KONSEP PENDIDIKAN BADIUZZAMAN SAID NURSI TEORI DAN PRAKTEK

Oleh:

Afriantoni, M.Pd.I

Bab 1

P E N D A H U L U A N

 

Latar Belakang Masalah

Sepanjang sejarah umat manusia masalah akhlak selalu menjadi pokok persoalan. Karena pada dasarnya, pembicaraan tentang akhlak selalu berhubungan dengan persoalan perilaku manusia dan menjadi permasalahan utama manusia terutama dalam rangka pembentukan peradaban. Perilaku manusia secara langsung ataupun tidak langsung masib menjadi tolok ukur untuk mengetahui perbuatan atau sikap mereka. Wajar kiranya persoalan akhlak selalu dikaitkan dengan persoalan sosial masyarakat, karena akhlak menjadi simbol bagi peradaban suatu bangsa.

Fakta sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang diabadikan dalam al-Qur’an seperti kaum ‘Ad, Samud, Madyan dan Saba’ maupun yang terdapat dalam buku-buku sejarah menunjukkan bahwa “suatu bangsa yang kokoh akan runtuh apabila akhlaknya rusak” (Suwito 1995, hlm. 1). Dalam sejarah dunia mencatat misalnya pada masa kaum ‘Ad, Madyan dan Saba’ dicatat oleh al-Qur’an sebagai kaum yang memiliki kualitas akhlak yang rendah. Al-Qur’an senantiasa merujuk kaum ini untuk menunjukkan rendahnya kualitas akhlak manusia di beberapa bagian dekade sejarah. Pada dekade selanjutnya, akumulasi simbol kebobrokan akhlak adalah kaum Fir’aun dan Namrud yang hidup pada masa nabi Musa dan Ibrahim. Simbol selanjutnya yang disebut oleh al-Qur’an adalah Abu Jahal dan kaumnya yang hidup pada masa Nabi Muhammad Saw. Pada awal abad ke-20 yakni setelah Perang Dunia I simbol itu dialamatkan kepada Mustafa Kemal Attatruk (Ihsan Kasim 2003, hlm. 42). Dalam konteks dunia Barat simbol-simbol lain itu bisa dialamatkan kepada Sigmud Freud, Nietzsche, Lenin, Kalr Marx, dan Hitler. Bahkan tatanan yang lebih serius adalah kerusakan yang ditimbulkan oleh negara Adi Daya seperti Amerika Serikat, Inggris atau Perancis. Pengaruh meraka berada pada tataran pemikiran yang secara langsung ataupun tidak langsung dalam merusak akidah, yang berarti dapat merusak akhlak manusia dalam bertuhan. Mereka yang menjadi simbol ini memiliki peranan penting dalam bidang pemikiran dan kelompok-kelompok sosial. Sehingga, muncul tokoh-tokoh yang dapat mempengaruhi secara halus merasuk ke dalam alam pemikiran para pemikir-pemikir muslim. Pengaruh tersebut sangat penting dalam membangun “persepsi” manusia dalam memahami sesuatu. Misalnya Sigmud Freud “menyebut ide-ide agama tentang Tuhan dan alam gaib sebagai ilusi karena konsep-konsep tersebut muncul dari keinginan manusia (human wishes) dan bukan dari realitas” (Lihat Erich 1950, hlm.12).

Sebenarnya Allah Swt menciptakan manusia hanyalah bertujuan supaya manusia itu beribadah kepada-Nya semata, yakni menjadi manusia pengabdi (Al-Dzariat : 56). Titik tekan pengabdian adalah akhlak Islam yang sangat menekankan kepada penganut­-penganutnya untuk berakhlak mulia. Dalam hadis disebutkan “inama bu’istu li utammima markim al-akhlak” (Sesungguhnya Aku diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak). Penjelasan hadis ini berartinya bahwa diutusnya Nabi Muhammad Saw sebagai rasul untuk menyampaikan risalah Allah sejak awal abad ke-7 Masehi secara tegas adalah tugas pokoknya sebagai penyempurna akhlak manusia.

Akhlak dalam Islam bertitik tolak dari pengabdian seorang kepada Allah Swt dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw yang menjadi teladan pribadi terbaik. Semua sifat dari perilaku, pikir dan sikap yang bertentangan dengan akhlak Nabi Muhammad Saw dianggap tidak berakhlak. Siti Aisyah r.a bila ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad Saw beliau berkata : “Akhlak Rasulullah itu adalah al-Qur’an”. Allah Swt berfirman : “Wa innaka la’ala khuluq ‘azhim” (“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) mempunyai akhlak yang paling mulia”) (QS. al-Qalam : 4). Karena itu, ia patut dijadikan contoh “laqad kana lakum fi rasulullah uswatun hasanah…” (“Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu surf tauladan yang baik bagimu…”) (QS al-Ahzab : 21).

Bukti-bukti kemuliaan akhlak Nabi Muhammad Saw di atas adalah nyata. Bahkan menurut seorang non muslim Michael H. Hart dalam bukunya berjudul The 1000 a ranking of the Most influential Persons in History memberikan pengakuan bahwa “Nabi Muhammad Saw memperoleh pengakuan sebagai tokoh urutan pertama yang paling berpengaruh dalam sejarah” (Suwito 1995, hlm. 3). Kebesaran Nabi Muhammad harus diakui disebabkan oleh ketinggian dan kemuliaan akhlak yang dimilikinya.

Karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan pendidikan akhlak Islam pun pada hakekatnya diarahkan kepada terciptanya manusia yang berakhlak agung dan mulia seperti Nabi Muhammad Saw. Namun setiap orang memiliki pemahaman dan cara berbeda untuk mencapai akhlak agung dan mulia sebagaimana yang dimiliki Nabi Muhammad tersebut.

Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad dalam sejarah membuktikan bahwa umat Islam dalam binaan Nabi Muhammad Saw pernah mengalami masa keemasan yang mencapai 1300 tahun lamanya. Masa keemasan ini adalah masa periode Madinah yakni pada masa Nabi Muhammad sendiri sampai wafatnya. Masa ini yang paling monumental adalah dirumuskannya “Piagam Madinah” yang memuat perjanjian antara golongan-golongan Muhajirin, Ansar dan Yahudi serta sekutunya yang mengandung prinsip-prinsip atau peraturan-peraturan penting yang menjamin hak-hak mereka dan menetapkan kewajiban‑kewajiban mereka sebagai dasar bagi kehidupan mereka bersama dalam kehidupan sosial politik (Suyuthi 1993, hlm. 22). Kenyataan dalam sejarah bahwa pada periode ini benar­-benar tercipta sebuah peradaban gemilang.

Pasca wafatnya Nabi Muhammad tahap selanjutnya melahirkan 4 (empat) khalifah yang benar – khulqfaurrasyiddin – Abu Bakar As Sidhiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib yang merupakan sebuah tahap revitalisasi ajaran dan penguatan akidah serta meneruskan proses yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Integritas para sahabat penerus Nabi ini sangat diakui dalam berbagai perspektif. Seperti ditegaskan oleh C.E.Bosworth bahwa “Periode empat khalifah dipandang sebagai zaman emas, suatu zaman ketika kebijakan-kebijakan Islam yang murni berkembang pesat, dan karena itulah gelar ‘yang mendapatkan bimbingan di jalan lurus’ diberikan kepada mereka” (C.E. Bosworth 1993, h1m. 24).

Tahapan selanjutnya adalah masa klasik yang pesat perkembangan terjadi periode 650-1250 M, masa ini oleh para ahli sejarah disebut masa klasik dalam sejarah perkembangan Islam. Umat Islam pada periode ini disebut “super power” yang berkuasa di sebagian besar negara-negara di tiga benua : Asia, Afrika dan Eropa. Wilayah kekuasaanya mencapai Spanyol di sebelah Barat dan India di sebelah Timur, daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabiah, Irak, sebagian Asia kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia tenggara (Murodi dkk 1995, h1m. 33).

Masa ini merupakan masa kemajuan pertama yang dimulai dari tahun (550-1000 M, dan sekaligus mengalami masa disintegrasi kekuatan Islam yang terjadi sejak tahun 1000-1250 M. Zaman keemasan Islam terjadi dalam berbagai aspeknya yakni masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah lahir 750 M- 1250 M. Pada kedua periode ini menghasilkan para ahli bidang ilmu yang sangat berpengaruh antara lain : Washil ibn Atha’, Zunnun al-Mishri, Abu Yazid al Busthami, Ibn Miskawaih, Ibn Bajjah, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd, Imam Al Ghazali, Imam Malik, Abu Hanifah, Imam Syafii, Ibn Hanbal, al Asyari, al Kindi, al Razi, al Farabi, al Maturidi dan Ibn Sina. Tokoh-tokoh ini menjadi simpul sejarah dunia Islam yang secara komprehensif bergerak dalam bidang dakwah Islam dan kehidupan nyata secara totalitas. Tokoh-tokoh ini benar-benar signifikan terutama membangun keseimbangan antara rasionalitas dan spritualitas. Tokoh-tokoh ini selain kuat dalam bidang pemikiran, juga kuat di bidang rasa, sehingga tidak dapat diragukan lagi bahwa mereka juga tergolong orang yang memiliki akhlak yang tinggi.

Namun sesudah masa ini, umat Islam dilanda perpecahan dan kejumudan membawa kemunduran. Kondisi ini disebabkan selain daerah-daerah yang tadinya berada ditangan umat Islam menjadi jajahan Barat, pada masa ini tidak banyak diketemukan lagi tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti masa sebelumnya yang memiliki akhlak tinggi.

Walau setelah masa ini, sempat memunculkan ide-ide kebangkitan dan tokoh-tokoh pembaharu yang membawa persatuan umat pada masa tiga Dinasti Besar (Disnati Turki Usmani, Safawi dan Mughol), namun pada awal abad ke-19 kekuasaan, wibawa dan kemakmuran tiga dinasti Islam tersebut berangsur menurun dan mundur. Beriringan dengan itu, banyak wilayah dunia Islam seperti benua Afrika, Timur Tengah dan India muncul pemikir-pemikir pembaharuan seperti Jamaluddin Afghani, Muhammad Abduh, Hasan al ­Bana dan Bediuzzaman Said Nursi1. Memang kebangkitan itu begitu sulit dicapai karena sampai sekarang diakui langsung atau tidak langsung, mereka yang berusaha keluar dari dominasi Barat masih menemui kesulitan yang sangat mendalam (Bandingkan uraian Harun, 1990, hlm. 12-14). Disamping gagasan pembaharuan, para tokoh ini secara konsisten menjelaskan mengenai “hari akhir” dan penguatan akidah islamiah. 2

Salah seorang tokoh yang konsisten terhadap permasalahan umat di atas adalah Said Nursi dari Turki salah satu tokoh penting pada akhir abad ke-19. Said Nursi hadir untuk menjadikan umat ini beriman dan berakhlak mulia dan kembali berjaya sebagaimana jayanya umat Islam dahulu dan dapat mengamalkan agama sebagaimana para sahabat, Imam Malik mengatakan: “Tidak akan  pernah menjadi baik umat pada kurun  (abad) terakhir ini kecuali dengan cara perbaikan pada kurun umat yang terdahulu, yakni cara yang dibuat oleh Rasulullah SAW yang diteruskan oleh para sahabat (Hasan 2004, hlm.735). Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah pada abadku (sahabat) kemudian setelahnya (tabi’in) kemudian setelahnya (tabi’ut tabi’in)” (HR. Bukhari, Muslim). Ahmad dan Al-Makki (1998, hlm. 38) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan masa sahabat adalah kurang lebih 120 tahun setelah bi’tsah atau wafatnya sahabat terakhir yaitu Abi Thufan ra. Kemudian orang-orang setelahnya, yaitu masa setelah sahabat adalah tabi’in masanya sekitar 70-80 tahun. Kemudian orang-orang setelah tabi’in adalah pengikut tabi’in, masanya sekitar 50-220 tahun.

Said Nursi muncul sebagai pembaharu yang ingin mengadakan perbaikan untuk “menyelamatkan iman dan Islam”. Said Nursi memiliki karakter pemikiran yang memihak kepada keimanan, pemahaman al-Qur’an, hari akhir dan integralitas keilmuan. Said Nursi adalah sosok pemberani dan gigih memperjuangkan umat Islam di Turki pada masa akhir kerajaan Turki Usmani yang mencetuskan gagasan pembelaan terhadap agama dan kehidupan sosial-kemasyarakatan. Said Nursi merupakan salah satu orang besar yang berani menghadapi dan menyelamatkan umat manusia dari berbagai peristiwa berdarah dan penyimpangan terhadap fitrah manusia. Said Nursi juga menghalangi manusia agar tidak terjatuh ke dalam atmosfir kehancuran dalam kebudayaan mereka (Ihsan Kasim 2003, hlm. v). Said Nursi adalah salah satu tokoh yang mampu bertahan dari berbagai upaya Barat “menghancurkan” umat Islam dan akhlak umat. Bahkan sampai muncul Republik Turki, ia tetap konsisten berjuang menentang sekuleriasasi di Turki hingga menghasilkan sebuah karya “Risale-i Nur” yakni tulisan setebal 6000 halaman yang memuat pemikiran-­pemikiran tentang esensi keimanan dan nilai-nilai akhlak di abad ini. Said Nursi menginginkan adanya pembaharuan di Turki pada bidang pendidikan dan moralitas umat, yang waktu itu sudah mulai dirusak oleh Mustafa Kemal Attaruk (Wawancara Fatih, 2005). Karena itu, Said Nursi tampil dengan model sufi modern yang memadukan antara rasionalitas dan spritualitas, dalam konteks ini dapat dikatakan sebagai rangkaian proses pendidikan akhlak.

Said Nursi dalam berbagai tekanan tersebut tidak kenal menyerah dengan tantangan dan penderitaan yang dialaminya dari penjara ke penjara, berbagai musuh menghadang. Walaupun otoritas negara yang kuat dan mekanisme pendidikan Islam yang ada di Turki saat itu dipengaruhi oleh sekulerisme yang disosialisasikan oleh Mustafa Kemal Atatruk, tapi Said Nursi tetap melakukan usaha menumbuhsuburkan ajaran Islam dan perbaikan dalam bidang pendidikan Islam, terutama upaya membumikan nilai-nilai akhlak di Turki.

Media Said Nursi dalam berdakwah adalah Risale-i Nur dan mengelola pengajian­pengajian. Sebab bagi Said Nursi meminjam istilah Syafii Anwar penyebaran Risale-i Nur merupakan “realisasi menyeluruh bagi para pemikir dan praktisi pendidikan yang handal yang mampu membentuk manusia yang unggul secara intelektual, kaya dalam amal, serta anggun dalam moral dan kebijakan” (Syafii 1995, hlm. 153-154). Karenanya, Said Nursi berkeyakinan bahwa penyebaran Risale-i Nur merupakan realisasi menyeluruh bagi umat manusia dalam rangka membentuk kepribadian manusia yang seimbang rasionalitas, spritualitas dan kaya akan amal.

Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa periode kemunduran menyebabkan para pemikir untuk tampil mencarikan pemecahannya secara mendalam. Namun pada akhirnya, diagnosa awal dapat dikatakan bahwa penyakit umat terlalu kompleks dan beragam. Pada kondisi ini tampillah Said Nursi yang menjawab seluruh permasalahan umat. Pendidikan merupakan kunci utama untuk menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat yang ada saat ini, khususnya pendidikan akhlak yang merupakan inti dari proses pendidikan.

Dalam kerangka pembinaan generasi muda Said Nursi merealisasikan ide pendidikan akhlak melalui Dershane yang dilakukan oleh Nur Jamaah3. Perkumpulan ini memuat beberapa garis besar kegiatan sebagai berikut :

  1. Mengkaji konsep interaksi kemodernan dan relegius;
  2. Berniat menegakkan kembali keruntuhan kerajaan Usmani dengan kembali kepada tradisi keilmuwan yang integralistik;
  3. Mengadakan kegiatan conversation (perbincangan), dan reading (membaca) tulisan Risale-i Nur;
  4. Menyebarluaskan ajaran Risale-i Nur kepada masyarakat;
  5. Mendirikan asrama yang menjadi pusat pendidikan. (Hakan, ilmi com.).

 

Secara garis besar kutipan di atas, kegiatan ini memiliki relevansi terhadap pengembangan pendidikan akhlak generasi muda yang menjadi perhatian utama dalam penelitian ini. Harus diakui bahwa pendidikan akhlak sebagai salah satu inti dari proses pendidikan dan bagi kemajuan suatu bangsa, maka pembaharuan di bidang pendidikan mutlak untuk diadakan karena maju mundurnya suatu negara diukur dari pendidikan dan out putnya.

Berdasarkan pemahaman di atas, maka kami mencoba mempelajari pemikiran Said Nursi yang hidup abad ke-20 yang juga dipandang sebagai pendidik bagi generasi penerus yakni Said Nursi. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pemikirannya dalam bidang akhlak, khususnya yang berkaitan dengan prinsip-prinsip pendidikan akhlak untuk menyongsong kebangkitan Islam di era persaingan global saat ini3. Dan juga bertujuan untuk mengetahui beberapa alternatif yang ditawarkan dalam membangun kerangka pemikiran pendidikan akhlak dan implementasinya yang menjadi “obat penawar” bagi penyakit yang diderita oleh umat Islam sampai saat ini.

Dalam kajian ini muncul pertanyaan mendasar yakni apakah ada prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Bediuzzaman Said Nursi ?. Peneliti berasumsi bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi ada, walau harus diakui bahwa pemikirannya tersebut tidak dirumuskan secara sistematis yang dapat dilihat dan dianalisis dari kitab tafsirnya Risale-i Nur. Untuk memperkuat asumsi ini, maka dirumuskan 5 (lima) faktor yang melatarbelakanginya yakni :

Pertama, faktor personal. Sebuah karya tidak akan terlepas dari penulisnya. Baik dalam alur pikir maupun sikap sehari-harinya. Maka sesuai dengan kajian mengenai pendidikan akhlak, diasumsikan bahwa ditulisnya Risale-i Nur tidak terlepas dari pengalaman pribadi penulisnya dan pergulatan pemikirannya. Secara personal menurut peneliti dalam Risale-i Nur tak terlepas dari nilai-nilai akhlak yang akan ditegaskan dalam defenisi operasional. Berdasarkan kategori dalam aliran pendidikan akhlak yakni pendidikan akhlak rasional dan mistik, diasumsikan bahwa penulisnya senantiasa mempraktekkan akhlak mulia dan juga diasumsikan beliau menerapkan kedua konsep tersebut sekaligus yakni rasional dan mistik. Secara rasional dapat dipahami kedalaman ilmu penulisnya ketika peneliti membaca Risale-i Nur secara. teliti. Secara mistik ilmu yang didapat tidak sekedar dengan akal tapi dengan intuisi yang dalam epistimologi Islam dan Aristotelian merupakan bagian dari metode ilmiah (Lihat Mulyadhi 2003, hlm.63). Maka dapat dikatakan berdasarkan faktor personal bahwa Risale-i Nur ditulis karena Said Nusri adalah seorang moralis dan rasionalis.

Kedua, faktor tekstual. Pada penelitian pertama dapat dijelaskan bahwa keunikan Risale-i Nur terlelak pada : a) Faktor bahasa, bahasa yang digunakan adalah bahasa Turki yang dipengaruhi oleh kondisi kenegaraan, yang berubah secara drastis, ketika “kekhalifahan Turki Usmani” dinyatakan runtuh. Secara keseluruhan bahasa yang digunakan adalah bahasa Turki Modern Mustafa Kemal Attatruk, tapi patut dijelaskan keunikan bahasa dalam Risala-i Nur melibatkan banyak bahasa. Selain bahasa Turki, bahasa dalam Risala-i Nur di antaranya, bahasa Persia, Prancis, Jerman, Inggris, Kurdi, Arab dan khususnya bahasa Ottoman (bahasa pada masa Turki Usmani). b) Faktor mantik atau analogi4. Mantik disini bisa diartikan secara filosofis dan hikmah. Dalam Risale-i Nur banyak terdapat kata-kata dan kalimat-kalimat mantik yang memiliki banyak penafsiran, sehingga peneliti harus memiliki pemahaman terhadap bahasa mantik. c) Faktor sistematika penulisan. Penulisan Risala-i Nur ada sebagian dimulai dengan bismihi subhanahu wan inminsyain illah yusabbihu bihamdihi kalimat yang mengawali bab dalam Risala-i Nur dan mengakhirinya dengan subhanaka laa ilma lana illa maa alamtana innaka antal alimul hakim, dan terkadang paling akhir ditulikan al-Baqi Huwalbaqi. Hal ini mengindikasikan kesucian diri penulisnya dan paham ketuhanan yang dalam. Di samping itu, sistematika penulisan yang sangat mengandung makna terhadap realitas sejarah umat manusia.

Ketiga, faktor ideologis5 ditulisnya Risale-i Nur adalah untuk melawan ideologi modernisme yang digusung oleh Barat yang membawa umat manusia kepada materialis, sekuleris, liberalis, komunis bahkan ateis. Faktor ideologis inilah yang mendorong Said Nursi menulis Risela-i Nur. Jalan yang ditempuh adalah “kembali ke al-Qur’an dan as-Sunah” tapi tidak seperti aliran wahabi6 ataupun pan islamisme yang didengungkan oleh Jamaluddin al-Afgani7.­

Keempat, faktor politis, ditulisnya Risale-i Nur adalah dalam konteks masyarakat Turki yang Islam untuk menentang pemerintahan sekuler yang dibentuk oleh Inggris yakni sebuah revolusi politik dari sistem kekhalifahan diubah menjadi sistem demokrasi republik yang menerapkan hukum-hukum Prancis, Inggris dan khususnya banyak mengadopsi hukum-hukum sekuler Swiss. Dampaknya adalah secara sosial-kultural terjadi revolusi sosial besar-besar di Turki. Jalan yang ditempuh Said Nursi adalah “menjauhi politik” (Said Nursi 2003b, hlm. 71).

Kelima, faktor sosial-kultural, munculnya Risale-i Nur untuk menyelamatkan masyarakat Turki yang muslim dengan menentang revolusi sosial yang berasal dari revolusi politik oleh Mustafa Kemal Attaruk. Revolusi sosial itu sangat tampak misalnya : memberikan keluasan posisi perempuan di antara laki-laki (fenimisme, yang mengadopsi kebebasan di Barat), modernisasi cara berpakaian khususnya perempuan, melarang penggunaan peci, pelarangan jubah, pelarangan sorban (sarek), pelarangan azan (harus dengan bahasa Turki), penutupan madrasah, pelarangan jilbab, penggunaan nickname (lakap atau gelar), mengadaptasi kalender internasional (kalender Masehi) dan mengadopsi hukum-hukum sekuler. Tidak ketinggalan juga perubahan bahasa Arab ke bahasa Turki. Bahkan yang paling tragis adalah “pembantaian 100 ribuan ulama dan alimin”. Jalan yang ditempuh Said Nursi adalah mempertahankan prinsip-prisip dasar ajaran Islam dari trend materialistik dan ateistik.

Kelima alasan di atas inilah yang menjadi dasar penelitian ini, yakni pembicaraan mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda Said Nursi dalam membentuk manusia yang mulia, berakhlak mulia. Persoalan ini akan terkait secara langsung dengan persoalan politik dan sosial-kultur Said Nursi dalam membentuk pandangan dasar yang menjadi gagasan dasar atau ideologi menjelma menjadi doktrin­-doktrin dari Risale-i Nur. Pembahasan ini juga berupaya menjelaskan relevansinya dengan pembinaan akhlak generasi muda yang dapat diterapkan secara, teoritik dan praktek di masa sekarang dan masa depan.

Adapun di antara alasan pentingnya pemikiran Said Nursi di bidang pendidikan akhlak dapat diungkapkan beberapa pertimbangan sebagai berikut : Pertama, Risale-i Nur karya Said Nursi merupakan tafsir al-Qur’an yang secara konsisten membicarakan penguatan iman dan al-Qur’an dengan jalan ikhlas, takwa dan sedekah. Karya ini juga membahas secara mendalam mengenai akhlak Rasulullah dalam berbagai tulisannya Risale-i Nur yang berorientasi kepada perubahan pola pikir dan laku untuk memahami dan mengimani secara mendalam tanda-tanda hari kiamat dan keberadaan hari kiamat.

Kedua, masalah etika secara khusus dibahas pada Simposium Internasional di Turki yang ke-6 tahun 2002 yang dikoordinir oleh The Istanbul Foundation for Sciance and Culture. Di samping itu dalam sepanjang pelaksanaan Simposium dan diskusi panel oleh The Istanbul Foundation for Sciance and Culture ini selalu menyertakan tema etika. Satu buku kumpulan Simposium Internasional yang ke-6 mendorong perlunya membahas mengenai akhlak dan juga tulisan Faris Kaya yang mengungkapkan mengenai etika dalam Risalei-Nur. Etika yang dimaksud oleh Faris Kaya mengungkapkan bahwa akhlak dalam sejarah dunia memang sangat penting. (Faris, 2004, hlm. 8-10).

Ketiga, diasumsikan bahwa pemikiran akhlak Said Nursi memberikan peranan signifikan dalam aktivitas kehidupannya. Pemikiran semacam ini merupakan hasil refleksi dan pemahaman terhadap suatu teologi yang mendalam mengenai Asma Allah dan sifat­-sifat-Nya yang membentuk kerangka pikir dan sikap perilaku. Diyakini bahwa Said Nursi adalah sosok pemikir sekaligus sufi yang memadukan konteks teologi, tasawuf dan akhlak dalam realitas kehidupan. Paham ini diilhami kemutlakan Tuhan dalam diri manusia dengan catatan bahwa akal memiliki peran penting dalam refleksi untuk menyempurnakan keyakinan dari refleksi hati. Artinya paham yang dianut Said Nursi berdekatan dengan upaya ma’rifatullah dalam perspektif yang luas. Sementara itu dapat diasumsikan bahwa teologi Said Nursi adalah rasional-spritual. Maka, dalam konteks pendidikan akhlak selalu memadukan akal dan hati untuk melakukan pendekatan ajaran Islam secara universal.

Keempat, perkembangan ilmu dan teknologi. Yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan zaman saat ini adalah perkembangan ilmu, teknologi, komunikasi dan informasi. Kebutuhan-kebutuhan ini yang menyebabkan dunia semakin global. Selain berdampak positif juga berdampak negatif. Di antara dampak negatif globalisasi ini antara lain adalah semakin banyaknya alternatif bagi ukuran akhlak manusia yang cenderung bermuatan materialistik dan intelektualistik semata. Akibatnya, hal-hal yang bersifat spritualistik cenderung diabaikan. Dengan demikian, kemampuan memilih berbagai alternatif secara kritis melalui pemahaman, teologi rasional dan spritual semakin dinilai penting dan mendesak.

Kelima, tanda-tanda akhir zaman, pentingnya pengkajian ini juga disebabkan titik nadir masyarakat global berdasarkan paham keagamaan menunjukkan tanda-tanda akhir zaman. Dalam konteks itulah sebagai makhluk beragama harus mewaspadai itu dan berupaya mengantisipasi dan merubah pola pandangan hidup. Karena persoalan “krisis moral” merupakan entry point dari munculnya pembaharu (mujadid) untuk menyelamatkan umat dari “melupakan” Tuhan.

Berdasarkan pertimbangan beberapa pemikiran dan urgensi penelitian di atas maka dapat diambil pemahaman bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak menurut Said Nursi layak untuk dibahas, dikaji dan diungkap.

 

Rumusan Masalah

Sesuai latar belakang masalah sebagaimana di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

  1. Apa prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Bediuzzaman Said Nursi?
  2. Bagaimana relevansi prinsip-prinsip pendidikan akhlak menurut Bediuzzaman Said Nursi dengan pembinaan akhlak generasi muda ?

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui prinsip-prinsip pendidikan akhlak menurut Bediuzzaman Said Nursi.
  2. Untuk mengetahui relevansi prinsip-prinsip pendidikan akhlak Bediuzzaman Said Nursi dengan pembinaan generasi muda.

 

Kegunaan Penelitian

Setidaknya ada 2 (dua) kegunaan dari penelitian ini yaitu secara teoritis dan praktis. Secara teoritis, untuk memberikan informasi kepada peneliti tokoh Said Nursi lanjutan dalam mengkaji dan mengetahui tentang konsep pendidikan akhlak yang pernah dihasilkan oleh Said Nursi sebagai tokoh filosof sufi modern yakni sebagai upaya pengungkapan khazanah intelektual muslim abad ke-20an yang dapat dijadikan inspirasi dan motivasi bagi munculnya kejayaan Islam kembali.

Kemudian dalam kaitannya dengan ilmu pendidikan akhlak upaya penelitian ini akan bermanfaat untuk memberikan motivasi bagi diadakannya pembahasan-pembahasan lebih lanjut tentang akhlak Islam secara filosofis untuk menemukan teori baru di bidang pendidikan akhlak. Penelitian ini juga berguna sebagai salah satu bahan pemikiran untuk mengantisipasi bentuk pendidikan akhlak yang terintegrasi dalam semua disiplin bidang pendidikan.

Secara praktis, dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, maka ilmu pendidikan akhlak dapat memberikan manfaat untuk memberikan motivasi bagi pembahas-pembahas lanjutan yang berfungsi untuk memberikan informasi kepada masyarakat, mahasiswa, pelajar dan lain sebagainya, terkhusus bagi masyarakat luas yang ingin mengetahui tentang prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi. Penelitian ini dapat pula dijadikan sebagai salah satu bahan pemikiran untuk mengantisipasi bentuk pendidikan akhlak yang terintegrasi dalam semua bidang ilmu dan pendidikan.

 

 

 

Definisi Operasional

Guna mencapai pemahaman arah dari penelitian ini, maka ada beberapa istilah yang perlu diuraikan sebagai defenisi operasional di antaranya :

Istilah “Prinsip-prinsip” berasal dari bahasa Inggris principle secara leksikal berarti : 1) Dasar kebenaran; hukum-hukum sebab akibat; 2) tuntunan peraturan untuk tingkah laku moral (Hornby 1974, hlm. 664). Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata itu berarti “dasar, asas (kebenaran yang menjadi dasar berpikir, bertindak dan sebagainya)” (Departemen P dan K 1991, hlm. 788). Secara filosofis kata itu mengandung arti kebenaran-kebenaran yang fundamental dari suatu kandungan doktrin atau dasar apa saja yang berkaitan dengan tingkah laku manusia (Hasting t.th., 336). Pengulangan istilah prinsip dalam judul yaitu prinsip-prinsip dalam bahasa Inggris principles (dalam bentuk jamak) mengandung arti ada beberapa dasar, asas adalah jamak dari prinsip. Prinsip adalah suatu komitmen yang mendalam terhadap sesuatu yang diyakini kebenarannya.

Istilah “Pendidikan Akhlak” terdiri dari 2 (dua) kata yaitu pendidikan dan akhlak. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda, namun istilah pendidikan akhlak menunjukkan adanya proses pembentukan seorang manusia agar memiliki akhlak. Untuk memahami istilah ini, maka perlu memahami terlebih dahulu kata “Pendidikan”.

Dalam bahasa Arab istilah pendidikan digunakan untuk berbagai pengertian, antara lain tarbiyah, tahzib, ta’lim, ta’dib, siyasat, mawa’izh, ‘ada ta’awwud dan tadrib. Sedangkan untuk istilah tarbiyah, tahzib dan ta’dib sering diartikan pendidikan. Ta’lim diartikan pengajaran, siyasat diartikan siasat, pemerintahan, politik atau pengaturan. Muwa’izh diartikan pengajaran atau peringan. ‘Ada ta’awwud diartikan pembiasaan dan tadrib diartikan pelatihan.

Di antara mereka yang menjadikan istilah-istilah di atas untuk tujuan pendidikan yakni Ibn Miskawaih dalam tahzibul akhlak, Ibn Sina memberi judul salah satu bukunya kitab al siyasat, Ibn al-Jazzar al-Qairawani membuat judul salah satu bukunya berjudul siyasat al-shibyan wa tadribuhum, dan Burhan al-Islam al-Zarnuji memberikan judul salah satu karyanya Ta’lim al-Mula’allim tharik at-ta’alum. Pada dasarnya para ahli tidak mempersoalkan penggunaan istilah ini.

Al-Attas mendefinisikan pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia. Suatu proses “penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” secara bertahap “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan; dan “diri manusia” mengacu pada penerima proses dan kandungan itu (Al Attas 1994, hlm. 35).

Istilah yang dikemukakan di atas mengandung tiga unsur dasar yang membentuk pendidikan, yaitu proses, kandungan, dan penerima. Tetapi semuanya itu belum lagi suatu definisi, karena unsur-unsur tersebut masih begitu saja dibiarkan tidak jelas. Lagi pula cara merumuskan kalimat yang dimaksudkan untuk dikembangkan menjadi suatu definisi sebagaimana di atas, memberikan kesan bahwa yang ditonjolkan adalah prosesnya (Al Attas 1994, hlm. 36). Jadi dapat dirumuskan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang secara bertahap ditanamkan ke dalam manusia.

Sedangkan kata “akhlak” dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan akhlak, moral, etika, watak, budi pekerti, tingkah laku, perangai dan kesusilaan. Akhlak jamak dari khuluq yang berarti adat kebiasaan (al-‘adat), perangi, tabi’at (at-jiyyat), watak (at-thab ), adab atau sopan santun (al-muru’at), dan agama (al-din). Istilah-istilah akhlak juga sering disetarakan dengan istilah etika. Sedangkan kata yang dekat dengan etika adalah moral.

Jadi dapat dipahami bahwa akhlak adalah kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara spontan, tanpa pemikiran atau pemaksaan. Sering pula yang dimaksud akhlak adalah semua perbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik dan buruk.

Dengan demikian yang dimaksud dengan istilah “Pendidikan Akhlak” dalam penelitian ini adalah “suatu proses menuju arah tertentu yang dikehendaki sesuai dengan landasan akhlak yang mengarahkan pada terciptanya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang (seperti Nabi) dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya”.

Istilah “Generasi Muda” secara etimologi berasal dari dua kata, yaitu generasi dan muda. Kata “generasi” berarti angkatan atau turunan (Dep P dan K 1999, hlm. 309); dan kata “muda” yang berarti belum lama ada (Dep P dan K 1999, hlm. 667). Generasi muda berarti angkatan atau turunan yang belum lama hidup. Dalam pengertian pertama ini nampaknya belum begitu jelas apa esensi generasi muda yang dimaksud dalam pembahasan ini.

Kata generasi muda tidak cukup diartikan berdasarkan ilmu kebahasaan (etimologi) saja, tetapi perlu dilihat arti secara terminologi (istilah). Menurut Suraiya, generasi muda adalah bagian suatu generasi yang sedang menjalani giliran mengelola kehidupan masyaranat dan kenegaraan (Suraiya 1985, hlm. 2). Suryono Sukanto mengartikan generasi muda adalah sekelompok orang muda yang lahir dalam jangka waktu tertentu (Suryono 1993, hlm. 201). Selanjutnya Hartini dan Kartasapoetra menamakan generasi muda sebagai angkatan kaum muda (Hartini dan Kartasapoetra 1992, hlm. 166).

Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan, bahwa generasi muda adalah kelompok, golongan, angkatan, kaum muda yang hidup dalam jangka waktu tertentu, di mana mereka memiliki tugas untuk melanjutkan pembangunan bangsanya sebagaimana tugas-tugas para angkatan yang hidup sebelum mereka.

Dari beberapa defenisi operasional di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian judul tesis ini adalah “Suatu komitmen yang mendalam mengenai kehidupan menuju arah terciptanya perilaku lahir dan batin yang seimbang (seperti Nabi) bagi generasi muda menurut pemahaman Bediuzzaman Said Nursi”.

 

Tinjauan Pustaka

Berdasarkan kajian dan pemeriksaan kepustakaan yang ada tentang Said Nursi, diakui bahwa ada beberapa peneliti yang telah menulis dan mengkaji sebagian pemikiran Said Nursi, khususnya dalam berbagai aspek. Dalam bentuk kajian tesis terdapat sekitar 8 negara yang membahas mengenai Said Nursi.11 Terkait penelitian ini peneliti akan meninjau beberapa pustaka sebagai berikut :

  1. Kajian “Model-model Pendidikan Bediuzzaman” oleh Halit Ertugrul (1994), telah memperkenalkan karya tentang Bediuzzaman Said Nursi berjudul ; “Egitimde Bediuzzaman Modeli”. Dalam karya berbahasa Turki ini, Ertugrul membuat suatu kesimpulan, bahwa Said Nursi meliliki model tersendiri dalam pendidikan Islam, yaitu penekanan terhadap aspek akidah, menggunakan metode pengulangan, pendalaman, dan pemahaman. Keutamaan model pendidikan Said Nursi adalah terletak pada kemampuan ia menggunakan argumentasi rasional untuk menunjukkan hakikat kebenaran.
  2. Tulisan karya Adem Tatli, 1992 dalam sebuah makalah yang berjudul : “Badiuzzanian Education Method”. Makalah ini dipersentasikan pada seminar Simposium ke II tentang Bediuzzaman Said Nursi pada 27-29 September 1992 di Istambul. Suatu catatan penting dari makalah ini memuat tentang 13 tawaran Said Nursi untuk dijadikan basis epistemologis penegakkan sistem pengajaran.
  3. Sementara Sakir Gozutok (2000, hal. 404-412), dalam makalahmya yang berjudul; The Risale-i Nur in The Context of Educational Principles and Methods”, menemukan beberapa metode pendidikan yang dipakai Said Nursi dalam Risale-i Nur, yaitu The Direct Lecturing Method, The Question and Answer Method, The Active Learning Method, dan Observational Method (External Observation and Inward Observation).

Walaupun dua karya tersebut cukup signifikan untuk melengkapi data penulisan tesis ini, namun sisi kelemahannya mungkin terletak pada titik tekan Said Nursi dalam membentuk berkepribadian berakhlak mulia tidak dilakukan oleh para peugkaji-pengkaji Said Nursi secara detail, baik dalam kegiatan pendidikan informal, maupun dalam bentuk formal. Ertugrul dan Tatli masih dalam tataran umum mengkaji pola pendidikan dihubungkan dengan basis penegakan sistem pengajaran, meliputi landasan filosofis, kurikulum, guru, metode, siswa, pengelolaan kelas, dan aktifitas pergerakan siswa. Sedangkan pada tahap konseptualisasi nilai-nilai akhlak, realisasi nilai-nilai tersebut belum dilakukan secara maksimal, atau pengkajian tentang akhlak belum dilakukan secara mendalam.

Pemetaan kajian di atas, dimaksudkan ingin melihat penelitian-penelitian yang sudah dilakukan untuk mendukung dan diharapkan menjelaskan posisi penulis dalam mengambil fokus kajian penulis. Semua kajian di atas, jika diteliti secara langsung atau tidak langsung menyinggung persoalan keimanan, akhlak dan ibadah yang menjadi fokus dari kajian penulis dalam membangun prinsip-prinsip pendidikan akhlak secara teologis.

Dari beberapa literatur dan tulisan mengenai pemikiran Said Nursi di atas, dapat penulis tegaskan bahwa sejauh pengamatan kami pembahasan tentang prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi belum ada. Karena itu, penelitian kepustakaan yang akan kami lakukan ini adalah suatu usaha untuk mengkaji secara mendalam mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi tersebut.

Penelitian dan karya ilmiyah yang dikemukakan diatas tidak sama dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Perbedaan penelitian dan karya ilmiyah tersebut dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah pada materi pembahasannya. Penelitian sebelumnya pada umumnya membahas masalah mosel-model pendidikan, metodologi pendidikan, dan prinsip metode pendidikan, sedangkan penelitian yang akan penulis lakukan adalah mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi.

 

Kerangka Teori

Dalam rangka memperjelas arah dari penelitian ini, khususnya yang berkaitan dengan “prinsip-prinsip pendidikan akhlak”, jika dikaji secara teoritis, maka dalam penelitian ini secara spesifik peneliti mengemukakan teori-teori yang berhubungan dengan pendidikan akhlak sebagai berikut :

Teori pendidikan akhlak” secara teoritis pendidikan akhlak pada dasarnya bertitik tolak dari urgensi akhlak dalam kehidupan. Tokoh yang menganggap pentingnya pendidikan akhlak adalah Oemar Bakry, menurutnya “ilmu akhlak akan menjadikan seseorang lebih sadar lagi dalam tindak tanduknya. Mengerti dan memaklumi dengan sempurna faedah berlaku baik dan bahaya berbuat salah” (Bakry 1993, hlm. 13-14). Mempelajari akhlak setidaknya dapat menjadikan orang baik. Kemudian dapat berjuang di jalan Allah demi agama, bangsa dan negara. Berbudi pekerti yang mulia dan terhindar dari sifat-sifat tercela dan berbahaya.

Tokoh lain yang menganggap pentingnya pendidikan akhlak adalah Syed Muhammad Nauquib al-Attas dengan menggunakan kata adab atau ta’dib. Al-Attas mengatakan bahwa kebenaran metafisis sentralitas Tuhan sebagai Realitas Tertinggi sepenuhnya selaras dengan tujuan dan makna adab dan pendidikan sebagai ta’dib. Al-Attas menganggap bahwa proses pendidikan sebagai penanaman adab ke dalam diri, sebuah proses yang tidak dapat diperoleh melalui suatu metode khusus. (Lihat Wan Daud 2003, hlm. 77-79).

Selain itu, menurut Ibn Miskawaih akhlak merupakan suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa berpikir atau pertimbangan secara mendalam. Keadaan seperti ini dapat disebut sebagai karekter. Menurutnya keadaan ini ada dua jenis. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak. Kedua, tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Berdasarkan kedua jenis keadaan ini cendikiawan klasik sering berbeda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa karakter dimiliki oleh jiwa yang tidak berpikir (nonrasional). Sementara yang lain berpendapat karakter itu dimiliki oleh jiwa berpikir (rasional).

Berdasarkan kedua jenis karakter dan kedua pendapat di atas Ibn Miskawaih menegaskan bahwa akhlak yang alamiah dan sudah menjadi watak dapat berubah cepat atau lambat melalui disiplin serta nasehat-nasehat mulia. Karena menurutnya pendapat pertama menyebabkan tidak berlakunya fakultas nalar, tertolaknya segala bentuk norma dan bimbingan, kecenderungan orang kepada kekejaman dan kelalaian serta banyak remaja dan anak-anak berkembang liar tanpa nasehat dan pendidikan. Ini tentu saja sangat negatif (Ibn Miskawaih 1997, him. 56-57). Berdasarkan inilah Ibn Miskawaih menganggap perlu adanya pembinaan jiwa secara intentif dengan daya-daya akal. Pembinaan inilah yang dapat dikatakan sebagai (tahzih al-Akhlaq) pendidikan akhlak.

Menurut Suwito yang mengutip pendapat M. Amin Abdullah bahwa kalau dibandingkan dengan mahzab pemikiran di bidang pendidikan akhlak maka secara umum pendidikan akhlak dapat dibagi dua, pendidikan akhlak mistik dan pendidikan akhlak rasional. Pembedaan pendidikan akhlak kepada mistik dan rasional bukannya tidak memiliki konsekuensi. Sebagaimana dalam teologi rasional, akhlak rasional dapat membawa konsekuensi bagi pertumbuhan kreatifitas dan inisiatif, sedangkan akhlak mistik kurung mendorong manusia untuk dinamis (Suwito 1995, hlm.10).

Oleh sebab itulah, yang dimaksud dengan pendidikan akhlak rasional yang memberi lebih kuat kepada pendidikan daya pikir (rasio) manusia, sedangkan pendidikan akhlak mistik memberikan porsi lebih kuat kepada pendidikan daya rasa pada diri manusia. Distingsi ini bermanfaat bagi konsekuensi yang ditimbulkan. Konsekuensi pada pendidikan akhlak rasional memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia dinamis. Adapun konsekuensi yang diperoleh dari pendidikan akhlak mistik kurang memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia yang dinamis.

Namun, pendidikan akhlak tidak masuk dalam kategori institusi sebagaimana di atas, karena hakekat pendidikan akhlak adalah inti semua jenis pendidikan. Pendidikan akhlak mengarah pada terciptanya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya. Dengan demikian, pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik dalam pengertian harus menjadi nama bagi suatu mata pelajaran atau lembaga melainkan terintegrasi ke dalam berbagai mata pelajaran atau lembaga.

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa pendidikan akhlak dalam penelitian ini ditinjau melalui 2 (dua) aliran, yakni rasional dan mistik (Abdullah 1997, hlm. 125). Akhlak termasuk unsur immaterial, yakni unsur rasio dan rasa. Oleh sebab itulah, yang dimaksud dengan pendidikan akhlak rasional yang memberi lebih kuat kepada pendidikan daya pikir (rasio) manusia, sedangkan pendidikan akhlak mistik memberikan porsi lebih kuat kepada pendidikan daya rasa pada diri manusia. Distingsi ini bermanfaat bagi konsekuensi yang ditimbulkan terhadap perlaku manusia.

Karena itu, maka konsekuensi pada pendidikan akhlak rasional memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia dinamis. Adapun konsekuensi yang diperoleh dari pendidikan akhlak mistik kurang memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia yang dinamis.

Namun, dalam kajian penelitian ini justru keduanya dipadukan untuk melengkapi satu dengan yang lainnya. Secara teoritis dapat dikatakan bahwa pendapat Amin Abdullah menjadi landasan kajian ini dalam memadukan aspek-aspek akhlak dalam diri manusia.

 

 

Metodologi Penelitian

Untuk memperoleh data yang diperlukan, mengolah dan menganalisis data, maka langkah-langkah yang perlu dijelaskan terkait dengan hal-hal teknis dalam metodologi penelitian ini, sebagai berikut :

 

Jenis Penelitian

Penelitian ini dari segi objeknya adalah penelitian pustaka (library research) dan penelitian lapangan (field research). Disebut penelitian pustaka karena objeknya adalah pemikiran yang tertuang dalam bahan-bahan pustaka berupa buku-buku, arsip-arsip, dokumen-dolumen, jurnal dan majalah ilmiah. Disebut penelitian lapangan karena objeknya adalah pengamatan secara langsung aktivitas keagamaan generasi muda Turki yang mengarah kepada model kajian generasi muda.

Penelitian ini dari segi objek dan tujuannya adalah deskriptif kualitatif. Disebut deskriptif karena tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendiskripsikan pemikiran-pemikiran yang terdapat di dalam buku-buku dan dokumen-dokumen, menjelaskan dan menggambarkan hasil penelitian yang dilakukan pada objek tertentu secara jelas dan sistematis. Disebut kualitatif adalah karena di dalam penjelasan dan uraian-uraiannya tidak menggunakan angka statistik tetapi dengan fakta dan argumentasi.

 

Sumber Data

Sumber data pada penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Adapun data primer adalah data yang langsung dari sumber pertamanya, yaitu pengkajian kitab Risale-i Nur sejumlah lebih kurang 6000 halaman. Penelitian ini mengambil sumber asli yakni dalam bahasa Turki dan Arab. Adapun sumber pemikiran Said Nursi yang dijadikan rujukan adalah 2 (dua) karya dari kumpulan Risale-i Nur. Kedua karya tersebut :

  1. “Lemaalar” (kumpulan cahaya) memuat sebanyak 33 kumpulan cahaya. Berisi ajakan untuk merasakan tetesan cahaya Ilahi yang memantul di setiap aspek kehidupan baik yang profan maupun yang sakral, lahir maupun bathin dan menerangkan bahwa ada hikmah dibalik peristiwa, entah itu anugerah atau bencana yang mana hikmah tersebut akan menyempurnakan kehidupan (spiritual) manusia. (Said Nursi, 2003a). Buku ini mengandung 33 cahaya, membahas peristiwa yang menimpa para Nabi Allah SWT, mengenai kemukjizatan Rasulullah, keutamaan munajat (doa), tentang kabar ghaib dari ayat al-Quran, minhaj as-Sunnah, ma’rifat terhadap Allah dan Rasulullah, pembahasan tentang akhlak, dan lain-lainnya.
  2. “Mektubat” (kumpulan surat-surat) merupakan kumpulan surat-surat 1928-1932 memuat jawaban dan penjelasannya seputar isu-isu penting dalam, Islam tentang isu­-isu teologis, dan kehidupan spiritual yang mana dijelaskan dengan penjelasan yang sangat argumentatif dengan dalil yang menguatkan (Said Nursi, 2003b). Buku ini memuat tentang tingkat kehidupan, rahmat dalam kematian dan kemalangan, Asma Allah SWT, mukjizat Rasulullah SAW, makna mimpi, hikmah penciptaan setan, mengapa harus ada mukjizat dan lain sebagainya. Penyajian buku ini menjawab dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan dengan dalil naqli dan argumentasi serta pendekatan analogi yang aktual dan relevan.

Kedua kitab di atas adalah bagian dan koleksi Risale-i Nur merupakan tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh Said Nursi dalam bahasa Turki dan Arab. Fokusnya kedua kitab ini, walau nanti juga akan diikuti dengan 12 kitab lainnya dalam pembahasan kajian penelitian ini.

Di samping Risale-i Nur, sebagai sumber sekunder digunakan sebagai pendukung ayat-ayat Al-Qur’an dalam kajian ini, dan bila dipandang perlu dilakukan penafsiran untuk mendukung analisa dan pemahaman yang lebih mendalam. Selain itu, yang dapat dijadikan sumber sekunder adalah tulisan-tulisan yang membicarakannya tentang pendidikan akhlak. Adapun yang dapat digunakan sebagai sumber sekundernya berupa buku, majalah, koran, enseklopedia, monograf, jurnal ilmiah, makalah-makalah hasil simposium Internasional dan seminar Internasional hasil-hasil penelitian dan media elektronik (program komputer, CD-ROM atau internet) yang berhubungan dengan penelitian ini sebagai data pendukung fokus penelitian ini.

 

Teknik Penulisan

Teknis penulisan tesis ini berpedoman pada buku tuntutan PPS IAIN Raden Fatah Palembang yang ditulis oleh M. Sirozi dan kawan-kawan (Edisi Revisi) Pedoman Penulisan Tesis, Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 2005. Setelah data selesai dikumpulkan dengan lengkap, selanjutnya data tersebut dianalisa. Analisa merupakan tahap yang penting dan menentukan, karena dalam tahap ini data dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa sampai berhasil dalam menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab persoalan-persoalan dalam penelitian. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa kualitatif Dalam penelitian ini data yang sudah dikumpulkan diolah untuk diklasifikasikan sesuai dengan jenis datanya. Apakah data-data tersebut termasuk sumber primer atau sumber sekunder.

Adapun teknis penulisan tesis ini melalui langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan datanya dimulai dengan proses pengumpulan kitab-kitab dan buku-buku yang berkaitan dengan Risale-i Nur dalam konteks pendidikan akhlak. Setelah data-data terkumpul maka data diteliti untuk mencari fakta yang relevan mengenai pendidikan akhlak menurut Said Nursi. Selanjutnya membaca data-data tersebut sebagai langkah identifikasi konsep-konsep dasar dari pemikiran pendidikan akhlak Said Nursi.

Data kemudian dikelola secara mendalam, pengelolaan analisa ini dimaksudkan untuk menganalisa secara mendalam pemikiran-pemikiran Said Nursi tentang konsep pendidikan akhlak, menganalisa apa-apa saja pemikiran Said Nursi. Kemudian pemikiran Said Nursi yang dijadikan objek direkonstruksi secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, verifikasi, serta menganalisa bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.

Sebagaimana dalam disebutkan bahwa data primer penelitian ini adalah Risale-i Nur orisinil adalah bahasa Turki dan Arab, maka perlu dijelaskan secara teknis penganalisaan bahan-bahan dilakukan dengan cara komperasi bahasa yakni digunakan kombinasi Risale-i Nur yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris, – yang dalam penelitian ini diposisikan data sekunder – hal ini dimaksudkan untuk mempermudah verifikasl dan menarik konklusi.

 

Keterbatasan Penelitian

Sebagal kajian pustaka penelitian ini tetap memiliki keterbatasan yang patut disampaikan di sini, keterbatasan penelitian ini ada faktor bahasa dari segi teks Risale-i Nur, karena Risale­i Nur orisinil adalah bahasa Turki. Sehingga pembahasan penelitian ini digunakan kombinasi Risale-i Nur sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Faktor Tebalnya Risale-i Nur, faktor ini juga menyebabkan kesulitan dalam penelitian ini karena jumlah halaman mencapai 6000 halaman yang terdiri dari 14 jilid. Untuk itu, penelitian ini hanya menggunakan sebagian dari Risale-i Nur yakni 2 kitab saja. Hal ini juga disebabkan faktor keterbatasan waktu studi, keterbatasan waktu studi ini lebih disebabkan adanya keinginan mengkaji risalah nur ini dari bahasa aslinya, yakni bahasa Turki. Namun, waktu satu tahun yang digunakan tidaklah mencukupi. Karena 6 bulan pertama digunakan untuk belajar bahasa Turki dan 6 bulan mulai merancang penelitian dan penulisan, situasi itu pun tidaklah dapat dilakukan secara optimal, karena banyak waktu yang digunakan untuk mengikuti berbagai kegiatan yang diprogramkan oleh The IstanbuFoundation for Sciance and Culture. Keterbatasan penelitian ini perlu dijelaskan untuk menghindari faktor-faktor yang mungkin mengancam objektivitas atau validitas penelitian dan generalisasinya.

 

Sistematika Penulisan

Dalam pembahasan tesis ini terdiri dari beberapa bab, dari tiap-tiap bab juga terdiri dari beberapa kerangka-kerangka pembahasan, maka untuk mengetahui masing-masing bab tersebut adalah sebagai berikut :

Bab Pertama, bab ini merupakan bab pendahuluan, yang terdiri dari Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Defenisi Operasional, Tinjauan Pustaka, Kerangka Teori, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

Bab Kedua, bab ini membahas mengenai pendidikan akhlak dan pembinaan generasi muda. Adapun kajiannya tentang pendidikan akhlak mencakup ; pengertian dan tujuan, ruang lingkup, dan signifikansinya.  Sedangkan kajian pembinaan generasi muda mencakup ; pengertian dan batasan, karakteristik, dinamika kehidupan, dan kedudukan akhlak dalam kehidupan generasi muda.

Bab Ketiga, bab ini membahas mengenai biografi singkat Said Nursi. Kajiannya meliputi masa kecil dan pendidikan Said Nursi mencakup ; latar belakang keluarga dan riwayat pendidikan, selanjutan kegiatan keagamaan, kegiatan politik dan terakhir diuraikan tentang karya tulis Said Nursi.

Bab Keempat, bab ini membahas mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak mencakup ; menguatkan keimanan, berpegang teguh pada al-Qur’an, memahami hakekat penciptaan manusia, memahami alam semesta, memahami asma’ al-husna, mengetahui tanda-tanda hari kiamat, meyakini hari kiamat, meneladani Nabi Muhammad Saw., dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah. Bagian selanjutnya difokuskan bahasan pada prinsip-prinsip pendidikan akhlak dengan pembinaan generasi muda yang mencakup ; relevansi dengan akidah, pandangan hidup, tujuan hidup, ibadah, tingkah laku, situasi kejiwaan, lingkungan, dan tahapan perkembangan kepribadian generasi muda.

Bab Kelima, membahas penutupan berisikan kesimpulan, saran-saran, implikasi dan rekomendasi.

 

Bab 2

TINJAUAN TEORITIS

 PENDIDIKAN AKHLAK DAN GENERASI MUDA

 

 

Kajian ini dibagi menjadi 2 (dua) fokus yaitu mengenai pendidikan akhlak dan pembinaan generasi muda yang memiliki cakupan yang luas, jika ditinjau dari berbagai perspektif kajian. Namun pada kajian tentang pendidikan akhlak mencakup ; pengertian dan tujuan, ruang lingkup, dan signifikansinya. Sedangkan kajian pembinaan generasi muda mencakup ; pengertian dan batasan, karakteristik, dinamika kehidupan, dan kedudukan akhlak dalam kehidupan generasi muda.

 

Pengertian dan Tujuan Pendidikan Akhlak

 

Pengertian Pendidikan Akhlak

Dalam bahasa Arab istilah pendidikan digunakan untuk berbagai pengertian, antara lain tarbiyah, tahzib, ta’lim, ta’dib, siyasat, mawa’izh, ‘ada ta’awwud dan tadrib. Sedangkan untuk istilah tarbiyah, tahzib dan ta’dib sering diartikan pendidikan. Ta’lim diartikan pengajaran, siyasat diartikan siasat, pemerintahan, politik atau pengaturan. Muwa’izh diartikan pengajaran atau peringan. ‘Ada ta’awwud diartikan pembiasaan dan tadrib diartikan pelatihan.

Di antara mereka yang menjadikan istilah-istilah di atas untuk tujuan pendidikan yakni Ibn Miskawaih dalam bukunya berjudul tahzibul akhlak, Ibn Sina memberi judul salah satu bukunya kitab al siyasat, Ibn al-Jazzar al-Qairawani membuat judul salah satu bukunya berjudul siyasat al-shibyan wa tadribuhum, dan Burhan al-Islam al-Zarnuji memberikan judul salah satu karyanya Ta’lim al-Mula’allim tharik at-ta’alum. Walau terjadi berbagai perbedaan, namun para ahli tidak mempersoalkan penggunaan istilah di atas. Karena, pada dasarnya semua pandangan yang berbeda itu bertemu dalam suatu kesimpulan awal, bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih baik.

Memang secara fakta bahwa istilah “pendidikan” telah menempati banyak tempat dan didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai pakar, yang banyak dipengaruhi pandangan dunia masing-masing. Para pakar sependapat bahwa Pendidikan lebih daripada sekedar pengajaran. Kalau pengajaran dapat dikatakan sebagai “suatu proses transfer ilmu belaka”, namun pendidikan merupakan “transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya”. Dengan demikian, pengajaran lebih berorientasi pada pembentukan “tukang-tukang” atau para spesialis yang terkurung dalam ruang spesialisasinya yang sempit, karena itu, perhatian dan minatnya lebih bersifat teknis. Artinya, perbedaan pendidikan dengan pengajaran terletak pada “penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran clan kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan keahlian” (Azra 2000, hlm. 3-4).

Mengambil makna dari pandangan Azra di atas, artinya pendidikan secara umum memuat sebuah usaha dan cara-cara yang dipersiapkan oleh pelaku pendidikan (Baca ; guru, pendidik) dengan persiapan yang matang dan penekanan-penekanan menuju ke arah proses transformasi nilai dan pembentukan kepribadian yang sesungguhnya tidak mudah dilaksanakan.

Jika kita melihat sejarah, “pendidikan” secara istilah, seperti yang lazim dipahami sekarang belum dikenal pada zaman Nabi. Tetapi usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh Nabi dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberi contoh, melatih keterampilan berbuat, memberi motivasi dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pelaksanaan ide pembentukan pribadi muslim itu, telah mencakup arti pendidikan dalam pengertian sekarang. Orang Arab Mekkah yang tadinya menyembah berhala, musyrik, kafir, kasar dan sombong maka dengan usaha dan kegiatan Nabi mengislamkan mereka, lalu tingkah laku mereka berubah menjadi menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa, mukmin, muslim, lemah lembut dan hormat pada orang lain.

Dari kegigihan usaha Rasulullah SAW tersebut, mereka telah berkepribadian muslim sebagaimana yang dicita-citakan oleh ajaran Islam dengan itu berarti Nabi telah mendidik, membentuk kepribadian yaitu kepribadian muslim dan sekaligus berarti bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang pendidik yang berhasil. Sehingga jelaslah kegigihan tersebut mencerminkan upaya menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia (Arifin 1993, hlm. ix), yaitu potensi untuk selalu cenderung kepada kebaikan dan ridha Allah SWT sebagai jalan yang dapat membahagiakan kehidupan mereka di dunia dan akhirat.

Al-Attas mendefinisikan pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia. Suatu proses “penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” secara bertahap “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan; dan “diri manusia” mengacu pada penerima proses dan kandungan itu (Al-Attas 1994, hlm. 35).

Istilah yang dikemukakan di atas mengandung tiga unsur dasar yang membentuk pendidikan, yaitu proses, kandungan, dan penerima. Tetapi semuanya itu belum lagi suatu definisi, karena unsur-unsur tersebut masih begitu saja dibiarkan tidak jelas. Lagi pula cara merumuskan kalimat yang dimaksudkan untuk dikembangkan menjadi suatu definisi sebagaimana di atas, memberikan kesan bahwa yang ditonjolkan adalah prosesnya (Al-Attas 1994, hlm. 35-36). Jadi dapat dirumuskan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang secara bertahap ditanamkan ke dalam manusia.

Sedangkan kata “Akhlak” dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan akhlak, moral, etika, watak, budi pekerti, tingkah laku, perangai dan kesusilaan. Akhlak jamak dari khuluq yang berarti adat kebiasaan (al-‘adat), perangi, tabi’at (at-jiyyat), watak (at-thab), adab atau sopan santun (al-muru’at), dan agama (al-din). Istilah-istilah akhlak juga sering disetarakan dengan istilah etika. Sedangkan kata yang dekat dengan etika adalah moral.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikan tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam al-Qur’an. Yang ditemukan hanyalah bentuk tunggal kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam al-Qur’an surat al-Qalam ayat: 4. Ayat tersebut dinilai sebagai konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul: “Sesungguhnya engkau [Muhammad] berada di atas budi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam [68]: 4). Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi SAW, dan salah satunya yang paling populer adalah : “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bertitik tolak dari pengertian bahasa di atas, yakni akhlak sebagai kelakuan, kita selanjutnya dapat berkata bahwa akhlak atau kelakuan manusia sangat beragam, dan bahwa firman Allah berikut ini dapat menjadi salah satu argumen keanekaragaman tersebut, dalam al-Qur’an : “Sesungguhnya usaha kamu (hai manusia) pasti  amat beragam” (QS. Al-Lail [92]: 4). Keanekaragaman tersebut dapat ditinjau dari berbagai sudut, antara lain nilai kelakuan yang berkaitan dengan baik dan buruk, serta dari objeknya, yakni kepada siapa kelakuan itu ditujukan.

Sedangkan kata etika berasal dari bahasa Yunani Kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti, tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, dan cara berpikir. Dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adat kebiasaan (Bertens, 2004, him. 4). Kata yang dekat dengan etika adalah moral. Kata moral berasal dari bahasa Latin mos dan jamaknya mores yang berarti kebiasaan atau adat. Jadi menurut Bertens kata “etika” sama dengan etimologi “moral”, karena keduanya berasal dari kata yang berarti adat kebiasaaan. Hanya bedanya “etika” dari bahasa Yunani dan “moral” dari bahasa Latin. Dalam bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesia kata etika dan moral sangat berdekatan dengan istilah akhlak dari bahasa Arab.

Terkait masalah istilah dalam bahasa Indonesia dikenal istilah “etika dan etiket”. Etika disini berati moral. Etiket berarti sopan santun. Etiket juga berarti secarik kertas yang ditempelkan pada botol atau kemasan barang. Jika dari asal usulnya, kedua istilah ini tidak ada hubungannya. Etika dalam bahasa Inggris adalah ethics sedangkan etika adalah etiquette. Kedua istilah ini memiki persamaan dan perbedaan. Dari segi persamaan. Pertama, sama-sama menyangkut perilaku manusia. Kedua, sama-sama mengatur perilaku manusia secara normatif.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata Etika dijelaskan dengan membedakan tiga arti 1) Ilmu tentang yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), 2) Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; 3) Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Menurut para ahli masa lalu (al-qudama). Akhlak adalah kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara spontan, tanpa pemikiran atau pemaksaan. Sering pula yang dimaksud akhlak adalah semua perbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik dan buruk.

Akhlak disebut juga ilmu tingkah laku atau perangai (‘ilm al-suluk), atau tahzib al­akhlaq (falsafat akhlak) atau al hikmah al-amaliyat atau al hikmat al khuluqiyyat. Yang dimaksud dengan ilmu tersebut adalah pengetahuan tentang keutamaan-keutamaan dan cara memperolehnya, agar jiwa bersih dan pengetahuan tentang kehinaan-kehinaan jiwa untuk mensucikannya.

Sedangkan menurut Imam al-Ghazali berpendapat bahwa “Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan tanpa melalui maksud untuk memikirkan lebih lama” (Mahyuddin 1996, hlm. 4). Sedangkan Asmaran cenderung melihat akhlak merupakan bawahan sejak lahir yang tertanam di dalam jiwa manusia. Asmaran (1994), mendefinisikan “akhlak itu adalah sifat-sifat yang dibawah manusia sejak lahir, yang tertanam di dalam jiwanya dan selalu ada pada dirinya. Sifat itu dapat dilihat dari perbuatannya. Perbuatannya yang baik disebut akhlak mulia, dan perbuatan yang buruk disebut akhlak yang buruk atau tercela. Baik atau buruknya suatu akhlak tergantung pda pembinaannya” (Asmaran 1994, hlm.1).

Ditinjau dari segi sifatnya, akhlak terbagi dua macam, yakni akhlak yang baik, disebut akhlaqul mahmudah; dan akhlak yang tercela, disebut akhlaqul mazmumah (Barmawie 2001, hlm.22). Kemudian dilihat dari segi sasarannya, akhlak kepada sesama manusia dan akhlak kepada lingkungan. Akhlaqul mahmudah juga terbagi lagi beberapa macam, diantaranya adalah:

  1. Al-Amanah, artinya jujur
  2. Al-Afwu, artinya pema’af
  3. Al-khusu’, artinya menghormati tamu
  4. Al-Hilmu, artinya tidak melakukan maksiat
  5. Al-Adli, artinya bersifat adil
  6. Al-Hifafah, artinya memelihara kesucian
  7. Al-Hifafah, artinya memelihara kesucian
  8. Ar-Rahman, artinya bersifat belas kasih
  9. At-Ta’awun, artinya suka menolong (Barmawie 2001, hlm.23).

 

            Dari pengertian di atas, pada hakikatnya akhlak menurut al-Ghazali harus mencakup dua syarat, yaitu: Pertama, Perbuatan itu harus konstan yaitu dilakukan berulang kali (kontinu) dalam bentuk yang sama sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan yang meresap dalam jiwa. Kedua, Perbuatan yang konstan itu harus tumbuh dengan mudah sebagai wujud refleksi dari jiwanya tanpa pertimbangan dan pemikiran yaitu bukan karena adanya tekanan-tekanan atau paksaan dan pengaruh dari orang lain.

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa akhlak merupakan suatu cerminan atau tolak ukur terhadap setiap sikap, tindakan, cara berbicara atau pola tingkah laku seseorang itu baik atau buruk, baik yang berhubungan dengan diri sendiri, terhadap sesama manusia, akhlak terhadap Allah Swt, maupun terhadap lingkungan sekitarnya. Jadi akhlak merupakan fondasi atau dasar yang utama dalam pembentukan pribadi manusia yang seutuhnya, agar setiap umat Islam mempunyai budi pekerti yang baik (berakhlak mulia), bertingkah laku dan berperangai yang baik sesuai dengan ajaran Islam.

Berdasarkan penjelasan di atas dalam penelitian ini arti kata akhlak bisa disamakan dengan kata etika, moral dan etiket. Namun hanya kata akhlak dan etika yang mempunyai maksud sama ketika menyangkut perilaku lahir dan batin manusia. Karena, itu dalam penelitian ini, akhlak yang dimaksud adalah “pengetahuan menyangkut perilaku lahir dan batin manusia”.

Penjelasan di atas menggiring pemahaman bahwa istilah pendidikan akhlak dimaksud dalam penelitian ini adalah “suatu kegiatan pendidikan yang disengaja untuk perilaku lahir dan batin manusia menuju arah tertentu yang dikehendaki“.

 

Tujuan Pendidikan Akhlak

Berbicara masalah tujuan pendidikan akhlak sama dengan berbicara tentang pembentukan akhlak, karena banyak sekali dijumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak. Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam (al-Abrasyi 1974, hlm. 15). Demikian pula Ahmad D Marimba berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap Muslim, yaitu untuk menjadi hamba Allah yakni hamba yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan memeluk Islam (Marimba 1980, hlm.48-49).

Akan tetapi, sebelum kita lanjutkan tentang tujuan pendidikan akhlak ada masalah yang perlu kita jawab terlebih dahulu dengan seksama, yaitu apakah akhlak itu dapat dibentuk atau tidak?. Menurut sebagian ahli mengatakan bahwa akhlak itu tidak perlu dibentuk karena akhlak adalah instinct (Gharizah) yang dibawa manusia sejak lahir (Mansyur 1961, hlm. 91). Bagi golongan ini bahwa masalah akhlak adalah pembawaan dari manusia sendiri, dan dapat juga berupa kata hati atau intuisi yang selalu cenderung kepada kebenaran. Dengan pandangan seperti ini, maka akhlak akan tumbuh dengan sendirinya, walaupun tanpa dibentuk atau diusahakan. Kelompok ini lebih lanjut menduga bahwa akhlak adalah gambaran bathin sebagaimana terpantul dalam perbuatan lahir. Perbuatan lahir ini tidak akan sanggup mengubah perbuatan bathin. Orang yang bakatnya pendek tidak dapat dengan sendirinya meninggikan dirinya, demikian pula sebaliknya (Al Ghazali t.t., hlm. 54).

Selanjutnya ada pula pendapat yang mengatakan bahwa akhlak adalah hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan, dan perjuangan keras dan sungguh-sungguh (Al Ghazali t.t., hlm. 90). Kelompok yang mendukung pendapat yang kedua ini umumnya datang dari ulama-ulama Islam yang cenderung kepada akhlak. Ibnu Maskawaih, Ibnu Sina, al-Ghazali dan lain-lain termasuk pada kelompok yang mengatakan bahwa akhlak adalah hasil usaha (muktasabah).

Imam al-Ghazali misalnya mengatakan bahwa: “Seandainya akhlak itu tidak dapat menerima perubahan, maka batallah fungsi wasiat, nasihat dan pendidikan. Dan tidak ada pula fungsinya hadits nabi yang mengatakan “perbaikilah akhlak kamu sekalian” (Al Ghazali t.t., hlm. 54). Pada kenyataannya di lapangan usaha-usaha pembinaan akhlak melalui berbagai lembaga pendidikan dan melalui berbagai macam metode terus dikembangkan. Ini menunjukkan bahwa akhlak memang peril dibina dan pembinaan ini ternyata membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah dan Rasul-NYa, hormat kepada ibu bapak, saying kepada makhluk Tuhan dan seterusnya.

Akan tetapi keadaan sebaliknya juga menyatakan bahwa anak-anak yang tidak dibina akhlaknya atau dibiarkan tanpa bimbingan, arahan, dan pendidikan, terntaya menjadi anak-anak yang nakal, mengganggu masyarakat, melakukan berbagai perbuatan tercela, dan seterusnya. Ini semua menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina agar akhlak generasi penerus kedepan menjadi lebih baik dan terhindar dari perbuatan yang tidak diinginkan.

Keadaan pembinaan ini semakin terasa diperlukan terutama pada saat dimana semakin banyak tantangan dan godaan sebagai sebagai dampak dari kemajuan teknologi. Saat ini misalnya orang akan dengan mudah berkomunikasi dengan apapun yang ada di dunia ini, baik itu berupa yang baik atau pun yang buruk, karena adanya alat telekomunikasi. Peristiwa yang baik atau yang buruk dengan mudah dapat dilihat melalui pesawat televis, internet, faximile, dan seterusnya. Film, buku-buku, tempat-tempat hiburan yang menyuguhkan adegan maksiat jujga banyak. Demikian pula dengan obat-obat terlarang, minuman keras, dan pola hidup materialistic dan hedonistik semakin menggejola. Semua itu jelas membutuhkan pembinaan akhlak (Nata 2002).

Jadi untuk membina agar anak mempunyai sifat-sifat terpuji, tidaklah mungkin dengan penjelasan pengertian saja, akan tetapi memerlukan membiasakannya melakukan perbuatan yang baik, dan diharakan nantinya dia mempunyai sifat-sifat tersebut dan menjauhi sifat-sifat tercela. Kebiasaan latihan itulah yang membuat ia cenderung kepada melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk.

Pembinaan moral, pembentukan  sikap dan pribadi pada umumnya terjadi melalui pengalaman sejak kecil. Pendidik atau Pembina pertama adalah orang tua, kemudian guru. Semua pengalaman yang dilalui anak sewaktu kecilnya, akan merupakan unsur pentingdalam pribadinya. Sikap anak terhadap agamanya dibentuk pertama kali oleh orang tuanya, kemudian disempurnakan atau diperbaiki oleh guru di sekolah.

Latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah seperti sembahyang, doa, membaca al-quran, sembahyang berjamaah di sekolah, masjid atau langgar, harus dibiasakan sejak kecil, sehingga akan tumbuh rasa senang melakukanibadah tersebut. Latihan keagamaan, yang menyangkut akhlak dan ibadah sosial atau hubungan dengan sesama manusia sesuai dengan ajaran agama jauh lebih penting daripada hanya sekedar kata-kata.

Untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak pada khususnya dan pendidikan pada umumnya, ada 3 (tiga) aliran yang sangat popular, yaitu aliran nativisme, aliran empirisme, dan aliran konvergensi (Abudin Nata, 2002). Menurut aliran nativisme bahwa factor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah factor pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecenderungan kepada yang baik, maka dengan sendirinya orang tersebut akan menjadi baik.

Aliran nativisme ini nampaknya begitu yakin terhadap potensi batin yang ada dalam diri manusia dan aliran ini erat kaitannya dengan aliran intuisme dalam penentuan baik dan buruk sebagaimana telah diuraikan di atas. Aliran ini tampak kurang menghargai atau kurang memperhitungkan peran pembinaan dan pendidikan.

Selanjutnya menurut aliran empirisme bahwa factor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah factor dari luar, yaitu lingkungan social termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan. Jika pembinaan dan pendidikan yang diberikan kepada anak itu baik, maka baiklah anak itu. Demikian juga sebaliknya. Aliran ini tampak lebih percaya kepada peranan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan pengajaran.

Sementara aliran konvergensi berpendapat bahwa pembentukan akhlak dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu factor pembawaan anak dan factor dari luar yaitu pendidikan dan pembinaan yang dibuat secara khusus, atau melalui berbagai metode (Arifin 1991, hlm. 13).

Aliran ketiga ini sesuai dengan ajaran Islam. Sebagaimana firman Allah dalam al-quran yang berbunyi: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”. Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa manusia memiliki potensi untuk dididik, yaitu penglihatan, pendengaran, dan hati sanubari. Potensi tersebut harus disyukuri dengan cara mengisinya dengan ajaran dan pendidikan. Hal ini juga sesuai dengan yang dilakukan oleh Luqmanul Hakim terhadap anak-anaknya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah yang berbunyi:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anak-anaknya di waktu ia memberika pelajaran kepadanya. `hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya: ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam  dua tahun, bersyukurlah kepadaKU dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-KUlah kembalimu (QS : Luqman :13-14).

 

Ayat tersebut selain menggambarkan tentang pelaksanaan pendidikan yang dilakukan Lukman Hakim, juga berisi materi pelajaran yang utama diantaranya adalah pendidikan tauhid atau keimanan, karena keimananlah yang menjadi salah satu dasar yang kokoh bagi pembentukan akhlak.

Kesesuaian teori konvergensi di atas, juga sejalan dengan hadits Nabi yang berbunyi: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan membawa  fitrah (rasa ketuhanan dan kecenderungan kepada kebenaran), maka kedua orang tuanyalah yang membentuk anak itu menjadi yahudi, nasrani atau majusi” (HR. Bukhari)

Dari ayat dan hadits tersebut di atas jelas sekali bahwa pelaksanaan utama dalam pendidikan adalah kedua orang tua. Itulah sebabnya orang tua terutaman ibu mendapat gelar sebagai madrasah, yakni tempat berlangsung kegiatan pendidikan.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa faktor yang paling dominan terhadap pembentukan akhlak anak didik adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu potensi fisik, intelektual dan hati (rohaniah) yang dibawa anak dari sejak lahir, sementara faktor eksternal yang dalam hal ini adalah dipengaruhi kedua orang tua, guru di sekolah, tokoh-tokoh masyarakat. Melalui kerja sama yang baik antara 3 lembaga pendidikan tersebut, maka aspek kognitif (pengetahuan), apektif (penghayatan), dan psikomotorik (pengalaman) ajaran yang diajarkan akan terbentuk pada diri anak.

Dari berbagai penjelasan di atas, pada dasarnya tujuan pendidikan akhlak sejalan dengan tujuan pendidikan seperti yang disinggung dalam al-Qur’an yaitu membina manusia baik secara pribadi kelompok agar mampu menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah maupun sebagai hamba Allah. Tugas khalifah sendiri harus memenuhi empat sisi yang saling berkaitan yaitu pemberi tugas (Allah), penerima tugas (manusia), tempat atau lingkungan di mana manusia berada, dan materi-materi penugasan yang harus mereka laksanakan. Dan keempat hal ini saling berkaitan, itulah sebabnya sering terjadi perbedaan dan tujuan pendidikan antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya, karena mereka harus memperhatikan faktor lingkungan di mana manusia itu berada (Mahmudah, tt., hlm. 56).

Berdasarkan penjelasan di atas, wajar kiranya Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany menyatakan bahwa dasar pendidikan Islam identik dengan dasar tujuan Islam. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu al-Qur’an dan Hadits, pemikiran yang serupa juga dianut oleh para pemikir pendidikan Islam, atas dasar pemikiran tersebut maka para ahli pendidikan dan pemuka pendidikan Muslim mengembangkan pemikiran mengenai pendidikan Islam dengan merujuk kedua sumber utama ini (Jalaluddin 2001, hlm. 8).

Secara teoritis pendidikan akhlak pada dasarnya bertitik tolak dari urgensi akhlak dalam kehidupan. Tokoh yang menganggap pentingnya pendidikan akhlak adalah Oemar Bakry, menurutnya “ilmu akhlak akan menjadikan seseorang lebih sadar lagi dalam tindak tanduknya. Mengerti dan memaklumi dengan sempurna faedah berlaku baik dan bahaya berbuat salah” (Bakry 1993, hlm. 13-14). Mempelajari akhlak setidaknya dapat menjadikan orang baik. Kemudian dapat berjuang di jalan Allah demi agama, bangsa dan negara. Berbudi pekerti yang mulia dan terhindar dari sifat-sifat tercela dan berbahaya.

Tokoh lain yang menganggap pentingnya pendidikan akhlak adalah Syed Muhammad Nauquib al-Attas dengan menggunakan kata adab atau ta’dib. Al-Attas mengatakan bahwa kebenaran metafisis sentralitas Tuhan sebagai Realitas Tertinggi sepenuhnya selaras dengan tujuan dan makna adab dan pendidikan sebagai ta’dib. Al-Attas menganggap bahwa proses pendidikan sebagai penanaman adab ke dalam diri, sebuah proses yang tidak dapat diperoleh melalui suatu metode khusus. (Lihat Wan Daud 2003, hlm. 77-79). Penjelasan al-Attas ini menggambarkan bahwa potensi akhlak berada pada Realitas Tertinggi yang merupakan titik sentral dalam kehidupan manusia.

Berdasarkan kepentingan akhlak dalam kehidupan manusia itulah, maka mengatakan Ibn Miskawaih bahwa tujuan pendidikan akhlak adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan atau bernilai baik (Badawi 1963, hlm. 478). , sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh sa’adat (kebahagiaan sejati/kebahagiaan yang sempurna). Pendapatan ini beralasan bahwa kebaikan itu merupakan tujuan setiap orang, factor anugerah Allah yang dapat mencapai kebaikan, disamping adanya kesungguhan berusaha dan berkelakuan baik (Miskawaih 1982, hlm. 41-45). Seperti yang disimpulkan oleh Suwito bahwa tujuan pendidikan akhlak menurut pemikiran Ibn Miskawaih adalah terciptanya manusia berperilaku ketuhanan. Perilaku seperti ini muncul dari akal ketuhanan yang ada dalam diri manusia secara spontan (Suwito 1992, hlm. 157).

Rumusan tujuan pendidikan akhlak seperti ini hakekatnya dapat dilakukan melalui membangun motivasi pribadi dan orang lain untuk mencontoh akhlak Nabi. Artinya, bahwa berbagai aktivitas kehidupannya selalu melakukan sesuatu dengan mengikuti akhlak nabi, baik dalam rangka pembentukan sebagai seorang pribadi maupun terhadap orang lain. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan akhlak adalah terciptanya manusia yang beriman perilaku lahir dan batin yang seimbang (seperti Nabi) berdasarkan pemahaman Bediuzzaman Said Nursi“.

 

Ruang Lingkup Pendidikan Akhlak

Pembicaraan tentang pendidikan akhlak harus diakui banyak sekali persoalan yang akan muncul ketika masalah ini diangkat dan dikaji. Karena memang banyak hal yang dapat mempengaruhi proses pendidikan akhlak. Diantaranya adalah menyangkut jumlah dan nama sumber karya tulis mengenai pendidikan akhlak. Prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi akan sangat berbeda jika ditinjau dari sudut pandang situasi sosial pada saat Risale-i Nur ditulis. Juga akan sangat berbeda kalau konsep itu berdasarkan kontekstualisasi pemahaman nilai-nilai keimanan atau ketauhidan yang menjadi filosofi dalam membentuk karekteristik insan manusia secara intergratif, universal dan kekinian.

Kemudian perbedaan juga akan muncul bila pendidikan akhlak ditinjau dari segi pelaksanaannya, seperti efektifitas pendidikan akhlak yang dilakukan dengan pendekatan monolitik (diajarkan sebagai suatu bidang studi tersendiri) dengan pendekatan integratif (terintegrasi dengan bidang studi) pada lembaga pendidikan. Jika pendekatan integratif, maka masih ada pertanyaan yakni bidang studi manakah yang sesuai dengan pengintegrasian?. Di samping itu, yang dapat berpengaruh pada konsep pendidikan akhlak adalah cara mengevaluasi pendidikan akhlak, dari kurikulumnya, alat dan atau media yang digunakan. Faktor lain seperti lingkungan, jenis kelamin, tingkat kecerdasan anak didik, teologi pendidik, dan sebagainya, dapat pula berpengaruh terhadap hasil penelusuran konsep seseorang mengenai pendidikan akhlak.

Beberapa identifikasi di atas merupakan berbagai persoalan yang akan muncul dalam dinamika pemikiran mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak. Dalam penelitian ini selain tujuan teknis yang diarahkan menjawab persoalan pokok maka dirumuskan tujuan pendidikan akhlak menurut pandangan Said Nursi yang dapat dipahami dari Risale-i Nur bahwa tujuan pendidikan akhlak diarahkan terciptanya manusia yang beriman perilaku lahir dan batin yang seimbang (seperti Nabi) berdasarkan pemahaman Bediuzzaman Said Nursi.

Maka dapat dipahami bahwa pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik yang harus menjadi mata pelajaran atau lembaga, melainkan terintegrasi ke dalam berbagai mata pelajaran atau lembaga. Akhlak dalam dasar-dasar pendidikan selalu berawal dari upaya prinsip menguatkan iman dan mengkokohkan akidah secara integratif yang pembahasannya akan mempengaruhi terbentuknya doktin-doktrin akhlak secara aplikatif.

Selain itu, menurut Ibn Miskawaih akhlak merupakan suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa berpikir atau pertimbangan secara mendalam. Keadaan seperti ini dapat disebut sebagai karekter. Menurutnya keadaan ini ada dua jenis. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak. Kedua, tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Berdasarkan kedua jenis keadaan ini cendikiawan klasik sering berbeda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa karakter dimiliki oleh jiwa yang tidak berpikir (nonrasional). Sementara yang lain berpendapat karakter itu dimiliki oleh jiwa berpikir (rasional).

Berdasarkan kedua jenis karakter dan kedua pendapat di atas Ibn Miskawaih menegaskan bahwa akhlak yang alamiah dan sudah menjadi watak dapat berubah cepat atau lambat melalui disiplin serta nasehat-nasehat mulia. Karena menurutnya pendapat pertama menyebabkan tidak berlakunya fakultas nalar, tertolaknya segala bentuk norma dan bimbingan, kecenderungan orang kepada kekejaman dan kelalaian serta banyak remaja dan anak-anak berkembang liar tanpa nasehat dan pendidikan. Ini tentu saja sangat negatif (Ibn Miskawaih 1997, hlm. 56-57). Berdasarkan inilah Ibn Miskawaih menganggap perlu adanya pembinaan jiwa secara intentif dengan daya-daya akal. Pembinaan inilah yang dapat dikatakan sebagai (tahzih al-Akhlaq) pendidikan akhlak.

Menurut Suwito yang mengutip pendapat M. Amin Abdullah bahwa kalau dibandingkan dengan mahzab pemikiran di bidang pendidikan akhlak maka secara umum pendidikan akhlak dapat dibagi dua, pendidikan akhlak mistik dan pendidikan akhlak rasional. Pembedaan pendidikan akhlak kepada mistik dan rasional bukannya tidak memiliki konsekuensi. Sebagaimana dalam teologi rasional, akhlak rasional dapat membawa konsekuensi bagi pertumbuhan kreatifitas dan inisiatif, sedangkan akhlak mistik kurung mendorong manusia untuk dinamis (Suwito 1995, hlm.10).

Oleh sebab itulah, yang dimaksud dengan pendidikan akhlak rasional yang memberi lebih kuat kepada pendidikan daya pikir (rasio) manusia, sedangkan pendidikan akhlak mistik memberikan porsi lebih kuat kepada pendidikan daya rasa pada diri manusia. Distingsi ini bermanfaat bagi konsekuensi yang ditimbulkan. Konsekuensi pada pendidikan akhlak rasional memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia dinamis. Adapun konsekuensi yang diperoleh dari pendidikan akhlak mistik kurang memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia yang dinamis.

Namun, pendidikan akhlak tidak masuk dalam kategori institusi sebagaimana di atas, karena hakekat pendidikan akhlak adalah inti semua jenis pendidikan. Jadi pada dasarnya ruang lingkup Pendidikan akhlak yang dimaksud pada penelitian ini yaitu ; mengarah pada terciptanya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya.

Dengan demikian, pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik dalam pengertian harus menjadi nama bagi suatu mata pelajaran atau lembaga melainkan terintegrasi ke dalam berbagai mata pelajaran atau lembaga.

 

Signifikansi Pendidikan Akhlak

Adapun di antara alasan pentingnya pemikiran Said Nursi di bidang pendidikan akhlak dapat diungkapkan beberapa pertimbangan sebagai berikut :

Pertama, Risale-i Nur karya Said Nursi merupakan tafsir a]-Qur’an yang secara konsisten membicarakan penguatan iman dan al-Qur’an dengan jalan ikhlas, takwa dan sedekah. Karya ini juga membahas secara mendalam mengenai akhlak Rasulullah dalam berbagai tulisannya Risale-i Nur yang berorientasi kepada perubahan pola pikir dan laku untuk memahami dan mengimani secara mendalam tanda-tanda hari kiamat dan keberadaan hari kiamat.

Kedua, masalah etika secara khusus dibahas pads Simpusium Internasional di Turki yang ke-6 tahun 2002 yang dikoordinir oleh The Istanbul Foundation for Sciance and Culture. Di samping itu dalam sepanjang pelaksanaan Simposium dan diskusi panel oleh The Istanbul Foundation for Sciance and Culture ini selalu menyertakan tema etika. Satu buku kumpulan Simposium Internasional yang ke-6 mendorong perlunya membahas mengenai akhlak dan juga tulisan Faris Kaya yang mengungkapkan mengenai etika dalam Risalei-Nur. Etika yang dimaksud oleh Faris Kaya mengungkapkan bahwa akhlak dalam sejarah dunia memang sangat penting. (Faris, 2004, him. 8-10).

Ketiga, diasumsikan bahwa pemikiran akhlak Said Nursi memberikan peranan signifikan dalam aktivitas kehidupannya. Pemikiran semacam ini merupakan hasil refleksi dan pemahaman terhadap suatu teologi yang mendalam mengenai Asma Allah dan sifat­-sifat-Nya yang membentuk kerangka pikir dan sikap perilaku. Diyakini bahwa Said Nursi adalah sosok pemikir sekaligus sufi yang memadukan konteks teologi dan realitas kehidupan. Paham ini diilhami kemutlakan Tuhan dalam diri manusia dengan catatan bahwa akal memiliki peran penting dalam refleksi untuk menyempurnakan keyakinan dari refleksi hati. Artinya paham yang dianut Said Nursi berdekatan dengan upaya ma’rifatullah dalam perspektif yang luas. Sementara itu dapat diasumsikan bahwa teologi Said Nursi adalah rasional-spritual. Maka, dalam konteks pendidikan akhlak selalu memadukan akal dan hati untuk melakukan pendekatan ajaran Islam secara universal.

Keempat, perkembangan ilmu dan teknologi. Yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan zaman saat ini adalah perkembangan ilmu, teknologi, komunikasi dan informasi. Kebutuhan-kebutuhan ini yang menyebabkan dunia semakin global. Selain berdampak positif juga berdampak negatif. Di antara dampak negatif globalisasi ini antara lain adalah semakin banyaknya alternatif bagi ukuran akhlak manusia yang cenderung bermuatan materialistik dan intelektualistik semata. Akibatnya, hal-hal yang bersifat spritualistik cenderung diabaikan. Dengan demikian, kemampuan memilih berbagai alternatif secara kritis melalui pemahaman, teologi rasional dan spritual semakin dinilai penting dan mendesak.

Kelima, tanda-tanda akhir zaman, pentingnya pengkajian ini juga disebabkan titik nadir masyarakat global berdasarkan paham keagamaan menunjukkan tanda-tanda akhir zaman. Dalam konteks itulah sebagai makhluk beragama harus mewaspadai itu dan berupaya mengantisipasi dan merubah pola pandangan hidup. Karena persoalan “krisis moral” merupakan entry point dari munculnya pembaharu (mujadid) untuk menyelamatkan umat dari “melupakan” Tuhan.

Pendidikan Akhlak Generasi Muda

 

Pengertian Generasi Muda

 

Generasi muda secara etimologi berasal dari dua kata, yaitu generasi yang berarti angkatan atau turunan (Dep P dan K 1999, hlm.309); dan muda yang berarti belum lama ada (Dep P dan K 1999, hlm.667). Generasi muda berarti angkatan atau turunan yang belum lama hidup. Dalam pengertian pertama ini nampaknya belum begitu jelas apa esensi generasi muda yang dimaksud dalam pembahasan ini.

Kata generasi muda tidak cukup diartikan berdasarkan ilmu kebahasaan (etimologi) saja, tetapi perlu dilihat arti secara terminologi (istilah). Menurut Suraiya, generasi muda adalah bagian suatu generasi yang sedang menjalani giliran mengelola kehidupan masyaranat dan kenegaraan (Suraiya 1985, hlm. 2). Suryono Sukanto mengartikan generasi muda adalah sekelompok orang muda yang lahir dalam jangka waktu tertentu (Suryono 1993, hlm. 201). Selanjutnya Hartini dan Kartasapoetra menamakan generasi muda sebagai angkatan kaum muda (Hartini dan Kartasapoetra 1992, hlm. 166).

Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan, bahwa generasi muda adalah kelompok, golongan, angkatan, kaum muda yang hidup dalam jangka waktu tertentu, di mana mereka memiliki tugas untuk melanjutkan pembangunan bangsanya sebagaimana tugas-tugas para angkatan yang hidup sebelum mereka. Dapat dipahami pula bahwa generasi muda sesungguhnya menjadi tumpuhan harapan masyarakat dalam merealisasikan idiologi dan tujuan pembangunan, baik material, maupun spiritual.

 

Batasan Generasi Muda

Walaupun beberapa pakar sering berselisih pendapat mengenai perbedaan tentang batasan usia generasi muda, namun hal itu tidak perlu dijadikan hambatan kita untuk memahami aspek usia generasi muda, apalagi jika usia itu relatif dan tidak menjadi ukuran baku bagi generasi muda; produktif atau tidak. Di masyarakat sering kita lihat orang muda yang berusia antara 15-30 tahun yang seharusnya giat bekerja tetapi hidup bermalas-malasan, tetapi orang tua yang umurnya di atas 50 tahun masih aktif bekerja. Ini berarti umur tidak menjadi jaminan mutlak bagi suatu generasi, giat bekerja atau tidak.

Di antara sekian banyak pakar, di sini hanya dikemukakan tiga pendapat mengenai batasan usia generasi muda, yaitu:

  1. Menurut Suraiya, usia generasi muda ialah berkisar dar dari 0–30 tahun (Suraiya 1985, hlm. 5).Generasi muda identik dengan kaum muda.
  2. Menurut Ruslan Abdul Gani, usia generasi muda (kaum muda) berkisar antara 15-25 tahun (Ghufron 1986, hlm. 13).
  3. Menurut Sujanto generasi muda, dapat dibatasi usia antara 23,0-45,0 (pria) dan 17,0-40,0 (wanita) (Sujanto 1996, hlm. 160).

Dari ketiga pengertian di atas nampaknya memiliki perbedaan, yaitu: Pengertian pertama nampaknya memasukkan golongan anak-anak sebagai generasi muda. Hal ini jika didasarkan kepada potensi kemanusiaannya tentu beralasan, tetapi pada realitanya anak-anak belum sepenuhnya dapat bertanggung jawab terhadap kemajuan pembangunan. Hanya orang yang lebih tua dari mereka yang mampu mengemban tugas tersebut. Pengertian kedua nampaknya membatasi usia generasi muda rendah (hanya sampai usia 25 tahun), pada hal kenyataannya banyak organisasi pemuda yang dimotori oleh angkatan usia rata-rata 45 tahun ke atas. Pengertian ketiga menjelaskan bahwa generasi muda sebagian terdiri dari kelompok orang dewasa yang berumur 17-40 tahun.

Dari tiga pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa usia generasi muda tidak bisa ditentukan dalam batas yang mutlak. Artinya usia generasi muda relatif dan dapat ditinjau secara berlainan sesuai dengan sudut pandang kita melihatnya. Jadi, dari tiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa usia generasi muda dapat dibatasi antara 15-40 tahun. Dalam penelitian ini generasi muda dibatasi umur 15-40 tahun, mengingat di usia tersebut kehidupan generasi muda dalam kondisi stabil.

 

Karakteristik Generasi Muda

Karakteristik diartikan sebagai ciri-ciri khusus (Dep P dan K 1999, hlm. 445). Ciri atau indikator berfungsi untuk menjelaskan secara detil tentang makna sesuatu. Sebagaimana telah kita pahami bahwa generasi muda adalah angkatan kaum muda yang hidup dalam masa tertentu, artinya generasi muda itu sangat luas cakupan maknanya dan tentu memiliki karakteristik tertentu yang perlu dijelaskan agar kita bener-benar memahami siapa generasi muda sesungguhnya.

Untuk menjelaskan generasi muda secara lengkap perlu dilihat dari berbagai aspek, seperti aspek fisikal, psikis, soaial, intelektual, emosional, dan moralnya. Mengingat penjelasan tersebut begitu luas, di sini akan dijelaskan karakteristik generasi muda secara globalnya saja, berdasarkan pendapat fakar, yaitu:

  1. Berdasarkan pendapat Andi Mappiare, salah satu ciri dari generasi muda pada masa awalnya (memasuki usia remaja) adalah meraka sedang mengalami masa pubertas yaitu perubahan yang cepat secara fisik (organ-organ tubuhnya) dan perubahan sikap serta sifat ke arah kedewasaan (Sudarsono 1993, hlm. 12-13).
  2. Menurut Agus Sujanto, masa pemuda adalah masa ujian, penuh tantangan, dan masa bergelora yang harus diselami. Pada masa ini pemuda dapat menentukan masa tuanya dan kedewasaannya untuk banyak berkarya (Sujanto 1996, hlm. 161-162).
  3. Menurut Sudarsono, suatu ciri kehidupan generasi muda pada masa awalnya mengalami ketidakstabilan perasaan dan emosi, terutama dalam bersikap dan menentukan masa depan mereka. Berikutnya dalam proses menuju kedewasaan mereka dapat mengatasi masalahnya dengan baik (Sudarsono 1993, hlm. 15).
  4. Menurut Kartini Kartono, secara kejiwaan pemuda memiliki ciri-ciri khas, yaitu: belajar berdiri sendiri dalam suasana kebebasan, berusaha melepaskan ikatan-ikatan afektif lama dengan orang tua dan objek-objek cintanya, berusaha membangun hubungan perasaan/afektif yang baru, dan menemukan indentifikasi dengan obyek-obyek baru yang dianggap lebih bernilai atau lebih berarti daripada obyek yang lama. Generasi muda yang terdiri dari golongan orang dewasa yang lazimnya ia telah mencapai umur 21 tahun, dianggap sanggup berdiri sendiri, dan bisa bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas hidupnya (Kartono 1990, hlm.33 dan hlm.184).
  5. Berdasarkan Halem Lubis, dkk., generasi muda memiliki ciri-ciri yaitu di samping mengalami keadaan yang tidak menentu di masa remaja, memasuki usia dewasa ia sudah dapat bertanggung jawab dalam segala tindakan dan perbuatannya (Halem 2001, hlm. 149-150).

