bandung: Mizan, 2005), h. 32-34.

[125] Lima argumen tersebut antara lain: Penggerak yang Tak Digerakkan, pasti ada Penyebab Pertama, ada satu Wujud Wajib, Kesempurnaan Tertinggi, dan adanya keteraturan dan tujuan dalam alam semesta. Armstrong, A History………, h. 206.

[126]  Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yaitu telos yang berarti tujuan atau akhir dan logos yakni wacana atau doktrin. Secara istilah filsafat, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan-tujuan dan  ”kebijaksanaan” objektif di luar manusia. Bagus, Kamus……., h. 1085-1086.

[127] Kartanegara, Panorama……., h. 36; Secara lebih luas mengenai argument teleologis atau dalil inayah ini, bisa dilihat dalam buku Ibn Rusyd terutama bab dua yang menguraikan tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, Mendamaikan agama & Filsafat, terj. Aksin Wijaya (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), h. 155-171.

[128] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), h. 171.

[129] Oliver Leaman, A Brief Introduction to Islamic Philosophy, (Cambridge: Polity Press, 1999), h. 42-44.

[130] Titus, Persoalan……, h. 455.

[131] Bajhtiar, Filsafat…, h. 183-184.

[132] Adanya Allah, menurut Kant merupakan salah satu dari tiga bagian postulat rasio praktis, yaitu kebebasan kehendak dan immortalitas jiwa. Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat & Etika (Jakarta: Kencana, 2003), h. 122.

[133] Titus, Persoalan…….., h. 456.

[134] Franz Magnis Suseno, 13 Tokoh Etika (Yogyakarta: Kanisius, 1997), h. 145.

[135] K. Bertens, Etika (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 256.

[136] Louis O Kattsoff, Pengantar Filsafat, terj. Soejono Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004), h. 445-446.

[137] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern (Jakarta: Gramedia Pustaka utama, 2004), h. 151.

[138] Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, terj. Ali Audah dkk. (Jakarta: Tintamas, 1966), h. 36.

[139] I should like to note that, quite in contrast to a popular sentiment that mysticism is an irrational type of religius experience, it represents, the higgest development of rationality in religius thinking. As Albert Schweizer has put it: “Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism”. Erich Fromm, Psychoanalysis and Religion (New Haven: Yale University Press, 1997), note no. 9. h. 93-94.

[140] Julian Baggini, Lima Tema Utama Filsafat, terj. Nur Zaen Hae (Jakarta: Teraju, 2003), h. 168-169.

[141] Etienne Gilson, Tuhan di Mata Para Filosof, terj. Silvester Goridus Sukur (Bandung: Mizan, 2004), h. 15-16.

[142] Mengenai teori emanasi yang dikembangkan oleh Ibnu Sina bias dilihat dalam Harun Nasution, Falsafat & Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), h. 34-40; juga dalam, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1996), h. 43-51.

[143] Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan (Bandung: Mizan, 2003), h. 26. sebenarnya Ibnu Sina bersama Farabi mengakui kelemahan sekaligus kekuatan akal. Akal secara independen jelas lemah untuk menangkap realitas sejati Tuhan, tapi melalui kontaknya dengan akal aktif, yang diidentifikasi dengan malaikat Jibril, sehingga bisa mengkonstruksi Tuhan secara lebih valid dari akal an sich. Lihat dalam Fazlur Rahman, Kenabian dalam Islam, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Pustaka, 2003), h. 1-12.

[144] Karen Armstrong, A History of God (New York: Ballantine Books, 1993), h. 186.

[145] Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa ketika selesai mendiktekan kalimat terakhir dari karyanya Summa, Aquinas dengan sedih menelungkupkan kepala di atas lenganya. Saat juru tulis bertanya apa yang terjadi, Aquinas menjawab bahwa segala yang telah ditulisnya tampak tak berharaga disbanding apa yang telah dilihatnya. Ibid., h. 205.