Berdasarkan ciri psikologis di atas dapat disimpulkan, bahwa generasi muda mempunyai karakteristik yang meliputi banyak hal, yaitu pada masa remaja generasi muda akan mengalami perkembangan fisik dan kejiwaan menuju kedewasaan seperti perkembangan tubuh, pemikiran, dan emosional. Pada karakter ini generasi muda perlu berhati-hati dalam menyikapi masa perubahan yang terjadi agar mereka dapat berkembang secara wajar dan terarah sesuai dengan tujuannya. Di samping itu generasi muda di masa dewasanya memiliki beban psikologis dan tanggung jawab dalam segala perilaku dan perbuatan mereka. Generasi muda akan selalu berusaha mandiri dalam mengatasi semua kebutuhan hidupnya.

Melihat karakteristik generasi muda di atas, secara psikologis beban yang diemban generasi muda tidak lain untuk memberdayakan potensi diri mereka dan masyarakat, walaupun usaha itu dalam pelaksanaannya belum berhasil, ciri-ciri yang demikian harus melekat dalam diri generasi muda, mereka harus mampu mengenal dan memahami hakikat dan kedudukan generasi muda sebagai wujud dari mengenal diri dan peran-perannya dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, dan beragama.

Pada karakteristik psikologis ini sesungguhnya genaerasi muda perlu memahami bahwa kematangan pikiran, pola sikap, dan tindakan semata-mata dikembangkan kemaslahatan ummat, yaitu suatu tugas yang diparduhkan oleh agama, sebagai pengabdian diri kepada Allah, dengan iktikad pengabdian yang telah dijelaskan dalam firman-Nya: “Tidak aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka mengabdi kepadaKu”. (Alqur’an, 51 : 56).

Dari ayat di atas juga dapat disimpulkan, bahwa generasi muda yang tergolong kelompok manusia yang beriman diharapkan memiliki ciri mutlak yang ditentukan oleh Allah, yaitu memiliki naluri sebagai hamba (pengabdi) kepada Allah dan mampu menjalankan perintah-perintah-Nya dalam kehidupan pribadinya, keluarga, masyarakat, negara, dan agama.

 

Dinamika Kehidupan Generasi Muda

 

Globalisasi saat ini benar-benar menjadi tanpa batas, lintas suku, budaya, bangsa dan agama. Peradaban global memberikan tantangan besar bagi dunia pendidikan. Tantangan itu, tidak hanya timbul dalam kaitannya dengan pengembangan potensi dan aktualisasi diri sumberdaya manusia, dan bukan pula hanya sebagai pendukung globalisasi, tetapi juga sebagai pengendali arus globalisasi yang secara gencar mempengaruhi, bahkan terkadang merusak sendi-sendi kehidupan kita. Namun, globalisasi bukanlah momok dan tak perlu kita takuti, karena globalisasi merupakan kenyataan dunia kekinian. Tantangan masa depan, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, komunikasi dan juga seni telah memberikan warna baru terhadap pembentukan generasi muda. Kondisi ini memang sangat memprihatinkan, dan menuntut perhatian bersama, khususnya bagi bangsa Indonesia berbagai aspek kehidupan.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sisi negatif yang merupakan dampak dari kemajuan teknologi dan komunikasi, seperti dari media elektronika, informatika, dan media cetak, telah membuat kehidupan generasi muda menjadi kasus yang sering dipermasalahkan dan banyak mengundang perhatian, misalnya pemerkosaan, penggunaan obat-obat terlarang, dan sebagainya. Dari kehadiran kemajuan ilmu dan teknologi itu cukup banyak membuat generasi muda berhasil untuk meniti jejak karir dan mampu memberikan yang terbaik untuk masyarakat, bangsa, dan agamanya. Namun kita menyadari karena banyak sekali produk-produk tersebut berasal dari Barat, maka pengaruh budaya mereka menjadi lebih dominan dan hampir dapat dikatakan merusak budaya secara Islam.

Harapan kita sesungguhnya generasi muda dapat mengambil yang baik-baik dan meniggalkan yang buruknya. Namun tidak menutup kemungkinan hal sebaliknya, seperti lebih banyak generasi muda yang tertarik dengan gaya serta cara yang kurang baik. Maka itu perlu dibatasi tontonan atau bacaan yang bernada kekejaman atau pun kekerasan, apalagi tontonan atau bacaan itu disebarkan diseluruh wilayah, tak perduli di kota mau pun di desa-desa, karenanya hampir seluruh remaja Indonesia banyak yang terpengaruh.

Didalam kehidupan sekarang ini, baik di kota maupun di desa banyak kita jumpai berbagai permasalahan yang dilakukan oleh generasi muda. Permasalahan ini timbul dikarenakan kurangnya nilai-nilai agama di kalangan kehidupan generasi muda, sehingga seringkali meresahkan lingkungan masyarakat sekitarnya. Generasi muda sekarang ini telah merosot moralnya, sehingga mereka seringkali melakukan perbuatan yang dapat mengganggu ketenangan masyarakat. Gejala-gejala semacam ini mulai timbul akibat dari perubahan arus informasi dan arus globalisasi budaya yang datangnya dari luar yang diserap oleh generasi muda melalui berbagai media massa. Sebaliknya generasi muda ini belum punya filter untuk menangkal kedua arus tersebut, sehingga budaya-budaya yang menyesatkan mudah mempengaruhi jalan hidup mereka.

Pengembangan sumber daya manusia merupakan bagian dari ajaran Islam yang dari semula telah mengarahkan manusia untuk berupaya meningkatkan kualitas hidupnya yang dimulai dari perkembangan budaya kecerdasan. Ini berarti bahwa titik tolaknya adalah pendidikan yang akan mempersiapkan manusia menjadi makhluk individual yang bertanggungjawab dan makhluk sosial yang mempunyai rasa kebersamaan dalam mewujudkan kehidupan yang damai, tentram, tertib, maju dan kasih sayang lahir dan batin yang dapat dinikmati bersama secara merata dalam kehidupan ini.

 

Kedudukan Akhlak dalam Kehidupan Generasi Muda

Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang sangat penting, baik secara individu maupun sebagai masyarakat dan bangsa. Sebab jatuh bangunnya, jaya hancurnya, sejahtera-rusaknya suatu bangsa, masyarakat dan negara tergantung bagaimana keadaan akhlaknya. Dalam kaitan ini pula, kita melihat bahwa tidak pernah suatu bangsa yang jatuh karena krisis intelektual, tetapi suatu bangsa jatuh karena krisis akhlak.

Tolak ukur kelakuan baik dan buruk mestilah merujuk kepada ketentuan Allah. Demikian rumus yang diberikan oleh kebanyakan ulama. Perlu ditambahkan, bahwa apa yang dinilai baik oleh Allah, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik, karena kebohongan esensinya buruk.

Di sisi lain, Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia memiliki segala sifat yang terpuji. Al-Qur’an yang suci menegaskan bahwa (Dialah) Allah, tiada Tuhan selain Dia, Dia mempunyai Sifat-sifat yang terpuji (al-Asma’ Al-Husna (Q.S. Thaha (20): 8). Rasulullah Saw juga memerintahkan umatnya agar berusaha sekuat kemampuan dan kapasitasnya sebagai makhluk untuk meneladani Allah Swt dalam semua sifat-sifatnya-Nya. Untuk mencontoh akhlak Rasulullah tersebut, maka al-Qur’anlah yang menjadi tuntunan kita, mengingat akhlak Rasulullah adalah al-Quran “…Budi pekerti Nabi SAW, adalah al-Qur’an…”. Dalam konteks ini, maka prinsip asma’ al-husna semaksimal mungkin dapat ditanamkan dalam diri manusia.

Penjelasan berikut meliputi pembahasan aplikasi akhlak pada manusia, Allah dan Alam yang memahami prinsip-prinsip akhlak yang mulia dan terpuji harus dimiliki oleh setiap muslim. Pertama, Akhlak terhadap Allah SWT (Khaliq). Allah adalah pencipta alam beserta isinya termasuk manusia, yang diciptakan dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan berbeda dengan makhluk ciptaan lainnya. Allah berfirman dalam surat At-Tiin ayat 4, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Q.S. At-Tiin: 4).

Dengan demikian manusia harus wajib atau wajib beriman, dan bertaqwa serta tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan Allah Swt yang dijadikan landasan prinsip ma’rifatullah dengan asma’ al-husna. Prinsip ma’rifatullah harus ditanamkan untuk menghindari pengingkara terhadap Sang Pencipta. Sementara dengan menyakini asma-asam Allah dengan akal, maka manusia yang menggunakan  akalnya  selalu berusaha  sesuai dengan kemampuan guna memperoleh  ridha  Allah  dan selalu berserah diri kepada-Nya karena segala sesuatu merupakan kehendak Allah. Manusia harus selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan kepada-Nya serta ikhlas menerima segala keputusan, dengan selalu berdoa mohon ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuatnya.

Kedua, akhlak dengan sesama manusia, sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri pasti membutuhkaan bantuan orang lain, karena itu manusia harus berbuat baik dan mempunyai akhlak yang tinggi terhadap sesamanya. Menyakini kehidupan sosial merupakan bagian dari yang fana, maka menuju kekekalan hidup adalah prinsip akan adanya hari kiamat. Prinsip eskatologi ini merupakan akhlak yang tinggi terhadap sesamanya. Akhlak itu antara lain adalah akhlak terhadap teman sebaya, akhlak terhadap tetangga dan akhlak terhadap guru, terhadap orang tua, dan lainnya baik yang berhubungan dengan sikap, cara berbicara, perdebatan dan pola hidupnya harus mencerminkan dan berlandaskan prinsip tauhid ma’rifatullah, menyadari sepenuhnya asma’ al-husna dan prinsip eskatologis.

Ketiga, akhlak terhadap diri sendiri, prinsip ma’rifatullah dengan cara menyucikan diri dan berupaya mendekatkan diri kepada Allah menggambarkan bahwa dalam diri pribadi manusia memiliki hak untuk diperlukan dengan baik, dijaga dan dipelihara, harus dibersihkan dari segala kotoran baik itu jasmani dan ruhani, yaitu dengan berjalan bersuci atau dengan bertaubat. Salah satu contoh akhlak terhadap diri pribadi adalah dengan menghindari perbuatan yang dilarang oleh agama seperti minuman alkohol, memakan makanan yang diharamkan, terlibat narkoba dan perbuatan tercela lainnya.

            Oleh karena itulah, prinsip akhlak terhadap diri sendiri sangatlah penting sekali bagi manusia, karena semua itu demi kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat, yaitu dengan jalan menghindari hal-hal yang dapat merusak jasmani dan rohani, hidup sederhana dan memperbanyak amal saleh. Dalam proses menumbuh kembangkan potensi dasar yang dimiliki oleh manusia, untuk mencapai kepribadian yang sempurna dan utuh hanya mungkin dapat dikembangkan melalui pengaruh lingkungan, khususnya pendidikan baik pendidikan keluarga dan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.

                        Karena pada dasarnya tujuan atau sasaran dalam pembentukan kepribadian adalah terciptanya akhlak yang mulia. Sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan. Sesuai dengan sabda Nabi bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya (Jalaluddin dan Usman, 1994).

Keempat, akhlak terhadap alam, keyakinan selain akhlak di atas juga akhlak terhadap alam atau lingkungan. Lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa, sebagaimana dalam al-Quran:  Apa saja yang kamu tebang dari pohon (kurma) atau kamu biarkan tumbuh, berdiri di atas pokoknya, maka itu semua adalah atas izin Allah…(QS. Al-Hasyr [59]: 5).  M. Quraish Syihab menafsirkan ayat tersebut, jangankan terhadap manusia dan binatang, bahkan mencabut atau menebang pepohonan pun terlarang, kecuali kalau terpaksa, tetapi itu pun harus seizin Allah SWT, dalam arti harus sejalan dengan tujuan-tujuan penciptaan dan demi kemaslahatan terbesar (Quraish 1998, 259-270).

Dari penjelasan tersebut di atas jelaslah bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi merupakan salah satu materi sekaligus tujuan pendidikan Islam yang didasarkan kepada apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, baik secara teoritis berdasarkan al-Qur’an maupun secara praktis melalui perilaku kehidupannya sehari-hari. Prinsip-prinsip pendidikan akhlak ini perlu dipahami dan diaplikasikan secara komprehensif (luas) dan tidak sebatas berakhlak terhadap Khaliq dan manusia saja, tetapi lebih dari itu, sedapat mungkin kita mampu berakhlak dengan alam semesta ini.

 

 

 

 

 

Bab 3

BIOGRAFI SINGKAT BEDIUZZAMAN SAID NURSI

 

 

Sebelum mengkaji mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi, maka perlu dikaji terlebih dahulu mengenai tokoh yang diteliti. Maka dari itu, kajian berikut berfokus pada penjelasan tentang biografi singkat Said Nursi. Kajiannya meliputi masa kecil dan pendidikan Said Nursi mencakup ; latar belakang keluarga dan riwayat pendidikan, selanjutan kegiatan keagamaan, kegiatan politik dan terakhir diuraikan tentang karya tulis Said Nursi.

Masa Kecil dan Pendidikannya

Menurut Sukanto teori kepribadian manusia disusun setidaknya dalam empat teori yakni berdasarkan pemikiran spekulatif, tipologis, penyifatan dan aksiologi. (Sukanto 1996, hlm. 37-38).[1] Berdasarkan keempat teori ini kajian tentang Said Nursi dalam pembahasan ini berangkat dari teori pemikiran spekulatif dan aksiologi. Untuk mencapai pemahaman teori ini dapat ditinjau melalui pendapat M. Arifin melalui empat asas yakni asas menyeluruh, integrasi (kesatuan), perkembangan dan pendidikan seumur hidup (M. Arifin 2000, hlm. 51-53).[2] Menurutnya berdasarkan keempat asas tersebut proses kepribadian manusia dapat terbentuk. Pembentukan kepribadian sebagai individu menurut Abdullah Nasih Ulwan merupakan tanggung jawab yang paling menonjol dalam Islam. (Nasih Ulwan 1995, h1m. xxxiii).

Menurut Abdullah Nashih Ulwan manusia sebagai individu berhak memperoleh pengarahan, pengajaran dan pendidikan baik melalui bapak, ibu, pendidik, pengajar maupun pekerja sosial. Artinya, proses kepribadian manusia sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan sejarah hidup seseorang. Proses tersebut dilalui manusia melalui keluarga, sekolah dan lingkungan (Nasih Ulwan, 1995, hlm. xxxiii). Berdasarkan pendapat ini dapat dipahami bahwa pengetahuan mengenai tokoh yang diteliti ini, setidaknya perlu ditinjau dan ketiga aspek tersebut terutama untuk menjelaskan latar belakang keluarga dan pendidikannya.

 

Latar Belakang Keluarga

Nama Said Nursi sebenarnya adalah Said, karena ia anak Mirza, maka nama sebenarnya dapat juga kita sebut sebagai Said bin Mirza. (Zaidin 2001, hlm. 7). Sedangkan nama Said Nursi, Bediuzzaman Said Nursi, Molla Said (Mulla Said), Said Masyhur dan Said Kurdi adalah gelar yang sempat tersemat selama masa kehidupannya yang pada dasarnya merujuk kepada tanah kelahiran, kejeniusan dan garis keturunannya.[3] Said Nursi dilahirkan menjelang fajar musim semi pada tahun 1294 H / 1877 M[4] di desa kecil Nurs. Desa Nurs terletak di daerah Khizan di propinsi Bitlis wilayah Turki Timur.[5] Daerah tempat kelahirannya ini terdapat lereng dan lembah gunung Taurus, daerah danau Van (Vahide 2000, hlm. 3).

Said Nursi dilahirkan dari keluarga petani sederhana dari pasangan Mirza[6] dan Nuriye (Nuriyyah).[7] Berdasarkan sumber Sham al-Haq al-Azzim yang dikutip oleh Mohammad Zaidin bin Mat bahwa kedua orang tuanya dan nenek moyang Said Nursi berasal dari suku Kurdi dan dari daerah dari Isbartah (Isparta) (Zaidin 2001, hlm. 7-8) dan mereka memiliki silsilah keturunan Ahl al-Bayt yakni Nabi Muhammad Saw melalui cucunya Hasan dari Mirza dan Husen dari Nuriyah.[8] (Urkhan 1995, hlm. 8).

Said Nursi merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, yaitu Durriyyah,[9] Khanim,[10] Abdullah,[11]  Said (Said Nursi), Muhammad,[12]  Abd al Majid[13] dan Marian[14] (Zaidin 2001, hlm. 8). Said Nursi lahir pada masa pemeritahan Sultan Abdul Hamid II, pada masa akhir dari pemerintahan Daulat Turki Usman. Pada masa ini musuh secara intensif mencabik-cabik bangsa dan negara Turki untuk mempercepat kehancurannya, selama tiga puluh tahun Sultan Abdul Hamid II berkuasa dan memerintah negara Turki dengan segala daya dan upaya yang dilakukannya untuk memelihara integritas kekuasaan negara yang sangat luas, namun tidak membuahkan hasil yang maksimal. Karena bahaya asing sudah mengetahui dan menguasai titik-titik lemah dalam tubuh negara (Ihsan Kasim 1996, hlm. 3-4).

Said Nursi meninggal tahun 23 Maret 1960. Awalnya sekitar tanggal 18 Maret 1960, Said Nursi sakit yakni demam panas. Setelah beberapa kali tidak sadarkan diri, Said Nursi kemudian pingsan. Namun setelah sadar, beliau sudah kelihatan sehat. Setelah menunaikan shalat subuh, beliau memanggil murid-muridnya sambil menangis, Said Nursi berkata, “Selamat berpisah, aku akan pergi” (Sukran Vaheda 2000e, hlm. 25). Dalam kondisi sakit beliau yang tidak parah beliau wafat kira-kira pada pukul 03.00 pagi, 23 Maret 1960, bertepatan dengan tanggal 25 Ramadhan 1379 H.[15] Ketika itu, berat bobot tubuhnya hanya 40 kilogram dan beliau hanya meninggalkan seutas jam tangan, jubah, dan dua puluh lira uang. Berita kematian beliau disiarkan di dalam halaman harian (koran-majalah) di Istanbul dan Ankara. Beribu-ribu orang dari berbagai pelosok Turki hadir untuk menziarahi dan mendirikan sholat jenazah untuknya. Toko-toko dan pasar di Urfah pada hari itu ditutup. Beliau dikebumikan di perkuburan Ulu Jami’ pada hari kamis, 24 Maret setelah sholat Asliar (Sukran Vaheda 2005, h1m. 342-343). Akan tetapi, sekitar 12 Juli 1960 kuburan itu dibongkar oleh pemerintah sekuler (golongan anti Islam) dan jenazah Said Nursi dipindahkan ke sebuah tempat rahasia di Isparta, sampai saat ini belum diperoleh kejelasan tempat dikuburkan Said Nursi.[16]

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa Said Nursi dilahirkan dan hidup, di suasana transisi khalifah di akhir kekhalifahan Turki Usmani. Said Nursi memiliki garis keturunan seorang ulama terkemuka dari bangsa Kurdi. Berdasarkan keterangan yang dipaparkan di atas Said Nursi memiliki jalur keturunan sampai ke Imam Ali bin Abi Thalib dan Nabi Muhammad Saw. Said Nursi dikuburkan di Urfah dan kemudian jenazahnya tidak diketahui secara jelas tempat penguburannya.

 

Riwayat Pendidikan

Pendidikan menjadi faktor penting dalam melihat sosok manusia. Pendidikan dalam konsep ini adalah pendidikan secara menyeluruh, yakni pendidikan seumur hidup. Dalam hal ini asas perkembangan dan asas pendidikan seumur hidup yang dikemukan oleh M. Arifin senada dengan pendapat Lift Anis Ma’shumah yang menyatakan bahwa pendidikan adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan potensi diri seseorang yang meliputi tiga aspek kehidupan, yaitu pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup (Ma’shumah 2001, hlm. 214). Pendapat ini memiliki makna bahwa pendidikan adalah serangkaian proses yang membentuk seseorang secara spritual, emosional dan intelektual yang padu dalam diri. Pembentukan kepribadian ini tidak pernah terlepas dari peran keluarga, sekolah dan masyarakat – di era sekarang dikategorikan sebagai kelembagaan pendidikan sosial – di mana pelembagaan pendidikan seperti ini terdiri dari pendidikan informal, formal dan nonformal – pembagian pelembagaan ini bermula peradaban Barat – di mana maksud dari pelembagaan adalah sebagai suatu upaya untuk memantapkan landasan nilai pada kegiatan pendidikan sebagai realisasi tujuan pendidikan maupun keterkaitan ilmu, sains dan teknologi pada kepentingan dan kebutuhan manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dan keluarga antar bangsa (Faisal 1995, hlm. 19). Berdasarkan pendapat ini maka, bahasan berikut ini mencakup pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan nonformal yang melingkupi secara menyeluruh dalam satu kesatuan pengalaman hidup Said Nursi. Melalui proses pendidikan ini diharapkan dapat dipahami sosok Said Nursi terutama mengenai pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup yang merupakan sebuah proses integrasi keilmuan dalam akal, hati dan praktek kehidupannya secara langsung.

 

1) Pendidikan Informal : Pendidikan Keluarga Pertama dan Utama

Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan (Jalaluddin 2002, hlm. 214). Karenanya, menurut Zakiah Drajat keluarga sebagai wadah utama pendidikan (Zakiah 1994, hlm. 41). Sebagai pendidikan pertama dan utama secara kelembagaan dalam pendidikan informal atau pendidikan keluarga orang tua memegang posisi sangat penting dalam menyampaikan materi atau informasi pendidikan untuk diterima oleh anak. Materi pendidikan agama menjadi basis semua kegiatan pendidikan yang ingin diselenggarakan dalam kehidupan keluarga. Sebagaimana yang dialami oleh Said Nursi, pendidikan agama baginya dan saudara-saudarinya begitu diperhatikan oleh kedua orang tua mereka, hingga tercipta dalam keluarga mereka suasana religius.

Pendidikan informal Said Nursi adalah pendidikan keluarganya. Menurut Wahyu keluarga adalah “suatu kesatuan sosial terkecil yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki tempat tinggal dan ditandai oleh kerjasama ekonomi, berkembang, mendidik, melindungi, merawat dan sebagainya. Dan inti keluarga adalah ayah, ibu dan anak” (Wahyu 1986, h1m. 57). Syahminan Zaini menyatakan bahwa keluarga merupakan lapangan pendidikan yang pertama dan pendidiknya adalah kedua orang tua, di mana orang tua adalah pendidik kodrati (Syahminan Zaini tt, h1m. 152). Dalam proses ini orang tua dan kakak Said Nursi berperan dalam pendidikan awal Said Nursi.

Proses pendidikan keluarga sebagai tanggungjawab terhadap anak sedikitnya mencakup 3 (tiga) pendidikan yakni iman, akhlak (moral) dan intelektual (rasio atau akal).[17] Selama delapan tahun, Said Nursi berada dalam didikan orang tuanya sebelum merantau menuntut ilmu (Zaidin 2001, hlm. 8-9). Waktu delapan tahun merupakan waktu yang cukup penting bagi sejarah hidup Said Nursi. Karena fondasi iman, akhlak dan intelektual sudah dirasakannya selama bersama keluarganya. Said Nursi beruntung memiliki keluarga yang peduli terhadap ni1ai iman, akhlak dan intelektual. Dalam waktu yang relatif singkat ketiga pendidikan tersebut diperolehan oleh Said Nursi yang menjadi dasar pribadi, sikap dan intelektualnya.

Pertama, pendidikan iman. Mirza ayahnya adalah seorang sufi yang sangat wara’ dan diteladani sebagai seorang yang tidak pernah memakan barang haram dan hanya memberi makan anak-anaknya dengan yang halal saja (Lihat Vahide 2000e, hlm. 3). Sosok Mirza sangat baik untuk diteladani oleh anak-anak mereka, termasuk Said Nursi. Mirza mengajarkan kepada anak-anaknya tentang agama, berikut permasalahan-permasalahan di seputar pengajaran agama, tentang iman dan tauhid. (Zaidin 2001, hlm. 8). Masalah keimanan dan tauhid menjadi persoalan inti yang diajarkan oleh orang tua Said Nursi kepadanya.

Kedua, pendidikan akhlak. Kedua orang tuanya sangat menekankan kepada pendidikan agama dengan mengedepankan sifat-sifat baik mereka sebagai panutan atau uswah. (Zaidin 2001, hlm. 8). Pendidikan agama melalui keteladanan atau uswah benar­-benar ditekankan oleh orang tua Said Nursi. Misalnya, Nuriyyah adalah seorang wanita yang hanya menyusui anak-anaknya dalam keadaan suci dan berwudhu’ (Ihsan Kasim 2003, hlm. 8). Betapa akhlak untuk memberi makan anak dalam keadaan baik, suci dan halal. Akhlak seperti ini menjadi teladan dalam perilaku Said Nursi.

Ketiga. pendidikan intelektual. Pada masa kecilnya Said Nursi telah menunjukkan perwatakan yang menarik, yakni suka bertanya dan mencoba mencari jawabannya sendiri, memikirkan persoalan kehidupan, kematian, dan kemasyarakatan. Said Nursi juga sering menghadiri majelis perbincangan antar ulama di kampungnya (Zaidin 2001, hlm. 8). Lebih-­lebih lagi, majelis perbincangan antara ulama sekampungnya sering diadakan di rumah ayahnya. Ini sudah tentu sangat besar manfaatnya, terutamanya dalam menyuburkan sifat analisis, kritis serta minatnya kepada dialog dan perdebatan (Zaidin 2001, hlm. 8). Kejeniusan Said Nursi kecil ini semakin nyata ketika ia mampu menghafal al Quran dalam usia 12 tahun.

Pendidikan intelektual didapatkan oleh Said Nursi dalam keluarga dengan cara belajar kepada kakaknya Abdullah – saudara ke-3 dalam keluarga Said Nursi dan memiliki ilmu pengetahuan yang banyak – yang setiap waktu libur, terlebih lagi akhir pekan Said Nursi selalu menerima pelajaran dari kakaknya itu, juga belajar ilmu al-Quran.

Dari pembahasan di atas diketahui bahwa pendidikan informal yang diperoleh Said Nursi dari masa kecil sampai menuju kematangan berpikir dan bersikap sangat dipengaruhi oleh keluarga. Terutama iman, akhlak dan intelektualnya sudah menjadi akar yang kokoh dalam sikap hidupnya. Namun, pendidikan formal juga berperan sangat penting dalam terbentuknya kepribadian dan akhlaknya.

 

2) Pendidikan Formal : Pendidikan Madrasah Belajar Ilmu Agama dan Ilmu Umum Penjelasan di atas mengemukakan bahwa latar belakang keluarga sebagai pendidikan pertama dan utama sangat mempengaruhi Said Nursi. Said Nursi menyadari perlu menjadi orang yang berpengetahuan, karenanya ia mulai berusaha keras mempelajari berbagai macam i1mu-i1mu keislaman tradisional dan i1mu-ilmu umum yang juga berkaitan dengan sains modern[18] di luar pendidikan keluarga melalui lembaga yang dapat dikatakan sebagai pendidikan formal atau pendidikan sekolah. Adapun pendidikan formal yang pernah dialami Said Nursi mencakup :

1) Madrasah Muhammad Amin Afandi Tagh (Ta)

Said Nursi mulai merantau ketika berumur 9 (sembilan) tahun. Pendidikan yang pertama kali diterima oleh Said Nursi adalah belajar di kuttab (madrasah) pimpinan Muhammad Amin Afandi di desa Thag (Ta) pada tahun 1882. Desa Thag (Ta) berada bersebelahan dengan desa kelahiran Said Nursi. Kegiatan belajar Said Nursi di desa Thag ini hanya berlangsung sebentar saja, karena aktivitas belajarnya pindah dan dilanjutkan di madrasah desa Birmis (Ihsan Kasim 2003, h1m. 9-10). Bersamaan dengan itu Said Nursi belajar dengan kakaknya dan ulama terkenal di desanya, kemudian memutuskan untak sekolah ke Birmis.

 

2) Madrasah Muhammad Nur di Birmis

Pada tahun 1883 Said Nursi pergi ke Bitlis dan mendaftarkan diri di sekolah Syaikh Muhammad Nur. Tetapi ia belajar di sekolah tersebut hanya sebentar, sebab syaikh tersebut menolak untuk mengajarnya dengan alasan faktor usia yang belum memadai. (Zaidin 2001, hlm. 10).

 

3) Madrasah Muhammad Amin Afandi di Arwas Bitlis

Pada tahun 1891 (1308), Said Nursi meminta izin orang tuanya untuk belajar dan pergi ke Arwas di Bitlis dan berguru dengan Syekh Muhammad Amin Afandin (Rajah 1995, hlm. 33). Di Bitlis Said Nursi pernah tinggal serumah bersama Walikota Bitlis dan beliau berkesempatan untuk menela’ah sejumlah besar buku ilmiah dan menghapal sebagian dari padanya. Begitu juga beliau pun berkesempatan menelaah sejumlah besar kitab tentang ilmu kalam, mantiq (logika), nahwu, tafsir, hadits, dan fiqh. Kemudian lebih dari delapan puluh kitab induk tentang ilmu-ilmu keislaman berhasil dihapal (Ihsan Kasim 2003, hlm. 10-13).

 

4) Madrasah Mir Hasan Wali di Muks (Mukus)

Said Nursi merasa tidak puas dengan ilmu yang diperoleh dari tiga orang gurunya tersebut. Said Nursi melanjutkan belajar di Madrasah Mir Hasan Wali di Muks. Proses ini hanya berjalan satu bulan setelah itu kemudian ia bersama temannya berangkat menuju salah satu sekolah di Bayazid, suatu daerah yang termasuk dalam wilayah Agra. (Ihsan Kasim 2003, hlm. 10-11).

 

5) Madrasah Muhammad Jalali di Beyazid

Pada tahun 1889, ia bersama seorang temannya berangkat menuju madrasah di Beyazid, satu daerah di Turki Timur. Di sinilah Said Nursi mempelajari ilmu-ilmu agama dasar, karena sebelum ia hanya belajar Nahwu dan Sharaf saja. Beliau belajar dengan segala kesungguhan dan secara intensif untuk jangka waktu tiga bulan lamanya. Selama itu, beliau berhasil membaca seluruh buku yang pada umumnya dipelajari di sekolah-sekolah agama. Dalam waktu relatif singkat sekali beliau mampu menguasai matematika, ilmu falak, kimia, fisika, geologi, filsafat, sejarah, geografi, dan lain-lain (Ihsan Kasim 2003, hlm. 8-15).

Di Madrasah Beyazid di bawah bimbingan Syaikh Muhammad al-Jalali, Said Nursi belajar dengan segala kesungguhan dan keuletannya secara intensif dalam jangka waktu yang singkat selama tiga bulan beliau dapat membaca seluruh buku yang umumnya dipelajari di sekolah-sekolah agama serta ia mendapatkan ijazah dari Syaikh Muhammad Jalalin (Zaidin 2001, hlm. 11). Pelajaran yang diambilnya seputar ilmu al-Quran dan Nahwu Sharaf Sebagai apresiasi dari kerja keras belajarnya, Said Nursi mampu menguasai kitab­-kitab utama ketika itu dan mendapat gelar Mulla Said (Zaidin 2001, hlm. 11).

 

6) Madrasah Fathullah Afandi di Si’ird

Di bawah bimbingan Syaikh Fathullah Afandi secara intensif Said Nursi mempelajari kitab Jam’ul Jawami (kitab tentang ushul fiqhi) karya Ibn as-Subki. Dalam waktu yang cukup singkat ia menghapalnya, sehingga Syaikh Fathullah Afandi menulis catatan pada sampul kitab tersebut dengan kata-kata : “Laqad Jama’a fii hifzihihi’, jam’al- jawami, jami’ihi fii jum’atin” (Sungguh seluruh kitab jam’ul Jawami’ telah mampu dihapal hanya dalam satu minggu) (Ihsan Kasim 2003, hlm. 12).

Selanjutnya, Said Nursi menjelajahi secara terus menerus kemungkinan masih tersisa ulama, syeikh, atau guru yang handal, untuk menguras habis keilmuan mereka, seperti Syeikh Fethullah, hingga beliau mendapatkan ilmu baru yang semakin memantapkan dirinya untuk mengadakan debat, diskusi, dan pengajaran bagi masyarakat bawah. Karena kemampuan intelektual yang menakjubkan itu, Said Nursi digelari gurunya Badi’ al-Zaman (keunggulan zaman).

Ketika berada di sini, Said Nursi telah bertemu dan berdialog dengan beberapa orang guru dalam bidang ilmu-ilmu modern. Kelemahan beliau dalam bidang tersebut telah mendorongnya membaca dan mempelajari buku-buku sains modern yang terdapat dalam perpustakaan Talur BAslia. Akhirnya dengan inisiatifnya sendiri dan dalam masa yang singkat beliau telah berhasil menguasai ilmu-ilmu modern seperti sejarah, geografi, matematika, fisika, kimia, astronomi, filsafat modern, ilmu hayat dan ilmu bumi. Said Nursi juga pernah menulis beberapa buku dalam bidang yang berkaitan, misalnya berkenaan algebra. Malangnya, buku tersebut telah musnah dalam satu kebakaran besar yang terjadi di Van (Zaidin 2001, hlm. 17).

Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa pendidikan formal yang diperoleh Said Nursi mengokohkan sebagai orang yang rasional dan bermoral. Orang yang cerdas secara intelektual juga spritual. Berwawasan luas dan berakhlak mulia.

 

3) Pendidikan Non Formal : Lingkungan dan Perolehan Ilham (Ilmu Laduni)

Pendidikan non formal ini adalah proses pendidikan yang berlangsung dalam masyarakat. Perolehan jenis pendidikan ini berlangsung alami, karena dilakukan di masyarakat dan di luar pendidikan informal dan formal, atau pendidikan keluarga dan sekolah. Banyak yang dilakukan oleh Said Nursi yang dapat dikategorikan sebagai proses pendidikan non formal. Kegiatan perjalanan, diskusi dan debat ilmiah, kehidupan bersama-sama, orang-orang terdekat dan ulama terkenal. Pendidikan non formal yang dialami oleh Said Nursi dapat dilihat melalui beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai kegiatan pendidikan non formal mencakup:

1) Bersama Kakaknya Abdullah dan Fathullah Afandi

Pengalaman Said Nursi bersama kakaknya, hanyalah sebagai contoh mengenai pendidikan di luar pendidikan resminya. Misalnya dalam perjalanan Said Nursi dari kota Bitlis menuju kota Syirwan dan belajar dengan kakaknya Abdullah, kemudian ia melanjutkan penjalanan ke Si’rad untuk belajar pada seorang ulama terkenal yakni Fathullah Afandi. Ulama ini melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya :

Ada berita engkau telah selesai membaca as-Suyuthi – kitab syarah alfiyah karya Ibnu Malik (pen.) – pada tahun yang lalu, tapi apakah engkau juga telah selesai mempelajari kitab al-Jami’ – kitab nahwu popular (pen.) – pada tahun in i?. Kemudian di jawab : Ya, saya telah membacanya secara keseluruhan. Kemudian Syaikh Fathullah Afandi mulai menyebutkan beberapa permasalahan dan memberikan beberapa pertanyaan dan dijawab semua dengan tepat oleh Said Nursi. Peristiwa ini telah membuat Syaikh Fathullah Afandi geleng kepala dan sangat kagum dan akhirnya ia berkata : Baik…sungguh engkau ini seorang yang dikaruniai kejeniusan yang luar biasa. Namun demikian, biarkan kami untuk mengetahui daya hapalanmu. Apakah engkau bersedia membaca beberapa baris dari kitab ini dua kali lalu menghapalnya ?. Kemudian ia memberikan kitab Maqaamat al-Hariri. Said Nursi pun meraihnya lalu membaca tulisan yang termaktub dalam halaman pertama dan hanya dibaca satu kali saja. Ternyata hanya satu kali saja membaca, beliau mampu menghapalnya. Tentu saja apa yang terjadi membuat Syaikh Fathullah Afandi semakin kagum, sehingga ia berkata lagi : Sungguh perpaduan antara otak jenius yang luar biasa dengan daya hapal yang luar biasa seperti engkau miliki merupakan kejadian yang sangat jarang (Ihsan Kasim 2003, hlm. 10-13).

 

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa efek dari ketekunan Said Nursi dalam lingkungan masyarakat beliau diilhami keilmuan yang dalam dan luas. Semuanya merupakan implikasi dari perjalanan secara menyatu dalam diri Said Nursi baik dalam pendidikan informal, formal maupun non formal yang dijalani Said Nursi dalam satu kesatuan diri.

 

2) Pengalaman Berdiskusi, Berdebat bersama Tokoh Intelektual dan Ulama

Berkat potensinya yang mampu menyerap berbagai disiplin ilmu dan otaknya yang sangat jenius, popularitas beliau segera tersebar dan diberi gelar Bediuzzaman (keindahan Zaman) (Said Nursi Tarihi Hajat 1999e, hlm. 45). Dalam perdebatan ilmiah, Said Nursi dengan penguasaannya dalam bidang agama dan sains modern menjadi perhatian banyak orang.

 

3) Motivasi Melalui Mimpi dan Ilham

Bartol dan Martin (1991, hlm. 451) memberikan pengertian motivasi adalah kekuatan yang menggerakkan perilaku, memberi arah pada perilaku dan mendasari kecenderungan untuk tetap menunjukkan perilaku tersebut. Said Nursi memiliki gerakan perilaku melalui mimpi bahwa dirinya melihat Rasulullah Saw. Peristiwa tersebut selalu diingat sampai akhir hayatnya. Dalam mimpi tersebut beliau melihat seolah-olah kiamat telah terjadi dengan segala kejadian yang sangat mengerikan dan seluruh manusia dihimpun. Ketika itu, perasaan ingin melihat Rasulullah Saw begitu menggebu-gebu, tapi bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi, di manakah dirinya dapat menjumpai beliau dalam keadaan berdesak­desakan seperti ini?. Pada waktu dirinya sedang berpikir demikian dalam keadaan sedang berada di tengah kerumunan orang banyak, terlintaslah dalam benak pikirannya untuk pergi ke Shiratal Mustaqim (jembatan menuju Surga). Karena Rasulullah Saw pun pAsli akan melintasi jembatan tersebut. Dengan demikian bergegaslah Said Nursi menuju ke sana dan di sana ia menunggu Rasulullah Saw. Melintasinya, selama dalam penantian ini, para Nabi melewatinya, lalu tangan mereka dijabat dan dicium. Kemudian Rasulullah Saw yang dinanti-nanti pun lewat padanya. Ketika itu dirinya adalah seorang Said Nursi yang masih kecil yang sedang berada dihadapan beliau sambil menciumi kedua tangannya. Setelah itu, ia memohon dan beliau agar diberi ilmu lalu Rasulullah Saw bersabda kepadanya : “Engkau akan diberi ilmu al-Qur’an dengan syarat engkau tidak boleh meminta-minta kepada siapapun dari kalangan umatku”. (Ihsan Kasim 2003, hlm. 15-16). Pada fase berikutnya, atas kehendak Allah Swt menjadikan beliau begitu cepat menguasai berbagai ilmu keagamaan, termasuk ilmu al-Quran, hadits, fiqh, dan ilmu lainnya.

 

4) Kecerdasan Hati atau Intuisi Memperoleh Ilmu Laduni

Salyidain menyatakan bahwa intuisi menurut Iqbal adalah isyq atau cinta atau kadang-­kadang disebut “pengamatan kalbu” yang memungkinkan kita secara langsung menangkap dan mengamat serta bertautan dengan kenyataan secara keseluruhan (Salyidain tt, hlm. 102- 103). Artinya, intuisi adalah semacam perasaan yang bergerak di dalam batin manusia, yang merupakan suatu mata batin yang tajam, tetapi tidak boleh disamakan dengan sifat kemanusiaan yang utuh.

Perolehan ilmu laduni adalah implikasi proses pendidikan yang didapatkan oleh Said Nursi langsung melalui Allah melalui ilham illahi. Pendidikan ini secara intensif diperolehnya ketika ia menulis Risale-i Nur. Cahaya hati dan keyakinannya yang mendalam kepada Allah menyebabkan ia mampu menembus alam ghaib, sehingga ia dapat berdiskusi dan berdialog langsung dengan Nabi Muhammad (Said Nursi Mektubat 2003b, hlm.275).

Dari pembahasan di atas diketahui bahwa riwayat pendidikan Said Nursi baik informal, formal maupun pendidikan non formal telah mempengaruhi pemikiran, perilaku, sikap dan ruhnya dalam segenap kehidupannya, terutama dalam menyuburkan sifat analisis, kritis serta senang kepada dialog dan perdebatan. Sistematika proses pendidikan Said Nursi yang integratif menggambarkan kompetensi Said Nursi sebagai i1muwan dan ulama dalam kajian keagamaan dan terdapat praktik antara penguasaan ilmu dan perilaku akhlak mulia. Proses pendidikan dan kompetensi ini memperkuat bahwa Said Nursi adalah filosof-sufi.

 

Kegiatan Keagamaan

Sebenarnya banyak sekali yang dilakukan oleh Said Nursi untuk menyebarkan dakwah Islam di Turki. Tanda-tanda Said Nursi sebagai tokoh, ulama dan guru bagi seluruh masyarakat Turki, sudah mulai nampak sejak kecil. Berikut ini dipaparkan beberapa hal yang berkaitan kegiatan keagamaan Said Nursi.

 

  1. Mengajar Umat Gratis

Pada tahun 1907 M. sampailah Badiuzzaman di ibu kota Istanbul. Di sana beliau tinggal di khan asy-Syakrizi yang terletak di wilayah Fatih. Tercatat, bahwa hotel ini merupakan tempat tinggal sejumlah para pemikir dan pujangga, seperti penyair kenamaan yang bernama Muhammad ‘Akif dan kepala intelejen yang bernama Fatih, juga seorang guru bahasa kenamaan yang bernama Jalal dan lain-lain.

Selama berada di ibu kota Istanbul beliau telah menggantungkan sebuah papan di depan pintu kamarnya yang bertuliskan: “Gratis”!!! Di sini akan terjawab setiap pertanyaan dan setiap problema pasti akan terpecahkan”. Ini merupakan pernyataan asing dan menarik perhatian yang membuat popularitas Said Nursi semakin luas yang sebelumnya juga sudah terkenal di ibu kota Istanbul dan membuat orang-orang ingin melihatnya secara langsung (Salih 2003, hlm. 15-16)

Di ibu kota Istanbul Said Nursi menyampaiikan usulan kepada Sultan Abdul Hamid agar didirikan sebuah madrasah bernama Madrasah Az-Zahrah yang ilmu agama dan ilmu sains diajarkan secara bersama di Turki Timur. Usulan ini disampaikan, karena penduduknya sangat didominasi oleh kebodohan dan kemiskinan, juga sangat dicekam oleh kediktatoran, sistem keamanan, dan para intel dai kalangan istana Yaldaz. Tetapi usulan ini hanya membuat orang-orang dekat Sultan yang hakikatnya tidak mencerminkan pemikiran Sultan membawa beliau ke beberapa dokter untuk diperiksa dan diteliti daya nalar otaknya. Kemudian para dokter berketetapan untuk menempatkannya di RS Jiwa Topbasyi.

Ketika salah seorang dokter hadir untuk memeriksa daya nalar otak Said Nursi, kepada dokter ini beliau menyampaikan apa yang terlintas dalam benak sang dokter. Kejadian I telah mendorongnya mebuat keterangan : “Jika memang terdapat sedikit saja kegilaan pada Said Nursi, ini artinya bahwa di seluruh muka planet bumi ini tidak seorang pun ada yang berakal sehat” (Salih 2003, hlm. 17-18).

Kemudian  Said Nursi berangkat menuju Salonika dan di sana beliau berkenalan dengan para tokoh al-Ittihad Wa at-Taaraqqi (Perpaduan dan Kemajuan). Langkah ini ditempuh, dengan pertimbangan karena dirinya juga sebagai seorang yang menyarakan dan menyerukan kebebasan dan prinsip musyawarah secara Islami. Di sana ia mendapat sambutan hangat dari para pemimpin al-Ittihad Wa at-Taraqi. Namun demikian, mereka tidak berhasil mengajaknya untuk menjadi pengikut mereka. Kasus ini terjadi, karena ia tetap pada prinsip pemikiran dan kepribadiannya. Kemudian saat dirasakan bahwa sebagian di antara mereka ada yang goyah pendiriannya dan bersikap memusuhi agama (Islam), ia pun berkata: “Kalian ternyata memusuhi agama dan berpaling dari syari’at” (Salih 2003, hlm. 19-20).

 

  1. Menjadi Anggota Darul Hikmah al-Islamiyah

Di ibu kota Istanbul Said Nursi diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyah tanpa sepengetahuannya sebagai penghargaan baginya (13 Agustus 1918 M). Tercatat bahwa para anggota Darul Hikmah ini hanya merupakan ulama terkemuka saja. Ketika itu para anggotanya terdiri dari: Muhammad ‘Akif (penyair kondang), Ismail Hakki (seorang ulama kenamaan), Hamdi Almalali (mufassir terkenal), Mustafa Shabri (syaikul Islam), Sa’duddin Pasya, dan lain-lain.

Pada periode ini pemerintah telah menganggarkan gaji untuknya. Tetapi ia hanya mengambil sekedar untuk memenuhi hajat hidup pokok saja. Sedangkan sisanya dibelanjakan untuk biaya mencetak sebagian dari karya ilmiahnya yang dihimpun dalam Rasal an-Nur yang kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada kaum muslimin (Salih 2003, hlm. 34-36).

 

 

 

3.Transformasi Spritual

Perubahan dalam diri Said Nursi adalah ketika dia merasa perubahan dalam dirinya, ketika Ia berada di lembaga Darul Hikmah al-Islamiyah, ia pernah mengalami transformasi spiritual sebagai berikut:

Sadar diriku berada di dalam ‘rawa’ aku mencari bantuan, mencari jalan keluar dan panduan. Aku melihat ada berbagai jalan, dan saat ragu jalan mana yang harus ikuti, aku mencari penjelasan pada kitab Futuh al-Gaib, tulisan Syaih Abdul Qadir Jailani. Muncul kalimat berikut di hadapanku: Kamu berada di Darul Hikam (Rumah Kebijaksanaan); mencari dokter (rohani) yang akan menyembuhkan hatimu. Anehnya, aku memang anggota Darul Hikam (lembaga para ilmuwan tersebut). Aku dianggap sebagai ‘dokter’, seorang pembimbing rohani, yang diharapkan bisa menyembuhkan penyakit-penyakit rohani umat Islam; sementara sayalah yang secara rohani sakit lebih parah daripada yang lain, dan aku harus mengobati diriku sendiri sebagai pasien. Setelah itu, aku membaca kitab Maktubat (Surat-surat) karya Imam Rabbani, dan mempelajarinya dengan niat yang suci. Imam Rabbani juga dengan tandas memberikan nasihatnya dibanyak surat yang lain, ‘Menyatukan arah yang akan engkau tuju,’ yakni ‘ambil satu saja pemimpin atau satu jalan ke arah kebenaran.’ Tetapi, nasihat beliau yang paling penting ini tidak sesuai dengan watak dan perangaiku. Kadang-kadang pikiranku tidak bisa memutuskan mana yang harus diikuti. Karena setiap jalan memiliki daya tarik sendiri-sendiri, maka sulit bagiku untuk menyenangi salah satu jalan dan mengikutinya. Saat aku dalam kebingungan, dengan Kasih Sayang Allah SWT aku menjadi tahu bahwa ujung semua jalan tersebut, sumber dari semua saluran tersebut, ‘matahari yang dikelilingi oleh semua ‘planet’ tersebut, tak lain adalah al-Qur’an yang penuh hikmah, yang bisa menyatukan semua arah (Said Nursi 2003, hlm. 487-488).

 

Transformasi spiritual inilah yang menjadi penyebab perubahan Said Qadim ke Said Jadid. Pada  masa-masa ini dan ketika Inggris berhasil menduduki Istanbul (16 Maret 1920), Badiuzzaman berhasil menyelesaikan buku karangannya yang berjudul al-Khuthuwat as-Sitta (Enam Langkah ) yang diterbitkan secra sembunyi-sembunyi dengan bantuan para murid dan teman-temannya… Buku ini berisi serangan Badiuzzaman kepada Inggris yang disampaikan dengan nada keras dan berupa klarifikasi tentang berbagai syubhat yang santer menjadi buah bibir masyarakat luas dengan disertai sejumlah dalil argumetatif. Buku tersebut juga berisi ajakan kaum muslimin tetap optimis dan memerangi sikap pesimis yang selama ini tampaknya menguasai masyarakat, serta berisi seruan agar mereka berbakal tekad kuat.

 

Kegiatan Politik

Secara bersamaan dalam kehidupanya Said Nursi jelas berkaitan erat dengan kegaitan politik. Kajian berikut akan menjelaskan fokus kepada kegiatan politik yang pernah dilakukan oleh Said Nursi semasa hidupnya, sebagai berikut :

  1. Menentang Inggris

 

Diantara serentetan rencana jahat yang dilakukan Inggris terhadap Islam melalaui gereja Anglikan adalah enam pertanyaan yang disampaikan kepada para ulama Islam agar dijawab dengan enam ratus kata. Kemudian pertanyaan ini oleh para ulama disampaikan kepada Badiuzzaman dan dijawab: “Sesunguhnya jawaban enam pertanyaan ini tidak harus denggan enam ratus kata dan tidak pula dengan enam kata…, juga tidak harus dengan satu kata…,melainkan cukup dengan ludah yang disemburkan  kepada muka orang-orang Inggris terkutuk.” (Salih 2003, hlm. 39-40).

Gerakan anti pendudukan asing di Anatolia mulai beraksi. Syaikhul Islam Abdullah Afandi pun di bawah tekanan pemerintahan kolonial Inggris mengeluarkan fatwa menentang gerakan dan para pelaku aksi ini. Tetapi segera fatwa ini dibantah lagi dan dinyatakan batal oleh fatwa yang dikeluarkan oleh tujuh puluh enam ulama bersama tiga puluh enam ilmuwan dan sebelas anggota DPR (anggota parlemen).

 

 

 

  1. Said Nursi Masa Pergolakan

Said Nursi di zaman pergolakan ini terjadi pada 1908-1912, ketika itu ia berjuang keras demi untuk menegakkan satu sistem kelembagaan yang berteraskan Syariat Islam. Memandang pengaruh Said Nursi serta ketokohannya, para pimpinan gerakan ini mencoba membujuk dan mempengaruhinya menyertai gerakan mereka. Antara mereka yang datang  menemuinya ialah Emanuel Carasso, seorang yang Yahudi berkebangsaan Itali. Tetapi apa yang berlaku adalah sebaliknya, sehingga dia berkata: “Lelaki ajaib ini hampir-hampir menyebabkan aku memeluk Islam dengan kata-katanya” (Zaidin 2001, hlm. 32).

Dalam tahun 1908, satu pemberontakan telah meletus Revolusi Turki Muda (The Young Turk Revolution) yang didalangi oleh Pertubuhan Perpaduan dan Kemajuan telah berhasil memaksa Sultan mengaktifkan semua kelembagaan. Walaupun Said Nursi menyokong usaha untuk mengembalikan kelembagaan dalam negara, tetapi Revolusi Turki Muda tidak disetujuinya. Ini jelas dari sikap Said Nursi yang berpegang kepada prinsip kesederhanaan (menolak kekerasan) dalam menuntut sesuatu keadilan atau kebaikan. Lebih-lebih lagi, Pertumbuhan Perpaduan dan Kemajuan yang menjadi penggerak utama ke arah tercetusnya revolusi tersebut bergerak di atas teras perjuangan yang menyimpang dari ajaran Islam (Zaidin 2001, hlm. 33).

Said Nursi terus menyampaikan idenya kepada masyarakat tanpa dapat dipengaruhi oleh mana-mana pihak. Beliau melihat hanya dengan Perlembagaan Islam yang mampu mengembalikan kekuatan dan kemakmuran dakwah. Ini jelas dari pidato yang disampaikannya di Salanik selepas pengisytiharan kelembagaan tersebut. Di antara ucapannya, seperti dikutip Zaidin (2001, hlm. 34): “Berhati-hatilah saudara-saudaraku, jangan kamu hancurkan kebebasan ini dengan kematian kali kedua dengan tindakan-tindakan yang bodoh dan pengabaian dalam urusan agama. Sesungguhnya Undang-Undang Asas yang berfraksikan kepada Undang-Undang Islam (Syariat) adalah malaikat maut yang akan menyentap semua ruh isme-isme yang merusakkan, akhlak buruk, tipu daya syaetan dan penyelewengan yang hina.”

Pada 5 Oktober 1908 (9 Ramadan 1326 H), Austria telah mengumumkan kemasukan Bosnia dan Hersegovina ke dalam negara tersebut. Sebagai tindak balasan, kerajaan telah menyatakan memboikot semua barang Austria dan gedung-gedung jualannya. Aktifitas perniagaan dan perdagangan di Istanbul mulai terhambat (Zaidin 2001, hal. 37). Keadaan ini berimbas juga pada kehidupan hampir dua puluh ribu masyarakat buruh dari bangsa Kurdi. Akhirnya mereka melancarkan mogok dan tidak lagi mematuhi arahan ketua-ketua mereka. Suatu hari, kumpulan buruh yang berada di Khan Ashirah mulai bertindak liar.

Said Nursi yang mendengar berita tersebut terus bergegas ke sana dan memberikan nasihat kepada mereka. Antara lain kata-katanya ialah:

Musuh kita adalah kejahilan, keperluan dan perselisihan. Kita akan memerangi ketiga-tiga musuh ini dengan senjata kemajuan, pengetahuan dan penyatuan. Oleh itu kita perlu bantu membantu dan berganding bahu dengan orang-orang Turki. Mereka adalah saudara kita,…mereka telah menyadarkan kita dari kealpaan dan mendorong kita dari ke arah ketamadunan. Ya, kita akan bersatu dengan mereka (orang Turki) dan mereka yang berjiran dengan kita kerana permusuhan dan perseteruan adalah kebinasaan. Kita sebenarnya tidak mempunyai waktu untuk bermusuhan (sesama sendiri)… (Said Nursi dalam Zaidin 2001, hlm. 38).

 

Sungguh luar biasa pengorbanan Said Nursi yang telah berani meredamkan amarah buruh bangsa Kurdi yang sudah menggunung, karena mereka sudah tidak percaya kerajaan yang sudah membaikot barang Austria. Said Nursi secara tegas mengatakan musuh kita bukan orang-orang Turki, tapi musuh kita kejahilan dan perselisihan. Orang Turki adalah saudara sendiri bukan musuh, karena perseturuan dan permusuhan justeru akan membinasakan kita sendiri. Akhirnya, mereka semua menyadari bahwa tindakan yang mereka lakukan dengan mendemo kerajaan kekeliruan yang harus dibenahi.

 

  1. Ikut Perang Dunia I (1918-1923)

Bagian ini akan memaparkan keterlibatan Said Nursi dalam Perang Dunia I menentang tentara Rusia dan Armenia. Corak perjuangannya yang sederhana (tanpa senjata dan kekerasan) telah diubah kepada perjuangan bersenjata apabila berhadapan dengan musuh-musuh luar (bukan Islam).

Said Nursi dan Inggris (1918-1923), fatrah ini menyaksikan bagaimana Said Nursi menggunakan segala ruang yang ada untuk menyedarkan umat Islam dan membangkitkan semangat mereka supaya berjihad menentang penjajah:

Pada 5 April 1909, Parti al-Ittihad al-Muhammadi telah ditubuhkan di Istanbul. Ia diasaskan oleh Darwish Wihdati. Pertumbuhan politik Islam ini  secara umumnya adalah tindak balas masyarakat Islam yang merasa bimbang dengan perkembangan yang berlaku dalam negara di bawah pemerintahan Parti Perpaduan dan Kemajuan. Mereka menuntut supaya Syariat Islam ditegakkan semula dalam negara. Antara kesan daripada protes mereka terhadap kerajaan ialah berlakunya penutupan kedai minuman keras dan pusat teater. Mereka juga menuntut supaya kerajaan membuat sekatan ke atas Gerakan Kebebasan Wanita (Zaidin 2001, hlm. 32).

 

Said Nursi yang menyertai pertumbuhan politik ini, turut sama memberi sumbangan dengan menyampaikan ide-idenya kepada masyarakat melalui akhbar Volkan yang merupakan lidah rasmi pertumbuhan tersebut. Bahkan Said Nursi sendiri telah berucap sewaktu pertubuhan ini diasaskan. Di samping Volkan, Said Nursi juga menulis di dalam akhbar-akhbar lain seperti al-Aqbah, Surbasti, Mizan, al-Misbah dan lain-lain lagi (Zaidin 2001, hal. 38).

Meskipun Said Nursi menyokong Parti al-Ittihad al-Muhammadi, sokongan ini sedikitpun tidak menyekat beliau dari menyatakan kebenaran, maupun mengkritik mana-mana pihak yang dilihatnya tidak bertindak sewajarnya. Ini terbukti apabila sebagian kritikannya juga ditujukan kepada golongan pengarang, termasuklah Darwish Wihdati sendiri, yang tidak memperlihatkan adab-adab penulisan yang Islamik. Antara kritikannya, “Sasterawan seharusnya beradab, terutamanya dengan adab-adab Islam supaya (kekuatan) agama itu dapat menjadi pengawal dalam bidang penulisan.

Dalam tahun 1910, Said Nursi meninggalkan Istanbul dan kembali ke Wan melalui Batum (Batum). Dalam perjalanan, Said Nursi singgah di Tiflis (Tiflis) untuk melihat suasana bandaraya tersebut. Untuk itu, Said Nursi pun mendaki Bukit Shaykh Sanan dan untuk seketika Said Nursi memandang ke arah bumi yang berada di bawah jajahan Rusia. Seorang pegawai polis Rusia datang menghampirinya. Setelah sampai ke Wan, Said Nursi mulai menyampaikan kuliah-kuliah agama kepada masyarakat. Himpunan soalan serta jawaban yang diberikan dalam kuliah itu dimasukkan oleh Said Nursi dalam kitabnya al-Munazarat. Karangan dalam bahasa Turki ini kemudiannya diterjemahkan kedalam bahasa Arab judul Rajtat al-awwam. Kitab ini telah dicetak di Istanbul dalam tahun 1913 (Zaidin 2001, hlm. 44-46).

Ketika terjadi pemberontakan besar 31 Maret pada tahun 1909, ia telah coba mententeramkan keadaan. Pada tahun 1911, Ia pergi ke Damaskus untuk menyampaikan khutbah di Masjid Umayyah tentang kondisi umat Muslim dan cara mengatasi masalah-masalahnya. Dalam perang dunia I, Badiuzzaman menjadi pemimpin pasukan sukarelawan di medan perang Kakasia dan Turki Timur. Dalam pertempuran ini Said Nursi bersama para muridnya dengan segala daya yang dimiliki turut serta menghadapi tentara Rusia. Kemudian selama terlibat dalam pertempuran tersebut ia pun berhasil menyusun tafsirnya yang sangat berharga, Isyarat al-I’jaz Fi Mazhan al-Ijaz, dalam bahasa Arab. Said Nursi pun tertangkap oleh pasukan tentara Rusia dan dibawa ke salah satu markas tawanan militer di Qustarma yang terletak di Timur Rusia (Salih 2003, hlm. 25-29).

Setelah 2 tahun Said Nursi pulang ke Istanbul pada tahun 1918. Kemudian Said Nursi diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyyah – Lembaga ilmiah milik para ulama Turki Usmani – tanpa sepengetahuannya sebagai penghargaan baginya.  Dalam tesis Zaidin (2001, hlm. 49) dituliskan pula tentang penugasan Said Nursi untuk memimpin perang. Ini terjasi pada 1912, dalam minggu-minggu pertama tercetusnya Perang Balkan, Said Nursi telah dilantik memimpin pasukan Sukarelawan dari selatan anadul (Anatolia). Said Nursi kemudiannya di saat-saat hampir tercetusnya Perang Dunia I diberi kepercayaan untuk menganggotai al-Tashkilat al-Makhsusah. Kerajaan telah membuat keputusan untuk menyebarkan Fatwa Jihad keseluruh dunia Islam. Beliau telah ditugaskan melaksanakan misi tersebut ke Libya (Afrika Utara). Dengan menaiki kapal selam Jerman, Said Nursi dan pasukannya berangkat ke sana. Misinya ini adalah untuk menghubungi Sayyid Muhammad Idris al-Sanusi yang ketika itu sedang berjuang menentang tentara Itali.

 

  1. Menentang Mustafa Kemal Attatruk

Said Nursi berulang kali diundang ke Ankara oleh Mustafa Kamal, sehingga ia berangkat juga ke sana pada tahun 1922, sebelum Hari Raya Qurban tahun itu, dan kedatangannya ini telah disambut dengan meriah. Sayangnya beliau tidak betah di Ankara karena melihat kebanyakan di antara para anggota dewan tidak aktif shalat, sebagaimana perilaku Mustafa Kamal pun tampak berlawanan dengan Islam suatu hal yang membuat ia sangat sedih. Dengan demikian, beliau berketetapan utuk mencetak pernyataan pada tanggal 19/1/1923 M. yang membuat sepuluh materi yang dialamatkan kepada para anggota dewan, sebagai nasihat dan peringatan Islami.

Kemudian pernyataan ini dibagiikan kepada  para anggota dewan yang dipimpin oleh Jenderal Kazhim Qurah Bakar (Panglima Besar  Gerakan Kemerdekaan). Buah dari langkah tersebut telah berhasil menyadarkan kira-kira enam puluh di antara mereka menjadi orang-orang taat beragama dan aktif menjalankan shalat, sehingga masjid yang ada di sana tidak mampu menampung jamaah dan akhirnya dipindahkan ke ruangan yang lebih besar.

Mustafa Kamal rupanya tidak senang dengan pernyataan ini dan oleh karena itu dia memanggil Said Nursi. Kemudian, terjadilah pembicaraan seru di antara keduanya. Di antara kata-kata yang disampaikan oleh Mustafa Kamal saat itu:

Sejujurnya, bahwa kami sangat membutuhkan orang seperti Anda. Untuk itu kami sengaja mengundang Anda ke sini agar kami bisa mengambil manfaat dari pendapat-pendapat Anda yang sangat berharga. Tetapi langkah pertama yang Anda sampaikan kepada kami ternyata urusan shalat yang membuat di antara sesama anggota majelis di sini terpecah. Seraya memberi isyarat dengan telunjuknya, Badiuzzaman menjawab pernyataan Mustafa Kamal : Pasya…Pasya… Sesungguhnya hakikat yang paling menonjol sesudah iman adalah shalat. Sesungguhnya orang yang tidak menjalankan shalat adalah pengkhianat, sedangkan kepemimpinan seorang pengkhianaat di mata hukum adalah tidak diterima…..Mendengar jawaban ini Mustafa Kamal berpikir hendak menjauhkannya dari Ankara. Untuk itu, beliau ditawari jabatan sebagai penasihat umum wilayah timur dengan gaji yang menggiurkan. Tetapi Said Nursi menolak tawaran ini (Salih 2003, hlm. 41-43).

Setelah merasakan adanya niat buruk yang dialamatkan kepada Islam dari sejumlah pihak pemerintah di Ankara, maka Said Nursi pun pergi meninggalkan kota ini. Ia pergi dari sana dengan hati yang sedih dan membuat dirinya banyak melakukan tahajjud, ibadah, dan pengaduan kepada Allah atas keadaan yang terjadi menimpa kaum mulimin. Ia pergi menuju kota Wan dan tinggal di sebuah rumah kumuh yan tidak berpenghuni yang terletak di gunung Ark. Di sanlah untuk sekian lama waktunya dihabiskan dengan mengasingkan diri dari keramaian. Di sanalah beliau i’tikaf dan mengheningkan cipta, seolah-olah bahwa Allah sedang mmpersiapkan dirinya untuk tampil menghadapi tugas berat dan bahaya yang hendak menghancurkan Islam ( Salih 2003, hlm. 43-45).

 

  1. Perjuangan Menuju Rumayli (Rumelia)

Selepas berada di Sham, Said Nursi pergi ke Bayrut (Beirut) dan kemudiannya kembali ke Istanbul melalui jalan laut pada Jun, 1911. Said Nursi telah dipilih sebagai wakil dari Timur Turki untuk mengiringi Sultan Rashad dalam satu lawatan ke Rumayli, sebuah kawasan Eropa di bawah kekuasaan Turki. Rombongan Di-Raja ini berangkat dengan menaiki kapal perang Barbarossa dan mereka sampai ke Salanik pada 7 Juni 1911. Pada 11 Juni 1911, rombongan tersebut sampai ke Uskup (Skopje), sebuah bandaraya bersejarah, yang juga merupakan ibukota Qusuwa (Kosovo). Dalam perjalanan ini, dua orang pengikut Sultan yang berpendidikan sekolah modern berbual dengan Said Nursi (Zaidin 2001, hlm. 48).

Pada ketika itu, sebuah universitas sedang dibina di Qusuwa. Said Nursi mengambil kesempatan ini dengan menjelaskan kepada Sultan dan beberapa orang pemimpin Partai Perpaduan dan Kemajuan tentang betapa perlunya dibina sebuah universitas di Timur Turki. Rencana tersebut telah disambut baik oleh Sultan. Setelah Qusuwa jatuh ketangan Rusia dalam Perang Balkan, peruntukan sejumlah 19.000 lira yang disediakan bagi penubuhan universitas di Timur Turki atas permintaan Said Nursi sendiri. Setelah kembali ke Wan, Said Nursi terus meletakkan batu pertama pendirian universitas tersebut di Irtamit (Edremit), berhampiran dengan Tasik Wan (Zaidin 2001, hlm. 48-49). Kendati proyek terebut tidak membuahkan hasil yang membanggakan disebabkan meletusnya Perang Dunia I.

Meskipun sepanjang hidupnya dia selalu menentang segala pemberontakan dan gerakan yang bermaksud memecah ketenteraman dan keteraturan masyarakat, dan selalu menandaskan bahwa hak-hak setiap orang tidak boleh dilanggar meskipun demi kepentingan seluruh masyarakat, dia dituduh membangun organisasi-organisasi rahasia yang bertujuan menghancurkan ketenteraman masyarakat.

Ketika dalam persidangan dia ditanya pendapatnya tentang negara Republik Turki, dia menjawab : “Biografi saya yang kalian pegang itu membuktikan bahwa saya ini warga negara republik yang religius bahkan sebelum kalian lahir ke dunia. Dia ditahan selama 11 bulan di penjara sebelum akhirnya diputus tidak bersalah” (Salih 2003, hlm. 66).

Setelah dibebaskan, dia dipaksa tinggal di Kastamonu. Semula dia tinggal di lantai teratas kantor polisi itu, kemudian dipindahkan ke sebelah rumah tepat dia seberangnya. Dia menetap di Kastamonu selama tujuh tahun, dan beberapa bagian penting dari Risalah An-Nur ditulisnya disana. Selama masa ini, baik dia maupun para santrinya (dari Kastamonu dan daerah-daerah lain) terus-menerus mendapatkan tekanan dari pemerintah. Tekanan tersebut kian lama kian meningkat, dan berpuncak dengan penangkapan besar-besaran dan pengadilan serta pemenjaraan di Denizli pada tahun 1943-1944. Dia dituduh membentuk tariqah Sufi dan mengorganisir masyarakat politis. Meskipun tuduhan itu akhirnya gugur, tetapi Said Nursi dikurung selama 9 bulan dalam sebuah sel yang kecil sekali, gelap dan pengap dalam kondisi yang sangat menyedihkan sampai ia dibebaskan pada tahun 1944:

Setelah dibebaskan, Said Nursi dikirim ke kota Emirdag, Propinsi Afyon agar menetap disana. Pada tahun 1948 sebuah perkara baru dibuka di Pengadilan Pidana Afyon. Pengadilan memvonis dia dengan semena-semena, tetapi vonis tersebut dibatalkan melalui banding, dan Said Nursi besrta murid-muridnya dinyatakan tidak bersalah. Setelah itu dia berpindah-pindah tempat tinggal seperti ke Emirdag, Isparta, Afyon, dan Istanbul. Pada tahun 1953 dia diadili sekali lagi, kali ini dengan tuduhan menerbitkan A Guide for Youth (Petunjuk bagi Para Pemuda), dan kembali dinyatakan tidak bersalah. Pada saat wafatnya di Urfah, 23 Maret 1960, yang mungkin bertepatan dengan Lailatul Qadar, penyelenggara pemakaman menemukan peninggalannya berupa sehelai surban, sepotong pakaian, dan uang dua puluh lira (Salih 2003, hlm. 67).

 

Said Nursi di depan pengadilan pernah menyampaikan pembelaan yang sangat terkenal. Berikut ini akan kita kutip sebagian daripadanya:

Bapak-bapak hakim yang terhormat: Saya telah dihadapkan ke persidangan ini dengan tuduhan bahwa saya seorang yang telah menjadikan agama sebagai jalan untuk membuat kekacauan dan merusak keamanan umum. Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk menyampaikan pernyataan kepada Bapak-bapak sekalian:            Dampak suatu perbuatan tidak bisa dituduh sebagai faktor penyebab suatu kasus sampai terjadi dan tidak dapat dituduh sebagai biang keladinya. Memang, bisa jadi batang korek api dapat membakar rumah. Tetapi kemungkinan ini tidak berarti sebagai biang segala tindakan kriminal. Aktivitasku yang hanya terfokus menggeluti ilmu-ilmu keislaman hanya dijadikan sarana untuk memperoleh ridha Allah, jauh bumi dari langit untuk dipergunakan selain dari itu.     Bapak-bapak telah betanya: Apakah saya termasuk orang-orang yang aktif dalam kegiatan seperti yang dilakukan para pengikut thariqah sufisme? Pertanyaan ini saya jawab: Sesungguhnya era kita sekarang adalah era memelihara iman bukan era mempertahankan thariqah sufisme. Kelak di akhirat pasti akan banyak masuk syurga tanpa melalui thariqah sufisme. Tetapi seorang pun tidak akan ada yang masuk ke sana tanpa iman (Salih 2003, hlm. 67).

 

Sebagai akhir perjuangannya Said Nursi memberikan peniggalan sejati yang tak ternilai dari pahlawan Islam dan kemanusiaan ini, yang pada saat meninggalnya hanya berbobot 40 kilogram, adalah Kumpulan Risale-i Nur setebal 6000 halaman, yang telah diperkarakan di berbagai persidangan sebanyak sekitar 2000 kali hingga sekarang, dan prinsip-prinsip mulianya yang merupakan dimensi yang tidak akan bisa dicatat dalam catatan penyelenggara jenazah (Said Nursi 2003b, hlm. XV-XVI).

 

Karya Tulis

Sebelum mengenal karya tulis Said Nursi perlu diketahui bahwa karya tulis Said Nursi banyak sekali, selain Kuliyatul Rasailin Nur, Said Nursi juga memiliki karya-karya lain.

 

Risale-i Nur

Rilale-i Nur sekarang lebih dikenal “Kuliyatul Rasailin Nur” adalah kumpulan kitab tafsir yang ditulis oleh Said Nursi yang diberi nama “Risale-i Nur”. Adapun yang dimaksud Risale-i Nur adalah kumpulan tulisan Said Nursi berjumlah 14 jilid. Kumpulan tulisan 14 jilid inilah yang disebut Risale-i Nur. Risale-i Nur adalah karya monumental Said Nursi yang ditulisnya dengan tulisan tangan bersama muridnya yang tebalnya berjumlah kurang lebih 6000 halaman, selain itu terdapat pula karya-karya Said Nursi yang lain yang ditulis pada masa Said Lama dan Said Ketiga. Berikut ini akan disebutkan bagian Risale-1 Nur karya tulis Said Nursi selengkapnya adalah :

 

 

 

Tabel 1

Kumpulan Tulisan 14 Jilid Risale-i Nur

 

No.

Judul Buku

Tahun

Perbitan

Bahasa

Yang

Digunakan

Keterangan
1. Sozler 1926-1929 Turki Asli dan Masih Terbit
2. Mektubat 1929-1932 Turki Asli dan Masih Terbit
3. Lema’alar 1921-1932-1934 Turki Asli dan Masih Terbit
4. Su’alar 1936-1940 Turki Asli dan Masih Terbit
5. Isyaratul Ijaz 1916-1918 Turki Asli dan Masih Terbit
6. Mesnavi Nuriye 1922-1923 Arab dan

Turki

Asli dan Masih Terbit
7. Barla Lakihasi 1925-1930 Turki Asli dan Masih Terbit
8. Ermidag Lakihasi 1944-1949 Turki Asli dan Masih Terbit
9 Kastamonu Lakihasi 1936-19 Turki Asli dan Masih Terbit
10. Tarihce Hayati 1948-1950 Turki Asli dan Masih Terbit
11. Asyari Musa Turki Asli dan Masih Terbit
12. Iman ve Kufur

Munavazeleri

1948-1950 Turki Asli dan Masih Terbit
13. Sikke-i Tadikff Qaibi 1948-1950 Turki Asli dan Masih Terbit
14. Muhakamet 1911 Turki Asli dan Masih Terbit

 

Demikian keempat belas kitab Risale-i Nur yang merupakan master peice dari kitab-kitab Risale-i Nur. Di antara kitab-kitab Said Nursi di atas, ada yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yakni terdapat 33 Cahaya (al-lama’at) dalam buku Menikmati Takdir Langit, 29 Surat (al Maktubat)dalam buku Menjawab Yang Tak Terjawab, Menjelaskan Yang Tak Terjelaskan, dan 12 Risalah (ar-Risalah) terdapat dalam buku Sinar Yang Mengungkap Sang Cahaya (Epitomes of Light). Secara global isi pokok dalam karya tersebut mengupas tentang aqidah dan keimanan yang diindikasikan dengan ma’rifat Allah, ma’rifat Rasulullah, manhaj as-Sunnah; penguatan aspek ibadah, dan akhlak atau adab-adab Islami dan lain-lain.

 

Kitab-kitab Lain

Dalam konteks ini, maka keberadaan Risale-Nur merupakan sumber dari pembahasan karya-karya Said Nursi yang ditulisnya menjadi kitab-kitab lain tersebut, adapun kitab-kitab lain yang ditulis oleh Said Nursi diklasifikasi :

 

Tabel 2

Karya-karya Said Nursi

 

No. Judul Buku dan

Makalah

 

Tahun

Penulisan

Bahasa Yang

Digunakan

Keterangan

1. Talikat (mantik) Arab Asli dan Masih Terbit
2. Kull Icaz (mantik) Turki Asli dan Masih Terbit
3. Isarat Turki Asli dan Masih Terbit
4. Munazarat Turki Asli dan Masih Terbit
5. Divani Harbi- Orfi Turki Asli dan Masih Terbit
6. Sunuhat Turki Asli dan Masih Terbit
7. lserat Turki Asli dan Masih Terbit
8. Sunuat Nubuwuyat Turki Asli clan Masih Terbit
9. Hutbei Saniye Turki Asli dan Masih Terbit
10.

 

Nutqah min Ma’rifatillah

Jalla Jalahu

Turki Asli dan Masih Terbit
11. Nutuk (Khutbah, pidato) Turki 10 bush, Asli dan Masih

Terbit

12. Hair Risalasi Turki Asli dan Masih Terbit
13. Geclik Rehberi Turki Asli dan Masih Terbit
14. Konsferan Ankara Turki Asli dan Masih Terbit
15. Konsferan Ankara 1950 Turki Asli dan Masih Terbit
16. Yirni Ucucu Soz Turki Asli dan Masih Terbit
17. Otuz Ucu Pencere Turki Asli dan Masih Terbit
18. Nur Alemini Anahtari Turki Asli dan Masih Terbit
19. Uhuwet Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit
20. Ramazan Iktire Risaleler Turki Asli dan Masih Terbit
21. Was Risafeleri Turki Asli clan Masih Terbit
22. Tabiat Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit
23. Haftimlar Rehberi Turki Asli dan Masih Terbit
24. Hastalar Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit
25. Sunnet Seniyye Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit
26. Latief Nukteler Turki Asli dan Masih Terbit
27. Zahretin Nur Turki Asli dan Masih Terbit
28. Ayat-i Kubra Turki Asli dan Masih Terbit
29. Meyve Risalesi Turki Asli clan Masih Terbit
30. El Huccetuz Zahra Turki Asli dan Masih Terbit
31. Hakekat Nurlar Turki Asli dan Masih Terbit
32. Iman Hakikatleri Turki Asli dan Masih Terbit
33. Miftahul Iman Turki Asli dan Masih Terbit
34. Siracin Nur Turki Asli dan Masih Terbit
35. Tilsinflar Mecmuast Turki Asli dan Masih Terbit
36. Ecnebi Filozoflarm

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Filowflann$ehadetleri

Turki Asli dan Masih Terbit
37. Encebi Filozoflarin Sehadtleri Turki Asli dan Masih Terbit
38. Adfikar Mecmuasi Turki Asli dan Masih Terbit
39. Nur Gegmesl Turki Asli dan Masih Terbit
40. Tuluit Turki Asli dan Masih Terbit
41. Runifiz Turki Asli dan Masih Terbit
42. Tiryak Turki Asli dan Masih Terbit
43. Riale-I Nur Kulliyatindan Fihrist Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit

 

Dari pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa dalam sejarah kehidupannya Said Nursi berdasarkan riwayat pendidikan, aktifitas, kecerdasan dan otoritas keilmuannya memiliki potensi sebagai seorang filosof sufi. Said Nursi telah menulis karya-karya yang memberikan sumbangsih positif bagi dunia Islam dalam membangun nilai-nilai akhlak.

Said Nursi percaya bahwa kebahagiaan dan kemakmuran di dalam dunia ini adalah berdiri di atas ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh peradaban zaman. Adapun kunci utamanya menurut Said Nursi adalah akidah (keimanan) dan selalu merujuk pedoman hidup yakni al-Quran. Menguatkan iman dan memperkokoh akidah adalah jalan hidup di dunia modern.

Risale-i Nur sebagai karya besar abad ke-20 itu adalah otentik dalam konteks isi kandungannya melalui tinjauan politik dan sosial kultur yang memiliki bidang kajian yang berbeda-beda jika dibahas.

 

 

Bab 4

ANALISIS PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN AKHLAK MENURUT

BEDIUZZAMAN SAID NURSI DAN RELEVANSINYA DENGAN

PEMBINAAN GENERASI MUDA

 

Pembahasan berikut ini terdiri dari 2 (dua) bagian merupakan analisis dari data yang diperoleh terutama mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi, kemudian data tersebut dikomperasikan untuk melihat relevansinya dengan pembinaan generasi muda. Bagian pertama dibahas mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak mencakup ; menguatkan keimanan, berpegang teguh pada al-Qur’an, memahami hakekat penciptaan manusia, memahami alam semesta, memahami asma’ al-husna, mengetahui tanda-tanda hari kiamat, meyakini hari kiamat, meneladani Nabi Muhammad Saw., dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah. Bagian kedua, fokus bahasan pada prinsip-prinsip pendidikan akhlak dengan pembinaan generasi muda yang mencakup ; relevansi dengan akidah, pandangan hidup, tujuan hidup, ibadah, tingkah laku, situasi kejiwaan, lingkungan, dan tahapan perkembangan kepribadian generasi muda.

 

Prinsip-prinsip Pendidikan Akhlak Menurut Bediuzzaman Said Nursi   

Berdasarkan refleksi dari defenisi operasional judul tesis ini yang dimaksud prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi adalah “Suatu komitmen yang mendalam mengenai kehidupan menuju arah terciptanya perilaku lahir dan batin yang seimbang (seperti Nabi) bagi generasi muda menurut pemahaman Bediuzzaman Said Nursi“. Hal ini berarti bahwa Said Nursi memiliki pemahaman tentang komitmen-komitmen yang mendalam mengenai kehidupan menuju arah yang diinginkan yaitu berperilaku seperti Nabi, yang sangat bermanfaat bagi generasi muda.

Adapun berdasarkan data yang ada, komitmen dasar yang dalam hal ini disebut sebagai prinsip hidup atau prinsip pembinaan atau proses pendidikan akhlak yang dikemukakan oleh Said Nursi dapat dirumuskan menjadi 9 (sembilan) prinsip, sebagai berikut :

Menguatkan Keimanan

Iman bagi manusia sangat penting. Said Nursi memperhatikan secara intensif mengenai keimanan ini, sehingga menjadi komitmen mendasar baginya. “Prinsip menguatkan keimanan” ini benar-benar menjadi dasar bagi setiap orang. Dengan kata lain, keimanan dapat dipahami sebagai akidah atau tauhid. Dalam konteks tauhid ini Ismail Raji’ Al-Faruqi menyatakan bahwa “esensi pengamalan keagamaan dalam Islam adalah tauhid yaitu pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (La illaha illa Allah)” (Al Faruqi 1982, hlm. 30). Pendapat ini menguatkan bahwa sebagian pengalaman hidup adalah pengalaman keagaman. Dimana pengalaman keagamaan cenderung semakin meningkatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Dalam konteks ajaran agama Islam, maka  keimanan mendalam meyakini secara penuh adanya Allah Swt, itulah tujuan ciptaan tertinggi manusia.

Tujuan ciptaan yang paling murni dan fitrah manusia yang paling tinggi ialah iman kepada Allah. Jika ditinjau dari aspek pengamalan agama, tawaran-tawaran Said Nursi adalah penguatan keimanan melalui ruh ketauhidan masuk dalam kehidupan manusia sampai ke relung batin. Tauhid adalah dasar utama dalam menyatakan keimanan secara sempurna. Hakekat keimanan secara menyeluruh dapat dipahami melalui rukun iman.[19]

Menurut Said Nursi hakekat keimanan terdapat dalam kalimat La Ilaha Illah yang merupakan mengakui secara totalitas kekuasaan Allah. Mengenai ini Said Nursi menganggap bahwa “segala sesuatu selain Allah tidaklah berasal dari sesuatu itu sendiri tetapi berasal dari Allah Yang Maha Kuasa. Menganggap alam semesta berasal dari alam semesta itu sendiri atau kuasa-kuasa material itu adalah suatu kesalahan. Segala sesuatu mempunyai dua aspek : aspek pertama mengacu kepada Pencipta sedangkan aspek yang kedua mengacu kepada ciptaan” (Said Nursi 2003, hlm. 92).

Pada prinsipnya, pernyataan di atas menegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, alam bukanlah terjadi dengan sendirinya, demikian pula segala sesuatu bukanlah terjadi tanpa campur tangan Sang Pengusa. Said Nursi yakin bahwa segala sesuatu itu diciptakan dalam 2 (dua) tahap, Pencipta dan Ciptaan. Sebagai seorang yang beriman maka kita harus meyakini bahwa Allah adalah Pencipta dan diluar Allah itu adalah Ciptaan.

Kalimat tauhid yang dipedomani Said Nursi bukan tanpa hikmah, justru  ungkapan kalimat La Ilaha Illah ini terdapat hikmah mendalam yaitu Allah menjadikan segala sesuatu yang ada di jagad ini bagaikan rangkaian kepingan‑kepingan bermakna yang memantulkan keesaan Allah rabb al-‘alamin. Eksistensi dan ketunggalan Tuhan, hari kiamat, kitab suci, kerasulan takdir Ilahi dan keadilan dalam hidup manusia, dan posisi serta kewajiban manusia di antara makhluk-makhluk lainnya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa para ateis dan naturalis mempunyai pendapat yang menyimpang dari manifestasi keesaan Allah Swt pada alam semesta dan manusia. Keyakinan pada kausalitas para ateis dan naturalis melahirkan pernyataan-pernyataan seperti : “Alam itu terwujud oleh sebab, alam terbentuk dengan sendirinya, dan alam itu terjadi tuntutan alam (Said Nursi 2003a, hlm. 333) dan lain-lain” telah melahirkan materialisme, naturalisme, komunisme, bahkan ateisme.

Said Nursi dalam kitab tafsir Risale-i Nur menafsirkan Laa ilaaha illa Allah dan membongkar mitos kausalitas ini dan menunjukkan bahwa mereka yang mengikuti keyakinan ini sebenarnya tidak melihat dunia sebagaimana mestinya, atau bagaimana dunia itu tampak, tetapi bagaimana dunia itu menurut pikiran mereka. Said Nursi justru melalui Risale-i Nur menunjukkan hakikat kejadian alam, manusia, dan peristiwa-peristiwa lainnya yang berada di bawah kendali Zat Yang Maha Mengendalikan, Zat Yang Berkuasa atas segala sesuatu (Said Nursi 2003a, hlm. 334).

Penjelasan di atas menegaskan setiap orang yang benar-benar ingin memahami dunia ciptaan ini sebagaimana mestinya, dan bukan atas kehendak imajinasinya, pasti akhirnya sampai pada kesimpulan Laa ilaaha illah Allah. Dia akan melihat keteraturan dan harmoni, keindahan dan kesimbangan, keadilan dan kemurahan, ketuhanan, keberlangsungan dan keagungan dan sekaligus dia akan menyadari bahwa semua atribut tersebut mengarah kepada benda-benda ciptaan itu melainkan pada realita di mana semua atribut tersebut ada dalam kesempurnaan dan keabsolutan. Dia akan melihat bahwa dunia ciptaan ini adalah buku berisikan nama-nama, suatu indeks yang ingin menceritakan Pemiliknya (Said Nursi 2003c, hlm. xxvii).

Maka dapat diyakini bahwa sebenarnya keimanan menjadi komitmen dasar dalam berakhlak. Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan cerminan dari apa yang ada dalam jiwa (al­-qalb mir-u al’amal). Akhlak yang baik terdorong dari keimanan seseorang karena sesungguhnya iman selain diyakini dalam hati, juga harus ditampilkan dalam perilaku nyata sehari-hari (Ali Anwar Yusuf 2005, hlm.81). Keyakinan tauhid yang terangkum dalam rukun iman seharusnya menjiwai dalam kehidupan manusia. Pendapat ini menguatkan bahwa kunci dari akhlak adalah keimanan.

Adapun tingkat keimanan yang lain adalah kepastian yang datang dari pengalaman langsung dengan kebenaran-kebenaran keimanan. Ini tergantung dari keteraturan kita dalam beribadah dan berpikir. Orang yang telah menguasai tingkatan keimanan ini dapat menghadapi seluruh dunia ini. Jadi, tugas pertama, terutama dan terpenting kita adalah mencapai tingkat keimanan ini dan mencoba dengan kesungguhan demi ridha Allah Yang Maha Kuasa untuk mengkomunikasikannya dengan orang lain.

Sehingga wajar sekali Said Nursi mengutip pendapat Imam Rabbani – pemimpin yang berpengaruh dan murshid terkemuka dari aliran nakshabandiah – mengatakan dalam suratnya, “Aku lebih suka perkara keimanan diketahui dengan cara yang mudah dimengerti daripada mencapai ribuan kenikmatan dan pencapaian rohani, ataupun melakukan keajaiban-keajaiban “. Singkatnya, menguatkan keimanan berupaya menegaskan bahwa tingkat keimanan yang pokok melalui pengalaman langsung dan berkomunikasi dengan orang lain untuk memahami Islam secara integral, baik alam semesta, manusia dan Tuhan.

Hal ini juga berarti bahwa secara tersirat dan tersurat Said Nursi meyakinkan kepada seluruh manusia bahwa prinsip “menguatkan keimanan” harus dilakukan oleh setiap manusia secara keseluruhan di akhir abad ini secara bertahap dan istiqomah dan keimanan mengajarkan untuk mengobati penyakit hati nurani.

Berpegang Teguh pada Al-Qur’an

Al-Qur’an berperan sebagai pedoman dan petunjuk menuju kebenaran Allah Swt. Prinsip berpegang teguh pada al-Qur’an menjadi komitmen dasar bagi Said Nursi. Berpegang teguh pada al-Qur’an  berarti manusia dituntut untuk mencapai kesempurnaan menuju Allah Swt. Sedikitnya ada 3 (tiga) pertanyaan untuk memperkuat argument ini : Apa sebenarnya al-Qur’an ? Mengapa al-Qur’an menjadi pedoman ? Mengapa al- Qur’an menjadi sangat penting dalam mengenal Allahh ?. Ketiga pertanyaan ini sangat penting dijawab, karena secara faktual tanpa ada al-Qur’an maka manusia tidak akan mengenal Allah sebagai Penciptanya.

Al-Qur’an adalah wahyu Allah atau kalam Allah. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang agung dan bacaan mulia serta dapat dituntut kebenarannya oleh siapa saja, sekalipun akan menghadapi tantangan kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin canggih (Syafi’i 2003, hlm. 53). Menurut Harun Nasution “wahyu berfungsi sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan” (Harun 2002, hlm. 81). Jadi, al-Qur’an pada awalnya kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-nabi yang kemudian disusun menjadi sebuah kitab ketika masa khalifa’urrasyiddin.[20]

Menurut Said Nursi al-Qur’an berasal dari Pencipta langit beserta benda-benda langit dan bumi serta seluruh penghuninya. Al-Qur’an yang membuat kita mengenal Tuhan semua alam (Said Nursi 2003a, hlm. 41-42). Said Nursi menuliskan :

Al-Qur’an adalah terjemahan abadi dari alam semesta, penerjemah abadi ‘bahasa­bahasa’ yang menjelaskan tanda-tanda alami dari Allah dan penafsir buku alam semesta. Al-Qur’an adalah penyingkap rahasia khazanah Nama-nama Allah yang tersembunyi pada ‘lembaran-lembaran’ langit dan bumi, dan kunci semua kebenaran yang berada di bawah garis kejadian-kejadian. Al-Qur’an adalah lidah dunia gaib dalam dunia material yang kasat mata, harta karun Tutur ilahi yang abadi dan pertolongan yang baka dari Sang Maha Pengasih. Al-Qur’an adalah landasan rancangan dan matahari bagi dunia intelektual dan spritual Islam dan peta bagi alam akherat. Al-Qur’an adalah penjelas, penafsir yang jernih, bukti yang fasih, dan penerjemah yang lancar dari semua esensi, sifat, nama dan perbuatan Allah; pendidik dan pelatih dalam dunia manusia dan merupakan air bagi umat manusia dan pembimbing sejati yang mengantarkan mereka kepada yang menciptakannya. Selain menjadi kitab hukum bagi umat manusia, al-Qur’an juga merupakan kitab kebijaksanaan bagi mereka. Selain menjadi kitab peribadatan dan penghambaan kepada Allah, al-Qur’an juga berisikan perintah dan ajakan. Selain menjadi kitab tentang senian, al-Qur’an juga merupakan kitab perenungan. Al-Qur’an memang sebuah kitab tunggal, tetapi memuat banyak kitab untuk semua kebutuhan umat manusia. Ia bagaikan perpustakaan suci berisikan buku-buku dan risalah-risalah yang berdasarkannya semua aulia, orang-orang terkemuka, dan semua cendekiawan yang mulia dan suci hati serta para pemikir dengan beragam pendekatan dan sikapnya mengambil cara-cara yang khas satu dengan yang lain. Al-Qur’an menyinari setiap cara ini dan menjawab kebutuhan para pengikut mereka yang memiliki selera dan temperamen yang berbeda-beda (Said Nursi 2003a, hlm. 42).

 

Menurut pandangan Said Nursi berdasarkan kutipan di atas, setidaknya terdapat 6 (enam) pemahaman mengenai al-Qur’an yakni Sebagai penerjemah, lidah, landasan, penjelas, tunggal dan sinar. Al-Qur’an sebagal penerjemah bagi kehidupan manusia secara rnenyeluruh. Sebagai lisan Allah yang selalu berbicara melalui kitab al-Qur’an. Sebagai landasan dalam menjalani kehidupan. Sebagai penjelasan bagi umat manusia tentang hakekat kehidupan. Sebagai sesuatu yang tunggal untuk menjadi petunjuk dan penuntun manusia. Sebagai sinar hati bagi manusia dalam menjalankan peran-peran kehidupannya. Keenam pemahaman mengenai al-Qur’an di atas menegaskan al-Qur’an menjadi pedoman penting bagi kehidupan manusia, terutama dalam rangka pedoman berakhlak mulia.

Al-Qur’an yang bijaksana, yang membuat kita mengetahui Tuhan kita, merupakan penerjemah abadi dari Kitab besar Alam Semesta ; pembuka khasanah nama-nama Allah yang tersembunyi dalam halaman-halaman bumi dan langit ; kunci kebenaran yang berada dibalik rangkaian peristiwa ; khasanah karunia dari Yang Maha Pengasih dan tempat­-tempat abadi yang datang dari alam Ghaib dibalik tabir alam yang kasat mata ini ; matahari alam rohani dan akal budi Islam serta pondasi dan rancangannya, dan peta alam Akhirat ; penjelas, penafsir yang jelas, bukti yang terang, penerjemah yang jelas dari esensi.

Sifat-sifat dan tindakan Ilahi, pendidik dan pelatih dunia manusia serta pembimbing, pemimpin, dan kebijaksanaannya yang benar. Al-Qur’an adalah kitab kebijaksanaan maupun hukum, dan kitab do’a dan ibadah, serta kitab perintah dan himbauan, dan kitab seruan dan ilmu Allah. Al-Qur’an adalah kitab yang berisi kitab-kitab bagi semua kebutuhan rohani manusia, dan dia seperti perpustakaan suci yang menawarkan kitab-kitab dari semua wali dan manusia yang sangat terpercaya dan semua ulama yang suci dan teliti dengan berbagai tabiat telah memperoleh jalan khas bagi diri mereka masing-masing.

Al-Qur’an juga merupakan pendiri : ia adalah dasar dari agama yang nyata, dan fondasi dunia Islam. Ia datang untuk mengubah kehidupan sosial manusia dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan dari kelas-kelas sosial yang berbeda. Kemudian al-Qur’an berbicara tentang hal-hal penting itu dan kebenaran-kebenaran yang sulit dipahami, sehingga diperlukan pengulangan di dalam konteks yang berbeda untuk membuat pikiran dan kalbu manusia terkesan dalam aspek-aspeknya. Apapun yang terjadi, pengulangan itu tampak nyata. Senyatanya, kata mempunyai berbagai lapis makna, manfaat yang banyak, serta banyak aspek dan tingkatan. Di dalam masing­masing tempat, kata dan ayat tertulis dengan cara yang berbeda, dalam konteks berbeda, untuk mencapai tujuan, makna, dan manfaat yang berbeda.

Al-Qur’an menyebutkan masalah kosmologis tertentu dengan cara yang ringkas dan sulit dipahami. Hal ini tidak bisa menjadi sasaran kritik, dan bukan suatu kesalahan seperti yang dibayangkan oleh orang-orang ateis. Sebaliknya, hal ini adalah cahaya kemukjizatan yang lain, karena al-Qur’an dimaksudkan untuk membimbing manusia (Said Nursi 2003, hlm. 272-273).

Dalam al-Qur’an penuh dengan pengetahuan dan kebenaran yang mutlak sebagaimana menurut Said Nursi sebagai berikut :

Sesungguhnya, al-Qur’an, alam semesta dan manusia adalah tiga jenis manipestasi dari satu kebenaran. Al-Qur’an, yang berasal dari sifat firman Ilahiah, bisa dianggap sebagai alam semesta, yang berasal dari sifat kuasa dan kehendak Ilahiah, bisa dianggap sebagai al-Qur’an yang diciptakan. Jadi, dari sudut pandang ini, alam semesta adalah pasangan dari al-Qur’an, yang tidak akan bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu, sekarang, saat sains berjaya, dan juga kelak, yang akan menjadi zaman pengetahuan, keimanan yang sejati harus didasarkan pada argumen dan penyelidikan, juga pada pemikiran yang terus menerus terhadap tanda-tanda Allah di alam semesta, pada fenomena, “alam”, sosial, historis dan psikologis. Keimanan bukanlah sesuatu yang didasarkan pada taglid yang membuta. Keimanan harus terjadi atas intelektualitas atau nalar dan kalbu, keimanan menggabungkan penerimaan dan penegasan nalar dan pengalaman serta penyerahan kalbu (Said Nursi 2003c, hlm. xx).

 

Kutipan di atas menjelaskan bahwa keimanan merupakan keyakinan awal bagi manusia memahami kehidupan. Pandangan yang menganggap al-Qur’an adalah sebagai sumber segala pengetahuan itu bukanlah hal yang baru. Imam al-Ghazali misalnya dalam buku Ihya ‘Ulum Al-Din, beliau mengutip kata-kata Ibnu Mas’ud : “Jika modern, selayaknya dia merenungkan al-Qur’an”. Selanjutnya beliau menambahkan : “Ringkasnya, seluruh ilmu tercakup di dalam kaya-kaya dan sifat-sifat Allah, dan Al-Qur’an adalah penjelas esensi, sifat-sifat, clan perbuatan-Nya”. (Mahdi 2001, hlm. 137). Keimanan tidak dapat dipisahkan dari petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalam al-Qur’an. Melalui al-Qur’an muncul keyakinan atau keimanan secara mendalam kepada Sang Pencipta yang dengan memahami alam semesta dan mengerti proses penciptaan manusia adalah upaya untuk meningkatkan keimanan itu sendiri.

Hal yang paling prinsip bagi Said Nursi dalam berpegang teguh kepada al-Qur’an, ketika Said Nursi masih menetap di Wan, beliau telah mendengar satu peristiwa yang telah meninggalkan kesan yang cukup mendalam pada dirinya; yakni ketika Tahir Basha telah memberitahukan kepadanya ucapan Gladestone (menteri Tanah Jajahan Britain) dalam satu perhimpunan resmi kerajaan Britain, sambil memegang sebuah mushaf al-Qur’an dan berkata ;

Ingiliz meclis-i meb’usani’nda mustenitekal naziri, elinde Kur’an-i kerim gostererek Soyledigi bir nutukla: “Bu kur’an islamlarin elinde bulundukca biz onlara hakim olamayiz. Ne yapip yapmaliyiz, bu kur’ani onlarin elinden kaldirmaliyiz; yahut muslumanlari kur’andan sogutmaliyiz diye hitabed bulunmus… ” (Said Nursi 1999e, hlm. 47).

 

Maksud perkataan tersebut : “Selagi al-Qur’an ini berada di tangan orang-orang Islam (menjadi pegangan mereka), selagi itulah, kita tidak akan mampu mengusai mereka. Oleh karena itu kita perlu jauhkan al-Qur’an dari mereka“. Setelah mendengar berita tersebut Said Nursi tentu bangkit dan berkata : “Bediuzzaman’in bu havadis uzerine: kur’anin sonmez ve sondurumez manevi bir gunes hukmunde oldugunu ben dunyaya ispat edecegim ve gosterecegin! Diye bir niyet ruhunda uyanir ve bu saikle calisir” (Said Nursi 1999e, hlm. 47-48). Said Nursi berkata : “Akan aku buktikan kepada, dunia, bahwa al-Qur’an adalah mentari maknawi yang tidak akan luntur sinarnya dan tidak akan dapat dipadamkan cahayanya.”

Demikian, yang mendasari komitmen Said Nursi dalam berpegang teguh pada al-Qur’an dan menjaganya dari kejahatan musuh Islam. Dari penjelasan di atas dapat ditegaskan bahwa dalam konteks ini berarti al- Qur’an merupakan informasi yang menjelaskan tentang pentingnya tauhid atau keimanan sebagai rangkaian mengkokohkan keyakinan. Kemudian, pentingnya al-Qur’an sebagai kalam Allah, karena menceritakan dan mendeskripsikan secara implisit tentang proses penciptaan manusia dan proses penciptaan alam semesta, yang memperkuat pemahaman mengenai manusia, alam dan Tuhan. Pentingnya, informasi al-Qur’an sebagai dan sumber rujukan bagi akhlak untuk membentuk pribadi yang berakhlak. Sebab, melalui al-Qur’an manusia memperoleh petunjuk, jalan, pedoman dan sumber kehidupan bagi berakhlak mulia.

Sesungguhnya, al-Qur’an, alam semesta dan manusia adalah tiga, jenis manifestasi dari satu kebenaran. Al-Qur’an, yang berasal dari firman Tuhan (ilahiah), bisa, dianggap, sebagai alam semesta yang ditulis atau disusun, sedangkan alam semesta, yang berasal dari sifat kuasa dan kehendak ilahiyah, bisa, dianggap sebagai al-Qur’an yang diciptakan. Jadi, dari sudut pandang ini, alam semesta adalah pasangan dari al-Qur’an, yang tidak akan pernah bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu, sekarang, saat sains berjaya, dan juga, kelak, yang akan menjadi zaman pengetahuan, keimanan yang sejati harus didasarkan pada argumen dan penyelidikan, juga pada pemikiran yang terus-menerus terhadap, tanda-tanda, Allah SWT di alam semesta, pada fenomena, alam, sosial, historis, dan psikologis (Said Nursi 2003b, hlm. xiv). Tegasnya, keimanan bukanlah sesuatu yang didasarkan pada taqlid membuta. Keimanan harus terdiri atas intelektualitas atau nalar dan kalbu. Keimanan rnenggabungkan penerimaan dan penegasan nalar dan pengalaman serta penyerahan kalbu.

 

Pentingnya Memahami Hakekat Penciptaan Manusia

Prinsip pentingnya memahami hakekat penciptaan manusia senantiasa berkaitan dengan memahami makna hidup dalam konteks ajaran Said Nursi. Karena dengan prinsip ini manusia mengerti keberadaan dirinya di muka bumi ini. Kehadiran manusia di muka bumi ini memiliki beragam pertanyaan. Bahkan hampir sepanjang hidupnya manusia harus belajar keberadaan dirinya (Said Nursi 2004, hlm. 17). Memahami hakekat penciptaan manusia harus diiringi dengan iman. Iman adalah kunci keyakinan mendalam terhadap penciptaan manusia dan alam semesta. Keyakinan ini ditimbulkan melalui akal atau penalaran dan hati nurani yang menyumbangkan peranan penting terhadap pemahaman manusia. Baik mengenai manusia sebagai mikrokosmos maupun alam sebagai makrokosmos.

Dalam konteks manusia sebagai mikrokosmos Ibrahim Hamzah (2001, hlm. 9) menyatakan bahwa “manusia itu terdiri dari atas 2 (dua) unsur, yaitu tubuh dan ruh jasad)”. Said Nursi secara implisit menyatakan bahwa manusia tersusun dalam dua unsur pokok yakni jasad sebagai material dan jiwa sebagai spritual. Intinya, Said Nursi juga berpendapat bahwa manusia itu memiliki unsur “ruhani dan jasad”. Pendapat ini sama seperti pendapat Ibn Miskawaih[21] bahwa hakekat manusia memiliki dua unsur yakni jiwa yang diketahui sebagai wawasan spiritual berasal dari Allah, dan jasad sebagai wawasan materialnya bermula dari alam materi. (Ibn Miskawaih 1979, hlm. 327). Pernyataan Said Nursi mengenai manusia terdiri dari 2 (dua) unsur yakni :

Jiwa yang terobesesi dengan penampilan meratap dengan putus asa ketika menyaksikan rusaknya sesuatu yang dipuja-puja ketika terjadi bencana alam, sedangkan ruh yang mencari sebuah cinta abadi juga meratap dan berkata “Aku tidak menyukai sesuatu yang seperti itu. Aku tidak menginginkan, aku tidak menghendaki, perpisahan dan aku tidak dapat menjalaninya”… Apabila kalian menginginkan kekekalan di dunia fana ini, kekekalan lahir dari kefanaan. Hancurkan dari dalam diri kalian tanpa harus menghancurkan jasmani kalian, jiwa yang diperintahkan setan, sehingga kalian dapat mencapai kekekalan… Bebaskan diri kalian dari moral-moral yang buruk, yang merupakan dasar pemujaan duniawi, dan wujudkan penghancuran hal-hal buruk dalam diri. Korbankan harta benda dan kekayaan kalian di jalan Allah. Lihat akhir suatu wujud, yang menandai kepunahan. Jalan setapak dari dunia ini menuju kekekalan melintas melalui kehancuran-diri. (Said Nursi, 2003 hlm. 105) (Said Nursi, Sozler, 2000a, kata ke-17).

 

Penyataan di atas memberikan gambaran bahwa Said Nursi menyakini bahwa manusia itu memiliki unsur jasad dan unsur ruhani, maka dapat dikatakan bahwa manusia jasad  2 terdiri dari jiwa dan jad manusia adalah “small creation” atau sebagai “microcosmos”.[22]  Jasad adalah sebuah alat ruh yang memerintah dan mengendalikan semua anggota sel dan partikel-partikel kecilnya (Ali 2002, hlm. 188). Jasad akan berinteraksi dengan ruh karena manusia sebagai bentuk makhluk ciptaan yang bisa dipahami melalui gerak fisik. Namun, sebenarnya di dunia ini, ruh dibatasi di dalam “penjara” jasad. Apabila nafsu dan keinginan duniawi mendominasinya, maka ruh tersebut pasti tidak berharga dan orang tersebut binasa. Apabila ruh dapat mengendalikan nafsu melalui iman, ibadah, dan perbuatan baik serta membebaskan dirinya sendiri dari perbudakan keinginan duniawi, maka ruh tersebut menjadi murni dan mencapai kesucian dan kemuliaan. Ini akan membawa kebahagiaan baginya di dalam dua dunia (Ali 2002, hlm. 193).

Jiwa dan jasad memiliki tingkatan sendiri dalam penciptaannya. Jiwa atau ruh sebagai penciptaan tertinggi. Sedangkan materi (al-ajsam) atau jasad penciptaan terendah. Pergerakan jasad manusia bukanlah jiwa melainkan natur materi itu sendiri. Karena itu, gerak jasad manusia bukanlah gerak melingkar tetapi berupa gerakan materi. Namun demikian, pada diri manusia terdapat jiwa yang tertinggi yakni al-nathiqat (berpikir). Jiwa berpikir ini hakekatnya adalah ruh yang memanifestasikan pemahaman nama-nama Allah. Jiwa ini – dalam bahasa al-Qur’an disebut al-ruh – yang ditiupkan oleh Allah Swt ketika janin sudah ada dalam rahim selama empat bulan.[23] Di mana jasad janin manusia sudah tumbuh dan berkembang karena natur materinya sendiri sebelum ar-ruh ditiupkan Allah.

Dalam konteks penjelasan mengenai unsur ruhani Ibn Miskawaih agaknya memberikan pemahaman dua segi. Pertama, unsur ruhani yang memang sudah ada pada natur jasad sebagai daya gerak dan berfungsi bagi tumbuh dan berkembangnya badan, dan kedua, unsur ruhani yang berasal dari Tuhan yang datang setelah janin berumur empat bulan dalam kandungan ibu. Pemahaman ini menegaskan terhadap daya yang ada dalam diri manusia. Sebagaimana umumnya para filosof menyebutkan ada 3 (tiga) daya jiwa yang ada dalam diri manusia. Daya-daya tersebut adalah : 1) Daya bernafsu (al-nafs al ­bahimiyyat) sebagai daya terendah, 2) Daya berani (al-nafs al sabu’iyyat) sebagai daya pertengahan, dan 3) Daya berpikir (al-nafs al-nathiqat) sebagai daya tertinggi.[24] Ketiga daya ini merupakan unsur ruhani manusia yang asal kejadiannya berbeda.

Menurut keterangan Ibn Miskawaih bahwa unsur al-nafs al-bahimiyyat (daya nafsu) dan al-nafs al-sabu’iyyat (daya berani) berasal dari unsur materi akan hancur bersama hancurnya badan. Sedangkan al-nafs nathiqat (daya pikir) tidak akan mengalami kehancuran (Al-Ghazali 1957, hlm. 287). Sesuai dengan pemahaman ini Said Nursi mengapresiasi daya-daya itu dalam sifat-sifat mulia manusia yang menjadi doktrin-doktrin utamanya.

Pertama, unsur jiwa al-nafs al-bahimiyyat (daya nafsu) dalam diri manusia akan mempengaruhi gerak jiwa dan kecenderungan manusia untuk melakukan hal-hal yang bersifat sosial dan cenderung bekerja keras untuk memperoleh sesuatu, yang tentunya tampak serasi dengan sifat ash-shadaqah (sedekah). Orang yang memiliki kecenderungan sedekah ini lambat laun akan terbina dan terbentuk karekteristik jiwa dermawan dan akan menjadi manusia dermawan.

Kedua, unsur jiwa al-nafs al-sabui’iyyat (daya berani) dalam diri manusia akan mempenganihi gerak jiwa dan kecenderungan manusia dalam hal-hal bersifat mencapai kondisi jiwa suci dalam pandangan Alalh dan meningkatkan kinerja dengan ibadah untuk memperoleh sesuatu, yang tentunya tampak serasi dengan sifat at-taqwa (takwa). Orang yang memiliki kecenderungan keberanian ini lambat laun akan terbina dan terbentuk karekteristik jiwa takwa dan akan menjadi manusia ulil albab.

Ketiga, unsur jiwa al-nafs nathiqat (daya pikir) dalam diri manusia akan mempengaruhi gerak jiwa kepasrahan terhadap Allah dan ciptaan-Nya dan kecenderungan manusia dalam hal-hal bersifat teologis, daya nalar bekerja untuk memadukan keikhlasan dalam hidup. Orang yang memiliki kecenderungan ikhlas seperti ini lambat laun akan terbina dan terbentuk karekteristik jiwa ikhlas dan akan menjadi manusia sufi.

 

 

 

Pentingnya Memahami Alam Semesta

Said Nursi dalam Risale-i Nur mengatakan “mengapa al-Qur’an tidak membahas alam semesta seperti yang dibahas dalam filsafat dan sains modern?”. Pertanyaan ini sekaligus menjelaskan kalau Said Nursi meyakini bahwa alam semesta merupakan manifestasi dari nama-nama Allah yang harus dijadikan komitmen mendasar dalam membina diri menuju kesempurnaan menuju Allah.

Said Nursi sangat yakin bahwa penciptaan alam semesta adalah bukti keesaan, kebesaran asma Allah. Menurutnya ada 3 (tiga) ungkapan yang mengkhawatirkan bagi kaum beriman : Pertama, ungkapan terwujud oleh sebab, “karena sebab itulah yang menjadikan entitas tertentu itu ada”. Kedua, terbentuk dengan sendirinya, sesuatu terbentuk dengan sendirinya serta mewujudkan dirinya sendiri, sehingga menjadi seperti apa adanya. Ketiga, tuntutan alam yakni sesuatu yang bersifat alami. Alamlah yang mewujudkan dan menentukan keberadaanya (Said Nursi 2003a, hlm. 333).

Ketiga pendapat di atas adalah refleksi dari kesimpulan pandangan yang selama ini masih bergulat. Dalam menyikapi pandangan di atas Said Nursi mengatakan “Jika secara tegas terbukti bahwa tiga jalan yang pertama mustahil, batil dan tidak mungkin, maka dengan sangat nyata dan gamblang, jalan keempatlah yang benar. Jalan tersebut adalah jalan menuju keesaan Sang Pencipta yang bersifat pasti tanpa ada keraguan di dalamnya“. (Said Nursi 2003a, hlm. 334). Ditegaskan Said Nursi bahwa kekuasaan Sang Pencipta Yang Maha Kuasa dan Agung itulah yang telah menciptakannya.

Dapat dikatakan jika alam yang menjadi sandaran kaum naturalis itu memiliki wujud hakiki yang tampak secara lahiriah, maka -sesungguhnya wujud tersebut hanyalah ciptaan Sang Pencipta, bukan Pencipta. Ia hanyalah ukiran, bukan si Pengukir. Ia hanyalah kumpulan hukum, bukan si pembuat hukum. Ia hanyalah syariat fitriah, bukan si pembuat syariat. Ia hanyalah tirai yang tercipta, bukan si pencipta. Ia hanyalah objek bukan pelaku. Ia hanyalah kumpulan aturan, bukan Zat yang berkuasa. Serta ia hanyalah goresan bukan sumber. Ditegaskan lagi oleh Said Nursi bahwa “alam itu merupakan kumpulan konsep bukan yang menentukan konsep” (Said Nursi 2003b, hlm. 349).

Jelaslah bahwa alam semesta sebagal makrokosmos “big creation” adalah bukti kebesaran asma Allah. Pemahaman terhadap alam ini bagian dalam upaya, meningkatkan untuk pembinaan akhlak. Ketika kita mengetahui, mengerti dan memahami bahwa Allah sebagai Pencipta alam, maka ketika melihat alam semesta akan berpengaruh dalam tingkah laku, sikap dan cara berpikir kita dan mendorong jiwa untuk beriman secara istiqomah dan totalitas kepada Allah.

Pentingnya Memahami Asma’ al-husna

Prinsip pentingnya memahami asma’ al-husna menjadi komitmen mendasar bagi Said Nursi karena, di kitab tafsir Risale-i Nur kalau dicermati secara mendalam dibahas oleh Said Nursi hampir di semua kitabnya secara terintegrasi. Tapi, secara khusus Said Nursi menjelaskan asma’ al-husna dalam kitab Lem’alar pada “Cahaya Ketiga Puluh berjudul Asma’ al-husna”. Kita tahu bahwa dalam, pandangan ulama asma’ al-husna berjumlah 99 nama-nama Allah. Namun, menurut Said Nursi dalam “Cahaya Ketiga Puluh” menjelaskan bahwa Allah memiliki al-Ismu al-Azhom (nama-nama Allah yang paling agung).

Al-ismu al-A’zhom tidaklah sama dalam pandangan setiap orang. Misalnya menurut Imam Ali ra. Ia terdiri 6 (enam) nama, keenam nama tersebut adalah al-Quddus, al-Adl, al-Hakim, al­Fard, al-Hai, dan al-Qayyum. Adapun menurut Abu Hanifah an-Nu’man ra. Ia terdiri atas 2 (dua) nama yakni Hakam dan Adl. Sedangkan menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jilam ia hanya satu yakni : Ya Hayyu. Menurut Imam Rabbani (Ahmed al-Faruq as-Sirhindi) ra. ia hanya satu yakni al­Qayyum. Demikian seterusnya, para ulama besar dan istimewa lainnya mengarah pada nama Tuhan yang berbeda. Begitu pula Said Nursi menurutnya asma’ al-husna yang dapat dikategorikan sebagai al-ismu al-azhom dalam Risale-i Nur difokuskan kepada keenam nama tersebut adalah al-Quddus, al-Adl, al-Hakam, al-Fard, al-Hay dan al-Qayyum.

Said Nursi mengibaratkan bahwa cahaya suci yang berasal dari perpaduan enam cahaya nama Tuhan sebagaimana, perpaduan tujuh warna sinar mentari. Said Nursi menyimpulkan bahwa dari balik nama al-Qayyum memberikan sifat tetap dan permanen. Dapat disaksikan bahwa manifestasi al-hayy telah menjadikan seluruh makhluk hidup itu bersinar lewat tampilannya yang cemerlang. Ia telah membuat seluruh entitas bercahaya lewat cahanyaNya yang berkilau sehingga gemerlap cahaya kehidupan dapat terlihat pada seluruh makhluk hidup yang ada (Said Nursi 2003a, hlm. 695).

Kemudian manifestasi agung dari nama al fard dari batik nama al-hayy. Nama tersebut mencakup seluruh entitas alam berikut ragam jenis dan bagiannya serta melingkupinya dalam satu kesatuan. Ia mencetak bagian depan setiap entitas dengan stempel keesaan sehingga segala sesuatu menginfomasikan manifestasiNya lewat aneka lisan yang tak terhingga jumlahnya.

Dari balik nama al-Fard terdapat manifestasi nama al-Hakam. Engkau akan melihat bagaimana nama tersebut mencakup seluruh entitas dari daerah yang paling luas hingga yang paling kecil, baik yang global maupun yang parsial – mulai dari bintang hingga atom. Ia memberikan kepada setiap entitas sebuah tatanan efektif yang layak untuknya, sebuah keteraturan penuh hikmah yang sesuai dengannya, serta keselarasan berguna yang tepat baginta. Nama al-Hakam telah menghiasi seluruh entitas dengan manifetasinya yang cemerlang.

Lalu dari balik manifestasi nama al-Hakam perhatikanlah manifestasi agung dari nama al-adl. Nama agung al-Adl menguasai seluruh entitas dalam perbuatan Tuhan yang terus menerus lewat neracanya yang akurat, ukurannya yang cermat, dan timbangannya yang adil di mana ia menjadikan seluruh akal tercengang sekaligus kagum. Seandainya semua bintang kehilangan keseimbangan selama satu detik saja atau terputus dari manifestasi nama al-Adl niscaya seluruh bintang yang ada akan bertubrukan dan hal itu tentu saja akan menyebabkan kiamat.

Dari balik manifestasi nama al-adl, perhatikanlah manifestasi nama Allah al­Quddus yang telah membuat seluruh entitas begitu bersih, suci, murni, dan indah. Ia telah mengubahnya menjadi semacam cermin indah bersinar yang layak untuk memperhatikan keindahanNya yang mutlak serta pantas untuk menampakkan berbagai manifestasi nama­nama-Nya yang mulia. Dan uraian ini dapat disimpulkan bahwa enam nama dan cahaya agung telah meliputi seluruh alam, menutupi seluruh entitas, serta membungkusnya dengan tirai yang dihiasi dan diwarnai oleh beragam warna yang paling cemerlang oleh beragam goresan yang paling indah, serta oleh beragam hiasan yang paling mengagumkan.

Dari keseluruhan mengenai prinsip asma’ al-husna di atas dapat dipahami bahwa asma’ al-husna Said Nursi memiliki kecenderungan sama dengan ulama masa lalu yang meyakini 99 nama-nama Allah, namun dari segi metode penerapan pandangan terjadi perbedaan. Said Nursi cenderung memandang ada 6 (enam) nama-nama Allah yang dikategorisasikan sebagai asma’ul adzam (Nama yang agung) dan Said Nursi yakin sifat­sifat Allah adalah bentuk manifestasi dari asma’ al-husna. Manifestasi pemahaman asma’ al-husna penting dalam pembentukan manusia yang berakhlak dan asma’ al-husna menjadi landasan diri berkepribadian akhlak mulia.

 

Pentingnya Mengetahui Tanda-tanda Akhir Zaman

Prinsip pentingnya mengetahui tanda-tanda akhir zaman  menjadi bagian yang mendorong peningkatan keimanan bagi Said Nursi, karena manusia sekarang sudah memasuki fase penghabisan dari panjangannya zaman yang sudah lama berlalu. Adapun tanda-tanda akhir zaman ini banyak sekali, namun pada prinsipnya terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai tanda-tanda hari kiamat yang patut diketahui oleh manusia, yaitu :

1) Munculnya Dajjal dan Sufyan

Salah satu akan tibanya hari kiamat munculnya Dajjal (Anti­Kristus) dan Sufyan[25]. Dajjal atau Anti-Kristus akan muncul dalam dunia non-muslim dan Sufyan yang akan muncul dalam dunia Muslim. Keduanya adalah Dajjal dan Sufyan terbesar yang akan muncul di dunia setelah Nabi Muhammad. Sumber-sumber Islam menyebutkan dari Nabi Muhammad bahwa lebih dari 30 Dajjal akan muncul sesudah dia, dan yang lebih penting untuk diperhatikan menurut Nabi Muhammad adalah Dajjal yang muncul tidak lama sebelum hari kiamat adalah yang paling berhahaya dan merusak.

Maksudnya adalah cerita-cerita sejenis ini perlu ditekankan, walaupun pada dasarnya tidak banyak menyebutkan orang-orang mereka (atau siapa sebenarnya Dajjal), tapi bagi kalangan filosuf, pemikir dan kaum mistik atau sufitik yang mampu menangkap pertanda ini. Karena interpretasinya berwujud ideologi, masyarakat dan sistem yang akan mereka bangun dalam semua aspek kehidupan.

Beberapa isyarat yang ditulis oleh Said Nursi mengenai Dajjal dan Sufyan sebagai berikut : Pertama, mengenai Sufyan, menurut Said Nursi bahwa tangan-tangan Sufyan akan mencengkram yang berarti Sufyan akan menjadi banyak dan membangkitkan pemborosan dan kekejian. Nabi Muhammad bersabda Seorang yang mengerikan akan muncul menjelang kiamat dan ketika dia bangun di pagi hari, dia dapati bahwa di keningnya tertulis kafir. Yang berarti Sufyan akan menjadi seorang pembelot dan imitasi dari orang kafir dia akan memaksa manusia untuk berpakaian seperti dunia non-Muslim.[26] Sedangkan yang paling nyata adalah kejadian di Turki ketika Mustafa Kemal Attaruk yang Muslim menjadi imitasi Inggris yang kafir untuk menciptakan surga di dunia. Pada kenyataan masyarakat Turki yang Muslim telah kehilangan nilai moral, sampai sekarang semakian marak di Turki pola kehidupan “liberalisasi seks dan liberalisasi berpikir”.[27]

Kedua, mengenai Dajjal, Nabi bersabda para diktator yang akan muncul sebelum menjelang hari kiamat termasuk khususnya Dajjal dan Sufyan akan mendapatkan surga dan neraka semu. Yang berarti semasa mereka manusia akan dicekoki dengan kesenangan­kesenangan dan kenikmatan duniawi dan perbedaan-perbedaan di antara kelas-kelas sosial akan meningkat dengan konsekuensi akan terjadi pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah. Oleh karena itu tempat-tempat kesenangan dan kenikmatan serta penjara dan tempat-tempat siksaan yang serupa akan berdiri berdampingan.

Ketiga, Nabi bersabda Menjelang kiamat tidak akan ada seorang pun yang menyembah Allah dan menyebut Nama-Nya sebagai manifestasi ibadah. Ini berarti bahwa tempat-tempat di mana Allah disembah dan Namanya disebut akan ditutup dan jumlah orang-orang yang taat beribadah akan menurut secara drastis. Sesat menjelang kehancuran dunia Allah akan mencabut nyawa orang-orang beriman dan dunia akan dibinasakan di atas kepala orang kafir.

Keempat, Nabi bersabda orang-orang mengerikan tertentu yang akan muncul sebelum kiamat seperti Dajjal mengklaim bahwa dirinya Tuhan dan membuat orang-orang sujud di hadapan mereka. Orang-orang ini akan mendapat kekuatan mereka sebagian besar dari trend ateistik dan materialistik dan menganggap diri mereka sendiri memiliki kekuatan Tuhan. Patung-patung mereka akan dibuat manusia akan dipaksa untuk menunduk di depan mereka sebagai cara pemujaan.[28]

Kelima, Nabi bersabda kekejaman dan peperangan yang akan muncul sebelum kiamat akan sangat menyebar luas dan berkuasa sehingga tidak ada seorang pun dapat mengendalikan tiubuh mereka untuk melawan mereka. Bahwa kehidupan keji akan menggoda banyak orang yang akan menurutinya begitu saja, karena memang saat ini modernisasi yang materilistik-konsumeris telah tidak terkendali. Ini dikarenakan oleh dimensi-dimensi kekejian dan kesenangan mengerikan yang akan muncul sebelum hari kiamat atas permintaan Nabi hampir semua Muslim telah berlindung kepada Allah selama 14 abad dari kekejian yang akan ditimbulkan oleh Dajal.[29]

Keenam, Nabi bersabda Sufyan akan menjadi seseorang yang berpengetahuan luas dan memukau banyak ilmuwan. Ini berarti mekipun tanpa alat kekuasan dan ketergantungan semacam kerajaan, suku, kekayaan dan keberanian, Sufyan akan mencapai kekuasaan karena memiliki kapasitas yang merangsang dan kecerdasan politik. Dia mengekang pendidikan agama. Sebagian besar karena kenikmatan hidup, banyak ilmuwan dan pendidik agama mendukung dia dan rezimnya.[30]

Untuk kejelasan ilmiahnya bahwa adalah metode ilmiah yang dirumuskan ilmuwan muslim yang meminjam teori Aristoteles yang masih memposisikan Tuhan sebagai Pencipta Pertama, dalam konteks ini pengkajian terhadap ciptaan Tuhan berarti pengakajian terhadap karya kreatif Tuhan sehingga dengan itu diharapkan seorang ilmuwan muslim akan bertambah keyakinan dan ketakwaan kepada Allah. Sedangkan teori yang di Barat telah menimbulkan begitu banyak reaksi dari kalangan umat Kristen, seperti teori evolusi sebenarnya juga telah dikembangkan dengan baik oleh para pemikir terkenal seperti Al-Jahizh, Miskawaih dan khususnya Jalaluddin Ar-Rumi berdampingan dengan teori-teori kreasionis, sekali lagi sejauh tidak secara langsung bertabrakan dengan prinsip-prinsip fundamental keyakinan agama.

Namun sangat disayangkan teori-teori mereka secara terus terang melanggar dan menentang prinsip-prinsip ajaran pokok agama, seperti terhadap penolakan terhadap eksistensi Tuhan, malaikat, hari akhir, kenabian dan sebagainya. Sebenarnya Islam sebagai agama tidak bisa menoleransinya karena hal itu telah dipandang sebagai penyimpangan prinsip etos keilmuan Islam yang sejati. Pada prinsipnya Islam membolehkan pengkajian pada bidang-bidang yang sangat luas mulai dari fisika, matematika bahkan metafisika. Seharusnya hasil sains modern dapat diterima sebagai sarana yang baik untuk lebih mengenal kebesaran Tuhan. Dunia Barat tidak demikian. Newton dan fisikawan modern misalnya gravitasi dianggap sebagai gaya-gaya yang independen bersama dengan gaya elektromagnektik, gelombang nuklir lemah dan kuat, namun oleh pemikir muslim seperti Ibnu Sina dan Al Farabi gaya alami itu memiliki sumbernya pada entitas-entitas supernal, seperti akal aktif yang merupakan utusan Tuhan untuk mengurusi dunia bawah-bulan, termasuk memberikan bentuk pada benda-benda di bawah bulan atau jiwa benda-benda angkasa lainnya yang memancar dari Tuhan lewat emanasi. Darwin misalnya menyatakan evolusi bersifat independen atau otonom seperti seleksi alam yang dipandang sebagai hukum independen dan bertanggungjawab pada evolusi organik termasuk penciptaan spesies-spesies, sebagaimana Perire Laplace yang menyatakan peran Tuhan sebagai pengatur dan pemelihara alam telah digantikan hukum mekanik. Dan masih banyak lagi contoh mengenai mungkin Dajal-dajal yang muncul berupa ilmuwan yang menyesatkan. Sedangkan Sufyan-sufyan dalam dunia Islam muncul dengan usaha-usaha mensektilerisasikan baik pemikiran maupun pola hidup, titik tolaknya ketika terjadi keruntuhan Turki Usmana pada tahun 1920-an diikuti oleh sekulerisasi oleh Mustafa Kemal Attaruk, dunia Islam bertikai dalam keluarga besarnya.

Ketujuh, Nabi Bersabda hari pertama Dajjal adalah sama dengan satu tahun sedangkan hari keduanya sema dengan satu bulan hari ketiganya sama dengan satu minggu dan hari keempatnya adalah satu hari. Hadis yang menakjubkan ini berarti bahwa Dajjal akan muncul di utara dan bergerak menuju selatan. Sebagaimana diketahui di tempat-tempat di dekat kutub Utara satu tahun terdiri dari satu siang dan malam, masing­-masing berlangsung selama 6 bulan. Semakin ke selatan terdapat terdapat tempat-tempat di mana satu hari berlangsung 3 bulan dan satu bulan dan satu minggu secara berturut-turut. Pengertian lain adalah Dajjal maupun Sufyan akan memiliki 4 periode peraturan, periode pertama, mereka akan menyebabkan kerusakan besar dalam jangka waktu satu tahun yang normalnya dapat dilakukan dalam jangka waktu 300 tahun. Kerusakan yang akan mereka timbulkan dalam jangka waktu pada satu tahun periode kedua mereka akan sama dengan kerusakan yang dilakukan oleh yang lainnya selama 30 tahun dan pada satu tahun periode ketiga mereka akan membuat 7 tahun kerusakan. Periode keempat mereka akan normal.

Kedelapan, Nabi bersabda Ketika Dajjal muncul setiap orang akan mendengarnya. Mereka akan memiliki sebuah kendaraan atau tunggangan yang luar biasa dan mengelilingi dunia dalam 40 hari. Ini berarti bahwa Dajjal akan muncul ketika komunikasi dan transformasi berkembang pesat peristiwa yang terjadi di satu belahan dunia akan terdengar di belahan bumi lain dan berkeliling ke seluruh penjuru dunia dalam waktu 40 hari adalah hal yang mungkin.

2) Munculnya Messiah atau Mahdi

Mengenai mahdi atau messiah, baik Yahudi maupun Kristen mengharapkan Messiah datang menjelang hari kiamat dan menganggap kedatangannya sebagai tanda akhir kernenangan besar untuk Yahudi dan Kristen. Menurut sumber-sumber Islam yang terpercaya dia adalah Imam kedua belas dan terakhir dari sederetan Imam yang di mulai Ali bin Abi Talib, sepupu Nabi dan khalifah keempat. Mandi lenyap ketika dia berusia 74 tahun dan akan muncul ketika dunia penuh dengan ketidakadilan untuk menyelamatkan keadilan. Bersama dengan Messiah, Mahdi akan mempertahankan prinsip-prinsip Islam dari trend materialistik dan menggugah kehidupan keagamaan. Dia akan mengahiri kekuasaan Dajjal dan Sufyan.

Menurut para pemikir dan ilmuwan kontemporer termasuk Said Nursi, Mandi bukanlah satu orang saja, melainkan sebuah nama “kebangkitan global”. Mandi memiliki tiga periode masing-masing akan dipresentasikan oleh satu orang dan kelompoknya. Pemimpinya akan memiliki pengetahuan yang mendalam di bidang ilmu-ilmu agama, memiliki standar moral tertinggi, mengetahui kondisi sosial, politik dan ekonomi pada masanya dan memiliki kualitas kepemimpinan yang memadai. Bersama-sama pengikutnya pemimpin periode pertama akan mempertahankan prinsip-prinsip Islam dari trend materialistik dan menunjukkan mereka dalam jalan yang benar. Pada periode kedua prinsip­prinsip Islam yang sudah dibangkitkan akan mencapai pengaruh penting di beberapa belahan dunia dan kehidupan Islam akan mengalami sebuah kebangkitan yang signifikan. Periode mengalami akan rnenghalal kebangkitan kehidupan keagamaan secara global.

Periode ketiga yang berkemungkinan akan mengikuti invansi Gog dan Magog yang akan menggangu periode kedua. Agama Kristen menurut sumber Islam yang relevan akan terbebas peminjaman agama-agama dan filsafat tertentu dan lebih mendekat pada Islam. Mereka akan berkerjasama untuk menangkis serangan Gog dan Magog dan membebaskan dunia dari invasi mereka. I1mu pengetahuan akan mengalami perkembangan puncak. Kota­-kota akan dibangun di atas langit dan akan mudah melakukan perjalanan ke sana. Mungkin sebagai dampak kemajuan genetika satu buah delima akan cukup sebanyak 20 orang dan kulit buahnya akan dapat menaungi mereka. Misi orang Messiah yang ditujukan untuk Yesus Kristus, menurut Nabi Muhammad, Messiah yang dijanjikan adalah Yesus Kristus. Dia akan kembali dan kemudian mengikuti dan sepenuhnya mendukung Mahdi.[31]

  1. c) Mengenai Terbentuknya Padang Mahsar

Allah berfirman Katakanlah sesungguhnya ilmu tentang hari kiamat itu hanya pada sisi Allah (67 : 26). Bahwa pergerakan bumi bukanlah tidak bertujuan. Pergerakan bumi menarik sebuah lingkaran raksasa di luar keliling bumi dan bumi terus menerus memindahkan semua peristiwa yang terjadi di atasnya ke kelingkaran luar tersebut. Pada hari pengadilan, hari kehidupan setiap orang akan ditampilkan kembali.

Menurut ramalan lingkaran raksasa ini akan dipusatkan di daerah Damaskus, tetapi dalam bentuk yang luas dan disesuaikan dengan dimensi-dimensi Hari Akhir. Hasil dari semua penstiwa-peristiwa di bumi terus menerus ditransfer ke dalam daftar atau. tablet-tablet Padang Mahsyar. Saat ini, Padang tersebut masih berada di balik “kerudung” Yang Maha Tidak Terlihat. Bagaimana pun juga kita akan melihatnya pada saat kita telah menjalani bentuk-bentuk spesifik hari akhir.

Penjelasan mengenai tanda-tanda akan tibanya hari kiamat di atas memberikan keyakinan yang kokoh terhadap paham keagamaan dengan keimanan yang sudah ada sebagai dasar beragama. Seiring dengan itu, hari kiamat menjadi bagian yang terintegrasi dalam diri Said Nursi dan salah satu cara upaya pembentukan akhlak mulia.

Pentingnya Meyakini Hari Kiamat

Serangkaian upaya pembentukan manusia yang berakhlak mulia, pemahaman tentang hari kiamat banyak dirujuk sebagai bagian pembentukan karakter bagi Said Nursi. Para pemikir Islam dulu baik yang sezaman dengan Said Nursi maupun sebelumnya belum menafsirkan secara mendalam mengenai ayat-ayat dan hadis-hadis mengenai hari kiamat.[32] Hari kiamat menjadi landasan fundamental dalam pemikiran Said Nursi. Karena itu, hari kiamat menjadi prinsip yang dapat mendorong terciptanya akhlak mulia yang menekankan sisi-sisi kejiwaan manusia.

Penekanan sisi kejiwaan, menurut Said Nursi melalui sifat dan kemampuan jiwa kita menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Mengenai kekuatan dan kemampuan kita untuk tinggal di sini, kita kalah bersaing dengan burung pipit yang paling lemah. Tetapi dalam hal ilmu, memahami kebutuhan kita, dan memohon serta beribadah, yang diperlukan untuk kehidupan rohani dan kehidupan akhirat, kita adalah raja dan komandan dari semua makhluk hidup. Lanjut Said Nursi:

Hai jiwaku ! Jika engkau menganggap dunia ini adalah tujuan utama kehidupanmu dan engkau bekerja dan senantiasa bekeda untuk kepentingan dunia, engkau akan menjadi seperti burung pipit yang paling lemah. Tetapi jika engkau menganggap akhirat adalah tujuan akhirmu, dan menganggap dunia ini sebagai ladang tempat menaburkan benih, sebuah persiapan bagi akhirat, dan bertindak dengan semestinya, engkau menjadi penguasa agung kerajaan binatang, hamba yang memohon kepada Allah Yang Maha Perkasa, dan menjadi tamu-Nya yang terhormat dan disayangi di dunia ini. Engkau bisa memilih salah satu pilihan itu. Jadi mintalah petunjuk dan keberhasilan dari jalan-Nya dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (Said Nursi 2003d, hlm. 52).

 

Kutipan di atas menggambarkan secara tegas bahwa Said Nursi sangat yakin akan adanya hari kiamat yang dunia ini bukan tujuan akhir. Perjalanan manusia akan diteruskan ketika hari kiamat tiba dan membuka ruang-ruang baru bagi manusia yang baru dibangkitkan dari kubur. Karena itu, Said Nursi sangat menekankan agar manusia meyakini secara mendalam mengenai hari kiamat.

Sebenarnya Al-Qur’an mengajarkan 4 (empat) tujuan utama yakni untuk membuka dan membangun pada jiwa dan hati manusia eksistensi dan keesaan Allah, kenabian, kebangkitan Jasmani dan ketaatan terhadap Allah dan keadilan. Manifestasinya melalui Asma dan Sifat-Nya dan keteraturan serta harmoni sempurna yang sangat indah dalam eksistensi. Al-Qur’an menyebutkan peristiwa-peristiwa bersejarah tertentu khususnya yang akan terjadi sebelum hari kiamat. Hal ini memiliki tempat yang penting baik dalam Al-Qur’an maupun al Hadis. Al-Qur’an adalah Kitab Suci yang terakhir dan Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir.

Argumen Al-Qur’an mengenai hari kiamat yakni tindakan-tindakan universal mengacu pada hari kebangkitan, dan untuk menyentuh hati manusia mengenai kehebatan yang akan dilakukan Yang Kuasa pada hari akhir dan untuk mempersiapkan jiwa manusia untuk dapat menerima dan memahaminya, Al-Qur’an menyajikan kehebatan yang Dia lakukan di sini untuk mempersiapkan kita terhadap hal itu. Hal ini memberikan contoh­contoh tindakan-tindakan besar Allah di dalam alam semesta yang luas (makro-kosmos) dan kadang kala menunjukkan pembuangan menyeluruh-Nya terhadap makro-kosmos, norma-kosmos dan mikro-kosmos, yakni alam semesta, umat manusia dan atom.

Contohnya ayat al-Qur’an berikut menekankan Kekuasaan Allah dan menyebutkan sebagai fakta, mengajak kita untuk memiliki keyakinan tentang pertemuan kita dengan Dia di akhirat : “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-­masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan makhluk-Nya, menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, supaya kamu meyakini pertemuanmu dengan Tuham-mu (13:2). “Penciptaan pertama alam semesta dan umat manusia menunjukkan “penciptaan kedua”, Al-Qur’an menyajikan fenomena penciptaan alam semesta ini yang didefenisikan sebagai penciptaan pertama (56:62), sedangkan penjelasan tentang kebangkitan yang telah mati didefenisikan sebagai penciptaan. kedua (53:47), untuk membuktikan adanya Hari Kebangkitan.

Iman kepada akhirat merupakan dasar kehidupan manusia sebagai masyarakat maupun sebagai individu. Keimanan ini merupakan dasar untuk semua kebahagiaan dan kasih sayang, karena setelah iman kepada Allah, maka iman kepada hari kebangkitan berperan dalam melindungi sebuah tata sosial yang damai. Apabila kita tidak percaya bahwa kita akan dipanggil untuk memperhitungkan amal perbuatan kita, mengapa kita diharuskan menjalani hidup jujur dan benar. Tetapi, apabila kita berbuat menurut keyakinan bahwa kita harus menjalankan perhitungan amal perbuatan, kita akan hidup dengan taat dan benar.

Pada suatu kesempatan Said Nursi menulis : “Jangan takut terhadap kematian. Kematian bukanlah kepunahan abadi, tetapi hanyalah suatu perubahan dunia, pembebasan dari tugas-tugas kehidupan duniawi yang berat, dan sebuah tiket menuju dunia abadi tempat semua jenis keindahan dan rahmat sedang menantimu. Allah Yang Maha Pemurah yang mengirim kamu ke dunia, dan menjaga kamu tetap hidup di dalamnya untuk beberapa lama, tidak akan meninggalkanmu dalam kegelapan ruang  kuburmu ke haribaan-Nya dan menjamin kamu menuju kehidupan abadi yang selalu bahagia. Dia akan memberimu karunia surga”. Hanya kabar baik seperti ini sangat bermanfaat dan benar-benar dapat menjadi penghibur generasi tua dan membuat mereka menyongsong kematian dengan senyum.

Keyakinan ini mengingatkan kita semua bahwa kita harus yakin keberadaan hari kiamat. Kiamat pasti dating. Iman kepada hari kiamat juga merupakan sumber hiburan bagi mereka yang sedang generasi tua termasuk mereka yang sakit. Keyakinan secara mendalam akan adanya hari kiamat seolah merupakan obat dari penyakit yang tidak terobati. Said Nursi menjadikan hal yang sangat prinsip dalam meyakini hari kiamat ini.

 

Meneladani Nabi Muhammad Saw

Prinsip menedalani Nabi Muhammad Saw menjadi komitmen dasar Said Nursi dalam merealisasikan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Pada prinsipnya bahwa mengamalkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad Saw dengan sepenuhnya merupakan cerminan dari keseriusan mentaati perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangannya dengan mengikuti al-Quran dan keimanan mendalam akan keesaan Allah.

Pada dasarnya, apabila seseorang menyatakan diri sebagai muslim, maka ia harus mewujudkan keislamannya itu dalam bentuk mengikuti sunnah Nabi tersebut secara sungguh-sungguh dalam segala aspek kehidupan. Dengan prinsipnya ini, Said Nursi hendak menegaskan bahwa bila seseorang yang telah berikrar bahwa dirinya adalah pengikut Muhammad Rasul-Allah Saw, hendaknya ia harus mengikuti cara atau metode dan jalan hidup yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad Saw bersama para sahabatnya dalam seluruh aspek kehidupan. Zaidin (1999, hlm. 39-53) menceritakan bahwa Said Nursi adalah seorang ulama yang banyak mencurahkan perhatiannya pengajian keagamaan dengan sekuat tenaga telah berusaha menghidupkan kembali suatu usaha yang dulu di bawa oleh Nabi Muhammad Saw, yaitu suatu model pengajian ia sebut dengan istilah dershane (Tempat belajar).

Menerapakan atau meneladani Nabi Muhammad Saw menjadi kekuatan amaliah ibadah secara aplikatif. Praktek amaliah ibadah dengan cara meneladani nilai-nilai yang telah diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw. Doktrin ini menjadi sangat penting dalam praktek kehidupan manusia. Mengenai prinsip meneladani Nabi Muhammad ini Allah berfirman “Katakan, Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. “Allah Maha pengasih dan Maha Penyayang” (Qs. Al Imran : 31). Di dalam ayat ini terdapat bentuk simplikasi redaksi yang mengagumkan. Makna yang begitu banyak dirangkum hanya oleh tiga kalimat. Adapun penjelasan Said Nursi mengenal ayat, ini adalah :

Jika kalian beriman kepada Allah, pasti kalian mencintai-Nya. Selama kalian mencintai-Nya, pasti kalian beramal sesuai dengan apa yang dicintaiNya. Hal itu berarti kalian harus meneladani pribadi yang Dia cintai. Dan ia bisa terwujud dengan cara kalian mengikuti pribadi tersebut. Jika kalian mengikutinya, Allah akan cinta kepada kalian. Tentu saja kalian mencintai Allah agar juga dicintai oleh-Nya (Said Nursi, 2003, hlm. 114).

 

Perilaku Nabi Muhammad Saw disebut sunnah. Menurut Islam, sunnah Nabi adalah sumber hukum kedua setelah Qur’an. Keseharian dan perilaku Rasulullah, bahkan diakui oleh para sarjana Barat, merupakan gambaran kesempurnaan utuh seorang manusia. Dan tidak ada satu pun seorang manusia di muka bumi yang diikuti perilakunya oleh berjuta-­juta orang hingga detik ini dalam sejarah peradaban manusia. Akhlak Nabi Saw merupakan kesempurnaan akhlak pada diri seseorang. Allah menegaskan : “Akhlak Nabi adalah al-Qur’an”. Pada ayat lain, Dia berfirman : “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu” (Qs. al Ahzab : 21). Pada firman Allah yang lain : “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam“. (Qs. al Anbiya’ : 107) Semua itu telah tercatat dalam sejarah Islam yang merupakan ketetapan Allah Swt. Berapa banyak kalangan salaf (generasi terdahulu) yang mengagumi dan berusaha menyelaraskan kehidupan mereka dengan sunnah. Sejak pagi hingga malam hari.

Untuk mencapai kepribadian mulia adalah dengan mengikuti orang yang dikasihi Allah yakni Nabi Muhammad Saw dan mengaplikasikan sunnahnya yang suci. Said Nursi mengatakan sesungguhnya kecintaan kepada Allah harus diikuti dengan sikap mengikuti Sunnah Nabi Muhammad Saw. Sebab dalam doktrin ini Said Nursi mengatakan bahwa “kecintaan kepada Allah baru terwujud dengan melakukan perbuatan yang diridhoi oleh­Nya. Sementara itu, ridhonya yang paling utama tampak pada pribadi Muhammad Saw” (Said Nursi, 2003, hlm. 117).

Penjelasan di atas mendorong pentingnya praktek keteladanan kepada Nabi Muhammad Saw (Sunnatun Tsaniyah) dalam kehidupan seseorang untuk membentuk kepribadian yang barakhlak mulia. Menurut Said Nursi meneladani pribadi beliau yang penuh berkah itu bisa terwujud dengan 2 (dua) hal :

Pertama, mencintai Allah, mentaati segala perintah-Nya dan berbuat sesuai dengan ridlio-Nya. Sikap semacam ini mengharuskan kita mengikuti Nabi Muhammad Saw. Sebab pemimpin yang paling sempurna dengan teladan yang paling utama dalam urusan tersebut adalah Nabi Muhammad Saw. Kedua, mencintai pribadi Nabi Muhammad Saw. Sebab beliau merupakan perantara yang paling utama agar manusia bisa mendapatkan kebaikan ilahi. Karena itu, beliau layak dicintai karena Allah ta’ala. (Said Nursi 2003, hlm. 117).

Said Nursi mengatakan secara fitrah ketika kita mengarahkan perhatian pada sosok yang kita cintai kekasih Allah haruslah berupaya meneladani dan mencontoh beliau dengan cara mengikuti semua sunnahnya yang mulia. Dikatakannya pula, mengikuti sunnah rasul Muhammad Saw merupakan tujuan termulia sekaligus merupakan tugas terpenting manusia (Said Nursi 2003, hlm. 117-1 18).

Begitu pentingnya masalah mengikuti Sunnah Rasul ini menurut Said Nursi mengikuti Sunnah Rasul berasal dari 3 (tiga) sumber yaitu perkataan, perbuatan clan keadaan. Tiga sumber ini juga terbagi lagi menjadi tiga, yaitu : wajib, sunnah dan ada yang merupakan kebiasaan beliau. Hal yang wajib tentu saja harus diikuti. Seorang mukmin diharuskan mengikutinya sebagal konsekuensi dari keimanan yang ada pada dirinya. Semuanya, tanpa terkecuali, diberi beban untuk, melaksanakan as-Sunnah yang bersifat wajib tersebut. Orang yang meninggalkan dan mengabaikan as-Sunah tersebut akan mendapat siksa dan hukuman. Orang yang bahagia dan beruntung adalah yang paling inters mengikuti sunnah nabi Muhammad Saw sementara orang yang tidak mengikuti Sunnah akan benar-benar merugi jika sikap untuk tidak mengikuti sunnah Nabi. Said Nursi menuliskan bahwa “Tindakan yang mengikuti sunnah rasul beliau akan mengubah adab dan kebiasaan menjadi bernilai ibadah“. (Said Nursi 2003, hlm. 119).

Oleh karena itu, bagi seorang Muslim, mengikuti sunnah atau tidak bukanlah suatu “kebebasan memilih”. Sebab mengamalkan ajaran Islam sesuai garis yang telah ditentukan oleh Rasulullah adalah kewajiban yang harus ditaati, sebagaimana difirmankan dalam al-Qur’an : “Dan apa yang Rasul berikan untukmu, maka terimalah ia, dan apa yang ia larang bagimu, maka juhilah” (Qs. al-Hasyr : 7).

Beliau memiliki akhlak paling mulia, seperti yang dikatakan baik oleh para wali maupun musuh Islam. Belau merupakan sosok pilihan di antara seluruh anak manusia selain sebagai pribadi paling dikenal semua orang. Beliau merupakan pribadi sempurna bahkan teladan dan pembimbing paling utuh dengan melihat pada ribuan mukjizat yang ada kesaksian dunia Islam clan kesempurnaan pribadinya yang didukung oleh hakekat al-Qur’an yang sampai padanya.

Di kalangan umat Islam telah sepakat bahwa sunnah merupakan kunci untuk memahami pesan-pesan al-Qur’an dan sebagai perangkat pengurai yang menunjuki dari dalil-dalil yang tersedia di dalamnya. Al-Qur’an diturunkan hanya memuat prinsip-prinsip dasar dan hukum Islam secara global sebagai aturan hidup, sedang sunnah mengajarkan petunjuk pelaksanaannya jadi sunnah sangat diperlukan jika seseorang hendak mengamalkan secara benar ajaran Islam guna menjadi seorang Muslim yang hakiki. Hal ini dinyatakan dalam al-Qur’an, “Siapa yang taat kepada Rasul, maka ia taat kepada Allah” (Qs. al-Nisaa’ : 80 ).

Hidup ini sangat singkat dan sarat dengan tipu daya dengan segala bentuk dan ragamnya yang sulit untuk dirubah. Semuanya baru akan terasa indah dan bermakna jika kita mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi. Setiap aktifitas yang diarahkan kepada Allah tidak akan menjauhkan dari hubungan hidup dengan-Nya, bahkan justru membuat Allah semakin menyukai dan meridhoinya. Tidak ada karunia kenikmatan yang lebih besar daripada sehari yang dilalui dalam ketentraman dan keserasian. Kita coba mengawali aktifitas sehari dengan mengingat Allah dan Rasul-Nya pada saat bangun pagi, kemudian menjalam paginya bersama bimbingan Nabi Muhammad Saw.

Dalam setiap hendak memulai perkerjaan, Rasulullah senantiasa mengawali perbuatan dengan menyebut nama Allah. Rasulullah bersabda :”Setiap perbuatan yang tidak diawali dengan menyebut nama Allah yakni : Bismillahirrahmanirrahim – adalah terputus (dari berkat Ilahi atau Rahmat-Nya)” (Tafsir Ibnu Katsir).

Selanjutnya, hendaknya perilaku hidup ini kita selaraskan dengan ajaran al-Qur’an, dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad. Dengan begitu, hidup yang singkat ini akan terasa sangat bermakna, penuh hikmah dan indah. Rasa kasih sayang yang Nabi miliki dapat kita contoh dan teladani. Kecintaan kepada sesama dan semua makhluk Allah kita pelihara. Pengabdian hidup seperti Nabi untuk kejayaan Islam kita amalkan. Pengorbanan Nabi untuk kedamaian umat manusia kita jaga. Kesederhanaan Nabi dalam hidup sehari-hari dapat kita ikuti. Keikhlasan Nabi dalam beramal dapat kita praktekkan. Maka, dengan mengikuti Nabi yang mulia karena akhlaknya, kita akan menjadi orang mulia, baik di mata Allah atau di mata manusia.

Menanamkan Ikhlas, Takwa dan Sedekah

Said Nursi sangat menekankan kepada murid-muridnya untuk senantiasa ikhlas, takwa dan sedekah. Said Nursi sangat yakin keikhlasan, ketakwaan dan sedekah dapat membentuk karakter pribadi manusia. Kajian berikut menjelaskan secara mendalam bahwa ketiga hal ini menjadi dasar hidup dalam pembentukan manusia ideal dalam pandangan Said Nursi yang diisyaratkan secara implisit dalam Risale-i Nur untuk membentuk manusia ideal yang berakhlak mulia.

 

1)  Ikhlas Menjadikan Manusia Filosof-sufi

Ikhlas adalah ciri muslim sejati. Setiap orang harus menjadikan sikap atau perilaku ikhlas sebagai bagian kepribadian mulia dirinya. Orang yang terbina keikhlasan dalam diri akan dalam meluluhkan dan membuat orang lain turut menjadi orang ikhlas. Ikhlas cenderung kepada amal keteladanan. Misalnya, ikhlas beramal ibadah hanya karena Allah semata.

Manusia seperti ini umumnya tanggap dalam melihat sesuatu pada esensinya melalui tafakur yang mendalam. Anjuran membaca Risale-i Nur adalah aktivitas untuk mencapai manusia sempurna. Dalam tafakurnya, ia dapat menyentuh kondisi di luar dirinya. Ikhlas diri dibawa Kekuasaan Allah sehingga menghasilkan daya pikir yang cemerlang dan hati yang suci. Sampai disini ia akan menjadi manusia sempurna dan memperoleh kebabagiaan.

Ikhlas kunci kemenangan, ketinggian derajat dan kemuliaan hati. Menjelma dalam relung-relung kalbu pribadi yang mulia. Dengan cara beramal ikhlas, berjiwa ikhlas, akan tercipta sebuah tatanan masyarakat yang kokoh dan maju. Bahkan jika setiap elemen masyarakat mempunyai rasa ikhlas yang kuatnya melebihi keempat elemen di atas, akan terbangun peradaban dunia yang maju.

Perilaku ikhlas banyak sekali ditemui seantero dunia ini, karena mereka mengetahui nilai ikhlas bagi kehidupan mereka akan mendatangkan kebajikan. Orang yang ikhlas dengan sendirinya akan bermanfaat bagi lingkungannya. Ia selalu memberi tanpa meminta balasan. Ia mengulurkan bantuan tanpa diminta. Bahkan, perbuatan tidak menyenangkan hatinya pun ia balas dengan senyuman dan sapaan mulia. Hatinya, begitu tenang dan menyenangkan.

Sifat ikhlas inilah yang akan memacu dan memicu lahirnya generasi unggulan yang siap bersaing di tatanan dunia global. Karena, hanya pribadi yang ikhlaslah yang sebenarnya paling berhak untuk mendapatkan tanda jasa dan penghargaan dari masyarakat, tanpa dia meminta atau mengharapkan.

Ciri-ciri orang ikhlas diisyaratkan dalam Risale-i Nur, sebagai berikut :

  1. Ikhlas beriman
  2. Ikhlas beribadah
  3. Ikhlas beramal
  4. Ikhlas mengingat mati
  5. Ikhlas mengingat hari kiamat
  6. Lebih menyukai jiwa mukmin lain daripada jiwanya sendiri
  7. Tafakur imani
  8. Tidak merasa benar sendiri
  9. Bergabung dengan temannya dalam menuju kebenaran yang ada dihadapannya
  10. Berpegang kepada nilai-nilai kejujuran dan pencarian kebenaran yang ditetapkan oleh para ulama (Said Nursi 2003a,b).

 

Sarana mencapai keikhlasan menurut Said Nursi ada 2 (dua) yakni rabithatul maut (selalu mengingat mati) dan merenungi makhluk. Pertama, selalu mengingat mati, dijelaskan Said Nursi bahwa “mengingat mati justru menjauhkan manusia dari riya dan menjadikan orang yang mengingatnya selalu memelihara keikhlasan. Mengingat mati bisa membersihkan orang tersebut dari nafsu yang memerintahkan kepadanya kepada keburukan” (Said Nursi, 2003a, hlm. 308).

Dijelaskan Said Nursi bahwa para ahli Sufi dan ahli hakikat menjadikan rabithatul maut sebagai landasan dalam suluk mereka sebagaimana ayat-ayat al-Qur’an yang mereka ketahui : “Setiap nafs (diri) pasti merasakan kematian” (QS. Al-Imran : 185) “Sesesungguhnya kamu akan mati dan mereka pun akan mati” (QS. Az-Zumar :30).

Dengan mengingat mati mereka tidak akan berpikir akan kekal abadi sebagai cikal bakal panjang angan-angan. Mereka selalu membayangkan diri mereka sebagai orang-orang mati. Mengingat mati memberikan manfaat yang luas. Said Nursi mengutip hadis Nabi Muhammad Saw, “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menolong segala kenikmatan”.5 Berdasarkan hadis ini, Said Nursi menegaskan bahwa jalan kita adalah jalan hakikat ilmiah bukan tarekat, sufi, maka kita tidak perlu seperti mereka yang langsung mengingat mati dengan bayangan dan hayalan.

Kedua, merenungi makhluk. Untuk dapat sampai kepada ikhlas adalah memperoleh keyakinan hakiki serta cahaya yang bersumber dari perenungan terhadap seluruh makhluk. Merenungi proses kehidupan manusia yang senantiasa mengalami berbagai perubahan. Kebesaran Allah yang telah menciptakan kehidupan dan manusia ini.

Dari berbagai keterangan di atas dapat dipahami bahwa manusia ideal dalam Risale- i Nur adalah manusia ikhlas. Manusia ikhlas inilah yang banyak melahirkan orang-orang suci dalam berbagai ciri dan karakternya. Namun, karena didominasi jiwa ikhlas maka perilaku yang selalu muncul adalah rasa syukur. Rasa syukur menjadi utama bagi mereka yang berhati suci dan ikhlas. Manusia yang memiliki jiwa-jiwa ini dapat disebut sebagai manusia filosof-sufi. Kategori orang semacam inilah yang bisa dikategorikan sebagai seorang filosof-sufi. Yang memiliki karakter seperti Nabi.

 

2) Takwa Menjadikan Manusia Ulil Albab

Tingkatan takwa selalu diletakkan sebagai tempat yang mulia. Takwa adalah memelihara diri dari siksaan Allah Swt dengan mematuhi perintah dan larangan-Nya, yang tidak cukup diartikan dengan takut saja (Al-Qur’an Depag RI, 2004, hlm. 3). Namun, dalam pandangan Said Nursi ketakwaan dibawa orang ikhlas. Karena dominasi jiwa dalam ketakwaan adalah jiwa berani dan nafsu. Ketakwaan menjadi sangat penting dalam pembentukan muslim yang hakiki. Manusia ideal vang diharapkan dari ketakwaan adalah manusia yang memiliki karakteristik ulil albab.

Ciri-ciri orang takwa diisyaratkan dalam Risale-i Nur :

  1. Orang sabar dalam mencari ridha Allah
  2. Selalu menepati janji Allah dan tidak merusak perjanjian (Qs. Ar Rad ayat 20)
  3. Takut kepada Allah
  4. Takut kepada hisab Allah
  5. Mendirikan shalat
  6. Menafkahkan sebagian harta (Said Nursi 2003b, hlm

 

Dapat dipahami bahwa manusia ideal selanjutnya menurut Said Nursi adalah manusia ulil albab (manusia berakal). Manusia ulil albab memiliki sikap hidup sabar. Kesabaran utamanya adalah dalam mencari keridhaan Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki kepada orang lain, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Mereka inilah orang yang takwa. Sikap hidup yang takwa dalam jiwanya selalu dominan sabar. Manusia yang memiliki jiwa-jiwa ini dapat disebut sebagai manusia ulil albab yang memiliki karakter seperti Nabi.

 

3) Sedekah Menjadikan Manusia Dermawan

Penciptaan manusia ke muka bumi ini tidak terlepas dari dua hal penting yakni sebagai pengabdi dan khalifah. Dalam pengabdian dan khalifah di muka bumi inilah perpaduan selanjutnya dari jiwa berani dan nafsu melakukan peranannya. Untuk selalu menjalin ukhuwah Islamiyah. Karena, kedermawanan sangat dekat sekali dengan saling menolong atas sesama manusia.

Ciri-ciri orang sedekah diisyaratkan dalam Risale-i Nur, yaitu :

  1. Menafkahkan sebagian hartanya kepada orang lain
  2. Senantiasi menjalin tali silaturahmi
  3. Senantiasa menjalin ukhuwah Islamiyah

 

Dari berbagai penjelasan di atas dapat dipahami bahwa manusia ideal selanjutnya Risale-i Nur adalah manusia dermawan. Manusia dermawan memiliki sikap hidup sedekah. Sedekah adalah dalam mencari keridhaan Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki kepada orang lain, baik secara sembunyi maupun terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Mereka inilah orang yang takwa. Sikap hidup orang yang suka bersedekah dalam jiwanya selalu dominan jiwa ukhuwah. Manusia yang memiliki jiwa-jiwa ini dapat disebut sebagai manusia dermawan yang memiliki karakter sepeti Nabi.

Rangkaian penjelasan dan pembahasan di atas dapat dipahami bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi yang mengikat dalam satu kesatuan hidup, termasuk di dalamnya dapat prinsip pendidikan akhlak bagi generasi muda diketahui meliputi : menguatkan iman, berpegang teguh pada al-Qur’an, pentingnya memahami hakekat penciptaan manusia, pentingnya memahami alam semesta, pentingnya memahami asma’ al-husna, pentingnya mengetahui tanda-tanda akhir zaman, pentingnya meyakini hari kiamat, meneladani nabi Muhammad Saw dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah. Prinsip-prinsip ini saling berkaitan dalam jiwanya dan sifatnya tidak dapat dipisah-pisahkan. Baik dalam pola pikir, pola sikap dan pola lakunya. Prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi ini dapat dikatakan sebagai prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda. Tentu saja, karena sifatnya filosofis dalam diri manusia, maka prinsip-prinsip ini menjadi dasar bagi Said Nursi yang sangat relevan dengan kehidupan generasi muda.

 

Relevansi Prinsip-prinsip Pendidikan Akhlak dengan Pembinaan Generasi Muda

Setelah dikemukakan mengenai prinsi-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut pemikiran Said Nursi, berikut ini adalah bagian analisis terhadap prinsip-prinsip tersebut di atas. Pada bagian ini penulis mencoba untuk menganalisis relevansi prinsip-prinsip pendidikan akhlak tersebut dengan pembinaan generasi muda secara deskriptif-komperatif untuk melihat aspek akidah, pandangan hidup, tujuan hidup, ibadah, tingkah laku, lingkungan dan tahap perkembangan kepribadian generasi muda.

Relevansi dengan Akidah Generasi Muda

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa generasi muda yang dimaksud pada penelitian ini adalah generasi yang berumur 15-40 tahun yang beragama Islam. Walau bagaimana pun, secara fakta aspek akidah generasi belum dapat dipastikan. Apakah aspek keimanan yang mereka pegang benar-benar sesuai dengan hakikat yang diajarkan Islam, sebab banyak di antara mereka yang dapat disebut “Islam Phobia” atau “Islam KTP”. Artinya mereka beragama Islam dan mengaku beriman, namun masih ada yang tidak mau shalat, puasa Ramadhan bahkan zakat masih ditinggalkan. Fenomena seperti ini masih sangat nampak di tengah-tengah masyarakat.

Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima generasi muda dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.

Hasil penelitian Allport, Gillesphy, dan Young menunjukkan  bahwa  85 % generasi muda Katolik Romawi tetap taat menganut ajaran agamanya dan 40 % generasi muda Protestan tetap taat terhadap ajaran agamanya (Jalaluddin 2002, hlm. 74). Dari hasil ini dinyatakan selanjutnya, bahwa agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para generasi muda untuk tetap taat pada ajaran agamanya.

Sebaliknya agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pengembangan pikiran dan mental para generasi muda sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pikiran dan mental generasi muda mempengaruhi sikap keagamaan mereka. Karena itu, pemahaman dengan menguatkan keimanan harus senantiasa dilakukan untuk menuju kesempurnaan.

Walau sulit mengukur tingkat keimanan bagi generasi muda, namun kekuatan iman akan sangat nampak dari tingkah laku dan peribadahan yang dilakukan. Namun, Said Nursi sangat menekankan keimanan bagi generasi muda. Tujuan ciptaan yang paling murni dan fitrah manusia yang paling tinggi ialah iman kepada Allah. Jika ditinjau dari aspek pengamalan agama, tawaran-tawaran Said Nursi adalah penguatan keimanan melalui ruh ketauhidan masuk dalam kehidupan manusia sampai ke relung batin. Tauhid adalah dasar utama dalam menyatakan keimanan secara sempurna. Hakekat keimanan secara menyeluruh dapat dipahami melalui rukun iman yaitu ; Rukun iman terdiri dari iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-­Nya, hari kiamat, dan qadha dan qadhar.

Menurut Said Nursi hakekat keimanan terdapat dalam kalimat La Ilaha Illah yang merupakan mengakui secara totalitas kekuasaan Allah dan untuk membuktikan keimanan mereka dapat dilihat amal dan ibadah mereka sehari-hari. Artinya, sesungguhnya generasi muda yang beragama Islam tentu tergolong kepada generasi muda yang beriman, walaupun tidak dapat diketahui secara pasti bagaimana tingkat keimanan mereka, sebab keimanan tidak bisa dilihat dan menyangkut soal hati. Keimanan generasi muda jika didasarkan dengan prinsip ajaran Islam adalah tidak cukup dengan pembenaran hati dan pengakuan dengan kata-kata, tetapi diikuti oleh amal perbuatan.

Pembentukan nilai keimanan inilah yang diusahakan oleh Nabi Muhammad Saw, yang selama 13 tahun di kota Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Iman yang tidak pernah dipisahkan dari pasangannya, yaitu amal shalih (ibadah, mu’amalah, mu’asyarah dan akhlaq). Berkenaan dengan iman, sebagaimana firman Allah SWT dalam (QS.Ibrahim/14:24-25) : Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang kelangit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musimdengaseizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (Alquran dan Terjemahannya 1990, hlm. 383-384).

Dalam Alquran dan Terjemahannya yang diterbitkan oleh Kerajaan Arab Saudi dinjelaskan bahwa, yang dimaksud dengan kalimat yang baik adalah kalimat tauhid (kalimat iman), yaitu segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemunkaran serta berbuat yang baik. Yang dimaksud kalimat tauhid adalah kalimat “Laa ilaa ha ill-Allah” (Alquran dan Terjemahannya 1990, hlm. 383-384). Buah dari sebatang pohon yang akarnya kuat adalah perumpamaan terhadap akhlak mulia. Akhlak adalah sebagai buah atau hasil dari suatu proses pendidikan yang didasari oleh penanaman nilai keimanan. Keimananlah yang menjadi fondasi dasar terwujudnya akhlaq al-karimah. Akhlak mulia membentuk generasi yang kuat iman dan menjadi insane saleh sampai bertemu dengan Allah Swt.

Insan shaleh adalah manusia yang mendekati kesempurnaan. Yang dimaksud pembentukan insan yang shaleh dan beriman kepada Allah tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah kepada-Ku (Q.S.51:56) manusia yang penuh keimanan dan takwa, berhubung dengan Allah memelihara dan menghadap keada-Nya dalam segala perbuatan yang dikerjakan dan segalah tingkah laku yang dilakukannya, segala pikiran yang tergores dihatinya dan segala perasaan yang berdetak dijantungnya ia adalah manusia yang mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad Saw dalam pikiran dan perbuatannya.

Insan shaleh beriman dengan mendalam bahwa ia adalah khalifah di bumi (Q.S.2:30). Ia mempunyai risalah ketuhanan yang harus dilaksanakannya, oleh sebab itu selalu menuju kesempurnaan akhlak yang mulia, sebab Rasulullah SAW. diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Di antara akhlak insan yang shaleh dalam Islam adalah harga diri, prikemanusiaan, kesucian, kasih sayang, kecintaan, kekuatan jasmani dan rohani, menguasai diri, dinamisme dan tanggung jawab. Ia memerintahkan yang makruf dan melarang yang munkar. Ia juga bersifat benar, jujur ikhlas memiliki rasa keindahan dan memiliki keseimbangan dan berperilaku seperti Nabi Muhammad Saw.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip keimanan yang ditanamkan Said Nursi dalam dirinya dan murid-muridnya sangat relevan untuk selalu direalisasikan oleh generasi muda yang beriman, walaupun tidak diketahui secara tepat tingkat keimanan generasi muda tersebut. Namun, diyakini bahwa dengan senantiasa menguatkan keimanan akan tercapai keinginan menjadi insane shaleh.

 

Relevansi dengan Pandangan Hidup Generasi Muda

Kemunduran dan kelemahan umat Islam dalam bidang ekonomi dan politik, khususnya ketika berada di bawah kekuasaan kolonial Barat pada abad ke-18, telah merangsang para elite politik Muslim untuk menyuarakan pentingnya perubahan-perubahan internal dalam upaya memperkecil jurang pemisah antara umat Islam dan orang-oraug Barat. Perkembangan dunia modern Barat telah menyumbangkan banyak sekali landasan yang menjadi dasar pendidikan. Khususnya terjadi perubahan besar dalam pandangan dan pemahaman keagamaan umat yang semakin lama semakin bingung dan lemah. (Wan Daud, 2003 hlm. 7). Dalam konteks umat secara luas, generasi muda berada di tengah-tengah arus perubahan tersebut yang tidak dapat dibantah keberadaan.  

Untuk ukuran generasi muda dari 15-40 tahun sudah dalam mengenal apa itu pandangan hidup. Generasi muda memiliki pandangan hidup yang jauh dari nilai-nilai keagamaan, bahkan prinsip-prinsip mulia ditinggalkan. Pengaruh arus globalisasi dan maraknya pandangan dunia yang mampu merubah perilaku generasi muda patut menjadi perhatian bersama. Pandangan hidup dalam konteks ini adalah pandangan Barat yang merusak generasi muda muslim. Dalam kajian filsafat di antara pandangan hidup  tersebut adalah sekulerisme, materialisme, komunisme dan ateisme. Said Nursi secara nyata-nyata menentang semua pandangan dunia yang membawa generasi muda berada di posisi yang tidak jelas menentukan arah hidup

Pertama, Pandangan Sekulerisme. Dalam berbagai perdebatan persoalan sekulerisme senantiasa menjadi topik penting dalam diskusi dunia saat ini. Menurut Mulyadi sekuler adalah lawan dari sakral. Kata sekuler dari bahasa Latin “sculum” berarti “bersifat duniawi (worldly)” sebagai lawan dari “spiritual” atau “relegius”. Sekuler yakni pandangan yang hanya mementingkan kehidupan duniawi dan mengabaikan yang ukhrawi dan dari sudut ontologis mementingkan yang bersifat materiil, mengabaikan yang spiritual. (Mulyadhi 2004, hlm. 120).

Kedua, Materialisme. Pandangan materialisme klasik sampai perkembangan pengetahuan di abad ke-18 menurut Sadulloh mengutip Power (1982) terdapat implikasi pendidikan positivisme behaviorisme yang bersumber pada filsafat materalialisme yang mengarahkan pandangan ini kepada tujuan pendidikan yakni “perubahan perilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya, untuk bertanggung jawab hidup sosial dan pribadi yang kompleks” (Sadulloh, 2003, hlm. 118). Pendapat ini berarti bahwa titik tekan pandangan ini berada pada manusia dengan kapasitas pribadinya yang kompleks yang dapat merubah sikap dan penlaku seseorang.

Ketiga, Komunisme dan Ateisme. Hasil dari pandangan sekulerisme dan matenalisme berimplikasi kepada pandangan hidup yang mengarah komunisme dan ateisme. Kata Komunisme secara historis sering digunakan untuk menggambarkan sistem ­sistem sosial di mana barang-barang dimiliki secara bersama-sama dan didistribusikan untuk kepentingan bersama sesuai dengan kebutuhan masing-unasing anggota masyarakat. Produksi dan konsumsi bersama berdasarkan kapasitas ini merupakan hal pokok dalam mendefinisikan paham komunis, sesuai dengan motto mereka : from each according to his abilities to each according to his needs (dari setiap orang sesuai dengan kemampuan, untuk setiap orang sesuai dengan kebutuhan).

Pandangan dasar manusia sebagai makhluk yang berkerja menjiwa dalam masyarakat komunis (Adelbert Snijders 2004, h1m. 77). Dalam aplikasinya sistem perekonomian komunis didasarkan atas “sistem perintah”, di mana segala sesuatunya serba dikomandoi. Harus diakui bahwa komunisme adalah bentuk paling ekstrem dari sosialisme. Begitu juga karena dalam sistem komunisme negara merupakan penguasa mutlak, perekonomian komunis sering juga, disebut sebagai “sistem ekonomi totaliter” atau “sistem sosialis ekstrem”, menunjuk pada suatu kondisi sosial di mana pemerintah main paksa dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya, meskipun dipercayakan pads asosiasi-asosiasi dalam sistem sosial kemasyarakatan yang ada. Sistem ekonomi totaliter dalam praktiknya berubah menjadi sistem otoriter, dimana sumber-­sumber ekonomi dikuasai oleh segelintir elite yang disebut sebagai polit biro yang terdiri dari elite-elite penguasa partai komunis. Sampai disini kekuatan komunisme berada pada asosiasi-asosiasi dan lembaga-lembaga yang dipercaya, namun disini justru letak pangkal paradoks ekonomi komunisme. Pada titik yang lain masyarakat komunis berubah menjadi ateis, sehingga hakekat makhluk hidup dimaknai kebebasan yang sebebas-bebasnya untuk bekerja dan bekerja.

Harus diakui bahwa pandangan sekulerisme ini sangat bertentangan dengan prinsip Islam yang senantiasa menyeimbangkan antara urusan dunia dan urusan akherat. Sebagai makhluk duniawi, Said Nursi mengajak generasi muda mengesakan Allah Swt. Namun sebaliknya pandangan sekuler Barat yang bercorak rasionalistik-positivistik indrawi menempatkan manusia hanya sebagai makhluk fisik-kimia yang tidak peduli nilai-nilai spiritual. Pandangan ini menyingkirkan Tuhan sebagai Pencipta. Seluruh proses alam dipandang “hanya kebetulan, tak ada campur tangan Tuhan”. Dalam bangunan filsafatnya, Decrates menekankan akal itu sebagai sumber ilmu pengetahuan dan menjadikannya sebagai tujuan akhir. Segala hal yang bersifat abstrak dan tidak dapat dipikirkan secara logika bukanlah ilmu pengetahuan.

Dari penjelasan di atas dapat diambil pemahaman bahwa yang dijadikan landasan bagi dunia pendidikan modern adalah filsafat yang mengarahkan kepada pandangan materialisme. Kecenderungan ini menipakan akibat dari mengagungkan akal sebagai landasan berpikir.

Dapatlah ditegaskan bahwa keempat aliran pemikiran filsafat dan landasan di atas yang berkembang menjadi pemikiran ekonomi ini berangkat dari kepentingan (internst) dan mengabaikan etika, itulah kuncinya. Baik sekulerisme, materialisme, komunisme maupun ateisme pada titik kebutuhan hakiki manusia sebenarnyalah dapat dikatakan “gagal” karena tidak mencapai tujuan hakiki perlunya manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Kegagalan keempat aliran sebagai landasan pendidikan dan kehidupan tersebut terbukti dari manusia modem yang mengalami dilema hidup yang sangat memprihatinkan. Marxisme yang telah mencengkram Uni Sovyet kemudian hancur berantakan. Bukan hanya teori perjuangan kelasnya yang gagal, tetapi komunisme yang antiagama itu telah menyebabkan sebagian besar rakyatnya tidak bahagia.

Sedangkan cita-cita dari pandangan hidup Said Nursi dalam konteks pendidikan akhlak adalah manusia ideal dalam sebagaimana Risale-i Nur adalah manusia yang dekat dengan Allah dan berperilaku seperti Nabi Muhammad. Tentu saja memiliki pandangan hidup yang jelas yakni mengesakan Allah, melalui asma’ al-husna. Asma’ al-Husna yang terbuka di semesta alam ini adalah bukti nyata kebesaran Allah Swt. Kunci keluar dari dunia yang semakian materialistik ini adalah dengan cara iman dan mengamati asma Allah yang terbentang di alam semesta ini, dan lebih khusus lagi menanamkan keimanan kepada hari akhir. Atau istilah yang sering digunakan Said Nursi adalah “Hizmetul iman wa al-Quran”, menurutnya sekarang ini adalah akhir zaman dan menyadarkan umat dari paham duniawi ke ukhrawi.

Prinsip menguatkan keimanan diperlukan bagi generasi muda untuk melawan pandangan-pandangan hidup yang dapat merusak akidah generasi muda. Said Nursi meyakinkan generasi muda dengan mengatakan : “Zat yang menggenggam kendali semua unsur di alam ini pastilah juga memegang kendali semua unsurnya” (Said Nursi 2003a, hlm. 635). Generasi muda harus yakin bahwa kendali dalam kehidupan ini diciptakan Sang Pencipta yaitu Allah Swt dan sekaligus memegang secara penuh kendali kehidupan ini.

 

Relevansi dengan  Tujuan Hidup Generasi Muda

Salah satu ciri generasi muda adalah perubahan sikap serta sifat mengarah kedewasaan (Sudarsono 1993, hlm. 12-13). Generasi muda seperti ini mengalami perubahan dalam berusaha memahami kehidupan, terutama tujuan kehidupan. Jika dikaji dalam konteks kekinian, maka saat ini adalah masa di mana manusia telah memasuki era global atau milenium ketiga. Suatu zaman yang ditandai oleh era informasi yang merupakan revolusi teknologi yang menimbulkan revolusi ekonomi, gaya hidup, pola pikir dan sistem rujukan. Pengalaman sekarang menunjukkan bahwa arus informasi global hampir seluruhnya  tidak seimbang. Lebih banyak informasi yang datang dari budaya Barat ke dalam budaya Islam daripada sebaliknya. Keadaan ini menimbulkan dominasi kultural yang tidak seimbang (Nata 2001, hlm.144-145) dan berdampak buruk bagi nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan dalam Islam. Generasi muda pun sudah ikut-ikutan mengadopsi pola kehidupan yang datang dari Barat tersebut.

Kehadiran  milenium ketiga yang ciri-cirinya disebutkan di atas, pada akhirnya akan menjadi tantangan yang serius bagi dunia pendidikan khusunya pendidikan akhlak. Tantangan tersebut antara lain, mampukah pendidikan akhlak menjadi pemeran utamanya tidak hanya memberikan pengetahuan agama yang hanya memenuhi aspek kognitif belaka, tetapi juga dalam aspek afektif yang mampu menanamkan nilai-nilai keimanan kedalam hati peserta didik yang pada akhirnya dalam aspek psikomotorik yang dapat diaktualisasikan kedalam bentuk amal-amal shalih dan akhlak yang mulia?. Mengapa tidak mungkin, Nabi Muhammad Saw dalam waktu hanya 23 tahun, atas pertolongan Allah telah dapat merubah seluruh tatanan kehidupan bangsa Arab Jahiliyah  menjadi Bangsa yang beriman  dan berakhlak mulia.

Ternyata di tengah situasi sebagaimana di atas, prinsip pentingnya memahami hakekat hidup ini sangat berperan bagi generasi yang sedang menuju kedewasaan. Said Nursi mengarahkan tujuan seorang manusia itu kepada terciptanya manusia yang beriman dan memahami makna kehidupan yang seimbang. Seirama dengan itu tujuan yang mendasar dari pendidikan Islam mulai dari turunnya Islam itu sendiri hingga saat ini bahkan sampai akhir zaman tetap tidak berubah, yakni untuk menjadikan manusia seorang yang berakhlak mulia. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw pernah bersabda yang mafhumnya: “Sesungguhnya aku ini diutus hanya untuk menjadikan manusia berakhlak mulia” (HR. Al-Bazzaar).

Pada saat ini bangsa kita telah mengalami kemerosotan dan kemunduran dalam segala aspek kehidupan. Untuk meyelesaikan persoalan tersebut adalah upaya bagaimana  untuk menanamkan keimanan dan ketaatan yang sempurna kepada Allah Swt. Upaya untuk menanamkan hakikat keimanan dan memang teguh al-Qur’an serta memahami hakekat penciptaan manusia.

 

 

 

Relevansi dengan Ibadah Generasi Muda

Menurut Halem Lubis, dkk., generasi muda memiliki ciri-ciri yaitu di samping mengalami keadaan yang tidak menentu di masa generasi muda, memasuki usia dewasa ia sudah dapat bertanggung jawab dalam segala tindakan dan perbuatannya (Halem 2001, hlm. 149-150). Berdasarkan pendapat ini secara agama orang yang sudah dapat bertanggung jawab dalam segala tindaknya berarti sudah balig, kebutuhan nilai spiritual juga meningkat.

Menurut Thomas sebagaimana dikutip Jalaluddin dan Ramayulis bahwa kebutuhan terhadap agama dimungkinkan karena adanya empat kebutuhan manusia, yaitu : adanya keinginan untuk  mendapatkan perlindungan (security), keinginan untuk mendapatkan pengalam baru,  (new experience), keinginan untuk mendapatkan tanggapan (respons) dan keinginan untuk dikenal (recognation). Melalui pengalaman-pengalaman yang diterimanya dari lingkungan itu kemudian terbentuklah rasa keagamaan (Jalaluddin dan Ramanulis 1998, hlm. 32-33).

Baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat generasi muda  muslim diharuskan untuk senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan Allah Swt. Hubungan yang baik menjadi kunci utama bagi pembentukan kepribadian muslim di tengah-tengah menjalankan ibdah kepada Allah. Nilai-nilai Islam yang diterapkan dalam hubungan itu mencakup:

  • Senantiasa beriman kepada Allah;
  • Bertaqwa kepada-Nya;
  • Menyatakan syukur atas segala nikmat Allah;
  • Tak berputus asa dalam mengharap rahmat-Nya;
  • Berdoa kepada Allah, menyucikan diri;
  • Mengagungkan-Nya serta senantiasa mengingat-Nya;
  • Menggantungkan niat atas segala perbuatan kepada-Nya (Jalaluddin dan Ramanulis 1998, hlm. 187).

Pada intinya ketujuh point di atas ingin menegaskan bahwa sejalan dengan prinsip keimanan, berpegang teguh pada al-Qur’an, memahami hakekat penciptaan manusia dengan senantiasa meneladani Nabi Muhammad Saw. Pembentukan kepribadian muslim sebagai individu, keluarga, masyarakat, maupun masyarakat pada hakikatnya berjalan seiring dan menuju ke tujuan yang sama. Tujuan utamanya adalah guna merealisasikan diri, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat untuk mengabdi kepada Allah SWT.

 

Relevansi dengan Lingkungan Generasi Muda

 

Kepribadian secara utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh lingkungan, khususnya pendidikan. Adapun sasaran yang dituju dalam pembentukan kepribadian ini adalah kepribadian yang memiliki akhlak mulia. Tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan. Pencapaian tingkat akhlak yang mulia merupakan tujuan pembentukan kepribadian muslim.

Lebih jauh Robert H. Thouless mengklasifikasikan faktor-faktor yang dapat membentuk sikap keagamaan menjadi empat faktor utama, yaitu : pengaruh-pengaruh sosial, berbagai pengalaman, kebutuhan, dan proses pemikiran (Robert 1972, hlm. 43). Pengaruh sosial atau dapat disebut faktor sosial mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keagamaan di antaranya pendidikan dari orang tua, tradisi-tradisi sosial, dan tekanan-tekanan lingkungan sosial untuk menyesuaikan  diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang disepakati oleh lingkungan itu.

Faktor pengalaman merupakan suatu faktor yang diakui dapat membantu tumbuhnya sikap keagamaan, baik pengalaman yang berkaitan dengan tatanan alami atau moral maupun pengalaman batin emosional. Pengalaman alami atau moral misalnya mengenai keindahan, keselarasan, dan  kebaikan dari faktor alam, dan konflik moral. Sementara pengalaman emosional berhubungan dengan pengalaman mistik emosional keagamaan atau faktor afektif.

Ekologi diartikan sebagai lingkungan yakni sebagai segala sesuatu yang ads di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan maupun bends tak bemyawa. Terkait dengan lingkungan Islam melarang tegas umat manusia melakukan kerusakan di bumf, baik kerusakan lingkungan maupun kerusakan diri sendiri (Ali Anwar dkk 2005, h1m. 128). Akan tetapi seperti yang pernah disinggung bahwa pembentukan kepribadian jugs terkait dengan lingkungan pendidikan, yang berarti tidak dapat dilakukan secara sendiri tetapi hares bersama atas dasar saling tolong menolong. Karena itu, kondisi sedemikian ini akan tercipta situasi saling mencintai. Dimana setiap pribadi merasakan bahwa kesempurnaan diri akan terwujud karena kesempurnaan yang lainnya. Jika tidak maka tidak tedadl kesempumaan dalam diri seseorang. Setiap individu menempati posisi sebagai salah sate anggota dari seluruh anggota badan.

Faktor lingkungan ini mencakup tiga aspek penting yang tarot pula mempengaruhi terbentuknya akhlak mulia. Pertama, aspek hubungan keluarga. Lingkungan pendidikan Yang biasanya dikenal adalah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Said Nursi memang tidak secara khusus membicarakan ini, namun pada prinsipnya aspek ini termasuk dalam prinsipnya dalam membina diri meneladani Nabi Muhammad.

Kedua, aspek hubungan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial bahwa manusia di alam ini memerlukan kondisi yang balk dari luar dirinya. Sebaik-baiknya orang adalah orang yang berbuat baik dari saudara atau anak, kerabat, keturunan, rekanan, tetangga dan teman. Salah satu tabiat manusia adalah memelihara diri sendiri.

Ketiga, aspek hubungan formal. Hubungan ini sebenarnya memiliki juga pengaruh yang cukup kuat dalam pembentukan akhlak. Karena diakui atau tidak kondisi yang berada di masyarakat sangat dipengaruhi kebijakan politik pemerintah, artinya kondisi yang baik dapat didukung oleh pengambil kebijakan politik negara tersebut. Artinya bahwa situasi lingkungan akan dapat tercipta bilamana situasi politik pemerintah mengizinkan.

Tetapi, ketiga aspek uraian di atas setidak dapat memberikan gambaran bahwa Said Nursi cenderung secara lebih khusus membicarakan lingkungan pendidikan di dershane. Ini pun dianggap sebagai peninggalan yang bersifat tradisional. Kalau lingkungan keluarga dibahas tentu perlu pertimbangan ciri khas yang berkaitan tentang lingkungan tersebut. Keluarga perdesaan dan perkotaan pun sudah berbeda dari cars dan pola kehidupannya. Keluarga orang kaya dengan orang miskin, keluarga yang beranggota sedikit dengan yang banyak dan sebagainya.

Kemudian lingkungan sekolah, tidak disebutkan tapi, penjelasan mengenai hubungan pendidik dan peserta didik sebagai mana di atas setidaknya telah cukup membenkan gambaran untuk itu. Ungkungan masyarakat dikaji oleh Said Nursi secara lugs karena proses politik dan lingkungan social semasa penuligan Risale-i Nur dan berbagai persidangan mendeskripsikan tersendiri dari situasi lingkungan masyarakat.

Secara umum dapat dipahami bahwa lingkungan pendidikan akhlak Said Nursi sangat luas. Said Nursi tidak membatasi tanggung jawab pendidikan akhlak hanya tanggung jawab orang tua dan guru. Kondisi lingkungan terdekat sampai kondisi lingkungan yang paling jauh di dalam strata sosial masyarakat yang menekankan prinsip ketelandanan.

 

Relevansi dengan Situasi Kejiwaan Generasi Muda

Menurut Kartini Kartono, secara kejiwaan pemuda memiliki ciri-ciri khas, yaitu: belajar berdiri sendiri dalam suasana kebebasan, berusaha melepaskan ikatan-ikatan afektif lama dengan orang tua dan objek-objek cintanya, berusaha membangun hubungan perasaan/afektif yang baru, dan menemukan indentifikasi dengan obyek-obyek baru yang dianggap lebih bernilai atau lebih berarti daripada obyek yang lama. Generasi muda yang terdiri dari golongan orang dewasa yang lazimnya ia telah mencapai umur 21 tahun, dianggap sanggup berdiri sendiri, dan bisa bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas hidupnya  (Kartono 1990, hlm.33 dan hlm.184).

Bagi Said Nursi pemuda adalah sebagai penerus generasi di masa depan. Menurut pendapatnya Mahmud Yunus seperti yang dikutip Zainuddin dkk. mengemukakan bahwa :

Tugas yang utama dan terutama yang terpikul atas pundak alim ulama’, guru agama, dan pemimpin Islam adalah mendidik anak-anak, pemuda-pemuda, putra-putri, orang-orang dan masyarakat umumnya supaya semuanya itu berakhlak mulia dan berbudi pekerti yang halus, karena hidup bermasyarakat adalah tolong menolong, berlaku jujur dan peramah, berlaku adil dalam segala hal, berkasih sayang antara satu dengan lainnya…(Zainuddin 2001, hlm. 54)

 

Kutipan menjelaskan bahwa tugas orang tua, guru agama dan masyarakat dan pendidik lainnya adalah sangat berat karena ditangan merekalah akhlak anak akan dibentuk. Ajaran Islam selalu membimbing dan mengarahkan umat manusia untuk berakhlak mulia karena dengan itulah mereka akan hidup selamat di dunia dan di akhirat. Untuk itu sifat ikhlas, takwa dan sadakah harus terbangun dalam jiwa anak muda. Maka, melalui pembinaan yang mengetahui tingkat kejiwaan bagi generasi muda perlu dilakukan. Karenanya, generasi muda harus aktif di dalam pembentukan akhlaknya.

Menurut Sudarsono, suatu ciri kehidupan generasi muda pada masa awalnya mengalami ketidakstabilan perasaan dan emosi, terutama dalam bersikap dan menentukan masa depan mereka. Berikutnya dalam proses menuju kedewasaan mereka dapat mengatasi masalahnya dengan baik (Sudarsono 1993, hlm. 15). Karena itu, prinsip-prinsip pendidikan akhlak misalnya menguatkan keimanan dan keyakinan terhadap hari kiamat bias merubah situasi kejiwaan yang tidak stabil dan emosional dalam menentukan jalan hidup dan mencapai cita-cita hidup.

Prinsip meneladani nabi Muhammada Saw juga bagian integral yang tidak dapat dipisah-pisah misalnya ; melatih cara makan dan minum yang dapat menyehatkan tubuh, bukan untuk kenikmatan, tetapi tidak terlalu kenyang dan juga tidak terlalu lapar, agak lapar justru akan lebih baik. Cara lain bagi generasi muda tidak membiasakan diri makan dan minum yang memabukkan. Demikian juga dalam hal cara berpakaian juga sangat penting diperhatikan.

Kemudian, para generasi muda diharapkan tidak sombong dan bermegah-megah terhadap kawan­kawannya dengan harus yang dimiliki orang tuanya. Pembicaraan yang kotor supaya dihindarkan. Suka berkata benar, jujur, dan hormat pada orang lain juga ditekankan. Gerak tubuh seperti berjalan, berkendaraan, suka berkata benar, dan lainnya perlu diperhatikan. Diharapkan seorang pemuda dapat menjadi orang yang suci, walau pada masa muda, tidak hanya suci menjelang ajal.

Said Nursi memberikan perhatian utama kepada situasi kejiwaan generasi muda dengan nilai-nilai akidah dan iman bertujuan untuk menyiapkan generasi muda sejak dini ketangguhan mereka untuk memperlemah sumber penyakit jiwa, misalnya marah, takut mati dan kesedihan. Sehingga, ketika pada masanya para generasi muda itu sudah benar-benar siap dalam menghadapai kehidupan yang luas ini.

 

 

 

 

Relevansi dengan Tahapan Perkembangan Kepribadian Generasi Muda

 

Dalam tahapan ini generasi muda dirumuskan dalam 2 (dua) tahapan yaitu tahap perkembangan dan tahap pembentukan. Hal ini merujuk dari berbagai perasaan telah berkembang pada masa muda. Perasaan sosial, etis dan estesis mendorong generasi muda untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat kearah hidup yang religius pula. Sebaliknya bagi muda yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual. Masa muda merupakan masa kematangan seksual. Didorong oleh perasaan ingin tahu dan perasaan super, muda lebih mudah terperosok ke arah tindakan seksual negatif.

Pertama, tahap perkembangan sosial. Dalam tahap perkembangan pribadiannya ini generasi muda tergantung dengan situasi sosialnya. Paham keagamaan generasi muda akan ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Generasi muda sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para generasi muda lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis. Hasil penyelidikan Ernest Harms terhadap 1789 generasi muda Amerika antara usia 18 – 29 tahun menunjukkan bahwa 70 % pemikiran generasi muda ditujukan bagi kepentingan: keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri dan masalah kesenangan pribadi lainnya. Sedangkan masalah akhirat dan keagamaan hanya sekitar 3,6 %, masalah sosial 5,8 %(Jalaluddin 2002, hlm. 75).

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka dalam perkembangan sosial generasi mudah untuk tetap berpegang teguh pada al-Qur’an dan berprinsip menguatkan iman serta meyakini diri akan hari kiamat yang diaplikasikan lewat sikap, tindakan dan perilaku. Sehingga, perkembangan jiwa dalam konteks sosial tidak berpandangan materialis dan asosial tapi justru mendapat dorongan yang mulia untuk mengembangkan jiwa-jiwa sosial dan dapat menjalankan ibadah dengan tenang.

Kedua, tahap perkembangan moral, perkembangan moral para generasi muda bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada para generasi muda juga mencakupi : self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi, Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik, Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama, Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral, dan Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat (Jalaluddin 2002, hlm. 76).

Dalam tahapan-tahapan perkembangan diri manusia, munculnya rasa keagamaan dimulai dari sejak lahir. Masa yang rentan dan pertumbuhan yang kuat dalam hal ini hingga mencapai umur 12 tahun (masa anak-anak). Dalam rentang usia ini keingintahuan anak terhadap agama sangat tinggi. Pertanyaan tentang Tuhan dan hal-hal yang ghaib sangat menarik bagi si anak. Penanaman pengetahuan dan pemahaman tentang agama pada masa ini memegang peranan penting bagi pertumbuhan rasa keagamaannya pada jiwa manusia. Sebaliknya, kegagalan penanaman rasa keagamaan akan membuat kelabilan jiwa dan menumbuhkan sikap yang anti agama.

Pada masa generasi muda berkisar antara umu 13-18 tahun, kebiasaannya berpikir berdasarkan pengalaman-pengalamannya, maka dikhawatirkan pengalaman yang pernah dialaminya bukan bersumber dari sekolahnya, tetapi justeru berasal dari teman-temannya yang rusak akhlaknya. Karena itu, pengawasan pendidikannya tidak hanya sebatas ketika anak berada di sekitarnya, tetapi ia harus tanggap dan teliti terhadap pergaulan anak didiknya ketika bermain dengan temannya di luar jam pelajaran.

Dan perlu diketahui pada masa ini, generasi muda sudah memiliki kamatangan seksual yang bisa saja disalahgunakan bila pendidik kurang teliti mengawasinya. Karena anak tersebut punya cenderungan ingin bebas dari pengawasan pendidiknya. Bahkan lebih aneh lagi, karena sifat keterbukaannya kepada temannya lebih banyak daripada kepada pendidiknya. Padahal kalau ia mendapatkan kesulitan, pendidiklah yang lebih dahulu mengatasinya, bukan orang lain.