[146] Gagasan Nursi tersebut sangat mendekati ide yang di usung oleh Ibnu Arabi yang mengungkapkan bahwa alam semesta merupakan manifestasi-manifestasi Allah (tajalliyat), atau secara tegas manifestasi dari sifat-sifat, nama-nama, dan tindakan (af’al) Allah. Lihat dalam Seyyed Hosein Nasr (ed.), Islamic Spirituality: Manifestations (New York: Crossroad, 1991), h. 58; gagasan Arabi ini dielaborasi pula oleh Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik dalam Islam, terj. Sapardi Djoko Damono dkk. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003), h. 340-341; bandingkan juga secara agak detail dalam Sachiko Murata, The Tao of Islam, terj. Rahmani Astuti & M.S. Nasrullah (Bandung: Mizan, 2004), h. 47-66.

[147] Said Nursi, The Words, trans. Sukran Vahide (Istanbul: Sozler Nesriyet, 2002), h. 645.

[148] Ibid., h. 660.

[149] Ibid., h. 647.

[150] Said Nursi, Sinar Yang Mengungkap Sang Cahaya, terj. Sugeng Hariyanto dkk. (Jakarta: Grafindo Persada, 2003), h. 144.

[151] Ibid., h. 158.

[152] Said Nursi, Letters, trans. Sukran Vahide (Istanbul: Sozler Nesriyat, 2001), h. 298.

[153] Ibid., h. 299; Bandingkan dengan Said Nursi, Persoalan Tauhid & Tasbih, terj. Maheram Binti Ahmad (Malaysia: Kuala Terengganu, 1999), h. 75.

[154] Said Nursi, Dari Cermin ke-Esaan Allah, terj. Sugeng Hariyanto & Fathor Rasyid (Jakarta: SiRaja, 2003), h. 139.

[155] Ibid., h. 140.

[156] Abdul Qadir al-Jilani, Fathu al-Rabbani (Libanon: Beirut, 1988), h. 140.

[157] Nursi, The Words…., h. 312-313.

[158] Argumentasi yang bernada filosofis dalam membincang Tuhan tersebut nyaris selalu muncul dalam semua bagian dari Risalah Nursi, seperti dalam The Words, Letters,The Flashes, Sinar Yang Mengungkap Sang Cahaya, The Rays, dan lain lainnya.

[159] Titus, Persoalan…., h. 454.

[160] Argumen Aquinas yang terdiri dari lima variable: Penggerak Pertama, Sebab Pertama, Tuhan tempat bergantung dan hierarki kesempurnaan menunjukkan bahwa Tuhan sebagai pusat kesempurnaan mutlak, tercakup pula dalam ide-ide di atas.

[161] Bagus, Kamus……., h. 75.

[162] Nursi, Words…., h. 715-717.

[163] Nursi, Words…., h. 717.

[164] Ibid., h. 648.

[165] Ibid., h. 314.

[166] Nursi, Sinar…….., h. 111.

[167] Nursi, Words………., h. 309.

[168] Ibid., h. 694.

[169] Nursi, Sinar……….., h. 113.

[170] Nursi, Letters…….., h. 289-291.

[171] Said Nursi, The Flashes, trans. Sukran Vahide (Istanbul: Sozler Nesriyat, 2000), h. 245.

[172] Nursi, Words…….., h. 623.

[173] Tema ini sering muncul dalam Risalah An-Nur. Nursi melukiskan bahwa prinsip ketuhanan membuat diri-Nya dikenal melalui manifestasi nama-nama-Nya yang Maha Indah, misalnya keagungan tujuh sifat-sifat-Nya, sepaerti Yang Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Berbicara. Said Nursi, The Rays, Trans. Sukran Vahide (Istanbul: Sozler Nesriyet, 1998), h. 169.

[174] Ibid., h. 708.

[175] Terjemah bebasnya: Sebagaimana dengan lapar engkau bisa mengetahui Nama-Nya ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki, maka dengan sakit engkau juga bisa berkenalan dengan Nama-Nya asy-Syafi, Maha Menyembuhkan.  Nursi, Flashes………., h. 268.

[176] Nursi, Sinar……….., h. 99.