Maka perlu mencari cara-cara yang lebih tepat digunakan untuk mendidika anak tersebut, antara lain:

  1. Harus mendidiknya agar selalu tekun menjalankan perintah agama
  2. Menanamkan kebiasaan yang selalu ingin berbuat baik kepada orang tua, guru, teman-temannya, dan bahkan terhadap makhluk-makhluk lainnya.
  3. Selalu mengawasi pergaulan dengan anak yang buruk akhlaknya, dan mengarahkannya agar bergaul dengan anak yang baik
  4. Selalu menasehati bila ia hendak keluar rumah dan mengingatkannya agar selalu berhatihati ketika ia berbuat dan bergaul dengan teman-temannya.
  5. Selalu menjaganya agar tidak membaca buku-buku porno dan film-film cabul.

Masa dewasa, dimaksudkan adalah umur 19 tahun ke atas, dimana ia sudah memasuki jenjang pendidikan tinggi. Berarti pada masa ini, anak sudah dapat menghayati pengalaman-pengalaman hidup yang pernah dialaminya sejak kecil hingga dewasa, kemudian ia menemukan arti dan nilai-nilai tertentu yang bermanfaat terhadap pembentukan sikap dan perilaku yang baik baginya.

Sebenarnya mendidik akhlak anak yang sudah dewasa, tidak sulit asalkan jiwanya sudah terisi nilai-nilai keagamaan dan kesusilaan. Hanya yang sulit jika ia tidak pernah tersentuh oleh akhlak sejak ia masih kecil sampai terjerumus ke dalam lembah kerusakan moral.

 

Cara-cara yang harus dilakukan dalam pendidikan akhlak anak tersebut, antara lain:

  1. Pendidik harus memberi keterangan kepadanya tentang tujuan akhlak baik dan kemudhoratan akhlak buruk
  2. Harus selalu mengontrol segala tingkah lakunya dan menasehatinya bila ternyata ia melakukan penyelewengan agama atau norma-norma sosial.
  3. Pendidik harus mendesak untuk menerapkan pendidikan akhlak (etika) yang pernah di dapatkannya di sekolah maupun di tempat lain.

Perkembangan sikap keagamaan pada manusia dipengaruhi tiga faktor utama, yaitu faktor hereditas, faktor pembawaan, dan faktor lingkungan (Zakiah 1996, hlm. 35-37) Pertama, faktor hereditas yang berkaitan erat dengan kedua orang tua (ibu-bapak). Karena sifat-sifat atau ciri-ciri yang terdapat pada anak dikatakan keturunan jika hal tersebut diwariskan atau diterima dengan sel benih dari generasi lain (Purwanto, 1997, hlm. 64). Adapun yang diwariskan orang tua kepada anak berbentuk sifat-sifat atau ciri-ciri tertentu pada bentuk fisik, bentuk wajah, gerakan-gerakan tertentu dari bagian tubuh dan juga sebagian kecil sifat emosi. Keemua diterima anak dari sel benih kedua orang tuanya.

Selanjutnya faktor pembawaan adalah seluruh potensi yang terdapat pada individu dan pada masa perkembangannya benar-benar dapat diwujudkan (Mudjakir dan Sutrisno 1997, hlm. 92). Potensi tersebut misalnya, kemampuan berjalan, berbicara, dan lain-lain yang nanti potensi ini memang benar-benar terbukti meskipun tetap tergantung pada pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri. Potensi-potensi di atas merupakan pembawaan bagi setiap anak yang dilahirkan.

Lebih jauh dapat dijelaskan bahwa bagi pendidikan Islam prinsip utama dalam pengembangan sumber daya manusia, pertama peserta didik harus dihadapi secara totalitas unsur-unsurnya. Al-Qur’an tidak memisahkan unsur jasmani dan rohani, tetapi pembinaan jiwa dan pembinaan akal sekaligus tanpa mengabaikan unsur jasmaninya. Karena itu, seringkali ditemukan uraian-uraian yang disajikan dengan argumentasi logis, disertai sentuhan-sentuhan kepada kalbu. Kedua memahami nilai-nilai masyarakat sekitar. Kualitas kreativitas seseorang dalam masyarakat tidak saja tergantung pada hasil pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan tetapi juga oleh nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakatnya (peradaban, Hasan Langgulung red). Jika nilai-nilai tersebut mendukung pengembangan sumber daya manusia, maka kualitasnya akan sangat baik demikian juga sebaliknya (Rohmalina, 2002, hlm.115).

Diharapkan dengan melaksanakan prinsip atau konsep ini, bukan hanya kesucian jiwa yang diperoleh tetapi juga pengetahuan yang merangsang daya cipta, karena daya ini dapat lahir dari penyajian materi secara rasional serta rangsangan pertanyaan melalui diskusi. Dengan demikian peningkatan sumber daya manusia berarti peningkatan pendidikan dan pengetahuan.

Ketiga, tahap pembentukan kepribadian muslim, dengan menanamkan nilai-nilai Islam dalam keluarga dilakukan dengan cara melaksanakan pendidikan akhlak di lingkungan rumah tangga. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: Memberikan bimbingan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, memelihara anak dengan kasih saying, memberi tuntunan akhlak kepada keluarga, membiasakan untuk menghargai peraturan-peraturan dalam rumah tangga, membiasakan untuk memenuhi dan kewajiban antara sesama kerabat (Rohmalina, 2002, hlm.115)

Jadi yang harus ditanamkan di dalam lingkungan keluarga selaku unsur terkecil dari masyarakat adalah dasar-dasar aqidah yang benar dan akhlak mulia. Menanamkan dasar-dasar nilai tersebut dimulai sejak, sehingga ketika dewasa anak menjadi terbiasa.

Baik sebagai individu maupun sebagi ummah, kaum muslimin diharuskan untuk senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT. Hubungan yang baik menjadi kunci utama bagi pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah. Nilai-nilai Islam yang diterapkan dalam hubungan itu mencakup:

  1. Senantiasa beriman kepada Allah
  2. Bertaqwa kepada-Nya
    1. Menyatakan syukur atas segala nikmat Allah dan tak berputus asa dalam mengharap rahmat-Nya
    2. Berdoa kepada Allah, menyucikan diri, mengagungkan-Nya serta senantiasa mengingat-Nya.
    3. Menggantungkan niat atas segala perbuatan kepada-Nya.

Pembentukan kepribadian muslim sebagai individu, keluarga, masyarakat, mupun ummah pada hakikatnya berjalan seiring dan menuju ke tujuan yang sama. Tujuan utamanya adalah guna merealisasikan diri, baik sebagai individu maupun sebagai ummah untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Pembentukan kepribadian pada dasarnya merupakan upaya untuk mengubah sikap kearah kecenderungan kepada nilai-nilai keislaman. Perubahan sikap, tentunya tidak terjadi secara spontan. Semuanya berjalan dalam proses yang panjang dan berkesimanbungan. Cerminan dari ciri-ciri kepribadian muslim seperti yang dikemukankan tersebut, pada garis besarnya merupakan unsur-unsur yang terkandung dalam komponen pembentukan akhlak yang mulia dari sumber ajaran al-Quran. Berakhlak mulia, memuat pengertian mampu menjalani hubungan yang baik antara hamba dengan Allah (hablumminallah), dan hubungan baik antara sesama manusia (hablumminannas), maupun denga makhluk Tuhan (hablimminal `alam). Hubungan baik inilah merupakan dasar utama bagi pembentukan kepribadian muslim secara individu. Dalam Islam juga mengajarkan faktor genetika (keturunan) ikut berfungsi dalam pembentukan kepribadian muslim. Menurut Jalaluddin dan Usman Said bahwa akhlak terhadap Allah meliputi:

  1. Mengabdi kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya
  2. Tunduk dan patuh hanya kepada Allah Swt
  3. Berserah diri kepada ketentuan Allah Swt
  4. Bersyukur hanya kepada Allah Swt
  5. Ikhlas menerima keputusan Allah Swt
  6. Penuh harap kepada Allah Swt
  7. Takut kehilangan rasa patuh kepada Allah Swt
  8. Takut akan siksa Allah Swt
  9. Takut akan kehilangan rahmat Allah Swt
  10. Mohon pertolongan kepada Allah Swt
  11. Cinta dan penuh harap kepada Allah Swt (Jalaluddin dan Usman 1996, hlm. 61-61).

 

Selanjutnya Jalaluddin dan Usman Said, menambahkan bahwa akhlak kepada sesama manusia, secara garis besarnya meliputi sikap yang baik seperti: Menghormati dan menghargai perasaan kemanusiaan, Memenuhi janji dan pandai berterima kasih, Saling menghargai, dan menghargai status manusia sebagai makhluk Allah yang paling mulia (Jalaluddin dan Usman 1996, hlm. 82). Begitu juga akhlak terhadap lingkungan sekitar kita (alam). Islam mengajarkan kepada setiap muslim untuk menunjukkan sikap yang serasi terhadap lingkungan sekitar. Sikap tersebut meliputi: (1) Memperlakukan binatang dengan baik dan (2) Menjaga dan memelihara kelestarian alam (Jalaluddin dan Usman 1996, hlm.84-85).

Jadi pada dasarnya pembentukan kepribadian muslim merupakan suatu pembentukan kebiasaan yang baik dan serasi dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Untuk itu setiap muslim dianjurkan untuk belajar seumur hidup, sejak lahir hingga akhir hayat. Pembentukan kepribadian melalui pendidikan tanpa henti (long life education), sebagai suatu rangkaian upaya menuntut ilmu dan nilai-nilai keislaman, sejak dari buayan hingga ke liang lahat. Pembentukan kepribadian muslim merupakan pembentukan kepribadian yang utuh, menyeluruh, terarah, dan berimbang.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dengan mudah diidentifikasi prinsip yang ada yakni ikhlas, takwa dan sedekah. Dan senantiasa menjalankan sunah Nabi Muhammad dalam rangka membentuk kepribadian muslim yang diharapkan.

 

 

Bab 5

P E N U T U P

 

Kesimpulan

Dari rangkaian diskusi dan beberapa uraian di atas, maka penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Dalam konteks pendidikan akhlak Said Nursi adalah salah satu tokoh dalam bidang akhlak yang konsisten terhadap pembinaan generasi muda. Pendidikan di keluarga dan masyarakat yang mendorong Said Nursi untuk aktif mendidik masyarakat dan menyebarkan dakwah Islam. Media yang digunakan adalah Risale-i Nur yang merupakan karya monumental Said Nursi. Risale-i Nur telah memberikan sumbangsih positif bagi dunia Islam dalam membangun nilai-nilai akhlak.
  2. Pendidikan akhlak Said Nursi didasari atas pemahamannya terhadap al-Qur’an dan ilham dari Allah Swt. Tugas pokok dari pendidikan akhlak adalah memperkokoh prinsip-prinsip yang dimiliki oleh manusia untuk mencapai tingkatan manusia seperti Nabi yang harmonis dan seimbang secara positif yang melahirkan sikap hidup mulia dengan akhlak karimah. Hal yang paling prinsip dalam memperkuat pemahamannya adalah interpretasinya tentang manusia, alam semesta dan Allah.
  3. Untuk mencapai manusia seperti Nabi yang seimbang atau harmonis Said Nursi dengan interpretasi terhadap manusia, alam semesta dan Allah melahirkan prinsip-prinsip dalam pendidikan akhlak menurut pandangan Said Nursi yaitu menguatkan keimanan, berpegang teguh pada al-Qur’an, pentingnya memahami hakekat penciptaan manusia, pentingnya memahami alam semesta, pentingnya memahami asma’ al-Husna, pentingnya mengetahui tanda-tanda hari kiamat, pentingnya meyakini hari kiamat, meneladani nabi Muhammad Saw, dan  menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah.
  4. Prinsip menguatkan iman sangat relevansi bagi sikap akidah generasi muda. Said Nursi meyakini bahwa iman pokok dalam menjalani kehidupan. Iman yang dimaksud adalah iman yang tercukup dalam rukun iman. Dasar keimanan adalah kalimat kalimat La Ilaha Illah yang merupakan mengakui secara totalitas kekuasaan Allah. Akidah generasi muda cenderung tidak didasari keyakinan yang kokoh, karena itu Said Nursi menekankan agar menguatkan iman.
  5. Prinsip berpegang teguh pada al-Qur’an dan prinsip memahami hakekat penciptaan manusia, terkait dengan generasi muda cenderung senang pada gagasan-gagasan segar yang memainkan akal. Padangan berdasarkan akal inilah yang lebih diminati, sehigga melahirkan pandangan sekulerisme, materialisme, komunisme dan ateisme yang merusak pemikiran generasi muda. Said Nursi meyakinkan generasi muda agar sepegang teguh pada al-Qur’an dan memahami hakekat penciptaan manusia sebagai pedoman sekaligus pandangan hidup.
  6. Mengenai tujuan hidup generasi muda pada masa mudah cenderung hedonis dan duniawi, suatu tujuan hidup terombang-ambing tidak jelas arahnya. Untuk itu, mencapai tujuan hidup Said Nursi agar generasi muda berprinsip menguatkan iman, berpegang teguh pada al-Qur’an, memahami penciptaan manusia, memahami alam semesta, memahami asma’ al-husnah, mengetahui tanda-tanda hari kiamat dan meyakini hari kiamat. Prinsip-prinsip ini sangat menopong terbentuknya manusia yang bertujuan hidup yang jelas.
  7. Prinsip meneladani Nabi Muhammad dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah sangat relevan dengan ibadah generasi muda. Said Nursi menekankan ikhlas karena keikhlasan akan membimbing manusia menjadi suci dan mulia, dengan ketakwaan menjadi manusia yang berakal dan tenang, sedangkan dengan sedekah menjadi manusia yang dermawan dan berjiwa sosial. Generasi muda harus senantiasa meneladani dan menanamkan nilai-nilai ikhlas, takwa dan sedekah secara integratif.
  8. Dalam konteks situasi kejiwaan generasi muda diharapkan selalu mampu melakukan perubahan jiwa dengan prinsip keimanan dan keyakinan terhadap hari kiamat dengan keyakinan dan pengamalan hidup yang mendalam.
  9. Dalam tahapan perkembangan dan lingkungan yang di dalamnya terdapat generasi muda, maka generasi muda berprinsip menguatkan keimanan, teguh pada al-Qur’an, memahami hakekat penciptaan manusia, pentingnya memahami alam semesta, pentingnya memahami asma’ al-Husna, pentingnya mengetahui tanda-tanda hari kiamat, pentingnya meyakini hari kiamat, meneladani nabi Muhammad Saw, dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah. Said Nursi sangat yakin melalui tahapan pembentukan akhlak yang akrab dengan lingkungan, maka kehidupan generasi muda akan menjadi lebih baik lagi.
  10. Selanjutnya dapat ditegaskan disini bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi sangat bermanfaat sekali bagi generasi muda yang didasarkan kepada apa yang diajarkan oleh Nabi Muhamamd Saw, baik secara teoritis berdasarkan al-Qur’an maupun secara praktis melalui perilaku kehidupannya sehari-hari.

 

Saran-saran

Perlu diketahui bahwa sekarang di Indonesia nama Bediuzzaman Said Nursi sudah mulai populer menyemarakkan sederetan tokoh pemikir Islam kontemporer lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa bagi kaum akademisi sudah tentu menjadi sebuah khazanah keislaman yang perlu direspons secara positif melalui kegiatan-kegiatan ilmiah, salah satunya yakni meneliti aspek-aspek ulama besar Turki ini, berikut pula karya tafsir Risale-i Nur. Untuk itu, ada beberapa hal dari hasil penelitian ini yang patut untuk dijadikan saran-saran sebagai berikut :

Pertama, penyajian bahasa dalam Risale-i Nur yang banyak mengandung analogi yang kadangkala sulit untuk diakses langsung oleh masyarakat awam. Karenanya, perlu disederhanakan melalui dua cara, yaitu ringkasan-ringkasan tematik (bentuk tulisan) dalam bahasa yang lugas dan singkat serta suguhan contoh yang rill sesuai dengan kodisi masyarakat dan metode diskusi (seperti pola dershane), namun hendaknya menyentuh kebutuhan masyarakat kelas bawah – seperti di desa-desa – bukan hanya kelas menengah ke atas saja (melalui kajian-kajian atau majelis ta’lim). Melihat kajian-kajian Risale-i Nur selama ini berkutat seputar penguatan akidah (bukan fiqh dan khilafiyah), maka perbaikan cara mensosialisasikannya sangat relevan, mencerdaskan dan menambah wawasan masyarakat.

Kedua, mengadakan kegiatan-kegiatan ilmiah di kampus, perguruan tinggi, dan di sekolah-sekolah, serta di lembaga. pendidikan Islam informal lainnya agar dapat memperoleh pemahaman utuh dari Risale-i Nur tersebut melalui kajian-kajian rutin.

Ketiga, mengembangkan pola pendidikan dershane bagi peserta didik dan masyarakat umum secara terpadu, sehingga terwujud suatu kondisi di mana tradisi “pengajaran” dan “pendidikan” yang integral bisa diterapkan secara nyata.

 

Implikasi Penelitian

Pada taraf yang lebih operasional, kesimpulan di atas membawa beberapa implikasi ke luar dari pokok pembahasan penelitian. Dari pembahasan tentang prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi di atas penulis menemukan beberapa implikasi positif dan implikasi negatif terutama untuk menjawab relevensi dengan kebutuhan bagi generasi muda.

  1. Pendidikan akhlak yang berfungsi untuk memperkokoh daya-daya positif yang natural di dalam diri manusia mengharuskan ada sistem pendidikan akhlak yang didasarkan pada perkembangan jiwa manusia secara integral.
  2. Secara implisit diketemukan semangat penanaman prinsip-prinsip pendidikan akhlak yang berkiblat kepada satu arah yakni Risale-i Nur dan al-Qur’an.
  3. Dari aspek pendidikan akhlak Said Nursi menginginkan realisasi prinsip-prinsip pendidikan akhlak secara unversal dalam diri manusia. Semua ini bertujuan berangkat dari pemahaman pandangan dasar hidupnya tentang ketuhanan dengan mengokohkan akidah dan menggairahkan ibadah.
  4. Ternyata usaha mentransformasikan nilai-nilai dan membina kepribadian umat Islam ditinjau dari sudut pendidikan walaupun relatif sukses, namun memerlukan tindak lanjut atau kontribusi dari berbagai kalangan, khususnya para pencinta ilmu. Oleh karena itu, karya yang Said Nursi wariskan ini hendaknya dikembangkan dalam bentuk riset lanjutan dengan membahas tema-tema lain yang banyak dikandung dalam Risale-i Nur.
  5. Secara rasional mempelajari Risale-i Nur juga berarti mempersiapkan generasi muda untuk menangkal dalil-dalil yang bertentangan dengan ajaran Islam. Namun dalam hal modernisasi menghadapi perkembangan dan kemajuan teknologi hanyalah sebatas penjelasan-penjelasan dan argumentatif, namun tiada tawaran secara kongkrit dan solusi yang jelas dan tepat dalam menghadapi dan menangkal tantangan peradaban Barat yang menurut beliau sudah sesat karena menuruti hanya hawa nafsu belaka dan menurut beliau peradaban Islam yang ditegakkan atas ajaran al-Qur’an dan al-Hadits lebih baik dari peradaban Barat.
  6. Dalam proses pengajaran Said Nursi dengan menggunakan metode dershane atau semacam halaqah dengan mempelajari ilmu-ilmu agama ataupun ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pengetahuan umum, disini kita dapat melihat kekurangan dari metode pengajaran Said Nursi yang mana tidak adanya adanya kejelasan dari disiplin ilmu yang diajarkan sesuai dengan disiplin keilmuwan yang secara khusus diajarkan tersendiri dan tidak tersusunnya materi pelajaran yang diajarkan kepada siswanya.
  7. Dalam proses pembelajaran aspek yang dikedepankan adalah bagaimana audiensnya dapat lebih menambah wawasan dan pemahaman terhadap ajaran agama Islam dan menambah ketaatan beragama dengan tidak mengabaikan disiplin ilmu lain, seperti ilmu pengetahuan umum, namun disini terjadi suatu ketidakjelasan arah pendidikan yang ditawarkan oleh Sadi Nursi siswanya akan diarahkan kemana ?. Kemudian, proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh Said Nursi kalau kita cermati lebih mengutamakan untuk perbaikan diri dan hubungannya dengan iman dan kesalehan diri, namun tidak melupakan modernisasi walaupun itu hanya sebatas pengetahuan yang tidak mendalam.

Sehubungan dengan implikasi di atas, dapat dikatakan bahwa implikasi dari prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi tidak hanya memberikan kemungkinan kepada para ilmuwan, guru, pendidik untuk dapat menguasai materi belaka, tetapi memiliki kemampuan “meneladankan” nilai-nilai positif kepada peserta didik. Disamping itu, baik ilmuwan, guru atau pendidik memiliki rasa tanggung jawab yang besar dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmu untuk tujuan yang benar dan dengan jalan yang benar pula.

 

Rekomendasi

Beberapa implikasi sebagaimana di atas mengisyaratkan adanya upaya upaya penelitian lebih lanjut. Adapun berdasarkan persoalan akhlak yang penulis kemukakan, masalah­-masalah secara spesifik yang selanjutnya perlu kiranya untuk dikaji lebih lanjut antara lain :

  1. Konsep metafisika Said Nursi sebagai landasan mencapai tujuan hakiki dan proses pendidikan dan kehidupan.
  2. Prinsip-prinsip filosofis dalam pendidikan Islam dan Akhlak dalam kandungan Risale-i Nur .
  3. Konsep pendidikan dershane Said Nursi dalam meningkatkan akhlak.
  4. Strategi pengembangan jiwa, ruh dan emosi menuju akhlak mulia dalam pandangan Said Nursi.
  5. Peranan para orang tua, murid, dan masyarakat dalam interaksi paedagogis Said Nursi dalam proses pembentukan akhlak mulia
  6. Analisis politik kebijakan pendidikan pemerintah Turki terhadap gagasan Risale-i Nur dalam upaya pembentukan masyarakat madani.
  7. Rancangan kurikulum pendidikan Islam dalam proposal Medreset at-Zehra.
  8. Dasar-dasar epistemologi penerapan akhlak menurut Said Nursi.
  9. Etika belajar-mengajar dalam proses pendidikan Islam dalam pandangan Said Nursi.
  10. Guru yang profesional dalam pandangan Said Nursi.
  11. Kriteria murid yang ideal dalam pandangan Said Nursi.

 

 

 

REFERENSI

Abdurrahmansyah 2002. Sintesis Kreatif (Pembahanian Kurikulum Pendidikan Islam Ismail Raji’ al Faruqi). Global Pustaka, Yogyakarta.

Abu-Rabi, Ibrahim M (Ed) 2003. Islam at the Crossroads On the Life and Thought of Bediuzzaman Said Nursi, Sunny Press, USA

A]-Attas, Syed Muhammad Naquib 1995. Islam dan Filsafat Sains (diterjemahkan oleh Saiful Muzani, Mizan, Bandung.

Al-hamid, Muhsin 1999. “Bediuzzaman Said Nursi : The Kalam Scholar of the Modem Age”, dalam Third International Symposium on Bediuzzaman Said Nursi 24-28 th September 1995, Istanbul. Sozler Publication, Turki.

Al-Balali, Abdul Hamid 2003. Madrasah Pendidikan Jiwa. Penerjemah : Atik Fikri Ilyas, Gema Insani, Jakarta.

Al-Brayary 1988. Pengenalan Sejaruh AI-Our’an. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Al-Ghazali, Abu Hamid 2003. Tahfut al-Falasifah (diterjemahkan oleh Ahmad Maimun). Islamika, Yogyakarta.

Ali, Urkhan Muhammad 1995. Said Nursi al qadr .fi hayat ummah, Sharikat al-Nast li al­ Tiba’ah,Istanbul Turki.

_______ 1995. Said al-Nursi Raj ‘al al-qadr fi hayat ummah. Sharikat al-Nast li al-Tiba’ah, Istanbul Turki.

Al-Khathib, Ibn (Ed) 1398 H. Tahzib al-Akhlak wa Thahhir al-Araq. Ibn Miskawaih (Penulis), Dar Maktabat al-Hayat, Beirut.

Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Thourny 1979. Falsafah Pendidikan Islam. Bulan Bintang, Jakarta.

Aly, Siti Taurat, Sundari, Risminawati 1990. Pengatar Etika Islam. Ramadhani, Solo.

Aly, Hery Noer 1999. Ilmu Pendidikan Islam. Logos Wacana I1mu, Jakarta.

 

Amin, Khalil Ibn Ibrahim 2005. Keajaiban Penciptaan Makhluk Sebuah Telaah Ibnul Qayyim. Qisthi Press, Jakarta.

Amir, Dja’far 1980, Ilmu Mantiq, Ramadhani, Solo.

Arifin, Muzayin 1991. Kapita Selekta Pendidikan Islam (Islam dan Umum). Bumi Aksara, Jakarta.

________, 2000. Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner), Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.

___________, 1996. 1lmu Pendidikan Islam. Bumi Aksara, Jakarta.

Azra, Azyumardi 2000. Pendidikan Islam (Tradisi dan Modernisasi Menuju Milinium Baru). Logos, Jakarta.

Aziz, Muhammad bin Abdul 2001. Sabar (diterjemahkan oleh Aman Abdurrahman). Al Khudhairi, Jakarta.

Bahreisj, Hussein 1980. Himpunan Pengetahuan Islam (450 Masalah Agama Islam), Al Ikhlas, Surabaya.

Bakhtiar, Laleh 2001. Perjalanan Menuju Tuhan dari Maqam-maqam Hingga Karya Besar Dania Sufi. Nuansa, Bandung.

Balitbang Depdiknas 2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Bahan Sosialisasi). Depdiknas, Jakarta.

Daradjat, Zakiah 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Bumi Aksara, Jakarta.

________1996. Metodologi Pengqjaran Agama Islam. Bumi Aksara, Jakarta.

Daud, Wan Mohd Wan 1999. Filsafah dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Atlas. Mizan, Bandung.

Departemen Agama RI dan Mesir 1997. AI-Quran dan Tejemahnya. Mushraf Asyarifah, Madinah Al Munawwarah.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesi. Balai Pustaka, Jakarta.

Djajadisastra, Jusuf, dkk. 1986. Psikologi Perkembangan dan Psikologi Pendidikan.  Proyek Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis, Bandung.

Djamarah, Syalful Bahri dan Zain, Aswan 1996. Stategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta, Jakarta

 

Fromm, Erich 1995. Physco-analysis and Religion. Yale University Press, New Haven.

Ertugrul, Halit 1994. kgilimade Bednizz-aman Alfodeli. Yeni Asya Yayinlari, Istanbul.

 

Gozutok, Sakir 2002. The Risale-i Nur In The Context of. Educational Principles and Methods (The Paper Presented in The Fifth International Symposium On Badiuzzatnan SaidNursi). Sozler Publication, Istanbul.

 

Ghulsyani, Mahdi 2001. Sains Menurut Al-Quran (diterjemahkan oleh Agus Efendi), Mizan, Jakarta.

Gulen, M. Fethullah 2002. Memadukan Akal dan Kalbu dalam Beriman. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Gymnasitiar, Abdullah 2000. Ma’rifatullah (Ilmu Mengenal Allah). Evy Saifullah (Ed). MQS Press, Bandung.

Hadi, P. Hardono 1994. Epistemologi Filsafat Pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta.

Hasan, M. Ali 2000. Studi Islam: Al-Qur’an dan As-Sunnah. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Hitty, Philip K. 1974. History of the Arabs, The Macmillan Press, London.

Jundi, Anwar 1992. Islam Setelah Komunis (diterjemahkan oleh Ibnu Muhammad dan Fakhruddin Nursyam), Gema Insam Press, Jakarta.

Jamaludin, Amin Muhammad 2003. Huru-hara Akhir Zaman : Penjelasan Terakhir Untuk Umat Islam (diterjemahkan oleh Abu Adam Aqwam). Kartasura, Solo.

Langgulung, Hasan 1992. Asas-Asas Pendidikan Islam. Pustaka Al-Husna, Jakarta.

_______ , ”Pendidikan Islam dalam Masyarakat Demokrasi”. Conciencia (Jurnal Pendidikan Islam),” Nomor 1 volume III, Juni 2003.

Maarif, Ahmad Syafi’i 2000. Krisis dalam Pendidikan Islam, Al-Mawardi Prima, Jakarta.

Mardin, Serif, 1989. Religion and Social Change in Modern Turkey : The Case of Bedfuzzanian Said Nursi, Albany, USA.

Margono 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta.

Marimba, Ahmad D 1976. Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta.

Markban, Ian dan Ibrahim Ozdemir 2005. Globalization Ethics and Islam (The Case od Bediuzzaman Said Nursi). Ashgate Publishing Company, Burlington USA.

Mastuhu 1999. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta.

_________2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (The New Mind Set of National Education in the 21 Century), MSI UII dan Safiria Press, Yogyakarta.

 

Maududi, Abu A’la, Anwar Jundi, 1989. Menembus Cakrawala Islam. (diterjemahkan oleh Su’du Su’ud, Ramadhani, Solo.

Miskawaih, Ibn 1398. Tahzib al-Akhlaq. Hasan Tamirn (Ed), Bairut, Mansyurat Dar Maktabat al-Hayat.

Murodi dkk. 1995. Sejarah Kebudayaan Islam. CV Toha Putra, Semarang

Muchtar, Aflatun dkk. 2001. Wawasan Al-Quran tentang Keseimbangan dan Pelestarian Alam) dalam Islam Humanis, M. Tuwah dkk (Ed), Moyo Segoro Agung, Jakarta.

Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi : Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, PT Remaja Rosda Karya, Jakarta.

Myers, Eugene A. 2003. Zaman Keemasan Islam (Para Imuwan Muslim Pengaruhnya terhadap Dunia Barat). Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta.

Nashori, Fuad (Ed) 1996. Membangun Paradigma Psikologi Islami. SIPRESS, Yogyakarta.

Nasution, S 1983. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Bina Aksara, Jakarta.

Nasution, Harun, 1990. Pembaharuan dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Bulan Bintang, Jakarta.

__________ 2002. Teologi Islam : Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Universitas
Indonesia Press, Jakarta.

________ 1983. Akal dan Wah.vu dalam Islam. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Nata, Abuddin 1997. Filsalat Pendidikan Islam I. Logos Wacana Ilmu, Ciputat, Jakarta.

________ 2001. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Nursi, Bediuzzaman Said, 1998. Sirah Zatiyyah (diterjemahkan oleh Ihsan Kasim Salih). Matba’at Suzlar, Istanbul, Turki.

________ 1999a. Isyarat al-Ijaz, (diterjemahkan oleh Ihsan Kasim Salih), Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

________ 1999b. Matsnawi al-Arabi an-Nuriy, (diterjemahkan oleh Ihsan Kasim Salih). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

            _________ 1999c. Shiqak al-Islam, (diterjemahkan oleh Ihsan Kasim Salih). Sozler Nesriyat A.S,

Istanbul.

________ 1999c. Pembahasan ‘Ana’ (Aku) dan Zarah, (diterjemahkan oleh Anwar Fakhri Omar, Kuala Terengganu, Percetakan Yavasan Islam Trengganu Sdn Bhd, Malaysia

________ 1999d. Bediuzzaman Said Nursi (Tarihce-i Hayat). Sozler Yayinevi, Istanbul.

________ 2000a. The Words (On The Nature and Purpose of Man Life, and All Things) (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

________ 2000b. The Letters 1928-1932 (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A. S, Istanbul.

_________ 2000c. The Flashes Collection, (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

_________ 2000d. The Rays Collection. (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

             2000e. Bediuzzaman Said Nursi, Penerjemah : Sukran Vahide, Sozler Nesriyat
A.S, Istanbul.

________ 2000f. Thirty-Three Windows; Making Known The Creator. (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Publication, Istanbul.

________ 2000g. Persoalan Tauhid dan Tasbih (diterjemahkan oleh Maheram binti Ahmad). Sozler Publication, Istanbul.

________ 2002a. Man and Universe, (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

________ 2002b. The Shore Hlordv, (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

_________ 2003a. Risalah An-Nur : Said Nursi: Pemikir dan Sufi Besar Abad 20
(Menikmati Takdir Langit : Lama’ar). Murai Kencana, Jakarta.

_________ 2003b. Risalah An-Nur; Said Nursi: Pemikir dan Sufi Besar Abad 20
(Menjawab yang Tak Terjawab, Menjelaskan yang Tak Terjelaskan. Murai Kencana, Jakarta

___________ , 2003c. Risalah An-Nur; Said Nursi: Pemikir dan Sufi Besar Abad 20 (Sinar
yang Mengungkap Sang Cahaya; Epitomes Of Light). Murai Kencana, Jakarta.

­­­­­­­­­­­­­_____________, 2003d. Alegori Kebenaran Ilahi, (diterjemahkan oleh  Sugeng Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

___________  , 2003d. Dimensi Abadi kehidupan (diterjemahkan oleh  Sugeng Hariyanto). PrenadaMedia, Jakarta.

_________ , 2003e Dari Balik Lembaran Suci (diterjemahkan oleh  Sugeng Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

_________ , 2003g. Episode Metafisis Kehidupan Rasulullah (diterjemahkan oleh  Sugeng Hariyanto). Prenada Media, Jakarta.

2003h. Dari Cermin Kekuasaan Allah (diterjemahkan oleh Sugeng Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

             2003i. Al-Ahad Menikmati Ekstase Spiritual Cinta Ilahi (diterjemahkan oleh Sugeng Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

            , 2003j. Mi’raj Menembus Konstelasi Langit, (diterjemahkan oleh Sugeng Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

            2003k. Makna Hidup Sesudah Mati: Kebangkilan dan Penghisaban
(diterjemahkan oleh
Sugeng Hariyanto dan Fathor Rasyid), Murai Kencana, Jakarta

I 2004a. Mengokohkan Akidah Menggairahkan Ibadah, (diterjemahkan oleh Muhammad Misbah). Robbani Press, Jakarta.

            2004b. Iman Kunci Kesempurnaan (diterjemahkan oleh Muhammad Misbah). Robbani Press, Jakarta,

Ottal, William R. 1978. the Psychobiclo~U of Mind. New Jersey, Lawrence Erlbaum Associates.

Rahman, Taha ‘Abdel 2003, The Separation of Human Philosophy .from the Wisdom of the Qura’an in Said Nursi Work’s dalam buku Islam at the Crossroad on the Life and thought of Bediuzzaman Said Nursi (Ibrahim Abu Rabi’, Editor), Penerbit Suny Press, Amerika Serikat.

Ramadhan, Syamsuddin 2003. Islam Musuh Bagi Sosialisme dan Kapitalisme, Wahyu Press, Jakarta.

Rahman, Fazlur 1984. Islam. Pustaka, Bandung.

_________1985. Islam dan Modernitas: Tentang Trancfbrmasi Intelektual. Pustaka,

Bandung.

Salih, Ihsan Kasim 2003. Said Nursi Pemikir dan Sufi Besar Abad 20 (Membebaskan Agama dari Dogmatisme dan Sekularisme. Murai Kencana, Jakarta.

_________1999.Badi’al-zaman Said Nursi nazrah ‘animah an hayatihi wa atharihi, Matba’at Al Najah al Jadidah, Al Magrib.

 

Syafiie, Inu Kencana, 1998. Logika, Elika, dan Estetika Islam. Pertja, Jakarta.

 

Sahrasad, Herdi, 2000. Islam Sosialisme dan Kapitalisme. Madani Press, Jakarta.

 

Sandra 2005. Metode dan Pendekatan Pendidikan Islam dalam Perspektif Bediuzzaman Said Nursi, Tesis pada Pps IAIN Raden Fatah Palembang.

Sarwat, Saulat, 1980. Said Nursi, Internasional Islamic Publisher, Pakistan.

Suseno, Franz Magnis, 1991. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Kanitsus, Jakarta

Sukanto MM, 1996. Ketimpangan-ketimpangan Psikologi dalam Membangun Paradigms Psikologi Islami (Fuad Nashori, Editor), Penerbit SIPRESS, Yogyakarta.

Surahmad, Winarno 1990, Pengantar Interaksi Mengajar (Belajar Dasar dan Teknik Melodologi Mengqjar), Tarsito, Bandung.

Suryabrata, Sumadi 1997. Metodologi Penelitian, Rajawali Pers, Jakarta.

Suwito 1995. “Konsep Pendidikan Akhlak Menurut Ibn Miskawaih”. Disertasi Doktor pada Program Pascasarjana (Pps) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Saulat, Sarwat, 1980. Said Nursi, Internasional Islamic Publisher, Pakistan.

Sunanto, Musyrifah, 2004. Sejarah Islam Klasik (Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam), Penerbit Prenada Media, Jakarta.

  1. Sunardi, 1999. Nietzsche, LkiS, Yogyakarta.

Tafsir, Ahmad 2003. Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­_______Tafsir, Ahmad et.al 1995. Epistemologi Ilmu Pendidikan Islam. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Thalib, M. 1996. Metode Pendidikan Islam. Gema Insani Pers, Jakarta.

Tasmara, Toto 1999. Dajal dan Simbol Setan. Gema Insani, Jakarta.

 

Tatli, Adem 1992. Badiuzzaman Education Methot (The Paper Presented in The Second International Symposium on Bediuzzaman Said Nursi: The Reconstuction of Islamic Thought In The 7Wentieth Century and Bediuzzaman Said Nursi, 27-29 September 2000), Istanbul: Sozler Publication

Tibawi, AL 1979. Islamic Education: Its Traditions and Modernization into the Arab National Systems, London: WCIB 3PE, Luzac and Company LTD. 45, Great Russell Street

 

Ulwan, Abdullah Nasih, 1995. Pendidikan Anak dalam Islam I dan 2. (diterjemahkan oleh Jamaluddin Miri), Pusataka Imam, Jakarta.

Vahide, Sukran 1992. Bediuzzaman Said Nursi. Sozler Publication, Istanbul.

__________  1998. A Comfeniporary Approach to Understanding The Qur’an: The Example of The Resale-i Nur, International Symposium Bediuzzaman Said Nursi, Sozler Publication, Istanbul:

Waspodo 2002. “Kurikulum Sebagai Sarana Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, dalam Makalah yang disajikan dalam Diskusi Panel Kependidikan tanggal 21 Mei 2002 di Palembang.

Yatim, Badri 1995. Sejarah Peradaban Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Yavuz, M. Hakan. 2003. Islamic Political Identity in Turkey. Oxford University Press, USA.

Yildiz Ilhan 2002. The Search in The Traditional Period (1924-1950) for a Religious Education Model (The paper presented at the fifth ineniationalsymposium on Bediuzzaman Said Nursi, 24-26 September 2000), Isanbul: Sozler Publication

Yusuf, Ali Anwar, 2005. Afeksi Islam (Menjelajahi Nilai-Rasa Transendental Bersama Al-­Qur’an. Kelompok Tafakur Humaniora, Bandung.

Yunus, Mahmud 1995. Tema-Tema Pokok Isi Al-Quran, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Yusuf, Tayar dan Syaiful Anwar 1995. Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, Raja Grafindo  Persada, Jakarta.

Zaidin, Mohammad 2001. Bediuzzaman Said Nursi: Sejarah Perjuangan dan Pemikiran, Malaysia, Selangor Darul Ehsan: Malita Jaya Publisher

 

Zein, Muhammad 1995. Methodologi Pengajaran qjaran Agama, Yogyakarta: AK

Group dan India Buana.

Zuhairini 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Usaha Nasional, Surabaya.

_________ 1995. Filsqfat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Isim nl/news letter 16/featwes 2001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIODATA PENULIS

 

 

Nama

Tempat Tgl. Lahir Pekerjaan

Alamat

 

HP Kontak

 

Riwayat Pendidikan

AFRIANTONI Palembang, 03 April 1978

Dosen Luar Biasa IAIN Raden Fatah Palembang

An. Sukarela Lrg. Batu Jajar No. 1326 Rt. 21 Rw. 07 KM 7 Kecamatan Sukarami Palembang

0813-73508957

  1. SD Negeri 612 di Sukarami Palembang tamat tahun 1990
  2. SMP Muhammadiyah 4 Palembang tamat tahun 1993
  3. Pondok Pesantren Wali Songo, Ngabar Ponorogo, Jawa Timur tamat tahun 1997
  4. IAIN Raden Fatah Palembang tamat tahun 2002 dengan judul skripsi “Pemikiran Imam Zarkasyi Tentang Metodologi Pengajar Bahasa Arab di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo Jawa Timur”
  5. S2 Program Pascasar ana IAIN Raden Fatah Palembang Jurusan 11mu Pendidikan Islam Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam tahun 2003-sekarang

Pengalaman Prestasi Ilmiah

  1. Dalam Bidang Resensi Buku
  2. Juara 11 Lomba menulis Sinopsi dan Resensi se-Sumatera selatan, tahun 1999
  3. I Lomba Menulis Resensi Buku se-IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000
  4. Juara VI Lomba Menulis Resensi Buku se-Indonesia yang disponsori oleh Yayasan Nidaul Fitrah Surabaya, Jawa Timur, tahun 2002
  5. Juara I Lomba Resensi Buku se-Kota Palembang, tahun 2002
  6. Dalam Bidang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI)
  7. Juara Harapan II LKTI “Refomasi Pendidikan Islam” di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999
  8. Juara If LKTI “Paradigms Pendidikan Islam” di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000
  9. Juara If “Master Plan Kampus Islami” IAIN Raden Fatah Palembang
  10. Finalis 10 besar utusan IAIN Raden Fatah Palembang pads Lomba Karya Tulis Amish tingkat Nasional di Hotel Setia Budi Jakarta, tahun 2002
  11. Juara I LKTI “Pesantren Masa Depan” oleh Forppes Se-sumatera Selatan, tahun 2004
  12. Beasiswa
  13. Beasiwa keda tahun 1999

Beasiswa prestasi dari Departemen Agama tahun 2000

  1. Beasiswa prestasi atas kemenangan meraih juara 11 Lomba menulis Sinopsi dan Resensi se-Sumatera selatan, tahun 1999.
  2. Beasiswa dari .The Istanbul Foundation for Science and Culture selama 1 (sate tahun) di Istanbul, Turk] selama tahun 2005 dalam rangka penelitian tesis.

Pengalaman Organisasi

  1. Ketua Umum Senat Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (SMJ PBA) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999
  2. Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2001
  3. Ketua Umum Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2002
  4. Ketua Forum Studi Filsafat Pendidikan Islam (FSFPI) IAIN Raden Fatah Palembang tahun 2001
  5. Ketua Umum Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang 2004

f Dan lain sebagainya

Karya Tuns Yang Pernah Terbit

  1. Buku (Editor/Penulis) :
  2. Perjuangan Rakyat Banyuasin dalam Pemekaran Daerah (Aspek Geogrqf1s, Sosial-Politik dan 1,konomi), Penerbit Intens, Banyuasin, 2005 (Editor, Afriantoni, S.Pd.I)
  3. Paradigms Islam Dinamis dalam Pendidikan Islam, Penerbit Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 2006 (Salah seorang penulis, Afriantoni)
  4. Dan lain sebagainya
  5. Koran, Tabloid dan Majalah (Opini) :

L Menggugat Ideologi Mahasiswa (Sriwijaya Post, 2002)

  1. Degradwd Kewibawaan Guru (Sriwijaya Post, 2002)
  2. Guru Teladan dan Teladan Guru (Sumatera Ekspres, 2004)
  3. Reformulasi Mekanisme Rekrutmen Guru (Sumatera Ekspres, 2004)
  4. Revolusi Sistematik Pendidikan Rakyat (Reformulasi Paradignia Pendidikan di Desa), (Tabloid Desa, 2004)
  5. Urgensi BBG dan Korelasinya dengan Jasa Transportasi, (Majalah Lumbung Edisi 2, 2006)
  6. Guru Profesional Guru Serlifikat (Majalah Lumbung Edisi 4, 2006)
  7. Urgensi Kongres Desa Sumatera Selatan, (Tabloid Desa, 2007)

Dan lain sebagainya

Jurnal 11miah

  1. Memahanyi Perkenibangan Pendidikan Islam melalui Pendekatan Genealogi­historis (Jumal Conciencia Pascasaijana. IAIN Raden Fatah Palembang, 2004).
  2. Rekayasa Budaya Pendidikan Multikultur (Transformasi Mai Islam di Tengah Fenomena Multikultur), (Jumal Conciencia Paseasarjana JAIN Raden Fatah Palembang, December, 2005)
  3. Revitalisasi Ekonomi Islam Indonesia (Mengungkap Perdebatan dalani Kesepakatan Ekonomi Islam dan Demokrasi Ekonomi), (Jurnal Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah Palembang, Desembar 2005)

Motto :
Jalani Hid-tip Jangan Dipikirkan Saja, Semoga Suk-ses Selalu, Ibda’Bi-nafs1ka

 

 

BIODATA PENULIS

 

 

 

Nama              : AFRIANTONI

Tempat Lahir   : Palembang

Tanggal Lahir   : 03 April 1978

Pekerjaan         : Dosen Luar Biasa IAIN Raden Fatah Palembang

Alamat             : Jalan Sukarela Lrg. Cek Mid atau Lrg.u Jajar (Samping Dinas Kebersihan dan

Keindahan Kota Palembang) No. 1326 Rt. 21 Rw. 07 KM 7 Kecamatan Sukarami   Palembang Sumatera Selatan

HP Kontak       : 0813-73508957 Fleksi : 0711- 7766098

Tlpn. Rumah : 0711-814975

 

 

Riwayat Pendidikan

 

  1. Negeri 612 di Sukarami Palembang tamat tahun 1990
  2. SMP Muhammadiyah 4 Palembang tamat tahun 1993
  3. Pondok Pesantren Wali Songo, Ngabar Ponorogo, Jawa Timur tamat tahun 1997
  4. S1 IAIN Raden Fatah Palembang tamat tahun 2002 dengan judul skripsi “Pemikiran Imam Zarkasyi Tentang Metodologi Pengajar Bahasa Arab di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo Jawa Timur
  5. S2 Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang Jurusan Ilmu Pendidikan Islam Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam tamat tahun 2007 dengan judul tesis “Prinsip-prinsip Pendidikan Akhlak Generasi Muda Menurut Bediuzzaman Said Nursi

 

Riwayat Pekerjaan

 

  1. Guru Mts Walisongo Ngabar Ponorogo, tahun 1996
  2. Guru SD 47 di 35 Ilir Tangga Buntung Palembang, tahun 1998
  3. Asisten Dosen Prgram Khusus Peningkatan Kemampuan Bahasa Arab IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999-2001
  4. Guru PAI SMU Pembina, Lemabang Palembang, tahun 2002
  5. Asisten Dosen Mata Kuliah Bahasa Arab dan Terjamah Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2003
  6. Dosen Luar Biasa Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2004
  7. Guru Privat Bahasa Indonesia Untuk Sebagian Kaum Muda Turki di Turki, tahun 2005
  8. Dosen Luar Biasa Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2005 sampai sekarang
  9. Dosen Luar Biasa Mata Kuliah Filsafat Umum Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2006
  10. Dosen Luar Biasa Akademi Maritim Bina Bahari Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam, Palembang, tahun 2006 sampai sekarang
  11. Dosen Luar Biasa Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Sriwijaya Inderalaya Sumatera Selatan, tahun 2007
  12. Guru SMA plus Militer Taruna Bangsa Palembang, tahun 2007 sampai sekarang

 

 

 

 

Pengalaman Prestasi Ilmiah

 

  1. Dalam Bidang Resensi Buku
  2. Juara II Lomba Menulis Sinopsi dan Resensi se-Sumatera selatan, tahun 1999
  3. Juara I Lomba Menulis Resensi Buku se-IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000
  4. Juara VI Lomba Menulis Resensi Buku se-Indonesia yang disponsori oleh Yayasan Nidaul Fitrah Surabaya, Jawa Timur, tahun 2002
  5. Juara I Lomba Resensi Buku se-Kota Palembang, tahun 2002

 

 

  1. Dalam Bidang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI)
  2. Juara Harapan II LKTI “Refomasi Pendidikan Islam” di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999
  3. Juara II LKTI “Paradigma Pendidikan Islam” di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000
  4. Juara II “Master Plan Kampus Islami” IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2001
  5. Finalis 10 besar utusan IAIN Raden Fatah Palembang pads Lomba Karya Tulis Amish tingkat Nasional di Hotel Setia Budi Jakarta, tahun 2002
  6. Juara I LKTI “Pesantren Masa Depan” oleh Forppes Se-sumatera Selatan, tahun 2004

 

  1. Beasiswa
  2. Beasiwa kerja tahun 1999
  3. Beasiswa prestasi dari Departemen Agama tahun 2000
  4. Beasiswa prestasi atas kemenangan meraih juara II Lomba menulis Sinopsi dan Resensi se-Sumatera selatan, tahun 1999.
  5. Beasiswa dari The Istanbul Foundation for Science and Culture selama 1 (sate tahun) di Istanbul, Turki selama tahun 2005 dalam rangka penelitian tesis.

 

Pengalaman Organisasi

 

  1. Ketua Umum Senat Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (SMJ PBA) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999
  2. Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2001
  3. Ketua Umum Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2002
  4. Ketua Forum Studi Filsafat Pendidikan Islam (FSFPI) IAIN Raden Fatah Palembang tahun 2001
  5. Penggagas Center for Strategic and Language Motivation (CSLM) IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2001
  6. Bendahara Yayasan Pendidikan Daerah (Yapenda) Sumatera Selatan, tahun 2001
  7. Sekretaris Eksekutif Institute for Strategic and Information Studies (Intens) Sumatera Selatan, tahun 2002-2005.
  8. Ketua Umum Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang 2004
  9. Staf Bidang Pendidikan KAHMI Pengurus Wilayah Sumatera Selatan periode 2006-2010
  10. Sekretaris Majelis Sinergi Kalam (MASIKA) ICMI Orwil Sumatera Selatan periode 2007-2010
  11. Dan lain sebagainya

 

 

 

Pelatihan Yang Pernah Diikuti

 

  1. Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (Pejurdas) LPM Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, 6, 7, 14, 21 Maret dan 4, 10 April tahun 1999
  2. Pelatihan Jurnalistik Tingkat Nasional Universitas Pasudan (Unpas) di Lembang, Bandung, tahun 2000
  3. Pelatihan Jurnalistik Islam Nasional (Panjinas) Universitas Indonesia (UI) di Pusat Studi Jepang, Jakarta, tahun 2001.
  4. Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Dasar (PKMTD) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1998.
  5. Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Menengah (PKMTM) IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999
  6. Pelatihan Training For Trainer Internet Jurnalistik se-kota Palembang, tahun 2000.
  7. Pelatihan Penelitian Ilmiah (PPI) UKM Studi Ilmiah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000
  8. Pelatihan Kader Penyuluhan Narkoba oleh Dewan Pemuda Sriwijaya (Demusi) bekerjasama dengan PT. Tambang Batubara Bukit Asam, pada tanggal 18 Januari 2003
  9. Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah Bagi Mahasiswa diselenggarakan oleh Balai Bahasa Palembang Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional di IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 17-18 Maret 2004
  10. Pelatihan Penulisan Fiksi Populer diselenggarakan oleh Pusat Bahasa Depertemen Pendidikan Nasional di Palembang pada tanggal 26-31 Juli 2004
  11. Dan Lain Sebagainya

 

Pengalaman Menjadi Pembicara

 

Tingkat Nasional

 

  1. Persentasi Karya Tulis Ilmiah “Kampus Islami (Fungsionalisasi Masjid Sebagai Pusat Kegiatan Sivitas Akademika), Fasilitator Depertemen Agama RI di Hotel Setia Budi Jakarta, tahun 2001
  2. Persentasi Makalah “Otonomisasi Pendidikan” fasilitator BEM IAIN Imam Bonjol dan STAIN Bukit Tinggi Padang dalam Rangka Studi Komperatif BEM IAIN Raden Fatah Palembang di Padang dan Bukit Tinggi, tahun 2001
  3. Presentasi Makalah “Konsep Jihad Dalam Persefektif Bediuzzaman Said Nursi” fasilitator STAIN Kerinci, Jambi pada acara Seminar Nasional “Jihad dan Perdamaian Menurut Bediuzzaman Said Nursi, tahun 2006
  4. Persentasi Makalah “Kritisisme Nilai Keislaman HMI’ pada acara Latihan Kader II HMI Cabang Palembang, di Universitas PGRI, Palembang, tahun 2007.

 

Tingkal Lokal

 

  1. Pembicara pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar dan Menengah di Lingkungan IAIN Raden Fatah Palembang, dari tahun 2000 sekarang
  2. Pembicara pelatihan Kepemimpinan Tingkat Dasar dan Menengah di Lingkungan IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000-2002
  3. Pembicara rutin pada Forum Studi Filsafat Pendidikan Islam (FSFPI) IAIN Raden Fatah Palembang, 2000-2003
  4. Pembicara rutin pada Kelompok Studi Komunitas Lima (KSKL) IAIN Raden Fatah Palembang, 2000-2003
  5. Pembicara pada Lingkar Studi Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, 2000-2003
  6. Instruktur dalam Kegiatan Pelatihan Metodologi Dakwah Mahasiswa IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 22-27 Oktober 2001
  7. Instruktur pada Kegiatan Pelatihan Teknik Penulisan Karya Ilmiah (Makalah dan Skripsi) fakultas Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 13-14 September 2002
  8. Team Instruktur pada Workshop Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) oleh Badan Penelitian, Pengembangan Pendidikan Islam (BP3I) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang dengan tema : Terbinanya Guru Profesional Sebagai Pelaksana KBK : Upaya Menjadikan Pendidikan yang Mampu Menjawab Tantangan Global” pada tanggal 22-24 Juli 2004
  9. Dan Lain Sebagainya

 

Kegiatan Ilmiah Yang Pernah diikuti

 

  1. Tingkat Internasional

 

  1. Participant in Seminar “The Evolution Deceit” at Taman Budaya Building, Palembang, October 1 st
  2. Peserta International Conference on Modern Islamic Thought : Exploring the Thought of Bediuzzaman Said Nursi of Turkey and His Counterparts in Indonesia, held on January 11-12, 2002 in Academic Center Palembang Indonesia by Postgraduate Program of The State Institute for Islamic Studies (IAIN) Raden Fatah in cooperation with Nesil Foundation, Turkey.
  3. Peserta International Symposium Religion, Peace and Globalization : Some Inspiration from Risale-i Nur, held on July, 2004 in BNI 46 Palembang Indonesia by Postgraduate Program of The State Institute for Islamic Studies (IAIN) Raden Fatah in cooperation with Istanbul Foundation for Science and Culrture, Turkey.
  4. Participant in Seminar on Islam and Global Challenges : Radicalism, Democracy and Human Right, held on August 23rd, 2004 in Palembang Indonesia by Adab Faculty of the State Institute for Islamic Studies (IAIN) Raden Fatah Palembang in cooperation International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Jakarta.
  5. Peserta International Nurculuk Community Focus Disscusion in Ankara Turkey, tahun 2005
  6. Peserta International Conference on Social on Social Development : Said Nursi’s View on Revitalizing Ummah a joint cooperation between The Istanbul Foundation for Science and Culture, Istanbul Turkey and Postgraduate Program of IAIN Raden Intan Bandar Lampung, Balai Keratun, Bandar Lampung, July, 22, 2006
  7. Peserta the international Conference and Academic Forum On Sociaety Development on Topic “Bediuzzaman Said Nursi’s View on Modernity” by organizer Institute foe Southeast Asian Islamic Studies (ISAIS) of UIN Suska Riau and Istanbul Foundation for Science and Culture Turkey, July 24, 2006 Arya Duta Hotel Pekan Baru – Indonesia
  8. Peserta dan Panitia International Seminar tentang “Arah Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam dalam Merespon Peluang dan Tantangan Global” di Academic Center IAIN Raden Fatah Palembang, tanggal 10-11 Septermber 2007

 

  1. Tingkat Nasional

 

  1. Seminar Nasional Sehari dengan tema “Potret Demokrasi dan Pemilu di Indonesia Ditinjau dari Berbagai Persepektif” yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAI Riyadlotul Mujahiddin Ngabar Ponorogo Jawa Timur pada 24 September 1996
  2. Seminar Nasional dan Temu Alumni Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo Se-Indonesia oleh Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Walisongo Yogyakarta (IKAWY) di Yogyakarta pada tanggal 21-23 Januari 1995
  3. Seminar Nasional tentang “Tinjauan Terhadap Sistem Peraturan Perundang-undangan di Indonesia” kerjasama Sekretariat Jenderal dan Kepeniteraan Mahkamah Konstitusi RI dengan Program Studi Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya Palembang, 9 September 2006
  4. Seminar Nasional “Akselerasi Strategis Daerah Membangun Pada Era Otonomi Dearah Mneuju Masyarakat Madani” oleh Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Palembang-Sumatera Selatan, di Ball Room Hotel Swarnadwipa Palembang, 4 September 2006.
  5. Seminar Nasional dengan tema “Evaluasi dan Strategi Pelaksanaan Manajemen Otonomi Daerah di Sumatera Selatan” diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Magester Manajemen Universitas Tridinanti Palembang pada tanggal 22 Februari 2003
  6. Peserta Seminar Nasional “Universal Jurisdiction dan Perenapannya di Indonesia” oleh Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya bekerjasama dengan Pusat Kajian HAM dan Terorisme Fakultas Hukum Unsri dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Jakarta pada hari Senin, 21 Juni 2004
  7. Peserta Seminar Nasional Memperingati Hari Pers Reformasi Nasional dengan tema : ”Partisipasi Publik dengan Pengembangan Media Watch dan Peran dan Fungsi Dewan Pers Mendukung Program Kerja Gubernur Sumsel dalam Lumbung Pangan dan Lumbung Energi Nasional, Pembangunan Rel Kereta dari Inderalaya ke Pelabuhan Tanjung Siapi-Api, Jembatan Musi III, Islamic Center, Pengembangan Tambang Batubara (energi Bahan Bakar masal\k pengganti BBM) yang diselenggarakan DPW Solidaritas Masyarakat Pers, Reformasi Indonesia (SOMPRI) dan Jaringan Rawan Informasi, Lembaga Pengawas Pers, Indonesia “Media Watch” bekerjasama dengan DPW YPBNI Provinsi Sumatera Selatan, pada tanggal 27 Mei 2006 di Hotel Selatan Indah
  8. Dan Lain Sebagainya

 

  1. Tingkat Lokal

 

  1. Peserta Seminar “Urgensi Kajian Sejarah Hidup Nabi dan Literatur Keislaman Klasik Bagi Pengembangan Studi Keislaman dan Pengembangan Masyarakat”, diselenggarakan oleh IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 26 Agustus 1997
  2. Peserta Temu Ilmiah Arkeologi dan Filologi Bagi Dosen dan Mahasiswa Fakultas Adab IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 7 Agustus 1999
  3. Peserta Talk Show meyikapi RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi” oleh Pusat Studi Wanita (PSW) IAIN Raden Fatah Palembang, Rabu, 2 Agustus 2006 di Palembang
  4. Peserta Seminar Nokia Certified Training Center di SMIK MDP Palembang, 02 Desember 2006.
  5. Peserta Diskusi Panel dengan tema “Sosialisasi Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional”, di Gedung Akademik Center IAIN Raden Fatah Palembang Rabu, 23 Juli 2003.
  6. Peserta Seminar Pendidikan “ Cara Mendidik Anak Menjadi Cerdas dan Kreatif”, dalam Rangka Lustrum II STT Musi Palembang tahun 2002, tema : Berubah Untuk Semakin Berkualitas”, 4 Mei 2002
  7. Peserta Lokakarya Regional “Konversi IAIN Raden Fatah Palembang Menjadi Universitas Islam Negeri (UIN)”, di Ruang Seminar Hotel Paradis Lt. II Palembang, Kamis, 16 September 2004
  8. Peserta Seminar Pendidikan Menjadi Manusia Pembelajar “Belajar dengan Membunuh Sekolah” diselenggarakan oleh STT Musi Palembang bekerjasama dengan Yayasan Xaverius Pusat dan Palembang School of Life dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2002 Sabtu, 11 Mei 2002 di Aula STT Musi Palembang
  9. Peserta Seminar Bahasa dan Sastra dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2004 Balai Bahasa Palembang dengan tema “Peran Keterempilan Berbahasa dalam Dunia Kerja”, pada hari Senin, 11 Oktober 2004 di Hotel Swarnadwipa Palembang
  10. Peserta Seminar Sehari dengan tema “Integritas Penegak Hukum di Indonesia” diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang, pada tanggal 26 Oktober 2002
  11. Diskusi Panel “Reorientasi Pemikiran Pendidikan dan Pengajaran Sebagai Langkah Awal Membangun Sekolah Bermutu” yang diselenggarakan oleh Yayasan Fajar Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 21 Mei 2002 di Hotel Paradis Palembang
  12. Seminar Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup dengan tema :Menyikapi hasil-hasil KTT Pembangunan Berkelanjutan melalui Penguatan Keterpaduan Ekonomi, Sosial dan Pelindungan Lingkungan di Sumatera Selatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya Bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia pada hari Jum’at, 24 Januari 2003 di Hotel Swarna Dwipa Palembang
  13. Dan Lain Sebagainya

 

  1. Kegiatan Bedah Buku

 

  1. Peserta Bedah Buku yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Jalaluddin berjudul “Teologi Pendidikan” oleh Badan Penelitian Pengembangan Pendidikan Islam (BP3I) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang tanggal 21 Mei 2001.
  2. Peserta Bedah Buku yang ditulis oleh Drs. Muhammad Sirozi, MA Ph.D berjudul Agenda Strategis Pendidikan Islam”, oleh MAPENDA Departemen Agama Sumseldan BP3I Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, 9 Agustus 2004
  3. Peserta Bedah Buku yang ditulis oleh Jufri Suyuthi Pulungan dengan tema “Menyingkap Sistem Politik dan Bentuk Pemerintahan Islam” oleh Senat Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 24 Oktober 1998
  4. Peserta Bedah Buku yang ditulis oleh Kms. Muhammad Ari, S.Pd dengan judul buku Masyarakat Tionghoa Palembang (Tinjauan Sejarah Sosial 1823-1945) di gedung Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 25 Novermber 2002
  5. Dan Lain Sebagainya

 

  1. Kegiatan Lokakarya, Workshop dan sejenisnya

 

  1. Peserta Semi Lokakarya Pengembangan Fakultas Baru di Lingkungan IAIN Raden Fatah Palembang tema “Menuju Perguruan Tinggi Islam yang Unggul dan Kompetitif di Era Globalisasi” oleh Unit Peningkatan Mutu Akademik (UPMA) IAIN Raden Fatah Palembang, 27-29 Desember 2005
  2. Peserta Urun Rembuk Pakar “Prospek dan Peluang Pembukaan Program Studi Ilmu Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang”, sebagai pakar pada tanggal 15 September 2006
  3. Peserta Serasehan Forum Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan dengan Tema “Pelestarian Khazanah Budaya untuk Meningkatkan Kesadaran Budaya Daerah” oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang di Hotel Bumi Asih Palembang, 23-24 Agustus 2006
  4. Peserta Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Se-Sumatera Bagian selatan dalam Rangka Dies Natalis IX STT Musi Palembang tahun 2001 dengan tema : Industrialisasi Dalam Era Otonomi Daerah”.
  5. Peserta Program Development Workshop for Other UIN/IAIN/STAIN : Community Development Follow Up Workshop IAIN Raden Fatah Palembang (720.2.3), di Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang, 16-19 Juli 2007
  6. Peserta Nokia Certified Training Center yang diselenggarakan oleh STMIK MDP Palembang bekerjasama dengan Nokia Certified Training Center dan In Touch pada tanggal 2 Desember 2006
  7. Peserta Workshop Perbankan Syariah dalam rangka Milad Forsi ke-4 senin, 17 Juni 2002 di gedung BAAK lantai II.
  8. Workshop Rekonstruksi Sains dan Teknologi Islam, Forum Kajian Strategis (Forkais) Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 24 Maret 2007
  9. Kongres Desa I Sumatera Selatan, Akselerasi Pemberdayaan Masyarakat Desa Menuju Sumsel Sejahtera, sebagai Sekretaris Stering Committee 25 Mei 2007
  10. Dan lain sebagainya

Karya Tulis Yang Pernah Terbit

 

  1. Buku (Editor/Penulis) :
  1. Perjuangan Rakyat Banyuasin dalam Pemekaran Daerah (Aspek Geogrqf1s, Sosial-Politik dan Ekonomi), Penerbit Intens, Banyuasin, 2005 (Editor, Afriantoni, S.Pd.I)
  2. Paradigma Islam Dinamis dalam Pendidikan Islam, Penerbit Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 2006 (Salah seorang penulis, Afriantoni)
  3. Fiqh Antikorupsi, Penerbit Ganeda, 2006 (Salah seorang penulis, Afriantoni)
  4. Dan lain sebagainya

 

  1. Koran, Tabloid dan Majalah (Opini) :
  2. Menggugat Ideologi Mahasiswa (Sriwijaya Post, 2002)
  3. Degradwd Kewibawaan Guru (Sriwijaya Post, 2002)
  4. Guru Teladan dan Teladan Guru (Sumatera Ekspres, 2004)
  5. Reformulasi Mekanisme Rekrutmen Guru (Sumatera Ekspres, 2004)
  6. Revolusi Sistematik Pendidikan Rakyat (Reformulasi Paradignia Pendidikan di Desa), (Tabloid Desa, 2004)
  7. Urgensi BBG dan Korelasinya dengan Jasa Transportasi, (Majalah Lumbung Edisi 2, 2006)
  8. Guru Profesional Guru Sertifikat (Majalah Lumbung Edisi 4, 2006)
  9. Urgensi Kongres Desa Sumatera Selatan, (Tabloid Desa, 2007)
  10. Dan lain sebagainya

 

  1. Jurnal Ilmiah
  2. Memahami Perkembangan Pendidikan Islam melalui Pendekatan Genealogi-­historis (Jumal Conciencia Pascasaijana. IAIN Raden Fatah Palembang, 2004).
  3. Rekayasa Budaya Pendidikan Multikultur (Transformasi Mai Islam di Tengah Fenomena Multikultur), (Jumal Conciencia Paseasarjana JAIN Raden Fatah Palembang, December, 2005)
  4. Revitalisasi Ekonomi Islam Indonesia (Mengungkap Perdebatan dalani Kesepakatan Ekonomi Islam dan Demokrasi Ekonomi), (Jurnal Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah Palembang, Desembar 2005)
  5. Dekonstruksi Penyakit Kronis Pendidikan Islam, Jurnal Mimbar Akademik Pusat Penelitian, 2007.

Subhanaka Laa ilma lana illa  maa alamtana innaka antal alimul hakim

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Motto :

Jalani Hidup Jangan Dipikirkan Saja, Semoga Sukses Selalu, Ibda’ Binafsika

 

Palembang, 17 Apri 2007

Penulis,

 

 

 

AFRIANTONI

 

1 Demi konsistensi dalam penulisan penelitian ini peneliti selanjutnya menggunakan kata “Said Nursi” yang merujuk kepada Bediuzzaman Said Nursi (1887-1960) sepanjang pembahasan penelitian ini, namun untuk tempat khusus dalam judul besar atau pada sub judul maka masih akan digunakan kata tersebut.

2 Sebenarnya kesadaran akan kelemahan dan ketinggalan kaum muslimin dari bangsa-bangsa Eropa dalam berbagai bidang kehidupan ini, telah timbul mulai abad ke 11 H / 17 M dengan kekalahan-kekalahan tersebut mendorong raja-raja dan pemuka-pemuka kerajaan untuk menyelidiki sebab-sebab kekalahan mereka dan rahasia keunggulan lawan.

3 Istilah Nur Jamaah dalam bahasa Turki sering digunakan dalam istilah yang berbeda seperti : “Nur Telebesi” atau Nur Teleba”, Nurculuk atau Thalabun-Nur yang menunjukkan pengikut Said Nursi yang berada di Turki, secara khusus, namun Nur Jamaah ini sudah menyebar hampir ke beberapa negara. Jika istilah di atas diartikan dalam bahasa Indonesianya “Murid Nur”. Penulis menggunakan istilah Nur Jamaah atas pertimbangan bahwa istilah ini mudah dipahami dalam bahasa Indonesia. Sedangkan yang dimaksud dengan istilah dershane atau “The Nurcu Movement”, “Halaqah” dalam bahasa Turki berasal dari kata “ders” yang artinya belajar sedangkan “hane” dalam bahasa Turki menunjukkan “tempat”, maka dershane dapat diartikan “tempat belajar” yang di kenal di Turki.

3 Menurut Ibn Miskawaih akhlak merupakan suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa berpikir atau pertimbangan secara mendalam. Keadaan seperti ini dapat disebut sebagai karakter. Menurutnya keadaan ini ada dua jenis. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak. Kedua, tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Berdasarkan kedua jenis keadaan ini cendikiawan klasik sering berbeda. pendapat. Sebagian berpendapat bahwa karakter dimiliki oleh jiwa yang tidak berpikir (nonrasional). Sementara yang lain berpendapat karakter itu dimiliki oleh jiwa berpikir (rasional).

4 Mantik dikatakan sebagai ilmu adalah ilmu logika yakni rumusan-rumusan atau patokan-patokan agar orang mendapatkan petunjuk di dalam ia berpikir, supaya selamat dari kesalahan-kesalahan dan terhindar pengertiannya dari kekeliruan. Ilmu mantiq ialah undang-undang yang menjaga hati dari kekeliruan dalam berpikir. Menurut M. Taib Thahir Abd. Muin Ilmu mantik dapat pula dinamakan ilmu logika. (Dja’far Amir, Ilmu Mantiq. Ramadhani, Solo, 1980, hlm. 1-2).

5 Imam Cahyono mengutip pendapat Frans Magnis Suseno ideologi dimaksud sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan serta merasionalisasikan suatu bentuk hubungan kekuasaaan Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut. (Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, 1991, hlm 230).

6 Pendiri Wahhabi yaitu Muhammad ibn Abdul Wahhab untuk memurnikan ajaran agama Islam, yang pada saat itu telah tercemar dan direkayasa oleh umat Islam dengan memasukkan unsur-unsur mistis dan tata cara ibadah yang telah menyimpang dari ajaran Islam murni sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Harun Nasution, Abdul Wahhab mengecam kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan orang-orang suci dan saleh (wali-wali sufi) dan hal-hal yang berkaitan dengan itu, dia mengecam taklid kepada pendapat ulama dan menyeru umat agar menyelaraskan nalar dan hati nurani dengan al-Qur’an dan sunnah bukan kepada penafsiran-penafsiran tradisional. Dia bertekad menghilangkan semua ketakhayulan dan mengembalikannya kepada kemurnian salaf, dan untuk itu ia menentang ulama-ulama yang telah mapan. Ia membuka pintu ijtihad yang telah dinyatakan tertutup oleh ulama-ulama terdahulu. (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam (Sejarah Pemikiran dan Gerakan), Bulan Bintang, Jakarta, 1990, hlm.23-26).

7 Jamaluddin al-Afgani adalah seorang pemimpin pembaharuan dalam Islam yang tempat tinggal dan aktivitasnya berpindah dari satu negara Islam ke negara Islam lain. Jamaluddin al-Afgani lahir di Afganistan pada tahun 1897. Pemikiran pembaharuan berdasarkan atas kenyakinan bahwa “Islam adalah yang sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan semua keadaan”. Kalau kelihatan ada pertentangan antara ajaran­-ajaran Islam dengan kondisi yang dibawa perubahan zaman dan perubahan kondisi, penyesuaian dapat diperoleh dengan mengadakan interpretasi baru tentang ajaran-ajaran Islam seperti yang tercantum dalam Al-­Qur’an dan hadits, maka untuk interpretasi itu diperlukan ijtihad dan pintu ijtihad baginya terbuka.

11 Untuk lebih jelasnya mengenai karya akademik yang memuat asal negara, nama penulis, judul karya, asal perguruan tinggi, tempat dan tahun dapat dilihat di CD Bediuzzaman Said Nursi Risale-i Nur, Nesil Foudantion, Istanbul, Turki.

[1] Penjelasan keempat teori di atas sebagai berikut : Pertama, teori pemikiran spekulatif disusun ahli filsafat berdasarkan data empirik dan eksperimen yang melahirkan manusia yang beragam sesuai dengan alur spekulatif pemikirannya dalam memahami penciptaan manusia. Kedua, teori tipologis disusun para ahli dengan cara menemukan komponen dasar yang bisa dipahami orangnya. Maka manusia digolongkan dalam tipe-tipe tertentu misalnya, tipe emosional, tipe intelektual dan sebagainya. Ketiga, teori penyifatan disusun dengan cara berusaha memahami dan menggambarkan manusia apa adanya, analisis sifat jasmaniah merupakan aspek pokok dan kepribadian. Misalnya orang gemuk itu peramah, orang jangkung itu pemalu, orang hitam itu setia dan sebagainya. Keempat, teori aksiologi disusun untuk mengangkat kualitas kepribadian manusia dalam suatu sistem nilai dan norma berdasarkan konsep ketuhanan yakni melalui agama. Melalui keyakinan kepada tuhan menurut teori ini manusia dalam dunia absurd dan tidak memahami makna hidup (Lihat Sukanto MM, Ketimpangan-ketimpangan Psikologi dalam Membangun Paradigma Psikologi Islami (Fuad NAsliori, Editor), Penerbit SIPRESS, Yogyakarta, 1996, hlm. 38-39).

[2] Penjelasan mengenai keempat asas tersebut sebagai berikut : Pertama, asas menyeluruh yaitu asas yang menempatkan semua jenis manusia ciptaan Allah tersusun dari bagian-bagian bermakna dalam suatu keseluruhan. Kedua, asas integrasi (kesatuan) yaitu asas yang memandang bahwa segala yang diciptakan Allah dalam kehidupan alam, semua makhluk ciptaan-Nya senantiasa ada dalam suatu sistem integral antara satu bagian dengan bagian lain saling berhubungan yang bersifat menggerakkan dan saling memperkokoh sebagai satu kesatuan hidup yang bermakna. Ketiga, asas perkembangan yaitu asas yang menetapkan pandangan bahwa Allah dalam menciptakan alam dan isinya melalui tahap demi tahap menuju ke arah kesempurnaan, baik alam makro (alam raya) maupun alam mikro (alam manusia). Keempat, asas pendidikan seumur hidup (long life education) yaitu asas yang berdasarkan pandangan Islam dari Nabi Muhammad Saw “Tuntutlah Ilmu sejak mulai di ayunan sampai liang lahat” (M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner), Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 2000, hlm. 51-53).

[3] Said bin Mirza dikenal Said al Said Nursi atau Said Nursi adalah merujuk kepada tempat kelahirannya. Said Nursi diambil dari nama tempat kelahirannya yakni Nurs. Sedangkan untuk gelar Bediuzzaman Said Nursi atau cukup dengan gelar Bediuzzaman diberikan ketika beliau berguru dengan Syeikh Fethullah, hingga beliau mendapatkan ilmu baru yang semakin memantapkan dirinya untuk mengadakan debat, diskusi, dan pengajaran bagi masyarakat bawah di Madrasah Mir Hasan Wali di Muks. Karena kemampuan intelektual yang menakjubkan itu, Said Nursi digelari gurunya Badi’ al-Zaman (keunggulan zaman) atau (keindahan zaman). Kemudian gelar Molla Said atau Mulla Said diberikan pada saat beliau belajar di Madrasah Bayazid dibawah bimbingan Syaikh Muhammad Al Jalah, beliau mempelajari ilmu Al Quran dan Nahwu Sharaf. Belajar dengan disiplin dan sungguh-sungguh sehingga Said Nursi mampu menguasai kitab-kitab utama ketika itu dan mendapat gelar Mulla Said. Sedangkan Said Masyhur diberikan gelar ketika beliau dengan berbagai gelarnya sudah dikenal hampir ke seluruh wilayah Turki, gelar ini diberikan oleh ulama, karena beliau mampu menjawab dalam diskusi ilmiah para ulama yang silih berganti berupaya menyudutkannya dengan berbagai pertanyaan. Terakhir adalah Said Kurdi berasal dari keturuan dan memang beliau adalah keturunan suku Kurdi. (Lihat Omer Faruk Paksu (Ed.), 7. Bediazzaman Senipozyumuna Dogru, Istanbul ilmi ve Kultur Vakfi, Istanbul, 2004, hlm. 5 dan Lihat Zaidin, Ibid, him. 7, hlm. 13-23).

[4] Mengenai tahun kelahiran Said Nursi terdapat perbedaan pendapat di kalangan penulis, peneliti, penerjemah dan ilmuwan lain. Penulis yang dipercaya yakni Sukran Vahide menulis 1877 (1294), Mohammad Zaidin bin Mat menulis kelahirannya 1877 (1294) mengikuti Sukran Vahide, sedangkan Ihsan Kasim Salih menulisnya 1876 (1293). Namun berdasarkan sumber yang valid yakni berdasarkan hAsli penelitian Mohammad Zaidin tahun yang disepakati adalah 1294 berdasarkan kalender Rurni yang dipakai secara resmi ketika Turki Usmani. Menurutnya, tahun 1877 (1294) adalah tahun yang banyak dipergunakan oleh para penulis mengenai Said Nursi. (Lihat Zaidin, Ibid, him. 119).

[5] Wilayah Timur Turki adalah bagian Turki yang paling mundur, kondisi ini disebabkan keadaan cuacanya yang terlalu sejuk dan bentuk muka buminya yang berbukit-bukit. Namun begitu, bagian ini terkenal dengan keindahan dan ketenangan alamnya. Penduduk di wilayah ini kebanyakan terdiri dari golongan peladang yang sangat menitikberatkan soal pendidikan agama. Bagian Timur Turki terkenal dengan pendidikan bercorak tradisional. (Lihat Zaidin, Ibid, him. 119) dan (Lihat juga Sarwat Saulat, Said Nursi, Internasional Islamic Publisher, Pakistan, 1980, hlm. 3).

[6] Mirza adalah seorang sufi yang sangat war’ dan diteladani sebagai seorang yang tidak pernah memakan barang haram dan hanya memberi makan anak-anaknya dengan yang halal saja. Mirza berasal dari kawasan Sungai Tigris dan meninggal dunia dalam tahun 1920-an dan dikebumikan di Nurs (lihat Vahide 2000, hlm. 3). Mirza adalah keturunan Hasan Bin Ali Abi Thalib. (Lihat Ali Urkhan Muhammad Ali, Said Nursi al qadr fi hayat  ummah, Sharikat al-Nasl li al-Tiba’ah, Istanbul, 1995, hlm. 8)

[7] Nuriyyah juga berasal dari keturunan Husain (Lihat Urkhan Muhmmad Ali, Said al-Said Nursi Raj’al al-qadr fi hayal ummah. Sharikat al-Nasl li al-Tiba’ah, Istanbul, 1995, hlm. 8). Nuriyyah adalah seorang wanita yang hanya menyusui anak-anaknya dalam keadaan suci dan berwudhu’ (Lihat Ihsan Kasim 2003, hlm. 8). Nurriyah berasal dari Semenanjung Balkan dan meninggal dunia pada semasa tercetusnya Perang Dunia I, kemudian dikebumikan di Nurs (Lihat Said Nursi, hlm.3).

 

[8] Dijelaskan oleh Urkhan Muhammad Ali bahwa Mirza adalah keturunan Hasan bin Ali dan Nuriyyah keturunan dari Husain bin Ali (Urkhan 1995, hlm. 8) dan (Lihat pula Mohammad Zaidin 2001, hlm. 119). Namun pada dasarnya mengenai silsilah ini tidak didapatkan penjelasan mendetail mengenai silsdah ini, namun menurut keterangan Ihsan Kasim Salih bahwa Said Nursi tidak mau seluruh biografinya diungkapkan walau memang pada dasarnva ia berasal dari Ahl al Bayt (Wawancara penulis dengan Ihsan Kasim Salih di Istanbul Foundationfor Science and Culture, 19 Agustus 2005).

[9] Durriyah ialah ibu kepada Ubayd. Beliau meninggal mati lemas dalam sungai Nurs sebelum terjadi Perang Dunia I (Lihat Said Nursi, Ihsan Qasim (Penerjemah), Sirah Zatiyyah, hlm. 36)

[10] Khanim adalah seorang wanita alim. Beliau hijrah ke Syam bersama-sama suaminya pada tahun 1919. Di Syam ia menjadi guru selama lima belas tahun. Beliau menunaikan ibadah haji sebanyak 7 (tujuh) kali, Beliau meninggal dunia sewaktu menunaikan ibadah haji pada tahun 1944. (Lihat Al Said Nursi, Al Shu’aat Terjh. Ihsan Kasim al-Salihi, Sharikat al Nasl li al-Tiba’ah, Istanbul, 1993, hlm. 322, Sarwat, hlm. 7).

[11] Abdullah meninggal dunia pada tahun 1914. Beliau adalah ayah dari Abdul Rahman, murid dan anak angkat Said Nursi (Lihat Said Nursi, Sirah Zatiyyah, hlm. 34).

[12] Meninggal dunia pada tahun 1951 (Said Nursi, Sirah Zatiyyah Ibid. hlm. 36).

[13] Abdul Majid (1884-1967) adalah yang paling terkenal di antara adik beradik setelah Said Nursi. Beliau menjadi guru bahasa Arab di sekolah tentara di Diyarbakr. Setelah itu, dilantik menjadi mufti di Urgup untuk beberapa tahun. Beliau menghabiskan tahun-tahun akhirnya sebagai guru Undang-undang Islam di sekolah Imam Khatib Qunya (konya). Beliau adalah penerjemah karya-karya Said Nursi berjudul al-Mathanawi al-Arabi al Nuri dan Isharat al I’jaz dari bahasa Arab ke bahasa Turki. Lihat Sarwat, Ibid. hlm.7).

[14] Marjan adalah anak bungsu dalam keluarga Mirza. (Said Nursi, Sirah zatiyyah, Ibid, hlm. 36).

[15] Murid Said Nursi yang ikut perjalanan ke Urfah menjelang meninggalnya Said Nursi adalah Husni Bayram, Bayram Yuksal dan Zubayr Gundulzalp yang membawanya ke Urfah dengan sebuah kereta. Mereka sempat menginap di hotel Ipek Palace dan didesak oleh pemerintah Urfah agar kembali ke Isparta. Untuk memeriksa kesehatan Said Nursi didatangkan seorang dokter yang memberi izin agar Said Nursi tidak boleh dibawa kemana-mana karena suhu badannya meningkat 40°C, sampai keesokan malamnya kira-kira jam 03.00 pagi Said Nursi tidak berucap sepatah kata pun kecuali kelihatan mulutnya yang bergerak-gerak seperti sedang berdo’a. (Said Nursi. Ibid. hlm. 481dan Urkhan, hlm. 287)

[16] Adik Said Nursi tanggal 12 Juli 1960 dipaksa untuk menandatangani surat pembongkaran kuburan Said Nursi di Urfah. Kemudian, tentara pemerintah anti Islam memasuki Urfah disaksikan Abdul Madjid kuburan Said Nursi dibongkar dan mayatnya dimasukkan ke keranda dan diterbangkan dengan pesawat terbang ke Isparta. Yang menakjubkan adalah jasad tersebut masih segar, padahal sudah hampir lima bulan mayat itu terkubur. Wajahnya pun kelihatan tersenyum. Sampai saat ini jenazah itu tidak diketahui jelas berada di mana, sebab tidak ada tempat bagi masyarakat Turki untuk menziarahi kuburannya, karena memang tidak pernah dijelaskan. (wawancara Fatih Yazlik, Juli, 2005).

 

[17] Menurut Abdullah Nasih Ulwan kebanyakan para pendidikan berpendapat bahwa tanggung jawab yang terpenting adalah tanggung jawab pendidikan iman, tanggung jawab pendidikan akhlak (moral tanggung jawab pendidikan fisik, tanggung jawab pendidikan intelektual (rasio atau akal), tanggung jawab pendidikan psikhis, tanggung jawab pendidikan sosial dan tanggung jawab pendidikan seksual. (Pendidikan iman adalah mengikat anak dengan dasar-dasar iman, rukun Islam dan dasar-dasar syariah, sejak anak mulai mengerti dan dapat memahami sesuatu. Pendidikan akhlak atau moral adalah pendidikan tentang prinsip moral dan keutamaan sikap serta watak (tabiat) yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa pemula hingga ia menjadi seorang mukallaf, yakni siap mengarungi lautan kehidupan. Pendidikan rasio atau intelektual adalah membentuk pola pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat, seperti ilmu-ilmu agama, kebudayaan dan peradaban hingga pikiran anak menjadi matang, bermuatan ilmu, kebudayaan dan sebagainya (Abdullah NAslii Ulwan, Jamaluddin Miri (Penerj.) Pendidikan Anak dalam Islam, Penerbit Pustaka Amani, Jakarta, 1995, hlm. 151-281).

[18] Dalam konteks zamannya ilmu tradisional ia belajar dibeberapa tempat, karena tidak ada satu pun institusi pendidikan Islam yang lengkap menyelenggarakan pengajaran tersebut Said Nursi selalu berpindah-­pindah untuk menyempurkan pemahamannya (Lihat Zaidin, Ibid, hlm. 15).

[19] Rukun iman terdiri dari iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-­Nya, hari kiamat, dan qadha dan qadhar. Rukun iman ini adalah akidah atau keimanan yang sudah panjang diperdebatkan. Bagi Ahlussunnah Wal-Jama’ah akidah adalah suatu hal yang asasi sekali dalam kehidupan seorang muslim. Karena akidahlah yang mendasari sikap, tingkah laku dan segala yang dikerjakannya. Bagi Ahlussunnah Wal-Jama’ah sangat mendukung doktrin rukun iman ini. (Syaikh Muhammad Shaleh al-‘Utsaimin, Aqidah Ahulus sunah wal Jama’ah, Yayasan al-Sofwa, Jakarta, 1995, hlm. 7-12). Namur, Said Nursi menekankan bahwa pernyataan tauhid Laa ilaaha Ilaallaahu tidak dipisahkan terhadap pengakuan Muhammaddur Rasulullah (Muhammad Rasul Allah) yang merupakan satu kesatuan tauhid, juga dalam realisasi amaliah kehidupan. Argumentasi Said Nursi menyatakan bahwa “Siapapun yang menyangkal Nabi Muhammad Saw yang merupakan kebanggaan semua makhluk dan kehormatan umat manusia karena mu’jizat-mu’jizatnya dan prestasi-prestasinya pasti tidak mungkin dapat menerima, Nur (cahaya) atau pasti tidak benar-benar mengenali Allah” (Said Nursi 2003b, Op. Cit. h1m. 465-466)

[20] Ketika Abu Bakar memimpin beliau menghadapi orang-orang yang enggan membayar zakat, karena itu beliau menyiapkan pasukan dan mengirimkanya untuk memerangi orang-orang yang murtad. Peperangan itu dikenal dengan perang Yamamah, perang itu terjadi pada tahun 12 Hijriyah. Dalam peperangan tersebut sekitar 70 orang penghafal at-Qur’an gugur. Umar bin Khatab merasa khawatir dengan kondisi ini lalu beliau mengusulkan kepada Abu Bakar untuk membukukan al-Qur’an dalam sebuah Mushaf, semula Abu Bakar merasa ragu-ragu namun akhirnya menerima usulan dari Umar bin Khatab. Abu Bakar memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk segera mengumpulkan al-Qur’an dalam sebuah Mushaf, ciri penulisan al-Qur’an pada masa Abu Bakar seluruh ayat Al-Qur’an dikumpulkan dan ditulis didalam sebuah Mushaf Lalu dilanjutkan penyusunannya oleh Umar bin Khatab menggantikannya. Pada masa Umar mushaf itu diperintahkan untuk disalin ke dalam lembaran (shafiafah) dan tidak menggandakannya, setelah selesai dari penulisannya naskah itu diserahkan kepada Habsah istri Nabi Muhammad Saw yang pandai membaca dan menulis. Pada masa Khalifah Usman bin Affan al-Qur’an disalin ke beberapa naskah dan dibukukuan atas usulan Khuzaifah, kemudian Usman meminta kepada Habsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Untuk melakukan tugas pembukuan ini Usman membentuk tim empat yang terdiri dari : Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al-Ash, dan Abdul al-Rahman bin Harits. (Al-Brayary, Pengenalan Sejarah Al-Qur’an. RajaGrafindo persada, Jakarta, 1988, hlm 44)

[21] Ibn Miskawaih lahir di Rayy dan meninggal di Isfahan. Tahun kelahirannya diperkirakan 320H/932M dan wafat 9 Shafar 421716 Februari 1030. Ibn Miskawaih sepenuhnya hidup pada masa pemerintahan dinasti Buwaih (320-450H/ 1932-1062M) yang para pemukanya berpaham Syi’ah. Ia belajar sejarah dari Abu bakr Ahmad ibn Kamil al-Qadi. Pelajaran filsafat dari Ibn al-Khammar dan kimia dari Abu Thayyib. Ibn Misakwaih juga banyak bergaul dengan para ilmuwan seperti Abu Hayyan al Tauhidi, Yahya ibn Adi dan Ibn Sina. Pekerjaan utamanya adalah bendaharawan, sekretaris, pustakawan, pendidik anak para pemuka dinasti Buwaih. Dan ia juga dikenal sebagai dokter, penyair dan ahli bahasa. Menulis buku dan artikel sebanyak 41 buah. (Lihat antara lain Hasan Tamim, al-Muqaddimah dalam Tahzib al-akhlaq wa Tharir dalam artikelnya yang bejudul Fi al-‘aql wa al-Ma’qul, diedit oleh Muhammad Arkoun dalam Arabica XI (1964), hlm. 85-87).

[22] Perlu ditegaskan disini bahwa istilah jiwa akan disamakan dengan istilah ruh, karena jiwa dalam bahasa al-Qur’an adalah ruh. Dalam pembahasan ini tidak diselidiki lebih jauh mengenai penghubung antara ruh dan jasad yang berupa akal menurut istilah lbn Miskawaih dan hayat menurut istilah Harun Nasution. Tapi, dalam pembabasan penulis akan digunakan akal sebagai petunjuk perannya sebagai penggerak otak yang bekerja di pusat kepala.

[23] Lihat beberapa ayat Al Quran yang menjelaskan persoalan ini misalnya 1) Surat al-Hijr (15) ayat 28-31, 2) Surat al-Sajadat (32) ayat 7-9, 3) Surat Shad (38) ayat 71-74. Adapun sabda, Nabi Muhammad Saw memberikan penjelasan lebih lanjut tentang hal ini antara lain sebagai berikut : (Kamu diciptakan dalan kandungan ibu selama empat puluh hari berupa nuthfah, selama itu pula berupa gumpalan darah, selanjutnya selama itu pula gumpalan daging, kemudian dikirimlah malaikat dan ia hembuskan ruh ke dalamnya ….) Riwayat Bukhari dan Muslim. Lihat hadis keempat dari kitab .A1-Arbain a1-Nawawiyyat oleh al-Imam al Nawawi (Cirebon, Mathba’at Indonesia, tt, hlm. 16-17).

[24] Ketiga istilah di atas digunakan oleh Ibn Miskawaih Lihat Ibn Miskawaih, Tahzib al-Akhlaq, diedit Hasan Tamim, Bairut, Mansyurat Dar Maktabat al-Hayat, 1398 H, hlm. 62. Sedangkan Al Kindi menggunakan istilah al-quwwat al-syahwaniyyat untuk daya nafsu, al-quwwat al-ghadabiyyat untuk daya berani dan al-quwwat al-nathiqat /al-‘aqilat untuk daya berpikir. Lihat Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, Jakarta, UI Press, 1983 hlm. 9. Sedangkan Ibn Sina menggunakan al-nafs/al-quwwat al-­nabatiyat, al-nafs al-quwwat al-hayawaniyat, dan al-nafs al-insaniyyat. Lihat al-Najah, Mesir, Mushthafa al-Babi al-Halabi, 13.57 H, hlm. 158.

[25] Dajal berasal dari kata dajal artinya tertutup oleh sesuatu, pembohong, penipu. Said Nursi menjelaskan bahwa dajal adalah manusia seperti manusia lain. Dia adalah seorang konspirator, iblis tolol yang melupakan Allah. Dia mendewakan diri sendiri karena kepemimpinannya yang zalim, kemegahan kelaliman yang nyata. Tetapi tren ateisme yang dia tampilkan sangat besar mengacu kepada tren ini. Kebesaran Dajal bukan secara fisik, tapi lebih cenderung kepada kekuatan pengaruh. Surga palsu yang diciptakan Dajal adalah daya pikat peradaban modern (Said Nursi 2003b, hlm. 86). Sedangkan yang dimaksud Sufyan adalah seorang muslim yang memiliki pengetahuan luas dan memiliki kekuasaan.

[26] Dan ini terdapat beberapa indikasi yang menjadi tanda-tanda, misalnya di Indonesia ada Jaringan Islam Liberal (JIL) silahkan simak tema-tema yang dikembangkan oleh JIL yakni “perempuan menjadi imam”, “menolak formalisasi jilbab”, “menolak kebangkitan khalifah”, “terus-menerus mempersoalkan teks al-Qur’an” dan sebagainya dengan sangat bombastik yang mengarahkan ke dalam kerusakan akidah, akhlak dan syariat, walau belum bisa digeneralisasi secara umum.

[27] Dengan bahasa yang isyarat Said Nursi berpendapat bahwa Mustafa Kemal Attaruk adalah Sufyan. Said Nursi untuk mengkokohkan akidah umat disamping tesisnya yang menyatakan bahwa “pasca runtuhnya kerajaan Turki Ustmani dan ketika terjadi kekacauan global — tepatnya 1920-1940 — adalah awal dari pertanda akhir zaman”.

[28] Kejadian ini jelas ketika di Turki Mustafa Kemal Attaruk yang patungnya di mana-mana dibuat dan kepala dipaksa untuk tunduk dibawah tekanan aturan dan militer dan memang nyata di kaji dari sejarah­-sejarah kerutuhan Turki Usmani yang disebabkan ambisi Barat menguasai dunia.

[29] Pada masa Islam kepercayaan Tuhan masih d1yakini juga ketika terjadi henelisasi ilmu kemudian kristenisasi ilmu kemudian islamisasi ilmu dan yang menghancurkan ketika terjadi westernisasi ilmu yang tidak menyakin adanya Tuhan, di dunia Islam terjadi sekulerisasi ilmu yang sangat hebat, dan akhir-akhir ini kesadaran umat Islam mulai muncul sejak dicetuskannya pan islamisme oleh Jamaluddin Al Afgani menjelang akhir abad ke-19 diteruskan oleh ilmuwan muslim lainnya yang muncul kemudian sebuah fenomena kebangkitan Islam global. Sekarang menurut beberapa ilmu terjadi naturalisasi ilmu yang terjadi tidak hanya di dunia Islam tapi juga Kristen dan Yahudi. Karena fenomena materialisme dan perangkatnya melalaikan manusia. Tapi mengenai yang gaib hanya Allah yang tahu).

[30]Mengenai Sufyan ini dapat dipahami misalnya dapat dilihat di Rusia pengaruh Lenin begitu dahsat. Adam Smith dengan menggusur kapitalisme. Karl Marx dengan komunismenya dan Hitler dengan fasismenya juga mewarnai penyesatan dan melenakan umat manusia. Di Turki misalnya muncul Mustafa Kemal Attaruk yang menjajahkan ide sekulernya berdasarkan “perintah” Inggris. Kenyataan di Turki seluruh madrasah ditutup dan pelarangan menggunaan jilbab. Di Indonesia perdebatan mengenai UU Sisdiknas selalu dengan perbedaan pendapat berdasarkan kepentingan agama yang diciptakan dunia Barat ketika menjajah bangsa Indonesia. Perlu ditegaskan bahwa saat ini adalah akhir zaman.

[31] Mungkin cukup di sini penjelasan mengenai ini memang harus melihat fenomena yang terjadi di tengah-tengah kita, termasuk di agama-agama lain yang memiliki sumber yang sama. Saat ini di Jerman, Rusia, Amerika, Inggris, Italia dan Belanda dan beberapa negara maju semangat menuju nilai-nilai kebenaran sudah mulai tampak. Semua ini juga disebabkan kejadian 11 September 2001 dan invasi Amerika ke Irak dan pergulatan dunia yang tak pernah usai seperti di Palestina-Israel, menunjukkan bahwa kendali modernisasi dan globalisasi sulit terkendali. Alamat ini memang bisa ditanggap orang yang berpikir dan berhati. Bukan hanya dengan kepala yang berupaya menentang dahulu baru mencari. Sebab metodologi semacam ini memang berasal dari “nurani Dajjal”, seperti slogan “cogito ergo sum” atau “god is dead” dan sebagainya.

[32] Dalam bahasa al-Qur’annya hari kiamat adalah Qiyamah adalah hari kebangkitan orang-orang mati dan kuburan mereka masing-masing sesudah hancurnya alam semesta, untuk kemudian mereka digiring ke alam mahsyar dan alam barzakh. Ruh mereka dikembalikan ke dalam tubuhnya agar kemudian mereka mempertanggungjawabkan semua amal mereka dikala hidup yang selanjutnya mereka ditentukan oleh Tuhan untuk masuk surga atau neraka. (Hussein Bahreisj, Himpunan Pengetahuan Islam (450 Masalah Agama Islam), Al Ikhlas, Surabaya, 1980, hlm. 165).