[177] Ide tersebut dipopulerkan oleh Saint Anselm yang ingin menunjukkan bahwa eksistensi Tuhan bias dibuktikan secara rasional pada abad sebelas. Anselm mendefinisikan Tuhan sebagai: Sesuatu yang tak terpikirkan ada hal lain yang melebihi keagungannya (aliquid quo nihil matus cogitari possit). Armstrong, History………….., h. 202.

[178] Bagus, Kamus…………….., h. 77.

[179] Amsal, Filsafatr………., h. 172-173.

[180] Nursi, Sinar……….., h. 167-168; Flashes…………, h. 394.

[181] Ibid., h. 154.

[182] Argumentasi teleologis yang bercorak demikian diusung oleh filsuf klasik yaitu Ibnu Sina yang kemudian dikembangkan oleh filsuf-filsuf sesudahnya baik Muslim maupun non-Muslim, termasuk Saint Anselm. Kartanegara, Menembus………., h. 34.

[183] Dengan argument tersebut, Nursi mungkin bias diketegorikan sebagai the true philosopher, filosof sejati. Sebab pendekatan filsafat, menurut Karen Armstrong, menolak konsep penciptaan dari ketiadaan. Sehingga Al-Kindi, lagi-lagi menurut Armstrong, tidak bisa disebut sebagai seorang filsuf karena ia menggagas penciptaan dari ketiadaan (creation ex nihilo). Armstrong, History………., h. 174.

[184] Nursi, Sinar…………….., h. 149-150.

[185] Nursi, Flashes……….., h. 383; namun di tempat lain, Nursi juga menjelaskan bahwa proses penciptaan seluruh entitas melalui dua cara. Pertama, penciptaan dari tiada yang disebut keaslian dan hasil penemuan. Sedangkan yang kedua, dimunculkan dari berbagai unsur yang ada, lalu dibentuk, dan diberi wujud, yang disebut dengan menyusun dan membentuk. Ibid., h. 417.

[186] Mengenai teori emanatif Ibnu Sina yang mengembangkan teori Farabi, bias dilihat dalam Nasution, Islam Rasional…………, h. 43-51.

[187] Nursi, Flashes……….., h. 418.

[188] Bagus, Kamus………, h. 78.

[189] Amsal, Filsafat……., h. 183.

[190] Bagus, Kamus…….., h. 78.

[191] Nursi, Sinar……….., h. 11-12.

[192] Ibid.

[193] Nursi, Words….., h. 702-703.

[194] Nursi, Sinar……, h. 109.

[195] Di lain tempat dalam Risalahnya, Nursi melukiskan kebijaksanaan ini sebagai Takdir universal, dalam arti segala sesuatu di semesta ditakar dengan proporsi yang tepat sesuai watak masing-masing makhluk dan demi tujuan yang jelas. Ibid., h. 117.

[196] Nursi, Words…….., h. 695-696.

[197]  Ibn Rusyd menyebut argumentasi teleologisnya dengan dalil inayah. Hanafi, Pengantar………, h. 171.

[198] William Paley membuat ilustrasi yang terkenal tentang jam dan untuk memperkuat argumentasi teleologis. Menurutnya, alam semesta bagaikan sebuah jam yang semua bagiannya bekerja sama secara harmonis dalam cara yang tertib. Siapa pun yang melihat dan mengetahui jam tersebut, niscaya akan menyimpulkan pasti ada seseorang yang cerdas telah mendesain dan membuat jam itu. Begitu pula semesta jagad raya dengan segala komleksitasnya yang tertata rapih, akurat, dan mempunyai tujuan tertentu, pasti ada seorang desainer dan pembuat yang cerdas yang telah menciptakannya. Satu-satunya yang bisa dipahami untuk mendeskripsikan pencipta seperti itu adalah Tuhan Yang Mha Kuasa dan Maha Tahu. Baggini, Lima Tema……, h. 165.

[199] Menurut Abdul Halim Mahmud, semua argumentasi logika mengenai wujud Tuhan dapat saja dicari kelemahannya oleh akal manusia lain. Karena itu seseorang tidak perlu bertepuk tangan dengan keberhasilan akal dalam membuktikan wujud-Nya (Tuhan), karena dengan akal pula argumen itu dapat ditolak. Itu artinya memang argumen logika belum cukup memadai untuk membuktikan wujud Tuhan sebelum dilengkapi dengan argumentasi intuitif. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran (Bandung: Mizan, 1997), h. 15.

[200] Baggini, Lima Tema………., h. 168.

[201] Dalam dunia sufi, tahapan-tahapan atau maqamat tersebut secara hierarkis diformulasikan dengan berbeda antara seorang tokoh sufi dengan tokoh sufi lainnya. Untuk mengetahui perbedaan ini, lihat Nasution, Falsafat…….., h. 62-63.

[202] Biasanya hakiakat keimanan justru ditekankan atau menjadi fundamen utama bagi Risalah Nursi. Salih, Said Nursi…………, h. 203-204.

[203] Nursi, Sinar………., h. 585-587.

[204] Nursi, Words…….., h. 322.

[205] Said Nursi, Iman Kunci Kesempurnaan, terj. M. Misbah (Jakarat: Robbani Press, 2004), h. 2.

[206] Ibid., h. 3-4.

[207] Nursi, Words………., h. 322.

[208] Nursi, Flashes…………, h. 29-31.

[209] Ibid., h. 89-90.

[210] Nursi membuat ilustrasi bahwa orang yang menatap dunia bersifat abadi laksana orang yang menatap cermin yang memantulkan taman bunga, istana, dan negeri denag segala isinya, yang hanya denag sedikit guncangan saja (jika cerminnya digerakkan) akan terjadi kekacauan pada gambar cermin tersebut. Dengan demikian tidak layak menmbatkan hati terhadap dunia yang bersifat temporal. Ibid., h. 159; cinta keabadian ini juga diuraikan oleh Gulen sebagai argumen intuitif mengenai eksistensi Tuhan. Fethullah Gulen, Memadukan Akal &Kalbu dalam Beriman, terj. Tri Wibowo Budi Santoso (Jakarta: Grafindo Persada, 2002), h. 7.

[211] Ibid., h. 29-31.

[212] Nursi, Letters…….., h. 536-538.

[213] Mengenai tema-tema ibadah wajib, seperti terutama salat, puasa, zakat dan lainnya bisa dilihat secara khusus dalam Said Nursi, Mengokohkan Aqidah Menggirahkan Ibadah, terj. Ibtidain Hamzah Khan (Jakarta: Robbani Press, 2004).

[214] Akar histories materialisme dapat dilacak sampai kepada Demokritos yang mengatakan bahwa segalanya berasal dari atom. Jan Hendrik Paper, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1996), h. 46. Pada satu titik ekstrem, matarialisme merupakan kepercayaan bahwa yang ada hanyalah materi. Tidak ada Tuhan atau alam supranatural. Satu-satunya realitas adalah materi dan segala sesuatu adalah manifestasi dari aktivitasnya. Lihat Tim Penulis Rosda, Kamus Filsafat (Bandung: Rosdakarya, 1995), h.193. Selain itu, materialism is the name given to a family of doctrines concerning the nature of the world which give to matter a primary position and accord to mind (or spirit)a secondary, dependent reality or even none at all. Paul Edwards (ed.). the Encyclopedia of Philosophy, Vol. 5. (New York: Macmillan Publishing Co, 1972), h. 179.  Sementara kamus Webster mendefinisikan materialisme (materialism): the doctrine that matter is the only reality and that everything inthe world, including thought, will, and feeling, can be explained only in the terms of matter. Noah Webster, Webster’s New Twentieth Century Dictionary (United States: William Collins Publishers, 1980), h. 1110. Materialisme juga merupakan bentuk naturalisme yang lebih terbatas. Dalam banyak hal seorang materialis sependirian dengan naturalis dan keduanya cenderung sama. Mungkin itu alasannya Nursi seringkali menyebut materialis dan tidak jarang juga naturalis. Lihat Harold H. Titus at al. Persoalan-Persoalan Filsafat, terj. Rasjidi (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 293; Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, Soejono Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004), h.216.