5 Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan yakni maut. Hadis ini diriwayatkan oleb Ahmad dan Tirmidzi yang kemudian dianggapnya sebagai hadis hasan. Hadis ini juga diriwayatkan oleh an ­Nasa’i dari Abi Salmah lalu dari Abu Hurairah secara marfu. Menurut Ibn Hibban dan al-Hakim hadis ini sahih.

 

Bab 1

P E N D A H U L U A N

Latar Belakang Masalah

Sepanjang sejarah umat manusia masalah akhlak selalu menjadi pokok persoalan. Karena pada dasarnya, pembicaraan tentang akhlak selalu berhubungan dengan persoalan perilaku manusia dan menjadi permasalahan utama manusia terutama dalam rangka pembentukan peradaban. Perilaku manusia secara langsung ataupun tidak langsung masib menjadi tolok ukur untuk mengetahui perbuatan atau sikap mereka. Wajar kiranya persoalan akhlak selalu dikaitkan dengan persoalan sosial masyarakat, karena akhlak menjadi simbol bagi peradaban suatu bangsa.

Fakta sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang diabadikan dalam al-Qur’an seperti kaum ‘Ad, Samud, Madyan dan Saba’ maupun yang terdapat dalam buku-buku sejarah menunjukkan bahwa “suatu bangsa yang kokoh akan runtuh apabila akhlaknya rusak” (Suwito 1995, hlm. 1). Dalam sejarah dunia mencatat misalnya pada masa kaum ‘Ad, Madyan dan Saba’ dicatat oleh al-Qur’an sebagai kaum yang memiliki kualitas akhlak yang rendah. Al-Qur’an senantiasa merujuk kaum ini untuk menunjukkan rendahnya kualitas akhlak manusia di beberapa bagian dekade sejarah. Pada dekade selanjutnya, akumulasi simbol kebobrokan akhlak adalah kaum Fir’aun dan Namrud yang hidup pada masa nabi Musa dan Ibrahim. Simbol selanjutnya yang disebut oleh al-Qur’an adalah Abu Jahal dan kaumnya yang hidup pada masa Nabi Muhammad Saw. Pada awal abad ke-20 yakni setelah Perang Dunia I simbol itu dialamatkan kepada Mustafa Kemal Attatruk (Ihsan Kasim 2003, hlm. 42). Dalam konteks dunia Barat simbol-simbol lain itu bisa dialamatkan kepada Sigmud Freud, Nietzsche, Lenin, Kalr Marx, dan Hitler. Bahkan tatanan yang lebih serius adalah kerusakan yang ditimbulkan oleh negara Adi Daya seperti Amerika Serikat, Inggris atau Perancis. Pengaruh meraka berada pada tataran pemikiran yang secara langsung ataupun tidak langsung dalam merusak akidah, yang berarti dapat merusak akhlak manusia dalam bertuhan. Mereka yang menjadi simbol ini memiliki peranan penting dalam bidang pemikiran dan kelompok-kelompok sosial. Sehingga, muncul tokoh-tokoh yang dapat mempengaruhi secara halus merasuk ke dalam alam pemikiran para pemikir-pemikir muslim. Pengaruh tersebut sangat penting dalam membangun “persepsi” manusia dalam memahami sesuatu. Misalnya Sigmud Freud “menyebut ide-ide agama tentang Tuhan dan alam gaib sebagai ilusi karena konsep-konsep tersebut muncul dari keinginan manusia (human wishes) dan bukan dari realitas” (Lihat Erich 1950, hlm.12).

Sebenarnya Allah Swt menciptakan manusia hanyalah bertujuan supaya manusia itu beribadah kepada-Nya semata, yakni menjadi manusia pengabdi (Al-Dzariat : 56). Titik tekan pengabdian adalah akhlak Islam yang sangat menekankan kepada penganut­-penganutnya untuk berakhlak mulia. Dalam hadis disebutkan “inama bu’istu li utammima markim al-akhlak” (Sesungguhnya Aku diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak). Penjelasan hadis ini berartinya bahwa diutusnya Nabi Muhammad Saw sebagai rasul untuk menyampaikan risalah Allah sejak awal abad ke-7 Masehi secara tegas adalah tugas pokoknya sebagai penyempurna akhlak manusia.

Akhlak dalam Islam bertitik tolak dari pengabdian seorang kepada Allah Swt dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw yang menjadi teladan pribadi terbaik. Semua sifat dari perilaku, pikir dan sikap yang bertentangan dengan akhlak Nabi Muhammad Saw dianggap tidak berakhlak. Siti Aisyah r.a bila ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad Saw beliau berkata : “Akhlak Rasulullah itu adalah al-Qur’an”. Allah Swt berfirman : “Wa innaka la’ala khuluq ‘azhim” (“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) mempunyai akhlak yang paling mulia”) (QS. al-Qalam : 4). Karena itu, ia patut dijadikan contoh “laqad kana lakum fi rasulullah uswatun hasanah…” (“Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu surf tauladan yang baik bagimu…”) (QS al-Ahzab : 21).

Bukti-bukti kemuliaan akhlak Nabi Muhammad Saw di atas adalah nyata. Bahkan menurut seorang non muslim Michael H. Hart dalam bukunya berjudul The 1000 a ranking of the Most influential Persons in History memberikan pengakuan bahwa “Nabi Muhammad Saw memperoleh pengakuan sebagai tokoh urutan pertama yang paling berpengaruh dalam sejarah” (Suwito 1995, hlm. 3). Kebesaran Nabi Muhammad harus diakui disebabkan oleh ketinggian dan kemuliaan akhlak yang dimilikinya.

Karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan pendidikan akhlak Islam pun pada hakekatnya diarahkan kepada terciptanya manusia yang berakhlak agung dan mulia seperti Nabi Muhammad Saw. Namun setiap orang memiliki pemahaman dan cara berbeda untuk mencapai akhlak agung dan mulia sebagaimana yang dimiliki Nabi Muhammad tersebut.

Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad dalam sejarah membuktikan bahwa umat Islam dalam binaan Nabi Muhammad Saw pernah mengalami masa keemasan yang mencapai 1300 tahun lamanya. Masa keemasan ini adalah masa periode Madinah yakni pada masa Nabi Muhammad sendiri sampai wafatnya. Masa ini yang paling monumental adalah dirumuskannya “Piagam Madinah” yang memuat perjanjian antara golongan-golongan Muhajirin, Ansar dan Yahudi serta sekutunya yang mengandung prinsip-prinsip atau peraturan-peraturan penting yang menjamin hak-hak mereka dan menetapkan kewajiban‑kewajiban mereka sebagai dasar bagi kehidupan mereka bersama dalam kehidupan sosial politik (Suyuthi 1993, hlm. 22). Kenyataan dalam sejarah bahwa pada periode ini benar­-benar tercipta sebuah peradaban gemilang.

Pasca wafatnya Nabi Muhammad tahap selanjutnya melahirkan 4 (empat) khalifah yang benar – khulqfaurrasyiddin – Abu Bakar As Sidhiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib yang merupakan sebuah tahap revitalisasi ajaran dan penguatan akidah serta meneruskan proses yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Integritas para sahabat penerus Nabi ini sangat diakui dalam berbagai perspektif. Seperti ditegaskan oleh C.E.Bosworth bahwa “Periode empat khalifah dipandang sebagai zaman emas, suatu zaman ketika kebijakan-kebijakan Islam yang murni berkembang pesat, dan karena itulah gelar ‘yang mendapatkan bimbingan di jalan lurus’ diberikan kepada mereka” (C.E. Bosworth 1993, h1m. 24).

Tahapan selanjutnya adalah masa klasik yang pesat perkembangan terjadi periode 650-1250 M, masa ini oleh para ahli sejarah disebut masa klasik dalam sejarah perkembangan Islam. Umat Islam pada periode ini disebut “super power” yang berkuasa di sebagian besar negara-negara di tiga benua : Asia, Afrika dan Eropa. Wilayah kekuasaanya mencapai Spanyol di sebelah Barat dan India di sebelah Timur, daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabiah, Irak, sebagian Asia kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia tenggara (Murodi dkk 1995, h1m. 33).

Masa ini merupakan masa kemajuan pertama yang dimulai dari tahun (550-1000 M, dan sekaligus mengalami masa disintegrasi kekuatan Islam yang terjadi sejak tahun 1000-1250 M. Zaman keemasan Islam terjadi dalam berbagai aspeknya yakni masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah lahir 750 M- 1250 M. Pada kedua periode ini menghasilkan para ahli bidang ilmu yang sangat berpengaruh antara lain : Washil ibn Atha’, Zunnun al-Mishri, Abu Yazid al Busthami, Ibn Miskawaih, Ibn Bajjah, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd, Imam Al Ghazali, Imam Malik, Abu Hanifah, Imam Syafii, Ibn Hanbal, al Asyari, al Kindi, al Razi, al Farabi, al Maturidi dan Ibn Sina. Tokoh-tokoh ini menjadi simpul sejarah dunia Islam yang secara komprehensif bergerak dalam bidang dakwah Islam dan kehidupan nyata secara totalitas. Tokoh-tokoh ini benar-benar signifikan terutama membangun keseimbangan antara rasionalitas dan spritualitas. Tokoh-tokoh ini selain kuat dalam bidang pemikiran, juga kuat di bidang rasa, sehingga tidak dapat diragukan lagi bahwa mereka juga tergolong orang yang memiliki akhlak yang tinggi.

Namun sesudah masa ini, umat Islam dilanda perpecahan dan kejumudan membawa kemunduran. Kondisi ini disebabkan selain daerah-daerah yang tadinya berada ditangan umat Islam menjadi jajahan Barat, pada masa ini tidak banyak diketemukan lagi tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti masa sebelumnya yang memiliki akhlak tinggi.

Walau setelah masa ini, sempat memunculkan ide-ide kebangkitan dan tokoh-tokoh pembaharu yang membawa persatuan umat pada masa tiga Dinasti Besar (Disnati Turki Usmani, Safawi dan Mughol), namun pada awal abad ke-19 kekuasaan, wibawa dan kemakmuran tiga dinasti Islam tersebut berangsur menurun dan mundur. Beriringan dengan itu, banyak wilayah dunia Islam seperti benua Afrika, Timur Tengah dan India muncul pemikir-pemikir pembaharuan seperti Jamaluddin Afghani, Muhammad Abduh, Hasan al ­Bana dan Bediuzzaman Said Nursi1. Memang kebangkitan itu begitu sulit dicapai karena sampai sekarang diakui langsung atau tidak langsung, mereka yang berusaha keluar dari dominasi Barat masih menemui kesulitan yang sangat mendalam (Bandingkan uraian Harun, 1990, hlm. 12-14). Disamping gagasan pembaharuan, para tokoh ini secara konsisten menjelaskan mengenai “hari akhir” dan penguatan akidah islamiah. 2

Salah seorang tokoh yang konsisten terhadap permasalahan umat di atas adalah Said Nursi dari Turki salah satu tokoh penting pada akhir abad ke-19. Said Nursi hadir untuk menjadikan umat ini beriman dan berakhlak mulia dan kembali berjaya sebagaimana jayanya umat Islam dahulu dan dapat mengamalkan agama sebagaimana para sahabat, Imam Malik mengatakan: “Tidak akan  pernah menjadi baik umat pada kurun  (abad) terakhir ini kecuali dengan cara perbaikan pada kurun umat yang terdahulu, yakni cara yang dibuat oleh Rasulullah SAW yang diteruskan oleh para sahabat (Hasan 2004, hlm.735). Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah pada abadku (sahabat) kemudian setelahnya (tabi’in) kemudian setelahnya (tabi’ut tabi’in)” (HR. Bukhari, Muslim). Ahmad dan Al-Makki (1998, hlm. 38) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan masa sahabat adalah kurang lebih 120 tahun setelah bi’tsah atau wafatnya sahabat terakhir yaitu Abi Thufan ra. Kemudian orang-orang setelahnya, yaitu masa setelah sahabat adalah tabi’in masanya sekitar 70-80 tahun. Kemudian orang-orang setelah tabi’in adalah pengikut tabi’in, masanya sekitar 50-220 tahun.

Said Nursi muncul sebagai pembaharu yang ingin mengadakan perbaikan untuk “menyelamatkan iman dan Islam”. Said Nursi memiliki karakter pemikiran yang memihak kepada keimanan, pemahaman al-Qur’an, hari akhir dan integralitas keilmuan. Said Nursi adalah sosok pemberani dan gigih memperjuangkan umat Islam di Turki pada masa akhir kerajaan Turki Usmani yang mencetuskan gagasan pembelaan terhadap agama dan kehidupan sosial-kemasyarakatan. Said Nursi merupakan salah satu orang besar yang berani menghadapi dan menyelamatkan umat manusia dari berbagai peristiwa berdarah dan penyimpangan terhadap fitrah manusia. Said Nursi juga menghalangi manusia agar tidak terjatuh ke dalam atmosfir kehancuran dalam kebudayaan mereka (Ihsan Kasim 2003, hlm. v). Said Nursi adalah salah satu tokoh yang mampu bertahan dari berbagai upaya Barat “menghancurkan” umat Islam dan akhlak umat. Bahkan sampai muncul Republik Turki, ia tetap konsisten berjuang menentang sekuleriasasi di Turki hingga menghasilkan sebuah karya “Risale-i Nur” yakni tulisan setebal 6000 halaman yang memuat pemikiran-­pemikiran tentang esensi keimanan dan nilai-nilai akhlak di abad ini. Said Nursi menginginkan adanya pembaharuan di Turki pada bidang pendidikan dan moralitas umat, yang waktu itu sudah mulai dirusak oleh Mustafa Kemal Attaruk (Wawancara Fatih, 2005). Karena itu, Said Nursi tampil dengan model sufi modern yang memadukan antara rasionalitas dan spritualitas, dalam konteks ini dapat dikatakan sebagai rangkaian proses pendidikan akhlak.

Said Nursi dalam berbagai tekanan tersebut tidak kenal menyerah dengan tantangan dan penderitaan yang dialaminya dari penjara ke penjara, berbagai musuh menghadang. Walaupun otoritas negara yang kuat dan mekanisme pendidikan Islam yang ada di Turki saat itu dipengaruhi oleh sekulerisme yang disosialisasikan oleh Mustafa Kemal Atatruk, tapi Said Nursi tetap melakukan usaha menumbuhsuburkan ajaran Islam dan perbaikan dalam bidang pendidikan Islam, terutama upaya membumikan nilai-nilai akhlak di Turki.

Media Said Nursi dalam berdakwah adalah Risale-i Nur dan mengelola pengajian­pengajian. Sebab bagi Said Nursi meminjam istilah Syafii Anwar penyebaran Risale-i Nur merupakan “realisasi menyeluruh bagi para pemikir dan praktisi pendidikan yang handal yang mampu membentuk manusia yang unggul secara intelektual, kaya dalam amal, serta anggun dalam moral dan kebijakan” (Syafii 1995, hlm. 153-154). Karenanya, Said Nursi berkeyakinan bahwa penyebaran Risale-i Nur merupakan realisasi menyeluruh bagi umat manusia dalam rangka membentuk kepribadian manusia yang seimbang rasionalitas, spritualitas dan kaya akan amal.

Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa periode kemunduran menyebabkan para pemikir untuk tampil mencarikan pemecahannya secara mendalam. Namun pada akhirnya, diagnosa awal dapat dikatakan bahwa penyakit umat terlalu kompleks dan beragam. Pada kondisi ini tampillah Said Nursi yang menjawab seluruh permasalahan umat. Pendidikan merupakan kunci utama untuk menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat yang ada saat ini, khususnya pendidikan akhlak yang merupakan inti dari proses pendidikan.

Dalam kerangka pembinaan generasi muda Said Nursi merealisasikan ide pendidikan akhlak melalui Dershane yang dilakukan oleh Nur Jamaah3. Perkumpulan ini memuat beberapa garis besar kegiatan sebagai berikut :

  1. Mengkaji konsep interaksi kemodernan dan relegius;
  2. Berniat menegakkan kembali keruntuhan kerajaan Usmani dengan kembali kepada tradisi keilmuwan yang integralistik;
  3. Mengadakan kegiatan conversation (perbincangan), dan reading (membaca) tulisan Risale-i Nur;
  4. Menyebarluaskan ajaran Risale-i Nur kepada masyarakat;
  5. Mendirikan asrama yang menjadi pusat pendidikan. (Hakan, ilmi com.).

Secara garis besar kutipan di atas, kegiatan ini memiliki relevansi terhadap pengembangan pendidikan akhlak generasi muda yang menjadi perhatian utama dalam penelitian ini. Harus diakui bahwa pendidikan akhlak sebagai salah satu inti dari proses pendidikan dan bagi kemajuan suatu bangsa, maka pembaharuan di bidang pendidikan mutlak untuk diadakan karena maju mundurnya suatu negara diukur dari pendidikan dan out putnya.

Berdasarkan pemahaman di atas, maka kami mencoba mempelajari pemikiran Said Nursi yang hidup abad ke-20 yang juga dipandang sebagai pendidik bagi generasi penerus yakni Said Nursi. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pemikirannya dalam bidang akhlak, khususnya yang berkaitan dengan prinsip-prinsip pendidikan akhlak untuk menyongsong kebangkitan Islam di era persaingan global saat ini3. Dan juga bertujuan untuk mengetahui beberapa alternatif yang ditawarkan dalam membangun kerangka pemikiran pendidikan akhlak dan implementasinya yang menjadi “obat penawar” bagi penyakit yang diderita oleh umat Islam sampai saat ini.

Dalam kajian ini muncul pertanyaan mendasar yakni apakah ada prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Bediuzzaman Said Nursi ?. Peneliti berasumsi bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi ada, walau harus diakui bahwa pemikirannya tersebut tidak dirumuskan secara sistematis yang dapat dilihat dan dianalisis dari kitab tafsirnya Risale-i Nur. Untuk memperkuat asumsi ini, maka dirumuskan 5 (lima) faktor yang melatarbelakanginya yakni :

Pertama, faktor personal. Sebuah karya tidak akan terlepas dari penulisnya. Baik dalam alur pikir maupun sikap sehari-harinya. Maka sesuai dengan kajian mengenai pendidikan akhlak, diasumsikan bahwa ditulisnya Risale-i Nur tidak terlepas dari pengalaman pribadi penulisnya dan pergulatan pemikirannya. Secara personal menurut peneliti dalam Risale-i Nur tak terlepas dari nilai-nilai akhlak yang akan ditegaskan dalam defenisi operasional. Berdasarkan kategori dalam aliran pendidikan akhlak yakni pendidikan akhlak rasional dan mistik, diasumsikan bahwa penulisnya senantiasa mempraktekkan akhlak mulia dan juga diasumsikan beliau menerapkan kedua konsep tersebut sekaligus yakni rasional dan mistik. Secara rasional dapat dipahami kedalaman ilmu penulisnya ketika peneliti membaca Risale-i Nur secara. teliti. Secara mistik ilmu yang didapat tidak sekedar dengan akal tapi dengan intuisi yang dalam epistimologi Islam dan Aristotelian merupakan bagian dari metode ilmiah (Lihat Mulyadhi 2003, hlm.63). Maka dapat dikatakan berdasarkan faktor personal bahwa Risale-i Nur ditulis karena Said Nusri adalah seorang moralis dan rasionalis.

Kedua, faktor tekstual. Pada penelitian pertama dapat dijelaskan bahwa keunikan Risale-i Nur terlelak pada : a) Faktor bahasa, bahasa yang digunakan adalah bahasa Turki yang dipengaruhi oleh kondisi kenegaraan, yang berubah secara drastis, ketika “kekhalifahan Turki Usmani” dinyatakan runtuh. Secara keseluruhan bahasa yang digunakan adalah bahasa Turki Modern Mustafa Kemal Attatruk, tapi patut dijelaskan keunikan bahasa dalam Risala-i Nur melibatkan banyak bahasa. Selain bahasa Turki, bahasa dalam Risala-i Nur di antaranya, bahasa Persia, Prancis, Jerman, Inggris, Kurdi, Arab dan khususnya bahasa Ottoman (bahasa pada masa Turki Usmani). b) Faktor mantik atau analogi4. Mantik disini bisa diartikan secara filosofis dan hikmah. Dalam Risale-i Nur banyak terdapat kata-kata dan kalimat-kalimat mantik yang memiliki banyak penafsiran, sehingga peneliti harus memiliki pemahaman terhadap bahasa mantik. c) Faktor sistematika penulisan. Penulisan Risala-i Nur ada sebagian dimulai dengan bismihi subhanahu wan inminsyain illah yusabbihu bihamdihi kalimat yang mengawali bab dalam Risala-i Nur dan mengakhirinya dengan subhanaka laa ilma lana illa maa alamtana innaka antal alimul hakim, dan terkadang paling akhir ditulikan al-Baqi Huwalbaqi. Hal ini mengindikasikan kesucian diri penulisnya dan paham ketuhanan yang dalam. Di samping itu, sistematika penulisan yang sangat mengandung makna terhadap realitas sejarah umat manusia.

Ketiga, faktor ideologis5 ditulisnya Risale-i Nur adalah untuk melawan ideologi modernisme yang digusung oleh Barat yang membawa umat manusia kepada materialis, sekuleris, liberalis, komunis bahkan ateis. Faktor ideologis inilah yang mendorong Said Nursi menulis Risela-i Nur. Jalan yang ditempuh adalah “kembali ke al-Qur’an dan as-Sunah” tapi tidak seperti aliran wahabi6 ataupun pan islamisme yang didengungkan oleh Jamaluddin al-Afgani7.­

Keempat, faktor politis, ditulisnya Risale-i Nur adalah dalam konteks masyarakat Turki yang Islam untuk menentang pemerintahan sekuler yang dibentuk oleh Inggris yakni sebuah revolusi politik dari sistem kekhalifahan diubah menjadi sistem demokrasi republik yang menerapkan hukum-hukum Prancis, Inggris dan khususnya banyak mengadopsi hukum-hukum sekuler Swiss. Dampaknya adalah secara sosial-kultural terjadi revolusi sosial besar-besar di Turki. Jalan yang ditempuh Said Nursi adalah “menjauhi politik” (Said Nursi 2003b, hlm. 71).

Kelima, faktor sosial-kultural, munculnya Risale-i Nur untuk menyelamatkan masyarakat Turki yang muslim dengan menentang revolusi sosial yang berasal dari revolusi politik oleh Mustafa Kemal Attaruk. Revolusi sosial itu sangat tampak misalnya : memberikan keluasan posisi perempuan di antara laki-laki (fenimisme, yang mengadopsi kebebasan di Barat), modernisasi cara berpakaian khususnya perempuan, melarang penggunaan peci, pelarangan jubah, pelarangan sorban (sarek), pelarangan azan (harus dengan bahasa Turki), penutupan madrasah, pelarangan jilbab, penggunaan nickname (lakap atau gelar), mengadaptasi kalender internasional (kalender Masehi) dan mengadopsi hukum-hukum sekuler. Tidak ketinggalan juga perubahan bahasa Arab ke bahasa Turki. Bahkan yang paling tragis adalah “pembantaian 100 ribuan ulama dan alimin”. Jalan yang ditempuh Said Nursi adalah mempertahankan prinsip-prisip dasar ajaran Islam dari trend materialistik dan ateistik.

Kelima alasan di atas inilah yang menjadi dasar penelitian ini, yakni pembicaraan mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda Said Nursi dalam membentuk manusia yang mulia, berakhlak mulia. Persoalan ini akan terkait secara langsung dengan persoalan politik dan sosial-kultur Said Nursi dalam membentuk pandangan dasar yang menjadi gagasan dasar atau ideologi menjelma menjadi doktrin­-doktrin dari Risale-i Nur. Pembahasan ini juga berupaya menjelaskan relevansinya dengan pembinaan akhlak generasi muda yang dapat diterapkan secara, teoritik dan praktek di masa sekarang dan masa depan.

Adapun di antara alasan pentingnya pemikiran Said Nursi di bidang pendidikan akhlak dapat diungkapkan beberapa pertimbangan sebagai berikut : Pertama, Risale-i Nur karya Said Nursi merupakan tafsir al-Qur’an yang secara konsisten membicarakan penguatan iman dan al-Qur’an dengan jalan ikhlas, takwa dan sedekah. Karya ini juga membahas secara mendalam mengenai akhlak Rasulullah dalam berbagai tulisannya Risale-i Nur yang berorientasi kepada perubahan pola pikir dan laku untuk memahami dan mengimani secara mendalam tanda-tanda hari kiamat dan keberadaan hari kiamat.

Kedua, masalah etika secara khusus dibahas pada Simposium Internasional di Turki yang ke-6 tahun 2002 yang dikoordinir oleh The Istanbul Foundation for Sciance and Culture. Di samping itu dalam sepanjang pelaksanaan Simposium dan diskusi panel oleh The Istanbul Foundation for Sciance and Culture ini selalu menyertakan tema etika. Satu buku kumpulan Simposium Internasional yang ke-6 mendorong perlunya membahas mengenai akhlak dan juga tulisan Faris Kaya yang mengungkapkan mengenai etika dalam Risalei-Nur. Etika yang dimaksud oleh Faris Kaya mengungkapkan bahwa akhlak dalam sejarah dunia memang sangat penting. (Faris, 2004, hlm. 8-10).

Ketiga, diasumsikan bahwa pemikiran akhlak Said Nursi memberikan peranan signifikan dalam aktivitas kehidupannya. Pemikiran semacam ini merupakan hasil refleksi dan pemahaman terhadap suatu teologi yang mendalam mengenai Asma Allah dan sifat­-sifat-Nya yang membentuk kerangka pikir dan sikap perilaku. Diyakini bahwa Said Nursi adalah sosok pemikir sekaligus sufi yang memadukan konteks teologi, tasawuf dan akhlak dalam realitas kehidupan. Paham ini diilhami kemutlakan Tuhan dalam diri manusia dengan catatan bahwa akal memiliki peran penting dalam refleksi untuk menyempurnakan keyakinan dari refleksi hati. Artinya paham yang dianut Said Nursi berdekatan dengan upaya ma’rifatullah dalam perspektif yang luas. Sementara itu dapat diasumsikan bahwa teologi Said Nursi adalah rasional-spritual. Maka, dalam konteks pendidikan akhlak selalu memadukan akal dan hati untuk melakukan pendekatan ajaran Islam secara universal.

Keempat, perkembangan ilmu dan teknologi. Yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan zaman saat ini adalah perkembangan ilmu, teknologi, komunikasi dan informasi. Kebutuhan-kebutuhan ini yang menyebabkan dunia semakin global. Selain berdampak positif juga berdampak negatif. Di antara dampak negatif globalisasi ini antara lain adalah semakin banyaknya alternatif bagi ukuran akhlak manusia yang cenderung bermuatan materialistik dan intelektualistik semata. Akibatnya, hal-hal yang bersifat spritualistik cenderung diabaikan. Dengan demikian, kemampuan memilih berbagai alternatif secara kritis melalui pemahaman, teologi rasional dan spritual semakin dinilai penting dan mendesak.

Kelima, tanda-tanda akhir zaman, pentingnya pengkajian ini juga disebabkan titik nadir masyarakat global berdasarkan paham keagamaan menunjukkan tanda-tanda akhir zaman. Dalam konteks itulah sebagai makhluk beragama harus mewaspadai itu dan berupaya mengantisipasi dan merubah pola pandangan hidup. Karena persoalan “krisis moral” merupakan entry point dari munculnya pembaharu (mujadid) untuk menyelamatkan umat dari “melupakan” Tuhan.

Berdasarkan pertimbangan beberapa pemikiran dan urgensi penelitian di atas maka dapat diambil pemahaman bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak menurut Said Nursi layak untuk dibahas, dikaji dan diungkap.

Rumusan Masalah

Sesuai latar belakang masalah sebagaimana di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

  1. Apa prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Bediuzzaman Said Nursi?
  2. Bagaimana relevansi prinsip-prinsip pendidikan akhlak menurut Bediuzzaman Said Nursi dengan pembinaan akhlak generasi muda ?

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui prinsip-prinsip pendidikan akhlak menurut Bediuzzaman Said Nursi.
  2. Untuk mengetahui relevansi prinsip-prinsip pendidikan akhlak Bediuzzaman Said Nursi dengan pembinaan generasi muda.

 

Kegunaan Penelitian

Setidaknya ada 2 (dua) kegunaan dari penelitian ini yaitu secara teoritis dan praktis. Secara teoritis, untuk memberikan informasi kepada peneliti tokoh Said Nursi lanjutan dalam mengkaji dan mengetahui tentang konsep pendidikan akhlak yang pernah dihasilkan oleh Said Nursi sebagai tokoh filosof sufi modern yakni sebagai upaya pengungkapan khazanah intelektual muslim abad ke-20an yang dapat dijadikan inspirasi dan motivasi bagi munculnya kejayaan Islam kembali.

Kemudian dalam kaitannya dengan ilmu pendidikan akhlak upaya penelitian ini akan bermanfaat untuk memberikan motivasi bagi diadakannya pembahasan-pembahasan lebih lanjut tentang akhlak Islam secara filosofis untuk menemukan teori baru di bidang pendidikan akhlak. Penelitian ini juga berguna sebagai salah satu bahan pemikiran untuk mengantisipasi bentuk pendidikan akhlak yang terintegrasi dalam semua disiplin bidang pendidikan.

Secara praktis, dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, maka ilmu pendidikan akhlak dapat memberikan manfaat untuk memberikan motivasi bagi pembahas-pembahas lanjutan yang berfungsi untuk memberikan informasi kepada masyarakat, mahasiswa, pelajar dan lain sebagainya, terkhusus bagi masyarakat luas yang ingin mengetahui tentang prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi. Penelitian ini dapat pula dijadikan sebagai salah satu bahan pemikiran untuk mengantisipasi bentuk pendidikan akhlak yang terintegrasi dalam semua bidang ilmu dan pendidikan.

Definisi Operasional

Guna mencapai pemahaman arah dari penelitian ini, maka ada beberapa istilah yang perlu diuraikan sebagai defenisi operasional di antaranya :

Istilah “Prinsip-prinsip” berasal dari bahasa Inggris principle secara leksikal berarti : 1) Dasar kebenaran; hukum-hukum sebab akibat; 2) tuntunan peraturan untuk tingkah laku moral (Hornby 1974, hlm. 664). Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata itu berarti “dasar, asas (kebenaran yang menjadi dasar berpikir, bertindak dan sebagainya)” (Departemen P dan K 1991, hlm. 788). Secara filosofis kata itu mengandung arti kebenaran-kebenaran yang fundamental dari suatu kandungan doktrin atau dasar apa saja yang berkaitan dengan tingkah laku manusia (Hasting t.th., 336). Pengulangan istilah prinsip dalam judul yaitu prinsip-prinsip dalam bahasa Inggris principles (dalam bentuk jamak) mengandung arti ada beberapa dasar, asas adalah jamak dari prinsip. Prinsip adalah suatu komitmen yang mendalam terhadap sesuatu yang diyakini kebenarannya.

Istilah “Pendidikan Akhlak” terdiri dari 2 (dua) kata yaitu pendidikan dan akhlak. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda, namun istilah pendidikan akhlak menunjukkan adanya proses pembentukan seorang manusia agar memiliki akhlak. Untuk memahami istilah ini, maka perlu memahami terlebih dahulu kata “Pendidikan”.

Dalam bahasa Arab istilah pendidikan digunakan untuk berbagai pengertian, antara lain tarbiyah, tahzib, ta’lim, ta’dib, siyasat, mawa’izh, ‘ada ta’awwud dan tadrib. Sedangkan untuk istilah tarbiyah, tahzib dan ta’dib sering diartikan pendidikan. Ta’lim diartikan pengajaran, siyasat diartikan siasat, pemerintahan, politik atau pengaturan. Muwa’izh diartikan pengajaran atau peringan. ‘Ada ta’awwud diartikan pembiasaan dan tadrib diartikan pelatihan.

Di antara mereka yang menjadikan istilah-istilah di atas untuk tujuan pendidikan yakni Ibn Miskawaih dalam tahzibul akhlak, Ibn Sina memberi judul salah satu bukunya kitab al siyasat, Ibn al-Jazzar al-Qairawani membuat judul salah satu bukunya berjudul siyasat al-shibyan wa tadribuhum, dan Burhan al-Islam al-Zarnuji memberikan judul salah satu karyanya Ta’lim al-Mula’allim tharik at-ta’alum. Pada dasarnya para ahli tidak mempersoalkan penggunaan istilah ini.

Al-Attas mendefinisikan pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia. Suatu proses “penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” secara bertahap “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan; dan “diri manusia” mengacu pada penerima proses dan kandungan itu (Al Attas 1994, hlm. 35).

            Istilah yang dikemukakan di atas mengandung tiga unsur dasar yang membentuk pendidikan, yaitu proses, kandungan, dan penerima. Tetapi semuanya itu belum lagi suatu definisi, karena unsur-unsur tersebut masih begitu saja dibiarkan tidak jelas. Lagi pula cara merumuskan kalimat yang dimaksudkan untuk dikembangkan menjadi suatu definisi sebagaimana di atas, memberikan kesan bahwa yang ditonjolkan adalah prosesnya (Al Attas 1994, hlm. 36). Jadi dapat dirumuskan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang secara bertahap ditanamkan ke dalam manusia.

Sedangkan kata “akhlak” dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan akhlak, moral, etika, watak, budi pekerti, tingkah laku, perangai dan kesusilaan. Akhlak jamak dari khuluq yang berarti adat kebiasaan (al-‘adat), perangi, tabi’at (at-jiyyat), watak (at-thab ), adab atau sopan santun (al-muru’at), dan agama (al-din). Istilah-istilah akhlak juga sering disetarakan dengan istilah etika. Sedangkan kata yang dekat dengan etika adalah moral.

Jadi dapat dipahami bahwa akhlak adalah kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara spontan, tanpa pemikiran atau pemaksaan. Sering pula yang dimaksud akhlak adalah semua perbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik dan buruk.

Dengan demikian yang dimaksud dengan istilah “Pendidikan Akhlak” dalam penelitian ini adalah “suatu proses menuju arah tertentu yang dikehendaki sesuai dengan landasan akhlak yang mengarahkan pada terciptanya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang (seperti Nabi) dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya”.

Istilah “Generasi Muda” secara etimologi berasal dari dua kata, yaitu generasi dan muda. Kata “generasi” berarti angkatan atau turunan (Dep P dan K 1999, hlm. 309); dan kata “muda” yang berarti belum lama ada (Dep P dan K 1999, hlm. 667). Generasi muda berarti angkatan atau turunan yang belum lama hidup. Dalam pengertian pertama ini nampaknya belum begitu jelas apa esensi generasi muda yang dimaksud dalam pembahasan ini.

Kata generasi muda tidak cukup diartikan berdasarkan ilmu kebahasaan (etimologi) saja, tetapi perlu dilihat arti secara terminologi (istilah). Menurut Suraiya, generasi muda adalah bagian suatu generasi yang sedang menjalani giliran mengelola kehidupan masyaranat dan kenegaraan (Suraiya 1985, hlm. 2). Suryono Sukanto mengartikan generasi muda adalah sekelompok orang muda yang lahir dalam jangka waktu tertentu (Suryono 1993, hlm. 201). Selanjutnya Hartini dan Kartasapoetra menamakan generasi muda sebagai angkatan kaum muda (Hartini dan Kartasapoetra 1992, hlm. 166).

Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan, bahwa generasi muda adalah kelompok, golongan, angkatan, kaum muda yang hidup dalam jangka waktu tertentu, di mana mereka memiliki tugas untuk melanjutkan pembangunan bangsanya sebagaimana tugas-tugas para angkatan yang hidup sebelum mereka.

Dari beberapa defenisi operasional di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian judul tesis ini adalah “Suatu komitmen yang mendalam mengenai kehidupan menuju arah terciptanya perilaku lahir dan batin yang seimbang (seperti Nabi) bagi generasi muda menurut pemahaman Bediuzzaman Said Nursi”.

 

Tinjauan Pustaka

Berdasarkan kajian dan pemeriksaan kepustakaan yang ada tentang Said Nursi, diakui bahwa ada beberapa peneliti yang telah menulis dan mengkaji sebagian pemikiran Said Nursi, khususnya dalam berbagai aspek. Dalam bentuk kajian tesis terdapat sekitar 8 negara yang membahas mengenai Said Nursi.11 Terkait penelitian ini peneliti akan meninjau beberapa pustaka sebagai berikut :

  1. Kajian “Model-model Pendidikan Bediuzzaman” oleh Halit Ertugrul (1994), telah memperkenalkan karya tentang Bediuzzaman Said Nursi berjudul ; “Egitimde Bediuzzaman Modeli”. Dalam karya berbahasa Turki ini, Ertugrul membuat suatu kesimpulan, bahwa Said Nursi meliliki model tersendiri dalam pendidikan Islam, yaitu penekanan terhadap aspek akidah, menggunakan metode pengulangan, pendalaman, dan pemahaman. Keutamaan model pendidikan Said Nursi adalah terletak pada kemampuan ia menggunakan argumentasi rasional untuk menunjukkan hakikat kebenaran.
  2. Tulisan karya Adem Tatli, 1992 dalam sebuah makalah yang berjudul : “Badiuzzanian Education Method”. Makalah ini dipersentasikan pada seminar Simposium ke II tentang Bediuzzaman Said Nursi pada 27-29 September 1992 di Istambul. Suatu catatan penting dari makalah ini memuat tentang 13 tawaran Said Nursi untuk dijadikan basis epistemologis penegakkan sistem pengajaran.
  3. Sementara Sakir Gozutok (2000, hal. 404-412), dalam makalahmya yang berjudul; The Risale-i Nur in The Context of Educational Principles and Methods”, menemukan beberapa metode pendidikan yang dipakai Said Nursi dalam Risale-i Nur, yaitu The Direct Lecturing Method, The Question and Answer Method, The Active Learning Method, dan Observational Method (External Observation and Inward Observation).

Walaupun dua karya tersebut cukup signifikan untuk melengkapi data penulisan tesis ini, namun sisi kelemahannya mungkin terletak pada titik tekan Said Nursi dalam membentuk berkepribadian berakhlak mulia tidak dilakukan oleh para peugkaji-pengkaji Said Nursi secara detail, baik dalam kegiatan pendidikan informal, maupun dalam bentuk formal. Ertugrul dan Tatli masih dalam tataran umum mengkaji pola pendidikan dihubungkan dengan basis penegakan sistem pengajaran, meliputi landasan filosofis, kurikulum, guru, metode, siswa, pengelolaan kelas, dan aktifitas pergerakan siswa. Sedangkan pada tahap konseptualisasi nilai-nilai akhlak, realisasi nilai-nilai tersebut belum dilakukan secara maksimal, atau pengkajian tentang akhlak belum dilakukan secara mendalam.

Pemetaan kajian di atas, dimaksudkan ingin melihat penelitian-penelitian yang sudah dilakukan untuk mendukung dan diharapkan menjelaskan posisi penulis dalam mengambil fokus kajian penulis. Semua kajian di atas, jika diteliti secara langsung atau tidak langsung menyinggung persoalan keimanan, akhlak dan ibadah yang menjadi fokus dari kajian penulis dalam membangun prinsip-prinsip pendidikan akhlak secara teologis.

Dari beberapa literatur dan tulisan mengenai pemikiran Said Nursi di atas, dapat penulis tegaskan bahwa sejauh pengamatan kami pembahasan tentang prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi belum ada. Karena itu, penelitian kepustakaan yang akan kami lakukan ini adalah suatu usaha untuk mengkaji secara mendalam mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi tersebut.

Penelitian dan karya ilmiyah yang dikemukakan diatas tidak sama dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Perbedaan penelitian dan karya ilmiyah tersebut dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah pada materi pembahasannya. Penelitian sebelumnya pada umumnya membahas masalah mosel-model pendidikan, metodologi pendidikan, dan prinsip metode pendidikan, sedangkan penelitian yang akan penulis lakukan adalah mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi.

Kerangka Teori

Dalam rangka memperjelas arah dari penelitian ini, khususnya yang berkaitan dengan “prinsip-prinsip pendidikan akhlak”, jika dikaji secara teoritis, maka dalam penelitian ini secara spesifik peneliti mengemukakan teori-teori yang berhubungan dengan pendidikan akhlak sebagai berikut :

 “Teori pendidikan akhlak” secara teoritis pendidikan akhlak pada dasarnya bertitik tolak dari urgensi akhlak dalam kehidupan. Tokoh yang menganggap pentingnya pendidikan akhlak adalah Oemar Bakry, menurutnya “ilmu akhlak akan menjadikan seseorang lebih sadar lagi dalam tindak tanduknya. Mengerti dan memaklumi dengan sempurna faedah berlaku baik dan bahaya berbuat salah” (Bakry 1993, hlm. 13-14). Mempelajari akhlak setidaknya dapat menjadikan orang baik. Kemudian dapat berjuang di jalan Allah demi agama, bangsa dan negara. Berbudi pekerti yang mulia dan terhindar dari sifat-sifat tercela dan berbahaya.

Tokoh lain yang menganggap pentingnya pendidikan akhlak adalah Syed Muhammad Nauquib al-Attas dengan menggunakan kata adab atau ta’dib. Al-Attas mengatakan bahwa kebenaran metafisis sentralitas Tuhan sebagai Realitas Tertinggi sepenuhnya selaras dengan tujuan dan makna adab dan pendidikan sebagai ta’dib. Al-Attas menganggap bahwa proses pendidikan sebagai penanaman adab ke dalam diri, sebuah proses yang tidak dapat diperoleh melalui suatu metode khusus. (Lihat Wan Daud 2003, hlm. 77-79).

Selain itu, menurut Ibn Miskawaih akhlak merupakan suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa berpikir atau pertimbangan secara mendalam. Keadaan seperti ini dapat disebut sebagai karekter. Menurutnya keadaan ini ada dua jenis. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak. Kedua, tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Berdasarkan kedua jenis keadaan ini cendikiawan klasik sering berbeda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa karakter dimiliki oleh jiwa yang tidak berpikir (nonrasional). Sementara yang lain berpendapat karakter itu dimiliki oleh jiwa berpikir (rasional).

Berdasarkan kedua jenis karakter dan kedua pendapat di atas Ibn Miskawaih menegaskan bahwa akhlak yang alamiah dan sudah menjadi watak dapat berubah cepat atau lambat melalui disiplin serta nasehat-nasehat mulia. Karena menurutnya pendapat pertama menyebabkan tidak berlakunya fakultas nalar, tertolaknya segala bentuk norma dan bimbingan, kecenderungan orang kepada kekejaman dan kelalaian serta banyak remaja dan anak-anak berkembang liar tanpa nasehat dan pendidikan. Ini tentu saja sangat negatif (Ibn Miskawaih 1997, him. 56-57). Berdasarkan inilah Ibn Miskawaih menganggap perlu adanya pembinaan jiwa secara intentif dengan daya-daya akal. Pembinaan inilah yang dapat dikatakan sebagai (tahzih al-Akhlaq) pendidikan akhlak.

Menurut Suwito yang mengutip pendapat M. Amin Abdullah bahwa kalau dibandingkan dengan mahzab pemikiran di bidang pendidikan akhlak maka secara umum pendidikan akhlak dapat dibagi dua, pendidikan akhlak mistik dan pendidikan akhlak rasional. Pembedaan pendidikan akhlak kepada mistik dan rasional bukannya tidak memiliki konsekuensi. Sebagaimana dalam teologi rasional, akhlak rasional dapat membawa konsekuensi bagi pertumbuhan kreatifitas dan inisiatif, sedangkan akhlak mistik kurung mendorong manusia untuk dinamis (Suwito 1995, hlm.10).

Oleh sebab itulah, yang dimaksud dengan pendidikan akhlak rasional yang memberi lebih kuat kepada pendidikan daya pikir (rasio) manusia, sedangkan pendidikan akhlak mistik memberikan porsi lebih kuat kepada pendidikan daya rasa pada diri manusia. Distingsi ini bermanfaat bagi konsekuensi yang ditimbulkan. Konsekuensi pada pendidikan akhlak rasional memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia dinamis. Adapun konsekuensi yang diperoleh dari pendidikan akhlak mistik kurang memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia yang dinamis.

Namun, pendidikan akhlak tidak masuk dalam kategori institusi sebagaimana di atas, karena hakekat pendidikan akhlak adalah inti semua jenis pendidikan. Pendidikan akhlak mengarah pada terciptanya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya. Dengan demikian, pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik dalam pengertian harus menjadi nama bagi suatu mata pelajaran atau lembaga melainkan terintegrasi ke dalam berbagai mata pelajaran atau lembaga.

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa pendidikan akhlak dalam penelitian ini ditinjau melalui 2 (dua) aliran, yakni rasional dan mistik (Abdullah 1997, hlm. 125). Akhlak termasuk unsur immaterial, yakni unsur rasio dan rasa. Oleh sebab itulah, yang dimaksud dengan pendidikan akhlak rasional yang memberi lebih kuat kepada pendidikan daya pikir (rasio) manusia, sedangkan pendidikan akhlak mistik memberikan porsi lebih kuat kepada pendidikan daya rasa pada diri manusia. Distingsi ini bermanfaat bagi konsekuensi yang ditimbulkan terhadap perlaku manusia.

Karena itu, maka konsekuensi pada pendidikan akhlak rasional memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia dinamis. Adapun konsekuensi yang diperoleh dari pendidikan akhlak mistik kurang memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia yang dinamis.

Namun, dalam kajian penelitian ini justru keduanya dipadukan untuk melengkapi satu dengan yang lainnya. Secara teoritis dapat dikatakan bahwa pendapat Amin Abdullah menjadi landasan kajian ini dalam memadukan aspek-aspek akhlak dalam diri manusia.

 

 

Metodologi Penelitian

Untuk memperoleh data yang diperlukan, mengolah dan menganalisis data, maka langkah-langkah yang perlu dijelaskan terkait dengan hal-hal teknis dalam metodologi penelitian ini, sebagai berikut :

 

Jenis Penelitian

Penelitian ini dari segi objeknya adalah penelitian pustaka (library research) dan penelitian lapangan (field research). Disebut penelitian pustaka karena objeknya adalah pemikiran yang tertuang dalam bahan-bahan pustaka berupa buku-buku, arsip-arsip, dokumen-dolumen, jurnal dan majalah ilmiah. Disebut penelitian lapangan karena objeknya adalah pengamatan secara langsung aktivitas keagamaan generasi muda Turki yang mengarah kepada model kajian generasi muda.

Penelitian ini dari segi objek dan tujuannya adalah deskriptif kualitatif. Disebut deskriptif karena tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendiskripsikan pemikiran-pemikiran yang terdapat di dalam buku-buku dan dokumen-dokumen, menjelaskan dan menggambarkan hasil penelitian yang dilakukan pada objek tertentu secara jelas dan sistematis. Disebut kualitatif adalah karena di dalam penjelasan dan uraian-uraiannya tidak menggunakan angka statistik tetapi dengan fakta dan argumentasi.

 

Sumber Data

Sumber data pada penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Adapun data primer adalah data yang langsung dari sumber pertamanya, yaitu pengkajian kitab Risale-i Nur sejumlah lebih kurang 6000 halaman. Penelitian ini mengambil sumber asli yakni dalam bahasa Turki dan Arab. Adapun sumber pemikiran Said Nursi yang dijadikan rujukan adalah 2 (dua) karya dari kumpulan Risale-i Nur. Kedua karya tersebut :

  1. “Lemaalar” (kumpulan cahaya) memuat sebanyak 33 kumpulan cahaya. Berisi ajakan untuk merasakan tetesan cahaya Ilahi yang memantul di setiap aspek kehidupan baik yang profan maupun yang sakral, lahir maupun bathin dan menerangkan bahwa ada hikmah dibalik peristiwa, entah itu anugerah atau bencana yang mana hikmah tersebut akan menyempurnakan kehidupan (spiritual) manusia. (Said Nursi, 2003a). Buku ini mengandung 33 cahaya, membahas peristiwa yang menimpa para Nabi Allah SWT, mengenai kemukjizatan Rasulullah, keutamaan munajat (doa), tentang kabar ghaib dari ayat al-Quran, minhaj as-Sunnah, ma’rifat terhadap Allah dan Rasulullah, pembahasan tentang akhlak, dan lain-lainnya.
  2. “Mektubat” (kumpulan surat-surat) merupakan kumpulan surat-surat 1928-1932 memuat jawaban dan penjelasannya seputar isu-isu penting dalam, Islam tentang isu­-isu teologis, dan kehidupan spiritual yang mana dijelaskan dengan penjelasan yang sangat argumentatif dengan dalil yang menguatkan (Said Nursi, 2003b). Buku ini memuat tentang tingkat kehidupan, rahmat dalam kematian dan kemalangan, Asma Allah SWT, mukjizat Rasulullah SAW, makna mimpi, hikmah penciptaan setan, mengapa harus ada mukjizat dan lain sebagainya. Penyajian buku ini menjawab dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan dengan dalil naqli dan argumentasi serta pendekatan analogi yang aktual dan relevan.

Kedua kitab di atas adalah bagian dan koleksi Risale-i Nur merupakan tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh Said Nursi dalam bahasa Turki dan Arab. Fokusnya kedua kitab ini, walau nanti juga akan diikuti dengan 12 kitab lainnya dalam pembahasan kajian penelitian ini.

Di samping Risale-i Nur, sebagai sumber sekunder digunakan sebagai pendukung ayat-ayat Al-Qur’an dalam kajian ini, dan bila dipandang perlu dilakukan penafsiran untuk mendukung analisa dan pemahaman yang lebih mendalam. Selain itu, yang dapat dijadikan sumber sekunder adalah tulisan-tulisan yang membicarakannya tentang pendidikan akhlak. Adapun yang dapat digunakan sebagai sumber sekundernya berupa buku, majalah, koran, enseklopedia, monograf, jurnal ilmiah, makalah-makalah hasil simposium Internasional dan seminar Internasional hasil-hasil penelitian dan media elektronik (program komputer, CD-ROM atau internet) yang berhubungan dengan penelitian ini sebagai data pendukung fokus penelitian ini.

 

Teknik Penulisan

Teknis penulisan tesis ini berpedoman pada buku tuntutan PPS IAIN Raden Fatah Palembang yang ditulis oleh M. Sirozi dan kawan-kawan (Edisi Revisi) Pedoman Penulisan Tesis, Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 2005. Setelah data selesai dikumpulkan dengan lengkap, selanjutnya data tersebut dianalisa. Analisa merupakan tahap yang penting dan menentukan, karena dalam tahap ini data dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa sampai berhasil dalam menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab persoalan-persoalan dalam penelitian. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa kualitatif Dalam penelitian ini data yang sudah dikumpulkan diolah untuk diklasifikasikan sesuai dengan jenis datanya. Apakah data-data tersebut termasuk sumber primer atau sumber sekunder.

Adapun teknis penulisan tesis ini melalui langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan datanya dimulai dengan proses pengumpulan kitab-kitab dan buku-buku yang berkaitan dengan Risale-i Nur dalam konteks pendidikan akhlak. Setelah data-data terkumpul maka data diteliti untuk mencari fakta yang relevan mengenai pendidikan akhlak menurut Said Nursi. Selanjutnya membaca data-data tersebut sebagai langkah identifikasi konsep-konsep dasar dari pemikiran pendidikan akhlak Said Nursi.

Data kemudian dikelola secara mendalam, pengelolaan analisa ini dimaksudkan untuk menganalisa secara mendalam pemikiran-pemikiran Said Nursi tentang konsep pendidikan akhlak, menganalisa apa-apa saja pemikiran Said Nursi. Kemudian pemikiran Said Nursi yang dijadikan objek direkonstruksi secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, verifikasi, serta menganalisa bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.

Sebagaimana dalam disebutkan bahwa data primer penelitian ini adalah Risale-i Nur orisinil adalah bahasa Turki dan Arab, maka perlu dijelaskan secara teknis penganalisaan bahan-bahan dilakukan dengan cara komperasi bahasa yakni digunakan kombinasi Risale-i Nur yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris, – yang dalam penelitian ini diposisikan data sekunder – hal ini dimaksudkan untuk mempermudah verifikasl dan menarik konklusi.

Keterbatasan Penelitian

Sebagal kajian pustaka penelitian ini tetap memiliki keterbatasan yang patut disampaikan di sini, keterbatasan penelitian ini ada faktor bahasa dari segi teks Risale-i Nur, karena Risale­i Nur orisinil adalah bahasa Turki. Sehingga pembahasan penelitian ini digunakan kombinasi Risale-i Nur sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Faktor Tebalnya Risale-i Nur, faktor ini juga menyebabkan kesulitan dalam penelitian ini karena jumlah halaman mencapai 6000 halaman yang terdiri dari 14 jilid. Untuk itu, penelitian ini hanya menggunakan sebagian dari Risale-i Nur yakni 2 kitab saja. Hal ini juga disebabkan faktor keterbatasan waktu studi, keterbatasan waktu studi ini lebih disebabkan adanya keinginan mengkaji risalah nur ini dari bahasa aslinya, yakni bahasa Turki. Namun, waktu satu tahun yang digunakan tidaklah mencukupi. Karena 6 bulan pertama digunakan untuk belajar bahasa Turki dan 6 bulan mulai merancang penelitian dan penulisan, situasi itu pun tidaklah dapat dilakukan secara optimal, karena banyak waktu yang digunakan untuk mengikuti berbagai kegiatan yang diprogramkan oleh The IstanbuFoundation for Sciance and Culture. Keterbatasan penelitian ini perlu dijelaskan untuk menghindari faktor-faktor yang mungkin mengancam objektivitas atau validitas penelitian dan generalisasinya.

Sistematika Penulisan

Dalam pembahasan tesis ini terdiri dari beberapa bab, dari tiap-tiap bab juga terdiri dari beberapa kerangka-kerangka pembahasan, maka untuk mengetahui masing-masing bab tersebut adalah sebagai berikut :

Bab Pertama, bab ini merupakan bab pendahuluan, yang terdiri dari Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Defenisi Operasional, Tinjauan Pustaka, Kerangka Teori, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

Bab Kedua, bab ini membahas mengenai pendidikan akhlak dan pembinaan generasi muda. Adapun kajiannya tentang pendidikan akhlak mencakup ; pengertian dan tujuan, ruang lingkup, dan signifikansinya.  Sedangkan kajian pembinaan generasi muda mencakup ; pengertian dan batasan, karakteristik, dinamika kehidupan, dan kedudukan akhlak dalam kehidupan generasi muda.

Bab Ketiga, bab ini membahas mengenai biografi singkat Said Nursi. Kajiannya meliputi masa kecil dan pendidikan Said Nursi mencakup ; latar belakang keluarga dan riwayat pendidikan, selanjutan kegiatan keagamaan, kegiatan politik dan terakhir diuraikan tentang karya tulis Said Nursi.

Bab Keempat, bab ini membahas mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak mencakup ; menguatkan keimanan, berpegang teguh pada al-Qur’an, memahami hakekat penciptaan manusia, memahami alam semesta, memahami asma’ al-husna, mengetahui tanda-tanda hari kiamat, meyakini hari kiamat, meneladani Nabi Muhammad Saw., dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah. Bagian selanjutnya difokuskan bahasan pada prinsip-prinsip pendidikan akhlak dengan pembinaan generasi muda yang mencakup ; relevansi dengan akidah, pandangan hidup, tujuan hidup, ibadah, tingkah laku, situasi kejiwaan, lingkungan, dan tahapan perkembangan kepribadian generasi muda.

Bab Kelima, membahas penutupan berisikan kesimpulan, saran-saran, implikasi dan rekomendasi.

Bab 2

TINJAUAN TEORITIS

 PENDIDIKAN AKHLAK DAN GENERASI MUDA

Kajian ini dibagi menjadi 2 (dua) fokus yaitu mengenai pendidikan akhlak dan pembinaan generasi muda yang memiliki cakupan yang luas, jika ditinjau dari berbagai perspektif kajian. Namun pada kajian tentang pendidikan akhlak mencakup ; pengertian dan tujuan, ruang lingkup, dan signifikansinya. Sedangkan kajian pembinaan generasi muda mencakup ; pengertian dan batasan, karakteristik, dinamika kehidupan, dan kedudukan akhlak dalam kehidupan generasi muda.

Pengertian dan Tujuan Pendidikan Akhlak

Pengertian Pendidikan Akhlak

Dalam bahasa Arab istilah pendidikan digunakan untuk berbagai pengertian, antara lain tarbiyah, tahzib, ta’lim, ta’dib, siyasat, mawa’izh, ‘ada ta’awwud dan tadrib. Sedangkan untuk istilah tarbiyah, tahzib dan ta’dib sering diartikan pendidikan. Ta’lim diartikan pengajaran, siyasat diartikan siasat, pemerintahan, politik atau pengaturan. Muwa’izh diartikan pengajaran atau peringan. ‘Ada ta’awwud diartikan pembiasaan dan tadrib diartikan pelatihan.

Di antara mereka yang menjadikan istilah-istilah di atas untuk tujuan pendidikan yakni Ibn Miskawaih dalam bukunya berjudul tahzibul akhlak, Ibn Sina memberi judul salah satu bukunya kitab al siyasat, Ibn al-Jazzar al-Qairawani membuat judul salah satu bukunya berjudul siyasat al-shibyan wa tadribuhum, dan Burhan al-Islam al-Zarnuji memberikan judul salah satu karyanya Ta’lim al-Mula’allim tharik at-ta’alum. Walau terjadi berbagai perbedaan, namun para ahli tidak mempersoalkan penggunaan istilah di atas. Karena, pada dasarnya semua pandangan yang berbeda itu bertemu dalam suatu kesimpulan awal, bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih baik.

Memang secara fakta bahwa istilah “pendidikan” telah menempati banyak tempat dan didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai pakar, yang banyak dipengaruhi pandangan dunia masing-masing. Para pakar sependapat bahwa Pendidikan lebih daripada sekedar pengajaran. Kalau pengajaran dapat dikatakan sebagai “suatu proses transfer ilmu belaka”, namun pendidikan merupakan “transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya”. Dengan demikian, pengajaran lebih berorientasi pada pembentukan “tukang-tukang” atau para spesialis yang terkurung dalam ruang spesialisasinya yang sempit, karena itu, perhatian dan minatnya lebih bersifat teknis. Artinya, perbedaan pendidikan dengan pengajaran terletak pada “penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran clan kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan keahlian” (Azra 2000, hlm. 3-4).

Mengambil makna dari pandangan Azra di atas, artinya pendidikan secara umum memuat sebuah usaha dan cara-cara yang dipersiapkan oleh pelaku pendidikan (Baca ; guru, pendidik) dengan persiapan yang matang dan penekanan-penekanan menuju ke arah proses transformasi nilai dan pembentukan kepribadian yang sesungguhnya tidak mudah dilaksanakan.

            Jika kita melihat sejarah, “pendidikan” secara istilah, seperti yang lazim dipahami sekarang belum dikenal pada zaman Nabi. Tetapi usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh Nabi dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberi contoh, melatih keterampilan berbuat, memberi motivasi dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pelaksanaan ide pembentukan pribadi muslim itu, telah mencakup arti pendidikan dalam pengertian sekarang. Orang Arab Mekkah yang tadinya menyembah berhala, musyrik, kafir, kasar dan sombong maka dengan usaha dan kegiatan Nabi mengislamkan mereka, lalu tingkah laku mereka berubah menjadi menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa, mukmin, muslim, lemah lembut dan hormat pada orang lain.

Dari kegigihan usaha Rasulullah SAW tersebut, mereka telah berkepribadian muslim sebagaimana yang dicita-citakan oleh ajaran Islam dengan itu berarti Nabi telah mendidik, membentuk kepribadian yaitu kepribadian muslim dan sekaligus berarti bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang pendidik yang berhasil. Sehingga jelaslah kegigihan tersebut mencerminkan upaya menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia (Arifin 1993, hlm. ix), yaitu potensi untuk selalu cenderung kepada kebaikan dan ridha Allah SWT sebagai jalan yang dapat membahagiakan kehidupan mereka di dunia dan akhirat.

Al-Attas mendefinisikan pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia. Suatu proses “penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” secara bertahap “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan; dan “diri manusia” mengacu pada penerima proses dan kandungan itu (Al-Attas 1994, hlm. 35).

            Istilah yang dikemukakan di atas mengandung tiga unsur dasar yang membentuk pendidikan, yaitu proses, kandungan, dan penerima. Tetapi semuanya itu belum lagi suatu definisi, karena unsur-unsur tersebut masih begitu saja dibiarkan tidak jelas. Lagi pula cara merumuskan kalimat yang dimaksudkan untuk dikembangkan menjadi suatu definisi sebagaimana di atas, memberikan kesan bahwa yang ditonjolkan adalah prosesnya (Al-Attas 1994, hlm. 35-36). Jadi dapat dirumuskan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang secara bertahap ditanamkan ke dalam manusia.

Sedangkan kata “Akhlak” dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan akhlak, moral, etika, watak, budi pekerti, tingkah laku, perangai dan kesusilaan. Akhlak jamak dari khuluq yang berarti adat kebiasaan (al-‘adat), perangi, tabi’at (at-jiyyat), watak (at-thab), adab atau sopan santun (al-muru’at), dan agama (al-din). Istilah-istilah akhlak juga sering disetarakan dengan istilah etika. Sedangkan kata yang dekat dengan etika adalah moral.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikan tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam al-Qur’an. Yang ditemukan hanyalah bentuk tunggal kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam al-Qur’an surat al-Qalam ayat: 4. Ayat tersebut dinilai sebagai konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul: “Sesungguhnya engkau [Muhammad] berada di atas budi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam [68]: 4). Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi SAW, dan salah satunya yang paling populer adalah : “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bertitik tolak dari pengertian bahasa di atas, yakni akhlak sebagai kelakuan, kita selanjutnya dapat berkata bahwa akhlak atau kelakuan manusia sangat beragam, dan bahwa firman Allah berikut ini dapat menjadi salah satu argumen keanekaragaman tersebut, dalam al-Qur’an : “Sesungguhnya usaha kamu (hai manusia) pasti  amat beragam” (QS. Al-Lail [92]: 4). Keanekaragaman tersebut dapat ditinjau dari berbagai sudut, antara lain nilai kelakuan yang berkaitan dengan baik dan buruk, serta dari objeknya, yakni kepada siapa kelakuan itu ditujukan.

Sedangkan kata etika berasal dari bahasa Yunani Kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti, tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, dan cara berpikir. Dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adat kebiasaan (Bertens, 2004, him. 4). Kata yang dekat dengan etika adalah moral. Kata moral berasal dari bahasa Latin mos dan jamaknya mores yang berarti kebiasaan atau adat. Jadi menurut Bertens kata “etika” sama dengan etimologi “moral”, karena keduanya berasal dari kata yang berarti adat kebiasaaan. Hanya bedanya “etika” dari bahasa Yunani dan “moral” dari bahasa Latin. Dalam bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesia kata etika dan moral sangat berdekatan dengan istilah akhlak dari bahasa Arab.

Terkait masalah istilah dalam bahasa Indonesia dikenal istilah “etika dan etiket”. Etika disini berati moral. Etiket berarti sopan santun. Etiket juga berarti secarik kertas yang ditempelkan pada botol atau kemasan barang. Jika dari asal usulnya, kedua istilah ini tidak ada hubungannya. Etika dalam bahasa Inggris adalah ethics sedangkan etika adalah etiquette. Kedua istilah ini memiki persamaan dan perbedaan. Dari segi persamaan. Pertama, sama-sama menyangkut perilaku manusia. Kedua, sama-sama mengatur perilaku manusia secara normatif.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata Etika dijelaskan dengan membedakan tiga arti 1) Ilmu tentang yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), 2) Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; 3) Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Menurut para ahli masa lalu (al-qudama). Akhlak adalah kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara spontan, tanpa pemikiran atau pemaksaan. Sering pula yang dimaksud akhlak adalah semua perbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik dan buruk.

Akhlak disebut juga ilmu tingkah laku atau perangai (‘ilm al-suluk), atau tahzib al­akhlaq (falsafat akhlak) atau al hikmah al-amaliyat atau al hikmat al khuluqiyyat. Yang dimaksud dengan ilmu tersebut adalah pengetahuan tentang keutamaan-keutamaan dan cara memperolehnya, agar jiwa bersih dan pengetahuan tentang kehinaan-kehinaan jiwa untuk mensucikannya.

Sedangkan menurut Imam al-Ghazali berpendapat bahwa “Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan tanpa melalui maksud untuk memikirkan lebih lama” (Mahyuddin 1996, hlm. 4). Sedangkan Asmaran cenderung melihat akhlak merupakan bawahan sejak lahir yang tertanam di dalam jiwa manusia. Asmaran (1994), mendefinisikan “akhlak itu adalah sifat-sifat yang dibawah manusia sejak lahir, yang tertanam di dalam jiwanya dan selalu ada pada dirinya. Sifat itu dapat dilihat dari perbuatannya. Perbuatannya yang baik disebut akhlak mulia, dan perbuatan yang buruk disebut akhlak yang buruk atau tercela. Baik atau buruknya suatu akhlak tergantung pda pembinaannya” (Asmaran 1994, hlm.1).

Ditinjau dari segi sifatnya, akhlak terbagi dua macam, yakni akhlak yang baik, disebut akhlaqul mahmudah; dan akhlak yang tercela, disebut akhlaqul mazmumah (Barmawie 2001, hlm.22). Kemudian dilihat dari segi sasarannya, akhlak kepada sesama manusia dan akhlak kepada lingkungan. Akhlaqul mahmudah juga terbagi lagi beberapa macam, diantaranya adalah:

  1. Al-Amanah, artinya jujur
  2. Al-Afwu, artinya pema’af
  3. Al-khusu’, artinya menghormati tamu
  4. Al-Hilmu, artinya tidak melakukan maksiat
  5. Al-Adli, artinya bersifat adil
  6. Al-Hifafah, artinya memelihara kesucian
  7. Al-Hifafah, artinya memelihara kesucian
  8. Ar-Rahman, artinya bersifat belas kasih
  9. At-Ta’awun, artinya suka menolong (Barmawie 2001, hlm.23).

            Dari pengertian di atas, pada hakikatnya akhlak menurut al-Ghazali harus mencakup dua syarat, yaitu: Pertama, Perbuatan itu harus konstan yaitu dilakukan berulang kali (kontinu) dalam bentuk yang sama sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan yang meresap dalam jiwa. Kedua, Perbuatan yang konstan itu harus tumbuh dengan mudah sebagai wujud refleksi dari jiwanya tanpa pertimbangan dan pemikiran yaitu bukan karena adanya tekanan-tekanan atau paksaan dan pengaruh dari orang lain.

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa akhlak merupakan suatu cerminan atau tolak ukur terhadap setiap sikap, tindakan, cara berbicara atau pola tingkah laku seseorang itu baik atau buruk, baik yang berhubungan dengan diri sendiri, terhadap sesama manusia, akhlak terhadap Allah Swt, maupun terhadap lingkungan sekitarnya. Jadi akhlak merupakan fondasi atau dasar yang utama dalam pembentukan pribadi manusia yang seutuhnya, agar setiap umat Islam mempunyai budi pekerti yang baik (berakhlak mulia), bertingkah laku dan berperangai yang baik sesuai dengan ajaran Islam.

Berdasarkan penjelasan di atas dalam penelitian ini arti kata akhlak bisa disamakan dengan kata etika, moral dan etiket. Namun hanya kata akhlak dan etika yang mempunyai maksud sama ketika menyangkut perilaku lahir dan batin manusia. Karena, itu dalam penelitian ini, akhlak yang dimaksud adalah “pengetahuan menyangkut perilaku lahir dan batin manusia”.

Penjelasan di atas menggiring pemahaman bahwa istilah pendidikan akhlak dimaksud dalam penelitian ini adalah “suatu kegiatan pendidikan yang disengaja untuk perilaku lahir dan batin manusia menuju arah tertentu yang dikehendaki“.

 

Tujuan Pendidikan Akhlak

Berbicara masalah tujuan pendidikan akhlak sama dengan berbicara tentang pembentukan akhlak, karena banyak sekali dijumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak. Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam (al-Abrasyi 1974, hlm. 15). Demikian pula Ahmad D Marimba berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap Muslim, yaitu untuk menjadi hamba Allah yakni hamba yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan memeluk Islam (Marimba 1980, hlm.48-49).

            Akan tetapi, sebelum kita lanjutkan tentang tujuan pendidikan akhlak ada masalah yang perlu kita jawab terlebih dahulu dengan seksama, yaitu apakah akhlak itu dapat dibentuk atau tidak?. Menurut sebagian ahli mengatakan bahwa akhlak itu tidak perlu dibentuk karena akhlak adalah instinct (Gharizah) yang dibawa manusia sejak lahir (Mansyur 1961, hlm. 91). Bagi golongan ini bahwa masalah akhlak adalah pembawaan dari manusia sendiri, dan dapat juga berupa kata hati atau intuisi yang selalu cenderung kepada kebenaran. Dengan pandangan seperti ini, maka akhlak akan tumbuh dengan sendirinya, walaupun tanpa dibentuk atau diusahakan. Kelompok ini lebih lanjut menduga bahwa akhlak adalah gambaran bathin sebagaimana terpantul dalam perbuatan lahir. Perbuatan lahir ini tidak akan sanggup mengubah perbuatan bathin. Orang yang bakatnya pendek tidak dapat dengan sendirinya meninggikan dirinya, demikian pula sebaliknya (Al Ghazali t.t., hlm. 54).

            Selanjutnya ada pula pendapat yang mengatakan bahwa akhlak adalah hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan, dan perjuangan keras dan sungguh-sungguh (Al Ghazali t.t., hlm. 90). Kelompok yang mendukung pendapat yang kedua ini umumnya datang dari ulama-ulama Islam yang cenderung kepada akhlak. Ibnu Maskawaih, Ibnu Sina, al-Ghazali dan lain-lain termasuk pada kelompok yang mengatakan bahwa akhlak adalah hasil usaha (muktasabah).

            Imam al-Ghazali misalnya mengatakan bahwa: “Seandainya akhlak itu tidak dapat menerima perubahan, maka batallah fungsi wasiat, nasihat dan pendidikan. Dan tidak ada pula fungsinya hadits nabi yang mengatakan “perbaikilah akhlak kamu sekalian” (Al Ghazali t.t., hlm. 54). Pada kenyataannya di lapangan usaha-usaha pembinaan akhlak melalui berbagai lembaga pendidikan dan melalui berbagai macam metode terus dikembangkan. Ini menunjukkan bahwa akhlak memang peril dibina dan pembinaan ini ternyata membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah dan Rasul-NYa, hormat kepada ibu bapak, saying kepada makhluk Tuhan dan seterusnya.

Akan tetapi keadaan sebaliknya juga menyatakan bahwa anak-anak yang tidak dibina akhlaknya atau dibiarkan tanpa bimbingan, arahan, dan pendidikan, terntaya menjadi anak-anak yang nakal, mengganggu masyarakat, melakukan berbagai perbuatan tercela, dan seterusnya. Ini semua menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina agar akhlak generasi penerus kedepan menjadi lebih baik dan terhindar dari perbuatan yang tidak diinginkan.

            Keadaan pembinaan ini semakin terasa diperlukan terutama pada saat dimana semakin banyak tantangan dan godaan sebagai sebagai dampak dari kemajuan teknologi. Saat ini misalnya orang akan dengan mudah berkomunikasi dengan apapun yang ada di dunia ini, baik itu berupa yang baik atau pun yang buruk, karena adanya alat telekomunikasi. Peristiwa yang baik atau yang buruk dengan mudah dapat dilihat melalui pesawat televis, internet, faximile, dan seterusnya. Film, buku-buku, tempat-tempat hiburan yang menyuguhkan adegan maksiat jujga banyak. Demikian pula dengan obat-obat terlarang, minuman keras, dan pola hidup materialistic dan hedonistik semakin menggejola. Semua itu jelas membutuhkan pembinaan akhlak (Nata 2002).

            Jadi untuk membina agar anak mempunyai sifat-sifat terpuji, tidaklah mungkin dengan penjelasan pengertian saja, akan tetapi memerlukan membiasakannya melakukan perbuatan yang baik, dan diharakan nantinya dia mempunyai sifat-sifat tersebut dan menjauhi sifat-sifat tercela. Kebiasaan latihan itulah yang membuat ia cenderung kepada melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk.

            Pembinaan moral, pembentukan  sikap dan pribadi pada umumnya terjadi melalui pengalaman sejak kecil. Pendidik atau Pembina pertama adalah orang tua, kemudian guru. Semua pengalaman yang dilalui anak sewaktu kecilnya, akan merupakan unsur pentingdalam pribadinya. Sikap anak terhadap agamanya dibentuk pertama kali oleh orang tuanya, kemudian disempurnakan atau diperbaiki oleh guru di sekolah.

            Latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah seperti sembahyang, doa, membaca al-quran, sembahyang berjamaah di sekolah, masjid atau langgar, harus dibiasakan sejak kecil, sehingga akan tumbuh rasa senang melakukanibadah tersebut. Latihan keagamaan, yang menyangkut akhlak dan ibadah sosial atau hubungan dengan sesama manusia sesuai dengan ajaran agama jauh lebih penting daripada hanya sekedar kata-kata.

Untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak pada khususnya dan pendidikan pada umumnya, ada 3 (tiga) aliran yang sangat popular, yaitu aliran nativisme, aliran empirisme, dan aliran konvergensi (Abudin Nata, 2002). Menurut aliran nativisme bahwa factor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah factor pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecenderungan kepada yang baik, maka dengan sendirinya orang tersebut akan menjadi baik.

Aliran nativisme ini nampaknya begitu yakin terhadap potensi batin yang ada dalam diri manusia dan aliran ini erat kaitannya dengan aliran intuisme dalam penentuan baik dan buruk sebagaimana telah diuraikan di atas. Aliran ini tampak kurang menghargai atau kurang memperhitungkan peran pembinaan dan pendidikan.

Selanjutnya menurut aliran empirisme bahwa factor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah factor dari luar, yaitu lingkungan social termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan. Jika pembinaan dan pendidikan yang diberikan kepada anak itu baik, maka baiklah anak itu. Demikian juga sebaliknya. Aliran ini tampak lebih percaya kepada peranan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan pengajaran.

Sementara aliran konvergensi berpendapat bahwa pembentukan akhlak dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu factor pembawaan anak dan factor dari luar yaitu pendidikan dan pembinaan yang dibuat secara khusus, atau melalui berbagai metode (Arifin 1991, hlm. 13).

Aliran ketiga ini sesuai dengan ajaran Islam. Sebagaimana firman Allah dalam al-quran yang berbunyi: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”. Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa manusia memiliki potensi untuk dididik, yaitu penglihatan, pendengaran, dan hati sanubari. Potensi tersebut harus disyukuri dengan cara mengisinya dengan ajaran dan pendidikan. Hal ini juga sesuai dengan yang dilakukan oleh Luqmanul Hakim terhadap anak-anaknya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah yang berbunyi:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anak-anaknya di waktu ia memberika pelajaran kepadanya. `hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya: ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam  dua tahun, bersyukurlah kepadaKU dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-KUlah kembalimu (QS : Luqman :13-14).

            Ayat tersebut selain menggambarkan tentang pelaksanaan pendidikan yang dilakukan Lukman Hakim, juga berisi materi pelajaran yang utama diantaranya adalah pendidikan tauhid atau keimanan, karena keimananlah yang menjadi salah satu dasar yang kokoh bagi pembentukan akhlak.

Kesesuaian teori konvergensi di atas, juga sejalan dengan hadits Nabi yang berbunyi: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan membawa  fitrah (rasa ketuhanan dan kecenderungan kepada kebenaran), maka kedua orang tuanyalah yang membentuk anak itu menjadi yahudi, nasrani atau majusi” (HR. Bukhari)

Dari ayat dan hadits tersebut di atas jelas sekali bahwa pelaksanaan utama dalam pendidikan adalah kedua orang tua. Itulah sebabnya orang tua terutaman ibu mendapat gelar sebagai madrasah, yakni tempat berlangsung kegiatan pendidikan.

            Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa faktor yang paling dominan terhadap pembentukan akhlak anak didik adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu potensi fisik, intelektual dan hati (rohaniah) yang dibawa anak dari sejak lahir, sementara faktor eksternal yang dalam hal ini adalah dipengaruhi kedua orang tua, guru di sekolah, tokoh-tokoh masyarakat. Melalui kerja sama yang baik antara 3 lembaga pendidikan tersebut, maka aspek kognitif (pengetahuan), apektif (penghayatan), dan psikomotorik (pengalaman) ajaran yang diajarkan akan terbentuk pada diri anak.

Dari berbagai penjelasan di atas, pada dasarnya tujuan pendidikan akhlak sejalan dengan tujuan pendidikan seperti yang disinggung dalam al-Qur’an yaitu membina manusia baik secara pribadi kelompok agar mampu menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah maupun sebagai hamba Allah. Tugas khalifah sendiri harus memenuhi empat sisi yang saling berkaitan yaitu pemberi tugas (Allah), penerima tugas (manusia), tempat atau lingkungan di mana manusia berada, dan materi-materi penugasan yang harus mereka laksanakan. Dan keempat hal ini saling berkaitan, itulah sebabnya sering terjadi perbedaan dan tujuan pendidikan antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya, karena mereka harus memperhatikan faktor lingkungan di mana manusia itu berada (Mahmudah, tt., hlm. 56).

Berdasarkan penjelasan di atas, wajar kiranya Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany menyatakan bahwa dasar pendidikan Islam identik dengan dasar tujuan Islam. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu al-Qur’an dan Hadits, pemikiran yang serupa juga dianut oleh para pemikir pendidikan Islam, atas dasar pemikiran tersebut maka para ahli pendidikan dan pemuka pendidikan Muslim mengembangkan pemikiran mengenai pendidikan Islam dengan merujuk kedua sumber utama ini (Jalaluddin 2001, hlm. 8).

Secara teoritis pendidikan akhlak pada dasarnya bertitik tolak dari urgensi akhlak dalam kehidupan. Tokoh yang menganggap pentingnya pendidikan akhlak adalah Oemar Bakry, menurutnya “ilmu akhlak akan menjadikan seseorang lebih sadar lagi dalam tindak tanduknya. Mengerti dan memaklumi dengan sempurna faedah berlaku baik dan bahaya berbuat salah” (Bakry 1993, hlm. 13-14). Mempelajari akhlak setidaknya dapat menjadikan orang baik. Kemudian dapat berjuang di jalan Allah demi agama, bangsa dan negara. Berbudi pekerti yang mulia dan terhindar dari sifat-sifat tercela dan berbahaya.

Tokoh lain yang menganggap pentingnya pendidikan akhlak adalah Syed Muhammad Nauquib al-Attas dengan menggunakan kata adab atau ta’dib. Al-Attas mengatakan bahwa kebenaran metafisis sentralitas Tuhan sebagai Realitas Tertinggi sepenuhnya selaras dengan tujuan dan makna adab dan pendidikan sebagai ta’dib. Al-Attas menganggap bahwa proses pendidikan sebagai penanaman adab ke dalam diri, sebuah proses yang tidak dapat diperoleh melalui suatu metode khusus. (Lihat Wan Daud 2003, hlm. 77-79). Penjelasan al-Attas ini menggambarkan bahwa potensi akhlak berada pada Realitas Tertinggi yang merupakan titik sentral dalam kehidupan manusia.

Berdasarkan kepentingan akhlak dalam kehidupan manusia itulah, maka mengatakan Ibn Miskawaih bahwa tujuan pendidikan akhlak adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan atau bernilai baik (Badawi 1963, hlm. 478). , sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh sa’adat (kebahagiaan sejati/kebahagiaan yang sempurna). Pendapatan ini beralasan bahwa kebaikan itu merupakan tujuan setiap orang, factor anugerah Allah yang dapat mencapai kebaikan, disamping adanya kesungguhan berusaha dan berkelakuan baik (Miskawaih 1982, hlm. 41-45). Seperti yang disimpulkan oleh Suwito bahwa tujuan pendidikan akhlak menurut pemikiran Ibn Miskawaih adalah terciptanya manusia berperilaku ketuhanan. Perilaku seperti ini muncul dari akal ketuhanan yang ada dalam diri manusia secara spontan (Suwito 1992, hlm. 157).

Rumusan tujuan pendidikan akhlak seperti ini hakekatnya dapat dilakukan melalui membangun motivasi pribadi dan orang lain untuk mencontoh akhlak Nabi. Artinya, bahwa berbagai aktivitas kehidupannya selalu melakukan sesuatu dengan mengikuti akhlak nabi, baik dalam rangka pembentukan sebagai seorang pribadi maupun terhadap orang lain. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan akhlak adalah terciptanya manusia yang beriman perilaku lahir dan batin yang seimbang (seperti Nabi) berdasarkan pemahaman Bediuzzaman Said Nursi“.

Ruang Lingkup Pendidikan Akhlak

Pembicaraan tentang pendidikan akhlak harus diakui banyak sekali persoalan yang akan muncul ketika masalah ini diangkat dan dikaji. Karena memang banyak hal yang dapat mempengaruhi proses pendidikan akhlak. Diantaranya adalah menyangkut jumlah dan nama sumber karya tulis mengenai pendidikan akhlak. Prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi akan sangat berbeda jika ditinjau dari sudut pandang situasi sosial pada saat Risale-i Nur ditulis. Juga akan sangat berbeda kalau konsep itu berdasarkan kontekstualisasi pemahaman nilai-nilai keimanan atau ketauhidan yang menjadi filosofi dalam membentuk karekteristik insan manusia secara intergratif, universal dan kekinian.

Kemudian perbedaan juga akan muncul bila pendidikan akhlak ditinjau dari segi pelaksanaannya, seperti efektifitas pendidikan akhlak yang dilakukan dengan pendekatan monolitik (diajarkan sebagai suatu bidang studi tersendiri) dengan pendekatan integratif (terintegrasi dengan bidang studi) pada lembaga pendidikan. Jika pendekatan integratif, maka masih ada pertanyaan yakni bidang studi manakah yang sesuai dengan pengintegrasian?. Di samping itu, yang dapat berpengaruh pada konsep pendidikan akhlak adalah cara mengevaluasi pendidikan akhlak, dari kurikulumnya, alat dan atau media yang digunakan. Faktor lain seperti lingkungan, jenis kelamin, tingkat kecerdasan anak didik, teologi pendidik, dan sebagainya, dapat pula berpengaruh terhadap hasil penelusuran konsep seseorang mengenai pendidikan akhlak.

Beberapa identifikasi di atas merupakan berbagai persoalan yang akan muncul dalam dinamika pemikiran mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak. Dalam penelitian ini selain tujuan teknis yang diarahkan menjawab persoalan pokok maka dirumuskan tujuan pendidikan akhlak menurut pandangan Said Nursi yang dapat dipahami dari Risale-i Nur bahwa tujuan pendidikan akhlak diarahkan terciptanya manusia yang beriman perilaku lahir dan batin yang seimbang (seperti Nabi) berdasarkan pemahaman Bediuzzaman Said Nursi.

Maka dapat dipahami bahwa pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik yang harus menjadi mata pelajaran atau lembaga, melainkan terintegrasi ke dalam berbagai mata pelajaran atau lembaga. Akhlak dalam dasar-dasar pendidikan selalu berawal dari upaya prinsip menguatkan iman dan mengkokohkan akidah secara integratif yang pembahasannya akan mempengaruhi terbentuknya doktin-doktrin akhlak secara aplikatif.

Selain itu, menurut Ibn Miskawaih akhlak merupakan suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa berpikir atau pertimbangan secara mendalam. Keadaan seperti ini dapat disebut sebagai karekter. Menurutnya keadaan ini ada dua jenis. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak. Kedua, tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Berdasarkan kedua jenis keadaan ini cendikiawan klasik sering berbeda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa karakter dimiliki oleh jiwa yang tidak berpikir (nonrasional). Sementara yang lain berpendapat karakter itu dimiliki oleh jiwa berpikir (rasional).

Berdasarkan kedua jenis karakter dan kedua pendapat di atas Ibn Miskawaih menegaskan bahwa akhlak yang alamiah dan sudah menjadi watak dapat berubah cepat atau lambat melalui disiplin serta nasehat-nasehat mulia. Karena menurutnya pendapat pertama menyebabkan tidak berlakunya fakultas nalar, tertolaknya segala bentuk norma dan bimbingan, kecenderungan orang kepada kekejaman dan kelalaian serta banyak remaja dan anak-anak berkembang liar tanpa nasehat dan pendidikan. Ini tentu saja sangat negatif (Ibn Miskawaih 1997, hlm. 56-57). Berdasarkan inilah Ibn Miskawaih menganggap perlu adanya pembinaan jiwa secara intentif dengan daya-daya akal. Pembinaan inilah yang dapat dikatakan sebagai (tahzih al-Akhlaq) pendidikan akhlak.

Menurut Suwito yang mengutip pendapat M. Amin Abdullah bahwa kalau dibandingkan dengan mahzab pemikiran di bidang pendidikan akhlak maka secara umum pendidikan akhlak dapat dibagi dua, pendidikan akhlak mistik dan pendidikan akhlak rasional. Pembedaan pendidikan akhlak kepada mistik dan rasional bukannya tidak memiliki konsekuensi. Sebagaimana dalam teologi rasional, akhlak rasional dapat membawa konsekuensi bagi pertumbuhan kreatifitas dan inisiatif, sedangkan akhlak mistik kurung mendorong manusia untuk dinamis (Suwito 1995, hlm.10).

Oleh sebab itulah, yang dimaksud dengan pendidikan akhlak rasional yang memberi lebih kuat kepada pendidikan daya pikir (rasio) manusia, sedangkan pendidikan akhlak mistik memberikan porsi lebih kuat kepada pendidikan daya rasa pada diri manusia. Distingsi ini bermanfaat bagi konsekuensi yang ditimbulkan. Konsekuensi pada pendidikan akhlak rasional memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia dinamis. Adapun konsekuensi yang diperoleh dari pendidikan akhlak mistik kurang memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia yang dinamis.

Namun, pendidikan akhlak tidak masuk dalam kategori institusi sebagaimana di atas, karena hakekat pendidikan akhlak adalah inti semua jenis pendidikan. Jadi pada dasarnya ruang lingkup Pendidikan akhlak yang dimaksud pada penelitian ini yaitu ; mengarah pada terciptanya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya.

Dengan demikian, pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik dalam pengertian harus menjadi nama bagi suatu mata pelajaran atau lembaga melainkan terintegrasi ke dalam berbagai mata pelajaran atau lembaga.

 

Signifikansi Pendidikan Akhlak

Adapun di antara alasan pentingnya pemikiran Said Nursi di bidang pendidikan akhlak dapat diungkapkan beberapa pertimbangan sebagai berikut :

Pertama, Risale-i Nur karya Said Nursi merupakan tafsir a]-Qur’an yang secara konsisten membicarakan penguatan iman dan al-Qur’an dengan jalan ikhlas, takwa dan sedekah. Karya ini juga membahas secara mendalam mengenai akhlak Rasulullah dalam berbagai tulisannya Risale-i Nur yang berorientasi kepada perubahan pola pikir dan laku untuk memahami dan mengimani secara mendalam tanda-tanda hari kiamat dan keberadaan hari kiamat.

Kedua, masalah etika secara khusus dibahas pads Simpusium Internasional di Turki yang ke-6 tahun 2002 yang dikoordinir oleh The Istanbul Foundation for Sciance and Culture. Di samping itu dalam sepanjang pelaksanaan Simposium dan diskusi panel oleh The Istanbul Foundation for Sciance and Culture ini selalu menyertakan tema etika. Satu buku kumpulan Simposium Internasional yang ke-6 mendorong perlunya membahas mengenai akhlak dan juga tulisan Faris Kaya yang mengungkapkan mengenai etika dalam Risalei-Nur. Etika yang dimaksud oleh Faris Kaya mengungkapkan bahwa akhlak dalam sejarah dunia memang sangat penting. (Faris, 2004, him. 8-10).

Ketiga, diasumsikan bahwa pemikiran akhlak Said Nursi memberikan peranan signifikan dalam aktivitas kehidupannya. Pemikiran semacam ini merupakan hasil refleksi dan pemahaman terhadap suatu teologi yang mendalam mengenai Asma Allah dan sifat­-sifat-Nya yang membentuk kerangka pikir dan sikap perilaku. Diyakini bahwa Said Nursi adalah sosok pemikir sekaligus sufi yang memadukan konteks teologi dan realitas kehidupan. Paham ini diilhami kemutlakan Tuhan dalam diri manusia dengan catatan bahwa akal memiliki peran penting dalam refleksi untuk menyempurnakan keyakinan dari refleksi hati. Artinya paham yang dianut Said Nursi berdekatan dengan upaya ma’rifatullah dalam perspektif yang luas. Sementara itu dapat diasumsikan bahwa teologi Said Nursi adalah rasional-spritual. Maka, dalam konteks pendidikan akhlak selalu memadukan akal dan hati untuk melakukan pendekatan ajaran Islam secara universal.

Keempat, perkembangan ilmu dan teknologi. Yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan zaman saat ini adalah perkembangan ilmu, teknologi, komunikasi dan informasi. Kebutuhan-kebutuhan ini yang menyebabkan dunia semakin global. Selain berdampak positif juga berdampak negatif. Di antara dampak negatif globalisasi ini antara lain adalah semakin banyaknya alternatif bagi ukuran akhlak manusia yang cenderung bermuatan materialistik dan intelektualistik semata. Akibatnya, hal-hal yang bersifat spritualistik cenderung diabaikan. Dengan demikian, kemampuan memilih berbagai alternatif secara kritis melalui pemahaman, teologi rasional dan spritual semakin dinilai penting dan mendesak.

Kelima, tanda-tanda akhir zaman, pentingnya pengkajian ini juga disebabkan titik nadir masyarakat global berdasarkan paham keagamaan menunjukkan tanda-tanda akhir zaman. Dalam konteks itulah sebagai makhluk beragama harus mewaspadai itu dan berupaya mengantisipasi dan merubah pola pandangan hidup. Karena persoalan “krisis moral” merupakan entry point dari munculnya pembaharu (mujadid) untuk menyelamatkan umat dari “melupakan” Tuhan.

Pendidikan Akhlak Generasi Muda

Pengertian Generasi Muda

Generasi muda secara etimologi berasal dari dua kata, yaitu generasi yang berarti angkatan atau turunan (Dep P dan K 1999, hlm.309); dan muda yang berarti belum lama ada (Dep P dan K 1999, hlm.667). Generasi muda berarti angkatan atau turunan yang belum lama hidup. Dalam pengertian pertama ini nampaknya belum begitu jelas apa esensi generasi muda yang dimaksud dalam pembahasan ini.

Kata generasi muda tidak cukup diartikan berdasarkan ilmu kebahasaan (etimologi) saja, tetapi perlu dilihat arti secara terminologi (istilah). Menurut Suraiya, generasi muda adalah bagian suatu generasi yang sedang menjalani giliran mengelola kehidupan masyaranat dan kenegaraan (Suraiya 1985, hlm. 2). Suryono Sukanto mengartikan generasi muda adalah sekelompok orang muda yang lahir dalam jangka waktu tertentu (Suryono 1993, hlm. 201). Selanjutnya Hartini dan Kartasapoetra menamakan generasi muda sebagai angkatan kaum muda (Hartini dan Kartasapoetra 1992, hlm. 166).

Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan, bahwa generasi muda adalah kelompok, golongan, angkatan, kaum muda yang hidup dalam jangka waktu tertentu, di mana mereka memiliki tugas untuk melanjutkan pembangunan bangsanya sebagaimana tugas-tugas para angkatan yang hidup sebelum mereka. Dapat dipahami pula bahwa generasi muda sesungguhnya menjadi tumpuhan harapan masyarakat dalam merealisasikan idiologi dan tujuan pembangunan, baik material, maupun spiritual.

Batasan Generasi Muda

Walaupun beberapa pakar sering berselisih pendapat mengenai perbedaan tentang batasan usia generasi muda, namun hal itu tidak perlu dijadikan hambatan kita untuk memahami aspek usia generasi muda, apalagi jika usia itu relatif dan tidak menjadi ukuran baku bagi generasi muda; produktif atau tidak. Di masyarakat sering kita lihat orang muda yang berusia antara 15-30 tahun yang seharusnya giat bekerja tetapi hidup bermalas-malasan, tetapi orang tua yang umurnya di atas 50 tahun masih aktif bekerja. Ini berarti umur tidak menjadi jaminan mutlak bagi suatu generasi, giat bekerja atau tidak.

            Di antara sekian banyak pakar, di sini hanya dikemukakan tiga pendapat mengenai batasan usia generasi muda, yaitu:

  1. Menurut Suraiya, usia generasi muda ialah berkisar dar dari 0–30 tahun (Suraiya 1985, hlm. 5).Generasi muda identik dengan kaum muda.
  2. Menurut Ruslan Abdul Gani, usia generasi muda (kaum muda) berkisar antara 15-25 tahun (Ghufron 1986, hlm. 13).
  3. Menurut Sujanto generasi muda, dapat dibatasi usia antara 23,0-45,0 (pria) dan 17,0-40,0 (wanita) (Sujanto 1996, hlm. 160).

Dari ketiga pengertian di atas nampaknya memiliki perbedaan, yaitu: Pengertian pertama nampaknya memasukkan golongan anak-anak sebagai generasi muda. Hal ini jika didasarkan kepada potensi kemanusiaannya tentu beralasan, tetapi pada realitanya anak-anak belum sepenuhnya dapat bertanggung jawab terhadap kemajuan pembangunan. Hanya orang yang lebih tua dari mereka yang mampu mengemban tugas tersebut. Pengertian kedua nampaknya membatasi usia generasi muda rendah (hanya sampai usia 25 tahun), pada hal kenyataannya banyak organisasi pemuda yang dimotori oleh angkatan usia rata-rata 45 tahun ke atas. Pengertian ketiga menjelaskan bahwa generasi muda sebagian terdiri dari kelompok orang dewasa yang berumur 17-40 tahun.

            Dari tiga pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa usia generasi muda tidak bisa ditentukan dalam batas yang mutlak. Artinya usia generasi muda relatif dan dapat ditinjau secara berlainan sesuai dengan sudut pandang kita melihatnya. Jadi, dari tiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa usia generasi muda dapat dibatasi antara 15-40 tahun. Dalam penelitian ini generasi muda dibatasi umur 15-40 tahun, mengingat di usia tersebut kehidupan generasi muda dalam kondisi stabil.

Karakteristik Generasi Muda

Karakteristik diartikan sebagai ciri-ciri khusus (Dep P dan K 1999, hlm. 445). Ciri atau indikator berfungsi untuk menjelaskan secara detil tentang makna sesuatu. Sebagaimana telah kita pahami bahwa generasi muda adalah angkatan kaum muda yang hidup dalam masa tertentu, artinya generasi muda itu sangat luas cakupan maknanya dan tentu memiliki karakteristik tertentu yang perlu dijelaskan agar kita bener-benar memahami siapa generasi muda sesungguhnya.

            Untuk menjelaskan generasi muda secara lengkap perlu dilihat dari berbagai aspek, seperti aspek fisikal, psikis, soaial, intelektual, emosional, dan moralnya. Mengingat penjelasan tersebut begitu luas, di sini akan dijelaskan karakteristik generasi muda secara globalnya saja, berdasarkan pendapat fakar, yaitu:

  1. Berdasarkan pendapat Andi Mappiare, salah satu ciri dari generasi muda pada masa awalnya (memasuki usia remaja) adalah meraka sedang mengalami masa pubertas yaitu perubahan yang cepat secara fisik (organ-organ tubuhnya) dan perubahan sikap serta sifat ke arah kedewasaan (Sudarsono 1993, hlm. 12-13).
  2. Menurut Agus Sujanto, masa pemuda adalah masa ujian, penuh tantangan, dan masa bergelora yang harus diselami. Pada masa ini pemuda dapat menentukan masa tuanya dan kedewasaannya untuk banyak berkarya (Sujanto 1996, hlm. 161-162).
  3. Menurut Sudarsono, suatu ciri kehidupan generasi muda pada masa awalnya mengalami ketidakstabilan perasaan dan emosi, terutama dalam bersikap dan menentukan masa depan mereka. Berikutnya dalam proses menuju kedewasaan mereka dapat mengatasi masalahnya dengan baik (Sudarsono 1993, hlm. 15).
  4. Menurut Kartini Kartono, secara kejiwaan pemuda memiliki ciri-ciri khas, yaitu: belajar berdiri sendiri dalam suasana kebebasan, berusaha melepaskan ikatan-ikatan afektif lama dengan orang tua dan objek-objek cintanya, berusaha membangun hubungan perasaan/afektif yang baru, dan menemukan indentifikasi dengan obyek-obyek baru yang dianggap lebih bernilai atau lebih berarti daripada obyek yang lama. Generasi muda yang terdiri dari golongan orang dewasa yang lazimnya ia telah mencapai umur 21 tahun, dianggap sanggup berdiri sendiri, dan bisa bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas hidupnya (Kartono 1990, hlm.33 dan hlm.184).
  5. Berdasarkan Halem Lubis, dkk., generasi muda memiliki ciri-ciri yaitu di samping mengalami keadaan yang tidak menentu di masa remaja, memasuki usia dewasa ia sudah dapat bertanggung jawab dalam segala tindakan dan perbuatannya (Halem 2001, hlm. 149-150).