[215] Nursi tidak menguraikan akar-akar materialisme, terutama pada tiga level yang dia kritik tersebut, melainkan langsung menunjuk kepada poin yang dia kritik. Karena itu, di sini berusaha melacak ketiga konsep materialisme yang menjadi pusat kritik Nursi dengan merujuk pada sumber-sumber lain yang menguraikan doktrin-doktrin materialisme tersebut.

[216] Holmes Rolston III, Science and Religion A Critical Survey (New York: Random House, 1987), h. 34-35.

[217] John F. Haught, Perjumpaan Agama & Sains, terj. Fransiskus Borgias (Bandung: Mizan, 2004), h. 288-289.

[218] Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan (Bandung: Mizan, 2003), h. 126.

[219] Titus at al. Persoalan……….., h. 294.

[220] Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat & Etika (Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 146-147.

[221] Titus, Persoalan…………, h. 296-297.

[222] Kendati demikian, Davies tampaknya menorehkan ide-ide yang bersifat ambigu. Di satu sisi dia mengakui adanya Tuhan pencipta, walaupun bukan Tuhan yang personal. Sementara di lain sisi, ia juga mengklaim kekuatan kreatif hukum sebab-akibat an sich tanpa perlu dihubungkan dengan Tuhan yang transenden. Lihat Paul Davies, God & the New Physics (New York: Simon & Schuster, 1983), h. 23-39; Juga bukunya, Membaca Pikiran Tuhan, terj. Hamzah (Yogyakarata: Pustaka Pelajar, 2002), h. 38-100, 320-373.

[223] Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu (Bandung: Mizan, 2005), h. 88.

[224] Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran (Bandung: Mizan, 1998), h. 19.

[225] Juhaya, Aliran Filsafat…………, h. 148.

[226] Mulyadhi Kartanegara, Integrasi Ilmu (Bandung: Arasy, 2005), h. 149.

[227] Bertrand Russell, History of Western Philosophy (London: Unwin University Books, 1955), h. 181.

[228] Kartanegara, Integrasi…………, h. 151-152.

[229] Haught, Perjumpaan……………, h. 35.

[230] Ibid., h. 36.

[231]Ibid.

[232] Teori evolusi adalah teori yang mengatakan bahwa semua organisme yang meliputi seluruh tumbuhan dan hewan yang ada dan pernah ada, berkembang dari beberapa atau bahkan satu bentuk yang sangat sederhana, melalui proses penurunan dengan modifikasi. Osman Bakar (ed.), Evolusi Ruhani, terj. Eva Y. Nukman (Bandung: Mizan, 1996), h. 9. Bandingkan dengan uraian Barbour yang menjelaskan sejarah teori evolusi secara cukup luas dalam karyanya yang terbaru, Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, terj. Fransiskus Borgias (Bandung: Mizan, 2005).

[233] Haught, Perjumpaan………., h. 74.

[234] Ian G. barbour, Juru Bicara Tuhan, terj. E.R. Muhammad (bandung: Mizan, 2002), h. 156.

[235] Haught, Perjumpaan………….., h. 126.

[236] Barbour, Juru Bicara…………..,  h. 158.

[237] Haught, Perjumpaan…………, h. 81.

[238] Ibid., h. 85.

[239] Ibid., 191.

[240] Barbour, Juru Bicara…………, h. 101.

[241] Haught, Perjumpaan………………., 174.

[242] Barbour, Juru Bicara………………., h. 106.

[243] Haught, Perjumpaan….., h. 182.

[244] Paul Davies, Membaca Pikiran Tuhan, terj, Hamzah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 54.

[245] Teori kuantum dirumuskan oleh sejumlah ilmuwan ternama abad 20, yaitu Max Planck, Albert Einstein, Neils Bohr, Louis De Broglie, Erwin Schrodinger, Wolfgang Pauli, werner Heisenberg, dan Paul Dirac. Teori tersebut mengatakan bahwa benda-benda mikroskopis tidak dapat diukur secara kuantitatif dengan koordinat-koordinat ruang-waktu. Posisi dan momentum suatu partikel tidak dapat dirinci secara serempak, sehingga melahirkan hubungan-hubungan ketidakpastian. Lihat Fritjof Capra, Titik Balik Peradaban, terj. Thoyibi (Yogyakarata: Bentang, 2000), h. 84-118. Jika merujuk kepada Ash-Shdar, teori kuantum dengan tidak terdeteksinya sebab terakhir secara fisika, justru menunjukkan adanya Sang Pencipta di balik semesta. Baqir Ash-Shadar, Falsafatuna, terj. Nur Mufid bin Ali (Bandung: Mizan, 1995), h. 213-214. Demikian pula Capra memandang teori kuantum yang sejajar dengan pandangan mistisisme agama-agama Timur. Fritjof Capra, The Tao of Physics, terj. Aufiya Ilhamal Hafizh (Yogyakarta: Jalasutra, 2005).

[246] Haught, Perjumpaan……….., h. 181.

[247] Barbour, Juru Bicara………., h. 112-113.

[248] Menurut Haught, ada perbedaan prinsipil antara sains dan saintis. Jika sains itu merupakan cara yang sederhana, terpercaya, dan subur untuk mempelajari beberapa hal penting tentang alam semesta, maka saintisme adalah suatu pengandaian bahwa sains merupakan satu-satunya cara yang tepat untuk sampai pada seluruh kebenaran. Haught, Perjumpaan…., h. 14.

[249] Haught, Perjumpaan……., h. 14, 42-47.

[250] Said Nursi, The Flashes, trans. Sukran Vahide (Istanbul: Sozler Nesriyat, 2000), h. 237-238.

[251] Said Nursi, The Words, trans. Sukran Vahide (Istanbul: Sozler Nesriyat, 2002), h. 398.

[252] Said Nursi, Sinar Yang Mengungkap Sang Cahaya, terj. Sugeng Hariyanto dkk. (Jakarta: Grafindo Persada, 2003), h. 108.

[253] Said Nursi, The Words, h. 636-637.

[254] Nursi, Sinar…………., h. 108.

[255] Ibid., h. 118.

[256] Nursi, Flashes…………, h. 238-239.

[257] Ali Unal, Makna Hidup sesudah Mati, terj. Sugeng Hariyanto & Fathor Rasyid (Jakarta: Grafindo Persada, 2002), h. 10.

[258] Ibid., h. 11.

[259] Nursi, Flashes…….., h. 244.

[260] Ibid., h. 245.

[261] Seperti diketahui, meskipun diciptakan dari dan diberi makan dengan elemen-elemen yang sama, setiap umat manusia benar-benar berbeda dalam hal cirri-cirinya, sifat-sifatnya, keinginan-keinginannya, kecakapan-kecakapanya, kesukaan dan ketidaksukaannya, logat bicaranya, dan lain sebagainya. Oleh karenanya, semua kemampuan, kekuasaan, system atau organ-organ itu pasti adalah karya Dzat Yang Kekuasaan, Ilmu, dan Kehendak-Nya tiada terbatas. Nursi, Sinar………….., h. 106.

[262] Menurut Gulen, kalau anggota spesies binatang bersifat hamper sama dan menunjukkan tidak adanya perbedaan perilaku, sedangkan setiap individu manusia adalah seperti spesies yang berbeda yang memiliki dunianya sendiri di dalam dunia manusia yang lebih besar. Fethullah Gulen, Menghidupkan Iman Dengan Mempelajari Tanda-Tanda Kebesaran-Nya, terj. Sugeng Hariyanto dkk. (Jakarta: Grafindo Persada, 2002), h. 5-6.

[263] Nursi, Flashes…………, h. 245.

[264] Menurut Nursi, sebenarnya pada setiap wajah manusia tertera tanda atau stempel keesaan Tuhan secara transendental. Nursi, Words…………., h. 623.

[265] Nursi, Flashes………….., h. 234-235.

[266] Fethullah Gulen, Memadukan Akal dan Kalbu dalam Beriman, terj. Tri Wibowo Budi Santoso (Jakarta: Grafindo Persada, 2002), h. 3.

[267] Mengenai hubungan dan keterkaitan kerja sama seluruh semesta dijelaskan pula oleh Nursi dengan bahasa metafora. Nursi, Words……….., h. 292.