            Berdasarkan ciri psikologis di atas dapat disimpulkan, bahwa generasi muda mempunyai karakteristik yang meliputi banyak hal, yaitu pada masa remaja generasi muda akan mengalami perkembangan fisik dan kejiwaan menuju kedewasaan seperti perkembangan tubuh, pemikiran, dan emosional. Pada karakter ini generasi muda perlu berhati-hati dalam menyikapi masa perubahan yang terjadi agar mereka dapat berkembang secara wajar dan terarah sesuai dengan tujuannya. Di samping itu generasi muda di masa dewasanya memiliki beban psikologis dan tanggung jawab dalam segala perilaku dan perbuatan mereka. Generasi muda akan selalu berusaha mandiri dalam mengatasi semua kebutuhan hidupnya.

            Melihat karakteristik generasi muda di atas, secara psikologis beban yang diemban generasi muda tidak lain untuk memberdayakan potensi diri mereka dan masyarakat, walaupun usaha itu dalam pelaksanaannya belum berhasil, ciri-ciri yang demikian harus melekat dalam diri generasi muda, mereka harus mampu mengenal dan memahami hakikat dan kedudukan generasi muda sebagai wujud dari mengenal diri dan peran-perannya dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, dan beragama.

            Pada karakteristik psikologis ini sesungguhnya genaerasi muda perlu memahami bahwa kematangan pikiran, pola sikap, dan tindakan semata-mata dikembangkan kemaslahatan ummat, yaitu suatu tugas yang diparduhkan oleh agama, sebagai pengabdian diri kepada Allah, dengan iktikad pengabdian yang telah dijelaskan dalam firman-Nya: “Tidak aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka mengabdi kepadaKu”. (Alqur’an, 51 : 56).

            Dari ayat di atas juga dapat disimpulkan, bahwa generasi muda yang tergolong kelompok manusia yang beriman diharapkan memiliki ciri mutlak yang ditentukan oleh Allah, yaitu memiliki naluri sebagai hamba (pengabdi) kepada Allah dan mampu menjalankan perintah-perintah-Nya dalam kehidupan pribadinya, keluarga, masyarakat, negara, dan agama.

Dinamika Kehidupan Generasi Muda

Globalisasi saat ini benar-benar menjadi tanpa batas, lintas suku, budaya, bangsa dan agama. Peradaban global memberikan tantangan besar bagi dunia pendidikan. Tantangan itu, tidak hanya timbul dalam kaitannya dengan pengembangan potensi dan aktualisasi diri sumberdaya manusia, dan bukan pula hanya sebagai pendukung globalisasi, tetapi juga sebagai pengendali arus globalisasi yang secara gencar mempengaruhi, bahkan terkadang merusak sendi-sendi kehidupan kita. Namun, globalisasi bukanlah momok dan tak perlu kita takuti, karena globalisasi merupakan kenyataan dunia kekinian. Tantangan masa depan, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, komunikasi dan juga seni telah memberikan warna baru terhadap pembentukan generasi muda. Kondisi ini memang sangat memprihatinkan, dan menuntut perhatian bersama, khususnya bagi bangsa Indonesia berbagai aspek kehidupan.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sisi negatif yang merupakan dampak dari kemajuan teknologi dan komunikasi, seperti dari media elektronika, informatika, dan media cetak, telah membuat kehidupan generasi muda menjadi kasus yang sering dipermasalahkan dan banyak mengundang perhatian, misalnya pemerkosaan, penggunaan obat-obat terlarang, dan sebagainya. Dari kehadiran kemajuan ilmu dan teknologi itu cukup banyak membuat generasi muda berhasil untuk meniti jejak karir dan mampu memberikan yang terbaik untuk masyarakat, bangsa, dan agamanya. Namun kita menyadari karena banyak sekali produk-produk tersebut berasal dari Barat, maka pengaruh budaya mereka menjadi lebih dominan dan hampir dapat dikatakan merusak budaya secara Islam.

Harapan kita sesungguhnya generasi muda dapat mengambil yang baik-baik dan meniggalkan yang buruknya. Namun tidak menutup kemungkinan hal sebaliknya, seperti lebih banyak generasi muda yang tertarik dengan gaya serta cara yang kurang baik. Maka itu perlu dibatasi tontonan atau bacaan yang bernada kekejaman atau pun kekerasan, apalagi tontonan atau bacaan itu disebarkan diseluruh wilayah, tak perduli di kota mau pun di desa-desa, karenanya hampir seluruh remaja Indonesia banyak yang terpengaruh.

Didalam kehidupan sekarang ini, baik di kota maupun di desa banyak kita jumpai berbagai permasalahan yang dilakukan oleh generasi muda. Permasalahan ini timbul dikarenakan kurangnya nilai-nilai agama di kalangan kehidupan generasi muda, sehingga seringkali meresahkan lingkungan masyarakat sekitarnya. Generasi muda sekarang ini telah merosot moralnya, sehingga mereka seringkali melakukan perbuatan yang dapat mengganggu ketenangan masyarakat. Gejala-gejala semacam ini mulai timbul akibat dari perubahan arus informasi dan arus globalisasi budaya yang datangnya dari luar yang diserap oleh generasi muda melalui berbagai media massa. Sebaliknya generasi muda ini belum punya filter untuk menangkal kedua arus tersebut, sehingga budaya-budaya yang menyesatkan mudah mempengaruhi jalan hidup mereka.

Pengembangan sumber daya manusia merupakan bagian dari ajaran Islam yang dari semula telah mengarahkan manusia untuk berupaya meningkatkan kualitas hidupnya yang dimulai dari perkembangan budaya kecerdasan. Ini berarti bahwa titik tolaknya adalah pendidikan yang akan mempersiapkan manusia menjadi makhluk individual yang bertanggungjawab dan makhluk sosial yang mempunyai rasa kebersamaan dalam mewujudkan kehidupan yang damai, tentram, tertib, maju dan kasih sayang lahir dan batin yang dapat dinikmati bersama secara merata dalam kehidupan ini.

 

Kedudukan Akhlak dalam Kehidupan Generasi Muda

            Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang sangat penting, baik secara individu maupun sebagai masyarakat dan bangsa. Sebab jatuh bangunnya, jaya hancurnya, sejahtera-rusaknya suatu bangsa, masyarakat dan negara tergantung bagaimana keadaan akhlaknya. Dalam kaitan ini pula, kita melihat bahwa tidak pernah suatu bangsa yang jatuh karena krisis intelektual, tetapi suatu bangsa jatuh karena krisis akhlak.

            Tolak ukur kelakuan baik dan buruk mestilah merujuk kepada ketentuan Allah. Demikian rumus yang diberikan oleh kebanyakan ulama. Perlu ditambahkan, bahwa apa yang dinilai baik oleh Allah, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik, karena kebohongan esensinya buruk.

Di sisi lain, Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia memiliki segala sifat yang terpuji. Al-Qur’an yang suci menegaskan bahwa (Dialah) Allah, tiada Tuhan selain Dia, Dia mempunyai Sifat-sifat yang terpuji (al-Asma’ Al-Husna (Q.S. Thaha (20): 8). Rasulullah Saw juga memerintahkan umatnya agar berusaha sekuat kemampuan dan kapasitasnya sebagai makhluk untuk meneladani Allah Swt dalam semua sifat-sifatnya-Nya. Untuk mencontoh akhlak Rasulullah tersebut, maka al-Qur’anlah yang menjadi tuntunan kita, mengingat akhlak Rasulullah adalah al-Quran “…Budi pekerti Nabi SAW, adalah al-Qur’an…”. Dalam konteks ini, maka prinsip asma’ al-husna semaksimal mungkin dapat ditanamkan dalam diri manusia.

Penjelasan berikut meliputi pembahasan aplikasi akhlak pada manusia, Allah dan Alam yang memahami prinsip-prinsip akhlak yang mulia dan terpuji harus dimiliki oleh setiap muslim. Pertama, Akhlak terhadap Allah SWT (Khaliq). Allah adalah pencipta alam beserta isinya termasuk manusia, yang diciptakan dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan berbeda dengan makhluk ciptaan lainnya. Allah berfirman dalam surat At-Tiin ayat 4, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Q.S. At-Tiin: 4).

Dengan demikian manusia harus wajib atau wajib beriman, dan bertaqwa serta tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan Allah Swt yang dijadikan landasan prinsip ma’rifatullah dengan asma’ al-husna. Prinsip ma’rifatullah harus ditanamkan untuk menghindari pengingkara terhadap Sang Pencipta. Sementara dengan menyakini asma-asam Allah dengan akal, maka manusia yang menggunakan  akalnya  selalu berusaha  sesuai dengan kemampuan guna memperoleh  ridha  Allah  dan selalu berserah diri kepada-Nya karena segala sesuatu merupakan kehendak Allah. Manusia harus selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan kepada-Nya serta ikhlas menerima segala keputusan, dengan selalu berdoa mohon ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuatnya.

Kedua, akhlak dengan sesama manusia, sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri pasti membutuhkaan bantuan orang lain, karena itu manusia harus berbuat baik dan mempunyai akhlak yang tinggi terhadap sesamanya. Menyakini kehidupan sosial merupakan bagian dari yang fana, maka menuju kekekalan hidup adalah prinsip akan adanya hari kiamat. Prinsip eskatologi ini merupakan akhlak yang tinggi terhadap sesamanya. Akhlak itu antara lain adalah akhlak terhadap teman sebaya, akhlak terhadap tetangga dan akhlak terhadap guru, terhadap orang tua, dan lainnya baik yang berhubungan dengan sikap, cara berbicara, perdebatan dan pola hidupnya harus mencerminkan dan berlandaskan prinsip tauhid ma’rifatullah, menyadari sepenuhnya asma’ al-husna dan prinsip eskatologis.

Ketiga, akhlak terhadap diri sendiri, prinsip ma’rifatullah dengan cara menyucikan diri dan berupaya mendekatkan diri kepada Allah menggambarkan bahwa dalam diri pribadi manusia memiliki hak untuk diperlukan dengan baik, dijaga dan dipelihara, harus dibersihkan dari segala kotoran baik itu jasmani dan ruhani, yaitu dengan berjalan bersuci atau dengan bertaubat. Salah satu contoh akhlak terhadap diri pribadi adalah dengan menghindari perbuatan yang dilarang oleh agama seperti minuman alkohol, memakan makanan yang diharamkan, terlibat narkoba dan perbuatan tercela lainnya.

            Oleh karena itulah, prinsip akhlak terhadap diri sendiri sangatlah penting sekali bagi manusia, karena semua itu demi kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat, yaitu dengan jalan menghindari hal-hal yang dapat merusak jasmani dan rohani, hidup sederhana dan memperbanyak amal saleh. Dalam proses menumbuh kembangkan potensi dasar yang dimiliki oleh manusia, untuk mencapai kepribadian yang sempurna dan utuh hanya mungkin dapat dikembangkan melalui pengaruh lingkungan, khususnya pendidikan baik pendidikan keluarga dan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.

                        Karena pada dasarnya tujuan atau sasaran dalam pembentukan kepribadian adalah terciptanya akhlak yang mulia. Sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan. Sesuai dengan sabda Nabi bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya (Jalaluddin dan Usman, 1994).

Keempat, akhlak terhadap alam, keyakinan selain akhlak di atas juga akhlak terhadap alam atau lingkungan. Lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa, sebagaimana dalam al-Quran:  Apa saja yang kamu tebang dari pohon (kurma) atau kamu biarkan tumbuh, berdiri di atas pokoknya, maka itu semua adalah atas izin Allah…(QS. Al-Hasyr [59]: 5).  M. Quraish Syihab menafsirkan ayat tersebut, jangankan terhadap manusia dan binatang, bahkan mencabut atau menebang pepohonan pun terlarang, kecuali kalau terpaksa, tetapi itu pun harus seizin Allah SWT, dalam arti harus sejalan dengan tujuan-tujuan penciptaan dan demi kemaslahatan terbesar (Quraish 1998, 259-270).

Dari penjelasan tersebut di atas jelaslah bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi merupakan salah satu materi sekaligus tujuan pendidikan Islam yang didasarkan kepada apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, baik secara teoritis berdasarkan al-Qur’an maupun secara praktis melalui perilaku kehidupannya sehari-hari. Prinsip-prinsip pendidikan akhlak ini perlu dipahami dan diaplikasikan secara komprehensif (luas) dan tidak sebatas berakhlak terhadap Khaliq dan manusia saja, tetapi lebih dari itu, sedapat mungkin kita mampu berakhlak dengan alam semesta ini.

 

Bab 3

BIOGRAFI SINGKAT BEDIUZZAMAN SAID NURSI

Sebelum mengkaji mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi, maka perlu dikaji terlebih dahulu mengenai tokoh yang diteliti. Maka dari itu, kajian berikut berfokus pada penjelasan tentang biografi singkat Said Nursi. Kajiannya meliputi masa kecil dan pendidikan Said Nursi mencakup ; latar belakang keluarga dan riwayat pendidikan, selanjutan kegiatan keagamaan, kegiatan politik dan terakhir diuraikan tentang karya tulis Said Nursi.

Masa Kecil dan Pendidikannya

Menurut Sukanto teori kepribadian manusia disusun setidaknya dalam empat teori yakni berdasarkan pemikiran spekulatif, tipologis, penyifatan dan aksiologi. (Sukanto 1996, hlm. 37-38).[1] Berdasarkan keempat teori ini kajian tentang Said Nursi dalam pembahasan ini berangkat dari teori pemikiran spekulatif dan aksiologi. Untuk mencapai pemahaman teori ini dapat ditinjau melalui pendapat M. Arifin melalui empat asas yakni asas menyeluruh, integrasi (kesatuan), perkembangan dan pendidikan seumur hidup (M. Arifin 2000, hlm. 51-53).[2] Menurutnya berdasarkan keempat asas tersebut proses kepribadian manusia dapat terbentuk. Pembentukan kepribadian sebagai individu menurut Abdullah Nasih Ulwan merupakan tanggung jawab yang paling menonjol dalam Islam. (Nasih Ulwan 1995, h1m. xxxiii).

Menurut Abdullah Nashih Ulwan manusia sebagai individu berhak memperoleh pengarahan, pengajaran dan pendidikan baik melalui bapak, ibu, pendidik, pengajar maupun pekerja sosial. Artinya, proses kepribadian manusia sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan sejarah hidup seseorang. Proses tersebut dilalui manusia melalui keluarga, sekolah dan lingkungan (Nasih Ulwan, 1995, hlm. xxxiii). Berdasarkan pendapat ini dapat dipahami bahwa pengetahuan mengenai tokoh yang diteliti ini, setidaknya perlu ditinjau dan ketiga aspek tersebut terutama untuk menjelaskan latar belakang keluarga dan pendidikannya.

Latar Belakang Keluarga

Nama Said Nursi sebenarnya adalah Said, karena ia anak Mirza, maka nama sebenarnya dapat juga kita sebut sebagai Said bin Mirza. (Zaidin 2001, hlm. 7). Sedangkan nama Said Nursi, Bediuzzaman Said Nursi, Molla Said (Mulla Said), Said Masyhur dan Said Kurdi adalah gelar yang sempat tersemat selama masa kehidupannya yang pada dasarnya merujuk kepada tanah kelahiran, kejeniusan dan garis keturunannya.[3] Said Nursi dilahirkan menjelang fajar musim semi pada tahun 1294 H / 1877 M[4] di desa kecil Nurs. Desa Nurs terletak di daerah Khizan di propinsi Bitlis wilayah Turki Timur.[5] Daerah tempat kelahirannya ini terdapat lereng dan lembah gunung Taurus, daerah danau Van (Vahide 2000, hlm. 3).

Said Nursi dilahirkan dari keluarga petani sederhana dari pasangan Mirza[6] dan Nuriye (Nuriyyah).[7] Berdasarkan sumber Sham al-Haq al-Azzim yang dikutip oleh Mohammad Zaidin bin Mat bahwa kedua orang tuanya dan nenek moyang Said Nursi berasal dari suku Kurdi dan dari daerah dari Isbartah (Isparta) (Zaidin 2001, hlm. 7-8) dan mereka memiliki silsilah keturunan Ahl al-Bayt yakni Nabi Muhammad Saw melalui cucunya Hasan dari Mirza dan Husen dari Nuriyah.[8] (Urkhan 1995, hlm. 8).

Said Nursi merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, yaitu Durriyyah,[9] Khanim,[10] Abdullah,[11]  Said (Said Nursi), Muhammad,[12]  Abd al Majid[13] dan Marian[14] (Zaidin 2001, hlm. 8). Said Nursi lahir pada masa pemeritahan Sultan Abdul Hamid II, pada masa akhir dari pemerintahan Daulat Turki Usman. Pada masa ini musuh secara intensif mencabik-cabik bangsa dan negara Turki untuk mempercepat kehancurannya, selama tiga puluh tahun Sultan Abdul Hamid II berkuasa dan memerintah negara Turki dengan segala daya dan upaya yang dilakukannya untuk memelihara integritas kekuasaan negara yang sangat luas, namun tidak membuahkan hasil yang maksimal. Karena bahaya asing sudah mengetahui dan menguasai titik-titik lemah dalam tubuh negara (Ihsan Kasim 1996, hlm. 3-4).

Said Nursi meninggal tahun 23 Maret 1960. Awalnya sekitar tanggal 18 Maret 1960, Said Nursi sakit yakni demam panas. Setelah beberapa kali tidak sadarkan diri, Said Nursi kemudian pingsan. Namun setelah sadar, beliau sudah kelihatan sehat. Setelah menunaikan shalat subuh, beliau memanggil murid-muridnya sambil menangis, Said Nursi berkata, “Selamat berpisah, aku akan pergi” (Sukran Vaheda 2000e, hlm. 25). Dalam kondisi sakit beliau yang tidak parah beliau wafat kira-kira pada pukul 03.00 pagi, 23 Maret 1960, bertepatan dengan tanggal 25 Ramadhan 1379 H.[15] Ketika itu, berat bobot tubuhnya hanya 40 kilogram dan beliau hanya meninggalkan seutas jam tangan, jubah, dan dua puluh lira uang. Berita kematian beliau disiarkan di dalam halaman harian (koran-majalah) di Istanbul dan Ankara. Beribu-ribu orang dari berbagai pelosok Turki hadir untuk menziarahi dan mendirikan sholat jenazah untuknya. Toko-toko dan pasar di Urfah pada hari itu ditutup. Beliau dikebumikan di perkuburan Ulu Jami’ pada hari kamis, 24 Maret setelah sholat Asliar (Sukran Vaheda 2005, h1m. 342-343). Akan tetapi, sekitar 12 Juli 1960 kuburan itu dibongkar oleh pemerintah sekuler (golongan anti Islam) dan jenazah Said Nursi dipindahkan ke sebuah tempat rahasia di Isparta, sampai saat ini belum diperoleh kejelasan tempat dikuburkan Said Nursi.[16]

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa Said Nursi dilahirkan dan hidup, di suasana transisi khalifah di akhir kekhalifahan Turki Usmani. Said Nursi memiliki garis keturunan seorang ulama terkemuka dari bangsa Kurdi. Berdasarkan keterangan yang dipaparkan di atas Said Nursi memiliki jalur keturunan sampai ke Imam Ali bin Abi Thalib dan Nabi Muhammad Saw. Said Nursi dikuburkan di Urfah dan kemudian jenazahnya tidak diketahui secara jelas tempat penguburannya.

Riwayat Pendidikan

Pendidikan menjadi faktor penting dalam melihat sosok manusia. Pendidikan dalam konsep ini adalah pendidikan secara menyeluruh, yakni pendidikan seumur hidup. Dalam hal ini asas perkembangan dan asas pendidikan seumur hidup yang dikemukan oleh M. Arifin senada dengan pendapat Lift Anis Ma’shumah yang menyatakan bahwa pendidikan adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan potensi diri seseorang yang meliputi tiga aspek kehidupan, yaitu pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup (Ma’shumah 2001, hlm. 214). Pendapat ini memiliki makna bahwa pendidikan adalah serangkaian proses yang membentuk seseorang secara spritual, emosional dan intelektual yang padu dalam diri. Pembentukan kepribadian ini tidak pernah terlepas dari peran keluarga, sekolah dan masyarakat – di era sekarang dikategorikan sebagai kelembagaan pendidikan sosial – di mana pelembagaan pendidikan seperti ini terdiri dari pendidikan informal, formal dan nonformal – pembagian pelembagaan ini bermula peradaban Barat – di mana maksud dari pelembagaan adalah sebagai suatu upaya untuk memantapkan landasan nilai pada kegiatan pendidikan sebagai realisasi tujuan pendidikan maupun keterkaitan ilmu, sains dan teknologi pada kepentingan dan kebutuhan manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dan keluarga antar bangsa (Faisal 1995, hlm. 19). Berdasarkan pendapat ini maka, bahasan berikut ini mencakup pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan nonformal yang melingkupi secara menyeluruh dalam satu kesatuan pengalaman hidup Said Nursi. Melalui proses pendidikan ini diharapkan dapat dipahami sosok Said Nursi terutama mengenai pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup yang merupakan sebuah proses integrasi keilmuan dalam akal, hati dan praktek kehidupannya secara langsung.

1) Pendidikan Informal : Pendidikan Keluarga Pertama dan Utama

Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan (Jalaluddin 2002, hlm. 214). Karenanya, menurut Zakiah Drajat keluarga sebagai wadah utama pendidikan (Zakiah 1994, hlm. 41). Sebagai pendidikan pertama dan utama secara kelembagaan dalam pendidikan informal atau pendidikan keluarga orang tua memegang posisi sangat penting dalam menyampaikan materi atau informasi pendidikan untuk diterima oleh anak. Materi pendidikan agama menjadi basis semua kegiatan pendidikan yang ingin diselenggarakan dalam kehidupan keluarga. Sebagaimana yang dialami oleh Said Nursi, pendidikan agama baginya dan saudara-saudarinya begitu diperhatikan oleh kedua orang tua mereka, hingga tercipta dalam keluarga mereka suasana religius.

Pendidikan informal Said Nursi adalah pendidikan keluarganya. Menurut Wahyu keluarga adalah “suatu kesatuan sosial terkecil yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki tempat tinggal dan ditandai oleh kerjasama ekonomi, berkembang, mendidik, melindungi, merawat dan sebagainya. Dan inti keluarga adalah ayah, ibu dan anak” (Wahyu 1986, h1m. 57). Syahminan Zaini menyatakan bahwa keluarga merupakan lapangan pendidikan yang pertama dan pendidiknya adalah kedua orang tua, di mana orang tua adalah pendidik kodrati (Syahminan Zaini tt, h1m. 152). Dalam proses ini orang tua dan kakak Said Nursi berperan dalam pendidikan awal Said Nursi.

Proses pendidikan keluarga sebagai tanggungjawab terhadap anak sedikitnya mencakup 3 (tiga) pendidikan yakni iman, akhlak (moral) dan intelektual (rasio atau akal).[17] Selama delapan tahun, Said Nursi berada dalam didikan orang tuanya sebelum merantau menuntut ilmu (Zaidin 2001, hlm. 8-9). Waktu delapan tahun merupakan waktu yang cukup penting bagi sejarah hidup Said Nursi. Karena fondasi iman, akhlak dan intelektual sudah dirasakannya selama bersama keluarganya. Said Nursi beruntung memiliki keluarga yang peduli terhadap ni1ai iman, akhlak dan intelektual. Dalam waktu yang relatif singkat ketiga pendidikan tersebut diperolehan oleh Said Nursi yang menjadi dasar pribadi, sikap dan intelektualnya.

Pertama, pendidikan iman. Mirza ayahnya adalah seorang sufi yang sangat wara’ dan diteladani sebagai seorang yang tidak pernah memakan barang haram dan hanya memberi makan anak-anaknya dengan yang halal saja (Lihat Vahide 2000e, hlm. 3). Sosok Mirza sangat baik untuk diteladani oleh anak-anak mereka, termasuk Said Nursi. Mirza mengajarkan kepada anak-anaknya tentang agama, berikut permasalahan-permasalahan di seputar pengajaran agama, tentang iman dan tauhid. (Zaidin 2001, hlm. 8). Masalah keimanan dan tauhid menjadi persoalan inti yang diajarkan oleh orang tua Said Nursi kepadanya.

Kedua, pendidikan akhlak. Kedua orang tuanya sangat menekankan kepada pendidikan agama dengan mengedepankan sifat-sifat baik mereka sebagai panutan atau uswah. (Zaidin 2001, hlm. 8). Pendidikan agama melalui keteladanan atau uswah benar­-benar ditekankan oleh orang tua Said Nursi. Misalnya, Nuriyyah adalah seorang wanita yang hanya menyusui anak-anaknya dalam keadaan suci dan berwudhu’ (Ihsan Kasim 2003, hlm. 8). Betapa akhlak untuk memberi makan anak dalam keadaan baik, suci dan halal. Akhlak seperti ini menjadi teladan dalam perilaku Said Nursi.

Ketiga. pendidikan intelektual. Pada masa kecilnya Said Nursi telah menunjukkan perwatakan yang menarik, yakni suka bertanya dan mencoba mencari jawabannya sendiri, memikirkan persoalan kehidupan, kematian, dan kemasyarakatan. Said Nursi juga sering menghadiri majelis perbincangan antar ulama di kampungnya (Zaidin 2001, hlm. 8). Lebih-­lebih lagi, majelis perbincangan antara ulama sekampungnya sering diadakan di rumah ayahnya. Ini sudah tentu sangat besar manfaatnya, terutamanya dalam menyuburkan sifat analisis, kritis serta minatnya kepada dialog dan perdebatan (Zaidin 2001, hlm. 8). Kejeniusan Said Nursi kecil ini semakin nyata ketika ia mampu menghafal al Quran dalam usia 12 tahun.

Pendidikan intelektual didapatkan oleh Said Nursi dalam keluarga dengan cara belajar kepada kakaknya Abdullah – saudara ke-3 dalam keluarga Said Nursi dan memiliki ilmu pengetahuan yang banyak – yang setiap waktu libur, terlebih lagi akhir pekan Said Nursi selalu menerima pelajaran dari kakaknya itu, juga belajar ilmu al-Quran.

Dari pembahasan di atas diketahui bahwa pendidikan informal yang diperoleh Said Nursi dari masa kecil sampai menuju kematangan berpikir dan bersikap sangat dipengaruhi oleh keluarga. Terutama iman, akhlak dan intelektualnya sudah menjadi akar yang kokoh dalam sikap hidupnya. Namun, pendidikan formal juga berperan sangat penting dalam terbentuknya kepribadian dan akhlaknya.

2) Pendidikan Formal : Pendidikan Madrasah Belajar Ilmu Agama dan Ilmu Umum Penjelasan di atas mengemukakan bahwa latar belakang keluarga sebagai pendidikan pertama dan utama sangat mempengaruhi Said Nursi. Said Nursi menyadari perlu menjadi orang yang berpengetahuan, karenanya ia mulai berusaha keras mempelajari berbagai macam i1mu-i1mu keislaman tradisional dan i1mu-ilmu umum yang juga berkaitan dengan sains modern[18] di luar pendidikan keluarga melalui lembaga yang dapat dikatakan sebagai pendidikan formal atau pendidikan sekolah. Adapun pendidikan formal yang pernah dialami Said Nursi mencakup :

1) Madrasah Muhammad Amin Afandi Tagh (Ta)

Said Nursi mulai merantau ketika berumur 9 (sembilan) tahun. Pendidikan yang pertama kali diterima oleh Said Nursi adalah belajar di kuttab (madrasah) pimpinan Muhammad Amin Afandi di desa Thag (Ta) pada tahun 1882. Desa Thag (Ta) berada bersebelahan dengan desa kelahiran Said Nursi. Kegiatan belajar Said Nursi di desa Thag ini hanya berlangsung sebentar saja, karena aktivitas belajarnya pindah dan dilanjutkan di madrasah desa Birmis (Ihsan Kasim 2003, h1m. 9-10). Bersamaan dengan itu Said Nursi belajar dengan kakaknya dan ulama terkenal di desanya, kemudian memutuskan untak sekolah ke Birmis.

 

2) Madrasah Muhammad Nur di Birmis

Pada tahun 1883 Said Nursi pergi ke Bitlis dan mendaftarkan diri di sekolah Syaikh Muhammad Nur. Tetapi ia belajar di sekolah tersebut hanya sebentar, sebab syaikh tersebut menolak untuk mengajarnya dengan alasan faktor usia yang belum memadai. (Zaidin 2001, hlm. 10).

 

3) Madrasah Muhammad Amin Afandi di Arwas Bitlis

Pada tahun 1891 (1308), Said Nursi meminta izin orang tuanya untuk belajar dan pergi ke Arwas di Bitlis dan berguru dengan Syekh Muhammad Amin Afandin (Rajah 1995, hlm. 33). Di Bitlis Said Nursi pernah tinggal serumah bersama Walikota Bitlis dan beliau berkesempatan untuk menela’ah sejumlah besar buku ilmiah dan menghapal sebagian dari padanya. Begitu juga beliau pun berkesempatan menelaah sejumlah besar kitab tentang ilmu kalam, mantiq (logika), nahwu, tafsir, hadits, dan fiqh. Kemudian lebih dari delapan puluh kitab induk tentang ilmu-ilmu keislaman berhasil dihapal (Ihsan Kasim 2003, hlm. 10-13).

4) Madrasah Mir Hasan Wali di Muks (Mukus)

Said Nursi merasa tidak puas dengan ilmu yang diperoleh dari tiga orang gurunya tersebut. Said Nursi melanjutkan belajar di Madrasah Mir Hasan Wali di Muks. Proses ini hanya berjalan satu bulan setelah itu kemudian ia bersama temannya berangkat menuju salah satu sekolah di Bayazid, suatu daerah yang termasuk dalam wilayah Agra. (Ihsan Kasim 2003, hlm. 10-11).

5) Madrasah Muhammad Jalali di Beyazid

Pada tahun 1889, ia bersama seorang temannya berangkat menuju madrasah di Beyazid, satu daerah di Turki Timur. Di sinilah Said Nursi mempelajari ilmu-ilmu agama dasar, karena sebelum ia hanya belajar Nahwu dan Sharaf saja. Beliau belajar dengan segala kesungguhan dan secara intensif untuk jangka waktu tiga bulan lamanya. Selama itu, beliau berhasil membaca seluruh buku yang pada umumnya dipelajari di sekolah-sekolah agama. Dalam waktu relatif singkat sekali beliau mampu menguasai matematika, ilmu falak, kimia, fisika, geologi, filsafat, sejarah, geografi, dan lain-lain (Ihsan Kasim 2003, hlm. 8-15).

Di Madrasah Beyazid di bawah bimbingan Syaikh Muhammad al-Jalali, Said Nursi belajar dengan segala kesungguhan dan keuletannya secara intensif dalam jangka waktu yang singkat selama tiga bulan beliau dapat membaca seluruh buku yang umumnya dipelajari di sekolah-sekolah agama serta ia mendapatkan ijazah dari Syaikh Muhammad Jalalin (Zaidin 2001, hlm. 11). Pelajaran yang diambilnya seputar ilmu al-Quran dan Nahwu Sharaf Sebagai apresiasi dari kerja keras belajarnya, Said Nursi mampu menguasai kitab­-kitab utama ketika itu dan mendapat gelar Mulla Said (Zaidin 2001, hlm. 11).

6) Madrasah Fathullah Afandi di Si’ird

Di bawah bimbingan Syaikh Fathullah Afandi secara intensif Said Nursi mempelajari kitab Jam’ul Jawami (kitab tentang ushul fiqhi) karya Ibn as-Subki. Dalam waktu yang cukup singkat ia menghapalnya, sehingga Syaikh Fathullah Afandi menulis catatan pada sampul kitab tersebut dengan kata-kata : “Laqad Jama’a fii hifzihihi’, jam’al- jawami, jami’ihi fii jum’atin” (Sungguh seluruh kitab jam’ul Jawami’ telah mampu dihapal hanya dalam satu minggu) (Ihsan Kasim 2003, hlm. 12).

Selanjutnya, Said Nursi menjelajahi secara terus menerus kemungkinan masih tersisa ulama, syeikh, atau guru yang handal, untuk menguras habis keilmuan mereka, seperti Syeikh Fethullah, hingga beliau mendapatkan ilmu baru yang semakin memantapkan dirinya untuk mengadakan debat, diskusi, dan pengajaran bagi masyarakat bawah. Karena kemampuan intelektual yang menakjubkan itu, Said Nursi digelari gurunya Badi’ al-Zaman (keunggulan zaman).

Ketika berada di sini, Said Nursi telah bertemu dan berdialog dengan beberapa orang guru dalam bidang ilmu-ilmu modern. Kelemahan beliau dalam bidang tersebut telah mendorongnya membaca dan mempelajari buku-buku sains modern yang terdapat dalam perpustakaan Talur BAslia. Akhirnya dengan inisiatifnya sendiri dan dalam masa yang singkat beliau telah berhasil menguasai ilmu-ilmu modern seperti sejarah, geografi, matematika, fisika, kimia, astronomi, filsafat modern, ilmu hayat dan ilmu bumi. Said Nursi juga pernah menulis beberapa buku dalam bidang yang berkaitan, misalnya berkenaan algebra. Malangnya, buku tersebut telah musnah dalam satu kebakaran besar yang terjadi di Van (Zaidin 2001, hlm. 17).

Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa pendidikan formal yang diperoleh Said Nursi mengokohkan sebagai orang yang rasional dan bermoral. Orang yang cerdas secara intelektual juga spritual. Berwawasan luas dan berakhlak mulia.

3) Pendidikan Non Formal : Lingkungan dan Perolehan Ilham (Ilmu Laduni)

Pendidikan non formal ini adalah proses pendidikan yang berlangsung dalam masyarakat. Perolehan jenis pendidikan ini berlangsung alami, karena dilakukan di masyarakat dan di luar pendidikan informal dan formal, atau pendidikan keluarga dan sekolah. Banyak yang dilakukan oleh Said Nursi yang dapat dikategorikan sebagai proses pendidikan non formal. Kegiatan perjalanan, diskusi dan debat ilmiah, kehidupan bersama-sama, orang-orang terdekat dan ulama terkenal. Pendidikan non formal yang dialami oleh Said Nursi dapat dilihat melalui beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai kegiatan pendidikan non formal mencakup:

1) Bersama Kakaknya Abdullah dan Fathullah Afandi

Pengalaman Said Nursi bersama kakaknya, hanyalah sebagai contoh mengenai pendidikan di luar pendidikan resminya. Misalnya dalam perjalanan Said Nursi dari kota Bitlis menuju kota Syirwan dan belajar dengan kakaknya Abdullah, kemudian ia melanjutkan penjalanan ke Si’rad untuk belajar pada seorang ulama terkenal yakni Fathullah Afandi. Ulama ini melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya :

Ada berita engkau telah selesai membaca as-Suyuthi – kitab syarah alfiyah karya Ibnu Malik (pen.) – pada tahun yang lalu, tapi apakah engkau juga telah selesai mempelajari kitab al-Jami’ – kitab nahwu popular (pen.) – pada tahun in i?. Kemudian di jawab : Ya, saya telah membacanya secara keseluruhan. Kemudian Syaikh Fathullah Afandi mulai menyebutkan beberapa permasalahan dan memberikan beberapa pertanyaan dan dijawab semua dengan tepat oleh Said Nursi. Peristiwa ini telah membuat Syaikh Fathullah Afandi geleng kepala dan sangat kagum dan akhirnya ia berkata : Baik…sungguh engkau ini seorang yang dikaruniai kejeniusan yang luar biasa. Namun demikian, biarkan kami untuk mengetahui daya hapalanmu. Apakah engkau bersedia membaca beberapa baris dari kitab ini dua kali lalu menghapalnya ?. Kemudian ia memberikan kitab Maqaamat al-Hariri. Said Nursi pun meraihnya lalu membaca tulisan yang termaktub dalam halaman pertama dan hanya dibaca satu kali saja. Ternyata hanya satu kali saja membaca, beliau mampu menghapalnya. Tentu saja apa yang terjadi membuat Syaikh Fathullah Afandi semakin kagum, sehingga ia berkata lagi : Sungguh perpaduan antara otak jenius yang luar biasa dengan daya hapal yang luar biasa seperti engkau miliki merupakan kejadian yang sangat jarang (Ihsan Kasim 2003, hlm. 10-13).

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa efek dari ketekunan Said Nursi dalam lingkungan masyarakat beliau diilhami keilmuan yang dalam dan luas. Semuanya merupakan implikasi dari perjalanan secara menyatu dalam diri Said Nursi baik dalam pendidikan informal, formal maupun non formal yang dijalani Said Nursi dalam satu kesatuan diri.

2) Pengalaman Berdiskusi, Berdebat bersama Tokoh Intelektual dan Ulama

Berkat potensinya yang mampu menyerap berbagai disiplin ilmu dan otaknya yang sangat jenius, popularitas beliau segera tersebar dan diberi gelar Bediuzzaman (keindahan Zaman) (Said Nursi Tarihi Hajat 1999e, hlm. 45). Dalam perdebatan ilmiah, Said Nursi dengan penguasaannya dalam bidang agama dan sains modern menjadi perhatian banyak orang.

3) Motivasi Melalui Mimpi dan Ilham

Bartol dan Martin (1991, hlm. 451) memberikan pengertian motivasi adalah kekuatan yang menggerakkan perilaku, memberi arah pada perilaku dan mendasari kecenderungan untuk tetap menunjukkan perilaku tersebut. Said Nursi memiliki gerakan perilaku melalui mimpi bahwa dirinya melihat Rasulullah Saw. Peristiwa tersebut selalu diingat sampai akhir hayatnya. Dalam mimpi tersebut beliau melihat seolah-olah kiamat telah terjadi dengan segala kejadian yang sangat mengerikan dan seluruh manusia dihimpun. Ketika itu, perasaan ingin melihat Rasulullah Saw begitu menggebu-gebu, tapi bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi, di manakah dirinya dapat menjumpai beliau dalam keadaan berdesak­desakan seperti ini?. Pada waktu dirinya sedang berpikir demikian dalam keadaan sedang berada di tengah kerumunan orang banyak, terlintaslah dalam benak pikirannya untuk pergi ke Shiratal Mustaqim (jembatan menuju Surga). Karena Rasulullah Saw pun pAsli akan melintasi jembatan tersebut. Dengan demikian bergegaslah Said Nursi menuju ke sana dan di sana ia menunggu Rasulullah Saw. Melintasinya, selama dalam penantian ini, para Nabi melewatinya, lalu tangan mereka dijabat dan dicium. Kemudian Rasulullah Saw yang dinanti-nanti pun lewat padanya. Ketika itu dirinya adalah seorang Said Nursi yang masih kecil yang sedang berada dihadapan beliau sambil menciumi kedua tangannya. Setelah itu, ia memohon dan beliau agar diberi ilmu lalu Rasulullah Saw bersabda kepadanya : “Engkau akan diberi ilmu al-Qur’an dengan syarat engkau tidak boleh meminta-minta kepada siapapun dari kalangan umatku”. (Ihsan Kasim 2003, hlm. 15-16). Pada fase berikutnya, atas kehendak Allah Swt menjadikan beliau begitu cepat menguasai berbagai ilmu keagamaan, termasuk ilmu al-Quran, hadits, fiqh, dan ilmu lainnya.

4) Kecerdasan Hati atau Intuisi Memperoleh Ilmu Laduni

Salyidain menyatakan bahwa intuisi menurut Iqbal adalah isyq atau cinta atau kadang-­kadang disebut “pengamatan kalbu” yang memungkinkan kita secara langsung menangkap dan mengamat serta bertautan dengan kenyataan secara keseluruhan (Salyidain tt, hlm. 102- 103). Artinya, intuisi adalah semacam perasaan yang bergerak di dalam batin manusia, yang merupakan suatu mata batin yang tajam, tetapi tidak boleh disamakan dengan sifat kemanusiaan yang utuh.

Perolehan ilmu laduni adalah implikasi proses pendidikan yang didapatkan oleh Said Nursi langsung melalui Allah melalui ilham illahi. Pendidikan ini secara intensif diperolehnya ketika ia menulis Risale-i Nur. Cahaya hati dan keyakinannya yang mendalam kepada Allah menyebabkan ia mampu menembus alam ghaib, sehingga ia dapat berdiskusi dan berdialog langsung dengan Nabi Muhammad (Said Nursi Mektubat 2003b, hlm.275).

Dari pembahasan di atas diketahui bahwa riwayat pendidikan Said Nursi baik informal, formal maupun pendidikan non formal telah mempengaruhi pemikiran, perilaku, sikap dan ruhnya dalam segenap kehidupannya, terutama dalam menyuburkan sifat analisis, kritis serta senang kepada dialog dan perdebatan. Sistematika proses pendidikan Said Nursi yang integratif menggambarkan kompetensi Said Nursi sebagai i1muwan dan ulama dalam kajian keagamaan dan terdapat praktik antara penguasaan ilmu dan perilaku akhlak mulia. Proses pendidikan dan kompetensi ini memperkuat bahwa Said Nursi adalah filosof-sufi.

Kegiatan Keagamaan

Sebenarnya banyak sekali yang dilakukan oleh Said Nursi untuk menyebarkan dakwah Islam di Turki. Tanda-tanda Said Nursi sebagai tokoh, ulama dan guru bagi seluruh masyarakat Turki, sudah mulai nampak sejak kecil. Berikut ini dipaparkan beberapa hal yang berkaitan kegiatan keagamaan Said Nursi.

 

  1. Mengajar Umat Gratis

Pada tahun 1907 M. sampailah Badiuzzaman di ibu kota Istanbul. Di sana beliau tinggal di khan asy-Syakrizi yang terletak di wilayah Fatih. Tercatat, bahwa hotel ini merupakan tempat tinggal sejumlah para pemikir dan pujangga, seperti penyair kenamaan yang bernama Muhammad ‘Akif dan kepala intelejen yang bernama Fatih, juga seorang guru bahasa kenamaan yang bernama Jalal dan lain-lain.

Selama berada di ibu kota Istanbul beliau telah menggantungkan sebuah papan di depan pintu kamarnya yang bertuliskan: “Gratis”!!! Di sini akan terjawab setiap pertanyaan dan setiap problema pasti akan terpecahkan”. Ini merupakan pernyataan asing dan menarik perhatian yang membuat popularitas Said Nursi semakin luas yang sebelumnya juga sudah terkenal di ibu kota Istanbul dan membuat orang-orang ingin melihatnya secara langsung (Salih 2003, hlm. 15-16)

Di ibu kota Istanbul Said Nursi menyampaiikan usulan kepada Sultan Abdul Hamid agar didirikan sebuah madrasah bernama Madrasah Az-Zahrah yang ilmu agama dan ilmu sains diajarkan secara bersama di Turki Timur. Usulan ini disampaikan, karena penduduknya sangat didominasi oleh kebodohan dan kemiskinan, juga sangat dicekam oleh kediktatoran, sistem keamanan, dan para intel dai kalangan istana Yaldaz. Tetapi usulan ini hanya membuat orang-orang dekat Sultan yang hakikatnya tidak mencerminkan pemikiran Sultan membawa beliau ke beberapa dokter untuk diperiksa dan diteliti daya nalar otaknya. Kemudian para dokter berketetapan untuk menempatkannya di RS Jiwa Topbasyi.

Ketika salah seorang dokter hadir untuk memeriksa daya nalar otak Said Nursi, kepada dokter ini beliau menyampaikan apa yang terlintas dalam benak sang dokter. Kejadian I telah mendorongnya mebuat keterangan : “Jika memang terdapat sedikit saja kegilaan pada Said Nursi, ini artinya bahwa di seluruh muka planet bumi ini tidak seorang pun ada yang berakal sehat” (Salih 2003, hlm. 17-18).

Kemudian  Said Nursi berangkat menuju Salonika dan di sana beliau berkenalan dengan para tokoh al-Ittihad Wa at-Taaraqqi (Perpaduan dan Kemajuan). Langkah ini ditempuh, dengan pertimbangan karena dirinya juga sebagai seorang yang menyarakan dan menyerukan kebebasan dan prinsip musyawarah secara Islami. Di sana ia mendapat sambutan hangat dari para pemimpin al-Ittihad Wa at-Taraqi. Namun demikian, mereka tidak berhasil mengajaknya untuk menjadi pengikut mereka. Kasus ini terjadi, karena ia tetap pada prinsip pemikiran dan kepribadiannya. Kemudian saat dirasakan bahwa sebagian di antara mereka ada yang goyah pendiriannya dan bersikap memusuhi agama (Islam), ia pun berkata: “Kalian ternyata memusuhi agama dan berpaling dari syari’at” (Salih 2003, hlm. 19-20).

 

  1. Menjadi Anggota Darul Hikmah al-Islamiyah

Di ibu kota Istanbul Said Nursi diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyah tanpa sepengetahuannya sebagai penghargaan baginya (13 Agustus 1918 M). Tercatat bahwa para anggota Darul Hikmah ini hanya merupakan ulama terkemuka saja. Ketika itu para anggotanya terdiri dari: Muhammad ‘Akif (penyair kondang), Ismail Hakki (seorang ulama kenamaan), Hamdi Almalali (mufassir terkenal), Mustafa Shabri (syaikul Islam), Sa’duddin Pasya, dan lain-lain.

Pada periode ini pemerintah telah menganggarkan gaji untuknya. Tetapi ia hanya mengambil sekedar untuk memenuhi hajat hidup pokok saja. Sedangkan sisanya dibelanjakan untuk biaya mencetak sebagian dari karya ilmiahnya yang dihimpun dalam Rasal an-Nur yang kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada kaum muslimin (Salih 2003, hlm. 34-36).

 

 

 

3.Transformasi Spritual

Perubahan dalam diri Said Nursi adalah ketika dia merasa perubahan dalam dirinya, ketika Ia berada di lembaga Darul Hikmah al-Islamiyah, ia pernah mengalami transformasi spiritual sebagai berikut:

Sadar diriku berada di dalam ‘rawa’ aku mencari bantuan, mencari jalan keluar dan panduan. Aku melihat ada berbagai jalan, dan saat ragu jalan mana yang harus ikuti, aku mencari penjelasan pada kitab Futuh al-Gaib, tulisan Syaih Abdul Qadir Jailani. Muncul kalimat berikut di hadapanku: Kamu berada di Darul Hikam (Rumah Kebijaksanaan); mencari dokter (rohani) yang akan menyembuhkan hatimu. Anehnya, aku memang anggota Darul Hikam (lembaga para ilmuwan tersebut). Aku dianggap sebagai ‘dokter’, seorang pembimbing rohani, yang diharapkan bisa menyembuhkan penyakit-penyakit rohani umat Islam; sementara sayalah yang secara rohani sakit lebih parah daripada yang lain, dan aku harus mengobati diriku sendiri sebagai pasien. Setelah itu, aku membaca kitab Maktubat (Surat-surat) karya Imam Rabbani, dan mempelajarinya dengan niat yang suci. Imam Rabbani juga dengan tandas memberikan nasihatnya dibanyak surat yang lain, ‘Menyatukan arah yang akan engkau tuju,’ yakni ‘ambil satu saja pemimpin atau satu jalan ke arah kebenaran.’ Tetapi, nasihat beliau yang paling penting ini tidak sesuai dengan watak dan perangaiku. Kadang-kadang pikiranku tidak bisa memutuskan mana yang harus diikuti. Karena setiap jalan memiliki daya tarik sendiri-sendiri, maka sulit bagiku untuk menyenangi salah satu jalan dan mengikutinya. Saat aku dalam kebingungan, dengan Kasih Sayang Allah SWT aku menjadi tahu bahwa ujung semua jalan tersebut, sumber dari semua saluran tersebut, ‘matahari yang dikelilingi oleh semua ‘planet’ tersebut, tak lain adalah al-Qur’an yang penuh hikmah, yang bisa menyatukan semua arah (Said Nursi 2003, hlm. 487-488).

Transformasi spiritual inilah yang menjadi penyebab perubahan Said Qadim ke Said Jadid. Pada  masa-masa ini dan ketika Inggris berhasil menduduki Istanbul (16 Maret 1920), Badiuzzaman berhasil menyelesaikan buku karangannya yang berjudul al-Khuthuwat as-Sitta (Enam Langkah ) yang diterbitkan secra sembunyi-sembunyi dengan bantuan para murid dan teman-temannya… Buku ini berisi serangan Badiuzzaman kepada Inggris yang disampaikan dengan nada keras dan berupa klarifikasi tentang berbagai syubhat yang santer menjadi buah bibir masyarakat luas dengan disertai sejumlah dalil argumetatif. Buku tersebut juga berisi ajakan kaum muslimin tetap optimis dan memerangi sikap pesimis yang selama ini tampaknya menguasai masyarakat, serta berisi seruan agar mereka berbakal tekad kuat.

 

Kegiatan Politik

Secara bersamaan dalam kehidupanya Said Nursi jelas berkaitan erat dengan kegaitan politik. Kajian berikut akan menjelaskan fokus kepada kegiatan politik yang pernah dilakukan oleh Said Nursi semasa hidupnya, sebagai berikut :

  1. Menentang Inggris

Diantara serentetan rencana jahat yang dilakukan Inggris terhadap Islam melalaui gereja Anglikan adalah enam pertanyaan yang disampaikan kepada para ulama Islam agar dijawab dengan enam ratus kata. Kemudian pertanyaan ini oleh para ulama disampaikan kepada Badiuzzaman dan dijawab: “Sesunguhnya jawaban enam pertanyaan ini tidak harus denggan enam ratus kata dan tidak pula dengan enam kata…, juga tidak harus dengan satu kata…,melainkan cukup dengan ludah yang disemburkan  kepada muka orang-orang Inggris terkutuk.” (Salih 2003, hlm. 39-40).

Gerakan anti pendudukan asing di Anatolia mulai beraksi. Syaikhul Islam Abdullah Afandi pun di bawah tekanan pemerintahan kolonial Inggris mengeluarkan fatwa menentang gerakan dan para pelaku aksi ini. Tetapi segera fatwa ini dibantah lagi dan dinyatakan batal oleh fatwa yang dikeluarkan oleh tujuh puluh enam ulama bersama tiga puluh enam ilmuwan dan sebelas anggota DPR (anggota parlemen).

  1. Said Nursi Masa Pergolakan

Said Nursi di zaman pergolakan ini terjadi pada 1908-1912, ketika itu ia berjuang keras demi untuk menegakkan satu sistem kelembagaan yang berteraskan Syariat Islam. Memandang pengaruh Said Nursi serta ketokohannya, para pimpinan gerakan ini mencoba membujuk dan mempengaruhinya menyertai gerakan mereka. Antara mereka yang datang  menemuinya ialah Emanuel Carasso, seorang yang Yahudi berkebangsaan Itali. Tetapi apa yang berlaku adalah sebaliknya, sehingga dia berkata: “Lelaki ajaib ini hampir-hampir menyebabkan aku memeluk Islam dengan kata-katanya” (Zaidin 2001, hlm. 32).

            Dalam tahun 1908, satu pemberontakan telah meletus Revolusi Turki Muda (The Young Turk Revolution) yang didalangi oleh Pertubuhan Perpaduan dan Kemajuan telah berhasil memaksa Sultan mengaktifkan semua kelembagaan. Walaupun Said Nursi menyokong usaha untuk mengembalikan kelembagaan dalam negara, tetapi Revolusi Turki Muda tidak disetujuinya. Ini jelas dari sikap Said Nursi yang berpegang kepada prinsip kesederhanaan (menolak kekerasan) dalam menuntut sesuatu keadilan atau kebaikan. Lebih-lebih lagi, Pertumbuhan Perpaduan dan Kemajuan yang menjadi penggerak utama ke arah tercetusnya revolusi tersebut bergerak di atas teras perjuangan yang menyimpang dari ajaran Islam (Zaidin 2001, hlm. 33).

            Said Nursi terus menyampaikan idenya kepada masyarakat tanpa dapat dipengaruhi oleh mana-mana pihak. Beliau melihat hanya dengan Perlembagaan Islam yang mampu mengembalikan kekuatan dan kemakmuran dakwah. Ini jelas dari pidato yang disampaikannya di Salanik selepas pengisytiharan kelembagaan tersebut. Di antara ucapannya, seperti dikutip Zaidin (2001, hlm. 34): “Berhati-hatilah saudara-saudaraku, jangan kamu hancurkan kebebasan ini dengan kematian kali kedua dengan tindakan-tindakan yang bodoh dan pengabaian dalam urusan agama. Sesungguhnya Undang-Undang Asas yang berfraksikan kepada Undang-Undang Islam (Syariat) adalah malaikat maut yang akan menyentap semua ruh isme-isme yang merusakkan, akhlak buruk, tipu daya syaetan dan penyelewengan yang hina.”

Pada 5 Oktober 1908 (9 Ramadan 1326 H), Austria telah mengumumkan kemasukan Bosnia dan Hersegovina ke dalam negara tersebut. Sebagai tindak balasan, kerajaan telah menyatakan memboikot semua barang Austria dan gedung-gedung jualannya. Aktifitas perniagaan dan perdagangan di Istanbul mulai terhambat (Zaidin 2001, hal. 37). Keadaan ini berimbas juga pada kehidupan hampir dua puluh ribu masyarakat buruh dari bangsa Kurdi. Akhirnya mereka melancarkan mogok dan tidak lagi mematuhi arahan ketua-ketua mereka. Suatu hari, kumpulan buruh yang berada di Khan Ashirah mulai bertindak liar.

Said Nursi yang mendengar berita tersebut terus bergegas ke sana dan memberikan nasihat kepada mereka. Antara lain kata-katanya ialah:

Musuh kita adalah kejahilan, keperluan dan perselisihan. Kita akan memerangi ketiga-tiga musuh ini dengan senjata kemajuan, pengetahuan dan penyatuan. Oleh itu kita perlu bantu membantu dan berganding bahu dengan orang-orang Turki. Mereka adalah saudara kita,…mereka telah menyadarkan kita dari kealpaan dan mendorong kita dari ke arah ketamadunan. Ya, kita akan bersatu dengan mereka (orang Turki) dan mereka yang berjiran dengan kita kerana permusuhan dan perseteruan adalah kebinasaan. Kita sebenarnya tidak mempunyai waktu untuk bermusuhan (sesama sendiri)… (Said Nursi dalam Zaidin 2001, hlm. 38).

Sungguh luar biasa pengorbanan Said Nursi yang telah berani meredamkan amarah buruh bangsa Kurdi yang sudah menggunung, karena mereka sudah tidak percaya kerajaan yang sudah membaikot barang Austria. Said Nursi secara tegas mengatakan musuh kita bukan orang-orang Turki, tapi musuh kita kejahilan dan perselisihan. Orang Turki adalah saudara sendiri bukan musuh, karena perseturuan dan permusuhan justeru akan membinasakan kita sendiri. Akhirnya, mereka semua menyadari bahwa tindakan yang mereka lakukan dengan mendemo kerajaan kekeliruan yang harus dibenahi.

  1. Ikut Perang Dunia I (1918-1923)

Bagian ini akan memaparkan keterlibatan Said Nursi dalam Perang Dunia I menentang tentara Rusia dan Armenia. Corak perjuangannya yang sederhana (tanpa senjata dan kekerasan) telah diubah kepada perjuangan bersenjata apabila berhadapan dengan musuh-musuh luar (bukan Islam).

Said Nursi dan Inggris (1918-1923), fatrah ini menyaksikan bagaimana Said Nursi menggunakan segala ruang yang ada untuk menyedarkan umat Islam dan membangkitkan semangat mereka supaya berjihad menentang penjajah:

Pada 5 April 1909, Parti al-Ittihad al-Muhammadi telah ditubuhkan di Istanbul. Ia diasaskan oleh Darwish Wihdati. Pertumbuhan politik Islam ini  secara umumnya adalah tindak balas masyarakat Islam yang merasa bimbang dengan perkembangan yang berlaku dalam negara di bawah pemerintahan Parti Perpaduan dan Kemajuan. Mereka menuntut supaya Syariat Islam ditegakkan semula dalam negara. Antara kesan daripada protes mereka terhadap kerajaan ialah berlakunya penutupan kedai minuman keras dan pusat teater. Mereka juga menuntut supaya kerajaan membuat sekatan ke atas Gerakan Kebebasan Wanita (Zaidin 2001, hlm. 32).

Said Nursi yang menyertai pertumbuhan politik ini, turut sama memberi sumbangan dengan menyampaikan ide-idenya kepada masyarakat melalui akhbar Volkan yang merupakan lidah rasmi pertumbuhan tersebut. Bahkan Said Nursi sendiri telah berucap sewaktu pertubuhan ini diasaskan. Di samping Volkan, Said Nursi juga menulis di dalam akhbar-akhbar lain seperti al-Aqbah, Surbasti, Mizan, al-Misbah dan lain-lain lagi (Zaidin 2001, hal. 38).

            Meskipun Said Nursi menyokong Parti al-Ittihad al-Muhammadi, sokongan ini sedikitpun tidak menyekat beliau dari menyatakan kebenaran, maupun mengkritik mana-mana pihak yang dilihatnya tidak bertindak sewajarnya. Ini terbukti apabila sebagian kritikannya juga ditujukan kepada golongan pengarang, termasuklah Darwish Wihdati sendiri, yang tidak memperlihatkan adab-adab penulisan yang Islamik. Antara kritikannya, “Sasterawan seharusnya beradab, terutamanya dengan adab-adab Islam supaya (kekuatan) agama itu dapat menjadi pengawal dalam bidang penulisan.

            Dalam tahun 1910, Said Nursi meninggalkan Istanbul dan kembali ke Wan melalui Batum (Batum). Dalam perjalanan, Said Nursi singgah di Tiflis (Tiflis) untuk melihat suasana bandaraya tersebut. Untuk itu, Said Nursi pun mendaki Bukit Shaykh Sanan dan untuk seketika Said Nursi memandang ke arah bumi yang berada di bawah jajahan Rusia. Seorang pegawai polis Rusia datang menghampirinya. Setelah sampai ke Wan, Said Nursi mulai menyampaikan kuliah-kuliah agama kepada masyarakat. Himpunan soalan serta jawaban yang diberikan dalam kuliah itu dimasukkan oleh Said Nursi dalam kitabnya al-Munazarat. Karangan dalam bahasa Turki ini kemudiannya diterjemahkan kedalam bahasa Arab judul Rajtat al-awwam. Kitab ini telah dicetak di Istanbul dalam tahun 1913 (Zaidin 2001, hlm. 44-46).

Ketika terjadi pemberontakan besar 31 Maret pada tahun 1909, ia telah coba mententeramkan keadaan. Pada tahun 1911, Ia pergi ke Damaskus untuk menyampaikan khutbah di Masjid Umayyah tentang kondisi umat Muslim dan cara mengatasi masalah-masalahnya. Dalam perang dunia I, Badiuzzaman menjadi pemimpin pasukan sukarelawan di medan perang Kakasia dan Turki Timur. Dalam pertempuran ini Said Nursi bersama para muridnya dengan segala daya yang dimiliki turut serta menghadapi tentara Rusia. Kemudian selama terlibat dalam pertempuran tersebut ia pun berhasil menyusun tafsirnya yang sangat berharga, Isyarat al-I’jaz Fi Mazhan al-Ijaz, dalam bahasa Arab. Said Nursi pun tertangkap oleh pasukan tentara Rusia dan dibawa ke salah satu markas tawanan militer di Qustarma yang terletak di Timur Rusia (Salih 2003, hlm. 25-29).

Setelah 2 tahun Said Nursi pulang ke Istanbul pada tahun 1918. Kemudian Said Nursi diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyyah – Lembaga ilmiah milik para ulama Turki Usmani – tanpa sepengetahuannya sebagai penghargaan baginya.  Dalam tesis Zaidin (2001, hlm. 49) dituliskan pula tentang penugasan Said Nursi untuk memimpin perang. Ini terjasi pada 1912, dalam minggu-minggu pertama tercetusnya Perang Balkan, Said Nursi telah dilantik memimpin pasukan Sukarelawan dari selatan anadul (Anatolia). Said Nursi kemudiannya di saat-saat hampir tercetusnya Perang Dunia I diberi kepercayaan untuk menganggotai al-Tashkilat al-Makhsusah. Kerajaan telah membuat keputusan untuk menyebarkan Fatwa Jihad keseluruh dunia Islam. Beliau telah ditugaskan melaksanakan misi tersebut ke Libya (Afrika Utara). Dengan menaiki kapal selam Jerman, Said Nursi dan pasukannya berangkat ke sana. Misinya ini adalah untuk menghubungi Sayyid Muhammad Idris al-Sanusi yang ketika itu sedang berjuang menentang tentara Itali.

  1. Menentang Mustafa Kemal Attatruk

Said Nursi berulang kali diundang ke Ankara oleh Mustafa Kamal, sehingga ia berangkat juga ke sana pada tahun 1922, sebelum Hari Raya Qurban tahun itu, dan kedatangannya ini telah disambut dengan meriah. Sayangnya beliau tidak betah di Ankara karena melihat kebanyakan di antara para anggota dewan tidak aktif shalat, sebagaimana perilaku Mustafa Kamal pun tampak berlawanan dengan Islam suatu hal yang membuat ia sangat sedih. Dengan demikian, beliau berketetapan utuk mencetak pernyataan pada tanggal 19/1/1923 M. yang membuat sepuluh materi yang dialamatkan kepada para anggota dewan, sebagai nasihat dan peringatan Islami.

Kemudian pernyataan ini dibagiikan kepada  para anggota dewan yang dipimpin oleh Jenderal Kazhim Qurah Bakar (Panglima Besar  Gerakan Kemerdekaan). Buah dari langkah tersebut telah berhasil menyadarkan kira-kira enam puluh di antara mereka menjadi orang-orang taat beragama dan aktif menjalankan shalat, sehingga masjid yang ada di sana tidak mampu menampung jamaah dan akhirnya dipindahkan ke ruangan yang lebih besar.

Mustafa Kamal rupanya tidak senang dengan pernyataan ini dan oleh karena itu dia memanggil Said Nursi. Kemudian, terjadilah pembicaraan seru di antara keduanya. Di antara kata-kata yang disampaikan oleh Mustafa Kamal saat itu:

Sejujurnya, bahwa kami sangat membutuhkan orang seperti Anda. Untuk itu kami sengaja mengundang Anda ke sini agar kami bisa mengambil manfaat dari pendapat-pendapat Anda yang sangat berharga. Tetapi langkah pertama yang Anda sampaikan kepada kami ternyata urusan shalat yang membuat di antara sesama anggota majelis di sini terpecah. Seraya memberi isyarat dengan telunjuknya, Badiuzzaman menjawab pernyataan Mustafa Kamal : Pasya…Pasya… Sesungguhnya hakikat yang paling menonjol sesudah iman adalah shalat. Sesungguhnya orang yang tidak menjalankan shalat adalah pengkhianat, sedangkan kepemimpinan seorang pengkhianaat di mata hukum adalah tidak diterima…..Mendengar jawaban ini Mustafa Kamal berpikir hendak menjauhkannya dari Ankara. Untuk itu, beliau ditawari jabatan sebagai penasihat umum wilayah timur dengan gaji yang menggiurkan. Tetapi Said Nursi menolak tawaran ini (Salih 2003, hlm. 41-43).

Setelah merasakan adanya niat buruk yang dialamatkan kepada Islam dari sejumlah pihak pemerintah di Ankara, maka Said Nursi pun pergi meninggalkan kota ini. Ia pergi dari sana dengan hati yang sedih dan membuat dirinya banyak melakukan tahajjud, ibadah, dan pengaduan kepada Allah atas keadaan yang terjadi menimpa kaum mulimin. Ia pergi menuju kota Wan dan tinggal di sebuah rumah kumuh yan tidak berpenghuni yang terletak di gunung Ark. Di sanlah untuk sekian lama waktunya dihabiskan dengan mengasingkan diri dari keramaian. Di sanalah beliau i’tikaf dan mengheningkan cipta, seolah-olah bahwa Allah sedang mmpersiapkan dirinya untuk tampil menghadapi tugas berat dan bahaya yang hendak menghancurkan Islam ( Salih 2003, hlm. 43-45).

  1. Perjuangan Menuju Rumayli (Rumelia)

Selepas berada di Sham, Said Nursi pergi ke Bayrut (Beirut) dan kemudiannya kembali ke Istanbul melalui jalan laut pada Jun, 1911. Said Nursi telah dipilih sebagai wakil dari Timur Turki untuk mengiringi Sultan Rashad dalam satu lawatan ke Rumayli, sebuah kawasan Eropa di bawah kekuasaan Turki. Rombongan Di-Raja ini berangkat dengan menaiki kapal perang Barbarossa dan mereka sampai ke Salanik pada 7 Juni 1911. Pada 11 Juni 1911, rombongan tersebut sampai ke Uskup (Skopje), sebuah bandaraya bersejarah, yang juga merupakan ibukota Qusuwa (Kosovo). Dalam perjalanan ini, dua orang pengikut Sultan yang berpendidikan sekolah modern berbual dengan Said Nursi (Zaidin 2001, hlm. 48).

            Pada ketika itu, sebuah universitas sedang dibina di Qusuwa. Said Nursi mengambil kesempatan ini dengan menjelaskan kepada Sultan dan beberapa orang pemimpin Partai Perpaduan dan Kemajuan tentang betapa perlunya dibina sebuah universitas di Timur Turki. Rencana tersebut telah disambut baik oleh Sultan. Setelah Qusuwa jatuh ketangan Rusia dalam Perang Balkan, peruntukan sejumlah 19.000 lira yang disediakan bagi penubuhan universitas di Timur Turki atas permintaan Said Nursi sendiri. Setelah kembali ke Wan, Said Nursi terus meletakkan batu pertama pendirian universitas tersebut di Irtamit (Edremit), berhampiran dengan Tasik Wan (Zaidin 2001, hlm. 48-49). Kendati proyek terebut tidak membuahkan hasil yang membanggakan disebabkan meletusnya Perang Dunia I.

Meskipun sepanjang hidupnya dia selalu menentang segala pemberontakan dan gerakan yang bermaksud memecah ketenteraman dan keteraturan masyarakat, dan selalu menandaskan bahwa hak-hak setiap orang tidak boleh dilanggar meskipun demi kepentingan seluruh masyarakat, dia dituduh membangun organisasi-organisasi rahasia yang bertujuan menghancurkan ketenteraman masyarakat.

Ketika dalam persidangan dia ditanya pendapatnya tentang negara Republik Turki, dia menjawab : “Biografi saya yang kalian pegang itu membuktikan bahwa saya ini warga negara republik yang religius bahkan sebelum kalian lahir ke dunia. Dia ditahan selama 11 bulan di penjara sebelum akhirnya diputus tidak bersalah” (Salih 2003, hlm. 66).

Setelah dibebaskan, dia dipaksa tinggal di Kastamonu. Semula dia tinggal di lantai teratas kantor polisi itu, kemudian dipindahkan ke sebelah rumah tepat dia seberangnya. Dia menetap di Kastamonu selama tujuh tahun, dan beberapa bagian penting dari Risalah An-Nur ditulisnya disana. Selama masa ini, baik dia maupun para santrinya (dari Kastamonu dan daerah-daerah lain) terus-menerus mendapatkan tekanan dari pemerintah. Tekanan tersebut kian lama kian meningkat, dan berpuncak dengan penangkapan besar-besaran dan pengadilan serta pemenjaraan di Denizli pada tahun 1943-1944. Dia dituduh membentuk tariqah Sufi dan mengorganisir masyarakat politis. Meskipun tuduhan itu akhirnya gugur, tetapi Said Nursi dikurung selama 9 bulan dalam sebuah sel yang kecil sekali, gelap dan pengap dalam kondisi yang sangat menyedihkan sampai ia dibebaskan pada tahun 1944:

Setelah dibebaskan, Said Nursi dikirim ke kota Emirdag, Propinsi Afyon agar menetap disana. Pada tahun 1948 sebuah perkara baru dibuka di Pengadilan Pidana Afyon. Pengadilan memvonis dia dengan semena-semena, tetapi vonis tersebut dibatalkan melalui banding, dan Said Nursi besrta murid-muridnya dinyatakan tidak bersalah. Setelah itu dia berpindah-pindah tempat tinggal seperti ke Emirdag, Isparta, Afyon, dan Istanbul. Pada tahun 1953 dia diadili sekali lagi, kali ini dengan tuduhan menerbitkan A Guide for Youth (Petunjuk bagi Para Pemuda), dan kembali dinyatakan tidak bersalah. Pada saat wafatnya di Urfah, 23 Maret 1960, yang mungkin bertepatan dengan Lailatul Qadar, penyelenggara pemakaman menemukan peninggalannya berupa sehelai surban, sepotong pakaian, dan uang dua puluh lira (Salih 2003, hlm. 67).

            Said Nursi di depan pengadilan pernah menyampaikan pembelaan yang sangat terkenal. Berikut ini akan kita kutip sebagian daripadanya:

Bapak-bapak hakim yang terhormat: Saya telah dihadapkan ke persidangan ini dengan tuduhan bahwa saya seorang yang telah menjadikan agama sebagai jalan untuk membuat kekacauan dan merusak keamanan umum. Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk menyampaikan pernyataan kepada Bapak-bapak sekalian:            Dampak suatu perbuatan tidak bisa dituduh sebagai faktor penyebab suatu kasus sampai terjadi dan tidak dapat dituduh sebagai biang keladinya. Memang, bisa jadi batang korek api dapat membakar rumah. Tetapi kemungkinan ini tidak berarti sebagai biang segala tindakan kriminal. Aktivitasku yang hanya terfokus menggeluti ilmu-ilmu keislaman hanya dijadikan sarana untuk memperoleh ridha Allah, jauh bumi dari langit untuk dipergunakan selain dari itu.     Bapak-bapak telah betanya: Apakah saya termasuk orang-orang yang aktif dalam kegiatan seperti yang dilakukan para pengikut thariqah sufisme? Pertanyaan ini saya jawab: Sesungguhnya era kita sekarang adalah era memelihara iman bukan era mempertahankan thariqah sufisme. Kelak di akhirat pasti akan banyak masuk syurga tanpa melalui thariqah sufisme. Tetapi seorang pun tidak akan ada yang masuk ke sana tanpa iman (Salih 2003, hlm. 67).

Sebagai akhir perjuangannya Said Nursi memberikan peniggalan sejati yang tak ternilai dari pahlawan Islam dan kemanusiaan ini, yang pada saat meninggalnya hanya berbobot 40 kilogram, adalah Kumpulan Risale-i Nur setebal 6000 halaman, yang telah diperkarakan di berbagai persidangan sebanyak sekitar 2000 kali hingga sekarang, dan prinsip-prinsip mulianya yang merupakan dimensi yang tidak akan bisa dicatat dalam catatan penyelenggara jenazah (Said Nursi 2003b, hlm. XV-XVI).

Karya Tulis

Sebelum mengenal karya tulis Said Nursi perlu diketahui bahwa karya tulis Said Nursi banyak sekali, selain Kuliyatul Rasailin Nur, Said Nursi juga memiliki karya-karya lain.

Risale-i Nur

Rilale-i Nur sekarang lebih dikenal “Kuliyatul Rasailin Nur” adalah kumpulan kitab tafsir yang ditulis oleh Said Nursi yang diberi nama “Risale-i Nur”. Adapun yang dimaksud Risale-i Nur adalah kumpulan tulisan Said Nursi berjumlah 14 jilid. Kumpulan tulisan 14 jilid inilah yang disebut Risale-i Nur. Risale-i Nur adalah karya monumental Said Nursi yang ditulisnya dengan tulisan tangan bersama muridnya yang tebalnya berjumlah kurang lebih 6000 halaman, selain itu terdapat pula karya-karya Said Nursi yang lain yang ditulis pada masa Said Lama dan Said Ketiga. Berikut ini akan disebutkan bagian Risale-1 Nur karya tulis Said Nursi selengkapnya adalah :

 

 

 

Tabel 1

Kumpulan Tulisan 14 Jilid Risale-i Nur

 

No.

Judul Buku

Tahun

Perbitan

Bahasa

Yang

Digunakan

Keterangan
1. Sozler 1926-1929 Turki Asli dan Masih Terbit
2. Mektubat 1929-1932 Turki Asli dan Masih Terbit
3. Lema’alar 1921-1932-1934 Turki Asli dan Masih Terbit
4. Su’alar 1936-1940 Turki Asli dan Masih Terbit
5. Isyaratul Ijaz 1916-1918 Turki Asli dan Masih Terbit
6. Mesnavi Nuriye 1922-1923 Arab dan

Turki

Asli dan Masih Terbit
7. Barla Lakihasi 1925-1930 Turki Asli dan Masih Terbit
8. Ermidag Lakihasi 1944-1949 Turki Asli dan Masih Terbit
9 Kastamonu Lakihasi 1936-19 Turki Asli dan Masih Terbit
10. Tarihce Hayati 1948-1950 Turki Asli dan Masih Terbit
11. Asyari Musa Turki Asli dan Masih Terbit
12. Iman ve Kufur

Munavazeleri

1948-1950 Turki Asli dan Masih Terbit
13. Sikke-i Tadikff Qaibi 1948-1950 Turki Asli dan Masih Terbit
14. Muhakamet 1911 Turki Asli dan Masih Terbit

Demikian keempat belas kitab Risale-i Nur yang merupakan master peice dari kitab-kitab Risale-i Nur. Di antara kitab-kitab Said Nursi di atas, ada yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yakni terdapat 33 Cahaya (al-lama’at) dalam buku Menikmati Takdir Langit, 29 Surat (al Maktubat)dalam buku Menjawab Yang Tak Terjawab, Menjelaskan Yang Tak Terjelaskan, dan 12 Risalah (ar-Risalah) terdapat dalam buku Sinar Yang Mengungkap Sang Cahaya (Epitomes of Light). Secara global isi pokok dalam karya tersebut mengupas tentang aqidah dan keimanan yang diindikasikan dengan ma’rifat Allah, ma’rifat Rasulullah, manhaj as-Sunnah; penguatan aspek ibadah, dan akhlak atau adab-adab Islami dan lain-lain.

 

Kitab-kitab Lain

Dalam konteks ini, maka keberadaan Risale-Nur merupakan sumber dari pembahasan karya-karya Said Nursi yang ditulisnya menjadi kitab-kitab lain tersebut, adapun kitab-kitab lain yang ditulis oleh Said Nursi diklasifikasi :

 

Tabel 2

Karya-karya Said Nursi

No. Judul Buku dan

Makalah

 

Tahun

Penulisan

Bahasa Yang

Digunakan

Keterangan

1. Talikat (mantik) Arab Asli dan Masih Terbit
2. Kull Icaz (mantik) Turki Asli dan Masih Terbit
3. Isarat Turki Asli dan Masih Terbit
4. Munazarat Turki Asli dan Masih Terbit
5. Divani Harbi- Orfi Turki Asli dan Masih Terbit
6. Sunuhat Turki Asli dan Masih Terbit
7. lserat Turki Asli dan Masih Terbit
8. Sunuat Nubuwuyat Turki Asli clan Masih Terbit
9. Hutbei Saniye Turki Asli dan Masih Terbit
10.

 

Nutqah min Ma’rifatillah

Jalla Jalahu

Turki Asli dan Masih Terbit
11. Nutuk (Khutbah, pidato) Turki 10 bush, Asli dan Masih

Terbit

12. Hair Risalasi Turki Asli dan Masih Terbit
13. Geclik Rehberi Turki Asli dan Masih Terbit
14. Konsferan Ankara Turki Asli dan Masih Terbit
15. Konsferan Ankara 1950 Turki Asli dan Masih Terbit
16. Yirni Ucucu Soz Turki Asli dan Masih Terbit
17. Otuz Ucu Pencere Turki Asli dan Masih Terbit
18. Nur Alemini Anahtari Turki Asli dan Masih Terbit
19. Uhuwet Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit
20. Ramazan Iktire Risaleler Turki Asli dan Masih Terbit
21. Was Risafeleri Turki Asli clan Masih Terbit
22. Tabiat Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit
23. Haftimlar Rehberi Turki Asli dan Masih Terbit
24. Hastalar Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit
25. Sunnet Seniyye Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit
26. Latief Nukteler Turki Asli dan Masih Terbit
27. Zahretin Nur Turki Asli dan Masih Terbit
28. Ayat-i Kubra Turki Asli dan Masih Terbit
29. Meyve Risalesi Turki Asli clan Masih Terbit
30. El Huccetuz Zahra Turki Asli dan Masih Terbit
31. Hakekat Nurlar Turki Asli dan Masih Terbit
32. Iman Hakikatleri Turki Asli dan Masih Terbit
33. Miftahul Iman Turki Asli dan Masih Terbit
34. Siracin Nur Turki Asli dan Masih Terbit
35. Tilsinflar Mecmuast Turki Asli dan Masih Terbit
36. Ecnebi Filozoflarm

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Filowflann$ehadetleri

Turki Asli dan Masih Terbit
37. Encebi Filozoflarin Sehadtleri Turki Asli dan Masih Terbit
38. Adfikar Mecmuasi Turki Asli dan Masih Terbit
39. Nur Gegmesl Turki Asli dan Masih Terbit
40. Tuluit Turki Asli dan Masih Terbit
41. Runifiz Turki Asli dan Masih Terbit
42. Tiryak Turki Asli dan Masih Terbit
43. Riale-I Nur Kulliyatindan Fihrist Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit

Dari pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa dalam sejarah kehidupannya Said Nursi berdasarkan riwayat pendidikan, aktifitas, kecerdasan dan otoritas keilmuannya memiliki potensi sebagai seorang filosof sufi. Said Nursi telah menulis karya-karya yang memberikan sumbangsih positif bagi dunia Islam dalam membangun nilai-nilai akhlak.

Said Nursi percaya bahwa kebahagiaan dan kemakmuran di dalam dunia ini adalah berdiri di atas ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh peradaban zaman. Adapun kunci utamanya menurut Said Nursi adalah akidah (keimanan) dan selalu merujuk pedoman hidup yakni al-Quran. Menguatkan iman dan memperkokoh akidah adalah jalan hidup di dunia modern.

Risale-i Nur sebagai karya besar abad ke-20 itu adalah otentik dalam konteks isi kandungannya melalui tinjauan politik dan sosial kultur yang memiliki bidang kajian yang berbeda-beda jika dibahas.

Bab 4

ANALISIS PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN AKHLAK MENURUT

BEDIUZZAMAN SAID NURSI DAN RELEVANSINYA DENGAN

PEMBINAAN GENERASI MUDA

Pembahasan berikut ini terdiri dari 2 (dua) bagian merupakan analisis dari data yang diperoleh terutama mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi, kemudian data tersebut dikomperasikan untuk melihat relevansinya dengan pembinaan generasi muda. Bagian pertama dibahas mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak mencakup ; menguatkan keimanan, berpegang teguh pada al-Qur’an, memahami hakekat penciptaan manusia, memahami alam semesta, memahami asma’ al-husna, mengetahui tanda-tanda hari kiamat, meyakini hari kiamat, meneladani Nabi Muhammad Saw., dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah. Bagian kedua, fokus bahasan pada prinsip-prinsip pendidikan akhlak dengan pembinaan generasi muda yang mencakup ; relevansi dengan akidah, pandangan hidup, tujuan hidup, ibadah, tingkah laku, situasi kejiwaan, lingkungan, dan tahapan perkembangan kepribadian generasi muda.

Prinsip-prinsip Pendidikan Akhlak Menurut Bediuzzaman Said Nursi   

Berdasarkan refleksi dari defenisi operasional judul tesis ini yang dimaksud prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi adalah “Suatu komitmen yang mendalam mengenai kehidupan menuju arah terciptanya perilaku lahir dan batin yang seimbang (seperti Nabi) bagi generasi muda menurut pemahaman Bediuzzaman Said Nursi“. Hal ini berarti bahwa Said Nursi memiliki pemahaman tentang komitmen-komitmen yang mendalam mengenai kehidupan menuju arah yang diinginkan yaitu berperilaku seperti Nabi, yang sangat bermanfaat bagi generasi muda.

            Adapun berdasarkan data yang ada, komitmen dasar yang dalam hal ini disebut sebagai prinsip hidup atau prinsip pembinaan atau proses pendidikan akhlak yang dikemukakan oleh Said Nursi dapat dirumuskan menjadi 9 (sembilan) prinsip, sebagai berikut :

Menguatkan Keimanan

Iman bagi manusia sangat penting. Said Nursi memperhatikan secara intensif mengenai keimanan ini, sehingga menjadi komitmen mendasar baginya. “Prinsip menguatkan keimanan” ini benar-benar menjadi dasar bagi setiap orang. Dengan kata lain, keimanan dapat dipahami sebagai akidah atau tauhid. Dalam konteks tauhid ini Ismail Raji’ Al-Faruqi menyatakan bahwa “esensi pengamalan keagamaan dalam Islam adalah tauhid yaitu pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (La illaha illa Allah)” (Al Faruqi 1982, hlm. 30). Pendapat ini menguatkan bahwa sebagian pengalaman hidup adalah pengalaman keagaman. Dimana pengalaman keagamaan cenderung semakin meningkatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Dalam konteks ajaran agama Islam, maka  keimanan mendalam meyakini secara penuh adanya Allah Swt, itulah tujuan ciptaan tertinggi manusia.

Tujuan ciptaan yang paling murni dan fitrah manusia yang paling tinggi ialah iman kepada Allah. Jika ditinjau dari aspek pengamalan agama, tawaran-tawaran Said Nursi adalah penguatan keimanan melalui ruh ketauhidan masuk dalam kehidupan manusia sampai ke relung batin. Tauhid adalah dasar utama dalam menyatakan keimanan secara sempurna. Hakekat keimanan secara menyeluruh dapat dipahami melalui rukun iman.[19]

Menurut Said Nursi hakekat keimanan terdapat dalam kalimat La Ilaha Illah yang merupakan mengakui secara totalitas kekuasaan Allah. Mengenai ini Said Nursi menganggap bahwa “segala sesuatu selain Allah tidaklah berasal dari sesuatu itu sendiri tetapi berasal dari Allah Yang Maha Kuasa. Menganggap alam semesta berasal dari alam semesta itu sendiri atau kuasa-kuasa material itu adalah suatu kesalahan. Segala sesuatu mempunyai dua aspek : aspek pertama mengacu kepada Pencipta sedangkan aspek yang kedua mengacu kepada ciptaan” (Said Nursi 2003, hlm. 92).

Pada prinsipnya, pernyataan di atas menegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, alam bukanlah terjadi dengan sendirinya, demikian pula segala sesuatu bukanlah terjadi tanpa campur tangan Sang Pengusa. Said Nursi yakin bahwa segala sesuatu itu diciptakan dalam 2 (dua) tahap, Pencipta dan Ciptaan. Sebagai seorang yang beriman maka kita harus meyakini bahwa Allah adalah Pencipta dan diluar Allah itu adalah Ciptaan.

Kalimat tauhid yang dipedomani Said Nursi bukan tanpa hikmah, justru  ungkapan kalimat La Ilaha Illah ini terdapat hikmah mendalam yaitu Allah menjadikan segala sesuatu yang ada di jagad ini bagaikan rangkaian kepingan‑kepingan bermakna yang memantulkan keesaan Allah rabb al-‘alamin. Eksistensi dan ketunggalan Tuhan, hari kiamat, kitab suci, kerasulan takdir Ilahi dan keadilan dalam hidup manusia, dan posisi serta kewajiban manusia di antara makhluk-makhluk lainnya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa para ateis dan naturalis mempunyai pendapat yang menyimpang dari manifestasi keesaan Allah Swt pada alam semesta dan manusia. Keyakinan pada kausalitas para ateis dan naturalis melahirkan pernyataan-pernyataan seperti : “Alam itu terwujud oleh sebab, alam terbentuk dengan sendirinya, dan alam itu terjadi tuntutan alam (Said Nursi 2003a, hlm. 333) dan lain-lain” telah melahirkan materialisme, naturalisme, komunisme, bahkan ateisme.

Said Nursi dalam kitab tafsir Risale-i Nur menafsirkan Laa ilaaha illa Allah dan membongkar mitos kausalitas ini dan menunjukkan bahwa mereka yang mengikuti keyakinan ini sebenarnya tidak melihat dunia sebagaimana mestinya, atau bagaimana dunia itu tampak, tetapi bagaimana dunia itu menurut pikiran mereka. Said Nursi justru melalui Risale-i Nur menunjukkan hakikat kejadian alam, manusia, dan peristiwa-peristiwa lainnya yang berada di bawah kendali Zat Yang Maha Mengendalikan, Zat Yang Berkuasa atas segala sesuatu (Said Nursi 2003a, hlm. 334).

Penjelasan di atas menegaskan setiap orang yang benar-benar ingin memahami dunia ciptaan ini sebagaimana mestinya, dan bukan atas kehendak imajinasinya, pasti akhirnya sampai pada kesimpulan Laa ilaaha illah Allah. Dia akan melihat keteraturan dan harmoni, keindahan dan kesimbangan, keadilan dan kemurahan, ketuhanan, keberlangsungan dan keagungan dan sekaligus dia akan menyadari bahwa semua atribut tersebut mengarah kepada benda-benda ciptaan itu melainkan pada realita di mana semua atribut tersebut ada dalam kesempurnaan dan keabsolutan. Dia akan melihat bahwa dunia ciptaan ini adalah buku berisikan nama-nama, suatu indeks yang ingin menceritakan Pemiliknya (Said Nursi 2003c, hlm. xxvii).

Maka dapat diyakini bahwa sebenarnya keimanan menjadi komitmen dasar dalam berakhlak. Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan cerminan dari apa yang ada dalam jiwa (al­-qalb mir-u al’amal). Akhlak yang baik terdorong dari keimanan seseorang karena sesungguhnya iman selain diyakini dalam hati, juga harus ditampilkan dalam perilaku nyata sehari-hari (Ali Anwar Yusuf 2005, hlm.81). Keyakinan tauhid yang terangkum dalam rukun iman seharusnya menjiwai dalam kehidupan manusia. Pendapat ini menguatkan bahwa kunci dari akhlak adalah keimanan.

Adapun tingkat keimanan yang lain adalah kepastian yang datang dari pengalaman langsung dengan kebenaran-kebenaran keimanan. Ini tergantung dari keteraturan kita dalam beribadah dan berpikir. Orang yang telah menguasai tingkatan keimanan ini dapat menghadapi seluruh dunia ini. Jadi, tugas pertama, terutama dan terpenting kita adalah mencapai tingkat keimanan ini dan mencoba dengan kesungguhan demi ridha Allah Yang Maha Kuasa untuk mengkomunikasikannya dengan orang lain.

Sehingga wajar sekali Said Nursi mengutip pendapat Imam Rabbani – pemimpin yang berpengaruh dan murshid terkemuka dari aliran nakshabandiah – mengatakan dalam suratnya, “Aku lebih suka perkara keimanan diketahui dengan cara yang mudah dimengerti daripada mencapai ribuan kenikmatan dan pencapaian rohani, ataupun melakukan keajaiban-keajaiban “. Singkatnya, menguatkan keimanan berupaya menegaskan bahwa tingkat keimanan yang pokok melalui pengalaman langsung dan berkomunikasi dengan orang lain untuk memahami Islam secara integral, baik alam semesta, manusia dan Tuhan.

Hal ini juga berarti bahwa secara tersirat dan tersurat Said Nursi meyakinkan kepada seluruh manusia bahwa prinsip “menguatkan keimanan” harus dilakukan oleh setiap manusia secara keseluruhan di akhir abad ini secara bertahap dan istiqomah dan keimanan mengajarkan untuk mengobati penyakit hati nurani.

Berpegang Teguh pada Al-Qur’an

Al-Qur’an berperan sebagai pedoman dan petunjuk menuju kebenaran Allah Swt. Prinsip berpegang teguh pada al-Qur’an menjadi komitmen dasar bagi Said Nursi. Berpegang teguh pada al-Qur’an  berarti manusia dituntut untuk mencapai kesempurnaan menuju Allah Swt. Sedikitnya ada 3 (tiga) pertanyaan untuk memperkuat argument ini : Apa sebenarnya al-Qur’an ? Mengapa al-Qur’an menjadi pedoman ? Mengapa al- Qur’an menjadi sangat penting dalam mengenal Allahh ?. Ketiga pertanyaan ini sangat penting dijawab, karena secara faktual tanpa ada al-Qur’an maka manusia tidak akan mengenal Allah sebagai Penciptanya.

Al-Qur’an adalah wahyu Allah atau kalam Allah. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang agung dan bacaan mulia serta dapat dituntut kebenarannya oleh siapa saja, sekalipun akan menghadapi tantangan kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin canggih (Syafi’i 2003, hlm. 53). Menurut Harun Nasution “wahyu berfungsi sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan” (Harun 2002, hlm. 81). Jadi, al-Qur’an pada awalnya kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-nabi yang kemudian disusun menjadi sebuah kitab ketika masa khalifa’urrasyiddin.[20]

Menurut Said Nursi al-Qur’an berasal dari Pencipta langit beserta benda-benda langit dan bumi serta seluruh penghuninya. Al-Qur’an yang membuat kita mengenal Tuhan semua alam (Said Nursi 2003a, hlm. 41-42). Said Nursi menuliskan :

Al-Qur’an adalah terjemahan abadi dari alam semesta, penerjemah abadi ‘bahasa­bahasa’ yang menjelaskan tanda-tanda alami dari Allah dan penafsir buku alam semesta. Al-Qur’an adalah penyingkap rahasia khazanah Nama-nama Allah yang tersembunyi pada ‘lembaran-lembaran’ langit dan bumi, dan kunci semua kebenaran yang berada di bawah garis kejadian-kejadian. Al-Qur’an adalah lidah dunia gaib dalam dunia material yang kasat mata, harta karun Tutur ilahi yang abadi dan pertolongan yang baka dari Sang Maha Pengasih. Al-Qur’an adalah landasan rancangan dan matahari bagi dunia intelektual dan spritual Islam dan peta bagi alam akherat. Al-Qur’an adalah penjelas, penafsir yang jernih, bukti yang fasih, dan penerjemah yang lancar dari semua esensi, sifat, nama dan perbuatan Allah; pendidik dan pelatih dalam dunia manusia dan merupakan air bagi umat manusia dan pembimbing sejati yang mengantarkan mereka kepada yang menciptakannya. Selain menjadi kitab hukum bagi umat manusia, al-Qur’an juga merupakan kitab kebijaksanaan bagi mereka. Selain menjadi kitab peribadatan dan penghambaan kepada Allah, al-Qur’an juga berisikan perintah dan ajakan. Selain menjadi kitab tentang senian, al-Qur’an juga merupakan kitab perenungan. Al-Qur’an memang sebuah kitab tunggal, tetapi memuat banyak kitab untuk semua kebutuhan umat manusia. Ia bagaikan perpustakaan suci berisikan buku-buku dan risalah-risalah yang berdasarkannya semua aulia, orang-orang terkemuka, dan semua cendekiawan yang mulia dan suci hati serta para pemikir dengan beragam pendekatan dan sikapnya mengambil cara-cara yang khas satu dengan yang lain. Al-Qur’an menyinari setiap cara ini dan menjawab kebutuhan para pengikut mereka yang memiliki selera dan temperamen yang berbeda-beda (Said Nursi 2003a, hlm. 42).

Menurut pandangan Said Nursi berdasarkan kutipan di atas, setidaknya terdapat 6 (enam) pemahaman mengenai al-Qur’an yakni Sebagai penerjemah, lidah, landasan, penjelas, tunggal dan sinar. Al-Qur’an sebagal penerjemah bagi kehidupan manusia secara rnenyeluruh. Sebagai lisan Allah yang selalu berbicara melalui kitab al-Qur’an. Sebagai landasan dalam menjalani kehidupan. Sebagai penjelasan bagi umat manusia tentang hakekat kehidupan. Sebagai sesuatu yang tunggal untuk menjadi petunjuk dan penuntun manusia. Sebagai sinar hati bagi manusia dalam menjalankan peran-peran kehidupannya. Keenam pemahaman mengenai al-Qur’an di atas menegaskan al-Qur’an menjadi pedoman penting bagi kehidupan manusia, terutama dalam rangka pedoman berakhlak mulia.

Al-Qur’an yang bijaksana, yang membuat kita mengetahui Tuhan kita, merupakan penerjemah abadi dari Kitab besar Alam Semesta ; pembuka khasanah nama-nama Allah yang tersembunyi dalam halaman-halaman bumi dan langit ; kunci kebenaran yang berada dibalik rangkaian peristiwa ; khasanah karunia dari Yang Maha Pengasih dan tempat­-tempat abadi yang datang dari alam Ghaib dibalik tabir alam yang kasat mata ini ; matahari alam rohani dan akal budi Islam serta pondasi dan rancangannya, dan peta alam Akhirat ; penjelas, penafsir yang jelas, bukti yang terang, penerjemah yang jelas dari esensi.

Sifat-sifat dan tindakan Ilahi, pendidik dan pelatih dunia manusia serta pembimbing, pemimpin, dan kebijaksanaannya yang benar. Al-Qur’an adalah kitab kebijaksanaan maupun hukum, dan kitab do’a dan ibadah, serta kitab perintah dan himbauan, dan kitab seruan dan ilmu Allah. Al-Qur’an adalah kitab yang berisi kitab-kitab bagi semua kebutuhan rohani manusia, dan dia seperti perpustakaan suci yang menawarkan kitab-kitab dari semua wali dan manusia yang sangat terpercaya dan semua ulama yang suci dan teliti dengan berbagai tabiat telah memperoleh jalan khas bagi diri mereka masing-masing.

Al-Qur’an juga merupakan pendiri : ia adalah dasar dari agama yang nyata, dan fondasi dunia Islam. Ia datang untuk mengubah kehidupan sosial manusia dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan dari kelas-kelas sosial yang berbeda. Kemudian al-Qur’an berbicara tentang hal-hal penting itu dan kebenaran-kebenaran yang sulit dipahami, sehingga diperlukan pengulangan di dalam konteks yang berbeda untuk membuat pikiran dan kalbu manusia terkesan dalam aspek-aspeknya. Apapun yang terjadi, pengulangan itu tampak nyata. Senyatanya, kata mempunyai berbagai lapis makna, manfaat yang banyak, serta banyak aspek dan tingkatan. Di dalam masing­masing tempat, kata dan ayat tertulis dengan cara yang berbeda, dalam konteks berbeda, untuk mencapai tujuan, makna, dan manfaat yang berbeda.

Al-Qur’an menyebutkan masalah kosmologis tertentu dengan cara yang ringkas dan sulit dipahami. Hal ini tidak bisa menjadi sasaran kritik, dan bukan suatu kesalahan seperti yang dibayangkan oleh orang-orang ateis. Sebaliknya, hal ini adalah cahaya kemukjizatan yang lain, karena al-Qur’an dimaksudkan untuk membimbing manusia (Said Nursi 2003, hlm. 272-273).

Dalam al-Qur’an penuh dengan pengetahuan dan kebenaran yang mutlak sebagaimana menurut Said Nursi sebagai berikut :

Sesungguhnya, al-Qur’an, alam semesta dan manusia adalah tiga jenis manipestasi dari satu kebenaran. Al-Qur’an, yang berasal dari sifat firman Ilahiah, bisa dianggap sebagai alam semesta, yang berasal dari sifat kuasa dan kehendak Ilahiah, bisa dianggap sebagai al-Qur’an yang diciptakan. Jadi, dari sudut pandang ini, alam semesta adalah pasangan dari al-Qur’an, yang tidak akan bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu, sekarang, saat sains berjaya, dan juga kelak, yang akan menjadi zaman pengetahuan, keimanan yang sejati harus didasarkan pada argumen dan penyelidikan, juga pada pemikiran yang terus menerus terhadap tanda-tanda Allah di alam semesta, pada fenomena, “alam”, sosial, historis dan psikologis. Keimanan bukanlah sesuatu yang didasarkan pada taglid yang membuta. Keimanan harus terjadi atas intelektualitas atau nalar dan kalbu, keimanan menggabungkan penerimaan dan penegasan nalar dan pengalaman serta penyerahan kalbu (Said Nursi 2003c, hlm. xx).

Kutipan di atas menjelaskan bahwa keimanan merupakan keyakinan awal bagi manusia memahami kehidupan. Pandangan yang menganggap al-Qur’an adalah sebagai sumber segala pengetahuan itu bukanlah hal yang baru. Imam al-Ghazali misalnya dalam buku Ihya ‘Ulum Al-Din, beliau mengutip kata-kata Ibnu Mas’ud : “Jika modern, selayaknya dia merenungkan al-Qur’an”. Selanjutnya beliau menambahkan : “Ringkasnya, seluruh ilmu tercakup di dalam kaya-kaya dan sifat-sifat Allah, dan Al-Qur’an adalah penjelas esensi, sifat-sifat, clan perbuatan-Nya”. (Mahdi 2001, hlm. 137). Keimanan tidak dapat dipisahkan dari petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalam al-Qur’an. Melalui al-Qur’an muncul keyakinan atau keimanan secara mendalam kepada Sang Pencipta yang dengan memahami alam semesta dan mengerti proses penciptaan manusia adalah upaya untuk meningkatkan keimanan itu sendiri.