[268] Unal, Makna Hidup………….., h. 4-5.

[269] Nursi, Words……………., h. 309-310.

[270] Nursi, Sinar………………., h. 112.

[271] Nursi, Flashes………….., h. 235-236.

[272] Unal, Makna Hidup……………, h. 5.

[273] Nursi, Flashes………….., h. 236.

[274] Nursi, Words……….., h. 435-437.

[275] Nursi memberi ilustrasi tentang cermin yang memiliki dua permukaan. Satu permukaan yang terlihat di dunia kasat mata dan dunia material, mencerminkan permukaan warna-warni cermin, dan mungkin merupakan sebuah cara untuk melihat berbagai warna dan keadaan.permukaan satunya lagi adalah seperti permukaan cermin yang bercahaya dan berisi dimensi bagian dalam, di mana Kekuasaan Allah dijalankan secara langsung. Ibid., h. 300.

[276] Ibid., h. 301.

[277] Nursi, Sinar…………….., h. 588.

[278] Dalam hal ini, Nursi sebenarnya melontarkan dua kritik teleologis. Namun kedua kritik itu memiliki keserupaan, yang intinya setiap atom atau materi harus mempunyai nyawa, kesadaran, dan kehidupan, serta pengetahuan yang komrehensif bila segala sesuatu terbentuk dengan sendirinya. Nursi, Flashes……………., h. 236-237.

[279] Ibid.

[280] Ibid.

[281] Ibid.

[282] Menurut Hume, hubungan sebab akibat itu hanya berdasarkan kebiasaan dan kemudian manusia tanpa menyadari memiliki harapan bahwa sebab akibat itu pasti terulang lagi. Dan sebab terakhir itu adalah Tuhan, bagi Hume sebagai pernyataan tak bermakna. Wacana ini agak cukup detil terdapat dalam Jostein Gaarder, Dunia Sophie, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Mizan, 1997), h. 290-305.

[283] Budi Hardiman, Filsafat Modern (Jakarta: Gramedia, 2004), h. 89-90.

[284] Julian Baggini, Lima Tema Utama Filsafat, terj. Nur Zain Hae (Jakarta: Teraju, 2002), h. 163.

[285] Ibid., h. 164.

[286] Titus, Persoalan……………., h. 454.

[287] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama (Jakarta: Logos, 1997), h. 182-183.

[288] Ibid., h. 173-174.

[289] Ibid., 174.

[290] Karen Armstrong, A History of God (New York: Ballantine Books, 1993), h. 202.

[291] Amsal, Filsafat……….., h. 188; Hume juga menyanggah dengan mengatakan bahwa dunia ini jahat dan buruk. Hardiman, Filsafat……….., h. 91.

[292] Menurut Baggini, manusia tidak memiliki pengalaman sama sekali seperti apakah sebab sesuatu yang asali di alam ini. Sejauh pengalaman yang dimiliki manusia tentang sebab fenomena alamiah hal ini pastilah bukan desainer yang cerdas. Jajaran pegunungan disebabkan oleh pergeseran dalam lapisan bumi, badai oleh menurunnya tekanan udara, jurang oleh erosi garis pantai yang bertahap. Sebegitu jauh, sebagaiman pengalaman itu menceritakan kepada manusia apa saja tentang sebab sesuatu di alam ini, ia mengisahkan pada manusia gahwa alam bukanlah produk dari desainer yang cerdas. Lihat Baggini, Lima Tema…………, h. 165-166.

[293] Ibid., 171.

[294] Hal ini bisa dilihat dalam kritik Nursi secara spesifik terhadap pemikiran materialisme tanpa menelusuri argument-argumen dibelakangnya. Nursi, Flashes, h. 232-254.

[295] Titus, Persoalan………., h. 459.

[296] Hardiman, Filsafat……., h. 91-92.

[297] Ihsan Kasim Salih, Said Nursi, terj. Nabilah Lubis (Jakarta: Grafindo Persada, 2003), h. 60.

[298] Hal ini bias diakses dalam The World is Reading Risale-I Nur, www. Saidnur.com.

Leave a Reply