Hal yang paling prinsip bagi Said Nursi dalam berpegang teguh kepada al-Qur’an, ketika Said Nursi masih menetap di Wan, beliau telah mendengar satu peristiwa yang telah meninggalkan kesan yang cukup mendalam pada dirinya; yakni ketika Tahir Basha telah memberitahukan kepadanya ucapan Gladestone (menteri Tanah Jajahan Britain) dalam satu perhimpunan resmi kerajaan Britain, sambil memegang sebuah mushaf al-Qur’an dan berkata ;

Ingiliz meclis-i meb’usani’nda mustenitekal naziri, elinde Kur’an-i kerim gostererek Soyledigi bir nutukla: “Bu kur’an islamlarin elinde bulundukca biz onlara hakim olamayiz. Ne yapip yapmaliyiz, bu kur’ani onlarin elinden kaldirmaliyiz; yahut muslumanlari kur’andan sogutmaliyiz diye hitabed bulunmus… ” (Said Nursi 1999e, hlm. 47).

Maksud perkataan tersebut : “Selagi al-Qur’an ini berada di tangan orang-orang Islam (menjadi pegangan mereka), selagi itulah, kita tidak akan mampu mengusai mereka. Oleh karena itu kita perlu jauhkan al-Qur’an dari mereka“. Setelah mendengar berita tersebut Said Nursi tentu bangkit dan berkata : “Bediuzzaman’in bu havadis uzerine: kur’anin sonmez ve sondurumez manevi bir gunes hukmunde oldugunu ben dunyaya ispat edecegim ve gosterecegin! Diye bir niyet ruhunda uyanir ve bu saikle calisir” (Said Nursi 1999e, hlm. 47-48). Said Nursi berkata : “Akan aku buktikan kepada, dunia, bahwa al-Qur’an adalah mentari maknawi yang tidak akan luntur sinarnya dan tidak akan dapat dipadamkan cahayanya.”

Demikian, yang mendasari komitmen Said Nursi dalam berpegang teguh pada al-Qur’an dan menjaganya dari kejahatan musuh Islam. Dari penjelasan di atas dapat ditegaskan bahwa dalam konteks ini berarti al- Qur’an merupakan informasi yang menjelaskan tentang pentingnya tauhid atau keimanan sebagai rangkaian mengkokohkan keyakinan. Kemudian, pentingnya al-Qur’an sebagai kalam Allah, karena menceritakan dan mendeskripsikan secara implisit tentang proses penciptaan manusia dan proses penciptaan alam semesta, yang memperkuat pemahaman mengenai manusia, alam dan Tuhan. Pentingnya, informasi al-Qur’an sebagai dan sumber rujukan bagi akhlak untuk membentuk pribadi yang berakhlak. Sebab, melalui al-Qur’an manusia memperoleh petunjuk, jalan, pedoman dan sumber kehidupan bagi berakhlak mulia.

Sesungguhnya, al-Qur’an, alam semesta dan manusia adalah tiga, jenis manifestasi dari satu kebenaran. Al-Qur’an, yang berasal dari firman Tuhan (ilahiah), bisa, dianggap, sebagai alam semesta yang ditulis atau disusun, sedangkan alam semesta, yang berasal dari sifat kuasa dan kehendak ilahiyah, bisa, dianggap sebagai al-Qur’an yang diciptakan. Jadi, dari sudut pandang ini, alam semesta adalah pasangan dari al-Qur’an, yang tidak akan pernah bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu, sekarang, saat sains berjaya, dan juga, kelak, yang akan menjadi zaman pengetahuan, keimanan yang sejati harus didasarkan pada argumen dan penyelidikan, juga pada pemikiran yang terus-menerus terhadap, tanda-tanda, Allah SWT di alam semesta, pada fenomena, alam, sosial, historis, dan psikologis (Said Nursi 2003b, hlm. xiv). Tegasnya, keimanan bukanlah sesuatu yang didasarkan pada taqlid membuta. Keimanan harus terdiri atas intelektualitas atau nalar dan kalbu. Keimanan rnenggabungkan penerimaan dan penegasan nalar dan pengalaman serta penyerahan kalbu.

 

Pentingnya Memahami Hakekat Penciptaan Manusia

Prinsip pentingnya memahami hakekat penciptaan manusia senantiasa berkaitan dengan memahami makna hidup dalam konteks ajaran Said Nursi. Karena dengan prinsip ini manusia mengerti keberadaan dirinya di muka bumi ini. Kehadiran manusia di muka bumi ini memiliki beragam pertanyaan. Bahkan hampir sepanjang hidupnya manusia harus belajar keberadaan dirinya (Said Nursi 2004, hlm. 17). Memahami hakekat penciptaan manusia harus diiringi dengan iman. Iman adalah kunci keyakinan mendalam terhadap penciptaan manusia dan alam semesta. Keyakinan ini ditimbulkan melalui akal atau penalaran dan hati nurani yang menyumbangkan peranan penting terhadap pemahaman manusia. Baik mengenai manusia sebagai mikrokosmos maupun alam sebagai makrokosmos.

Dalam konteks manusia sebagai mikrokosmos Ibrahim Hamzah (2001, hlm. 9) menyatakan bahwa “manusia itu terdiri dari atas 2 (dua) unsur, yaitu tubuh dan ruh jasad)”. Said Nursi secara implisit menyatakan bahwa manusia tersusun dalam dua unsur pokok yakni jasad sebagai material dan jiwa sebagai spritual. Intinya, Said Nursi juga berpendapat bahwa manusia itu memiliki unsur “ruhani dan jasad”. Pendapat ini sama seperti pendapat Ibn Miskawaih[21] bahwa hakekat manusia memiliki dua unsur yakni jiwa yang diketahui sebagai wawasan spiritual berasal dari Allah, dan jasad sebagai wawasan materialnya bermula dari alam materi. (Ibn Miskawaih 1979, hlm. 327). Pernyataan Said Nursi mengenai manusia terdiri dari 2 (dua) unsur yakni :

Jiwa yang terobesesi dengan penampilan meratap dengan putus asa ketika menyaksikan rusaknya sesuatu yang dipuja-puja ketika terjadi bencana alam, sedangkan ruh yang mencari sebuah cinta abadi juga meratap dan berkata “Aku tidak menyukai sesuatu yang seperti itu. Aku tidak menginginkan, aku tidak menghendaki, perpisahan dan aku tidak dapat menjalaninya”… Apabila kalian menginginkan kekekalan di dunia fana ini, kekekalan lahir dari kefanaan. Hancurkan dari dalam diri kalian tanpa harus menghancurkan jasmani kalian, jiwa yang diperintahkan setan, sehingga kalian dapat mencapai kekekalan… Bebaskan diri kalian dari moral-moral yang buruk, yang merupakan dasar pemujaan duniawi, dan wujudkan penghancuran hal-hal buruk dalam diri. Korbankan harta benda dan kekayaan kalian di jalan Allah. Lihat akhir suatu wujud, yang menandai kepunahan. Jalan setapak dari dunia ini menuju kekekalan melintas melalui kehancuran-diri. (Said Nursi, 2003 hlm. 105) (Said Nursi, Sozler, 2000a, kata ke-17).

Penyataan di atas memberikan gambaran bahwa Said Nursi menyakini bahwa manusia itu memiliki unsur jasad dan unsur ruhani, maka dapat dikatakan bahwa manusia jasad  2 terdiri dari jiwa dan jad manusia adalah “small creation” atau sebagai “microcosmos”.[22]  Jasad adalah sebuah alat ruh yang memerintah dan mengendalikan semua anggota sel dan partikel-partikel kecilnya (Ali 2002, hlm. 188). Jasad akan berinteraksi dengan ruh karena manusia sebagai bentuk makhluk ciptaan yang bisa dipahami melalui gerak fisik. Namun, sebenarnya di dunia ini, ruh dibatasi di dalam “penjara” jasad. Apabila nafsu dan keinginan duniawi mendominasinya, maka ruh tersebut pasti tidak berharga dan orang tersebut binasa. Apabila ruh dapat mengendalikan nafsu melalui iman, ibadah, dan perbuatan baik serta membebaskan dirinya sendiri dari perbudakan keinginan duniawi, maka ruh tersebut menjadi murni dan mencapai kesucian dan kemuliaan. Ini akan membawa kebahagiaan baginya di dalam dua dunia (Ali 2002, hlm. 193).

Jiwa dan jasad memiliki tingkatan sendiri dalam penciptaannya. Jiwa atau ruh sebagai penciptaan tertinggi. Sedangkan materi (al-ajsam) atau jasad penciptaan terendah. Pergerakan jasad manusia bukanlah jiwa melainkan natur materi itu sendiri. Karena itu, gerak jasad manusia bukanlah gerak melingkar tetapi berupa gerakan materi. Namun demikian, pada diri manusia terdapat jiwa yang tertinggi yakni al-nathiqat (berpikir). Jiwa berpikir ini hakekatnya adalah ruh yang memanifestasikan pemahaman nama-nama Allah. Jiwa ini – dalam bahasa al-Qur’an disebut al-ruh – yang ditiupkan oleh Allah Swt ketika janin sudah ada dalam rahim selama empat bulan.[23] Di mana jasad janin manusia sudah tumbuh dan berkembang karena natur materinya sendiri sebelum ar-ruh ditiupkan Allah.

Dalam konteks penjelasan mengenai unsur ruhani Ibn Miskawaih agaknya memberikan pemahaman dua segi. Pertama, unsur ruhani yang memang sudah ada pada natur jasad sebagai daya gerak dan berfungsi bagi tumbuh dan berkembangnya badan, dan kedua, unsur ruhani yang berasal dari Tuhan yang datang setelah janin berumur empat bulan dalam kandungan ibu. Pemahaman ini menegaskan terhadap daya yang ada dalam diri manusia. Sebagaimana umumnya para filosof menyebutkan ada 3 (tiga) daya jiwa yang ada dalam diri manusia. Daya-daya tersebut adalah : 1) Daya bernafsu (al-nafs al ­bahimiyyat) sebagai daya terendah, 2) Daya berani (al-nafs al sabu’iyyat) sebagai daya pertengahan, dan 3) Daya berpikir (al-nafs al-nathiqat) sebagai daya tertinggi.[24] Ketiga daya ini merupakan unsur ruhani manusia yang asal kejadiannya berbeda.

Menurut keterangan Ibn Miskawaih bahwa unsur al-nafs al-bahimiyyat (daya nafsu) dan al-nafs al-sabu’iyyat (daya berani) berasal dari unsur materi akan hancur bersama hancurnya badan. Sedangkan al-nafs nathiqat (daya pikir) tidak akan mengalami kehancuran (Al-Ghazali 1957, hlm. 287). Sesuai dengan pemahaman ini Said Nursi mengapresiasi daya-daya itu dalam sifat-sifat mulia manusia yang menjadi doktrin-doktrin utamanya.

Pertama, unsur jiwa al-nafs al-bahimiyyat (daya nafsu) dalam diri manusia akan mempengaruhi gerak jiwa dan kecenderungan manusia untuk melakukan hal-hal yang bersifat sosial dan cenderung bekerja keras untuk memperoleh sesuatu, yang tentunya tampak serasi dengan sifat ash-shadaqah (sedekah). Orang yang memiliki kecenderungan sedekah ini lambat laun akan terbina dan terbentuk karekteristik jiwa dermawan dan akan menjadi manusia dermawan.

Kedua, unsur jiwa al-nafs al-sabui’iyyat (daya berani) dalam diri manusia akan mempenganihi gerak jiwa dan kecenderungan manusia dalam hal-hal bersifat mencapai kondisi jiwa suci dalam pandangan Alalh dan meningkatkan kinerja dengan ibadah untuk memperoleh sesuatu, yang tentunya tampak serasi dengan sifat at-taqwa (takwa). Orang yang memiliki kecenderungan keberanian ini lambat laun akan terbina dan terbentuk karekteristik jiwa takwa dan akan menjadi manusia ulil albab.

Ketiga, unsur jiwa al-nafs nathiqat (daya pikir) dalam diri manusia akan mempengaruhi gerak jiwa kepasrahan terhadap Allah dan ciptaan-Nya dan kecenderungan manusia dalam hal-hal bersifat teologis, daya nalar bekerja untuk memadukan keikhlasan dalam hidup. Orang yang memiliki kecenderungan ikhlas seperti ini lambat laun akan terbina dan terbentuk karekteristik jiwa ikhlas dan akan menjadi manusia sufi.

 

 

 

Pentingnya Memahami Alam Semesta

Said Nursi dalam Risale-i Nur mengatakan “mengapa al-Qur’an tidak membahas alam semesta seperti yang dibahas dalam filsafat dan sains modern?”. Pertanyaan ini sekaligus menjelaskan kalau Said Nursi meyakini bahwa alam semesta merupakan manifestasi dari nama-nama Allah yang harus dijadikan komitmen mendasar dalam membina diri menuju kesempurnaan menuju Allah.

Said Nursi sangat yakin bahwa penciptaan alam semesta adalah bukti keesaan, kebesaran asma Allah. Menurutnya ada 3 (tiga) ungkapan yang mengkhawatirkan bagi kaum beriman : Pertama, ungkapan terwujud oleh sebab, “karena sebab itulah yang menjadikan entitas tertentu itu ada”. Kedua, terbentuk dengan sendirinya, sesuatu terbentuk dengan sendirinya serta mewujudkan dirinya sendiri, sehingga menjadi seperti apa adanya. Ketiga, tuntutan alam yakni sesuatu yang bersifat alami. Alamlah yang mewujudkan dan menentukan keberadaanya (Said Nursi 2003a, hlm. 333).

Ketiga pendapat di atas adalah refleksi dari kesimpulan pandangan yang selama ini masih bergulat. Dalam menyikapi pandangan di atas Said Nursi mengatakan “Jika secara tegas terbukti bahwa tiga jalan yang pertama mustahil, batil dan tidak mungkin, maka dengan sangat nyata dan gamblang, jalan keempatlah yang benar. Jalan tersebut adalah jalan menuju keesaan Sang Pencipta yang bersifat pasti tanpa ada keraguan di dalamnya“. (Said Nursi 2003a, hlm. 334). Ditegaskan Said Nursi bahwa kekuasaan Sang Pencipta Yang Maha Kuasa dan Agung itulah yang telah menciptakannya.

Dapat dikatakan jika alam yang menjadi sandaran kaum naturalis itu memiliki wujud hakiki yang tampak secara lahiriah, maka -sesungguhnya wujud tersebut hanyalah ciptaan Sang Pencipta, bukan Pencipta. Ia hanyalah ukiran, bukan si Pengukir. Ia hanyalah kumpulan hukum, bukan si pembuat hukum. Ia hanyalah syariat fitriah, bukan si pembuat syariat. Ia hanyalah tirai yang tercipta, bukan si pencipta. Ia hanyalah objek bukan pelaku. Ia hanyalah kumpulan aturan, bukan Zat yang berkuasa. Serta ia hanyalah goresan bukan sumber. Ditegaskan lagi oleh Said Nursi bahwa “alam itu merupakan kumpulan konsep bukan yang menentukan konsep” (Said Nursi 2003b, hlm. 349).

Jelaslah bahwa alam semesta sebagal makrokosmos “big creation” adalah bukti kebesaran asma Allah. Pemahaman terhadap alam ini bagian dalam upaya, meningkatkan untuk pembinaan akhlak. Ketika kita mengetahui, mengerti dan memahami bahwa Allah sebagai Pencipta alam, maka ketika melihat alam semesta akan berpengaruh dalam tingkah laku, sikap dan cara berpikir kita dan mendorong jiwa untuk beriman secara istiqomah dan totalitas kepada Allah.

Pentingnya Memahami Asma’ al-husna

Prinsip pentingnya memahami asma’ al-husna menjadi komitmen mendasar bagi Said Nursi karena, di kitab tafsir Risale-i Nur kalau dicermati secara mendalam dibahas oleh Said Nursi hampir di semua kitabnya secara terintegrasi. Tapi, secara khusus Said Nursi menjelaskan asma’ al-husna dalam kitab Lem’alar pada “Cahaya Ketiga Puluh berjudul Asma’ al-husna”. Kita tahu bahwa dalam, pandangan ulama asma’ al-husna berjumlah 99 nama-nama Allah. Namun, menurut Said Nursi dalam “Cahaya Ketiga Puluh” menjelaskan bahwa Allah memiliki al-Ismu al-Azhom (nama-nama Allah yang paling agung).

Al-ismu al-A’zhom tidaklah sama dalam pandangan setiap orang. Misalnya menurut Imam Ali ra. Ia terdiri 6 (enam) nama, keenam nama tersebut adalah al-Quddus, al-Adl, al-Hakim, al­Fard, al-Hai, dan al-Qayyum. Adapun menurut Abu Hanifah an-Nu’man ra. Ia terdiri atas 2 (dua) nama yakni Hakam dan Adl. Sedangkan menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jilam ia hanya satu yakni : Ya Hayyu. Menurut Imam Rabbani (Ahmed al-Faruq as-Sirhindi) ra. ia hanya satu yakni al­Qayyum. Demikian seterusnya, para ulama besar dan istimewa lainnya mengarah pada nama Tuhan yang berbeda. Begitu pula Said Nursi menurutnya asma’ al-husna yang dapat dikategorikan sebagai al-ismu al-azhom dalam Risale-i Nur difokuskan kepada keenam nama tersebut adalah al-Quddus, al-Adl, al-Hakam, al-Fard, al-Hay dan al-Qayyum.

Said Nursi mengibaratkan bahwa cahaya suci yang berasal dari perpaduan enam cahaya nama Tuhan sebagaimana, perpaduan tujuh warna sinar mentari. Said Nursi menyimpulkan bahwa dari balik nama al-Qayyum memberikan sifat tetap dan permanen. Dapat disaksikan bahwa manifestasi al-hayy telah menjadikan seluruh makhluk hidup itu bersinar lewat tampilannya yang cemerlang. Ia telah membuat seluruh entitas bercahaya lewat cahanyaNya yang berkilau sehingga gemerlap cahaya kehidupan dapat terlihat pada seluruh makhluk hidup yang ada (Said Nursi 2003a, hlm. 695).

Kemudian manifestasi agung dari nama al fard dari batik nama al-hayy. Nama tersebut mencakup seluruh entitas alam berikut ragam jenis dan bagiannya serta melingkupinya dalam satu kesatuan. Ia mencetak bagian depan setiap entitas dengan stempel keesaan sehingga segala sesuatu menginfomasikan manifestasiNya lewat aneka lisan yang tak terhingga jumlahnya.

Dari balik nama al-Fard terdapat manifestasi nama al-Hakam. Engkau akan melihat bagaimana nama tersebut mencakup seluruh entitas dari daerah yang paling luas hingga yang paling kecil, baik yang global maupun yang parsial – mulai dari bintang hingga atom. Ia memberikan kepada setiap entitas sebuah tatanan efektif yang layak untuknya, sebuah keteraturan penuh hikmah yang sesuai dengannya, serta keselarasan berguna yang tepat baginta. Nama al-Hakam telah menghiasi seluruh entitas dengan manifetasinya yang cemerlang.

Lalu dari balik manifestasi nama al-Hakam perhatikanlah manifestasi agung dari nama al-adl. Nama agung al-Adl menguasai seluruh entitas dalam perbuatan Tuhan yang terus menerus lewat neracanya yang akurat, ukurannya yang cermat, dan timbangannya yang adil di mana ia menjadikan seluruh akal tercengang sekaligus kagum. Seandainya semua bintang kehilangan keseimbangan selama satu detik saja atau terputus dari manifestasi nama al-Adl niscaya seluruh bintang yang ada akan bertubrukan dan hal itu tentu saja akan menyebabkan kiamat.

Dari balik manifestasi nama al-adl, perhatikanlah manifestasi nama Allah al­Quddus yang telah membuat seluruh entitas begitu bersih, suci, murni, dan indah. Ia telah mengubahnya menjadi semacam cermin indah bersinar yang layak untuk memperhatikan keindahanNya yang mutlak serta pantas untuk menampakkan berbagai manifestasi nama­nama-Nya yang mulia. Dan uraian ini dapat disimpulkan bahwa enam nama dan cahaya agung telah meliputi seluruh alam, menutupi seluruh entitas, serta membungkusnya dengan tirai yang dihiasi dan diwarnai oleh beragam warna yang paling cemerlang oleh beragam goresan yang paling indah, serta oleh beragam hiasan yang paling mengagumkan.

Dari keseluruhan mengenai prinsip asma’ al-husna di atas dapat dipahami bahwa asma’ al-husna Said Nursi memiliki kecenderungan sama dengan ulama masa lalu yang meyakini 99 nama-nama Allah, namun dari segi metode penerapan pandangan terjadi perbedaan. Said Nursi cenderung memandang ada 6 (enam) nama-nama Allah yang dikategorisasikan sebagai asma’ul adzam (Nama yang agung) dan Said Nursi yakin sifat­sifat Allah adalah bentuk manifestasi dari asma’ al-husna. Manifestasi pemahaman asma’ al-husna penting dalam pembentukan manusia yang berakhlak dan asma’ al-husna menjadi landasan diri berkepribadian akhlak mulia.

 

Pentingnya Mengetahui Tanda-tanda Akhir Zaman

Prinsip pentingnya mengetahui tanda-tanda akhir zaman  menjadi bagian yang mendorong peningkatan keimanan bagi Said Nursi, karena manusia sekarang sudah memasuki fase penghabisan dari panjangannya zaman yang sudah lama berlalu. Adapun tanda-tanda akhir zaman ini banyak sekali, namun pada prinsipnya terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai tanda-tanda hari kiamat yang patut diketahui oleh manusia, yaitu :

1) Munculnya Dajjal dan Sufyan

Salah satu akan tibanya hari kiamat munculnya Dajjal (Anti­Kristus) dan Sufyan[25]. Dajjal atau Anti-Kristus akan muncul dalam dunia non-muslim dan Sufyan yang akan muncul dalam dunia Muslim. Keduanya adalah Dajjal dan Sufyan terbesar yang akan muncul di dunia setelah Nabi Muhammad. Sumber-sumber Islam menyebutkan dari Nabi Muhammad bahwa lebih dari 30 Dajjal akan muncul sesudah dia, dan yang lebih penting untuk diperhatikan menurut Nabi Muhammad adalah Dajjal yang muncul tidak lama sebelum hari kiamat adalah yang paling berhahaya dan merusak.

Maksudnya adalah cerita-cerita sejenis ini perlu ditekankan, walaupun pada dasarnya tidak banyak menyebutkan orang-orang mereka (atau siapa sebenarnya Dajjal), tapi bagi kalangan filosuf, pemikir dan kaum mistik atau sufitik yang mampu menangkap pertanda ini. Karena interpretasinya berwujud ideologi, masyarakat dan sistem yang akan mereka bangun dalam semua aspek kehidupan.

Beberapa isyarat yang ditulis oleh Said Nursi mengenai Dajjal dan Sufyan sebagai berikut : Pertama, mengenai Sufyan, menurut Said Nursi bahwa tangan-tangan Sufyan akan mencengkram yang berarti Sufyan akan menjadi banyak dan membangkitkan pemborosan dan kekejian. Nabi Muhammad bersabda Seorang yang mengerikan akan muncul menjelang kiamat dan ketika dia bangun di pagi hari, dia dapati bahwa di keningnya tertulis kafir. Yang berarti Sufyan akan menjadi seorang pembelot dan imitasi dari orang kafir dia akan memaksa manusia untuk berpakaian seperti dunia non-Muslim.[26] Sedangkan yang paling nyata adalah kejadian di Turki ketika Mustafa Kemal Attaruk yang Muslim menjadi imitasi Inggris yang kafir untuk menciptakan surga di dunia. Pada kenyataan masyarakat Turki yang Muslim telah kehilangan nilai moral, sampai sekarang semakian marak di Turki pola kehidupan “liberalisasi seks dan liberalisasi berpikir”.[27]

Kedua, mengenai Dajjal, Nabi bersabda para diktator yang akan muncul sebelum menjelang hari kiamat termasuk khususnya Dajjal dan Sufyan akan mendapatkan surga dan neraka semu. Yang berarti semasa mereka manusia akan dicekoki dengan kesenangan­kesenangan dan kenikmatan duniawi dan perbedaan-perbedaan di antara kelas-kelas sosial akan meningkat dengan konsekuensi akan terjadi pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah. Oleh karena itu tempat-tempat kesenangan dan kenikmatan serta penjara dan tempat-tempat siksaan yang serupa akan berdiri berdampingan.

Ketiga, Nabi bersabda Menjelang kiamat tidak akan ada seorang pun yang menyembah Allah dan menyebut Nama-Nya sebagai manifestasi ibadah. Ini berarti bahwa tempat-tempat di mana Allah disembah dan Namanya disebut akan ditutup dan jumlah orang-orang yang taat beribadah akan menurut secara drastis. Sesat menjelang kehancuran dunia Allah akan mencabut nyawa orang-orang beriman dan dunia akan dibinasakan di atas kepala orang kafir.

Keempat, Nabi bersabda orang-orang mengerikan tertentu yang akan muncul sebelum kiamat seperti Dajjal mengklaim bahwa dirinya Tuhan dan membuat orang-orang sujud di hadapan mereka. Orang-orang ini akan mendapat kekuatan mereka sebagian besar dari trend ateistik dan materialistik dan menganggap diri mereka sendiri memiliki kekuatan Tuhan. Patung-patung mereka akan dibuat manusia akan dipaksa untuk menunduk di depan mereka sebagai cara pemujaan.[28]

Kelima, Nabi bersabda kekejaman dan peperangan yang akan muncul sebelum kiamat akan sangat menyebar luas dan berkuasa sehingga tidak ada seorang pun dapat mengendalikan tiubuh mereka untuk melawan mereka. Bahwa kehidupan keji akan menggoda banyak orang yang akan menurutinya begitu saja, karena memang saat ini modernisasi yang materilistik-konsumeris telah tidak terkendali. Ini dikarenakan oleh dimensi-dimensi kekejian dan kesenangan mengerikan yang akan muncul sebelum hari kiamat atas permintaan Nabi hampir semua Muslim telah berlindung kepada Allah selama 14 abad dari kekejian yang akan ditimbulkan oleh Dajal.[29]

Keenam, Nabi bersabda Sufyan akan menjadi seseorang yang berpengetahuan luas dan memukau banyak ilmuwan. Ini berarti mekipun tanpa alat kekuasan dan ketergantungan semacam kerajaan, suku, kekayaan dan keberanian, Sufyan akan mencapai kekuasaan karena memiliki kapasitas yang merangsang dan kecerdasan politik. Dia mengekang pendidikan agama. Sebagian besar karena kenikmatan hidup, banyak ilmuwan dan pendidik agama mendukung dia dan rezimnya.[30]

Untuk kejelasan ilmiahnya bahwa adalah metode ilmiah yang dirumuskan ilmuwan muslim yang meminjam teori Aristoteles yang masih memposisikan Tuhan sebagai Pencipta Pertama, dalam konteks ini pengkajian terhadap ciptaan Tuhan berarti pengakajian terhadap karya kreatif Tuhan sehingga dengan itu diharapkan seorang ilmuwan muslim akan bertambah keyakinan dan ketakwaan kepada Allah. Sedangkan teori yang di Barat telah menimbulkan begitu banyak reaksi dari kalangan umat Kristen, seperti teori evolusi sebenarnya juga telah dikembangkan dengan baik oleh para pemikir terkenal seperti Al-Jahizh, Miskawaih dan khususnya Jalaluddin Ar-Rumi berdampingan dengan teori-teori kreasionis, sekali lagi sejauh tidak secara langsung bertabrakan dengan prinsip-prinsip fundamental keyakinan agama.

Namun sangat disayangkan teori-teori mereka secara terus terang melanggar dan menentang prinsip-prinsip ajaran pokok agama, seperti terhadap penolakan terhadap eksistensi Tuhan, malaikat, hari akhir, kenabian dan sebagainya. Sebenarnya Islam sebagai agama tidak bisa menoleransinya karena hal itu telah dipandang sebagai penyimpangan prinsip etos keilmuan Islam yang sejati. Pada prinsipnya Islam membolehkan pengkajian pada bidang-bidang yang sangat luas mulai dari fisika, matematika bahkan metafisika. Seharusnya hasil sains modern dapat diterima sebagai sarana yang baik untuk lebih mengenal kebesaran Tuhan. Dunia Barat tidak demikian. Newton dan fisikawan modern misalnya gravitasi dianggap sebagai gaya-gaya yang independen bersama dengan gaya elektromagnektik, gelombang nuklir lemah dan kuat, namun oleh pemikir muslim seperti Ibnu Sina dan Al Farabi gaya alami itu memiliki sumbernya pada entitas-entitas supernal, seperti akal aktif yang merupakan utusan Tuhan untuk mengurusi dunia bawah-bulan, termasuk memberikan bentuk pada benda-benda di bawah bulan atau jiwa benda-benda angkasa lainnya yang memancar dari Tuhan lewat emanasi. Darwin misalnya menyatakan evolusi bersifat independen atau otonom seperti seleksi alam yang dipandang sebagai hukum independen dan bertanggungjawab pada evolusi organik termasuk penciptaan spesies-spesies, sebagaimana Perire Laplace yang menyatakan peran Tuhan sebagai pengatur dan pemelihara alam telah digantikan hukum mekanik. Dan masih banyak lagi contoh mengenai mungkin Dajal-dajal yang muncul berupa ilmuwan yang menyesatkan. Sedangkan Sufyan-sufyan dalam dunia Islam muncul dengan usaha-usaha mensektilerisasikan baik pemikiran maupun pola hidup, titik tolaknya ketika terjadi keruntuhan Turki Usmana pada tahun 1920-an diikuti oleh sekulerisasi oleh Mustafa Kemal Attaruk, dunia Islam bertikai dalam keluarga besarnya.

Ketujuh, Nabi Bersabda hari pertama Dajjal adalah sama dengan satu tahun sedangkan hari keduanya sema dengan satu bulan hari ketiganya sama dengan satu minggu dan hari keempatnya adalah satu hari. Hadis yang menakjubkan ini berarti bahwa Dajjal akan muncul di utara dan bergerak menuju selatan. Sebagaimana diketahui di tempat-tempat di dekat kutub Utara satu tahun terdiri dari satu siang dan malam, masing­-masing berlangsung selama 6 bulan. Semakin ke selatan terdapat terdapat tempat-tempat di mana satu hari berlangsung 3 bulan dan satu bulan dan satu minggu secara berturut-turut. Pengertian lain adalah Dajjal maupun Sufyan akan memiliki 4 periode peraturan, periode pertama, mereka akan menyebabkan kerusakan besar dalam jangka waktu satu tahun yang normalnya dapat dilakukan dalam jangka waktu 300 tahun. Kerusakan yang akan mereka timbulkan dalam jangka waktu pada satu tahun periode kedua mereka akan sama dengan kerusakan yang dilakukan oleh yang lainnya selama 30 tahun dan pada satu tahun periode ketiga mereka akan membuat 7 tahun kerusakan. Periode keempat mereka akan normal.

Kedelapan, Nabi bersabda Ketika Dajjal muncul setiap orang akan mendengarnya. Mereka akan memiliki sebuah kendaraan atau tunggangan yang luar biasa dan mengelilingi dunia dalam 40 hari. Ini berarti bahwa Dajjal akan muncul ketika komunikasi dan transformasi berkembang pesat peristiwa yang terjadi di satu belahan dunia akan terdengar di belahan bumi lain dan berkeliling ke seluruh penjuru dunia dalam waktu 40 hari adalah hal yang mungkin.

2) Munculnya Messiah atau Mahdi

Mengenai mahdi atau messiah, baik Yahudi maupun Kristen mengharapkan Messiah datang menjelang hari kiamat dan menganggap kedatangannya sebagai tanda akhir kernenangan besar untuk Yahudi dan Kristen. Menurut sumber-sumber Islam yang terpercaya dia adalah Imam kedua belas dan terakhir dari sederetan Imam yang di mulai Ali bin Abi Talib, sepupu Nabi dan khalifah keempat. Mandi lenyap ketika dia berusia 74 tahun dan akan muncul ketika dunia penuh dengan ketidakadilan untuk menyelamatkan keadilan. Bersama dengan Messiah, Mahdi akan mempertahankan prinsip-prinsip Islam dari trend materialistik dan menggugah kehidupan keagamaan. Dia akan mengahiri kekuasaan Dajjal dan Sufyan.

Menurut para pemikir dan ilmuwan kontemporer termasuk Said Nursi, Mandi bukanlah satu orang saja, melainkan sebuah nama “kebangkitan global”. Mandi memiliki tiga periode masing-masing akan dipresentasikan oleh satu orang dan kelompoknya. Pemimpinya akan memiliki pengetahuan yang mendalam di bidang ilmu-ilmu agama, memiliki standar moral tertinggi, mengetahui kondisi sosial, politik dan ekonomi pada masanya dan memiliki kualitas kepemimpinan yang memadai. Bersama-sama pengikutnya pemimpin periode pertama akan mempertahankan prinsip-prinsip Islam dari trend materialistik dan menunjukkan mereka dalam jalan yang benar. Pada periode kedua prinsip­prinsip Islam yang sudah dibangkitkan akan mencapai pengaruh penting di beberapa belahan dunia dan kehidupan Islam akan mengalami sebuah kebangkitan yang signifikan. Periode mengalami akan rnenghalal kebangkitan kehidupan keagamaan secara global.

Periode ketiga yang berkemungkinan akan mengikuti invansi Gog dan Magog yang akan menggangu periode kedua. Agama Kristen menurut sumber Islam yang relevan akan terbebas peminjaman agama-agama dan filsafat tertentu dan lebih mendekat pada Islam. Mereka akan berkerjasama untuk menangkis serangan Gog dan Magog dan membebaskan dunia dari invasi mereka. I1mu pengetahuan akan mengalami perkembangan puncak. Kota­-kota akan dibangun di atas langit dan akan mudah melakukan perjalanan ke sana. Mungkin sebagai dampak kemajuan genetika satu buah delima akan cukup sebanyak 20 orang dan kulit buahnya akan dapat menaungi mereka. Misi orang Messiah yang ditujukan untuk Yesus Kristus, menurut Nabi Muhammad, Messiah yang dijanjikan adalah Yesus Kristus. Dia akan kembali dan kemudian mengikuti dan sepenuhnya mendukung Mahdi.[31]

  1. c) Mengenai Terbentuknya Padang Mahsar

Allah berfirman Katakanlah sesungguhnya ilmu tentang hari kiamat itu hanya pada sisi Allah (67 : 26). Bahwa pergerakan bumi bukanlah tidak bertujuan. Pergerakan bumi menarik sebuah lingkaran raksasa di luar keliling bumi dan bumi terus menerus memindahkan semua peristiwa yang terjadi di atasnya ke kelingkaran luar tersebut. Pada hari pengadilan, hari kehidupan setiap orang akan ditampilkan kembali.

Menurut ramalan lingkaran raksasa ini akan dipusatkan di daerah Damaskus, tetapi dalam bentuk yang luas dan disesuaikan dengan dimensi-dimensi Hari Akhir. Hasil dari semua penstiwa-peristiwa di bumi terus menerus ditransfer ke dalam daftar atau. tablet-tablet Padang Mahsyar. Saat ini, Padang tersebut masih berada di balik “kerudung” Yang Maha Tidak Terlihat. Bagaimana pun juga kita akan melihatnya pada saat kita telah menjalani bentuk-bentuk spesifik hari akhir.

Penjelasan mengenai tanda-tanda akan tibanya hari kiamat di atas memberikan keyakinan yang kokoh terhadap paham keagamaan dengan keimanan yang sudah ada sebagai dasar beragama. Seiring dengan itu, hari kiamat menjadi bagian yang terintegrasi dalam diri Said Nursi dan salah satu cara upaya pembentukan akhlak mulia.

Pentingnya Meyakini Hari Kiamat

Serangkaian upaya pembentukan manusia yang berakhlak mulia, pemahaman tentang hari kiamat banyak dirujuk sebagai bagian pembentukan karakter bagi Said Nursi. Para pemikir Islam dulu baik yang sezaman dengan Said Nursi maupun sebelumnya belum menafsirkan secara mendalam mengenai ayat-ayat dan hadis-hadis mengenai hari kiamat.[32] Hari kiamat menjadi landasan fundamental dalam pemikiran Said Nursi. Karena itu, hari kiamat menjadi prinsip yang dapat mendorong terciptanya akhlak mulia yang menekankan sisi-sisi kejiwaan manusia.

Penekanan sisi kejiwaan, menurut Said Nursi melalui sifat dan kemampuan jiwa kita menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Mengenai kekuatan dan kemampuan kita untuk tinggal di sini, kita kalah bersaing dengan burung pipit yang paling lemah. Tetapi dalam hal ilmu, memahami kebutuhan kita, dan memohon serta beribadah, yang diperlukan untuk kehidupan rohani dan kehidupan akhirat, kita adalah raja dan komandan dari semua makhluk hidup. Lanjut Said Nursi:

Hai jiwaku ! Jika engkau menganggap dunia ini adalah tujuan utama kehidupanmu dan engkau bekerja dan senantiasa bekeda untuk kepentingan dunia, engkau akan menjadi seperti burung pipit yang paling lemah. Tetapi jika engkau menganggap akhirat adalah tujuan akhirmu, dan menganggap dunia ini sebagai ladang tempat menaburkan benih, sebuah persiapan bagi akhirat, dan bertindak dengan semestinya, engkau menjadi penguasa agung kerajaan binatang, hamba yang memohon kepada Allah Yang Maha Perkasa, dan menjadi tamu-Nya yang terhormat dan disayangi di dunia ini. Engkau bisa memilih salah satu pilihan itu. Jadi mintalah petunjuk dan keberhasilan dari jalan-Nya dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (Said Nursi 2003d, hlm. 52).

Kutipan di atas menggambarkan secara tegas bahwa Said Nursi sangat yakin akan adanya hari kiamat yang dunia ini bukan tujuan akhir. Perjalanan manusia akan diteruskan ketika hari kiamat tiba dan membuka ruang-ruang baru bagi manusia yang baru dibangkitkan dari kubur. Karena itu, Said Nursi sangat menekankan agar manusia meyakini secara mendalam mengenai hari kiamat.

Sebenarnya Al-Qur’an mengajarkan 4 (empat) tujuan utama yakni untuk membuka dan membangun pada jiwa dan hati manusia eksistensi dan keesaan Allah, kenabian, kebangkitan Jasmani dan ketaatan terhadap Allah dan keadilan. Manifestasinya melalui Asma dan Sifat-Nya dan keteraturan serta harmoni sempurna yang sangat indah dalam eksistensi. Al-Qur’an menyebutkan peristiwa-peristiwa bersejarah tertentu khususnya yang akan terjadi sebelum hari kiamat. Hal ini memiliki tempat yang penting baik dalam Al-Qur’an maupun al Hadis. Al-Qur’an adalah Kitab Suci yang terakhir dan Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir.

Argumen Al-Qur’an mengenai hari kiamat yakni tindakan-tindakan universal mengacu pada hari kebangkitan, dan untuk menyentuh hati manusia mengenai kehebatan yang akan dilakukan Yang Kuasa pada hari akhir dan untuk mempersiapkan jiwa manusia untuk dapat menerima dan memahaminya, Al-Qur’an menyajikan kehebatan yang Dia lakukan di sini untuk mempersiapkan kita terhadap hal itu. Hal ini memberikan contoh­contoh tindakan-tindakan besar Allah di dalam alam semesta yang luas (makro-kosmos) dan kadang kala menunjukkan pembuangan menyeluruh-Nya terhadap makro-kosmos, norma-kosmos dan mikro-kosmos, yakni alam semesta, umat manusia dan atom.

Contohnya ayat al-Qur’an berikut menekankan Kekuasaan Allah dan menyebutkan sebagai fakta, mengajak kita untuk memiliki keyakinan tentang pertemuan kita dengan Dia di akhirat : “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-­masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan makhluk-Nya, menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, supaya kamu meyakini pertemuanmu dengan Tuham-mu (13:2). “Penciptaan pertama alam semesta dan umat manusia menunjukkan “penciptaan kedua”, Al-Qur’an menyajikan fenomena penciptaan alam semesta ini yang didefenisikan sebagai penciptaan pertama (56:62), sedangkan penjelasan tentang kebangkitan yang telah mati didefenisikan sebagai penciptaan. kedua (53:47), untuk membuktikan adanya Hari Kebangkitan.

Iman kepada akhirat merupakan dasar kehidupan manusia sebagai masyarakat maupun sebagai individu. Keimanan ini merupakan dasar untuk semua kebahagiaan dan kasih sayang, karena setelah iman kepada Allah, maka iman kepada hari kebangkitan berperan dalam melindungi sebuah tata sosial yang damai. Apabila kita tidak percaya bahwa kita akan dipanggil untuk memperhitungkan amal perbuatan kita, mengapa kita diharuskan menjalani hidup jujur dan benar. Tetapi, apabila kita berbuat menurut keyakinan bahwa kita harus menjalankan perhitungan amal perbuatan, kita akan hidup dengan taat dan benar.

Pada suatu kesempatan Said Nursi menulis : “Jangan takut terhadap kematian. Kematian bukanlah kepunahan abadi, tetapi hanyalah suatu perubahan dunia, pembebasan dari tugas-tugas kehidupan duniawi yang berat, dan sebuah tiket menuju dunia abadi tempat semua jenis keindahan dan rahmat sedang menantimu. Allah Yang Maha Pemurah yang mengirim kamu ke dunia, dan menjaga kamu tetap hidup di dalamnya untuk beberapa lama, tidak akan meninggalkanmu dalam kegelapan ruang  kuburmu ke haribaan-Nya dan menjamin kamu menuju kehidupan abadi yang selalu bahagia. Dia akan memberimu karunia surga”. Hanya kabar baik seperti ini sangat bermanfaat dan benar-benar dapat menjadi penghibur generasi tua dan membuat mereka menyongsong kematian dengan senyum.

Keyakinan ini mengingatkan kita semua bahwa kita harus yakin keberadaan hari kiamat. Kiamat pasti dating. Iman kepada hari kiamat juga merupakan sumber hiburan bagi mereka yang sedang generasi tua termasuk mereka yang sakit. Keyakinan secara mendalam akan adanya hari kiamat seolah merupakan obat dari penyakit yang tidak terobati. Said Nursi menjadikan hal yang sangat prinsip dalam meyakini hari kiamat ini.

Meneladani Nabi Muhammad Saw

Prinsip menedalani Nabi Muhammad Saw menjadi komitmen dasar Said Nursi dalam merealisasikan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Pada prinsipnya bahwa mengamalkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad Saw dengan sepenuhnya merupakan cerminan dari keseriusan mentaati perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangannya dengan mengikuti al-Quran dan keimanan mendalam akan keesaan Allah.

Pada dasarnya, apabila seseorang menyatakan diri sebagai muslim, maka ia harus mewujudkan keislamannya itu dalam bentuk mengikuti sunnah Nabi tersebut secara sungguh-sungguh dalam segala aspek kehidupan. Dengan prinsipnya ini, Said Nursi hendak menegaskan bahwa bila seseorang yang telah berikrar bahwa dirinya adalah pengikut Muhammad Rasul-Allah Saw, hendaknya ia harus mengikuti cara atau metode dan jalan hidup yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad Saw bersama para sahabatnya dalam seluruh aspek kehidupan. Zaidin (1999, hlm. 39-53) menceritakan bahwa Said Nursi adalah seorang ulama yang banyak mencurahkan perhatiannya pengajian keagamaan dengan sekuat tenaga telah berusaha menghidupkan kembali suatu usaha yang dulu di bawa oleh Nabi Muhammad Saw, yaitu suatu model pengajian ia sebut dengan istilah dershane (Tempat belajar).

Menerapakan atau meneladani Nabi Muhammad Saw menjadi kekuatan amaliah ibadah secara aplikatif. Praktek amaliah ibadah dengan cara meneladani nilai-nilai yang telah diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw. Doktrin ini menjadi sangat penting dalam praktek kehidupan manusia. Mengenai prinsip meneladani Nabi Muhammad ini Allah berfirman “Katakan, Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. “Allah Maha pengasih dan Maha Penyayang” (Qs. Al Imran : 31). Di dalam ayat ini terdapat bentuk simplikasi redaksi yang mengagumkan. Makna yang begitu banyak dirangkum hanya oleh tiga kalimat. Adapun penjelasan Said Nursi mengenal ayat, ini adalah :

Jika kalian beriman kepada Allah, pasti kalian mencintai-Nya. Selama kalian mencintai-Nya, pasti kalian beramal sesuai dengan apa yang dicintaiNya. Hal itu berarti kalian harus meneladani pribadi yang Dia cintai. Dan ia bisa terwujud dengan cara kalian mengikuti pribadi tersebut. Jika kalian mengikutinya, Allah akan cinta kepada kalian. Tentu saja kalian mencintai Allah agar juga dicintai oleh-Nya (Said Nursi, 2003, hlm. 114).

Perilaku Nabi Muhammad Saw disebut sunnah. Menurut Islam, sunnah Nabi adalah sumber hukum kedua setelah Qur’an. Keseharian dan perilaku Rasulullah, bahkan diakui oleh para sarjana Barat, merupakan gambaran kesempurnaan utuh seorang manusia. Dan tidak ada satu pun seorang manusia di muka bumi yang diikuti perilakunya oleh berjuta-­juta orang hingga detik ini dalam sejarah peradaban manusia. Akhlak Nabi Saw merupakan kesempurnaan akhlak pada diri seseorang. Allah menegaskan : “Akhlak Nabi adalah al-Qur’an”. Pada ayat lain, Dia berfirman : “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu” (Qs. al Ahzab : 21). Pada firman Allah yang lain : “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam“. (Qs. al Anbiya’ : 107) Semua itu telah tercatat dalam sejarah Islam yang merupakan ketetapan Allah Swt. Berapa banyak kalangan salaf (generasi terdahulu) yang mengagumi dan berusaha menyelaraskan kehidupan mereka dengan sunnah. Sejak pagi hingga malam hari.

Untuk mencapai kepribadian mulia adalah dengan mengikuti orang yang dikasihi Allah yakni Nabi Muhammad Saw dan mengaplikasikan sunnahnya yang suci. Said Nursi mengatakan sesungguhnya kecintaan kepada Allah harus diikuti dengan sikap mengikuti Sunnah Nabi Muhammad Saw. Sebab dalam doktrin ini Said Nursi mengatakan bahwa “kecintaan kepada Allah baru terwujud dengan melakukan perbuatan yang diridhoi oleh­Nya. Sementara itu, ridhonya yang paling utama tampak pada pribadi Muhammad Saw” (Said Nursi, 2003, hlm. 117).

Penjelasan di atas mendorong pentingnya praktek keteladanan kepada Nabi Muhammad Saw (Sunnatun Tsaniyah) dalam kehidupan seseorang untuk membentuk kepribadian yang barakhlak mulia. Menurut Said Nursi meneladani pribadi beliau yang penuh berkah itu bisa terwujud dengan 2 (dua) hal :

Pertama, mencintai Allah, mentaati segala perintah-Nya dan berbuat sesuai dengan ridlio-Nya. Sikap semacam ini mengharuskan kita mengikuti Nabi Muhammad Saw. Sebab pemimpin yang paling sempurna dengan teladan yang paling utama dalam urusan tersebut adalah Nabi Muhammad Saw. Kedua, mencintai pribadi Nabi Muhammad Saw. Sebab beliau merupakan perantara yang paling utama agar manusia bisa mendapatkan kebaikan ilahi. Karena itu, beliau layak dicintai karena Allah ta’ala. (Said Nursi 2003, hlm. 117).

Said Nursi mengatakan secara fitrah ketika kita mengarahkan perhatian pada sosok yang kita cintai kekasih Allah haruslah berupaya meneladani dan mencontoh beliau dengan cara mengikuti semua sunnahnya yang mulia. Dikatakannya pula, mengikuti sunnah rasul Muhammad Saw merupakan tujuan termulia sekaligus merupakan tugas terpenting manusia (Said Nursi 2003, hlm. 117-1 18).

Begitu pentingnya masalah mengikuti Sunnah Rasul ini menurut Said Nursi mengikuti Sunnah Rasul berasal dari 3 (tiga) sumber yaitu perkataan, perbuatan clan keadaan. Tiga sumber ini juga terbagi lagi menjadi tiga, yaitu : wajib, sunnah dan ada yang merupakan kebiasaan beliau. Hal yang wajib tentu saja harus diikuti. Seorang mukmin diharuskan mengikutinya sebagal konsekuensi dari keimanan yang ada pada dirinya. Semuanya, tanpa terkecuali, diberi beban untuk, melaksanakan as-Sunnah yang bersifat wajib tersebut. Orang yang meninggalkan dan mengabaikan as-Sunah tersebut akan mendapat siksa dan hukuman. Orang yang bahagia dan beruntung adalah yang paling inters mengikuti sunnah nabi Muhammad Saw sementara orang yang tidak mengikuti Sunnah akan benar-benar merugi jika sikap untuk tidak mengikuti sunnah Nabi. Said Nursi menuliskan bahwa “Tindakan yang mengikuti sunnah rasul beliau akan mengubah adab dan kebiasaan menjadi bernilai ibadah“. (Said Nursi 2003, hlm. 119).

Oleh karena itu, bagi seorang Muslim, mengikuti sunnah atau tidak bukanlah suatu “kebebasan memilih”. Sebab mengamalkan ajaran Islam sesuai garis yang telah ditentukan oleh Rasulullah adalah kewajiban yang harus ditaati, sebagaimana difirmankan dalam al-Qur’an : “Dan apa yang Rasul berikan untukmu, maka terimalah ia, dan apa yang ia larang bagimu, maka juhilah” (Qs. al-Hasyr : 7).

Beliau memiliki akhlak paling mulia, seperti yang dikatakan baik oleh para wali maupun musuh Islam. Belau merupakan sosok pilihan di antara seluruh anak manusia selain sebagai pribadi paling dikenal semua orang. Beliau merupakan pribadi sempurna bahkan teladan dan pembimbing paling utuh dengan melihat pada ribuan mukjizat yang ada kesaksian dunia Islam clan kesempurnaan pribadinya yang didukung oleh hakekat al-Qur’an yang sampai padanya.

Di kalangan umat Islam telah sepakat bahwa sunnah merupakan kunci untuk memahami pesan-pesan al-Qur’an dan sebagai perangkat pengurai yang menunjuki dari dalil-dalil yang tersedia di dalamnya. Al-Qur’an diturunkan hanya memuat prinsip-prinsip dasar dan hukum Islam secara global sebagai aturan hidup, sedang sunnah mengajarkan petunjuk pelaksanaannya jadi sunnah sangat diperlukan jika seseorang hendak mengamalkan secara benar ajaran Islam guna menjadi seorang Muslim yang hakiki. Hal ini dinyatakan dalam al-Qur’an, “Siapa yang taat kepada Rasul, maka ia taat kepada Allah” (Qs. al-Nisaa’ : 80 ).

Hidup ini sangat singkat dan sarat dengan tipu daya dengan segala bentuk dan ragamnya yang sulit untuk dirubah. Semuanya baru akan terasa indah dan bermakna jika kita mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi. Setiap aktifitas yang diarahkan kepada Allah tidak akan menjauhkan dari hubungan hidup dengan-Nya, bahkan justru membuat Allah semakin menyukai dan meridhoinya. Tidak ada karunia kenikmatan yang lebih besar daripada sehari yang dilalui dalam ketentraman dan keserasian. Kita coba mengawali aktifitas sehari dengan mengingat Allah dan Rasul-Nya pada saat bangun pagi, kemudian menjalam paginya bersama bimbingan Nabi Muhammad Saw.

Dalam setiap hendak memulai perkerjaan, Rasulullah senantiasa mengawali perbuatan dengan menyebut nama Allah. Rasulullah bersabda :”Setiap perbuatan yang tidak diawali dengan menyebut nama Allah yakni : Bismillahirrahmanirrahim – adalah terputus (dari berkat Ilahi atau Rahmat-Nya)” (Tafsir Ibnu Katsir).

Selanjutnya, hendaknya perilaku hidup ini kita selaraskan dengan ajaran al-Qur’an, dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad. Dengan begitu, hidup yang singkat ini akan terasa sangat bermakna, penuh hikmah dan indah. Rasa kasih sayang yang Nabi miliki dapat kita contoh dan teladani. Kecintaan kepada sesama dan semua makhluk Allah kita pelihara. Pengabdian hidup seperti Nabi untuk kejayaan Islam kita amalkan. Pengorbanan Nabi untuk kedamaian umat manusia kita jaga. Kesederhanaan Nabi dalam hidup sehari-hari dapat kita ikuti. Keikhlasan Nabi dalam beramal dapat kita praktekkan. Maka, dengan mengikuti Nabi yang mulia karena akhlaknya, kita akan menjadi orang mulia, baik di mata Allah atau di mata manusia.

Menanamkan Ikhlas, Takwa dan Sedekah

Said Nursi sangat menekankan kepada murid-muridnya untuk senantiasa ikhlas, takwa dan sedekah. Said Nursi sangat yakin keikhlasan, ketakwaan dan sedekah dapat membentuk karakter pribadi manusia. Kajian berikut menjelaskan secara mendalam bahwa ketiga hal ini menjadi dasar hidup dalam pembentukan manusia ideal dalam pandangan Said Nursi yang diisyaratkan secara implisit dalam Risale-i Nur untuk membentuk manusia ideal yang berakhlak mulia.

1)  Ikhlas Menjadikan Manusia Filosof-sufi

Ikhlas adalah ciri muslim sejati. Setiap orang harus menjadikan sikap atau perilaku ikhlas sebagai bagian kepribadian mulia dirinya. Orang yang terbina keikhlasan dalam diri akan dalam meluluhkan dan membuat orang lain turut menjadi orang ikhlas. Ikhlas cenderung kepada amal keteladanan. Misalnya, ikhlas beramal ibadah hanya karena Allah semata.

Manusia seperti ini umumnya tanggap dalam melihat sesuatu pada esensinya melalui tafakur yang mendalam. Anjuran membaca Risale-i Nur adalah aktivitas untuk mencapai manusia sempurna. Dalam tafakurnya, ia dapat menyentuh kondisi di luar dirinya. Ikhlas diri dibawa Kekuasaan Allah sehingga menghasilkan daya pikir yang cemerlang dan hati yang suci. Sampai disini ia akan menjadi manusia sempurna dan memperoleh kebabagiaan.

Ikhlas kunci kemenangan, ketinggian derajat dan kemuliaan hati. Menjelma dalam relung-relung kalbu pribadi yang mulia. Dengan cara beramal ikhlas, berjiwa ikhlas, akan tercipta sebuah tatanan masyarakat yang kokoh dan maju. Bahkan jika setiap elemen masyarakat mempunyai rasa ikhlas yang kuatnya melebihi keempat elemen di atas, akan terbangun peradaban dunia yang maju.

Perilaku ikhlas banyak sekali ditemui seantero dunia ini, karena mereka mengetahui nilai ikhlas bagi kehidupan mereka akan mendatangkan kebajikan. Orang yang ikhlas dengan sendirinya akan bermanfaat bagi lingkungannya. Ia selalu memberi tanpa meminta balasan. Ia mengulurkan bantuan tanpa diminta. Bahkan, perbuatan tidak menyenangkan hatinya pun ia balas dengan senyuman dan sapaan mulia. Hatinya, begitu tenang dan menyenangkan.

Sifat ikhlas inilah yang akan memacu dan memicu lahirnya generasi unggulan yang siap bersaing di tatanan dunia global. Karena, hanya pribadi yang ikhlaslah yang sebenarnya paling berhak untuk mendapatkan tanda jasa dan penghargaan dari masyarakat, tanpa dia meminta atau mengharapkan.

Ciri-ciri orang ikhlas diisyaratkan dalam Risale-i Nur, sebagai berikut :

  1. Ikhlas beriman
  2. Ikhlas beribadah
  3. Ikhlas beramal
  4. Ikhlas mengingat mati
  5. Ikhlas mengingat hari kiamat
  6. Lebih menyukai jiwa mukmin lain daripada jiwanya sendiri
  7. Tafakur imani
  8. Tidak merasa benar sendiri
  9. Bergabung dengan temannya dalam menuju kebenaran yang ada dihadapannya
  10. Berpegang kepada nilai-nilai kejujuran dan pencarian kebenaran yang ditetapkan oleh para ulama (Said Nursi 2003a,b).

Sarana mencapai keikhlasan menurut Said Nursi ada 2 (dua) yakni rabithatul maut (selalu mengingat mati) dan merenungi makhluk. Pertama, selalu mengingat mati, dijelaskan Said Nursi bahwa “mengingat mati justru menjauhkan manusia dari riya dan menjadikan orang yang mengingatnya selalu memelihara keikhlasan. Mengingat mati bisa membersihkan orang tersebut dari nafsu yang memerintahkan kepadanya kepada keburukan” (Said Nursi, 2003a, hlm. 308).

Dijelaskan Said Nursi bahwa para ahli Sufi dan ahli hakikat menjadikan rabithatul maut sebagai landasan dalam suluk mereka sebagaimana ayat-ayat al-Qur’an yang mereka ketahui : “Setiap nafs (diri) pasti merasakan kematian” (QS. Al-Imran : 185) “Sesesungguhnya kamu akan mati dan mereka pun akan mati” (QS. Az-Zumar :30).

Dengan mengingat mati mereka tidak akan berpikir akan kekal abadi sebagai cikal bakal panjang angan-angan. Mereka selalu membayangkan diri mereka sebagai orang-orang mati. Mengingat mati memberikan manfaat yang luas. Said Nursi mengutip hadis Nabi Muhammad Saw, “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menolong segala kenikmatan”.5 Berdasarkan hadis ini, Said Nursi menegaskan bahwa jalan kita adalah jalan hakikat ilmiah bukan tarekat, sufi, maka kita tidak perlu seperti mereka yang langsung mengingat mati dengan bayangan dan hayalan.

Kedua, merenungi makhluk. Untuk dapat sampai kepada ikhlas adalah memperoleh keyakinan hakiki serta cahaya yang bersumber dari perenungan terhadap seluruh makhluk. Merenungi proses kehidupan manusia yang senantiasa mengalami berbagai perubahan. Kebesaran Allah yang telah menciptakan kehidupan dan manusia ini.

Dari berbagai keterangan di atas dapat dipahami bahwa manusia ideal dalam Risale- i Nur adalah manusia ikhlas. Manusia ikhlas inilah yang banyak melahirkan orang-orang suci dalam berbagai ciri dan karakternya. Namun, karena didominasi jiwa ikhlas maka perilaku yang selalu muncul adalah rasa syukur. Rasa syukur menjadi utama bagi mereka yang berhati suci dan ikhlas. Manusia yang memiliki jiwa-jiwa ini dapat disebut sebagai manusia filosof-sufi. Kategori orang semacam inilah yang bisa dikategorikan sebagai seorang filosof-sufi. Yang memiliki karakter seperti Nabi.

2) Takwa Menjadikan Manusia Ulil Albab

Tingkatan takwa selalu diletakkan sebagai tempat yang mulia. Takwa adalah memelihara diri dari siksaan Allah Swt dengan mematuhi perintah dan larangan-Nya, yang tidak cukup diartikan dengan takut saja (Al-Qur’an Depag RI, 2004, hlm. 3). Namun, dalam pandangan Said Nursi ketakwaan dibawa orang ikhlas. Karena dominasi jiwa dalam ketakwaan adalah jiwa berani dan nafsu. Ketakwaan menjadi sangat penting dalam pembentukan muslim yang hakiki. Manusia ideal vang diharapkan dari ketakwaan adalah manusia yang memiliki karakteristik ulil albab.

Ciri-ciri orang takwa diisyaratkan dalam Risale-i Nur :

  1. Orang sabar dalam mencari ridha Allah
  2. Selalu menepati janji Allah dan tidak merusak perjanjian (Qs. Ar Rad ayat 20)
  3. Takut kepada Allah
  4. Takut kepada hisab Allah
  5. Mendirikan shalat
  6. Menafkahkan sebagian harta (Said Nursi 2003b, hlm

Dapat dipahami bahwa manusia ideal selanjutnya menurut Said Nursi adalah manusia ulil albab (manusia berakal). Manusia ulil albab memiliki sikap hidup sabar. Kesabaran utamanya adalah dalam mencari keridhaan Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki kepada orang lain, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Mereka inilah orang yang takwa. Sikap hidup yang takwa dalam jiwanya selalu dominan sabar. Manusia yang memiliki jiwa-jiwa ini dapat disebut sebagai manusia ulil albab yang memiliki karakter seperti Nabi.

3) Sedekah Menjadikan Manusia Dermawan

Penciptaan manusia ke muka bumi ini tidak terlepas dari dua hal penting yakni sebagai pengabdi dan khalifah. Dalam pengabdian dan khalifah di muka bumi inilah perpaduan selanjutnya dari jiwa berani dan nafsu melakukan peranannya. Untuk selalu menjalin ukhuwah Islamiyah. Karena, kedermawanan sangat dekat sekali dengan saling menolong atas sesama manusia.

Ciri-ciri orang sedekah diisyaratkan dalam Risale-i Nur, yaitu :

  1. Menafkahkan sebagian hartanya kepada orang lain
  2. Senantiasi menjalin tali silaturahmi
  3. Senantiasa menjalin ukhuwah Islamiyah

Dari berbagai penjelasan di atas dapat dipahami bahwa manusia ideal selanjutnya Risale-i Nur adalah manusia dermawan. Manusia dermawan memiliki sikap hidup sedekah. Sedekah adalah dalam mencari keridhaan Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki kepada orang lain, baik secara sembunyi maupun terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Mereka inilah orang yang takwa. Sikap hidup orang yang suka bersedekah dalam jiwanya selalu dominan jiwa ukhuwah. Manusia yang memiliki jiwa-jiwa ini dapat disebut sebagai manusia dermawan yang memiliki karakter sepeti Nabi.

Rangkaian penjelasan dan pembahasan di atas dapat dipahami bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi yang mengikat dalam satu kesatuan hidup, termasuk di dalamnya dapat prinsip pendidikan akhlak bagi generasi muda diketahui meliputi : menguatkan iman, berpegang teguh pada al-Qur’an, pentingnya memahami hakekat penciptaan manusia, pentingnya memahami alam semesta, pentingnya memahami asma’ al-husna, pentingnya mengetahui tanda-tanda akhir zaman, pentingnya meyakini hari kiamat, meneladani nabi Muhammad Saw dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah. Prinsip-prinsip ini saling berkaitan dalam jiwanya dan sifatnya tidak dapat dipisah-pisahkan. Baik dalam pola pikir, pola sikap dan pola lakunya. Prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi ini dapat dikatakan sebagai prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda. Tentu saja, karena sifatnya filosofis dalam diri manusia, maka prinsip-prinsip ini menjadi dasar bagi Said Nursi yang sangat relevan dengan kehidupan generasi muda.

 

Relevansi Prinsip-prinsip Pendidikan Akhlak dengan Pembinaan Generasi Muda

Setelah dikemukakan mengenai prinsi-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut pemikiran Said Nursi, berikut ini adalah bagian analisis terhadap prinsip-prinsip tersebut di atas. Pada bagian ini penulis mencoba untuk menganalisis relevansi prinsip-prinsip pendidikan akhlak tersebut dengan pembinaan generasi muda secara deskriptif-komperatif untuk melihat aspek akidah, pandangan hidup, tujuan hidup, ibadah, tingkah laku, lingkungan dan tahap perkembangan kepribadian generasi muda.

Relevansi dengan Akidah Generasi Muda

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa generasi muda yang dimaksud pada penelitian ini adalah generasi yang berumur 15-40 tahun yang beragama Islam. Walau bagaimana pun, secara fakta aspek akidah generasi belum dapat dipastikan. Apakah aspek keimanan yang mereka pegang benar-benar sesuai dengan hakikat yang diajarkan Islam, sebab banyak di antara mereka yang dapat disebut “Islam Phobia” atau “Islam KTP”. Artinya mereka beragama Islam dan mengaku beriman, namun masih ada yang tidak mau shalat, puasa Ramadhan bahkan zakat masih ditinggalkan. Fenomena seperti ini masih sangat nampak di tengah-tengah masyarakat.

Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima generasi muda dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.

Hasil penelitian Allport, Gillesphy, dan Young menunjukkan  bahwa  85 % generasi muda Katolik Romawi tetap taat menganut ajaran agamanya dan 40 % generasi muda Protestan tetap taat terhadap ajaran agamanya (Jalaluddin 2002, hlm. 74). Dari hasil ini dinyatakan selanjutnya, bahwa agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para generasi muda untuk tetap taat pada ajaran agamanya.

Sebaliknya agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pengembangan pikiran dan mental para generasi muda sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pikiran dan mental generasi muda mempengaruhi sikap keagamaan mereka. Karena itu, pemahaman dengan menguatkan keimanan harus senantiasa dilakukan untuk menuju kesempurnaan.

Walau sulit mengukur tingkat keimanan bagi generasi muda, namun kekuatan iman akan sangat nampak dari tingkah laku dan peribadahan yang dilakukan. Namun, Said Nursi sangat menekankan keimanan bagi generasi muda. Tujuan ciptaan yang paling murni dan fitrah manusia yang paling tinggi ialah iman kepada Allah. Jika ditinjau dari aspek pengamalan agama, tawaran-tawaran Said Nursi adalah penguatan keimanan melalui ruh ketauhidan masuk dalam kehidupan manusia sampai ke relung batin. Tauhid adalah dasar utama dalam menyatakan keimanan secara sempurna. Hakekat keimanan secara menyeluruh dapat dipahami melalui rukun iman yaitu ; Rukun iman terdiri dari iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-­Nya, hari kiamat, dan qadha dan qadhar.

Menurut Said Nursi hakekat keimanan terdapat dalam kalimat La Ilaha Illah yang merupakan mengakui secara totalitas kekuasaan Allah dan untuk membuktikan keimanan mereka dapat dilihat amal dan ibadah mereka sehari-hari. Artinya, sesungguhnya generasi muda yang beragama Islam tentu tergolong kepada generasi muda yang beriman, walaupun tidak dapat diketahui secara pasti bagaimana tingkat keimanan mereka, sebab keimanan tidak bisa dilihat dan menyangkut soal hati. Keimanan generasi muda jika didasarkan dengan prinsip ajaran Islam adalah tidak cukup dengan pembenaran hati dan pengakuan dengan kata-kata, tetapi diikuti oleh amal perbuatan.

Pembentukan nilai keimanan inilah yang diusahakan oleh Nabi Muhammad Saw, yang selama 13 tahun di kota Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Iman yang tidak pernah dipisahkan dari pasangannya, yaitu amal shalih (ibadah, mu’amalah, mu’asyarah dan akhlaq). Berkenaan dengan iman, sebagaimana firman Allah SWT dalam (QS.Ibrahim/14:24-25) : Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang kelangit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musimdengaseizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (Alquran dan Terjemahannya 1990, hlm. 383-384).

            Dalam Alquran dan Terjemahannya yang diterbitkan oleh Kerajaan Arab Saudi dinjelaskan bahwa, yang dimaksud dengan kalimat yang baik adalah kalimat tauhid (kalimat iman), yaitu segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemunkaran serta berbuat yang baik. Yang dimaksud kalimat tauhid adalah kalimat “Laa ilaa ha ill-Allah” (Alquran dan Terjemahannya 1990, hlm. 383-384). Buah dari sebatang pohon yang akarnya kuat adalah perumpamaan terhadap akhlak mulia. Akhlak adalah sebagai buah atau hasil dari suatu proses pendidikan yang didasari oleh penanaman nilai keimanan. Keimananlah yang menjadi fondasi dasar terwujudnya akhlaq al-karimah. Akhlak mulia membentuk generasi yang kuat iman dan menjadi insane saleh sampai bertemu dengan Allah Swt.

Insan shaleh adalah manusia yang mendekati kesempurnaan. Yang dimaksud pembentukan insan yang shaleh dan beriman kepada Allah tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah kepada-Ku (Q.S.51:56) manusia yang penuh keimanan dan takwa, berhubung dengan Allah memelihara dan menghadap keada-Nya dalam segala perbuatan yang dikerjakan dan segalah tingkah laku yang dilakukannya, segala pikiran yang tergores dihatinya dan segala perasaan yang berdetak dijantungnya ia adalah manusia yang mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad Saw dalam pikiran dan perbuatannya.

Insan shaleh beriman dengan mendalam bahwa ia adalah khalifah di bumi (Q.S.2:30). Ia mempunyai risalah ketuhanan yang harus dilaksanakannya, oleh sebab itu selalu menuju kesempurnaan akhlak yang mulia, sebab Rasulullah SAW. diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Di antara akhlak insan yang shaleh dalam Islam adalah harga diri, prikemanusiaan, kesucian, kasih sayang, kecintaan, kekuatan jasmani dan rohani, menguasai diri, dinamisme dan tanggung jawab. Ia memerintahkan yang makruf dan melarang yang munkar. Ia juga bersifat benar, jujur ikhlas memiliki rasa keindahan dan memiliki keseimbangan dan berperilaku seperti Nabi Muhammad Saw.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip keimanan yang ditanamkan Said Nursi dalam dirinya dan murid-muridnya sangat relevan untuk selalu direalisasikan oleh generasi muda yang beriman, walaupun tidak diketahui secara tepat tingkat keimanan generasi muda tersebut. Namun, diyakini bahwa dengan senantiasa menguatkan keimanan akan tercapai keinginan menjadi insane shaleh.

Relevansi dengan Pandangan Hidup Generasi Muda

Kemunduran dan kelemahan umat Islam dalam bidang ekonomi dan politik, khususnya ketika berada di bawah kekuasaan kolonial Barat pada abad ke-18, telah merangsang para elite politik Muslim untuk menyuarakan pentingnya perubahan-perubahan internal dalam upaya memperkecil jurang pemisah antara umat Islam dan orang-oraug Barat. Perkembangan dunia modern Barat telah menyumbangkan banyak sekali landasan yang menjadi dasar pendidikan. Khususnya terjadi perubahan besar dalam pandangan dan pemahaman keagamaan umat yang semakin lama semakin bingung dan lemah. (Wan Daud, 2003 hlm. 7). Dalam konteks umat secara luas, generasi muda berada di tengah-tengah arus perubahan tersebut yang tidak dapat dibantah keberadaan.  

Untuk ukuran generasi muda dari 15-40 tahun sudah dalam mengenal apa itu pandangan hidup. Generasi muda memiliki pandangan hidup yang jauh dari nilai-nilai keagamaan, bahkan prinsip-prinsip mulia ditinggalkan. Pengaruh arus globalisasi dan maraknya pandangan dunia yang mampu merubah perilaku generasi muda patut menjadi perhatian bersama. Pandangan hidup dalam konteks ini adalah pandangan Barat yang merusak generasi muda muslim. Dalam kajian filsafat di antara pandangan hidup  tersebut adalah sekulerisme, materialisme, komunisme dan ateisme. Said Nursi secara nyata-nyata menentang semua pandangan dunia yang membawa generasi muda berada di posisi yang tidak jelas menentukan arah hidup

Pertama, Pandangan Sekulerisme. Dalam berbagai perdebatan persoalan sekulerisme senantiasa menjadi topik penting dalam diskusi dunia saat ini. Menurut Mulyadi sekuler adalah lawan dari sakral. Kata sekuler dari bahasa Latin “sculum” berarti “bersifat duniawi (worldly)” sebagai lawan dari “spiritual” atau “relegius”. Sekuler yakni pandangan yang hanya mementingkan kehidupan duniawi dan mengabaikan yang ukhrawi dan dari sudut ontologis mementingkan yang bersifat materiil, mengabaikan yang spiritual. (Mulyadhi 2004, hlm. 120).

Kedua, Materialisme. Pandangan materialisme klasik sampai perkembangan pengetahuan di abad ke-18 menurut Sadulloh mengutip Power (1982) terdapat implikasi pendidikan positivisme behaviorisme yang bersumber pada filsafat materalialisme yang mengarahkan pandangan ini kepada tujuan pendidikan yakni “perubahan perilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya, untuk bertanggung jawab hidup sosial dan pribadi yang kompleks” (Sadulloh, 2003, hlm. 118). Pendapat ini berarti bahwa titik tekan pandangan ini berada pada manusia dengan kapasitas pribadinya yang kompleks yang dapat merubah sikap dan penlaku seseorang.

Ketiga, Komunisme dan Ateisme. Hasil dari pandangan sekulerisme dan matenalisme berimplikasi kepada pandangan hidup yang mengarah komunisme dan ateisme. Kata Komunisme secara historis sering digunakan untuk menggambarkan sistem ­sistem sosial di mana barang-barang dimiliki secara bersama-sama dan didistribusikan untuk kepentingan bersama sesuai dengan kebutuhan masing-unasing anggota masyarakat. Produksi dan konsumsi bersama berdasarkan kapasitas ini merupakan hal pokok dalam mendefinisikan paham komunis, sesuai dengan motto mereka : from each according to his abilities to each according to his needs (dari setiap orang sesuai dengan kemampuan, untuk setiap orang sesuai dengan kebutuhan).

Pandangan dasar manusia sebagai makhluk yang berkerja menjiwa dalam masyarakat komunis (Adelbert Snijders 2004, h1m. 77). Dalam aplikasinya sistem perekonomian komunis didasarkan atas “sistem perintah”, di mana segala sesuatunya serba dikomandoi. Harus diakui bahwa komunisme adalah bentuk paling ekstrem dari sosialisme. Begitu juga karena dalam sistem komunisme negara merupakan penguasa mutlak, perekonomian komunis sering juga, disebut sebagai “sistem ekonomi totaliter” atau “sistem sosialis ekstrem”, menunjuk pada suatu kondisi sosial di mana pemerintah main paksa dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya, meskipun dipercayakan pads asosiasi-asosiasi dalam sistem sosial kemasyarakatan yang ada. Sistem ekonomi totaliter dalam praktiknya berubah menjadi sistem otoriter, dimana sumber-­sumber ekonomi dikuasai oleh segelintir elite yang disebut sebagai polit biro yang terdiri dari elite-elite penguasa partai komunis. Sampai disini kekuatan komunisme berada pada asosiasi-asosiasi dan lembaga-lembaga yang dipercaya, namun disini justru letak pangkal paradoks ekonomi komunisme. Pada titik yang lain masyarakat komunis berubah menjadi ateis, sehingga hakekat makhluk hidup dimaknai kebebasan yang sebebas-bebasnya untuk bekerja dan bekerja.

Harus diakui bahwa pandangan sekulerisme ini sangat bertentangan dengan prinsip Islam yang senantiasa menyeimbangkan antara urusan dunia dan urusan akherat. Sebagai makhluk duniawi, Said Nursi mengajak generasi muda mengesakan Allah Swt. Namun sebaliknya pandangan sekuler Barat yang bercorak rasionalistik-positivistik indrawi menempatkan manusia hanya sebagai makhluk fisik-kimia yang tidak peduli nilai-nilai spiritual. Pandangan ini menyingkirkan Tuhan sebagai Pencipta. Seluruh proses alam dipandang “hanya kebetulan, tak ada campur tangan Tuhan”. Dalam bangunan filsafatnya, Decrates menekankan akal itu sebagai sumber ilmu pengetahuan dan menjadikannya sebagai tujuan akhir. Segala hal yang bersifat abstrak dan tidak dapat dipikirkan secara logika bukanlah ilmu pengetahuan.

Dari penjelasan di atas dapat diambil pemahaman bahwa yang dijadikan landasan bagi dunia pendidikan modern adalah filsafat yang mengarahkan kepada pandangan materialisme. Kecenderungan ini menipakan akibat dari mengagungkan akal sebagai landasan berpikir.

Dapatlah ditegaskan bahwa keempat aliran pemikiran filsafat dan landasan di atas yang berkembang menjadi pemikiran ekonomi ini berangkat dari kepentingan (internst) dan mengabaikan etika, itulah kuncinya. Baik sekulerisme, materialisme, komunisme maupun ateisme pada titik kebutuhan hakiki manusia sebenarnyalah dapat dikatakan “gagal” karena tidak mencapai tujuan hakiki perlunya manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Kegagalan keempat aliran sebagai landasan pendidikan dan kehidupan tersebut terbukti dari manusia modem yang mengalami dilema hidup yang sangat memprihatinkan. Marxisme yang telah mencengkram Uni Sovyet kemudian hancur berantakan. Bukan hanya teori perjuangan kelasnya yang gagal, tetapi komunisme yang antiagama itu telah menyebabkan sebagian besar rakyatnya tidak bahagia.

Sedangkan cita-cita dari pandangan hidup Said Nursi dalam konteks pendidikan akhlak adalah manusia ideal dalam sebagaimana Risale-i Nur adalah manusia yang dekat dengan Allah dan berperilaku seperti Nabi Muhammad. Tentu saja memiliki pandangan hidup yang jelas yakni mengesakan Allah, melalui asma’ al-husna. Asma’ al-Husna yang terbuka di semesta alam ini adalah bukti nyata kebesaran Allah Swt. Kunci keluar dari dunia yang semakian materialistik ini adalah dengan cara iman dan mengamati asma Allah yang terbentang di alam semesta ini, dan lebih khusus lagi menanamkan keimanan kepada hari akhir. Atau istilah yang sering digunakan Said Nursi adalah “Hizmetul iman wa al-Quran”, menurutnya sekarang ini adalah akhir zaman dan menyadarkan umat dari paham duniawi ke ukhrawi.

Prinsip menguatkan keimanan diperlukan bagi generasi muda untuk melawan pandangan-pandangan hidup yang dapat merusak akidah generasi muda. Said Nursi meyakinkan generasi muda dengan mengatakan : “Zat yang menggenggam kendali semua unsur di alam ini pastilah juga memegang kendali semua unsurnya” (Said Nursi 2003a, hlm. 635). Generasi muda harus yakin bahwa kendali dalam kehidupan ini diciptakan Sang Pencipta yaitu Allah Swt dan sekaligus memegang secara penuh kendali kehidupan ini.

 

Relevansi dengan  Tujuan Hidup Generasi Muda

Salah satu ciri generasi muda adalah perubahan sikap serta sifat mengarah kedewasaan (Sudarsono 1993, hlm. 12-13). Generasi muda seperti ini mengalami perubahan dalam berusaha memahami kehidupan, terutama tujuan kehidupan. Jika dikaji dalam konteks kekinian, maka saat ini adalah masa di mana manusia telah memasuki era global atau milenium ketiga. Suatu zaman yang ditandai oleh era informasi yang merupakan revolusi teknologi yang menimbulkan revolusi ekonomi, gaya hidup, pola pikir dan sistem rujukan. Pengalaman sekarang menunjukkan bahwa arus informasi global hampir seluruhnya  tidak seimbang. Lebih banyak informasi yang datang dari budaya Barat ke dalam budaya Islam daripada sebaliknya. Keadaan ini menimbulkan dominasi kultural yang tidak seimbang (Nata 2001, hlm.144-145) dan berdampak buruk bagi nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan dalam Islam. Generasi muda pun sudah ikut-ikutan mengadopsi pola kehidupan yang datang dari Barat tersebut.

Kehadiran  milenium ketiga yang ciri-cirinya disebutkan di atas, pada akhirnya akan menjadi tantangan yang serius bagi dunia pendidikan khusunya pendidikan akhlak. Tantangan tersebut antara lain, mampukah pendidikan akhlak menjadi pemeran utamanya tidak hanya memberikan pengetahuan agama yang hanya memenuhi aspek kognitif belaka, tetapi juga dalam aspek afektif yang mampu menanamkan nilai-nilai keimanan kedalam hati peserta didik yang pada akhirnya dalam aspek psikomotorik yang dapat diaktualisasikan kedalam bentuk amal-amal shalih dan akhlak yang mulia?. Mengapa tidak mungkin, Nabi Muhammad Saw dalam waktu hanya 23 tahun, atas pertolongan Allah telah dapat merubah seluruh tatanan kehidupan bangsa Arab Jahiliyah  menjadi Bangsa yang beriman  dan berakhlak mulia.

Ternyata di tengah situasi sebagaimana di atas, prinsip pentingnya memahami hakekat hidup ini sangat berperan bagi generasi yang sedang menuju kedewasaan. Said Nursi mengarahkan tujuan seorang manusia itu kepada terciptanya manusia yang beriman dan memahami makna kehidupan yang seimbang. Seirama dengan itu tujuan yang mendasar dari pendidikan Islam mulai dari turunnya Islam itu sendiri hingga saat ini bahkan sampai akhir zaman tetap tidak berubah, yakni untuk menjadikan manusia seorang yang berakhlak mulia. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw pernah bersabda yang mafhumnya: “Sesungguhnya aku ini diutus hanya untuk menjadikan manusia berakhlak mulia” (HR. Al-Bazzaar).

Pada saat ini bangsa kita telah mengalami kemerosotan dan kemunduran dalam segala aspek kehidupan. Untuk meyelesaikan persoalan tersebut adalah upaya bagaimana  untuk menanamkan keimanan dan ketaatan yang sempurna kepada Allah Swt. Upaya untuk menanamkan hakikat keimanan dan memang teguh al-Qur’an serta memahami hakekat penciptaan manusia.

 

 

Relevansi dengan Ibadah Generasi Muda

Menurut Halem Lubis, dkk., generasi muda memiliki ciri-ciri yaitu di samping mengalami keadaan yang tidak menentu di masa generasi muda, memasuki usia dewasa ia sudah dapat bertanggung jawab dalam segala tindakan dan perbuatannya (Halem 2001, hlm. 149-150). Berdasarkan pendapat ini secara agama orang yang sudah dapat bertanggung jawab dalam segala tindaknya berarti sudah balig, kebutuhan nilai spiritual juga meningkat.

Menurut Thomas sebagaimana dikutip Jalaluddin dan Ramayulis bahwa kebutuhan terhadap agama dimungkinkan karena adanya empat kebutuhan manusia, yaitu : adanya keinginan untuk  mendapatkan perlindungan (security), keinginan untuk mendapatkan pengalam baru,  (new experience), keinginan untuk mendapatkan tanggapan (respons) dan keinginan untuk dikenal (recognation). Melalui pengalaman-pengalaman yang diterimanya dari lingkungan itu kemudian terbentuklah rasa keagamaan (Jalaluddin dan Ramanulis 1998, hlm. 32-33).

Baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat generasi muda  muslim diharuskan untuk senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan Allah Swt. Hubungan yang baik menjadi kunci utama bagi pembentukan kepribadian muslim di tengah-tengah menjalankan ibdah kepada Allah. Nilai-nilai Islam yang diterapkan dalam hubungan itu mencakup:

  • Senantiasa beriman kepada Allah;
  • Bertaqwa kepada-Nya;
  • Menyatakan syukur atas segala nikmat Allah;
  • Tak berputus asa dalam mengharap rahmat-Nya;
  • Berdoa kepada Allah, menyucikan diri;
  • Mengagungkan-Nya serta senantiasa mengingat-Nya;
  • Menggantungkan niat atas segala perbuatan kepada-Nya (Jalaluddin dan Ramanulis 1998, hlm. 187).

Pada intinya ketujuh point di atas ingin menegaskan bahwa sejalan dengan prinsip keimanan, berpegang teguh pada al-Qur’an, memahami hakekat penciptaan manusia dengan senantiasa meneladani Nabi Muhammad Saw. Pembentukan kepribadian muslim sebagai individu, keluarga, masyarakat, maupun masyarakat pada hakikatnya berjalan seiring dan menuju ke tujuan yang sama. Tujuan utamanya adalah guna merealisasikan diri, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Relevansi dengan Lingkungan Generasi Muda

Kepribadian secara utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh lingkungan, khususnya pendidikan. Adapun sasaran yang dituju dalam pembentukan kepribadian ini adalah kepribadian yang memiliki akhlak mulia. Tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan. Pencapaian tingkat akhlak yang mulia merupakan tujuan pembentukan kepribadian muslim.

Lebih jauh Robert H. Thouless mengklasifikasikan faktor-faktor yang dapat membentuk sikap keagamaan menjadi empat faktor utama, yaitu : pengaruh-pengaruh sosial, berbagai pengalaman, kebutuhan, dan proses pemikiran (Robert 1972, hlm. 43). Pengaruh sosial atau dapat disebut faktor sosial mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keagamaan di antaranya pendidikan dari orang tua, tradisi-tradisi sosial, dan tekanan-tekanan lingkungan sosial untuk menyesuaikan  diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang disepakati oleh lingkungan itu.

Faktor pengalaman merupakan suatu faktor yang diakui dapat membantu tumbuhnya sikap keagamaan, baik pengalaman yang berkaitan dengan tatanan alami atau moral maupun pengalaman batin emosional. Pengalaman alami atau moral misalnya mengenai keindahan, keselarasan, dan  kebaikan dari faktor alam, dan konflik moral. Sementara pengalaman emosional berhubungan dengan pengalaman mistik emosional keagamaan atau faktor afektif.

            Ekologi diartikan sebagai lingkungan yakni sebagai segala sesuatu yang ads di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan maupun bends tak bemyawa. Terkait dengan lingkungan Islam melarang tegas umat manusia melakukan kerusakan di bumf, baik kerusakan lingkungan maupun kerusakan diri sendiri (Ali Anwar dkk 2005, h1m. 128). Akan tetapi seperti yang pernah disinggung bahwa pembentukan kepribadian jugs terkait dengan lingkungan pendidikan, yang berarti tidak dapat dilakukan secara sendiri tetapi hares bersama atas dasar saling tolong menolong. Karena itu, kondisi sedemikian ini akan tercipta situasi saling mencintai. Dimana setiap pribadi merasakan bahwa kesempurnaan diri akan terwujud karena kesempurnaan yang lainnya. Jika tidak maka tidak tedadl kesempumaan dalam diri seseorang. Setiap individu menempati posisi sebagai salah sate anggota dari seluruh anggota badan.

Faktor lingkungan ini mencakup tiga aspek penting yang tarot pula mempengaruhi terbentuknya akhlak mulia. Pertama, aspek hubungan keluarga. Lingkungan pendidikan Yang biasanya dikenal adalah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Said Nursi memang tidak secara khusus membicarakan ini, namun pada prinsipnya aspek ini termasuk dalam prinsipnya dalam membina diri meneladani Nabi Muhammad.

Kedua, aspek hubungan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial bahwa manusia di alam ini memerlukan kondisi yang balk dari luar dirinya. Sebaik-baiknya orang adalah orang yang berbuat baik dari saudara atau anak, kerabat, keturunan, rekanan, tetangga dan teman. Salah satu tabiat manusia adalah memelihara diri sendiri.

Ketiga, aspek hubungan formal. Hubungan ini sebenarnya memiliki juga pengaruh yang cukup kuat dalam pembentukan akhlak. Karena diakui atau tidak kondisi yang berada di masyarakat sangat dipengaruhi kebijakan politik pemerintah, artinya kondisi yang baik dapat didukung oleh pengambil kebijakan politik negara tersebut. Artinya bahwa situasi lingkungan akan dapat tercipta bilamana situasi politik pemerintah mengizinkan.

Tetapi, ketiga aspek uraian di atas setidak dapat memberikan gambaran bahwa Said Nursi cenderung secara lebih khusus membicarakan lingkungan pendidikan di dershane. Ini pun dianggap sebagai peninggalan yang bersifat tradisional. Kalau lingkungan keluarga dibahas tentu perlu pertimbangan ciri khas yang berkaitan tentang lingkungan tersebut. Keluarga perdesaan dan perkotaan pun sudah berbeda dari cars dan pola kehidupannya. Keluarga orang kaya dengan orang miskin, keluarga yang beranggota sedikit dengan yang banyak dan sebagainya.

Kemudian lingkungan sekolah, tidak disebutkan tapi, penjelasan mengenai hubungan pendidik dan peserta didik sebagai mana di atas setidaknya telah cukup membenkan gambaran untuk itu. Ungkungan masyarakat dikaji oleh Said Nursi secara lugs karena proses politik dan lingkungan social semasa penuligan Risale-i Nur dan berbagai persidangan mendeskripsikan tersendiri dari situasi lingkungan masyarakat.

Secara umum dapat dipahami bahwa lingkungan pendidikan akhlak Said Nursi sangat luas. Said Nursi tidak membatasi tanggung jawab pendidikan akhlak hanya tanggung jawab orang tua dan guru. Kondisi lingkungan terdekat sampai kondisi lingkungan yang paling jauh di dalam strata sosial masyarakat yang menekankan prinsip ketelandanan.

Relevansi dengan Situasi Kejiwaan Generasi Muda

Menurut Kartini Kartono, secara kejiwaan pemuda memiliki ciri-ciri khas, yaitu: belajar berdiri sendiri dalam suasana kebebasan, berusaha melepaskan ikatan-ikatan afektif lama dengan orang tua dan objek-objek cintanya, berusaha membangun hubungan perasaan/afektif yang baru, dan menemukan indentifikasi dengan obyek-obyek baru yang dianggap lebih bernilai atau lebih berarti daripada obyek yang lama. Generasi muda yang terdiri dari golongan orang dewasa yang lazimnya ia telah mencapai umur 21 tahun, dianggap sanggup berdiri sendiri, dan bisa bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas hidupnya  (Kartono 1990, hlm.33 dan hlm.184).

            Bagi Said Nursi pemuda adalah sebagai penerus generasi di masa depan. Menurut pendapatnya Mahmud Yunus seperti yang dikutip Zainuddin dkk. mengemukakan bahwa :

            Tugas yang utama dan terutama yang terpikul atas pundak alim ulama’, guru agama, dan pemimpin Islam adalah mendidik anak-anak, pemuda-pemuda, putra-putri, orang-orang dan masyarakat umumnya supaya semuanya itu berakhlak mulia dan berbudi pekerti yang halus, karena hidup bermasyarakat adalah tolong menolong, berlaku jujur dan peramah, berlaku adil dalam segala hal, berkasih sayang antara satu dengan lainnya…(Zainuddin 2001, hlm. 54)

Kutipan menjelaskan bahwa tugas orang tua, guru agama dan masyarakat dan pendidik lainnya adalah sangat berat karena ditangan merekalah akhlak anak akan dibentuk. Ajaran Islam selalu membimbing dan mengarahkan umat manusia untuk berakhlak mulia karena dengan itulah mereka akan hidup selamat di dunia dan di akhirat. Untuk itu sifat ikhlas, takwa dan sadakah harus terbangun dalam jiwa anak muda. Maka, melalui pembinaan yang mengetahui tingkat kejiwaan bagi generasi muda perlu dilakukan. Karenanya, generasi muda harus aktif di dalam pembentukan akhlaknya.

            Menurut Sudarsono, suatu ciri kehidupan generasi muda pada masa awalnya mengalami ketidakstabilan perasaan dan emosi, terutama dalam bersikap dan menentukan masa depan mereka. Berikutnya dalam proses menuju kedewasaan mereka dapat mengatasi masalahnya dengan baik (Sudarsono 1993, hlm. 15). Karena itu, prinsip-prinsip pendidikan akhlak misalnya menguatkan keimanan dan keyakinan terhadap hari kiamat bias merubah situasi kejiwaan yang tidak stabil dan emosional dalam menentukan jalan hidup dan mencapai cita-cita hidup.

Prinsip meneladani nabi Muhammada Saw juga bagian integral yang tidak dapat dipisah-pisah misalnya ; melatih cara makan dan minum yang dapat menyehatkan tubuh, bukan untuk kenikmatan, tetapi tidak terlalu kenyang dan juga tidak terlalu lapar, agak lapar justru akan lebih baik. Cara lain bagi generasi muda tidak membiasakan diri makan dan minum yang memabukkan. Demikian juga dalam hal cara berpakaian juga sangat penting diperhatikan.

Kemudian, para generasi muda diharapkan tidak sombong dan bermegah-megah terhadap kawan­kawannya dengan harus yang dimiliki orang tuanya. Pembicaraan yang kotor supaya dihindarkan. Suka berkata benar, jujur, dan hormat pada orang lain juga ditekankan. Gerak tubuh seperti berjalan, berkendaraan, suka berkata benar, dan lainnya perlu diperhatikan. Diharapkan seorang pemuda dapat menjadi orang yang suci, walau pada masa muda, tidak hanya suci menjelang ajal.

Said Nursi memberikan perhatian utama kepada situasi kejiwaan generasi muda dengan nilai-nilai akidah dan iman bertujuan untuk menyiapkan generasi muda sejak dini ketangguhan mereka untuk memperlemah sumber penyakit jiwa, misalnya marah, takut mati dan kesedihan. Sehingga, ketika pada masanya para generasi muda itu sudah benar-benar siap dalam menghadapai kehidupan yang luas ini.

 

 

 

 

Relevansi dengan Tahapan Perkembangan Kepribadian Generasi Muda

 

Dalam tahapan ini generasi muda dirumuskan dalam 2 (dua) tahapan yaitu tahap perkembangan dan tahap pembentukan. Hal ini merujuk dari berbagai perasaan telah berkembang pada masa muda. Perasaan sosial, etis dan estesis mendorong generasi muda untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat kearah hidup yang religius pula. Sebaliknya bagi muda yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual. Masa muda merupakan masa kematangan seksual. Didorong oleh perasaan ingin tahu dan perasaan super, muda lebih mudah terperosok ke arah tindakan seksual negatif.

Pertama, tahap perkembangan sosial. Dalam tahap perkembangan pribadiannya ini generasi muda tergantung dengan situasi sosialnya. Paham keagamaan generasi muda akan ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Generasi muda sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para generasi muda lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis. Hasil penyelidikan Ernest Harms terhadap 1789 generasi muda Amerika antara usia 18 – 29 tahun menunjukkan bahwa 70 % pemikiran generasi muda ditujukan bagi kepentingan: keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri dan masalah kesenangan pribadi lainnya. Sedangkan masalah akhirat dan keagamaan hanya sekitar 3,6 %, masalah sosial 5,8 %(Jalaluddin 2002, hlm. 75).

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka dalam perkembangan sosial generasi mudah untuk tetap berpegang teguh pada al-Qur’an dan berprinsip menguatkan iman serta meyakini diri akan hari kiamat yang diaplikasikan lewat sikap, tindakan dan perilaku. Sehingga, perkembangan jiwa dalam konteks sosial tidak berpandangan materialis dan asosial tapi justru mendapat dorongan yang mulia untuk mengembangkan jiwa-jiwa sosial dan dapat menjalankan ibadah dengan tenang.

Kedua, tahap perkembangan moral, perkembangan moral para generasi muda bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada para generasi muda juga mencakupi : self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi, Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik, Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama, Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral, dan Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat (Jalaluddin 2002, hlm. 76).

            Dalam tahapan-tahapan perkembangan diri manusia, munculnya rasa keagamaan dimulai dari sejak lahir. Masa yang rentan dan pertumbuhan yang kuat dalam hal ini hingga mencapai umur 12 tahun (masa anak-anak). Dalam rentang usia ini keingintahuan anak terhadap agama sangat tinggi. Pertanyaan tentang Tuhan dan hal-hal yang ghaib sangat menarik bagi si anak. Penanaman pengetahuan dan pemahaman tentang agama pada masa ini memegang peranan penting bagi pertumbuhan rasa keagamaannya pada jiwa manusia. Sebaliknya, kegagalan penanaman rasa keagamaan akan membuat kelabilan jiwa dan menumbuhkan sikap yang anti agama.

Pada masa generasi muda berkisar antara umu 13-18 tahun, kebiasaannya berpikir berdasarkan pengalaman-pengalamannya, maka dikhawatirkan pengalaman yang pernah dialaminya bukan bersumber dari sekolahnya, tetapi justeru berasal dari teman-temannya yang rusak akhlaknya. Karena itu, pengawasan pendidikannya tidak hanya sebatas ketika anak berada di sekitarnya, tetapi ia harus tanggap dan teliti terhadap pergaulan anak didiknya ketika bermain dengan temannya di luar jam pelajaran.

Dan perlu diketahui pada masa ini, generasi muda sudah memiliki kamatangan seksual yang bisa saja disalahgunakan bila pendidik kurang teliti mengawasinya. Karena anak tersebut punya cenderungan ingin bebas dari pengawasan pendidiknya. Bahkan lebih aneh lagi, karena sifat keterbukaannya kepada temannya lebih banyak daripada kepada pendidiknya. Padahal kalau ia mendapatkan kesulitan, pendidiklah yang lebih dahulu mengatasinya, bukan orang lain.

Maka perlu mencari cara-cara yang lebih tepat digunakan untuk mendidika anak tersebut, antara lain:

  1. Harus mendidiknya agar selalu tekun menjalankan perintah agama
  2. Menanamkan kebiasaan yang selalu ingin berbuat baik kepada orang tua, guru, teman-temannya, dan bahkan terhadap makhluk-makhluk lainnya.
  3. Selalu mengawasi pergaulan dengan anak yang buruk akhlaknya, dan mengarahkannya agar bergaul dengan anak yang baik
  4. Selalu menasehati bila ia hendak keluar rumah dan mengingatkannya agar selalu berhatihati ketika ia berbuat dan bergaul dengan teman-temannya.
  5. Selalu menjaganya agar tidak membaca buku-buku porno dan film-film cabul.

Masa dewasa, dimaksudkan adalah umur 19 tahun ke atas, dimana ia sudah memasuki jenjang pendidikan tinggi. Berarti pada masa ini, anak sudah dapat menghayati pengalaman-pengalaman hidup yang pernah dialaminya sejak kecil hingga dewasa, kemudian ia menemukan arti dan nilai-nilai tertentu yang bermanfaat terhadap pembentukan sikap dan perilaku yang baik baginya.

Sebenarnya mendidik akhlak anak yang sudah dewasa, tidak sulit asalkan jiwanya sudah terisi nilai-nilai keagamaan dan kesusilaan. Hanya yang sulit jika ia tidak pernah tersentuh oleh akhlak sejak ia masih kecil sampai terjerumus ke dalam lembah kerusakan moral.

Cara-cara yang harus dilakukan dalam pendidikan akhlak anak tersebut, antara lain:

  1. Pendidik harus memberi keterangan kepadanya tentang tujuan akhlak baik dan kemudhoratan akhlak buruk
  2. Harus selalu mengontrol segala tingkah lakunya dan menasehatinya bila ternyata ia melakukan penyelewengan agama atau norma-norma sosial.
  3. Pendidik harus mendesak untuk menerapkan pendidikan akhlak (etika) yang pernah di dapatkannya di sekolah maupun di tempat lain.

Perkembangan sikap keagamaan pada manusia dipengaruhi tiga faktor utama, yaitu faktor hereditas, faktor pembawaan, dan faktor lingkungan (Zakiah 1996, hlm. 35-37) Pertama, faktor hereditas yang berkaitan erat dengan kedua orang tua (ibu-bapak). Karena sifat-sifat atau ciri-ciri yang terdapat pada anak dikatakan keturunan jika hal tersebut diwariskan atau diterima dengan sel benih dari generasi lain (Purwanto, 1997, hlm. 64). Adapun yang diwariskan orang tua kepada anak berbentuk sifat-sifat atau ciri-ciri tertentu pada bentuk fisik, bentuk wajah, gerakan-gerakan tertentu dari bagian tubuh dan juga sebagian kecil sifat emosi. Keemua diterima anak dari sel benih kedua orang tuanya.

Selanjutnya faktor pembawaan adalah seluruh potensi yang terdapat pada individu dan pada masa perkembangannya benar-benar dapat diwujudkan (Mudjakir dan Sutrisno 1997, hlm. 92). Potensi tersebut misalnya, kemampuan berjalan, berbicara, dan lain-lain yang nanti potensi ini memang benar-benar terbukti meskipun tetap tergantung pada pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri. Potensi-potensi di atas merupakan pembawaan bagi setiap anak yang dilahirkan.

Lebih jauh dapat dijelaskan bahwa bagi pendidikan Islam prinsip utama dalam pengembangan sumber daya manusia, pertama peserta didik harus dihadapi secara totalitas unsur-unsurnya. Al-Qur’an tidak memisahkan unsur jasmani dan rohani, tetapi pembinaan jiwa dan pembinaan akal sekaligus tanpa mengabaikan unsur jasmaninya. Karena itu, seringkali ditemukan uraian-uraian yang disajikan dengan argumentasi logis, disertai sentuhan-sentuhan kepada kalbu. Kedua memahami nilai-nilai masyarakat sekitar. Kualitas kreativitas seseorang dalam masyarakat tidak saja tergantung pada hasil pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan tetapi juga oleh nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakatnya (peradaban, Hasan Langgulung red). Jika nilai-nilai tersebut mendukung pengembangan sumber daya manusia, maka kualitasnya akan sangat baik demikian juga sebaliknya (Rohmalina, 2002, hlm.115).

Diharapkan dengan melaksanakan prinsip atau konsep ini, bukan hanya kesucian jiwa yang diperoleh tetapi juga pengetahuan yang merangsang daya cipta, karena daya ini dapat lahir dari penyajian materi secara rasional serta rangsangan pertanyaan melalui diskusi. Dengan demikian peningkatan sumber daya manusia berarti peningkatan pendidikan dan pengetahuan.

Ketiga, tahap pembentukan kepribadian muslim, dengan menanamkan nilai-nilai Islam dalam keluarga dilakukan dengan cara melaksanakan pendidikan akhlak di lingkungan rumah tangga. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: Memberikan bimbingan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, memelihara anak dengan kasih saying, memberi tuntunan akhlak kepada keluarga, membiasakan untuk menghargai peraturan-peraturan dalam rumah tangga, membiasakan untuk memenuhi dan kewajiban antara sesama kerabat (Rohmalina, 2002, hlm.115)

Jadi yang harus ditanamkan di dalam lingkungan keluarga selaku unsur terkecil dari masyarakat adalah dasar-dasar aqidah yang benar dan akhlak mulia. Menanamkan dasar-dasar nilai tersebut dimulai sejak, sehingga ketika dewasa anak menjadi terbiasa.

Baik sebagai individu maupun sebagi ummah, kaum muslimin diharuskan untuk senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT. Hubungan yang baik menjadi kunci utama bagi pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah. Nilai-nilai Islam yang diterapkan dalam hubungan itu mencakup:

  1. Senantiasa beriman kepada Allah
  2. Bertaqwa kepada-Nya
    1. Menyatakan syukur atas segala nikmat Allah dan tak berputus asa dalam mengharap rahmat-Nya
    2. Berdoa kepada Allah, menyucikan diri, mengagungkan-Nya serta senantiasa mengingat-Nya.
    3. Menggantungkan niat atas segala perbuatan kepada-Nya.

Pembentukan kepribadian muslim sebagai individu, keluarga, masyarakat, mupun ummah pada hakikatnya berjalan seiring dan menuju ke tujuan yang sama. Tujuan utamanya adalah guna merealisasikan diri, baik sebagai individu maupun sebagai ummah untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Pembentukan kepribadian pada dasarnya merupakan upaya untuk mengubah sikap kearah kecenderungan kepada nilai-nilai keislaman. Perubahan sikap, tentunya tidak terjadi secara spontan. Semuanya berjalan dalam proses yang panjang dan berkesimanbungan. Cerminan dari ciri-ciri kepribadian muslim seperti yang dikemukankan tersebut, pada garis besarnya merupakan unsur-unsur yang terkandung dalam komponen pembentukan akhlak yang mulia dari sumber ajaran al-Quran. Berakhlak mulia, memuat pengertian mampu menjalani hubungan yang baik antara hamba dengan Allah (hablumminallah), dan hubungan baik antara sesama manusia (hablumminannas), maupun denga makhluk Tuhan (hablimminal `alam). Hubungan baik inilah merupakan dasar utama bagi pembentukan kepribadian muslim secara individu. Dalam Islam juga mengajarkan faktor genetika (keturunan) ikut berfungsi dalam pembentukan kepribadian muslim. Menurut Jalaluddin dan Usman Said bahwa akhlak terhadap Allah meliputi:

  1. Mengabdi kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya
  2. Tunduk dan patuh hanya kepada Allah Swt
  3. Berserah diri kepada ketentuan Allah Swt
  4. Bersyukur hanya kepada Allah Swt
  5. Ikhlas menerima keputusan Allah Swt
  6. Penuh harap kepada Allah Swt
  7. Takut kehilangan rasa patuh kepada Allah Swt
  8. Takut akan siksa Allah Swt
  9. Takut akan kehilangan rahmat Allah Swt
  10. Mohon pertolongan kepada Allah Swt
  11. Cinta dan penuh harap kepada Allah Swt (Jalaluddin dan Usman 1996, hlm. 61-61).

Selanjutnya Jalaluddin dan Usman Said, menambahkan bahwa akhlak kepada sesama manusia, secara garis besarnya meliputi sikap yang baik seperti: Menghormati dan menghargai perasaan kemanusiaan, Memenuhi janji dan pandai berterima kasih, Saling menghargai, dan menghargai status manusia sebagai makhluk Allah yang paling mulia (Jalaluddin dan Usman 1996, hlm. 82). Begitu juga akhlak terhadap lingkungan sekitar kita (alam). Islam mengajarkan kepada setiap muslim untuk menunjukkan sikap yang serasi terhadap lingkungan sekitar. Sikap tersebut meliputi: (1) Memperlakukan binatang dengan baik dan (2) Menjaga dan memelihara kelestarian alam (Jalaluddin dan Usman 1996, hlm.84-85).

            Jadi pada dasarnya pembentukan kepribadian muslim merupakan suatu pembentukan kebiasaan yang baik dan serasi dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Untuk itu setiap muslim dianjurkan untuk belajar seumur hidup, sejak lahir hingga akhir hayat. Pembentukan kepribadian melalui pendidikan tanpa henti (long life education), sebagai suatu rangkaian upaya menuntut ilmu dan nilai-nilai keislaman, sejak dari buayan hingga ke liang lahat. Pembentukan kepribadian muslim merupakan pembentukan kepribadian yang utuh, menyeluruh, terarah, dan berimbang.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dengan mudah diidentifikasi prinsip yang ada yakni ikhlas, takwa dan sedekah. Dan senantiasa menjalankan sunah Nabi Muhammad dalam rangka membentuk kepribadian muslim yang diharapkan.

Bab 5

P E N U T U P

Kesimpulan

Dari rangkaian diskusi dan beberapa uraian di atas, maka penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Dalam konteks pendidikan akhlak Said Nursi adalah salah satu tokoh dalam bidang akhlak yang konsisten terhadap pembinaan generasi muda. Pendidikan di keluarga dan masyarakat yang mendorong Said Nursi untuk aktif mendidik masyarakat dan menyebarkan dakwah Islam. Media yang digunakan adalah Risale-i Nur yang merupakan karya monumental Said Nursi. Risale-i Nur telah memberikan sumbangsih positif bagi dunia Islam dalam membangun nilai-nilai akhlak.
  2. Pendidikan akhlak Said Nursi didasari atas pemahamannya terhadap al-Qur’an dan ilham dari Allah Swt. Tugas pokok dari pendidikan akhlak adalah memperkokoh prinsip-prinsip yang dimiliki oleh manusia untuk mencapai tingkatan manusia seperti Nabi yang harmonis dan seimbang secara positif yang melahirkan sikap hidup mulia dengan akhlak karimah. Hal yang paling prinsip dalam memperkuat pemahamannya adalah interpretasinya tentang manusia, alam semesta dan Allah.
  3. Untuk mencapai manusia seperti Nabi yang seimbang atau harmonis Said Nursi dengan interpretasi terhadap manusia, alam semesta dan Allah melahirkan prinsip-prinsip dalam pendidikan akhlak menurut pandangan Said Nursi yaitu menguatkan keimanan, berpegang teguh pada al-Qur’an, pentingnya memahami hakekat penciptaan manusia, pentingnya memahami alam semesta, pentingnya memahami asma’ al-Husna, pentingnya mengetahui tanda-tanda hari kiamat, pentingnya meyakini hari kiamat, meneladani nabi Muhammad Saw, dan  menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah.
  4. Prinsip menguatkan iman sangat relevansi bagi sikap akidah generasi muda. Said Nursi meyakini bahwa iman pokok dalam menjalani kehidupan. Iman yang dimaksud adalah iman yang tercukup dalam rukun iman. Dasar keimanan adalah kalimat kalimat La Ilaha Illah yang merupakan mengakui secara totalitas kekuasaan Allah. Akidah generasi muda cenderung tidak didasari keyakinan yang kokoh, karena itu Said Nursi menekankan agar menguatkan iman.
  5. Prinsip berpegang teguh pada al-Qur’an dan prinsip memahami hakekat penciptaan manusia, terkait dengan generasi muda cenderung senang pada gagasan-gagasan segar yang memainkan akal. Padangan berdasarkan akal inilah yang lebih diminati, sehigga melahirkan pandangan sekulerisme, materialisme, komunisme dan ateisme yang merusak pemikiran generasi muda. Said Nursi meyakinkan generasi muda agar sepegang teguh pada al-Qur’an dan memahami hakekat penciptaan manusia sebagai pedoman sekaligus pandangan hidup.
  6. Mengenai tujuan hidup generasi muda pada masa mudah cenderung hedonis dan duniawi, suatu tujuan hidup terombang-ambing tidak jelas arahnya. Untuk itu, mencapai tujuan hidup Said Nursi agar generasi muda berprinsip menguatkan iman, berpegang teguh pada al-Qur’an, memahami penciptaan manusia, memahami alam semesta, memahami asma’ al-husnah, mengetahui tanda-tanda hari kiamat dan meyakini hari kiamat. Prinsip-prinsip ini sangat menopong terbentuknya manusia yang bertujuan hidup yang jelas.
  7. Prinsip meneladani Nabi Muhammad dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah sangat relevan dengan ibadah generasi muda. Said Nursi menekankan ikhlas karena keikhlasan akan membimbing manusia menjadi suci dan mulia, dengan ketakwaan menjadi manusia yang berakal dan tenang, sedangkan dengan sedekah menjadi manusia yang dermawan dan berjiwa sosial. Generasi muda harus senantiasa meneladani dan menanamkan nilai-nilai ikhlas, takwa dan sedekah secara integratif.
  8. Dalam konteks situasi kejiwaan generasi muda diharapkan selalu mampu melakukan perubahan jiwa dengan prinsip keimanan dan keyakinan terhadap hari kiamat dengan keyakinan dan pengamalan hidup yang mendalam.
  9. Dalam tahapan perkembangan dan lingkungan yang di dalamnya terdapat generasi muda, maka generasi muda berprinsip menguatkan keimanan, teguh pada al-Qur’an, memahami hakekat penciptaan manusia, pentingnya memahami alam semesta, pentingnya memahami asma’ al-Husna, pentingnya mengetahui tanda-tanda hari kiamat, pentingnya meyakini hari kiamat, meneladani nabi Muhammad Saw, dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah. Said Nursi sangat yakin melalui tahapan pembentukan akhlak yang akrab dengan lingkungan, maka kehidupan generasi muda akan menjadi lebih baik lagi.
  10. Selanjutnya dapat ditegaskan disini bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi sangat bermanfaat sekali bagi generasi muda yang didasarkan kepada apa yang diajarkan oleh Nabi Muhamamd Saw, baik secara teoritis berdasarkan al-Qur’an maupun secara praktis melalui perilaku kehidupannya sehari-hari.

Saran-saran

Perlu diketahui bahwa sekarang di Indonesia nama Bediuzzaman Said Nursi sudah mulai populer menyemarakkan sederetan tokoh pemikir Islam kontemporer lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa bagi kaum akademisi sudah tentu menjadi sebuah khazanah keislaman yang perlu direspons secara positif melalui kegiatan-kegiatan ilmiah, salah satunya yakni meneliti aspek-aspek ulama besar Turki ini, berikut pula karya tafsir Risale-i Nur. Untuk itu, ada beberapa hal dari hasil penelitian ini yang patut untuk dijadikan saran-saran sebagai berikut :

Pertama, penyajian bahasa dalam Risale-i Nur yang banyak mengandung analogi yang kadangkala sulit untuk diakses langsung oleh masyarakat awam. Karenanya, perlu disederhanakan melalui dua cara, yaitu ringkasan-ringkasan tematik (bentuk tulisan) dalam bahasa yang lugas dan singkat serta suguhan contoh yang rill sesuai dengan kodisi masyarakat dan metode diskusi (seperti pola dershane), namun hendaknya menyentuh kebutuhan masyarakat kelas bawah – seperti di desa-desa – bukan hanya kelas menengah ke atas saja (melalui kajian-kajian atau majelis ta’lim). Melihat kajian-kajian Risale-i Nur selama ini berkutat seputar penguatan akidah (bukan fiqh dan khilafiyah), maka perbaikan cara mensosialisasikannya sangat relevan, mencerdaskan dan menambah wawasan masyarakat.

Kedua, mengadakan kegiatan-kegiatan ilmiah di kampus, perguruan tinggi, dan di sekolah-sekolah, serta di lembaga. pendidikan Islam informal lainnya agar dapat memperoleh pemahaman utuh dari Risale-i Nur tersebut melalui kajian-kajian rutin.

Ketiga, mengembangkan pola pendidikan dershane bagi peserta didik dan masyarakat umum secara terpadu, sehingga terwujud suatu kondisi di mana tradisi “pengajaran” dan “pendidikan” yang integral bisa diterapkan secara nyata.

 

Implikasi Penelitian

Pada taraf yang lebih operasional, kesimpulan di atas membawa beberapa implikasi ke luar dari pokok pembahasan penelitian. Dari pembahasan tentang prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi di atas penulis menemukan beberapa implikasi positif dan implikasi negatif terutama untuk menjawab relevensi dengan kebutuhan bagi generasi muda.

  1. Pendidikan akhlak yang berfungsi untuk memperkokoh daya-daya positif yang natural di dalam diri manusia mengharuskan ada sistem pendidikan akhlak yang didasarkan pada perkembangan jiwa manusia secara integral.
  2. Secara implisit diketemukan semangat penanaman prinsip-prinsip pendidikan akhlak yang berkiblat kepada satu arah yakni Risale-i Nur dan al-Qur’an.
  3. Dari aspek pendidikan akhlak Said Nursi menginginkan realisasi prinsip-prinsip pendidikan akhlak secara unversal dalam diri manusia. Semua ini bertujuan berangkat dari pemahaman pandangan dasar hidupnya tentang ketuhanan dengan mengokohkan akidah dan menggairahkan ibadah.
  4. Ternyata usaha mentransformasikan nilai-nilai dan membina kepribadian umat Islam ditinjau dari sudut pendidikan walaupun relatif sukses, namun memerlukan tindak lanjut atau kontribusi dari berbagai kalangan, khususnya para pencinta ilmu. Oleh karena itu, karya yang Said Nursi wariskan ini hendaknya dikembangkan dalam bentuk riset lanjutan dengan membahas tema-tema lain yang banyak dikandung dalam Risale-i Nur.
  5. Secara rasional mempelajari Risale-i Nur juga berarti mempersiapkan generasi muda untuk menangkal dalil-dalil yang bertentangan dengan ajaran Islam. Namun dalam hal modernisasi menghadapi perkembangan dan kemajuan teknologi hanyalah sebatas penjelasan-penjelasan dan argumentatif, namun tiada tawaran secara kongkrit dan solusi yang jelas dan tepat dalam menghadapi dan menangkal tantangan peradaban Barat yang menurut beliau sudah sesat karena menuruti hanya hawa nafsu belaka dan menurut beliau peradaban Islam yang ditegakkan atas ajaran al-Qur’an dan al-Hadits lebih baik dari peradaban Barat.
  6. Dalam proses pengajaran Said Nursi dengan menggunakan metode dershane atau semacam halaqah dengan mempelajari ilmu-ilmu agama ataupun ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pengetahuan umum, disini kita dapat melihat kekurangan dari metode pengajaran Said Nursi yang mana tidak adanya adanya kejelasan dari disiplin ilmu yang diajarkan sesuai dengan disiplin keilmuwan yang secara khusus diajarkan tersendiri dan tidak tersusunnya materi pelajaran yang diajarkan kepada siswanya.
  7. Dalam proses pembelajaran aspek yang dikedepankan adalah bagaimana audiensnya dapat lebih menambah wawasan dan pemahaman terhadap ajaran agama Islam dan menambah ketaatan beragama dengan tidak mengabaikan disiplin ilmu lain, seperti ilmu pengetahuan umum, namun disini terjadi suatu ketidakjelasan arah pendidikan yang ditawarkan oleh Sadi Nursi siswanya akan diarahkan kemana ?. Kemudian, proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh Said Nursi kalau kita cermati lebih mengutamakan untuk perbaikan diri dan hubungannya dengan iman dan kesalehan diri, namun tidak melupakan modernisasi walaupun itu hanya sebatas pengetahuan yang tidak mendalam.

Sehubungan dengan implikasi di atas, dapat dikatakan bahwa implikasi dari prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi tidak hanya memberikan kemungkinan kepada para ilmuwan, guru, pendidik untuk dapat menguasai materi belaka, tetapi memiliki kemampuan “meneladankan” nilai-nilai positif kepada peserta didik. Disamping itu, baik ilmuwan, guru atau pendidik memiliki rasa tanggung jawab yang besar dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmu untuk tujuan yang benar dan dengan jalan yang benar pula.

 

Rekomendasi

Beberapa implikasi sebagaimana di atas mengisyaratkan adanya upaya upaya penelitian lebih lanjut. Adapun berdasarkan persoalan akhlak yang penulis kemukakan, masalah­-masalah secara spesifik yang selanjutnya perlu kiranya untuk dikaji lebih lanjut antara lain :

  1. Konsep metafisika Said Nursi sebagai landasan mencapai tujuan hakiki dan proses pendidikan dan kehidupan.
  2. Prinsip-prinsip filosofis dalam pendidikan Islam dan Akhlak dalam kandungan Risale-i Nur .
  3. Konsep pendidikan dershane Said Nursi dalam meningkatkan akhlak.
  4. Strategi pengembangan jiwa, ruh dan emosi menuju akhlak mulia dalam pandangan Said Nursi.
  5. Peranan para orang tua, murid, dan masyarakat dalam interaksi paedagogis Said Nursi dalam proses pembentukan akhlak mulia
  6. Analisis politik kebijakan pendidikan pemerintah Turki terhadap gagasan Risale-i Nur dalam upaya pembentukan masyarakat madani.
  7. Rancangan kurikulum pendidikan Islam dalam proposal Medreset at-Zehra.
  8. Dasar-dasar epistemologi penerapan akhlak menurut Said Nursi.
  9. Etika belajar-mengajar dalam proses pendidikan Islam dalam pandangan Said Nursi.
  10. Guru yang profesional dalam pandangan Said Nursi.
  11. Kriteria murid yang ideal dalam pandangan Said Nursi.

REFERENSI

Abdurrahmansyah 2002. Sintesis Kreatif (Pembahanian Kurikulum Pendidikan Islam Ismail Raji’ al Faruqi). Global Pustaka, Yogyakarta.

Abu-Rabi, Ibrahim M (Ed) 2003. Islam at the Crossroads On the Life and Thought of Bediuzzaman Said Nursi, Sunny Press, USA

A]-Attas, Syed Muhammad Naquib 1995. Islam dan Filsafat Sains (diterjemahkan oleh Saiful Muzani, Mizan, Bandung.

Al-hamid, Muhsin 1999. “Bediuzzaman Said Nursi : The Kalam Scholar of the Modem Age”, dalam Third International Symposium on Bediuzzaman Said Nursi 24-28 th September 1995, Istanbul. Sozler Publication, Turki.

Al-Balali, Abdul Hamid 2003. Madrasah Pendidikan Jiwa. Penerjemah : Atik Fikri Ilyas, Gema Insani, Jakarta.

Al-Brayary 1988. Pengenalan Sejaruh AI-Our’an. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Al-Ghazali, Abu Hamid 2003. Tahfut al-Falasifah (diterjemahkan oleh Ahmad Maimun). Islamika, Yogyakarta.

Ali, Urkhan Muhammad 1995. Said Nursi al qadr .fi hayat ummah, Sharikat al-Nast li al­ Tiba’ah,Istanbul Turki.

_______ 1995. Said al-Nursi Raj ‘al al-qadr fi hayat ummah. Sharikat al-Nast li al-Tiba’ah, Istanbul Turki.

Al-Khathib, Ibn (Ed) 1398 H. Tahzib al-Akhlak wa Thahhir al-Araq. Ibn Miskawaih (Penulis), Dar Maktabat al-Hayat, Beirut.

Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Thourny 1979. Falsafah Pendidikan Islam. Bulan Bintang, Jakarta.

Aly, Siti Taurat, Sundari, Risminawati 1990. Pengatar Etika Islam. Ramadhani, Solo.

Aly, Hery Noer 1999. Ilmu Pendidikan Islam. Logos Wacana I1mu, Jakarta.

Amin, Khalil Ibn Ibrahim 2005. Keajaiban Penciptaan Makhluk Sebuah Telaah Ibnul Qayyim. Qisthi Press, Jakarta.

Amir, Dja’far 1980, Ilmu Mantiq, Ramadhani, Solo.

Arifin, Muzayin 1991. Kapita Selekta Pendidikan Islam (Islam dan Umum). Bumi Aksara, Jakarta.

________, 2000. Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner), Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.

___________, 1996. 1lmu Pendidikan Islam. Bumi Aksara, Jakarta.

Azra, Azyumardi 2000. Pendidikan Islam (Tradisi dan Modernisasi Menuju Milinium Baru). Logos, Jakarta.

Aziz, Muhammad bin Abdul 2001. Sabar (diterjemahkan oleh Aman Abdurrahman). Al Khudhairi, Jakarta.

Bahreisj, Hussein 1980. Himpunan Pengetahuan Islam (450 Masalah Agama Islam), Al Ikhlas, Surabaya.

Bakhtiar, Laleh 2001. Perjalanan Menuju Tuhan dari Maqam-maqam Hingga Karya Besar Dania Sufi. Nuansa, Bandung.

Balitbang Depdiknas 2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Bahan Sosialisasi). Depdiknas, Jakarta.

Daradjat, Zakiah 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Bumi Aksara, Jakarta.

________1996. Metodologi Pengqjaran Agama Islam. Bumi Aksara, Jakarta.

Daud, Wan Mohd Wan 1999. Filsafah dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Atlas. Mizan, Bandung.

Departemen Agama RI dan Mesir 1997. AI-Quran dan Tejemahnya. Mushraf Asyarifah, Madinah Al Munawwarah.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesi. Balai Pustaka, Jakarta.

Djajadisastra, Jusuf, dkk. 1986. Psikologi Perkembangan dan Psikologi Pendidikan.  Proyek Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis, Bandung.

Djamarah, Syalful Bahri dan Zain, Aswan 1996. Stategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta, Jakarta

Fromm, Erich 1995. Physco-analysis and Religion. Yale University Press, New Haven.

Ertugrul, Halit 1994. kgilimade Bednizz-aman Alfodeli. Yeni Asya Yayinlari, Istanbul.

Gozutok, Sakir 2002. The Risale-i Nur In The Context of. Educational Principles and Methods (The Paper Presented in The Fifth International Symposium On Badiuzzatnan SaidNursi). Sozler Publication, Istanbul.

Ghulsyani, Mahdi 2001. Sains Menurut Al-Quran (diterjemahkan oleh Agus Efendi), Mizan, Jakarta.

Gulen, M. Fethullah 2002. Memadukan Akal dan Kalbu dalam Beriman. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Gymnasitiar, Abdullah 2000. Ma’rifatullah (Ilmu Mengenal Allah). Evy Saifullah (Ed). MQS Press, Bandung.

Hadi, P. Hardono 1994. Epistemologi Filsafat Pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta.

Hasan, M. Ali 2000. Studi Islam: Al-Qur’an dan As-Sunnah. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Hitty, Philip K. 1974. History of the Arabs, The Macmillan Press, London.

Jundi, Anwar 1992. Islam Setelah Komunis (diterjemahkan oleh Ibnu Muhammad dan Fakhruddin Nursyam), Gema Insam Press, Jakarta.

Jamaludin, Amin Muhammad 2003. Huru-hara Akhir Zaman : Penjelasan Terakhir Untuk Umat Islam (diterjemahkan oleh Abu Adam Aqwam). Kartasura, Solo.

Langgulung, Hasan 1992. Asas-Asas Pendidikan Islam. Pustaka Al-Husna, Jakarta.

_______ , ”Pendidikan Islam dalam Masyarakat Demokrasi”. Conciencia (Jurnal Pendidikan Islam),” Nomor 1 volume III, Juni 2003.

Maarif, Ahmad Syafi’i 2000. Krisis dalam Pendidikan Islam, Al-Mawardi Prima, Jakarta.

Mardin, Serif, 1989. Religion and Social Change in Modern Turkey : The Case of Bedfuzzanian Said Nursi, Albany, USA.

Margono 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta.

Marimba, Ahmad D 1976. Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta.

Markban, Ian dan Ibrahim Ozdemir 2005. Globalization Ethics and Islam (The Case od Bediuzzaman Said Nursi). Ashgate Publishing Company, Burlington USA.

Mastuhu 1999. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta.

_________2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (The New Mind Set of National Education in the 21 Century), MSI UII dan Safiria Press, Yogyakarta.

Maududi, Abu A’la, Anwar Jundi, 1989. Menembus Cakrawala Islam. (diterjemahkan oleh Su’du Su’ud, Ramadhani, Solo.

Miskawaih, Ibn 1398. Tahzib al-Akhlaq. Hasan Tamirn (Ed), Bairut, Mansyurat Dar Maktabat al-Hayat.

Murodi dkk. 1995. Sejarah Kebudayaan Islam. CV Toha Putra, Semarang

Muchtar, Aflatun dkk. 2001. Wawasan Al-Quran tentang Keseimbangan dan Pelestarian Alam) dalam Islam Humanis, M. Tuwah dkk (Ed), Moyo Segoro Agung, Jakarta.

Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi : Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, PT Remaja Rosda Karya, Jakarta.

Myers, Eugene A. 2003. Zaman Keemasan Islam (Para Imuwan Muslim Pengaruhnya terhadap Dunia Barat). Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta.

Nashori, Fuad (Ed) 1996. Membangun Paradigma Psikologi Islami. SIPRESS, Yogyakarta.

Nasution, S 1983. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Bina Aksara, Jakarta.

Nasution, Harun, 1990. Pembaharuan dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Bulan Bintang, Jakarta.

__________ 2002. Teologi Islam : Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Universitas
Indonesia Press, Jakarta.

________ 1983. Akal dan Wah.vu dalam Islam. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Nata, Abuddin 1997. Filsalat Pendidikan Islam I. Logos Wacana Ilmu, Ciputat, Jakarta.

________ 2001. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Nursi, Bediuzzaman Said, 1998. Sirah Zatiyyah (diterjemahkan oleh Ihsan Kasim Salih). Matba’at Suzlar, Istanbul, Turki.

________ 1999a. Isyarat al-Ijaz, (diterjemahkan oleh Ihsan Kasim Salih), Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

________ 1999b. Matsnawi al-Arabi an-Nuriy, (diterjemahkan oleh Ihsan Kasim Salih). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

            _________ 1999c. Shiqak al-Islam, (diterjemahkan oleh Ihsan Kasim Salih). Sozler Nesriyat A.S,

Istanbul.

________ 1999c. Pembahasan ‘Ana’ (Aku) dan Zarah, (diterjemahkan oleh Anwar Fakhri Omar, Kuala Terengganu, Percetakan Yavasan Islam Trengganu Sdn Bhd, Malaysia

________ 1999d. Bediuzzaman Said Nursi (Tarihce-i Hayat). Sozler Yayinevi, Istanbul.

________ 2000a. The Words (On The Nature and Purpose of Man Life, and All Things) (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

________ 2000b. The Letters 1928-1932 (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A. S, Istanbul.

_________ 2000c. The Flashes Collection, (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

_________ 2000d. The Rays Collection. (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

             2000e. Bediuzzaman Said Nursi, Penerjemah : Sukran Vahide, Sozler Nesriyat
A.S, Istanbul.

________ 2000f. Thirty-Three Windows; Making Known The Creator. (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Publication, Istanbul.

________ 2000g. Persoalan Tauhid dan Tasbih (diterjemahkan oleh Maheram binti Ahmad). Sozler Publication, Istanbul.

________ 2002a. Man and Universe, (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

________ 2002b. The Shore Hlordv, (diterjemahkan oleh Sukran Vahide). Sozler Nesriyat A.S, Istanbul.

_________ 2003a. Risalah An-Nur : Said Nursi: Pemikir dan Sufi Besar Abad 20
(Menikmati Takdir Langit : Lama’ar). Murai Kencana, Jakarta.

_________ 2003b. Risalah An-Nur; Said Nursi: Pemikir dan Sufi Besar Abad 20
(Menjawab yang Tak Terjawab, Menjelaskan yang Tak Terjelaskan. Murai Kencana, Jakarta

___________ , 2003c. Risalah An-Nur; Said Nursi: Pemikir dan Sufi Besar Abad 20 (Sinar
yang Mengungkap Sang Cahaya; Epitomes Of Light). Murai Kencana, Jakarta.

­­­­­­­­­­­­­_____________, 2003d. Alegori Kebenaran Ilahi, (diterjemahkan oleh  Sugeng Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

___________  , 2003d. Dimensi Abadi kehidupan (diterjemahkan oleh  Sugeng Hariyanto). PrenadaMedia, Jakarta.

_________ , 2003e Dari Balik Lembaran Suci (diterjemahkan oleh  Sugeng Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

_________ , 2003g. Episode Metafisis Kehidupan Rasulullah (diterjemahkan oleh  Sugeng Hariyanto). Prenada Media, Jakarta.

2003h. Dari Cermin Kekuasaan Allah (diterjemahkan oleh Sugeng Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

             2003i. Al-Ahad Menikmati Ekstase Spiritual Cinta Ilahi (diterjemahkan oleh Sugeng Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

            , 2003j. Mi’raj Menembus Konstelasi Langit, (diterjemahkan oleh Sugeng Hariyanto), Prenada Media, Jakarta.

            2003k. Makna Hidup Sesudah Mati: Kebangkilan dan Penghisaban
(diterjemahkan oleh
Sugeng Hariyanto dan Fathor Rasyid), Murai Kencana, Jakarta

I 2004a. Mengokohkan Akidah Menggairahkan Ibadah, (diterjemahkan oleh Muhammad Misbah). Robbani Press, Jakarta.

            2004b. Iman Kunci Kesempurnaan (diterjemahkan oleh Muhammad Misbah). Robbani Press, Jakarta,

Ottal, William R. 1978. the Psychobiclo~U of Mind. New Jersey, Lawrence Erlbaum Associates.

Rahman, Taha ‘Abdel 2003, The Separation of Human Philosophy .from the Wisdom of the Qura’an in Said Nursi Work’s dalam buku Islam at the Crossroad on the Life and thought of Bediuzzaman Said Nursi (Ibrahim Abu Rabi’, Editor), Penerbit Suny Press, Amerika Serikat.

Ramadhan, Syamsuddin 2003. Islam Musuh Bagi Sosialisme dan Kapitalisme, Wahyu Press, Jakarta.

Rahman, Fazlur 1984. Islam. Pustaka, Bandung.

_________1985. Islam dan Modernitas: Tentang Trancfbrmasi Intelektual. Pustaka,

Bandung.

Salih, Ihsan Kasim 2003. Said Nursi Pemikir dan Sufi Besar Abad 20 (Membebaskan Agama dari Dogmatisme dan Sekularisme. Murai Kencana, Jakarta.

_________1999.Badi’al-zaman Said Nursi nazrah ‘animah an hayatihi wa atharihi, Matba’at Al Najah al Jadidah, Al Magrib.

Syafiie, Inu Kencana, 1998. Logika, Elika, dan Estetika Islam. Pertja, Jakarta.

Sahrasad, Herdi, 2000. Islam Sosialisme dan Kapitalisme. Madani Press, Jakarta.

Sandra 2005. Metode dan Pendekatan Pendidikan Islam dalam Perspektif Bediuzzaman Said Nursi, Tesis pada Pps IAIN Raden Fatah Palembang.

Sarwat, Saulat, 1980. Said Nursi, Internasional Islamic Publisher, Pakistan.

Suseno, Franz Magnis, 1991. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Kanitsus, Jakarta

Sukanto MM, 1996. Ketimpangan-ketimpangan Psikologi dalam Membangun Paradigms Psikologi Islami (Fuad Nashori, Editor), Penerbit SIPRESS, Yogyakarta.

Surahmad, Winarno 1990, Pengantar Interaksi Mengajar (Belajar Dasar dan Teknik Melodologi Mengqjar), Tarsito, Bandung.

Suryabrata, Sumadi 1997. Metodologi Penelitian, Rajawali Pers, Jakarta.

Suwito 1995. “Konsep Pendidikan Akhlak Menurut Ibn Miskawaih”. Disertasi Doktor pada Program Pascasarjana (Pps) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Saulat, Sarwat, 1980. Said Nursi, Internasional Islamic Publisher, Pakistan.

Sunanto, Musyrifah, 2004. Sejarah Islam Klasik (Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam), Penerbit Prenada Media, Jakarta.

  1. Sunardi, 1999. Nietzsche, LkiS, Yogyakarta.

Tafsir, Ahmad 2003. Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­_______Tafsir, Ahmad et.al 1995. Epistemologi Ilmu Pendidikan Islam. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Thalib, M. 1996. Metode Pendidikan Islam. Gema Insani Pers, Jakarta.

Tasmara, Toto 1999. Dajal dan Simbol Setan. Gema Insani, Jakarta.

Tatli, Adem 1992. Badiuzzaman Education Methot (The Paper Presented in The Second International Symposium on Bediuzzaman Said Nursi: The Reconstuction of Islamic Thought In The 7Wentieth Century and Bediuzzaman Said Nursi, 27-29 September 2000), Istanbul: Sozler Publication

Tibawi, AL 1979. Islamic Education: Its Traditions and Modernization into the Arab National Systems, London: WCIB 3PE, Luzac and Company LTD. 45, Great Russell Street

Ulwan, Abdullah Nasih, 1995. Pendidikan Anak dalam Islam I dan 2. (diterjemahkan oleh Jamaluddin Miri), Pusataka Imam, Jakarta.

Vahide, Sukran 1992. Bediuzzaman Said Nursi. Sozler Publication, Istanbul.

__________  1998. A Comfeniporary Approach to Understanding The Qur’an: The Example of The Resale-i Nur, International Symposium Bediuzzaman Said Nursi, Sozler Publication, Istanbul:

Waspodo 2002. “Kurikulum Sebagai Sarana Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, dalam Makalah yang disajikan dalam Diskusi Panel Kependidikan tanggal 21 Mei 2002 di Palembang.

Yatim, Badri 1995. Sejarah Peradaban Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Yavuz, M. Hakan. 2003. Islamic Political Identity in Turkey. Oxford University Press, USA.

Yildiz Ilhan 2002. The Search in The Traditional Period (1924-1950) for a Religious Education Model (The paper presented at the fifth ineniationalsymposium on Bediuzzaman Said Nursi, 24-26 September 2000), Isanbul: Sozler Publication

Yusuf, Ali Anwar, 2005. Afeksi Islam (Menjelajahi Nilai-Rasa Transendental Bersama Al-­Qur’an. Kelompok Tafakur Humaniora, Bandung.

Yunus, Mahmud 1995. Tema-Tema Pokok Isi Al-Quran, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Yusuf, Tayar dan Syaiful Anwar 1995. Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, Raja Grafindo  Persada, Jakarta.

Zaidin, Mohammad 2001. Bediuzzaman Said Nursi: Sejarah Perjuangan dan Pemikiran, Malaysia, Selangor Darul Ehsan: Malita Jaya Publisher

Zein, Muhammad 1995. Methodologi Pengajaran qjaran Agama, Yogyakarta: AK

Group dan India Buana.

Zuhairini 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Usaha Nasional, Surabaya.

_________ 1995. Filsqfat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta.

Isim nl/news letter 16/featwes 2001

BIODATA PENULIS

 

Nama

Tempat Tgl. Lahir Pekerjaan

Alamat

 

HP Kontak

 

Riwayat Pendidikan

AFRIANTONI Palembang, 03 April 1978

Dosen Luar Biasa IAIN Raden Fatah Palembang

An. Sukarela Lrg. Batu Jajar No. 1326 Rt. 21 Rw. 07 KM 7 Kecamatan Sukarami Palembang

0813-73508957

  1. SD Negeri 612 di Sukarami Palembang tamat tahun 1990
  2. SMP Muhammadiyah 4 Palembang tamat tahun 1993
  3. Pondok Pesantren Wali Songo, Ngabar Ponorogo, Jawa Timur tamat tahun 1997
  4. IAIN Raden Fatah Palembang tamat tahun 2002 dengan judul skripsi “Pemikiran Imam Zarkasyi Tentang Metodologi Pengajar Bahasa Arab di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo Jawa Timur”
  5. S2 Program Pascasar ana IAIN Raden Fatah Palembang Jurusan 11mu Pendidikan Islam Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam tahun 2003-sekarang

Pengalaman Prestasi Ilmiah

  1. Dalam Bidang Resensi Buku
  2. Juara 11 Lomba menulis Sinopsi dan Resensi se-Sumatera selatan, tahun 1999
  3. I Lomba Menulis Resensi Buku se-IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000
  4. Juara VI Lomba Menulis Resensi Buku se-Indonesia yang disponsori oleh Yayasan Nidaul Fitrah Surabaya, Jawa Timur, tahun 2002
  5. Juara I Lomba Resensi Buku se-Kota Palembang, tahun 2002
  6. Dalam Bidang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI)
  7. Juara Harapan II LKTI “Refomasi Pendidikan Islam” di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999
  8. Juara If LKTI “Paradigms Pendidikan Islam” di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000
  9. Juara If “Master Plan Kampus Islami” IAIN Raden Fatah Palembang
  10. Finalis 10 besar utusan IAIN Raden Fatah Palembang pads Lomba Karya Tulis Amish tingkat Nasional di Hotel Setia Budi Jakarta, tahun 2002
  11. Juara I LKTI “Pesantren Masa Depan” oleh Forppes Se-sumatera Selatan, tahun 2004
  12. Beasiswa
  13. Beasiwa keda tahun 1999

Beasiswa prestasi dari Departemen Agama tahun 2000

  1. Beasiswa prestasi atas kemenangan meraih juara 11 Lomba menulis Sinopsi dan Resensi se-Sumatera selatan, tahun 1999.
  2. Beasiswa dari .The Istanbul Foundation for Science and Culture selama 1 (sate tahun) di Istanbul, Turk] selama tahun 2005 dalam rangka penelitian tesis.

Pengalaman Organisasi

  1. Ketua Umum Senat Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (SMJ PBA) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999
  2. Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2001
  3. Ketua Umum Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2002
  4. Ketua Forum Studi Filsafat Pendidikan Islam (FSFPI) IAIN Raden Fatah Palembang tahun 2001
  5. Ketua Umum Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang 2004

f Dan lain sebagainya

Karya Tuns Yang Pernah Terbit

  1. Buku (Editor/Penulis) :
  2. Perjuangan Rakyat Banyuasin dalam Pemekaran Daerah (Aspek Geogrqf1s, Sosial-Politik dan 1,konomi), Penerbit Intens, Banyuasin, 2005 (Editor, Afriantoni, S.Pd.I)
  3. Paradigms Islam Dinamis dalam Pendidikan Islam, Penerbit Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 2006 (Salah seorang penulis, Afriantoni)
  4. Dan lain sebagainya
  5. Koran, Tabloid dan Majalah (Opini) :

L Menggugat Ideologi Mahasiswa (Sriwijaya Post, 2002)

  1. Degradwd Kewibawaan Guru (Sriwijaya Post, 2002)
  2. Guru Teladan dan Teladan Guru (Sumatera Ekspres, 2004)
  3. Reformulasi Mekanisme Rekrutmen Guru (Sumatera Ekspres, 2004)
  4. Revolusi Sistematik Pendidikan Rakyat (Reformulasi Paradignia Pendidikan di Desa), (Tabloid Desa, 2004)
  5. Urgensi BBG dan Korelasinya dengan Jasa Transportasi, (Majalah Lumbung Edisi 2, 2006)
  6. Guru Profesional Guru Serlifikat (Majalah Lumbung Edisi 4, 2006)
  7. Urgensi Kongres Desa Sumatera Selatan, (Tabloid Desa, 2007)

Dan lain sebagainya

Jurnal 11miah

  1. Memahanyi Perkenibangan Pendidikan Islam melalui Pendekatan Genealogi­historis (Jumal Conciencia Pascasaijana. IAIN Raden Fatah Palembang, 2004).
  2. Rekayasa Budaya Pendidikan Multikultur (Transformasi Mai Islam di Tengah Fenomena Multikultur), (Jumal Conciencia Paseasarjana JAIN Raden Fatah Palembang, December, 2005)
  3. Revitalisasi Ekonomi Islam Indonesia (Mengungkap Perdebatan dalani Kesepakatan Ekonomi Islam dan Demokrasi Ekonomi), (Jurnal Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah Palembang, Desembar 2005)

Motto :
Jalani Hid-tip Jangan Dipikirkan Saja, Semoga Suk-ses Selalu, Ibda’Bi-nafs1ka

BIODATA PENULIS

 

 

 

Nama              : AFRIANTONI

Tempat Lahir   : Palembang

Tanggal Lahir   : 03 April 1978

Pekerjaan         : Dosen Luar Biasa IAIN Raden Fatah Palembang

Alamat             : Jalan Sukarela Lrg. Cek Mid atau Lrg.u Jajar (Samping Dinas Kebersihan dan

Keindahan Kota Palembang) No. 1326 Rt. 21 Rw. 07 KM 7 Kecamatan Sukarami   Palembang Sumatera Selatan

HP Kontak       : 0813-73508957 Fleksi : 0711- 7766098

Tlpn. Rumah : 0711-814975

 

Riwayat Pendidikan

  1. Negeri 612 di Sukarami Palembang tamat tahun 1990
  2. SMP Muhammadiyah 4 Palembang tamat tahun 1993
  3. Pondok Pesantren Wali Songo, Ngabar Ponorogo, Jawa Timur tamat tahun 1997
  4. S1 IAIN Raden Fatah Palembang tamat tahun 2002 dengan judul skripsi “Pemikiran Imam Zarkasyi Tentang Metodologi Pengajar Bahasa Arab di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo Jawa Timur
  5. S2 Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang Jurusan Ilmu Pendidikan Islam Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam tamat tahun 2007 dengan judul tesis “Prinsip-prinsip Pendidikan Akhlak Generasi Muda Menurut Bediuzzaman Said Nursi

 

Riwayat Pekerjaan

 

  1. Guru Mts Walisongo Ngabar Ponorogo, tahun 1996
  2. Guru SD 47 di 35 Ilir Tangga Buntung Palembang, tahun 1998
  3. Asisten Dosen Prgram Khusus Peningkatan Kemampuan Bahasa Arab IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999-2001
  4. Guru PAI SMU Pembina, Lemabang Palembang, tahun 2002
  5. Asisten Dosen Mata Kuliah Bahasa Arab dan Terjamah Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2003
  6. Dosen Luar Biasa Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2004
  7. Guru Privat Bahasa Indonesia Untuk Sebagian Kaum Muda Turki di Turki, tahun 2005
  8. Dosen Luar Biasa Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2005 sampai sekarang
  9. Dosen Luar Biasa Mata Kuliah Filsafat Umum Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2006
  10. Dosen Luar Biasa Akademi Maritim Bina Bahari Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam, Palembang, tahun 2006 sampai sekarang
  11. Dosen Luar Biasa Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Sriwijaya Inderalaya Sumatera Selatan, tahun 2007
  12. Guru SMA plus Militer Taruna Bangsa Palembang, tahun 2007 sampai sekarang

 

 

 

 

Pengalaman Prestasi Ilmiah

 

  1. Dalam Bidang Resensi Buku
  2. Juara II Lomba Menulis Sinopsi dan Resensi se-Sumatera selatan, tahun 1999
  3. Juara I Lomba Menulis Resensi Buku se-IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000
  4. Juara VI Lomba Menulis Resensi Buku se-Indonesia yang disponsori oleh Yayasan Nidaul Fitrah Surabaya, Jawa Timur, tahun 2002
  5. Juara I Lomba Resensi Buku se-Kota Palembang, tahun 2002

 

 

  1. Dalam Bidang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI)
  2. Juara Harapan II LKTI “Refomasi Pendidikan Islam” di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999
  3. Juara II LKTI “Paradigma Pendidikan Islam” di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000
  4. Juara II “Master Plan Kampus Islami” IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2001
  5. Finalis 10 besar utusan IAIN Raden Fatah Palembang pads Lomba Karya Tulis Amish tingkat Nasional di Hotel Setia Budi Jakarta, tahun 2002
  6. Juara I LKTI “Pesantren Masa Depan” oleh Forppes Se-sumatera Selatan, tahun 2004

  1. Beasiswa
  2. Beasiwa kerja tahun 1999
  3. Beasiswa prestasi dari Departemen Agama tahun 2000
  4. Beasiswa prestasi atas kemenangan meraih juara II Lomba menulis Sinopsi dan Resensi se-Sumatera selatan, tahun 1999.
  5. Beasiswa dari The Istanbul Foundation for Science and Culture selama 1 (sate tahun) di Istanbul, Turki selama tahun 2005 dalam rangka penelitian tesis.

 

Pengalaman Organisasi

 

  1. Ketua Umum Senat Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (SMJ PBA) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999
  2. Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2001
  3. Ketua Umum Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2002
  4. Ketua Forum Studi Filsafat Pendidikan Islam (FSFPI) IAIN Raden Fatah Palembang tahun 2001
  5. Penggagas Center for Strategic and Language Motivation (CSLM) IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2001
  6. Bendahara Yayasan Pendidikan Daerah (Yapenda) Sumatera Selatan, tahun 2001
  7. Sekretaris Eksekutif Institute for Strategic and Information Studies (Intens) Sumatera Selatan, tahun 2002-2005.
  8. Ketua Umum Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang 2004
  9. Staf Bidang Pendidikan KAHMI Pengurus Wilayah Sumatera Selatan periode 2006-2010
  10. Sekretaris Majelis Sinergi Kalam (MASIKA) ICMI Orwil Sumatera Selatan periode 2007-2010
  11. Dan lain sebagainya

 

 

 

Pelatihan Yang Pernah Diikuti

  1. Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (Pejurdas) LPM Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, 6, 7, 14, 21 Maret dan 4, 10 April tahun 1999
  2. Pelatihan Jurnalistik Tingkat Nasional Universitas Pasudan (Unpas) di Lembang, Bandung, tahun 2000
  3. Pelatihan Jurnalistik Islam Nasional (Panjinas) Universitas Indonesia (UI) di Pusat Studi Jepang, Jakarta, tahun 2001.
  4. Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Dasar (PKMTD) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1998.
  5. Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Menengah (PKMTM) IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 1999
  6. Pelatihan Training For Trainer Internet Jurnalistik se-kota Palembang, tahun 2000.
  7. Pelatihan Penelitian Ilmiah (PPI) UKM Studi Ilmiah IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000
  8. Pelatihan Kader Penyuluhan Narkoba oleh Dewan Pemuda Sriwijaya (Demusi) bekerjasama dengan PT. Tambang Batubara Bukit Asam, pada tanggal 18 Januari 2003
  9. Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah Bagi Mahasiswa diselenggarakan oleh Balai Bahasa Palembang Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional di IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 17-18 Maret 2004
  10. Pelatihan Penulisan Fiksi Populer diselenggarakan oleh Pusat Bahasa Depertemen Pendidikan Nasional di Palembang pada tanggal 26-31 Juli 2004
  11. Dan Lain Sebagainya

Pengalaman Menjadi Pembicara

 

Tingkat Nasional

 

  1. Persentasi Karya Tulis Ilmiah “Kampus Islami (Fungsionalisasi Masjid Sebagai Pusat Kegiatan Sivitas Akademika), Fasilitator Depertemen Agama RI di Hotel Setia Budi Jakarta, tahun 2001
  2. Persentasi Makalah “Otonomisasi Pendidikan” fasilitator BEM IAIN Imam Bonjol dan STAIN Bukit Tinggi Padang dalam Rangka Studi Komperatif BEM IAIN Raden Fatah Palembang di Padang dan Bukit Tinggi, tahun 2001
  3. Presentasi Makalah “Konsep Jihad Dalam Persefektif Bediuzzaman Said Nursi” fasilitator STAIN Kerinci, Jambi pada acara Seminar Nasional “Jihad dan Perdamaian Menurut Bediuzzaman Said Nursi, tahun 2006
  4. Persentasi Makalah “Kritisisme Nilai Keislaman HMI’ pada acara Latihan Kader II HMI Cabang Palembang, di Universitas PGRI, Palembang, tahun 2007.

Tingkal Lokal

  1. Pembicara pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar dan Menengah di Lingkungan IAIN Raden Fatah Palembang, dari tahun 2000 sekarang
  2. Pembicara pelatihan Kepemimpinan Tingkat Dasar dan Menengah di Lingkungan IAIN Raden Fatah Palembang, tahun 2000-2002
  3. Pembicara rutin pada Forum Studi Filsafat Pendidikan Islam (FSFPI) IAIN Raden Fatah Palembang, 2000-2003
  4. Pembicara rutin pada Kelompok Studi Komunitas Lima (KSKL) IAIN Raden Fatah Palembang, 2000-2003
  5. Pembicara pada Lingkar Studi Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, 2000-2003
  6. Instruktur dalam Kegiatan Pelatihan Metodologi Dakwah Mahasiswa IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 22-27 Oktober 2001
  7. Instruktur pada Kegiatan Pelatihan Teknik Penulisan Karya Ilmiah (Makalah dan Skripsi) fakultas Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 13-14 September 2002
  8. Team Instruktur pada Workshop Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) oleh Badan Penelitian, Pengembangan Pendidikan Islam (BP3I) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang dengan tema : Terbinanya Guru Profesional Sebagai Pelaksana KBK : Upaya Menjadikan Pendidikan yang Mampu Menjawab Tantangan Global” pada tanggal 22-24 Juli 2004
  9. Dan Lain Sebagainya

Kegiatan Ilmiah Yang Pernah diikuti

 

  1. Tingkat Internasional

 

  1. Participant in Seminar “The Evolution Deceit” at Taman Budaya Building, Palembang, October 1 st
  2. Peserta International Conference on Modern Islamic Thought : Exploring the Thought of Bediuzzaman Said Nursi of Turkey and His Counterparts in Indonesia, held on January 11-12, 2002 in Academic Center Palembang Indonesia by Postgraduate Program of The State Institute for Islamic Studies (IAIN) Raden Fatah in cooperation with Nesil Foundation, Turkey.
  3. Peserta International Symposium Religion, Peace and Globalization : Some Inspiration from Risale-i Nur, held on July, 2004 in BNI 46 Palembang Indonesia by Postgraduate Program of The State Institute for Islamic Studies (IAIN) Raden Fatah in cooperation with Istanbul Foundation for Science and Culrture, Turkey.
  4. Participant in Seminar on Islam and Global Challenges : Radicalism, Democracy and Human Right, held on August 23rd, 2004 in Palembang Indonesia by Adab Faculty of the State Institute for Islamic Studies (IAIN) Raden Fatah Palembang in cooperation International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Jakarta.
  5. Peserta International Nurculuk Community Focus Disscusion in Ankara Turkey, tahun 2005
  6. Peserta International Conference on Social on Social Development : Said Nursi’s View on Revitalizing Ummah a joint cooperation between The Istanbul Foundation for Science and Culture, Istanbul Turkey and Postgraduate Program of IAIN Raden Intan Bandar Lampung, Balai Keratun, Bandar Lampung, July, 22, 2006
  7. Peserta the international Conference and Academic Forum On Sociaety Development on Topic “Bediuzzaman Said Nursi’s View on Modernity” by organizer Institute foe Southeast Asian Islamic Studies (ISAIS) of UIN Suska Riau and Istanbul Foundation for Science and Culture Turkey, July 24, 2006 Arya Duta Hotel Pekan Baru – Indonesia
  8. Peserta dan Panitia International Seminar tentang “Arah Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam dalam Merespon Peluang dan Tantangan Global” di Academic Center IAIN Raden Fatah Palembang, tanggal 10-11 Septermber 2007

 

  1. Tingkat Nasional

  1. Seminar Nasional Sehari dengan tema “Potret Demokrasi dan Pemilu di Indonesia Ditinjau dari Berbagai Persepektif” yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAI Riyadlotul Mujahiddin Ngabar Ponorogo Jawa Timur pada 24 September 1996
  2. Seminar Nasional dan Temu Alumni Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo Se-Indonesia oleh Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Walisongo Yogyakarta (IKAWY) di Yogyakarta pada tanggal 21-23 Januari 1995
  3. Seminar Nasional tentang “Tinjauan Terhadap Sistem Peraturan Perundang-undangan di Indonesia” kerjasama Sekretariat Jenderal dan Kepeniteraan Mahkamah Konstitusi RI dengan Program Studi Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya Palembang, 9 September 2006
  4. Seminar Nasional “Akselerasi Strategis Daerah Membangun Pada Era Otonomi Dearah Mneuju Masyarakat Madani” oleh Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Palembang-Sumatera Selatan, di Ball Room Hotel Swarnadwipa Palembang, 4 September 2006.
  5. Seminar Nasional dengan tema “Evaluasi dan Strategi Pelaksanaan Manajemen Otonomi Daerah di Sumatera Selatan” diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Magester Manajemen Universitas Tridinanti Palembang pada tanggal 22 Februari 2003
  6. Peserta Seminar Nasional “Universal Jurisdiction dan Perenapannya di Indonesia” oleh Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya bekerjasama dengan Pusat Kajian HAM dan Terorisme Fakultas Hukum Unsri dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Jakarta pada hari Senin, 21 Juni 2004
  7. Peserta Seminar Nasional Memperingati Hari Pers Reformasi Nasional dengan tema : ”Partisipasi Publik dengan Pengembangan Media Watch dan Peran dan Fungsi Dewan Pers Mendukung Program Kerja Gubernur Sumsel dalam Lumbung Pangan dan Lumbung Energi Nasional, Pembangunan Rel Kereta dari Inderalaya ke Pelabuhan Tanjung Siapi-Api, Jembatan Musi III, Islamic Center, Pengembangan Tambang Batubara (energi Bahan Bakar masal\k pengganti BBM) yang diselenggarakan DPW Solidaritas Masyarakat Pers, Reformasi Indonesia (SOMPRI) dan Jaringan Rawan Informasi, Lembaga Pengawas Pers, Indonesia “Media Watch” bekerjasama dengan DPW YPBNI Provinsi Sumatera Selatan, pada tanggal 27 Mei 2006 di Hotel Selatan Indah
  8. Dan Lain Sebagainya

 

  1. Tingkat Lokal

 

  1. Peserta Seminar “Urgensi Kajian Sejarah Hidup Nabi dan Literatur Keislaman Klasik Bagi Pengembangan Studi Keislaman dan Pengembangan Masyarakat”, diselenggarakan oleh IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 26 Agustus 1997
  2. Peserta Temu Ilmiah Arkeologi dan Filologi Bagi Dosen dan Mahasiswa Fakultas Adab IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 7 Agustus 1999
  3. Peserta Talk Show meyikapi RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi” oleh Pusat Studi Wanita (PSW) IAIN Raden Fatah Palembang, Rabu, 2 Agustus 2006 di Palembang
  4. Peserta Seminar Nokia Certified Training Center di SMIK MDP Palembang, 02 Desember 2006.
  5. Peserta Diskusi Panel dengan tema “Sosialisasi Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional”, di Gedung Akademik Center IAIN Raden Fatah Palembang Rabu, 23 Juli 2003.
  6. Peserta Seminar Pendidikan “ Cara Mendidik Anak Menjadi Cerdas dan Kreatif”, dalam Rangka Lustrum II STT Musi Palembang tahun 2002, tema : Berubah Untuk Semakin Berkualitas”, 4 Mei 2002
  7. Peserta Lokakarya Regional “Konversi IAIN Raden Fatah Palembang Menjadi Universitas Islam Negeri (UIN)”, di Ruang Seminar Hotel Paradis Lt. II Palembang, Kamis, 16 September 2004
  8. Peserta Seminar Pendidikan Menjadi Manusia Pembelajar “Belajar dengan Membunuh Sekolah” diselenggarakan oleh STT Musi Palembang bekerjasama dengan Yayasan Xaverius Pusat dan Palembang School of Life dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2002 Sabtu, 11 Mei 2002 di Aula STT Musi Palembang
  9. Peserta Seminar Bahasa dan Sastra dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2004 Balai Bahasa Palembang dengan tema “Peran Keterempilan Berbahasa dalam Dunia Kerja”, pada hari Senin, 11 Oktober 2004 di Hotel Swarnadwipa Palembang
  10. Peserta Seminar Sehari dengan tema “Integritas Penegak Hukum di Indonesia” diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang, pada tanggal 26 Oktober 2002
  11. Diskusi Panel “Reorientasi Pemikiran Pendidikan dan Pengajaran Sebagai Langkah Awal Membangun Sekolah Bermutu” yang diselenggarakan oleh Yayasan Fajar Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 21 Mei 2002 di Hotel Paradis Palembang
  12. Seminar Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup dengan tema :Menyikapi hasil-hasil KTT Pembangunan Berkelanjutan melalui Penguatan Keterpaduan Ekonomi, Sosial dan Pelindungan Lingkungan di Sumatera Selatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya Bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia pada hari Jum’at, 24 Januari 2003 di Hotel Swarna Dwipa Palembang
  13. Dan Lain Sebagainya

  1. Kegiatan Bedah Buku

 

  1. Peserta Bedah Buku yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Jalaluddin berjudul “Teologi Pendidikan” oleh Badan Penelitian Pengembangan Pendidikan Islam (BP3I) Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang tanggal 21 Mei 2001.
  2. Peserta Bedah Buku yang ditulis oleh Drs. Muhammad Sirozi, MA Ph.D berjudul Agenda Strategis Pendidikan Islam”, oleh MAPENDA Departemen Agama Sumseldan BP3I Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, 9 Agustus 2004
  3. Peserta Bedah Buku yang ditulis oleh Jufri Suyuthi Pulungan dengan tema “Menyingkap Sistem Politik dan Bentuk Pemerintahan Islam” oleh Senat Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Raden Fatah Palembang pada tanggal 24 Oktober 1998
  4. Peserta Bedah Buku yang ditulis oleh Kms. Muhammad Ari, S.Pd dengan judul buku Masyarakat Tionghoa Palembang (Tinjauan Sejarah Sosial 1823-1945) di gedung Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 25 Novermber 2002
  5. Dan Lain Sebagainya

  1. Kegiatan Lokakarya, Workshop dan sejenisnya

 

  1. Peserta Semi Lokakarya Pengembangan Fakultas Baru di Lingkungan IAIN Raden Fatah Palembang tema “Menuju Perguruan Tinggi Islam yang Unggul dan Kompetitif di Era Globalisasi” oleh Unit Peningkatan Mutu Akademik (UPMA) IAIN Raden Fatah Palembang, 27-29 Desember 2005
  2. Peserta Urun Rembuk Pakar “Prospek dan Peluang Pembukaan Program Studi Ilmu Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang”, sebagai pakar pada tanggal 15 September 2006
  3. Peserta Serasehan Forum Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan dengan Tema “Pelestarian Khazanah Budaya untuk Meningkatkan Kesadaran Budaya Daerah” oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang di Hotel Bumi Asih Palembang, 23-24 Agustus 2006
  4. Peserta Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Se-Sumatera Bagian selatan dalam Rangka Dies Natalis IX STT Musi Palembang tahun 2001 dengan tema : Industrialisasi Dalam Era Otonomi Daerah”.
  5. Peserta Program Development Workshop for Other UIN/IAIN/STAIN : Community Development Follow Up Workshop IAIN Raden Fatah Palembang (720.2.3), di Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang, 16-19 Juli 2007
  6. Peserta Nokia Certified Training Center yang diselenggarakan oleh STMIK MDP Palembang bekerjasama dengan Nokia Certified Training Center dan In Touch pada tanggal 2 Desember 2006
  7. Peserta Workshop Perbankan Syariah dalam rangka Milad Forsi ke-4 senin, 17 Juni 2002 di gedung BAAK lantai II.
  8. Workshop Rekonstruksi Sains dan Teknologi Islam, Forum Kajian Strategis (Forkais) Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 24 Maret 2007
  9. Kongres Desa I Sumatera Selatan, Akselerasi Pemberdayaan Masyarakat Desa Menuju Sumsel Sejahtera, sebagai Sekretaris Stering Committee 25 Mei 2007
  10. Dan lain sebagainya

Karya Tulis Yang Pernah Terbit

 

  1. Buku (Editor/Penulis) :
  1. Perjuangan Rakyat Banyuasin dalam Pemekaran Daerah (Aspek Geogrqf1s, Sosial-Politik dan Ekonomi), Penerbit Intens, Banyuasin, 2005 (Editor, Afriantoni, S.Pd.I)
  2. Paradigma Islam Dinamis dalam Pendidikan Islam, Penerbit Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 2006 (Salah seorang penulis, Afriantoni)
  3. Fiqh Antikorupsi, Penerbit Ganeda, 2006 (Salah seorang penulis, Afriantoni)
  4. Dan lain sebagainya

  1. Koran, Tabloid dan Majalah (Opini) :
  2. Menggugat Ideologi Mahasiswa (Sriwijaya Post, 2002)
  3. Degradwd Kewibawaan Guru (Sriwijaya Post, 2002)
  4. Guru Teladan dan Teladan Guru (Sumatera Ekspres, 2004)
  5. Reformulasi Mekanisme Rekrutmen Guru (Sumatera Ekspres, 2004)
  6. Revolusi Sistematik Pendidikan Rakyat (Reformulasi Paradignia Pendidikan di Desa), (Tabloid Desa, 2004)
  7. Urgensi BBG dan Korelasinya dengan Jasa Transportasi, (Majalah Lumbung Edisi 2, 2006)
  8. Guru Profesional Guru Sertifikat (Majalah Lumbung Edisi 4, 2006)
  9. Urgensi Kongres Desa Sumatera Selatan, (Tabloid Desa, 2007)
  10. Dan lain sebagainya

 

  1. Jurnal Ilmiah
  2. Memahami Perkembangan Pendidikan Islam melalui Pendekatan Genealogi-­historis (Jumal Conciencia Pascasaijana. IAIN Raden Fatah Palembang, 2004).
  3. Rekayasa Budaya Pendidikan Multikultur (Transformasi Mai Islam di Tengah Fenomena Multikultur), (Jumal Conciencia Paseasarjana JAIN Raden Fatah Palembang, December, 2005)
  4. Revitalisasi Ekonomi Islam Indonesia (Mengungkap Perdebatan dalani Kesepakatan Ekonomi Islam dan Demokrasi Ekonomi), (Jurnal Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah Palembang, Desembar 2005)
  5. Dekonstruksi Penyakit Kronis Pendidikan Islam, Jurnal Mimbar Akademik Pusat Penelitian, 2007.

Subhanaka Laa ilma lana illa  maa alamtana innaka antal alimul hakim

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Motto :

Jalani Hidup Jangan Dipikirkan Saja, Semoga Sukses Selalu, Ibda’ Binafsika

Palembang, 17 Apri 2007

Penulis,

 

 

 

AFRIANTONI

1 Demi konsistensi dalam penulisan penelitian ini peneliti selanjutnya menggunakan kata “Said Nursi” yang merujuk kepada Bediuzzaman Said Nursi (1887-1960) sepanjang pembahasan penelitian ini, namun untuk tempat khusus dalam judul besar atau pada sub judul maka masih akan digunakan kata tersebut.

2 Sebenarnya kesadaran akan kelemahan dan ketinggalan kaum muslimin dari bangsa-bangsa Eropa dalam berbagai bidang kehidupan ini, telah timbul mulai abad ke 11 H / 17 M dengan kekalahan-kekalahan tersebut mendorong raja-raja dan pemuka-pemuka kerajaan untuk menyelidiki sebab-sebab kekalahan mereka dan rahasia keunggulan lawan.

3 Istilah Nur Jamaah dalam bahasa Turki sering digunakan dalam istilah yang berbeda seperti : “Nur Telebesi” atau Nur Teleba”, Nurculuk atau Thalabun-Nur yang menunjukkan pengikut Said Nursi yang berada di Turki, secara khusus, namun Nur Jamaah ini sudah menyebar hampir ke beberapa negara. Jika istilah di atas diartikan dalam bahasa Indonesianya “Murid Nur”. Penulis menggunakan istilah Nur Jamaah atas pertimbangan bahwa istilah ini mudah dipahami dalam bahasa Indonesia. Sedangkan yang dimaksud dengan istilah dershane atau “The Nurcu Movement”, “Halaqah” dalam bahasa Turki berasal dari kata “ders” yang artinya belajar sedangkan “hane” dalam bahasa Turki menunjukkan “tempat”, maka dershane dapat diartikan “tempat belajar” yang di kenal di Turki.

3 Menurut Ibn Miskawaih akhlak merupakan suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa berpikir atau pertimbangan secara mendalam. Keadaan seperti ini dapat disebut sebagai karakter. Menurutnya keadaan ini ada dua jenis. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak. Kedua, tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Berdasarkan kedua jenis keadaan ini cendikiawan klasik sering berbeda. pendapat. Sebagian berpendapat bahwa karakter dimiliki oleh jiwa yang tidak berpikir (nonrasional). Sementara yang lain berpendapat karakter itu dimiliki oleh jiwa berpikir (rasional).

4 Mantik dikatakan sebagai ilmu adalah ilmu logika yakni rumusan-rumusan atau patokan-patokan agar orang mendapatkan petunjuk di dalam ia berpikir, supaya selamat dari kesalahan-kesalahan dan terhindar pengertiannya dari kekeliruan. Ilmu mantiq ialah undang-undang yang menjaga hati dari kekeliruan dalam berpikir. Menurut M. Taib Thahir Abd. Muin Ilmu mantik dapat pula dinamakan ilmu logika. (Dja’far Amir, Ilmu Mantiq. Ramadhani, Solo, 1980, hlm. 1-2).

5 Imam Cahyono mengutip pendapat Frans Magnis Suseno ideologi dimaksud sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan serta merasionalisasikan suatu bentuk hubungan kekuasaaan Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut. (Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, 1991, hlm 230).

6 Pendiri Wahhabi yaitu Muhammad ibn Abdul Wahhab untuk memurnikan ajaran agama Islam, yang pada saat itu telah tercemar dan direkayasa oleh umat Islam dengan memasukkan unsur-unsur mistis dan tata cara ibadah yang telah menyimpang dari ajaran Islam murni sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Harun Nasution, Abdul Wahhab mengecam kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan orang-orang suci dan saleh (wali-wali sufi) dan hal-hal yang berkaitan dengan itu, dia mengecam taklid kepada pendapat ulama dan menyeru umat agar menyelaraskan nalar dan hati nurani dengan al-Qur’an dan sunnah bukan kepada penafsiran-penafsiran tradisional. Dia bertekad menghilangkan semua ketakhayulan dan mengembalikannya kepada kemurnian salaf, dan untuk itu ia menentang ulama-ulama yang telah mapan. Ia membuka pintu ijtihad yang telah dinyatakan tertutup oleh ulama-ulama terdahulu. (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam (Sejarah Pemikiran dan Gerakan), Bulan Bintang, Jakarta, 1990, hlm.23-26).

7 Jamaluddin al-Afgani adalah seorang pemimpin pembaharuan dalam Islam yang tempat tinggal dan aktivitasnya berpindah dari satu negara Islam ke negara Islam lain. Jamaluddin al-Afgani lahir di Afganistan pada tahun 1897. Pemikiran pembaharuan berdasarkan atas kenyakinan bahwa “Islam adalah yang sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan semua keadaan”. Kalau kelihatan ada pertentangan antara ajaran­-ajaran Islam dengan kondisi yang dibawa perubahan zaman dan perubahan kondisi, penyesuaian dapat diperoleh dengan mengadakan interpretasi baru tentang ajaran-ajaran Islam seperti yang tercantum dalam Al-­Qur’an dan hadits, maka untuk interpretasi itu diperlukan ijtihad dan pintu ijtihad baginya terbuka.

11 Untuk lebih jelasnya mengenai karya akademik yang memuat asal negara, nama penulis, judul karya, asal perguruan tinggi, tempat dan tahun dapat dilihat di CD Bediuzzaman Said Nursi Risale-i Nur, Nesil Foudantion, Istanbul, Turki.

[1] Penjelasan keempat teori di atas sebagai berikut : Pertama, teori pemikiran spekulatif disusun ahli filsafat berdasarkan data empirik dan eksperimen yang melahirkan manusia yang beragam sesuai dengan alur spekulatif pemikirannya dalam memahami penciptaan manusia. Kedua, teori tipologis disusun para ahli dengan cara menemukan komponen dasar yang bisa dipahami orangnya. Maka manusia digolongkan dalam tipe-tipe tertentu misalnya, tipe emosional, tipe intelektual dan sebagainya. Ketiga, teori penyifatan disusun dengan cara berusaha memahami dan menggambarkan manusia apa adanya, analisis sifat jasmaniah merupakan aspek pokok dan kepribadian. Misalnya orang gemuk itu peramah, orang jangkung itu pemalu, orang hitam itu setia dan sebagainya. Keempat, teori aksiologi disusun untuk mengangkat kualitas kepribadian manusia dalam suatu sistem nilai dan norma berdasarkan konsep ketuhanan yakni melalui agama. Melalui keyakinan kepada tuhan menurut teori ini manusia dalam dunia absurd dan tidak memahami makna hidup (Lihat Sukanto MM, Ketimpangan-ketimpangan Psikologi dalam Membangun Paradigma Psikologi Islami (Fuad NAsliori, Editor), Penerbit SIPRESS, Yogyakarta, 1996, hlm. 38-39).

[2] Penjelasan mengenai keempat asas tersebut sebagai berikut : Pertama, asas menyeluruh yaitu asas yang menempatkan semua jenis manusia ciptaan Allah tersusun dari bagian-bagian bermakna dalam suatu keseluruhan. Kedua, asas integrasi (kesatuan) yaitu asas yang memandang bahwa segala yang diciptakan Allah dalam kehidupan alam, semua makhluk ciptaan-Nya senantiasa ada dalam suatu sistem integral antara satu bagian dengan bagian lain saling berhubungan yang bersifat menggerakkan dan saling memperkokoh sebagai satu kesatuan hidup yang bermakna. Ketiga, asas perkembangan yaitu asas yang menetapkan pandangan bahwa Allah dalam menciptakan alam dan isinya melalui tahap demi tahap menuju ke arah kesempurnaan, baik alam makro (alam raya) maupun alam mikro (alam manusia). Keempat, asas pendidikan seumur hidup (long life education) yaitu asas yang berdasarkan pandangan Islam dari Nabi Muhammad Saw “Tuntutlah Ilmu sejak mulai di ayunan sampai liang lahat” (M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner), Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 2000, hlm. 51-53).

[3] Said bin Mirza dikenal Said al Said Nursi atau Said Nursi adalah merujuk kepada tempat kelahirannya. Said Nursi diambil dari nama tempat kelahirannya yakni Nurs. Sedangkan untuk gelar Bediuzzaman Said Nursi atau cukup dengan gelar Bediuzzaman diberikan ketika beliau berguru dengan Syeikh Fethullah, hingga beliau mendapatkan ilmu baru yang semakin memantapkan dirinya untuk mengadakan debat, diskusi, dan pengajaran bagi masyarakat bawah di Madrasah Mir Hasan Wali di Muks. Karena kemampuan intelektual yang menakjubkan itu, Said Nursi digelari gurunya Badi’ al-Zaman (keunggulan zaman) atau (keindahan zaman). Kemudian gelar Molla Said atau Mulla Said diberikan pada saat beliau belajar di Madrasah Bayazid dibawah bimbingan Syaikh Muhammad Al Jalah, beliau mempelajari ilmu Al Quran dan Nahwu Sharaf. Belajar dengan disiplin dan sungguh-sungguh sehingga Said Nursi mampu menguasai kitab-kitab utama ketika itu dan mendapat gelar Mulla Said. Sedangkan Said Masyhur diberikan gelar ketika beliau dengan berbagai gelarnya sudah dikenal hampir ke seluruh wilayah Turki, gelar ini diberikan oleh ulama, karena beliau mampu menjawab dalam diskusi ilmiah para ulama yang silih berganti berupaya menyudutkannya dengan berbagai pertanyaan. Terakhir adalah Said Kurdi berasal dari keturuan dan memang beliau adalah keturunan suku Kurdi. (Lihat Omer Faruk Paksu (Ed.), 7. Bediazzaman Senipozyumuna Dogru, Istanbul ilmi ve Kultur Vakfi, Istanbul, 2004, hlm. 5 dan Lihat Zaidin, Ibid, him. 7, hlm. 13-23).

[4] Mengenai tahun kelahiran Said Nursi terdapat perbedaan pendapat di kalangan penulis, peneliti, penerjemah dan ilmuwan lain. Penulis yang dipercaya yakni Sukran Vahide menulis 1877 (1294), Mohammad Zaidin bin Mat menulis kelahirannya 1877 (1294) mengikuti Sukran Vahide, sedangkan Ihsan Kasim Salih menulisnya 1876 (1293). Namun berdasarkan sumber yang valid yakni berdasarkan hAsli penelitian Mohammad Zaidin tahun yang disepakati adalah 1294 berdasarkan kalender Rurni yang dipakai secara resmi ketika Turki Usmani. Menurutnya, tahun 1877 (1294) adalah tahun yang banyak dipergunakan oleh para penulis mengenai Said Nursi. (Lihat Zaidin, Ibid, him. 119).

[5] Wilayah Timur Turki adalah bagian Turki yang paling mundur, kondisi ini disebabkan keadaan cuacanya yang terlalu sejuk dan bentuk muka buminya yang berbukit-bukit. Namun begitu, bagian ini terkenal dengan keindahan dan ketenangan alamnya. Penduduk di wilayah ini kebanyakan terdiri dari golongan peladang yang sangat menitikberatkan soal pendidikan agama. Bagian Timur Turki terkenal dengan pendidikan bercorak tradisional. (Lihat Zaidin, Ibid, him. 119) dan (Lihat juga Sarwat Saulat, Said Nursi, Internasional Islamic Publisher, Pakistan, 1980, hlm. 3).

[6] Mirza adalah seorang sufi yang sangat war’ dan diteladani sebagai seorang yang tidak pernah memakan barang haram dan hanya memberi makan anak-anaknya dengan yang halal saja. Mirza berasal dari kawasan Sungai Tigris dan meninggal dunia dalam tahun 1920-an dan dikebumikan di Nurs (lihat Vahide 2000, hlm. 3). Mirza adalah keturunan Hasan Bin Ali Abi Thalib. (Lihat Ali Urkhan Muhammad Ali, Said Nursi al qadr fi hayat  ummah, Sharikat al-Nasl li al-Tiba’ah, Istanbul, 1995, hlm. 8)

[7] Nuriyyah juga berasal dari keturunan Husain (Lihat Urkhan Muhmmad Ali, Said al-Said Nursi Raj’al al-qadr fi hayal ummah. Sharikat al-Nasl li al-Tiba’ah, Istanbul, 1995, hlm. 8). Nuriyyah adalah seorang wanita yang hanya menyusui anak-anaknya dalam keadaan suci dan berwudhu’ (Lihat Ihsan Kasim 2003, hlm. 8). Nurriyah berasal dari Semenanjung Balkan dan meninggal dunia pada semasa tercetusnya Perang Dunia I, kemudian dikebumikan di Nurs (Lihat Said Nursi, hlm.3).

[8] Dijelaskan oleh Urkhan Muhammad Ali bahwa Mirza adalah keturunan Hasan bin Ali dan Nuriyyah keturunan dari Husain bin Ali (Urkhan 1995, hlm. 8) dan (Lihat pula Mohammad Zaidin 2001, hlm. 119). Namun pada dasarnya mengenai silsilah ini tidak didapatkan penjelasan mendetail mengenai silsdah ini, namun menurut keterangan Ihsan Kasim Salih bahwa Said Nursi tidak mau seluruh biografinya diungkapkan walau memang pada dasarnva ia berasal dari Ahl al Bayt (Wawancara penulis dengan Ihsan Kasim Salih di Istanbul Foundationfor Science and Culture, 19 Agustus 2005).

[9] Durriyah ialah ibu kepada Ubayd. Beliau meninggal mati lemas dalam sungai Nurs sebelum terjadi Perang Dunia I (Lihat Said Nursi, Ihsan Qasim (Penerjemah), Sirah Zatiyyah, hlm. 36)

[10] Khanim adalah seorang wanita alim. Beliau hijrah ke Syam bersama-sama suaminya pada tahun 1919. Di Syam ia menjadi guru selama lima belas tahun. Beliau menunaikan ibadah haji sebanyak 7 (tujuh) kali, Beliau meninggal dunia sewaktu menunaikan ibadah haji pada tahun 1944. (Lihat Al Said Nursi, Al Shu’aat Terjh. Ihsan Kasim al-Salihi, Sharikat al Nasl li al-Tiba’ah, Istanbul, 1993, hlm. 322, Sarwat, hlm. 7).

[11] Abdullah meninggal dunia pada tahun 1914. Beliau adalah ayah dari Abdul Rahman, murid dan anak angkat Said Nursi (Lihat Said Nursi, Sirah Zatiyyah, hlm. 34).

[12] Meninggal dunia pada tahun 1951 (Said Nursi, Sirah Zatiyyah Ibid. hlm. 36).

[13] Abdul Majid (1884-1967) adalah yang paling terkenal di antara adik beradik setelah Said Nursi. Beliau menjadi guru bahasa Arab di sekolah tentara di Diyarbakr. Setelah itu, dilantik menjadi mufti di Urgup untuk beberapa tahun. Beliau menghabiskan tahun-tahun akhirnya sebagai guru Undang-undang Islam di sekolah Imam Khatib Qunya (konya). Beliau adalah penerjemah karya-karya Said Nursi berjudul al-Mathanawi al-Arabi al Nuri dan Isharat al I’jaz dari bahasa Arab ke bahasa Turki. Lihat Sarwat, Ibid. hlm.7).

[14] Marjan adalah anak bungsu dalam keluarga Mirza. (Said Nursi, Sirah zatiyyah, Ibid, hlm. 36).

[15] Murid Said Nursi yang ikut perjalanan ke Urfah menjelang meninggalnya Said Nursi adalah Husni Bayram, Bayram Yuksal dan Zubayr Gundulzalp yang membawanya ke Urfah dengan sebuah kereta. Mereka sempat menginap di hotel Ipek Palace dan didesak oleh pemerintah Urfah agar kembali ke Isparta. Untuk memeriksa kesehatan Said Nursi didatangkan seorang dokter yang memberi izin agar Said Nursi tidak boleh dibawa kemana-mana karena suhu badannya meningkat 40°C, sampai keesokan malamnya kira-kira jam 03.00 pagi Said Nursi tidak berucap sepatah kata pun kecuali kelihatan mulutnya yang bergerak-gerak seperti sedang berdo’a. (Said Nursi. Ibid. hlm. 481dan Urkhan, hlm. 287)

[16] Adik Said Nursi tanggal 12 Juli 1960 dipaksa untuk menandatangani surat pembongkaran kuburan Said Nursi di Urfah. Kemudian, tentara pemerintah anti Islam memasuki Urfah disaksikan Abdul Madjid kuburan Said Nursi dibongkar dan mayatnya dimasukkan ke keranda dan diterbangkan dengan pesawat terbang ke Isparta. Yang menakjubkan adalah jasad tersebut masih segar, padahal sudah hampir lima bulan mayat itu terkubur. Wajahnya pun kelihatan tersenyum. Sampai saat ini jenazah itu tidak diketahui jelas berada di mana, sebab tidak ada tempat bagi masyarakat Turki untuk menziarahi kuburannya, karena memang tidak pernah dijelaskan. (wawancara Fatih Yazlik, Juli, 2005).

[17] Menurut Abdullah Nasih Ulwan kebanyakan para pendidikan berpendapat bahwa tanggung jawab yang terpenting adalah tanggung jawab pendidikan iman, tanggung jawab pendidikan akhlak (moral tanggung jawab pendidikan fisik, tanggung jawab pendidikan intelektual (rasio atau akal), tanggung jawab pendidikan psikhis, tanggung jawab pendidikan sosial dan tanggung jawab pendidikan seksual. (Pendidikan iman adalah mengikat anak dengan dasar-dasar iman, rukun Islam dan dasar-dasar syariah, sejak anak mulai mengerti dan dapat memahami sesuatu. Pendidikan akhlak atau moral adalah pendidikan tentang prinsip moral dan keutamaan sikap serta watak (tabiat) yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa pemula hingga ia menjadi seorang mukallaf, yakni siap mengarungi lautan kehidupan. Pendidikan rasio atau intelektual adalah membentuk pola pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat, seperti ilmu-ilmu agama, kebudayaan dan peradaban hingga pikiran anak menjadi matang, bermuatan ilmu, kebudayaan dan sebagainya (Abdullah NAslii Ulwan, Jamaluddin Miri (Penerj.) Pendidikan Anak dalam Islam, Penerbit Pustaka Amani, Jakarta, 1995, hlm. 151-281).

[18] Dalam konteks zamannya ilmu tradisional ia belajar dibeberapa tempat, karena tidak ada satu pun institusi pendidikan Islam yang lengkap menyelenggarakan pengajaran tersebut Said Nursi selalu berpindah-­pindah untuk menyempurkan pemahamannya (Lihat Zaidin, Ibid, hlm. 15).

[19] Rukun iman terdiri dari iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-­Nya, hari kiamat, dan qadha dan qadhar. Rukun iman ini adalah akidah atau keimanan yang sudah panjang diperdebatkan. Bagi Ahlussunnah Wal-Jama’ah akidah adalah suatu hal yang asasi sekali dalam kehidupan seorang muslim. Karena akidahlah yang mendasari sikap, tingkah laku dan segala yang dikerjakannya. Bagi Ahlussunnah Wal-Jama’ah sangat mendukung doktrin rukun iman ini. (Syaikh Muhammad Shaleh al-‘Utsaimin, Aqidah Ahulus sunah wal Jama’ah, Yayasan al-Sofwa, Jakarta, 1995, hlm. 7-12). Namur, Said Nursi menekankan bahwa pernyataan tauhid Laa ilaaha Ilaallaahu tidak dipisahkan terhadap pengakuan Muhammaddur Rasulullah (Muhammad Rasul Allah) yang merupakan satu kesatuan tauhid, juga dalam realisasi amaliah kehidupan. Argumentasi Said Nursi menyatakan bahwa “Siapapun yang menyangkal Nabi Muhammad Saw yang merupakan kebanggaan semua makhluk dan kehormatan umat manusia karena mu’jizat-mu’jizatnya dan prestasi-prestasinya pasti tidak mungkin dapat menerima, Nur (cahaya) atau pasti tidak benar-benar mengenali Allah” (Said Nursi 2003b, Op. Cit. h1m. 465-466)

[20] Ketika Abu Bakar memimpin beliau menghadapi orang-orang yang enggan membayar zakat, karena itu beliau menyiapkan pasukan dan mengirimkanya untuk memerangi orang-orang yang murtad. Peperangan itu dikenal dengan perang Yamamah, perang itu terjadi pada tahun 12 Hijriyah. Dalam peperangan tersebut sekitar 70 orang penghafal at-Qur’an gugur. Umar bin Khatab merasa khawatir dengan kondisi ini lalu beliau mengusulkan kepada Abu Bakar untuk membukukan al-Qur’an dalam sebuah Mushaf, semula Abu Bakar merasa ragu-ragu namun akhirnya menerima usulan dari Umar bin Khatab. Abu Bakar memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk segera mengumpulkan al-Qur’an dalam sebuah Mushaf, ciri penulisan al-Qur’an pada masa Abu Bakar seluruh ayat Al-Qur’an dikumpulkan dan ditulis didalam sebuah Mushaf Lalu dilanjutkan penyusunannya oleh Umar bin Khatab menggantikannya. Pada masa Umar mushaf itu diperintahkan untuk disalin ke dalam lembaran (shafiafah) dan tidak menggandakannya, setelah selesai dari penulisannya naskah itu diserahkan kepada Habsah istri Nabi Muhammad Saw yang pandai membaca dan menulis. Pada masa Khalifah Usman bin Affan al-Qur’an disalin ke beberapa naskah dan dibukukuan atas usulan Khuzaifah, kemudian Usman meminta kepada Habsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Untuk melakukan tugas pembukuan ini Usman membentuk tim empat yang terdiri dari : Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al-Ash, dan Abdul al-Rahman bin Harits. (Al-Brayary, Pengenalan Sejarah Al-Qur’an. RajaGrafindo persada, Jakarta, 1988, hlm 44)

[21] Ibn Miskawaih lahir di Rayy dan meninggal di Isfahan. Tahun kelahirannya diperkirakan 320H/932M dan wafat 9 Shafar 421716 Februari 1030. Ibn Miskawaih sepenuhnya hidup pada masa pemerintahan dinasti Buwaih (320-450H/ 1932-1062M) yang para pemukanya berpaham Syi’ah. Ia belajar sejarah dari Abu bakr Ahmad ibn Kamil al-Qadi. Pelajaran filsafat dari Ibn al-Khammar dan kimia dari Abu Thayyib. Ibn Misakwaih juga banyak bergaul dengan para ilmuwan seperti Abu Hayyan al Tauhidi, Yahya ibn Adi dan Ibn Sina. Pekerjaan utamanya adalah bendaharawan, sekretaris, pustakawan, pendidik anak para pemuka dinasti Buwaih. Dan ia juga dikenal sebagai dokter, penyair dan ahli bahasa. Menulis buku dan artikel sebanyak 41 buah. (Lihat antara lain Hasan Tamim, al-Muqaddimah dalam Tahzib al-akhlaq wa Tharir dalam artikelnya yang bejudul Fi al-‘aql wa al-Ma’qul, diedit oleh Muhammad Arkoun dalam Arabica XI (1964), hlm. 85-87).

[22] Perlu ditegaskan disini bahwa istilah jiwa akan disamakan dengan istilah ruh, karena jiwa dalam bahasa al-Qur’an adalah ruh. Dalam pembahasan ini tidak diselidiki lebih jauh mengenai penghubung antara ruh dan jasad yang berupa akal menurut istilah lbn Miskawaih dan hayat menurut istilah Harun Nasution. Tapi, dalam pembabasan penulis akan digunakan akal sebagai petunjuk perannya sebagai penggerak otak yang bekerja di pusat kepala.

[23] Lihat beberapa ayat Al Quran yang menjelaskan persoalan ini misalnya 1) Surat al-Hijr (15) ayat 28-31, 2) Surat al-Sajadat (32) ayat 7-9, 3) Surat Shad (38) ayat 71-74. Adapun sabda, Nabi Muhammad Saw memberikan penjelasan lebih lanjut tentang hal ini antara lain sebagai berikut : (Kamu diciptakan dalan kandungan ibu selama empat puluh hari berupa nuthfah, selama itu pula berupa gumpalan darah, selanjutnya selama itu pula gumpalan daging, kemudian dikirimlah malaikat dan ia hembuskan ruh ke dalamnya ….) Riwayat Bukhari dan Muslim. Lihat hadis keempat dari kitab .A1-Arbain a1-Nawawiyyat oleh al-Imam al Nawawi (Cirebon, Mathba’at Indonesia, tt, hlm. 16-17).

[24] Ketiga istilah di atas digunakan oleh Ibn Miskawaih Lihat Ibn Miskawaih, Tahzib al-Akhlaq, diedit Hasan Tamim, Bairut, Mansyurat Dar Maktabat al-Hayat, 1398 H, hlm. 62. Sedangkan Al Kindi menggunakan istilah al-quwwat al-syahwaniyyat untuk daya nafsu, al-quwwat al-ghadabiyyat untuk daya berani dan al-quwwat al-nathiqat /al-‘aqilat untuk daya berpikir. Lihat Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, Jakarta, UI Press, 1983 hlm. 9. Sedangkan Ibn Sina menggunakan al-nafs/al-quwwat al-­nabatiyat, al-nafs al-quwwat al-hayawaniyat, dan al-nafs al-insaniyyat. Lihat al-Najah, Mesir, Mushthafa al-Babi al-Halabi, 13.57 H, hlm. 158.

[25] Dajal berasal dari kata dajal artinya tertutup oleh sesuatu, pembohong, penipu. Said Nursi menjelaskan bahwa dajal adalah manusia seperti manusia lain. Dia adalah seorang konspirator, iblis tolol yang melupakan Allah. Dia mendewakan diri sendiri karena kepemimpinannya yang zalim, kemegahan kelaliman yang nyata. Tetapi tren ateisme yang dia tampilkan sangat besar mengacu kepada tren ini. Kebesaran Dajal bukan secara fisik, tapi lebih cenderung kepada kekuatan pengaruh. Surga palsu yang diciptakan Dajal adalah daya pikat peradaban modern (Said Nursi 2003b, hlm. 86). Sedangkan yang dimaksud Sufyan adalah seorang muslim yang memiliki pengetahuan luas dan memiliki kekuasaan.

[26] Dan ini terdapat beberapa indikasi yang menjadi tanda-tanda, misalnya di Indonesia ada Jaringan Islam Liberal (JIL) silahkan simak tema-tema yang dikembangkan oleh JIL yakni “perempuan menjadi imam”, “menolak formalisasi jilbab”, “menolak kebangkitan khalifah”, “terus-menerus mempersoalkan teks al-Qur’an” dan sebagainya dengan sangat bombastik yang mengarahkan ke dalam kerusakan akidah, akhlak dan syariat, walau belum bisa digeneralisasi secara umum.

[27] Dengan bahasa yang isyarat Said Nursi berpendapat bahwa Mustafa Kemal Attaruk adalah Sufyan. Said Nursi untuk mengkokohkan akidah umat disamping tesisnya yang menyatakan bahwa “pasca runtuhnya kerajaan Turki Ustmani dan ketika terjadi kekacauan global — tepatnya 1920-1940 — adalah awal dari pertanda akhir zaman”.

[28] Kejadian ini jelas ketika di Turki Mustafa Kemal Attaruk yang patungnya di mana-mana dibuat dan kepala dipaksa untuk tunduk dibawah tekanan aturan dan militer dan memang nyata di kaji dari sejarah­-sejarah kerutuhan Turki Usmani yang disebabkan ambisi Barat menguasai dunia.

[29] Pada masa Islam kepercayaan Tuhan masih d1yakini juga ketika terjadi henelisasi ilmu kemudian kristenisasi ilmu kemudian islamisasi ilmu dan yang menghancurkan ketika terjadi westernisasi ilmu yang tidak menyakin adanya Tuhan, di dunia Islam terjadi sekulerisasi ilmu yang sangat hebat, dan akhir-akhir ini kesadaran umat Islam mulai muncul sejak dicetuskannya pan islamisme oleh Jamaluddin Al Afgani menjelang akhir abad ke-19 diteruskan oleh ilmuwan muslim lainnya yang muncul kemudian sebuah fenomena kebangkitan Islam global. Sekarang menurut beberapa ilmu terjadi naturalisasi ilmu yang terjadi tidak hanya di dunia Islam tapi juga Kristen dan Yahudi. Karena fenomena materialisme dan perangkatnya melalaikan manusia. Tapi mengenai yang gaib hanya Allah yang tahu).

[30]Mengenai Sufyan ini dapat dipahami misalnya dapat dilihat di Rusia pengaruh Lenin begitu dahsat. Adam Smith dengan menggusur kapitalisme. Karl Marx dengan komunismenya dan Hitler dengan fasismenya juga mewarnai penyesatan dan melenakan umat manusia. Di Turki misalnya muncul Mustafa Kemal Attaruk yang menjajahkan ide sekulernya berdasarkan “perintah” Inggris. Kenyataan di Turki seluruh madrasah ditutup dan pelarangan menggunaan jilbab. Di Indonesia perdebatan mengenai UU Sisdiknas selalu dengan perbedaan pendapat berdasarkan kepentingan agama yang diciptakan dunia Barat ketika menjajah bangsa Indonesia. Perlu ditegaskan bahwa saat ini adalah akhir zaman.

[31] Mungkin cukup di sini penjelasan mengenai ini memang harus melihat fenomena yang terjadi di tengah-tengah kita, termasuk di agama-agama lain yang memiliki sumber yang sama. Saat ini di Jerman, Rusia, Amerika, Inggris, Italia dan Belanda dan beberapa negara maju semangat menuju nilai-nilai kebenaran sudah mulai tampak. Semua ini juga disebabkan kejadian 11 September 2001 dan invasi Amerika ke Irak dan pergulatan dunia yang tak pernah usai seperti di Palestina-Israel, menunjukkan bahwa kendali modernisasi dan globalisasi sulit terkendali. Alamat ini memang bisa ditanggap orang yang berpikir dan berhati. Bukan hanya dengan kepala yang berupaya menentang dahulu baru mencari. Sebab metodologi semacam ini memang berasal dari “nurani Dajjal”, seperti slogan “cogito ergo sum” atau “god is dead” dan sebagainya.

[32] Dalam bahasa al-Qur’annya hari kiamat adalah Qiyamah adalah hari kebangkitan orang-orang mati dan kuburan mereka masing-masing sesudah hancurnya alam semesta, untuk kemudian mereka digiring ke alam mahsyar dan alam barzakh. Ruh mereka dikembalikan ke dalam tubuhnya agar kemudian mereka mempertanggungjawabkan semua amal mereka dikala hidup yang selanjutnya mereka ditentukan oleh Tuhan untuk masuk surga atau neraka. (Hussein Bahreisj, Himpunan Pengetahuan Islam (450 Masalah Agama Islam), Al Ikhlas, Surabaya, 1980, hlm. 165).

5 Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan yakni maut. Hadis ini diriwayatkan oleb Ahmad dan Tirmidzi yang kemudian dianggapnya sebagai hadis hasan. Hadis ini juga diriwayatkan oleh an ­Nasa’i dari Abi Salmah lalu dari Abu Hurairah secara marfu. Menurut Ibn Hibban dan al-Hakim hadis ini sahih.

Leave a Reply